Senin, 05 Juli 2010 Hari Biasa Pekan XIV

Senin, 05 Juli 2010
Hari Biasa Pekan XIV

“Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN” (Hos 2:18-19).

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahabaik, Putera-Mu telah menampakkan kasih-Mu kepada orang-orang kecil, lemah dan tertindas. Kesederhanaan dan ketulusan hati manusia sungguh Engkau perhatikan. Tuhan, berilah kami kesederhanaan hati di hadapan-Mu agar semakin terbuka untuk membantu siapapun yang memerlukannya. Anugerahilah kami keberanian dan kerelaan untuk saling mengasihi, seperti yang Engkau kehendaki dapat terjadi dalam hidup kami. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Hosea (2:13.14b-15.18-19)

"Aku akan menjadikan dikau istriku untuk selama-lamanya."

Inilah sabda Tuhan, "Aku akan membujuk umat kesayangan-Ku dan membawanya ke padang gurun, lalu berbicara menenangkan hatinya. Di sana ia akan merelakan diri seperti pada masa mudanya, seperti ketika ia berangkat ke luar dari tanah Mesir. Maka pada waktu itu, demikianlah sabda Tuhan, engkau akan memanggil Aku 'Suamiku', dan tidak lagi memanggil Aku 'Baalku'. Aku akan menjadikan dikau istri-Ku untuk selama-lamanya, dan Aku akan menjadikan dikau istri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan dikau istri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan itu pengasih dan penyayang.
Ayat. (Mzm 145:2-3.4-5.6-7.8-9)
1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya. Besarlah Tuhan, dan sangat terpuji; kebesaran-Nya tidak terselami.
2. Angkatan demi angkatan akan memegahkan karya-karya-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung akan kukidungkan, dan karya-karya-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.
3. Kekuatan karya-karya-Mu yang dahsyat akan dimaklumkan, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan. Kenangan akan besarnya kebaikan-Mu akan dimasyhurkan, orang akan bersorak-sorai tentang keadilan-Mu.
4. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

Bait Pengantar Injil do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:18-26)

"Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup."

Sekali peristiwa datanglah kepada Yesus seorang kepala rumah ibadat. Ia menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Iman seperti apa yang biasanya dihayati? Ada berbagai macam ungkapan dan arti bila seorang ditanya akan hal itu. Ada yang mengatakan iman berarti menyerahkan diri kepada Tuhan. Yang lain berkata: ”mengatakan ’ya’ kepada Tuhan”. Orang lain lagi mungkin akan berkata bahwa iman berarti setia melaksanakan kehendak Tuhan. Tidak ada yang salah dan keliru dalam ungkapan dan arti iman. Setiap orang secara pribadi disapa oleh Tuhan dan karenanya bisa merumuskan secara berbeda.

Kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan mengalami pengalaman pribadi akan Yesus. Oleh karena itu, mereka pun mengungkapkan dan mewujudkan imannya dengan cara yang berbeda. Kepala rumah ibadat percaya bahwa kedatangan dan penumpangan tangan Yesus akan menghidupkan anaknya. Perempuan yang sakit pendarahan percaya akan daya dan kuasa Yesus yang bekerja hanya dengan menyentuh ujung jubah-Nya.

Bagi Yesus, apa pun ungkapan dan wujud iman seseorang, semua itu berkenan pada-Nya. Yesus mengharapkan iman, sebagai jawaban yang diharapkan dari pe-NYATA-an Diri Allah. Karena bersatu dengan Allah, manusia mendapatkan kehidupan dan kesembuhan dalam hidup ini. Iman itu sendiri memiliki daya yang luar biasa.

Tuhan, tambahkanlah imanku. Ajarilah aku untuk setia kepada-Mu seperti Engkau, Tuhanku yang setia. Amin.

Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian



Bagikan

Bacaan Harian 05 - 11 Juli 2010

UJUD-UJUD KERASULAN DOA BULAN JULI 2010

Ujud Umum: Semoga di semua negara di dunia, pemilihan umum diselenggarakan dengan adil, transparan, jujur serta hormat kepada pilihan bebas setiap warga negaranya.
Ujud Misi: Semoga Kaum Kristiani selalu berusaha membantu secara berdaya-guna setiap usaha untuk memanjukan pendidikan, keadilan, solidaritas, dan perdamaian.
Ujud Gereja Indonesia: Semoga anak-anak mendapatkan perhatian yang menyeluruh, sehat dan imbang proses tumbuh kembang mereka.

Bacaan Harian 05-11 Juli 2010

Senin, 05 Juli: Hari Biasa Pekan XIV (H).
Hos 2:13.14b-15.18-19; Mzm 145:2-9; Mat 9:18-26.
Kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan itu sungguh-sungguh bergantung pada Yesus. Yang satu percaya bhw kalau Yesus meletakkan tangan-Nya di atas anaknya yang sudah mati, anaknya akan hidup. Yang satu lagi percaya asal menjamah jubah Yesus, sakit pendarahan yang dideritanya sejak lama akan sembuh. Iman yang sungguh bersandar pada kuasa Tuhan sungguh membawa pemulihan. Nah, mau bersandar pada kuasa siapa?

Selasa, 06 Juli: Hari Biasa Pekan XIV (H).
Hos 8:4-7.11-13; Mzm 115:3-10; Mat 9:32-38.
Karena begitu banyaknya domba-domba yang terlantar, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya untuk minta kepada tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja. Di sekitar kita juga banyak domba-domba yang terlantar. Kalau Ia telah memilih kita menjadi murid-Nya, mungkin jadi kita adalah pekerja yang dikirim Tuhan untuk berbuat sesuatu bagi domba-domba itu. Apa yang sudah dan akan kita buat?

Rabu, 07 Juli: Hari Biasa Pekan XIV (H).
Hos 10:1-3.7-8.12; Mzm 105:2-7; Mat 10:1-7.
Kalau Yesus mengutus para murid untuk mewartakan Kerajaan Allah, Ia telah mempersiapkan mereka dengan segala kuasa yang dibutuhkan. Maka, sebagai murid Yesus, jangan pernah kita merasa bahwa kita tak memiliki kemampuan untuk ikut mewartakan ajaran Yesus. Kuasa itu sudah ada pada kita. Dia sendiri yang memberinya. Yang diperlukan adalah kemauan untuk sungguh bekerja bagi kemuliaan Kerajaan-Nya.
Kamis, 08 Juli: Hari Biasa Pekan XIV (H).
Hos 11:1-4.8c-9; Mzm 80:2ac.3b.15-16; Mat 10:7-15.
Ketika mengutus para murid-Nya, Yesus memperingatkan kepada mereka untuk tidak membawa barang berharga, bekal, baju, kasut atau tongkat, karena seorang pekerja berhak mendapat upahnya. Yesus mau menekankan kepada para murid bahwa mereka yang bekerja untuk Kerajaan Allah pasti tidak akan terlantar. Namun, itu tidak berarti bahwa dalam melayani, kita mensyaratkan upah dari pelayanan kita. Sebab kalau begitu, pelayanan kita kehilangan kemurniannya.

Jumat, 09 Juli: Hari Biasa Pekan XIV (H).
Hos 14:2-10; Mzm 51:3-4.8-9.12-14.17; Mat 10:16-23.
Yesus mengingatkan bahwa para murid-Nya akan menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Terhadap tantangan itu, Yesus berpesan supaya para murid cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ia minta murid jangan kuatir, karena Roh Bapa akan menyertai mereka. Sampai saat ini pun tantangan dalam menjalani tugas perutusan selalu terbentang. Apakah kita mundur atau tetap terus menjalani tugas itu? Ingatlah: Yesus menjanjikan bahwa setiap orang yang bertahan sampai akhir akan selamat.

