Rabu, 16 Februari 2011 Hari Biasa Pekan VI

Rabu, 16 Februari 2011
Hari Biasa Pekan VI

Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah dahulu membenci Aku daripada kamu." (Yoh 15:18)

Doa Renungan

Selamat pagi ya Allah, Engkau menganugerahkan kepadaku penglihatan untuk menikmati keindahan alam ciptaan-Mu. Sebagaimana mata orang buta yang Engkau celikkan, semoga juga Engkau mencelikkan kebutaan mata hati kami yang sering kurang mampu melihat kehendak-Mu dalam hidup kami. Sehingga mata hati kami lebih peka dalam menyadari kehadiran-Mu pada hari ini. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Burung merpati yang pulang kembali dengan membawa sehelai daun Zaitun, menjadi tanda bahwa Tuhan mendatangkan damai di atas bumi. Dan setelah mengering air di atas bumi Nuh mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Tuhan pun berjanji untuk memberi rahmat kehidupan baru yang baik untuk kesejahteraan hidup semua yang tinggal di atas bumi.

Pembacaan dari Kitab Kejadian (8:6-13.20-22)

"Nuh melihat-lihat; ternyata muka bumi sudah mulai kering."

Pada waktu itu air bah sudah mulai surut. Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Lalu ia melepaskan seekor burung gagak. Dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air menjadi kering di atas bumi. Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air telah berkurang dari muka bumi. Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tumpuan kaki dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera, karena di seluruh bumi masih ada air. Lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu. Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun Zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air telah berkurang dari atas bumi. Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu; tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. Maka dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudah keringlah air dari atas bumi. Kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan. Dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram, diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan kurban bakaran di atas mezbah itu. Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, bersabdalah Tuhan dalam hati-Nya, "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya; Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam".
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 116:12-15.18-19)
1. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
2. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya. Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
3. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya, di pelataran rumah Tuhan, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat.
Semoga Bapa Tuhan kita Yesus Kristus menerangi mata hati kita, supaya kita memahami pengharapan yang terkandung dalam panggilan kita.

Pada waktu Yesus menyembuhkan mata orang buta di Betsaida, Ia mengajaknya pergi keluar kampung, meludahi matanya, dan meletakkan tangan di atasnya. Di sini kita melihat adanya suatu tahap-tahap penyembuhan. Ternyata mukjizat bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan butuh usaha dan proses tertentu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (8:22-26)

"Si buta itu sembuh, dan dapat melihat segala sesuatu dengan jelas."

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon supaya Ia menjamah dia. Yesus lalu memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata si buta, dan meletakkan tangan di atasnya, Ia bertanya, "Sudahkah kaulihat sesuatu?" Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, "Aku melihat orang! Kulihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon yang berjalan". Yesus kemudian meletakkan tangan-Nya lagi pada mata orang itu. Maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, "Jangan masuk ke kampung!"
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

Mengalami kebutaan mata tentulah tidak mengenakkan. Kita dapat membayangkan betapa bahagianya seseorang yang penglihatannya dapat pulih: dari tidak bisa melihat menjadi melihat dan mengamati segalanya dengan jelas.

Ketika seorang buta dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan, Yesus memegang matanya, meludahi matanya, dan sekali lagi meletakkan tangan pada mata orang itu. Perlahan-lahan penglihatannya menjadi pulih. Walaupun Yesus dapat menyembuhkannya dengan jamahan seketika, tetapi Yesus berproses dengan si buta. Ia diantar secara bertahap untuk disembuhkan dan dengan demikian beriman kepada Tuhan. Nuh juga harus bersabar menunggu surutnya air bah guna memastikan bumi sudah kering untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan. Yesus juga menyampaikan poin-poin ajaran-Nya kepada para murid-Nya secara bertahap, walaupun Ia kadang kala menghadapi ketidakpahaman mereka. Ia sabar. Demikian juga, pemahaman kita akan Yesus merupakan suatu proses bertahap, tidak akan berhenti, dan membutuhkan ketekunan.

Selain itu, untuk mengerjakan mukjizat penyembuhan ini Yesus menghantar si buta ke luar kampung agar tidak disaksikan oleh banyak orang. Ketika penglihatan si buta sudah pulih, ia disuruh Yesus pulang ke rumahnya tanpa memasuki kampung. Tampak di sini kesederhanaan dan kerendahan hati Yesus. Ia tidak menghendaki kehebohan dan popularitas. Ia tidak mau dipuji karena perbuatan-Nya yang baik.

Tuhan Yesus Kristus, sembuhkanlah aku dari kebutaan hati dan pikiran yang menghalangi aku untuk melihat keselamatan-Mu. Berikanlah aku semangat kerendahan hati untuk menerima kebaikan-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian