Bacaan Harian: 18 - 24 April 2011

Senin, 18 April Hari Senin Dalam Pekan Suci (U).
Yes 42:1-7; Mzm 27:1-3.13-14; Yoh 12:1-11.

Selasa, 19 April Hari Selasa Dalam Pekan Suci (U).
Yes 49:1-6; Mzm 71:1-4a.5-6ab.15.17; Yoh 13:21-33.36-38.

Rabu, 20 April Hari Rabu Dalam Pekan Suci (U).
Yes 50:4-9a; Mzm 69:8-10.21bcd-22.31.33-34; Mat 26:14-25.

Kamis, 21 April Pagi: Hari Kamis Dalam Pekan Suci (U).
Ekaristi Krisma di Gereja Katedral (P).
Pembaharuan Janji Imam.
Bacaan Ekaristi Yes 61:1-3a.6a.8b-9; Mzm 89:21-22.25.27; Why 1:5-8; Luk 4:16-21.
Catatan: 1. Ekaristi Krisma (P), dapat dipindahkan/dirayakan pada tgl. pertemuan para imam bersama Uskup, asal tidak jauh dari hari Kamis.
2. Hari ini baik kalau dijadikan hari penerimaan kembali mereka yang bertobat dari dosa berat.

Tri Hari Paskah

Sore: Kamis Putih (P). Peringatan Perjamuan Tuhan.
Kel 12:1-8.11-14; Mzm 116:12-13.15-16bc.17-18; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15.

Jumat, 22 April Hari Jumat Agung (M). Puasa dan Pantang.
Yes 52:13 – 53:12; Mzm 31:2.6.12-13.15-17.25; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1 – 19:42.

Sabtu, 23 April Malam Paskah (P).
Kej 1:1 – 2:2 (Kej 1:1.26-31a); Mzm 104:1-2a.5-6.10.12-14.24.35c atau Mzm 33:4-7.12-13.20.22; Kej 22:1-18 (Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18); Mzm 16:5.8-11; Kel 14:15 – 15.1; MT Kel 15:1-6.17-18; Yes 54:5-14; Mzm 30:2.4-6.11.12a.13b; Yes 55:1-11; MT Yes 12:2-3.4bcd-6; Bar 3:9-15.32 – 4:4; Mzm 19:8-11; Yeh 36:16-17a.18-28; Mzm 42:3.5bcd; 43:3-4; atau kalau ada pembaptisan MT Yes 12:2-3.4bcd-6 atau Mzm 51:12-15.18-19; Rm 6:3-11; Mzm 118:1-2.16ab-17.22-23; Mat 28:1-10.

Minggu, 24 April Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan (P).
Kis 10:34a.37-43; Mzm 118:1-2.16ab-17.22-23; Kol 3:1-4 atau 1Kor 5:6b-8; Yoh 20:1-9; Sore: Luk 24: 13-35

Minggu, 17 April 2011 :: Hari Minggu Palma :: HOSANNA PUTRA DAUD

Minggu, 17 April 2011
Hari Minggu Palma
Mengenangkan Sengsara Tuhan

HOSANNA PUTRA DAUD

Renungan

Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Sungguh sangat tidak mudah untuk memahami liturgi perayaan Minggu Palma. Karena dalam upacara awal dengan begitu gegap gempita mengagungkan dan menyambut dengan meriah kehadiran Yesus sebagai Raja damai yang penuh kemegahan, tetapi sesudah masuk gedung gereja suasana menjadi terbalik 100 % dengan teriakan yang mengungkapkan kebencian dan kemarahan yang luar biasa dengan teriakan “salibkanlah Dia…salibkanlah Dia” sungguh sangat ironis.

Marilah coba kita selami upacara tersebut. Menjelang Paskah Yahudi Yesus datang ke Yerusalem untuk menghadiri perayaan yang menggerakkan seluruh umat yaitu Paskah Yahudi.

Sewaktu mau memasuki kota Yerusalem, dan masih di Betfage Yesus menaiki seekor keledai muda untuk turun ke Yerusalem, dan sepontan mendapat sambutan yang luar biasa untuk ditempatkan dan dilantik sebagai raja seperti dalam syair Madah Bhakti No. 395 yang isinya di antaranya: Dikala Yesus disambut di gerbang Yerusalem, umat bagai lautan dengan Palma di tangan. Gemuruh sorak sorai “Kristus Raja Damai”.

