Minggu, 25 Juli 2010 Hari Minggu Biasa XVII

Minggu, 25 Juli 2010
Hari Minggu Biasa XVII

Antifon Pembuka

Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus. Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara. Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya.

Doa Renungan

Allah Bapa kami di surga, kami berdoa, namun iman kami terlalu kecil, perhitungan kami lebih besar dariapada harapan kami. Letakkanlah sabda Yesus pada lisan kami. Ajarilah kami berdoa seperti pada murid-Nya. Maka nama-Mu akan kami puji dan kerajaan-Mu akan datang. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.Amin.

Pembacaan dari Kitab Kejadian (18:20-32)

"Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata."

Sekali peristiwa bersabdalah Tuhan kepada Abraham, “Sesungguhnya, banyaklah keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora, dan sesungguhnya sangat beratlah dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepadaku atau tidak, Aku hendak mengetahuinya.” Lalu berpalinglah orang-orang itu dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan Tuhan. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan membinasakan tempat itu? Tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar besama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Tuhan berfirman jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom. Aku akan mengampuni seluruh tempat itu demi mereka.” Abraham menyahut, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Tuhan bersabda, “Aku takkan memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.” Lagi Abraham melanjutkan perkatannya, “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian demi yang empat puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian jika Kudapati tiga puluh di sana.” Kata Abraham lagi, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku tidak akan memusnahkannya demi yang dua puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Jawab Tuhan, “Aku takkan memusnahkanya demi yang yang sepuluh itu.” Lalu pergilah Tuhan, setelah selesai bersabda kepada Abraham. Dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan mi=fis, 4/4, PS 816

Ref. Tuhan mendengarkan doa orang beriman.
Ayat.
(Mzm 138:1-2a.2bc-3.6-7ab.7c-8, Ul:3a)
1. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hati, Sebab Engkau mendengarkan kata-kata mulutku; Di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu, Aku hendak bersujud ke arah bait-Mu yang kudus.
2. Aku hendak memuji nama-Mu oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setiaan-Mu; Sebab Kaubuat nama dan janji-Mu melebihi segala sesuatu, Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku. Tuhan itu tinggi, namun Ia memperhatikan orang yang hina,
3. Dan mengenal orang yang sombong dari jauh. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku, terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu. Tangan kanan-Mu menyelesaikan segalanya bagiku, Tuhan akan menyelesaikan segalanya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi, Janganlah Kautinggalkan buatan tangan-Mu.

Pembacaan dari Surat Rasul kepada Jemaat di Kolose (2:12-14)

"Kamu telah dihidupkan Allah bersama dengan Kristus, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran."

Saudara-saudara bersama Kristus kamu telah dikuburkan dalam pembaptisan, dan bersama Dia kamu juga turut dibangkitkan oleh kepercayaanmu akan karya kuasa Allah, yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Dahulu kamu mati karena pelanggaranmu dan karena tidak disunat secara lahiriah. Tetapi kini Allah menghidupkan kamu bersama Kristus sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita. Surat hutang yang oleh ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita, telah dihapuskan-Nya dan ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil do=a, 4/4, Pelog Bem, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, Abba, ya Bapa.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:1-13)

"Mintalah, maka kamu akan diberi."

Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarilah kami berdoa, sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya.” Maka Yesus berkata kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami, sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika di antara kamu ada yang tengah malam pergi ke rumah seorang sahabat dan berkata kepadanya Saudara, pinjami aku tiga buah roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku, dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya , masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab, Jangan menggangu aku; pintu sudah tertutup, dan aku serta anak-anakku sudah tidur. Aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun dia tidak mau bangun dan tidak mau memberikan se-suatu meskipun ia itu sahabatnya, namun karena sikap sahabatnya yang tidak malu-malu itu, pasti ia akan bangun dan memberikan apa yang dia perlukan. Oleh karena itu Aku berkata kepada-Mu: Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk akan dibukakan pintu. Bapa manakah di antara kamu, yang memberi anaknya sebuah batu kalau anak itu minta roti? Atau seekor ular, kalau anaknya minta ikan? Atau kalajengking, kalau yang diminta telur? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, apalagi Bapamu yang disurga! Ia akan memberikan Roh Kudus, kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya.

Renungan

BELAJAR BERDOA DARI YESUS

Rekan-rekan yang baik!

Dalam Injil Lukas 11:1-13 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVII tahun C didapati tiga pokok. Pertama Yesus mengajar murid-muridnya berdoa (ayat 1-4), disusul dengan perumpamaan mengenai orang yang dengan tanpa sungkan minta tolong kepada seorang kawannya di tengah malam (ayat 5-8), dan diakhiri dengan sebuah pengajaran mengenai kekuatan doa (ayat 9-13).

MELIHAT YESUS BERDOA

Murid-murid meminta Yesus mengajar mereka berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa. Latar belakangnya ialah kebiasaan orang pergi menyepi ke padang gurun, menemui orang suci untuk mohon berkat dan doa yang dapat dibawa pulang sebagai bekal dan kekuatan. Praktek keagamaan rakyat seperti ini masih dijumpai di banyak tempat.

Pada awal petikan yang dibacakan hari ini disebutkan bahwa Yesus sendiri sedang berdoa. Tema ini kerap muncul dalam Injil Lukas. Yesus di mata Lukas ialah pribadi yang dekat dengan kekuatan-kekuatan ilahi. Di saat-saat puncak dalam kehidupannya Yesus ditampilkannya sebagai orang yang sedang berdoa. Dapat dicatat peristiwa-peristiwa berikut. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:21), Yesus berdoa dan membiarkan diri dikuatkan oleh kehadiran ilahi. Ia berdoa semalam suntuk di sebuah bukit sebelum menetapkan ke-12 muridnya sebagai rasul (Luk 6:12). Pilihan yang penting ini terjadi dengan mengikutsertakan kekuatan ilahi. Yesus berdoa sebelum menanyai murid-murid mengenai pendapat orang mengenai dirinya dan mendengarkan pendapat murid-murid sendiri (Luk 9:18). Kemudian Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung untuk berdoa dan dalam keadaan itu kemuliaannya tampak (Luk 9:28). Dan dalam bacaan hari ini, sebelum mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri berdoa di sebuah tempat (Luk 11:1). Nanti di Getsemani sewaktu bergulat dengan dirinya sendiri apakah akan menerima kenyataan salib dalam hidupnya (Luk 22:41) Yesus berdoa. Akhirnya, di Golgota, di kayu salib, ia masih berdoa dua kali (Luk 23:34 dan 46). Itulah kesempatan-kesempatan yang secara khusus disebut Lukas. Ada saat-saat lain ketika ia juga berdoa, misalnya pada perjamuan terakhir dengan para murid (Luk 22:19) atau ketika Yesus mensyukuri karya ilahi dalam dirinya (Luk 10:21). Bagi Yesus berdoa ialah menaruh diri di hadapan Yang Ilahi yang dipercayanya sebagai Bapa. Ia membiarkan kekuatan ilahi menghidupinya. Dalam mengikuti perjalanannya ke Yerusalem, murid-muridnya makin menyadari hal itu. Lambat laun mulai jelas bagi mereka dari mana kekuatan dan keteguhan pribadi yang mereka ikuti itu. Maka mereka datang kepadanya minta diajar berdoa, minta diberi rumusan doa yang dapat mereka pegang untuk bekal hidup.

