Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 45: Kebenaran, pemakluman dan hidup otentik di zaman digital

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI
untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 45, 5 Juni 2011

Kebenaran, pemakluman dan hidup otentik di zaman digital

Renungan Pagi


Saudara dan Saudari Terkasih,

Pada kesempatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-45, saya ingin berbagi beberapa refleksi yang dimotivasi oleh sebuah gejala khas zaman kita ini yakni munculnya internet sebagai jejaring untuk komunikasi. Ada pendapat yang sudah semakin umum bahwa, sebagaimana Revolusi Industri yang pada masanya membawa perubahan besar dalam masyarakat melalui perubahan- perubahan yang diterapkan ke dalam lingkaran produksi dan kehidupan para pekerja, demikian juga berbagai perubahan mendasar yang terjadi di dalam komunikasi di zaman sekarang ini secara signifikan sedang memandu perkembangan-perkembangan budaya dan sosial. Teknologi baru tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi melainkan juga memengaruhi komunikasi itu sendiri sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan bahwa kita sementara hidup dalam sebuah periode transformasi budaya yang besar. Sarana-sarana penyebaran informasi dan pengetahuan ini melahirkan cara baru belajar dan berpikir demi membangun relasi dan persaudaraan; sebuah peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kini, cakrawala baru telah terbuka yang belakangan ini tak dapat kita bayangkan. Ia membuat kita merasa kagum terhadap bebagai kemungkinan yang diberikan oleh media baru itu, dan pada saat yang sama menuntut suatu permenungan yang serius tentang makna komunikasi di zaman digital. Hal ini sangat jelas ketika kita dihadapkan dengan daya internet yang luar biasa dan pemanfaatannya yang kompleks. Sebagaimana halnya dengan setiap buah kecerdikan manusia, teknologi komunikasi baru harus ditempatkan bagi pelayanan demi kebaikan perorangan dan umat manusia secara utuh. Jika digunakan dengan bijaksana, teknologi komunikasi baru dapat memberikan sumbangsih bagi pemuasan kerinduan akan makna, kebenaran dan kesatuan yang masih menjadi cita-cita terdalam setiap manusia.

Menyampaikan informasi di dalam dunia digital kian dipahami sebagai memperkenalkannya dalam jejaringan sosial dimana apa yang diketahui menjadi ajang saling berbagi antar pribadi. Perbedaan yang jelas antara penyedia informasi dan pengenyam informasi dikurangi; sementara itu komunikasi tidak hanya nampak sebagai pertukaran data tetapi juga sebagai suatu cara berbagi. Dinamika ini melahirkan pemahaman baru tentang komunikasi itu sendiri, yang pada tempat pertama dilihat sebagai dialog, upaya berbagi, belarasa dan penciptaan hubungan yang positif. Pada sisi lain, ia dihadapkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang khas dari komunikasi digital yaitu interaksi sepihak, kecendrungan mengkomunikasikan dunia batin seseorang yang tidak utuh, resiko membangun citra palsu seseorang sebagai bentuk pemuasan diri sendiri.

Secara khusus, kaum muda sedang mengalami perubahan di bidang komunikasi dengan berbagai kecemasan, tantangan dan daya cipta, layaknya orang yang memiliki rasa ingin tahu dan penuh semangat terhadap pengalaman baru dalam hidupnya . Keterlibatan mereka yang semakin besar dalam forum publik digital yang disebut jejaringan sosial membantu menciptakan cara-cara baru membangun hubungan antar pribadi, memengaruhi kesadaran diri sendiri dan tak dapat dihindari mempertanyakan bukan saja bagaimana seharusnya bertindak tetapi juga tentang otentisitas diri seseorang. Masuk ke dalam ruang maya dapat menjadi tanda pencarian yang otentik seseorang untuk berjumpa dengan orang lain, asalkan tetap tanggap terhadap bahaya seperti menyertakan diri dalam bentuk eksistensi ganda atau menampilkan diri secara berlebihan di dalam dunia maya. Dalam usaha berbagi dan mencari “teman”, kita ditantang untuk menjadi otentik dan setia dan tidak menyerah kepada ilusi membangun tampang publik artifisial itu sendiri.