Dalam peristiwa itu Tuhan Yesus mendapatkan pengakuan dengan segala julukan dan pengakuan pentobatan sebagai: raja damai, Tuhan, Kristus; penebus, penghibur, raja abadi, raja mahamulia, penebus umat manusia, sebagai pembaharu dunia. Seruan dan kidungan sangat membahana. Palma yang di tangan dan pekikkan teriakan yang sangat mengagungkan kebesaran-Nya. Segala mata memandang dengan penuh kebahagiaan dan harapan kepada-Nya sebagai Mesias sang Raja Damai, seolah segala kemenangan sudah berada di tangan-Nya. Yesus ditampilkan pemimpin dan raja yang lemah lembut, yang sabar, yang menempati di seluruh hati rakyat, yang sangat dicintai dan dihargai.

Namun gereja sadar, dan tidak mau larut hanyut dalam hiruk pikuk gemerlapan atas kemenangan itu karena di sisi lain gereja masih mau merenungkan perjalanan panjang penderitaan dan kesengsaraan Tuhan. Komitmen Yesus akan terlaksananya kehendak Bapa, masih harus menyeret Yesus masuk dalam penegasan akan kesetiaannya kepada hukum Bapa.

Cinta kasihnya yang menuntut pengurbanan di kayu salib, cinta kasih dalam pelayanan tuntas melalui penyerahan tubuh dan darah-Nya, yang membawa ke parade penyaliban dan wafat-Nya di kayu salib. Oleh karena itu semua isi mau dipaparkan dalam pengantar pekan suci yang dirangkai dalam perayaan Minggu Palma.

Minggu Palma juga disebut pembuka Pekan Suci, yang di dalamnya mau dicoba semua unsur tersebut diramu menjadi satu. Maka unsur pemuliaan, penderitaan, pengajaran, keteladanan dalam kesalehan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, ketaatan atau kesetiaan semua ditampilkan dalam upacara Minggu Palma itu. Selain itu juga unsur persiapan rekonsiliasi bagi para pendosa, melalui permenungan perbaikan sikap hidup menjadi bagian penting untuk memasuki kebangkitan hidup baru.

Semoga kita siap dirajai oleh Yesus yang memiliki kekayaan surgawi yang begitu bermurah hati kepada semua orang yang berdosa untuk belajar dan menimba dari sumber kekayaan Rahmat-Nya yang dibagikan melalui seluruh bagian kehidupan-Nya, melalui contoh hidupnya, pengajarannya, dan seluruh sikap-sikapnya yang konkrit dalam setiap situasi dan kondisi yang dihadapi.

“Selamat memasuki misteri sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya”.

Salam dan berkat.


Pastor Antonius Sumardi, SCJ
Pastor Kepala
Paroki St Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan
www.st-stefanus.or.id

Menghayati Makna Minggu Suci

Minggu Suci dalam bahasa latin “Hebdomada Sancta” adalah minggu untuk mengenang sengsara Tuhan Yesus yang dimulai sejak Minggu Palma (Minggu Sengsara) sampai dengan hari Paskah. Minggu Suci merupakan waktu mengenangkan hari-hari terkahir hidup Yesus Kristus. Ada dua bagian dalam Minggu Suci, yaitu Hari-hari Pekan Suci dan Trihari Paskah.

HARI-HARI PEKAN SUCI terdiri dari: 1) Minggu Palma adalah saat kita mengenangkan Yesus yang masuk ke Yerusalem sebagai Raja yang menyelamatkan melalui penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya. 2) Senin, Selasa, Rabu dalam pekan Suci merupakan hari-hari tobat/penerimaan Sakramen Pengampunan Dosa. 3) Kamis Putih (akhir Masa Prapaskah) adalah peringatan akan Yesus yang mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya kepada para murid-Nya dalam rupa roti dan anggur (Ekaristi) pada perjamuan malam terakhir sebelum sengsara dan wafat-Nya. Setelah Misa Kudus, kita dianjurkan untuk mengikuti tuguran sampai pukul 24.00, yaitu berjaga-jaga bersama dengan Tuhan dalam menghadapi sengsara-Nya dengan bersembah sujud dan berdoa di depan Sakramen Maha Kudus.

