Kamis, 24 Juni 2010 Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis

Kamis, 24 Juni 2010
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis

Yohanes berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka; tetapi Dia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak. Hai saudara-saudara, baik yang keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.” (Kis 13:22-26)

Doa Renungan

Ya Tuhan, Yohanes Pembaptis telah Kauutus untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Putra-Mu Tuhan kami Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis dalam hidupnya telah menyerukan pertobatan bagi setiap orang. Semoga kami menghayati hidup iman kami lewat pertobatan terus menerus. Biarlah roh-Mu yang menyertai perjalanan kami sepanjang hari ini, supaya hidup kami berbuah dan berkembang seturut kehendak-Mu. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Yesaya (49:1-6)

"Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa."

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing, dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku, “Engkau adalah hamba-Ku, Israel , dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata, “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia! Namun, hakku terjamin pada Tuhan, dan upahku pada Allahku.” Tuhan telah membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya; dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya. Maka aku dipermuliakan di mata Tuhan, dan Allah yang menjadi kekuatanku sekarang berfirman, “Terlalu sedikit bagimu untuk hanya menjadi hamba-Ku, hanya menegakkan suku-suku Yakub, dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Maka Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang daripada-Ku sampai ke ujung bumi.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; Ul: 13b)
1. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumiliki.
2. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku, ajaiblah apa yang Kauperbuat.
3. Jiwaku benar-benar menyadarinya, tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah.

Pembacaan dari Kisah Para Rasul (13:22-26)

"Kedatangan Yesus disiapkan oleh Yohanes."

Pada suatu hari Sabat, di rumah ibadat di Antiokhia Paulus berkata, “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja umat-Nya. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan Yesus itu, Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. Dan ketika hampir selesai menunaikan tugasnya, Yohanes berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka; tetapi Dia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak. Hai saudara-saudara, baik yang keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 1:76)
Engkau, hai anak-Ku, akan disebut nabi Allah yang Mahatinggi karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan bagi-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:57-66.80)

"Namanya adalah Yohanes."

Pada waktu itu, genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu, dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya. Tetapi Elisabet ibunya, berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada Zakharia untuk bertanya nama apa yang hendak ia berikan kepada anaknya itu. Zakharia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya, dan berkata, “Menjadi apakah anak itu nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia kemudian tinggal di padang gurun sampai tiba harinya ia harus menampakkan diri kepada Israel .
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

Figur Santo Yohanes Pembaptis sangatlah layak untuk kita cermati sebagai model menghayati panggilan & tugas-perutusan sebagai “nabi” jaman ini. Mengapa? Yah, karena kita sering tidak berani tampil beda dengan pilihan-pilihan moral yang ekstrim punya. Kita sering mengambil standard umum dalam berperilaku: memperlancar bisnis dengan biasa menyogok pejabat; ikut-ikutan memanipulasi data-data keuangan agar tidak ditarik pajak sebagaimana ditentukan; kita nyontèk, karena kebanyakan teman di kelas juga nyontèk; aku tidak mau membeberkan kebobrokan yang terjadi di kantor, karena jelas aku bisa kehilangan pekerjaan; kita harus mempunyai barang-barang mewah karena tetangga-tetangga kita sudah pada punya, kalau tidak kita akan ketinggalan jaman dan malu; orang tuaku mesti membelikan aku hp seperti yang dimiliki oleh teman-teman sekelasku; .........dlsb. Sementara tokoh yang hari ini kita rayakan kelahirannya, dari cara hidupnya saja telah berani mengambil cara yang ekstrim.

Nama yang diberikan oleh Allah pun lain dari yang lain, yakni Yohanes; Zakarias bapaknya telah dibuat “bisu” oleh Allah, karena kurang yakin akan bagaimana dan siapa yang hendak dilahirkan oleh Elizabeth isterinya. Kemudian Yohanes Pembaptis memilih tinggal di padang gurun, lalu memilih bulu unta sebagai jubahnya, dengan ikat pinggang kulit dan makanannya pun belalang dan minumannya madu hutan. (lih. Mat 3: 1-4). Dia sungguh ekstrim dengan perkataannya pun keras, “"Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? (Mat 3: 7).

Bagaimana dengan kita, keluarga katolik kita? Wuaaduh...kalau anaknya hanya satu atau dua....mana rela mempersembahkan dia untuk Tuhan? Untuk menjadi imam, biarawan atau biarawati kalau putri? Kita tidak berani menjadi ekstrim, yah se-ektrim keluarga Zakarias & Elisabeth, karena takut kehilangan dan tidak berketurunan....padahal iman kita menandaskan bahwa semua-muanya berasal dari Allah. Bukankah begitu?

Kata “ekstrim” bisa direka-reka sebagai “eks-stream”, yang artinya “berada di luar arus umum”, yang bisa juga diartikan “melawan arus”. Nah, apakah kita berani untuk menjadi orang-orang yang ekstrim, dalam artian yang positif? Bukan karena bermentalkan “wts” yang maunya “waton suloyo” atau “asal beda pendapat” atau “maunya serba nylenèh” atau “berambut gondrong” sekedar protes melawan tekanan orang tua, dlsb.? Habitus atau perilaku yang biasa dilakukan oleh seorang nabi, seperti Yohanes Pembaptis, adalah bagian dari tugas-perutusannya sebagai nabi: dia sedang memprotes sikap, perilaku, masyarakat pada umumnya, yang telah menyimpang jauh dari kehendak Allah, baik dengan kata-kata yang diucapkan maupun dengan cara hidupnya. Keberanian untuk mencela praktek kehidupan masyarakat secara kasar alias sarkastik tidak lepas dari hasil tempaan kepribadiannya sendiri melalui matiraga, puasa, hidup sederhana, pengekangan diri dari berbagai macam luapan pelampiasan nafsu rendah yang tidak sejalan dengan kehendak Allah. Perilaku ekstrim yang dihayati dengan bangga, berani, gigih…..tidak lepas dari solidnya kepribadian yang dia capai, yang sering kita namakan “mempunyai integritas pribadi”. Bukan karena suka berkompromi dengan dunia ini, tetapi karena hanya satu-satunya Allah yang ditakuti dan ditaati. Selain Yesus Kristus, idola absolut kita, Yohanes Pembaptis pun dapat kita jadikan contoh-teladan kita.

Saudara-saudari di dalam Kristus,

Santo Yohanes Pembaptis telah disiapkan oleh Allah untuk menyiapkan jalan Tuhan Yesus. Sekarang ini kita Gereja-Nya pun dipanggil dan diutus untuk melakukan hal yang sama buat saudara-saudari di sekitar kita yang memerlukan pertobatan, yang hendak menyongsong keselamatan lebih penuh lagi di dalam Yesus yang adalah Kabar Gembira dari Surga. Kita dipanggil dan diutus untuk turut serta menyelamatkan bangsa dan negara RI kita dari kehancuran fisik maupun mental. Untuk itu menjadi “ekstrim” adalah salah satu pilihan kita. Adakah kata dan perbuatan kita, adakah habitus kita, sudah mencerminkan corak kenabian yang dihayati oleh Santo Yohanes Pembaptis? Marilah kita mau dibentuk oleh Allah untuk menjadi seperti dia,...meskipun harus dibayar dengan dipenggal kepala kita. Oih sungguh gila!

Shalom,

H.Wardjito SCJ.


Bagikan