Teknologi baru memberikan kemungkinan untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri, memungkinkan sebuah dunia persahabatan yang sungguh-sungguh baru. Ini merupakan peluang besar tetapi juga menuntut perhatian yang lebih besar dan kesadaran akan resiko yang muncul. Siapakah “tetangga” saya di dalam dunia baru ini? Entahkah ada bahaya bahwa kita kurang hadir di dalam diri orang-orang yang kita jumpai dalam hidup harian kita? Apakah ada risiko menjadi lebih terganggu karena perhatian kita terbagi-bagi dan diserap di “dunia lain” daripada dimana kita hidup? Apakah kita mempunyai waktu untuk merenungi pilihan kita secara kritis dan membina hubungan yang sungguh mendalam dan abadi? Penting untuk selalu diingat bahwa kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang-orang di setiap tingkat kehidupan kita.

Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan dengan kebutuhan akan otentisitas dan refleksi. Selain itu, dinamika di dalam jejaringan sosial itu sendiri menunjukkan bahwa seseorang senantiasa terlibat dalam apa yang ia komunikasikan. Tatkala orang saling menukar informasi, mereka sudah terlebih dahulu mensyeringkan diri mereka, pandangannya tentang dunia, harapan dan cita-cita mereka. Lantas, cara hadir yang khas kristiani di dunia digital adalah bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggungjawab dan menghormati orang lain. Memaklumkan Injil melalaui media baru berarti tidak sekadar memasukkan konten religius secara eksplisit ke dalam berbagai pentas media, tetapi menjadi saksi setia di dunia digital itu sendiri dan di dalam cara berkomuniakasi, memilih, mengarus-utamakan serta penilaian yang sungguh selaras dengan Injil bahkan ketika hal itu tidak dibicarakan secara khusus. Selain itu, benar juga bahwa di dalam dunia digital pesan tak dapat disampaikan tanpa disertai dengan kesaksian yang konsisten dari pihak yang meyampaikannya. Dalam situasi baru itu dan dengan bentuk pengungkapan baru, orang Kristen sekali lagi dipanggil untuk memberikan jawaban kepada siapa saja yang meminta pertanggungjawaban terhadap pengharapan yang ada dalam diri mereka (bdk. 1 Petrus, 3:15)

Tugas memberikan kesaksian tentang Injil di era digital menuntut setiap orang untuk secara istimewa menaruh perhatian pada aspek pesan yang dapat menantang cara berpikir khas internet. Lebih dari itu, kita harus menyadari bahwa kebenaran yang layak kita bagikan bukan dilandaskan pada sisi “popularitas”nya atau jumlah perhatian yang diterima. Kita harus berusaha memperkenalkannya secara utuh, bukan sekadar supaya bisa diterima atau sebaliknya malah melemahkannya. Ia harus menjadi makanan harian dan bukannya daya tarik sesaat. Kebenaran Injil bukanlah sesuatu yang dinikmati atau digunakan secara dangkal, melainkan pemberian yang menuntut jawaban bebas. Bahkan apabila diwartakan dalam dunia internet, Injil harus terjelma dalam dunia nyata dan berkaitan dengan wajah riil saudara dan saudari kita, mereka yang dengannya kita berbagi keseharian hidup kita. Hubungan manusiwi yang langsung tetap menjadi fundamental bagi pemakluman iman.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak orang-orang kristiani untuk dengan percaya diri, dengan kreatifitas yang terinformasi dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaringan hubungan yang dimungkinkan oleh zaman digital. Hal ini bukan untuk memuaskan keinginan untuk sekadar hadir, tetapi karena jejaringan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks dan bentuk-bentuk baru kesadaran untuk berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kirstus adalah Allah, penyelamat umat manusia dan penyelamat sejarah, yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10). Pewartaan Injil menuntut sebuah komunikasi yang sekaligus menghormati dan peka, yang menggugah hati dan menggerakkan kesadaran; cerminan suri teladan Yesus yang bangkit tatkala Ia bergabung bersama para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Lk. 24:13-35). Dengan cara pendekatan ini, lewat dialog-Nya bersama mereka, melalui cara-Nya yang lembut menggerakkan hati, mereka perlahan-lahan dituntun untuk memahami misteri.

