Minggu, 11 September 2011 Hari Minggu Biasa XXIV

Minggu, 11 September 2011
Hari Minggu Biasa XXIV

Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? (Matius 18:33)

Antifon Pembuka (Sir 36:15)

Damai sejahtera, ya Tuhan, berikanlah kepada mereka yang berharap kepada-Mu, agar terbuktilah kebenaran para nabi. Dengarkanlah doa hamba-hamba dan umat-Mu.


Doa Renungan

Allah Bapa, pencipta dan penguasa segala sesuatu, pandanglah dengan rela kami putera dan puteri-Mu. Semoga kami dapat mengabdi Engkau dengan segenap hati, agar memperoleh sukacita berkat belas kasih-Mu.Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepan-jang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Putra Sirakh (27:30-28:9)

"Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa."

Dendam kesumat dan amarah sangatlah mengerikan, dan orang berdosalah yang dikuasainya. Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama memperhitungkan segala dosanya. Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa. Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia? Bolehkah ia mohon ampun atas dosa-dosanya, kalau ia sendiri tidak menaruh belas kasihan terhadap seorang manusia yang sama dengannya? Dia hanya daging belaka, namun menaruh dendam kesumat; siapa gerangan akan mengampuni dosa-dosanya? Ingatlah akan akhir hidup, dan hentikanlah permusuhan. Ingatlah akan kebusukan serta maut, dan hendaklah setia kepada segala perintah. Ingatlah akan perintah-perintah dan jangan mendendami sesama manusia. Hendaklah kamu ingat akan perjanjian dari Yang Mahatinggi, lalu ampunilah kesalahan sesama. Jauhilah perikaian, maka engkau mengurangkan jumlah dosa, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan pertikaian. Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12; Ul: 8)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku. Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya.
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.
3. Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.
4. Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya! Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (14:7-9)

"Entah hidup entah mati, kita tetap milik Tuhan."

Saudara-saudara, tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, dan jika kita mati, kita mati bagi Tuhan. Jadi entah hidup entah mati, kita tetap milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan baik atas orang-orang mati maupun atas orang-orang hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 13:34, 2/4)
Perintah baru Kuberikan kepadamu: Hendaklah kamu saling mencintai seperti Aku cinta padamu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:21-35)


"Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."

Sekali peristiwa Petrus datang kepada Yesus dan berkata, "Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isteri dan segala miliknya untuk membayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah Dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain, yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskan segala hutang itu. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Maka raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Rekan-rekan!
Injil Minggu Biasa XXIV tahun A (Mat 18:21-35) kembali berbicara mengenai pengampunan. Kali ini Petrus bertanya sampai berapa kalikah pengampunan bisa diberikan. Pada dasarnya jawaban Yesus hendak mengatakan, tak usah menghitung-hitung, lakukan terus saja. Kemudian ia menceritakan perumpamaan untuk menjelaskan mengapa sikap pengampun perlu ditumbuhkan (ay. 23-35). Pembaca setapak demi setapak dituntun agar menyadari mengapa sikap mengampuni dengan ikhlas itu wajar. Tapi juga yang wajar inilah yang akan membuat Kerajaan Surga semakin nyata.

SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI


GUS: Matt, apa sih maksud "7 kali" dan "70 kali 7 kali" dalam pembicaraan antara Petrus dan Yesus?

MATT: Itu gaya berungkap orang Yahudi dulu. Ingat Kej 4:24? Membunuh nyawa Kain akan mendatangkan balasan "tujuh kali lipat", tetapi kejahatan terhadap nyawa Lamekh, keturunan Kain, bakal dibalas bahkan sampai tujuh puluh tujuh kali lipat.

GUS: Kain kan bersalah membunuh Habel, adiknya, karena dengki.

MATT: Benar. Tetapi ia kan ditandai Allah agar nyawanya tidak diganggu-gugat. Yang membunuhnya untuk membalas dendam akan kena hukuman balas sampai tujuh kali lipat (Kej 4:15), maksudnya sampai penuh. Lamekh juga membunuh orang yang melukainya (Kej 4:23), katakan saja untuk membela diri, bukan karena dengki seperti Kain. Dan siapa membalas dendam dengan mengakhiri nyawa Lamekh akan terkena hukuman yang tak terperi besarnya - tujuh puluh tujuh kali lipat - tanpa batas.

GUS: Jadi orang Perjanjian Lama mulai sadar bahwa kebiasaan balas dendam tidak boleh dilanjut-lanjutkan, dan bila dilakukan malah akan memperburuk keadaan.