DUA VERSI

Rumusan doa yang disampaikan dalam Luk 11:2-4 lebih pendek daripada doa Bapa Kami yang biasa kita doakan yang didasarkan pada Mat 6:9-13. Baik Matius maupun Lukas sama-sama menggarap suatu tradisi mengenai kata-kata Yesus tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Bahan dari tradisi yang biasa disebut para ahli sebagai "Q" (Quelle = sumber) belum terkumpul ketika Markus menulis Injilnya. Memang Markus tidak memuat doa Bapa Kami. Lukas lebih mengikuti bentuk ringkas dalam sumber tadi, tetapi ia menyesuaikan beberapa rumusan agar terasa lebih cocok bagi orang-orang yang dilayaninya. Matius lebih mempertahankan rumusan asli tetapi menambah penjelasan di sana-sini dan hasilnya ialah doa Bapa Kami yang kita kenal sehari-hari.

Dalam Injil Lukas bagian yang memuat doa "Bapa Kami" memiliki peran yang berbeda dengan yang ada dalam Injil Matius. Ringkasnya begini, Matius menaruh doa tadi dalam konteks Kotbah di Bukit (Mat 5-7) yang menggariskan dasar-dasar kehidupan mereka yang ingin masuk menjadi umat Kerajaan Surga. Tetapi Lukas lebih menampilkan doa tadi sebagai cara Yesus membiarkan dirinya makin dipahami sebagai "sesama" oleh orang-orang yang dijumpainya dan yang menerimanya. Dapat dilihat kembali ulasan mengenai orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) dan kisah Marta dan Maria (Luk 10:38-42).

LIMA PERMOHONAN KEPADA BAPA

Doa yang diajarkan Yesus menurut Lukas itu memuat lima permohonan yang diawali dengan sapaan "Bapa". Di sini terungkap keakraban Yesus dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Sebutan "Bapa" (kata Aramnya "Abba") itu sebutan akrab tapi hormat yang biasa dipakai seorang anak kepada ayahnya, jadi agak berbeda dengan "Pak" yang bisa dipakai kepada siapa saja yang dihormati atau dituakan. Dengan mengajak murid-murid berani memanggil Tuhan dengan sebutan ini Yesus mau menaruh diri sebagai sesama dengan siapa saja yang bakal memakai doa ini. (Matius mengungkapkan hal ini dengan "Bapa kami yang ada di surga", untuk juga mengingatkan bahwa doa ini memang diserukan kepada Tuhan yang Mahakuasa yang ada di surga.) Bekal yang diperoleh ialah sesama yang tak lain tak bukan Yesus sendiri. Adakah yang lebih memberi rasa aman?

Yesus juga memakai seruan "Bapa" di Getsemani ketika memilih mengikuti kehendakNya (Luk 22:42), dan kemudian dua kali lagi ketika di salib, yang pertama untuk memintakan ampun dari Bapanya bagi orang-orang yang menyalibkannya (Luk 23:34), dan kedua kalinya pada saat ia menyerahkan nyawanya kepada BapaNya (Luk 23:46). Inilah cara Lukas menunjukkan bagaimana Yesus mau menjadi sesama manusia sekalipun berarti ia harus menempuh perjalanannya ke salib hingga akhir.

Dengan latar tadi lima permohonan yang tercantum dalam doa itu akan terasa makin dalam artinya:

1. "Bapa, dikuduskanlah namaMu" (ayat 2a). Diminta agar kehadiran yang Mahakuasa itu tetap dapat dialami sebagai kehadiran yang keramat sekalipun Ia membiarkan diriNya disapa sebagai Bapa. Dengan cara ini barulah jagad ini akan makin memuliakanNya.

2. "Datanglah KerajaanMu". Mulai dari Luk 4:14 Yesus mewartakan suatu dunia baru yang dilindungi oleh kekuatan Roh Ilahi sendiri, dan oleh karenanya dunia itu disebut KerajaanNya. Amat ditekankan dalam Injil Lukas, dalam dunia yang baru ini batas-batas antara orang kaya dan kaum miskin dibuka. Bukan pertama-tama untuk mencampurbaurkan mereka begitu saja, melainkan untuk membuat masing-masing sadar bahwa bisa menjadi sesama bagi orang dari lapisan sosial yang lain, tak peduli yang mana. Matius menaruh gagasan dunia baru dalam ukuran-ukuran alam semesta dengan menambahkan ungkapan "jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga".