Dalam analisis terakhir, kebenaran Kristus merupakan jawaban yang utuh dan otentik bagi kerinduan manusia untuk membangun relasi, persekutuaun dan makna yang tercermin dalam popularitas jejaringan sosial yang besar. Orang beriman yang memberikan kesaksian iman yang sungguh-sungguh tentu akan memberikan bantuan yang berharga bagi internet dari sekadar menjadi sarana yang menjadikan manusia sebagai obyek, yang memanipulasi secara emosianal, dan yang memberikan kemungkinan kepada penguasa untuk memonopoli pendapat orang lain. Sebaliknya, orang beriman akan mendorong setiap orang untuk terus memberikan pertanyaan manusiawi yang abadi sebagai ungkapan kerinduan akan yang trasendental dan dambaan hidup yang otentik, yang patut untuk dihayati. Justru hasrat rohani manusia yang unik inilah yang mengilhami upaya kita untuk mencari kebenaran dan persekutuan dan mendorong kita untuk berkomunikasi dengan utuh dan jujur.

Di atas semuanya itu, Saya mengundang kaum muda untuk sungguh-sungguh hadir secara berdaya guna di dunia digital. Saya mengulangi lagi undanganku bagi mereka untuk Hari Kaum Muda sedunia di Madrid, dimana teknologi baru akan memberikan sumbangannya yang besar bagi persiapannya. Dengan perantaraan pelindungnya St. Fransiskus de Sales, saya berdoa agar Allah dapat selalu memberikan para pekerja di bidang komunikasi kemampuan untuk melaksanakan karya mereka dengan sadar dan profesional. Kepada kalian semua, saya menyampaikan berkat apostolik saya.

Vatikan 24 Januari 2011
Pesta St, Fransiskus de Sales

Benedictus PP XVI



MESSAGE OF HIS HOLINESS
POPE BENEDICT XVI
FOR THE 45th WORLD COMMUNICATIONS DAY

Truth, Proclamation and Authenticity of Life in the Digital Age

June 5, 2011

Dear Brothers and Sisters,

On the occasion of the 45th World Day of Social Communications, I would like to share some reflections that are motivated by a phenomenon characteristic of our age: the emergence of the internet as a network for communication. It is an ever more commonly held opinion that, just as the Industrial Revolution in its day brought about a profound transformation in society by the modifications it introduced into the cycles of production and the lives of workers, so today the radical changes taking place in communications are guiding significant cultural and social developments. The new technologies are not only changing the way we communicate, but communication itself, so much so that it could be said that we are living through a period of vast cultural transformation. This means of spreading information and knowledge is giving birth to a new way of learning and thinking, with unprecedented opportunities for establishing relationships and building fellowship.

New horizons are now open that were until recently unimaginable; they stir our wonder at the possibilities offered by these new media and, at the same time, urgently demand a serious reflection on the significance of communication in the digital age. This is particularly evident when we are confronted with the extraordinary potential of the internet and the complexity of its uses. As with every other fruit of human ingenuity, the new communications technologies must be placed at the service of the integral good of the individual and of the whole of humanity. If used wisely, they can contribute to the satisfaction of the desire for meaning, truth and unity which remain the most profound aspirations of each human being.