MATT: Persis. Kembali ke pertanyaan Petrus. Kata-katanya menggemakan upaya membatasi sikap balas dendam tadi. Bila seorang saudara menyalahi untuk pertama kalinya, ditolerir saja dah, begitu juga untuk kedua kalinya, dan seterusnya sampai ketujuh kalinya. Tapi sesudah tujuh kali dianggap kelewat batas dan tak perlu diampuni lagi! Amat longgar, walau masih tetap ada batasnya. Tetapi Yesus hendak mengatakan semua itu tak cukup. Orang mesti berani mengampuni sampai "tujuh puluh kali tujuh kali", artinya, tak berbatas. Malah tak usah memikirkan sampai mana. Sikap pengampun jadi sikap hidup.

GUS: Kalau begitu, pengampunan tak berbatas itu kutub lain dari gagasan yang mendasari ancaman balasan hukuman yang tak berbatas seperti dalam seruan Lamekh tadi.

MATT: Tapi sebenarnya pusat perhatian Injil lebih dalam daripada mengampuni tanpa batas tok. Kan sudah diandaikan para murid punya sikap itu.

GUS: Lho lalu apa?

MATT: Begini, sikap pengampun memungkinkan Kerajaan Surga menjadi nyata di muka bumi ini. Itu tujuan Mat 18:23-35.

GUS: Dalam Sabda Bahagia antara lain disebutkan, orang yang berbelaskasihan itu orang bahagia, karena mereka sendiri akan memperoleh belas kasihan (Mat 5:7). Katanya begitulah cara hidup di dalam Kerajaan Surga. Bolehkah disebutkan, di muka bumi Kerajaan ini baru terasa betul nyata bila ada sikap belas kasihan satu sama lain?

MATT: Benar. Kerajaan Surga memang sudah datang, tapi baru bertumbuh dan betul-betul bisa disebut membahagiakan bila yang mempercayainya juga ikut mengusahakannya. Yesus memahami sikap pengampun bukan sebagai kelonggaran hati atau kebaikan semata-mata, melainkan sebagai upaya ikut memungkinkan agar Kerajaan Surga menjadi kenyataan, bukan angan-angan belaka.

GUS: Doa Bapa Kami (Mat 6:9-13) berawal dengan seruan pujian bagi nama Allah Yang Mahakuasa sebagai Bapa dan diteruskan dengan permohonan agar Kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya terlaksana dan permintaan agar diberi kekuatan cukup untuk hidup dari hari ke hari.

MATT: Dan baru setelah itu, dalam Mat 6:12, disampaikan permohonan agar kesalahan "kami" diampuni "seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami". Jelas kan? Ukuran bagi dikabulkan tidaknya permintaan ampun tadi ialah kesediaan mengampuni saudara yang kita rasa menyalahi kita.

GUS: Rasa-rasanya Yesus hendak menggugah kesadaran bahwa pengampunan hanya mungkin bila disertai kesediaan seperti terungkap dalam doa Bapa Kami tadi.

MAKNA PERUMPAMAAN

Petikan hari ini juga memuat sebuah perumpamaan (ay. 23-35). Pada bagian pertama (ay. 23-27) digambarkan kebesaran raja yang pengampun terhadap hambanya yang tak dapat membayar hutangnya yang amat besar - 10.000 talenta. Dalam keadaan biasa hamba itu mesti dijual untuk menebus hutangnya, begitu juga anak dan istrinya serta seluruh harta miliknya. Tetapi ia meminta kelonggaran. Ia mohon agar raja bersabar. Dan sang raja tergerak hatinya dan malah menghapus hutang yang besar itu. Raja itu sanggup merugi karena mau sungguh-sungguh menunjukkan belas kasih terhadap hamba yang kesempitan itu.

Siapakah raja itu? Mungkin kita cepat-cepat menganggapnya ibarat bagi Allah yang berbelas kasih. Tapi pemahaman ini tidak amat jitu. Matius sendiri memberi isyarat bahwa bukan itulah maksudnya. Pada awal perumpamaan itu, disebutkan Kerajaan Surga itu seumpama "seorang raja" (ay. 23). Dalam teks Matius dipakai ungkapan "anthropos basileus", harfiahnya, "manusia yang berkedudukan sebagai raja" dan juga "raja yang tetap manusiawi". Memang boleh dimengerti bahwa ungkapan itu mencerminkan gaya bahasa Semit dan "manusia" di situ berarti "seorang", tak penting siapa. Bagaimanapun juga, hendak ditonjolkan bahwa tokoh ybs. itu orang, manusia seperti orang lain, sesama yang saudara, walau beda kedudukannya.

