Jumat, 18 Juni 2010 Hari Biasa Pekan XI

Jumat, 18 Juni 2010
Hari Biasa Pekan XI
St. Leontinus, St. Hipatius dan St. Teodulus

"Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu (Mat 6:22)

Doa Renungan

Ya Tuhan Allah, tuntunlah kami hari ini agar mampu berjalan dalam terang-Mu yang mengagumkan dan menyelamatkan itu. Anugerahilah kami terang-Mu yang sejati agar kami selalu berada dalam naungan rahmat-Mu hingga akhirnya kami dapat menjadi berkat bagi sesama yang kami jumpai hari ini. Amin.

Masa penindasan telah berakhir dengan kemenangan yang benar. Peristiwa itu disambut dengan sukaria oleh seluruh rakyat. Namun pada akhirnya kebebasan perlu diisi dengan baik pula. Itulah perjuangan sebenarnya. Sebab, menghayati kebebasan sesungguhnya menjadi bertumbuh dalam kebaikan yang makin besar hingga dapat dirasakan banyak orang. Tantangannya maukah kita juga berjuang untuk membebaskan diri dari penjara egoisme dan keserakahan?

Pembacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (11:1-4.9-18.20)

"Mereka mengurapi Yoas dan berseru, 'Hiduplah Raja!'"

Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja. Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh. Maka tinggallah dia enam tahun lamanya bersama-sama perempuan itu dengan bersembunyi di rumah TUHAN, sementara Atalya memerintah negeri. Dalam tahun yang ketujuh Yoyada mengundang para kepala pasukan seratus dari orang Kari dan dari pasukan bentara penunggu. Disuruhnyalah mereka datang kepadanya di rumah TUHAN, lalu diikatnya perjanjian dengan mereka dengan menyuruh mereka bersumpah di rumah TUHAN. Kemudian diperlihatkannyalah anak raja itu kepada mereka. Para kepala pasukan seratus itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan imam Yoyada. Masing-masing mengambil orang-orangnya yang selesai bertugas pada hari Sabat bersama-sama dengan orang-orang yang masuk bertugas pada hari itu, lalu datanglah mereka kepada imam Yoyada. Imam memberikan kepada para kepala pasukan seratus itu tombak-tombak dan perisai-perisai kepunyaan raja Daud yang ada di rumah TUHAN. Kemudian para bentara itu, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, mengambil tempatnya di lambung kanan sampai ke lambung kiri rumah itu, dengan mengelilingi mezbah dan rumah itu untuk melindungi raja. Sesudah itu Yoyada membawa anak raja itu ke luar, mengenakan jejamang kepadanya dan memberikan hukum Allah kepadanya. Mereka menobatkan dia menjadi raja serta mengurapinya, dan sambil bertepuk tangan berserulah mereka: "Hiduplah raja!" Ketika Atalya mendengar suara bentara-bentara penunggu dan rakyat, pergilah ia mendapatkan rakyat itu ke dalam rumah TUHAN. Lalu dilihatnyalah raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri. Maka Atalya mengoyakkan pakaiannya sambil berseru: "Khianat, khianat!" Tetapi imam Yoyada memerintahkan para kepala pasukan seratus, yakni orang-orang yang mengepalai tentara, katanya kepada mereka: "Bawalah dia keluar dari barisan! Siapa yang memihak kepadanya bunuhlah dengan pedang!" Sebab tadinya imam itu telah berkata: "Janganlah ia dibunuh di rumah TUHAN!" Lalu mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ. Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara TUHAN dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat TUHAN; juga antara raja dengan rakyat. Sesudah itu masuklah seluruh rakyat negeri ke rumah Baal, lalu merobohkannya; mereka memecahkan sama sekali mezbah-mezbahnya dan patung-patung dan membunuh Matan, imam Baal, di depan mezbah-mezbah itu. Kemudian imam Yoyada mengangkat penjaga-penjaga untuk rumah TUHAN. Bersukarialah seluruh rakyat negeri dan amanlah kota itu, setelah Atalya mati dibunuh dengan pedang di istana raja.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia 'kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 132:11.12.13-14.17-18)
1. Tuhan telah menyatakan sumpah setia kepada Daud , Ia tidak akan memungkirinya: “Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu.
2. Jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan yang Kuajarkan kepada mereka, maka selamanya anak-anak mereka akan duduk di atas takhtamu.”
3. Sebab Tuhan telah memilih Sion, dan mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya, "Inilah tempat peristirahatan-Ku untuk selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya".
4. Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk bagi Daud, dan menyediakan pelita bagi orang yang Kuurapi. Musuh-musuhnya akan Kutudungi pakaian keaiban, tetapi ia sendiri akan mengenakan mahkota yang semarak!”

Bait Pengantar Injil do = f, 4/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, sebab milik merekalah Kerajaan Allah.

Untuk mengumpulkan harta di surga, orang perlu menjaga agar mata iman tetap menerangi hidupnya. Apa artinya mata iman? Mata iman adalah sikap batin untuk mampu melihat dan memilih nilai yang abadi di tengah banjirnya tawaran menggiurkan hal-hal yang fana.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:19-23)

"Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu."

Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Pemilu Legislatif 2009 yang lalu menyisakan pengalaman buruk sekaligus pelajaran yang berharga terkait dengan sikap terhadap harta! Mengapa muncul caleg yang gagal dan menjadi stres, bahkan bunuh diri? Sesungguhnya, akarnya adalah sikap terhadap harta duniawi yakni uang, jabatan/kekuasaan, dan popularitas. Mereka yang gagal dan menjadi stres—bahkan bunuh diri—mempunyai pandangan bahwa dengan menjadi anggota legislatif, mereka akan mendapatkan apa saja. Karenanya, mereka rela mengeluarkan harta demi pen-caleg-an. Akibatnya, begitu gagal, mereka stres, bahkan kemudian tidak bisa mengendalikan hidup mereka lantas bunuh diri!

Inilah gambaran mengenai orang yang menempatkan hidupnya pada harta kekayaan duniawi. Bahkan sebelum mendapatkannya, harta itu telah membuat hidup mereka terjerat oleh berbagai ancaman dan kekhawatiran.

Yesus berpesan: ”Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi, kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat 6:19–20).

Marilah kita mengumpulkan harta surgawi, bukan harta duniawi. Kita juga boleh menggunakan harta duniawi yang ada pada kita untuk mendapatkan harta surgawi melalui kemurahan hati dan kebaikan.

Ya Yesus, semoga aku tidak haus harta duniawi, melainkan lapar dan haus akan harta surgawi, serta rela menggunakan harta duniawi yang ada padaku untuk menggapai harta surgawi, yang membuat kami bahagia. Amin.

Ruah & Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian


Bagikan