In the digital world, transmitting information increasingly means making it known within a social network where knowledge is shared in the context of personal exchanges. The clear distinction between the producer and consumer of information is relativized and communication appears not only as an exchange of data, but also as a form of sharing. This dynamic has contributed to a new appreciation of communication itself, which is seen first of all as dialogue, exchange, solidarity and the creation of positive relations. On the other hand, this is contrasted with the limits typical of digital communication: the one-sidedness of the interaction, the tendency to communicate only some parts of one’s interior world, the risk of constructing a false image of oneself, which can become a form of self-indulgence.

Young people in particular are experiencing this change in communication, with all the anxieties, challenges and creativity typical of those open with enthusiasm and curiosity to new experiences in life. Their ever greater involvement in the public digital forum, created by the so-called social networks, helps to establish new forms of interpersonal relations, influences self-awareness and therefore inevitably poses questions not only of how to act properly, but also about the authenticity of one’s own being. Entering cyberspace can be a sign of an authentic search for personal encounters with others, provided that attention is paid to avoiding dangers such as enclosing oneself in a sort of parallel existence, or excessive exposure to the virtual world. In the search for sharing, for “friends”, there is the challenge to be authentic and faithful, and not give in to the illusion of constructing an artificial public profile for oneself.

The new technologies allow people to meet each other beyond the confines of space and of their own culture, creating in this way an entirely new world of potential friendships. This is a great opportunity, but it also requires greater attention to and awareness of possible risks. Who is my “neighbour” in this new world? Does the danger exist that we may be less present to those whom we encounter in our everyday life? Is there is a risk of being more distracted because our attention is fragmented and absorbed in a world “other” than the one in which we live? Do we have time to reflect critically on our choices and to foster human relationships which are truly deep and lasting? It is important always to remember that virtual contact cannot and must not take the place of direct human contact with people at every level of our lives.

In the digital age too, everyone is confronted by the need for authenticity and reflection. Besides, the dynamic inherent in the social networks demonstrates that a person is always involved in what he or she communicates. When people exchange information, they are already sharing themselves, their view of the world, their hopes, their ideals. It follows that there exists a Christian way of being present in the digital world: this takes the form of a communication which is honest and open, responsible and respectful of others. To proclaim the Gospel through the new media means not only to insert expressly religious content into different media platforms, but also to witness consistently, in one’s own digital profile and in the way one communicates choices, preferences and judgements that are fully consistent with the Gospel, even when it is not spoken of specifically. Furthermore, it is also true in the digital world that a message cannot be proclaimed without a consistent witness on the part of the one who proclaims it. In these new circumstances and with these new forms of expression, Christian are once again called to offer a response to anyone who asks for a reason for the hope that is within them (cf. 1 Pet 3:15).

The task of witnessing to the Gospel in the digital era calls for everyone to be particularly attentive to the aspects of that message which can challenge some of the ways of thinking typical of the web. First of all, we must be aware that the truth which we long to share does not derive its worth from its “popularity” or from the amount of attention it receives. We must make it known in its integrity, instead of seeking to make it acceptable or diluting it. It must become daily nourishment and not a fleeting attraction. The truth of the Gospel is not something to be consumed or used superficially; rather it is a gift that calls for a free response. Even when it is proclaimed in the virtual space of the web, the Gospel demands to be incarnated in the real world and linked to the real faces of our brothers and sisters, those with whom we share our daily lives. Direct human relations always remain fundamental for the transmission of the faith!

I would like then to invite Christians, confidently and with an informed and responsible creativity, to join the network of relationships which the digital era has made possible. This is not simply to satisfy the desire to be present, but because this network is an integral part of human life. The web is contributing to the development of new and more complex intellectual and spiritual horizons, new forms of shared awareness. In this field too we are called to proclaim our faith that Christ is God, the Saviour of humanity and of history, the one in whom all things find their fulfilment (cf. Eph 1:10). The proclamation of the Gospel requires a communication which is at once respectful and sensitive, which stimulates the heart and moves the conscience; one which reflects the example of the risen Jesus when he joined the disciples on the way to Emmaus (cf. Lk 24:13-35). By his approach to them, his dialogue with them, his way of gently drawing forth what was in their heart, they were led gradually to an understanding of the mystery.