Gagasan di atas bisa diterapkan kepada siapa saja yang mempunyai kuasa atas orang lain. Jadi yang hendak ditampilkan ialah kebesaran orang yang berkedudukan. Makin tinggi kedudukannya makin patutlah ia menunjukkan kemurahan hati terhadap yang dibawahinya. Kan pada dasarnya sama-sama manusia. Makin beruntung makin boleh diharapkan sanggup merugi, sanggup kehilangan sebagian miliknya, sebesar apapun, agar membuat orang bisa ikut merasakan keberuntungan. Ini keluhurannya. Berapa yang dilepaskannya? Amat besar. Satu talenta nilainya antara 6.000 hingga 10.000 dinar. Dan satu dinar ialah upah buruh harian sehari. Maka sepuluh ribu talenta itu jumlah yang amat besar. Makin beruntung orang makin diharapkan dapat menyelami keadaan orang yang sedang bernasib malang. Cara berpikir demikian ditonjolkan. Mengapa? Kiranya memang ada kesadaran bahwa setinggi apapun, sekaya apapun, orang tetap sesama bagi orang lain. Tapi juga semalang apapun, seterpuruk apapun keadaan sosialnya, orang tetap bisa mengharapkan bantuan dari saudara yang lebih beruntung. Inilah yang bakal membuat Kerajaan Surga menjadi kenyataan di dunia ini juga. Ini spiritualitas Matius, ini ajaran rohani Injilnya.

Ringkasnya, bagian pertama perumpamaan itu dimaksud untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Surga dibangun atas dasar kesediaan mereka yang berkelebihan untuk berbagi dengan yang kurang beruntung. Dimensi horisontal Kerajaan Surga digarisbawahi dengan jelas.

Pada bagian kedua muncul gambaran yang berkontras. Hamba yang dihapus hutangnya itu tidak mau meneruskan berbelaskasihan yang dialaminya kepada rekannya yang berhutang kepadanya seratus dinar saja. Jadi hanya seperseratus dari hutangnya sendiri. Permintaan rekannya tak digubris. Bisa dicatat, tindakan bersujud dan permintaan kelonggaran rekan ini (ay. 29) sama dengan yang diucapkannya sendiri di hadapan raja majikannya tadi (ay. 26). Tetapi ia tetap tidak mau berbagi keberuntungan. Rekannya dijebloskannya ke penjara. Ada ironi. Tadi atasan bersikap longgar. Kini rekan sekerja kok malah berlaku kejam!

Dalam ay. 31 ada hal yang menarik. Rekan-rekan sekerja lain yang menyaksikan perlakuan kejam tadi menjadi sedih dan melaporkan kejadian itu kepada raja sang majikan hamba yang hutangnya dihapus tadi. Para rekan ini bukan hanya sekadar tambahan cerita. Mereka berperan sebagai suara hati yang masih peka akan keadilan, peka akan kewajiban moral. Dan kepekaan ini menjadi keberanian bersuara mengungkapkan ketidakberesan. Tapi hamba yang kejam tak mau melihat semua ini. Ia tak mau bertindak seperti tuannya. Akhirnya ia sendiri tersiksa sampai ia melunasi hutangnya yang amat besar itu. Apa kesalahannya? Ia menolak menjadi saudara bagi rekan sekerjanya. Dan lebih dari itu, ia juga menolak menjadi saudara bagi tuannya sendiri.

ARAH KE DALAM DAN KE LUAR

Perumpamaan itu berakhir dengan perkataan berikut (ay. 35): "Demikianlah juga yang akan diperbuat oleh Bapaku yang ada di surga terhadap kamu bila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." Terasa gema permintaan ampun dalam Bapa Kami dan Sabda Bahagia. Keikhlasan mengampuni kiranya menjadi tolok ukur integritas murid-murid Yesus. Dan juga menjadi cara hidup para pengikutnya.

Petrus bertanya tentang mengampuni "saudara" - dan tidak dipakai kata "sesama". Begitu pula perkataan Yesus di atas. Seperti disinggung minggu lalu, "saudara" memang juga sesama, tapi lebih bersangkutan dengan upaya membangun umat dari dalam daripada menggarap kehidupan di masyarakat luas. Tidak semua hal digariskan Injil walau semangatnya bisa berlaku umum. Tetapi diamnya Injil itu menjadi ajakan agar umat mencari jalan bersama dengan unsur-unsur lain di masyarakat luas dalam upaya membuat kemanusiaan semakin pantas.