TRIHARI PASKAH terdiri dari: 1) Jumat Agung, yaitu ibadat pengenangan akan wafat Tuhan Yesus di salib demi penebusan dosa-dosa kita. Perayaan ini mencapai puncaknya pada penghormatan salib/penciuman salib. Maka, pada Jumat Agung ini kita membuka semua kain-kain warna ungu atau merah yang dipakai untuk menyelubungi salib-salib, baik yang berada di gereja ataupun di rumah kita sejak hari Sabtu menjelang Minggu Prapaskah kelima. Namun, kain-kain penyelubung patung-patung dan gambar-gambar suci baru dibuka menjelang perayaan Malam Paskah karena patung-patung dan gambar-gambar suci merupakan simbol kemuliaan umat Tuhan berkat kebangkitan-Nya. 2) Sabtu Suci/Minggu Sunyi, yaitu hari keheningan total (silentium magnum); hendaknya suasana tenang dan damai mewarnai hari ini karena kita berada di makam Tuhan Yesus. 3) Paskah, yang terdiri dari: a) Malam Paskah: kita berjaga dalam doa dengan perayan liturgi agung (Ekaristi Meriah) untuk mengenangkan saat Kebangkitan Tuhan dari kematian. b) Hari Raya Kebangkitan Kristus: kita merayakan Kebangkitan Kristus dengan penuh sukacita.

Urutan perayaan-perayaan pada Minggu Suci yang panjang dan melelahkan ini akan menumbuhkan iman kita ketika kita mau memahami dan merenungkan maknanya. Tuhan memberkati.

(Rm Felix Supranto, SS.CC www.reginacaeli.org).

Perarakan Iman dalam Minggu Suci

Dalam Minggu Suci terdapat lima perarakan duka sehingga perarakan ini diwarnai dengan keheningan. Di dalam perarakan yang penuh keheningan ini, kita diajak untuk merenungkan perjalanan penderitaan dan wafat Tuhan Yesus Kristus.

Kelima perarakan duka itu: 1) Perarakan Minggu Palma, yaitu perarakan Yesus masuk ke Yerusalem untuk menderita. 2) Perarakan Yesus dari tempat perjamuan malam menuju Taman Zaitun untuk berdoa bersama para rasul. Perarakan ini diungkapkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus setelah Misa Kudus pada Kamis Putih ke sebuah tempat khusus, yang menggambarkan Taman Zaitun. Perarakan ini penuh keprihatinan sehingga tidak ada lonceng ataupun musik. 3) Perarakan Pengadilan, yang dimulai dengan ditangkapnya Yesus di Taman Zaitun dan dibawa ke rumah Iman Agung; dari rumah Imam Agung menuju ke rumah Pilatus; dari rumah Pilatus ke tempat Herodes; dan dari rumah Herodes kembali ke rumah Pilatus di mana Yesus akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara disalibkan. 4) Perarakan Jalan Salib menuju Bukit Golgota tempat Yesus wafat. 5) Perarakan pemakaman, sesudah pukul 15.00 pada hari Jumat, Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan. Kelima perarakan duka ini ini dibacakan atau dinyanyikan dalam Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus dalam Minggu Palma dan Jumat Agung.

Perarakan duka ini berakhir dengan Perarakan Mulia pada Malam Paskah: Yesus bangkit untuk menjadi Cahaya Dunia yang mengalahkan kegelapan dosa. Perarakan Mulia ini disimbolkan dengan perarakan Lilin Paskah. Lilin Paskah melambangkan tiang api yang memimpin bangsa Israel ketika berjalan di waktu malam di padang gurun setelah keluar dari tanah Mesir. Makna perarakan Lilin Paskah dalam upacara cahaya adalah kita pun hendaknya mengikuti Kristus (Lilin Paskah) yang telah bangkit.

Seluruh perarakan dalam Minggu Suci disebut perarakan iman karena merupakan ungkapan perjalanan iman kita. Iman kita perlu ditempa dengan berbagai macam kesulitan dan penderitaan sehingga semakin hari semakin kuat. Kita yang bertahan dalam iman sampai kesudahannya akan mencapai kemuliaan Paskah, yaitu kemuliaan kekal. Tuhan memberkati.

(Rm Felix Supranto, SS.CC www.reginacaeli.org).