3. "Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya". Didoakan agar Bapa tetap memberi apa saja yang dibutuhkan, tidak lebih tidak kurang, untuk hidup dari hari ke hari, tentu saja agar orang makin dapat hidup di dalam KerajaanNya. Semangat membiarkan diri diperhatikan Bapa dengan tidak "menimbun makanan" itu sebenarnya jalan yang paling nyata untuk merasakan kehadiran Bapa di dalam kehidupan ini. Begitu juga dalam diri orang yang membiarkan diri menjadi sesama bagi yang lain dengan memberi perhatian secukupnya, tidak berlebih-lebihan dengan akibat mengecilkan orang yang menerimanya.

4. "Dan ampunilah kami dari dosa-dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami". Permohonan ini diajarkan Yesus untuk membuat murid-muridnya belajar mengambil sikap pengampun, sikap batin yang memberi kemerdekaan bagi diri sendiri dan bagi orang yang pernah berlaku salah. Tidak disangkal pengampunan ini tidak mudah dan acapkali juga disertai rasa pedih. Yesus yang disalib yang memintakan ampun kepada Bapanya bagi orang-orang yang menyalahinya itu mengalami kesakitan badan dan kepedihan batin. Sering sikap mengampuni yang disertai penderitaan batin ini tidak mudah dikenali. Tak berlebihan juga bila kita gambarkan Tuhan sendiri tidak melihatnya. Ia bukan Tuhan yang selalu mau mengawasi apa yang terjadi dalam batin manusia. Ia menghormati kemerdekaan manusia. Dan itulah kebesaran Tuhan juga. Namun, kepedihan yang tersimpan dalam-dalam itu satu saat dapat dibukakan kepadanya sebagai keikutsertaan dalam sikap hidup pengampun dari orang yang ditegaskan-Nya sendiri sebagai Anaknya yang terkasih (pada peristiwa baptisan Yesus dan penampakan kemuliaannya di gunung) dan yang dimintaNya sendiri agar didengarkan (di dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung). Dengan ini semua, mustahillah pada saat akhir nanti Tuhan bakal memperhitungkan kesalahan kita yang seberat apapun. Tak ternalarkan Ia tega membiarkan kita tanpa pengampunan.

5. "Dan janganlah membawa masuk kami ke dalam pencobaan." Dalam Injil Lukas, pencobaan ialah wilayah kekuatan-kekuatan yang jahat, yang gelap, yang pasti akan menelan manusia bagaimanapun juga kekuatan pribadinya. Menakutkan. Terjemahan "janganlah membawa masuk kami" dapat memberi kesan menuntun masuk ke sebuah ujian agar orang makin tabah, makin terlatih, makin kuat. Yang lebih cocok ialah "janganlah membiarkan kami masuk" ke dalam wilayah daya-daya maut tadi. Tak ada heroisme apapun hendak diajarkan dalam perkara ini. Oleh karenanya Matius, dalam versinya, menyertakan kalimat tambahan yang menjelaskan maksud permohonan ini: "tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat". Satu-satunya orang yang pernah masuk dalam kuasa yang jahat dan dapat keluar lagi ialah Yesus sendiri. Tetapi juga semua Injil Sinoptik mengatakan ia disertai Roh (Mrk 1:12; Mat 4:1; Luk 4:1). Ia memang memasuki wilayah yang gelap, tetapi ia tetap berada dalam bimbingan Roh Tuhan sendiri. Iblis tidak bisa berbuat banyak, walaupun tetap menunggu saat yang baik. Saat ini tiba ketika Yudas masuk dalam pencobaan dan tidak keluar lagi.

TANPA SUNGKAN-SUNGKAN

Perumpamaan yang disampaikan dalam Luk 11:5-8 mengenai orang yang datang membangunkan kawannya untuk minta tolong itu mengajarkan agar orang tak sungkan-sungkan mengajukan permohonan kepada Tuhan. Bahkan dalam perumpamaan itu orang tadi disebutkan "sikapnya yang tidak malu itu" (ayat 8). Terasa kembali kekuatan sapaan kepada Tuhan sebagai "Bapa" yang diajarkan Yesus. Ditandaskan dalam ayat 9-13, tak terpikir ada seorang bapa yang tak menggubris permintaan anaknya, atau memberi barang yang buruk dan yang bisa mencelakakan. Penalaran dari hidup sehari-hari ini dipakai untuk menegaskan bahwa Tuhan yang Mahakuasa pasti akan memberikan yang terbaik. Dan dalam rumusan Lukas, Ia akan memberikan Roh Kudus - kekuatan ilahi yang akan terus membimbing kita di dunia ini.

Salam hangat,

A. Gianto




Bagikan

Pesta Santo Yakobus, Rasul

Pesta Santo Yakobus, Rasul

"Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanamu." (Mat 20:28)

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahaagung, karena lebih baik berlindung kepada-Mu daripada mengandalkan kekuatan kami sendiri, maka kami menghadap Engkau dan mohon sabda-Mu. Semoga sabda-Mu itu memenuhi kami dengan Roh Kudus, yang membuat hidup kami subur akan kebaikan tanpa pamrih demi Yesus Al Masih, yang hidup di tengah-tengah kami. Sebab Dialah Tuhan pengantara kami kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Paulus dalam penderitaannya menghidupkan kembali dalam dirinya apa yang telah dialami oleh Yesus sendiri. Penderitaannya telah menjadi tanda dan sarana untuk melayani umatnya. Ia hidup karena iman akan Yesus dan harapan akan kuasa kebangkitan-Nya.

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (4:7-15)

"Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami."

Saudara-saudara, harta pelayanan sebagai rasul kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami sendiri. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terhimpit, kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami yang masih hidup ini terus-menerus diserahkan kepada maut demi Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata dalam tubuh kami yang fana ini. Demikianlah maut giat di dalam diri kami, sedangkan hidup giat di dalam kamu. Namun kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis, "Aku percaya, sebab itu aku berbicara." Karena kami pun percaya, maka kami juga berbicara. Karena kami tahu, bahwa Allah yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Allah itu akan menghadapkan kami bersama dengan kamu ke hadirat-Nya. Sebab semuanya itu terjadi demi kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar karena semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menghasilkan ucapan syukur semakin melimpah bagi kemuliaan Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.7; Ul: lh.3)
1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

Bait Pengantar Injil do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.

Ibu Yakobus dan Yohanes meminta supaya Yesus menempatkan kedua anaknya di sisi kiri dan kanan Yesus kelak dalam kerajaan-Nya. Namun Yesus menegaskan bahwa hanya Bapalah yang akan menempatkan siapa yang mempunyai hak untuk itu. Murid yang sesungguhnya harus menjadi seorang hamba dari semuanya, sebagaimana halnya Yesus sendiri.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (20:20-28)

"Cawan-Ku akan kamu minum"

Sekali peristiwa, menjelang kepergian Yesus ke Yerusalem, datanglah Ibu Zebedeus serta anak-anaknya kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu. Kata Yesus, "Apa yang kaukehendaki?" Jawab ibu itu, "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta! Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya, "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka, "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu, marahlah kesepuluh murid yang lain kepada dua bersaudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, "Kamu tahu, bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Yakobus adalah rasul yang istimewa. Ia - bersama Petrus, Andreas, dan Yohanes - termasuk orang-orang yang perama dipanggil oleh Yesus (Mrk 1:19 dst). Dalam daftar kedua belas rasul, ia juga menempati urutan depan (Mrk 3:16-18). Ia juga merupakan salah satu dari tiga rasul yang dibawa oleh Yesus untuk mengalami kemuliaan Yesus di atas gunung (Mrk 9:2). Mengenai tempat istimewa yang dimiliki oleh Yakobus di antara para rasul, hal itu dapat dibaca juga misalnya Mrk 1:29; 5:37.40; 13:3; 14:33.

