Pertemuan Keempat Adven Keuskupan Agung Semarang 2012: MEWUJUDKAN IMAN

Pertemuan Keempat

MEWUJUDKAN IMAN

Tujuan:

Menyadari kembali bahwa iman senantiasa harus diwujudkan melalui kesaksian dan laku hidup, yang memancarkan sabda kebenaran sesuai dengan iman yang dirayakan serta kedalaman iman yang dihayati.

1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dilanjutkan Doa Pembuka

3. Pengantar

Kita sebagai umat Kristiani menyadari, bahwa iman yang dewasa adalah iman yang "terlibat" atau bisa dikatakan sebagai iman yang terwujud dalam laku kehidupan. Perwujudan iman bukanlah urusan pribadi saja, akan tetapi juga kesaksian hidup secara nyata bahwa kita telah diselamatkan. Prinsipnya, iman tidak hanya sekedar di bibir saja, tetapi harus bisa merasuki seluruh sendi-sendi kehidupan kita, terutama terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. Pada pertemuan sebelumnya, kita diajak menyadari bahwa perayaan iman, yang terpuncak dalam Ekaristi merupakan sumber kehidupan beriman kita. Bagaimana perayaan iman menjadi bagian dari keselamatan Kristus benar-benar hadir dan menghantar kita untuk semakin terjun dalam hidup bermasyarakat. Maka dalam pertemuan keempat ini, kita diajak mewujudkan iman kita. Perwujudan iman hendaknya kita sadari, sebagai laku nyata akan pengakuan Kristus sebagai sumber iman dan buah dari perayaan-perayaan iman yang semakin diwujudkan dalam kehidupan nyata. Iman dihidupi dan akhirnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga dan masyarakat.

4. Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

Bacaan: Luk 10:25-28

5. Inspirasi dan Permenungan

Mengasihi Tuhan dan sesama dengan totalitas hidup

Membaca kembali Luk 10:25-28, kita diajak untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan totalitas hidup kita. Kita diajak menyadari bahwa iman membutuhkan totalitas yang mendalam. Iman dimulai dari memikirkannya dengan sungguh-sungguh, didalami, mencari tahu, mempelajari hingga dengan "segenap jiwa", artinya tidak berpura-pura, di luar tampaknya penuh perhatian tapi di dalamnya tak peduli. Iman yang diharapkan dalam bacaan di atas, adalah iman yang bisa dikatakan sebagai iman yang "berintegritas". Iman yang tak hanya menyangkut hubungannya dengan Allah, melainkan juga dengan sesama manusia. Mengasihi Tuhan itu sama dengan menjadi manusia yang semakin utuh. Jadi iman itu mencerminkan juga solidaritas bagi sesama. Artinya, iman harus tampak dalam wujudnya yang paling nyata, dalam laku hidup dan tindak tanduk keseharian.

Kita menyadari, di lain pihak, banyak orang katolik yang kelihatan khusuk beribadat di gereja, akan tetapi, di lain pihak, mereka juga bersemangat menjalankan bisnis-bisnis kotor, meraup untung sebanyak-banyaknya bahkan dengan praktek korupsi. Tidak hanya itu, banyak juga yang masih hidup dalam perselingkuhan, pergaulan dan hiburan yang tidak sehat, melakukan peminjaman uang dengan bunga yang mencekik, dan lain sebagainya. Kita perlu menengok kembali, sering kali, benar seperti apa yang pernah dikatakan oleh Charlie Douglas dalam artikelnya di "Moral Hazards in the Marketplace". Mungkin yang menjadi masalah saat ini adalah demarkasi (pemisahan) antara yang dianggap sakral dan sekuler. Pembicaraan soal cinta dan iman hanya ketika di gereja pada hari Minggu, sementara di tempat kerja masing-masing, orang dituntut fokus kepada kepentingan diri sendiri dan keunggulan kompetitif dalam bertahan hidup. Hal inilah yang kadang menjadi permenungan bagi kita. Sejauh inikah iman yang kita akui dan rayakan? Kurang menunjukkan laku dalam hidup senyatanya. Iman yang kita akui, rayakan hanya sebatas lip service, sebatas pengakuan, tanpa ada kenyataan yang diwujudkan, atau sering dikatakan "gajah diblangkoni, iso kojah ora iso nglakoni."