Sabtu, 10 Juli: Hari Biasa Pekan XIV (H).
Yes 6:1-8; Mzm 93:1abc-2.5; Mat 10:24-33.
Yesus mengingatkan bahwa para murid-Nya akan menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Terhadap tantangan itu, Yesus berpesan supaya para murid cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ia minta murid jangan kuatir, karena Roh Bapa akan menyertai mereka. Sampai saat ini pun tantangan dalam menjalani tugas perutusan selalu terbentang. Apakah kita mundur atau tetap terus menjalani tugas itu? Ingatlah: Yesus menjanjikan bahwa setiap orang yang bertahan sampai akhir akan selamat.

Minggu, 11 Juli: Hari Minggu Biasa XV (H).
Ul 30:10-14; Mzm 69:14.17.30-31.33-34.36ab.37 atau Mzm 19:8-11; 1Kol 1:15-20; Luk 10:25-27.
Yesus mengingatkan bahwa para murid-Nya akan menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Terhadap tantangan itu, Yesus berpesan supaya para murid cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ia minta murid jangan kuatir, karena Roh Bapa akan menyertai mereka. Sampai saat ini pun tantangan dalam menjalani tugas perutusan selalu terbentang. Apakah kita mundur atau tetap terus menjalani tugas itu? Ingatlah: Yesus menjanjikan bahwa setiap orang yang bertahan sampai akhir akan selamat.

Surat Gembala Purna Tugas sebagai Uskup Mgr Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ

Surat Gembala Purna Tugas sebagai Uskup

1. Para Bapak Uskup, para imam, bruder, suster dan saudara-saudari umat seluruh Keuskupan Agung Jakarta yang terkasih. Pada hari Selasa tanggal 29 Juni 2010 yang lalu, telah dirayakan Perayaan Ekaristi, dengan ujud pokok merayakan pesta Rasul St. Petrus dan Paulus sambil bersyukur, genap saya 27 tahun mengemban tugas sebagai Uskup. Tetapi karena permohonan pengunduran diri saya sebagai Uskup Agung Jakarta telah dikabulkan oleh Paus Benedictus XVI dan telah diumumkan secara resmi pada hari Senin tanggal 28 Juni 2010 Pk. 12.00 waktu Roma atau Pk. 17.00 WIB, maka dalam Perayaan Syukur tadi Bp. Uskup Agung Koajutor diresmikan menjadi Uskup Agung Jakarta yang baru.

Memang demikianlah proses resminya, yaitu segera setelah permohonan pengunduran diri saya sebagai Uskup Agung Jakarta dikabulkan oleh Bapa Suci dan resmi diumumkan, saat itu juga Uskup Agung Koajutor resmi menggantikan saya, menjadi Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta.

2. Dalam kesempatan ini saya menyampaikan ucapan banyak terimakasih kepada Anda atas doa-doa, kebersamaan dan kerjasama yang telah saya alami. Tak mungkin saya menyebutkan satu persatu, pokoknya kepada semua saja yang dalam berbagai cara telah terlibat dalam mengembangkan keuskupan kita ini, termasuk kepada mereka yang terlibat dengan cara yang tak kelihatan seperti lewat doa, penderitaan dan kesusahan yang dipersembahkan bagi kepentingan Gereja kita maupun Gereja Universal. Secara tulus saya juga mohon maaf atas segala kesalahan atau kelalaian yang saya buat, kesalahpahaman, sikap atau keputusan yang membawa derita dll. Mengandaikan bahwa Anda para imam, biarawan-biarawati dan umat pasti berkenan untuk memaafkan kesalahan dan kelalaian saya tadi, maka saya dapat mundur dari jabatan Uskup Agung Jakarta ini dalam damai.