In the final analysis, the truth of Christ is the full and authentic response to that human desire for relationship, communion and meaning which is reflected in the immense popularity of social networks. Believers who bear witness to their most profound convictions greatly help prevent the web from becoming an instrument which depersonalizes people, attempts to manipulate them emotionally or allows those who are powerful to monopolize the opinions of others. On the contrary, believers encourage everyone to keep alive the eternal human questions which testify to our desire for transcendence and our longing for authentic forms of life, truly worthy of being lived. It is precisely this uniquely human spiritual yearning which inspires our quest for truth and for communion and which impels us to communicate with integrity and honesty.

I invite young people above all to make good use of their presence in the digital world. I repeat my invitation to them for the next World Youth Day in Madrid, where the new technologies are contributing greatly to the preparations. Through the intercession of their patron Saint Francis de Sales, I pray that God may grant communications workers the capacity always to carry out their work conscientiously and professionally. To all, I willingly impart my Apostolic Blessing.

From the Vatican, 24 January 2011, Feast of Saint Francis de Sales

BENEDICTUS XVI



(diambil dari http://katolisitas.org/2011/02/09/kebenaran-pemakluman-dan-hidup-otentik-di-zaman-digital/

http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/messages/communications/documents/hf_ben-xvi_mes_20110124_45th-world-communications-day_en.html )


Sabtu, 12 Februari 2011 Hari Biasa Pekan V

Sabtu, 12 Februari 2011
Hari Biasa Pekan V

Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mzm 90:12)

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, Engkau bersabda, "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Kami percaya, saat ini pun Engkau mempersatukan kami agar sehati-sejiwa membangun gereja. Terimalah kehendak dan segala niat baik kami, agar hidup kami menampakkan cahaya kasih ilahi-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kejadian (3:9-24)

"Tuhan Allah mengusir manusia dari Taman Eden supaya mengolah tanah."

Pada suatu hari, di Taman Eden, TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun-menurun.
Ayat. (Mzm 90:2.3-4.5-6.12-13; R:1)
1. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari sediakala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.
2. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.
3. Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.
4. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, -berapa lama lagi?- dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 4:4)
Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (8:1-10)

"Mereka semua makan sampai kenyang."

Sekali peristiwa sejumlah besar orang mengikuti Yesus. Karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Ketika seseorang dituntut mempertanggungjawabkan kesalahannya, ada kecenderungan mencari kambing hitam. Tanggung jawab pribadi cenderung dilepaskan dan dilemparkan kepada orang lain. Itulah yang terjadi ketika Adam dan Hawa ditegur oleh Allah karena melawan perintah-Nya. Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa: ”Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberikan buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12).

Ketika Yesus mengetahui bahwa sejumlah besar orang yang mengikuti-Nya tidak mempunyai makanan, Dia tidak melemparkan tanggung jawab kepada masing-masing orang, Dia tidak mencari kesalahan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kelaparan orang banyak. Justru, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan dan mengajak para muridnya untuk mencari jalan keluar bersama. Tujuh roti dan beberapa ikan yang ada dikumpulkan, diucapkan syukur, diberkati serta dibagi-bagikan kepada semua orang. Mereka makan sampai kenyang, bahkan masih banyak yang tersisa.

Di sini ada kelimpahan kasih Allah yang dibagi-bagikan kepada orang-orang lain, khususnya yang sungguh membutuhkan. Kemurahan dan kepekaan hati berbuah berkat yang melimpah. Kita pun diajak untuk mengalirkan kasih Allah yang berlimpah kepada siapa saja, khususnya yang berkekurangan dan sangat membutuhkan. Sebab, kita pun ikut bertanggung jawab atas nasib orang lain.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih, hanya Engkaulah yang dapat memenuhi kelaparan dan dahaga hidupku. Penuhilah diriku dengan rasa syukur dan kerinduan akan roti surgawi yang memberi keselamatan abadi. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian