Senin, 26 Maret 2012 Hari Raya Kabar Sukacita

Senin, 26 Maret 2012
Hari Raya Kabar Sukacita

Berdasarkan tradisi, Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita setiap tanggal 25 Maret (9 bulan sebelum Natal). Sesuai amanat dokumen LITTERAE CIRCULARES DE FESTIS PASCHALIBUS PRAEPARANDIS ET CELEBRANDIS no 11, yang menegaskan bahwa “Hari-hari Minggu dalam Masa Prapaskah harus diutamakan di atas semua Hari Raya Tuhan, dan semua Hari Raya yang jatuh pada salah satu dari Minggu-minggu ini, dipindah ke hari Sabtu”, maka Hari Raya Kabar Sukacita sebenarnya diajukan tanggal 24 Maret (Sabtu). Namun, Kalender Liturgi terbitan KWI (Komisi Liturgi) menuliskan bahwa Hari Raya Kabar Sukacita jatuh hari Senin tanggal 26 Maret, hari ini. Hal ini terjadi murni karena human error. Kita tidak usah mempermasalahkan tanggal. Yang penting, marilah dengan sukacita kita rayakan misteri iman yang penting untuk terlaksananya karya keselamatan bagi kita ini.

Warta dari bacaan-bacaan hari ini menguraikan tentang apa isi kabar sukacita itu dan bagaimana hal itu terjadi. Mengenai isi, jelas bahwa kabar sukacita itu berupa dimulainya karya keselamatan Allah bagi kita. “Seorang perempuan muda akan mengandung” (bac I). Siapa yang akan mengandung dan siapa yang dikadung? Injil memberi jawab bahwa yang akan mengandung adalah “seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria”. Sedangkan yang dikandung adalah Yesus, Anak Allah. Nama “Yesus” berarti “Allah/Yahwe menyelamatkan”. Jadi, isi kabar sukacita itu adalah Maria (akan) mengandung Yesus, Sang Juru Selamat kita. Jelas, hal ini merupakan kabar sukacita karena kita yang mendamba keselamatan mendapatkan anugerah Sang Juru Selamat yang hadir dan tinggal di tengah-tengah kita.

Bagaimana kabar sukacita itu terjadi? Dari pihak Allah, ia memilih Maria untuk mengandung Sang Juru Selamat. Ia mengutus Gabriel untuk menyampaikan kehendak-Nya itu kepada Maria. Sementara itu, dari pihak Maria, kabar sukacita sungguh terjadi karena ia bersedia menerima tugas perutusan itu. Kesediaan Maria ini amat penting. Seandainya Maria menolak? Tentu kelanjutan kisah ini amat berbeda. Mungkin tidak ada kabar sukacita karena rencana keselamatan gagal terlaksana. Sebab, karya keselamatan sebagaimana diwartakan dalam Injil yang kita kenal sekarang sebenarnya berawal dari kesediaan Maria ini.

Tuhan Allah telah memilih Maria untuk menerima kabar sukacita sekaligus ikut serta menjadi pelaksana karya keselamatan-Nya. Dengan penuh ketaatan, Maria menerima tugas perutusan itu sehingga terlaksanalah karya keselamatan Allah. Marilah kita bersyukur karena kita mempunyai Bunda Maria sekaligus kita ikuti jejaknya. Pada zaman sekarang, sesuai dengan peran dan tugas kita masing-masing, baik dalam keluarga, Gereja maupun masyarakat, kita pun juga dipilih Tuhan untuk menerima kabar sukacita dan diutus untuk ikut serta melaksanakan karya keselamatan. Maka, di mana pun berada, marilah kita selalu berusaha mewartakan kabar sukacita dan menjadi alat bagi Tuhan untuk mengerjakan karya keselamatan-Nya.

Rm Agus Widodo, Pr

Bacaan Harian 26 Maret - 01 April 2012

Bacaan Harian 26 Maret - 01 April 2012

Senin, 26 Maret : Hari Raya Kabar Sukacita (P).
Yes 7:10-14 – 8:10; Mzm 40:7-11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38.

Hari Raya Kabar Sukacita, yang jatuh tepat 9 bulan sebelum hari Natal, mengajak kita merenung tentang ketaatan Maria. Terhadap kabar yang tak masuk akal dan akan membawa banyak persoalan itu, Maria tetap terbuka pada rancangan Tuhan. Ia siap menjadi hamba Tuhan untuk menjalankan kehendak-Nya. Iman yang luar biasa! Dalam hidup ini kita pun sering menghadapi berbagai persoalan di luar “akal” kita. Namun, belajar dari Maria, selama kita terbuka pada rancangan Tuhan, hidup di dalam jalan-Nya, dan menggantungkan diri pada belas kasih-Nya, maka di balik persoalan-persoalan itu, kita akan menemukan kabar sukacita dari Bapa yang selalu mengasihi kita.