Salam,
A. Gianto

Minggu, 11 September 2011: Antara Kebersamaan, Dosa dan Pengampunan

Renungan

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana Tembok Raksasa Cina dibangun oleh para Kaisar Cina? Pernahkah terpikir bagaimana menara Eiffel dibuat oleh Gustav Eiffel dan kapal raksasa Titanic yang dibiayai J.P. Morgan dibuat? Tidak usah jauh-jauh, pernahkah membayangkan candi-candi besar di Indonesia dibangun oleh leluhur kita? Sungguh itu semua merupakan prestasi besar yang pernah ditorehkan mereka dalam peradaban manusia. Namun dibalik prestasi besar itu, satu hal yang selalu menyertai, yaitu: kebersamaan. Tanpa kebersamaan, tidak ada candi Borobudur, tidak ada Tembok Raksasa di Cina dan karya-karya besar lainnya. Mereka bukan hanya meninggalkan menara Eiffel, Tembok Cina, Borobudur, tapi juga meninggalkan nilai dan makna sebuah kebersamaan dalam hidup bersama. Komponen pembentuk kebersamaan pastilah; saling bekerja sama, menghargai, saling percaya, kasih, pengorbanan, tidak mementingkan diri sendiri, tolong menolong, dll. Itulah isi seluruh kerangka bangunan yang namanya “kebersamaan”.

Romo Driyarkara SJ dalam bukunya yang berjudul “Pancasila dan Religi” halaman 12 menuliskan: “menurut srukturnya, ada kita itu baru ada bersama. Bahwa ada berarti ada bersama. Manusia tidak hanya meng-Aku tapi juga meng-Kita. Aku selalu memuat engkau. Hanya dengan dan dalam engkaulah, aku menjadi aku”. Kutipan ini semakin mempertegas bahwa secara eksistensial manusia mesti membangun kebersamaan dalam hidup dan jati diri semakin tampak dalam kebersamaan. Singkat kata, kebersamaan dalam hidup adalah sesuatu yang sangat fundamental.

Sejarah telah membuktikan bahwa kebersamaan pernah membuahkan prestasi yang luar biasa dalam peradaban manusia, Namun, pernahkah peradaban manusia hancur karena kebersamaan mulai pudar? Apakah yang bisa menghancurkan kebersamaan?
Dalam Kitab Putera Sirakh menengarai bahwa penghancur kebersamaan adalah dosa. “Dendam kesumat dan amarah sangatlah mengerikan, dan orang berdosalah yang dikuasainya” (Sir. 27:30). karena “Orang berdosa mengganggu orang-orang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup damai” (28:9). Kutipan singkat ini membantu kita untuk melihat bahwa kebersamaan itu bisa pudar. Kebersamaan bisa hancur oleh amarah, dendam kesumat, permusuhan dan pertikaian. Dalam diri orang berdosalah komponen penghancur kebersamaan itu mencengkeramkan kuasanya. Sepanjang sejarah membuktikannya; perang saudara, perang suku, pertikaian antar kampung, antar perlajar antar kelompok etnis dan agama, menghancurkan keharmonisan hidup bersama. Dalam lingkup yang paling kecil, keluarga misalnya, pertengkaran, kebencian, amarah juga tak terhindarkan yang membuat kebersamaan dalam keluarga hancur.

Rasa kebersamaan yang hancur bisa dibangun, persaudaraan hidup bersama bisa dipulihkan bila ada pengampunan. Pengampunanlah yang menjadikan kehidupan bersama terus berlangsung dan membuahkan sukacita. Kembali Kitab Putera Sirakh menyampaikan, “ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosamu juga akan dihapus juga jika engkau berdoa. Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika menyimpan amarah kepada sesama manusia? Bolehkah ia mohon ampun atas dosa-dosanya, kalau ia sendiri tidak menaruh belaskasihan terhadap seorang manusia yang sama dengannya?” (Sir. 28:2-4). Bahkan Yesus kembali menegaskan pentingnya pengampunan dalam hidup bersama. Ketika Petrus bertanya: “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali”. (Mat. 18:21-22). Jawaban Yesus menandaskan bahwa pengampunan harus sering kita berikan. Pengampunan itu tidak bersyarat. Pengampunan itu menyembuhkan.

Pengampunan yang demikian dasarnya adalah Allah sendiri, yang sudah mengampuni dan menyembuhkan kita. Kasih dan kesabaran Allah juga menjadi pendorong bagi kita betapa pentingnya tidak menghukum dan menghakimi kesalahan orang lain. Selain itu, kita harus mengampuni sesama, karena kita sadar bahwa kita adalah pengada yang ada bersama. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan: “tidak ada seorangpun diantara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, dan jika kita mati, kita mati bagi Tuhan.jadi entah hidup, entah mati, kita tetap milik Tuhan”(Rm. 14:7-8). Itulah makna hidup kita. Hidup kita milik Tuhan dan bukan milik kita sendiri. Jika hidup kita adalah milik Tuhan, dan Tuhan sebagai pemilik kehidupan bermurah hati memberi pengampunan, apa lagi yang mesti dibuat oleh kita yang adalah milik-Nya…mengampuni..mengampuni dan mengampuni.


Berkat Tuhan



Pastor Antonius Purwono, SCJ