3. Sudah lama saya merasa perlu mempersiapkan regenerasi yang baik. Sudah sejak saya merayakan ulang tahun ke 70 tahun itu, saya merasa daya tahan mulai menurun. Mata mulai makin redup, telinga pun ikutan makin kurang mendengar, sehingga hanya cocok untuk pengakuan dosa bagi mereka yang suka mengaku kepada imam yang kurang baik penglihatan dan pendengarannya. Saya berpendapat bahwa pelayanan kepada keuskupan tidak boleh menurun karena Uskupnya menurun kekuatannya. Maka perlu ada pengganti yang lebih muda. Apa lagi menurut hukum Gereja, ketika Uskup mencapai usia 75 tahun, dia diminta untuk mengajukan permohonan pengunduran dirinya sebagai Uskup. Itu semua menjadi tanda kuat bahwa saya perlu mengundurkan diri. Kehendak Tuhan akan menjadi jelas saat Bapa Suci Benedictus XVI mengabulkan permohonan pengunduran diri saya. Kita pantas berterima kasih kepada Tuhan dan kepada Tahta Suci di Vatikan, bahwa masalah kita ditanggapi dengan tepat dan cukup cepat. Kita telah meresmikan hadirnya Bapak Uskup Agung Koajutor Ignatius Suharyo pada tanggal 28 Oktober 2009. Pada tanggal 28 Juni 2010 Pk. 17.00 WIB permohonan pengunduran diri saya dikabulkan dan kita dapat secara liturgis dan simbolis merayakan alih tugas sebagai Uskup Agung Jakarta tanggal 29 Juni 2010 dalam Perayaan Ekaristi Pk. 18.00 di Katedral. Saya mengajak Anda sekalian untuk bersyukur karena Keuskupan Agung Jakarta telah memiliki Uskup Agung baru yang cukup muda. Dalam khotbah saya tanggal 29 Juni yang lalu saya mengajak agar kita semua memaknai peristiwa-peristiwa sejarah gereja kita dalam terang iman, yaitu dalam kuasa bimbingan Tuhan Yesus dan Roh-Nya. Demikian pula saat Anda mengalami peristiwa sejarah Gereja Keuskupan Agung Jakarta yaitu momentum peralihan kepemimpinan Keuskupan Agung Jakarta saat ini.

4. Dengan surat ini, saya mohon pamit kepada Anda, karena saya sudah purna tugas sebagai Uskup Agung Jakarta. Telah 14 tahun saya melayani Anda dan bekerja sama dengan Anda agar Keuskupan Agung Jakarta tetap menjadi ragi dan terang, bagi kesejahteraan hidup masyarakat baik dalam hal rohani maupun jasmani. Untuk itu kita semua telah mencoba mengembangkan kasih persaudaraan yang sejati dan terbuka serta mencoba membangun cara hidup dan perilaku yang benar, jujur adil dan peduli terhadap siapa pun yang menderita di tengah kita sambil sedapat mungkin menularkan semangat yang sama diantara tetangga dan teman kerja kita. Kita menghayatinya seperti 70 murid Yesus yang diutus berdua-dua seperti dikisahkan dalam Injil tadi (bdk. Lk 10:1) lewat gerakan memberdayakan Umat Basis. Memang tidak mudah, karena terkadang kita sendiri yang terpengaruh oleh cara hidup yang sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, antara lain “tidak perlu jujur, yang penting makmur”, “tidak perlu tulus, asal banyak fulus”. Rasanya kita diutus hidup di dunia ini dengan melawan arus cara hidup lain yang umum terjadi. Dalam Injil tadi Yesus mengatakan: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Lk 10:3). Meski sulit kita usahakan agar kita setia kepada Yesus dan tetap menjadi garam yang asin. Dengan cara itu kita berusaha terus mendatangkan ”Kerajaan Allah” (bdk. Lk 10:9) baik bagi diri sendiri, keluarga, komunitas dan Gereja kita maupun bagi masyarakat. Kita berusaha mengandalkan kekuatan rahmat Tuhan Yesus dan Roh-Nya yang memiliki tuaian dan mengutus pekerja-pekerja ke dalam tuaian itu (bdk. Lk 10:2). Meskipun saya sudah tidak menjadi Uskup Agung Jakarta, namun saya merasa masih tetap bersatu dan bersama dengan Anda dalam Gereja yang sama dan dalam perutusan yang sama. Kita tetap saling mendoakan. Amin.

Teriring salam dan berkat,





Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ





Bagikan