Santo Yakobus memiliki adik, Santo Yohanes, yang kita kenal dekat dan dikasihi Tuhan Yesus. Kedua orang itu adalah anak-anak Zebedeus, sebuah keluarga nelayan. Ketika mereka mengikuti Yesus, kedua orangnya sangat mendukung. Bahkan ibu mereka menghadap Yesus untuk memohon agar kedua anaknya besok boleh menjadi orang-orang kepercayaan Yesus. Tampaknya mereka membayangkan bahwa Yesus akan menjadi tokoh besar dan penting di masyarakat Yahudi, berkedudukan tinggi, sehingga anak-anaknya bisa ikut nebeng.

Tanggapan Yesus ternyata berbeda dari yang mereka harapkan, "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta". Namun Yesus menawarkan kemungkinan: "Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?" Bagi Yakobus dan Yohanes, maksud kata-kata "minum cawan" itu kiranya tidak jelas. Mereka memang menjawab: "Kami dapat". Akan tetapi keduanya pasti membutuhkan waktu yang lama dan berbeda untuk memahaminya. Yakobus memerlukan waktu lebih pendek. Ia akhirnya dibunuh sebagai martir dalam usia muda pada pemerintahan Herodes Agripa. Yohanes mengolahnya dalam masa yang panjang karena konon kabarnya ia menjadi rasul yang tidak dimartir. Tuhan memberi banyak waktu pada Yohanes untuk mengolah sabda Tuhan. Melalui surat-surat dan Injilnya Yohanes menerangkan kepada kita apa yang dipahami dan dihayatinya tentang kasih Allah kepada kita dalam Kristus.

Kitab suci kita sama. Kita mendengarkan perikop yang sama dari teks KS hari ini. Kita membaca atau renungan yang sama. Namun bukankah penangkapan dan pemahaman kita satu sama lain atas sabda Tuhan dan renungan ini berbeda-beda? Pengolahan kita atas sabda Tuhan yang sama pun berbeda. Dan Tuhan memang memiliki rencana yang tidak sama atas kita masing-masing!

Kepada manusia yang lemah, Tuhan menitipkan harta rohani yang berharga. Dalam kelemahan manusia, kuasa Tuhan menjadi semakin nyata. Walaupun kita lemah dan memiliki banyak keterbatasan, kita boleh berharap seperti harapan Yakobus, Yohanes, dan ibu mereka untuk duduk bersama Tuhan dalam kerajaan-Nya. Tentu saja, bukan diri kita yang menentukan terpenuhi atau tidaknya harapan itu, melainkan Bapa yang di surga. Bagi siapa posisi itu akan diberikan Bapa? Kitab Suci menampilkan syarat-syaratnya.

Yesus berbicara tentang kesanggupan untuk meminum cawan. Cawan itu adalah hidup sebagai hamba dan pelayan, mengorbankan diri demi penebusan dan keselamatan banyak orang. Wujud dari kesanggupan minum cawan dijabarkan oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus. Kita harus rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu, serta memelihara kesatuan Roh. Konsekuensi dari cawan itu adalah aneka penderitaan, tekanan, dan ancaman, sebagaimana dikisahkan Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus. Apakah kita memiliki harapan untuk duduk bersama Allah dalam kerajaan-Nya? Sanggupkah kita meminum cawan iman dan hidup kita?

Tuhan, cawan itu sudah mulai kuminum dalam kehidupanku saat ini, tetapi aku kurang setia menjalaninya. Ajarilah aku untuk setia, seperti Engkau yang setia agar harapanku untuk duduk bersama-Mu dalam keselamatan kekal dapat terpenuhi. Amin.


RUAH, IB, ZB


Bagikan