Selasa, 27 Maret: Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U).
Bil 21:4-9; Mzm 102:2-3.16-21; Yoh 8:21-30.

Ada jurang yang terbentang lebar antara cara berpikir orang Yahudi dengan cara berpikir Yesus. Akibatnya, sulitlah bagi mereka untuk dapat percaya kepada Yesus. Maka Yesus mengatakan: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Jelaslah, selama cara berpikir kita hanya berpijak pada “dunia”, pada rancangan, kepentingan, kesenangan dan kesombongan kita sendiri, sulitlah bagi kita untuk dapat percaya dan berserah pada Yesus. Yesus mengingatkan: “… jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Ayo, ubah cara berpikir duniawi itu, percayalah dan berserahlah pada Dia, supaya kita tidak terus hanyut dan tenggelam karena dosa-dosa kita.

Rabu, 28 Maret : Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U).
Dan 3:14-20.24-25.28; MT Dan 3:52-56; Yoh 8:31-42.

Dengan tegas Yesus berujar kepada orang-orang Yahudi yang percaya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Bagi Yesus, percaya saja tidak cukup! Orang yang sungguh percaya kepada-Nya haruslah juga hidup sesuai dengan firman-Nya. Dengan begitu ia akan bertumbuh jadi orang merdeka, yang mampu melepaskan diri dari budak dosa. Jadi, jika orang hanya percaya sebatas pengakuan dan tidak membuat hidupnya “berubah”, sesungguhnya orang itu belum betul-betul menjadi murid Yesus. Sudahkah kita bertumbuh dan diubah oleh firman-Nya?

Kamis, 29 Maret: Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U).
Kej 17:3-9; Mzm 105:4-9; Yoh 8:51-59.

Yesus kembali menegaskan, barangsiapa menuruti firman-Nya, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Orang-orang Yahudi tidak dapat menerima ajaran itu. Alasannya, bapa mereka Abraham dan para nabi yang mereka agungkan nyatanya mengalami kematian. Siapa Yesus? Yesus menjawab: “Bapa-Kulah yang memuliakan Aku… Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya… sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Dengan kata-kata itu, Yesus menandaskan tentang asal dan kesatuan-Nya dengan Bapa. Ingat, Yesus minta turuti firman-Nya, karena firman itu berasal dari Bapa. Dengan begitulah kita akan mengalami kesatuan dengan Bapa dan tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.

Jumat, 30 Maret: Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U).
Yer 20:10-13; Mzm 18:2-7; Yoh 10:31-42.

Yesus berujar bahwa Ia sudah memperlihatkan banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa. “Percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Kata-kata Yesus ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap pekerjaan baik yang kita lakukan, kita telah menghadirkan Bapa. Maka, sebagai murid-murid Yesus, kita pun diundang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang diajarkan Yesus. Kendati tidak semua orang menyambut baik, kita ditantang untuk tidak surut melakukan kebaikan yang mendatangkan sukacita dan kebahagiaan bagi sesama.

Sabtu, 31 Maret: Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U).
Yeh 37:21-28; MT Yer 31:10-12ab.13; Yoh 11:45-56.

Mendengar banyak orang percaya kepada Yesus, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menjadi kuatir bahwa hal itu akan mengancam diri dan bangsa mereka. Maka, mereka sepakat untuk membunuh Dia. Sesungguhnya, kita pun seringkali tidak siap menerima kenyataan ada orang yang lebih diterima, lebih populer, lebih mampu dari diri kita. Lalu muncullah rasa iri dan dengki! Kita lupa bahwa Kerajaan Allah tidak bisa dikalahkan; kebaikan dan kebenaran tak dapat disembunyikan. Waktu memang terus berjalan, tetapi akan tiba juga saat di mana perbuatan atas dasar iri dan dengki akan berujung pada keterpurukan yang lebih dalam.

Minggu, 01 April: Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan (M). Pemberkatan daun palma dan perarakan.
Bacaan Perarakan: Mrk 11:1-10 atau Yoh 12:12-16. Bacaan Ekaristi: Yes 50:4-7; Mzm 22:8-9.17-18a.19-20.23-24; Flp 2:6-11; Mrk 14:1 – 15:47 (Mrk 15:1-39).

Dalam kisah sengsara Yesus, kita menonton begitu banyak peran yang dimainkan oleh berbagai macam tokoh: ada ahli Taurat yang berpegang buta pada peraturan, ada imam-imam kepala yang takut posisi mereka terancam, ada Pilatus yang mau cari aman, dan ada orang banyak yang mengikuti arus dan mudah terhasut. Semuanya sepakat untuk ’menyalibkan’ Yesus. Saat ini, mungkin jadi kita juga memainkan salah satu peran itu untuk terus membuat Yesus menderita. Sikap yang bagaimanakah yang paling dominan dalam diri kita yang membuat Yesus terus tersalib?

Muliady Wijaya - www.reginacaeli.org