Pertanyaannya, apakah iman kita, tampak kelihatannya seperti pohon yang rindang namun tidak berbuah. Di sana hanya kelihatan sejuknya, rindangnya, gagahnya, tapi belum bisa dinikmati buahnya. Maka seperti halnya iman, selain menjadi subur iman harus nyata dalam perbuatan supaya buah rahmat itu membuat semakin banyak orang mengenal Kristus, seperti yang dikatakan dalam Yak 2:26, "sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan adalah mati".

6. Refleksi dan Sharing Pengalaman

Iman yang kita yakini, haruslah senantiasa mendampingi dan membuat membuat diri kita menjadi tanda kehadiran Tuhan, sehingga dengan menghidupinya secara mendalam, iman mampu memberikan kesaksian bagi sesama.

Ketika kita dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, berarti kita mengimani Yesus Kristus dan menjadi Katolik, artinya kita telah memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup kita (Kis 14:27). Ini artinya, melalui baptisan kita telah disatukan dengan Yesus Kristus sepanjang hidup kita. Kita masuk dalam persekutuan hidup dengan Allah dan Gereja-Nya. Melalui baptisan ini pula, kita disatukan dengan kumpulan orang-orang yang beriman di dalam Kristus.

Hidup dalam Kristus membawa konsekuensi yang tidak ringan. Kita harus bisa menanggalkan manusia lama kita dan menjadi pribadi yang baru, pribadi yang telah ditebus oleh Kristus. Kita diajak untuk melakukan pembaruan melalui kesaksian hidup yang diberikan sebagai anggota umat beriman. Kita dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang diwariskan Kristus. Maka melalui masa Adven sebagai bagian dari Tahun Iman ini, kita diajak masuk dalam pertobatan untuk semakin mengimani Kristus.

Hidup baru bersama Kristus mendorong setiap orang yang percaya semkin dikuasai oleh kasih Kristus. "Kasih Kristus menguasai kita" (2Kor 15:14). Kasih Kristus inilah yang memenuhi hati dan mendorong kita untuk semakin membagikannya dalam keluarga, Gereja dan masyarakat (bdk. mat 28:16). Iamn tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedangkan kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang senantiasa bimbang. Iman dan kasih saling melengkapi satu sama lain. Iman yang kita yakini, senantiasa mendampingi dan membuat diri kita menjadi tanda kehadiran Tuhan, sehingga dengan menghidupinya secara mendalam, iman mampu memberikan kesaksian bagi sesama.

7. Doa Umat dan Doa Penutup

8. Lagu Penutup

Pertemuan Ketiga Adven Keuskupan Agung Semarang 2012: MERAYAKAN IMAN

Pertemuan Ketiga

MERAYAKAN IMAN

Tujuan:

Menyadari kembali bahwa iman senantiasa harus dirayakan sehingga menjadi perjumpaan dengan Tuhan yang menyelamatkan.

1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dilanjutkan Doa Pembuka

3. Pengantar

Pada pertemuan Adven ketiga ini, kita diajak merefleksikan kembali makna dari perayaan-perayaan iman kita.

4. Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

Bacaan: Yohanes 6:51-58

5. Inspirasi dan Permenungan

Yesus sebagai "Roti Hidup"

Membaca kembali Yohanes 6:51-58, kita diajak merenungkan mengenai Yesus sebagai "Roti Hidup". Yesus memperkenalkan diri sebagai "roti kehidupan", yakni makanan yang memberi hidup. Kita sebagai orang yang mengimani Yesus, diajak untuk percaya, bahwa Dia ada di tengah-tengah kita dan hadir ketika kita menghayatinya dalam Ekaristi Kudus. Bacaan Yohanes 6:51-58 menegaskan mengenai apa yang disampaikan Yesus. Ia bukan hanya "roti" yang mengenyangkan secara lahiriah, namun Yesus mengajak kita melihat lebih dalam, bahwa diri-Nya lah roti yang turun dari surga. Menerima Dia, mempercayai-Nya, akan membuat kita mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:32-40). Iman kita akan Ekaristi merupakan iman akan kebenaran mengenai warta Yesus itu. Pertanyaannya bagi kita, apakah melalui Ekaristi Kudus sebagai perayaan iman, kita telah merasakan dan menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya dalam hidup sehari-hari kita? Yaitu menemukan Yesus sendiri sebagai "Roti Hidup".

Iman adalah rahmat, maka kita perlu menerima, memelihara serta merayakannya dengan bangga dan penghayatan sungguh-sungguh. Seorang beriman Katolik, tentu akan bangga dengan imannya. Masih ingat ajakan imam setelah konsekrasi dalam Ekaristi Kudus? "Agungkanlah iman kita!" Lalu umat menjawab secara aklamasi, "Tuhan, Engkau telah wafat, Tuhan, Engkau kini hidup, Engkau Sang Juruselamat, datanglah ya Yesus Tuhan." Kebanggaan umat Katolik akan imannya tampak jelas dalam ungkapan itu. Kita mengimani misteri Allah yang agung, karena itu iman kita pun agung, dan sudah sepantasnya kita agungkan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam wujud perayaan iman itu.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar merayakan iman kita secara sungguh-sungguh. Apakah kita menyambut komuni dalam perayaan Ekaristi denan kesungguhan hati, mampu merayakan Kristus yang hadir dalam hidup kita sehari-hari? Jika begitu, kok kita tidak menjadi semakin baik. Acapkali kita mungkin sering memandang perayaan iman akan Ekaristi sebagai sekedar layaknya "obat kuat rohani" atau "rutinitas" yang tanpa arti. Maka, Ekaristi sebagai sakramen yang menghadirkan kenyataan rohani dalam diri kita, tidak sungguh-sungguh menghadirkan Kristus dalam hidup kita.

Padahal orang yang percaya akan kekuatan Ekaristi, akan semakin melihat dan mengakui bahwa kemampuan berbuat baik serta keberanian untuk menjadi makin manusiawi dan makin lurus itu datang dari sumber akan iman Kristus yang telah diterima dari komuni suci. Bukan dari kekuatan manusiawi sendiri. Bagi orang yang percaya, kemampuan berbuat baik itu anugerah ilahi. Dan anugerah inilah yang ditandai dengan Ekaristi. Dalam arti inilah Ekaristi membuat kita semakin dekat dengan kehidupan Yang Ilahi sendiri.

Merayakan iman mungkin mudah, kalau sekedar mengikuti, apalagi kalau hanya pasif: datang, duduk, diam, setelah selesai pulang. Tetapi tak semudah memaknai dan mewujudkannya dalam hidup. Diam saja atau sekedar mengikuti rutinitas bukanlah cara merayakan iman yang baik. Iman adalah "rahmat" yang perlu dirayakan dengan tindakan aktif.

6. Refleksi dan Sharing Pengalaman

Perayaan iman, merupakan perayaan perjumpaan dengan Allah yang agung, anggun, khidmat, serta mendatangkan rahmat.

Ekaristi sebagai perayaan iman, merupakan lambang kesatuan dengan Tubuh Mistik Kristus: Siapa yang menerima Ekaristi, disatukan lebih erat dengan Kristus. Olehnya Kristus menyatukan kita dengan semua umat beriman yang lain menjadi satu tubuh: Gereja. Komuni membarui, memperkuat, dan memperdalam penggabungan ke dalam Gereja, yang telah dimulai dengan Pembaptisan. Di dalam Pembaptisan kita dipanggil untuk membentuk satu tubuh (Bdk. 1Kor 12:13). Konsili Vatikan II melalui Sacrosanctum Consilium (SC), secara tegas mengatakan mengenai peran aktif umat dalam perayaan iman, yaitu liturgi, terlebih karena Gereja menyadari bahwa Liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan Gereja (bdk. SC 10). Dalam Konsili Vatikan II ini pula secara tegas dinyatakan pengertian Liturgi yakni sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kepala dan para anggota-Nya (bdk. SC 7). Tugas imamat Yesus Kristus untuk melaksanakan karya keselamatan Allah perlu dihadirkan oleh Gereja di dalam liturgi. Maka liturgi dalam perspektif ini, mendapatkan pendasaran yang kuat; sebagai perayaan kerinduan berjumpa dengan Kristus, kepantasan untuk berjumpa dengan Kristus, ambil bagian secara sadar (paham atas simbol Liturgi) dan aktif (terlibat lahiriah dan sakramental) dan buahnya dari perayaan itu, yaitu persatuan dengan Kristus dan Gereja.

7. Doa Umat dan Doa Penutup

8. Lagu Penutup

Kamis, 06 Desember 2012 Hari Biasa Pekan I Adven

Kamis, 06 Desember 2012
Hari Biasa Pekan I Adven

Cinta yang ingin melihat Allah, memiliki semangat bakti, meskipun ia kurang mengerti. --- St. Petrus Krisologus.


Antifon Pembuka (bdk. Mzm 119:151-152)


Engkau sungguh dekat, ya Tuhan dan segala jalan-Mu benar; sejah dulu aku tahu dari sabda-Mu, bahwa Engkau selalu besertaku.


Doa Pagi


Allah yang Mahakuasa, bukalah pintu-pintu hati kami yang tertutup oleh kesombongan dan kekejian. Limpahkanlah ke dalam hati kami sukacita dan damai sejahtera sehingga langkah kami hari ini menggembirakan mereka yang kami jumpai. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


Tuhan mencintai orang-orang yang setia, teguh hati, dan mau tetap percaya dalam situasi dan kondisi apa pun. Dia akan memperlakukan orang-orang yang sekualitas itu dengan damai sejahtera. Tuhan tidak mengecewakan! Maka, Yesaya minta supaya kita membuka "pintu-pintu gerbang" hati kita untuk mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Sampai pada taraf, bukan lagi kita yang hidup, tetapi Tuhan yang hidup dalam diri kita.


Bacaan dari Kitab Yesaya (26:1-6)

   
"Bangsa yang benar dan tetap setia biarlah masuk."
 
Pada masa itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: "Kita mempunyai kota yang kuat! Tuhan telah memasang tembok dan benteng untuk keselamatan kita. Bukalah pintu-pintu gerbangnya, agar masuklah bangsa yang benar dan yang tetap setia. Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepada-Mu. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal. Kota-kota di atas gunung telah ditaklukkan-Nya; benteng-benteng yang kuat telah dirobohkan-Nya, diratakan-Nya dengan tanah dan dicampakkan-Nya menjadi debu. Kaki orang-orang sengsara dan telapak orang-orang lemah akan menginjak-injaknya."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.
Ayat. (Mzm 118:1.8-9.19-21.25-27a)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada insan! Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada para bangsawan.
2. Bukakan aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.
3. Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan. Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali pada tanduk-tanduk mezbah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yes 55:6)
Carilah Tuhan, selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat.

Sabda Tuhan baru sungguh-sungguh merasuki kehidupan seseorang, dan menjadi kekuatan luar biasa baginya, jika dilaksanakan. Sabda Tuhan harus dijelmakan sebagai perbuatan; bukan dirumuskan kembali dalam kata-kata saja. Gambaran kekuatan orang yang melaksanakan sabda Tuhan adalah seperti pondasi batu rumah yang kokoh, yang tak roboh dilanda hujan lebat dan banjir yang hebat.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:21.24-27)
   
"Barangsiapa melakukan kehendak Bapa akan masuk Kerajaan Allah."
     
Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan! Tuhan' akan masuk kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Semua orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Tetapi rumah itu tidak roboh sebab dibangun di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Maka robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Iman itu merupakan persembahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Iman yang mendalam akan menguatkan perjuangan hidup kita. Kita tidak cepat menyerah dan putus asa. Sebaliknya, kita lebih optimis menghadapi berbagai macam peristiwa hidup sehari-hari. Kita lebih positif menyikapi tantangan, hambatan dan penderitaan. Karena itu, kita mesti harus mengolah diri dengan mendengarkan firman Tuhan. Sudahkah kita setia melakukannya?

Doa Malam

Yesus, sabda-Mu hari ini menyadarkan kami untuk tidak hanya berteriak kepada Allah tetapi juga mendengar dan melaksanakan kehendak Bapa di surga. Tambahkanlah kepekaan kami untuk lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak terhadap kehendak Bapa. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Bapa dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

"Masa Adven yang agung. Inilah masa yang senantiasa dirayakan Gereja dengan kekhidmatan khusus. Kita pun sepantasnya senantiasa merayakan dengan iman dan kasih, dengan melambungkan puji-pujian dan ucapan syukur kepada Bapa atas belas kasihan dan cinta yang telah dinyatakan-Nya kepada kita dalam misteri ini. Dalam kasih-Nya yang tak terbatas bagi kita, meskipun kita orang-orang berdosa, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk membebaskan kita dari kuasa setan, mengantar kita ke surga, menyambut kita dalam istirahat yang paling dalam, menunjukkan kepada kita kebenaran itu sendiri, melatih kita dalam melakukan yang benar, menanamkan dalam diri kita benih-benih keutamaan, dan memperkaya kita dengan harta pusaka rahmat-Nya serta menjadikan kita anak-anak Allah dan ahli waris kehidupan kekal." (St. Karolus Borromeus, sumber: indocell.net/yesaya )

RUAH