Surat Gembala Prapaskah 2014 untuk Keuskupan Malang

“Belajar Bersama Yesus Menyingkirkan “roh” yang Lain”
( Mat 4 : 1-11 )

Saudara-saudari
Segenap Umat Beriman
Para Imam, Biarawan dan Biarawati
di seluruh Wilayah Keuskupan Malang terkasih,

Pengantar
Saudara-saudariku, seluruh umat Keuskupan Malang yang terkasih. Bersama dengan seluruh Gereja, kita akan memasuki masa Prapaskah yang dimulai pada Hari Rabu Abu. Pada hari-hari menjelang masa Prapaskah, Keuskupan Malang terhenyak oleh bencana gunung Kelud yang tanpa diduga-duga menghancurkan sebagian dari wilayah Keuskupan Malang. Tepatnya di Kabupaten Malang, wilayah paroki Gembala Baik Batu. Selain itu secara nasional kita melihat bahwa rentetan bencana alam lainnya seakan-akan datang bertubi-tubi. Semua bencana itu menyisakan kesengsaraan ratusan ribu, bahkan jutaan orang yang kehilangan sanak-saudara, rumah, harta-benda, dan mata pencaharian. Hati kita sesak melihat kenyataan saudari-saudara kita itu harus hidup di tenda-tenda pengungsian sambil menatap dengan khawatir masa depan hidup mereka. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai bencana lingkungan yang pasti tak kalah membahayakan dan menyengsarakan mengingat bahwa milik mereka, pertanian, peternakan, dan usaha-usaha lain hancur luluh lantak.

Menjadi manusia pebelajar yang tidak mementingkan diri sendiri
Saudara-saudari, Sabda Tuhan berbicara mengenai kewajiban beragama. Ingatlah, “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian kamu tidak beroleh dari Bapamu yang di surga…” (Mat 6:1-6,16-18). Bagaimanakah Sabda Tuhan ini kita mengerti? Mengingat bahwa budaya masyarakat kita senantiasa diwarnai dengan budaya pamer dan mencari pujian? Bukankah pamer dan mencari pujian mewabah dalam masyarakat kita yang seakan merupakan kebutuhan dan tanda mengaktualkan diri di tengah situasi yang semakin konsumtif, hedonis, dan budaya instan? Dan inilah yang kerap terjadi, misalnya kita sering melihat banyak orang atau kelompok dengan tanda atribut malah menggunakan para pengungsi untuk mencari popularitas diri? Bahkan dibuat proyek. Lalu apa arti Sabda Tuhan hari ini dimana kita tidak perlu memamerkan perbuatan kasih dan kesalehan, sedekah dan puasa, di depan orang melainkan hanya Allah saja yang tahu.
Saudara dan saudari terkasih, segenap umat Keuskupan Malang. Pada bulan November tahun lalu para wakil umat, organisasi katolik, komisi dan perwakilan religius bersama para pastor paroki berkumpul dan bersama-sama memikirkan Gereja Keuskupan Malang. Dalam kebersamaan terungkaplah bahwa niat kita semua demi pelayanan adalah berjuang untuk mewujudkan gerakan sehati dan sejiwa mengembangkan Gereja Keuskupan Malang. Dalam mewujudkan gerakan tersebut banyak hal yang bisa kita sentuh, mulai dari persoalan narkoba sampai bagaimana peran umat dalam membangun budaya politik di Indonesia. Selain persoalan-persoalan tersebut, kita juga dihadapkan dengan persoalan soal sikap hidup dan suasana yang kerap kali jauh berbeda dari apa yang dikehendaki Injil yaitu menjadi yang rendah hati dan rela berbagi dengan sesama yang menderita. Inilah kiranya yang mesti menjadi gerak dan pembelajaran kita semua selama masa Prapaskah.

Memaknai masa Prapaskah dalam gerakan sehati sejiwa
Selama masa Prapaskah kita diajak untuk menjadi pebelajar terus menerus sebagai manusia. Dengan memaknai masa Puasa dalam gerakan sehati dan sejiwa tidak lain adalah kesadaran bahwa menghayati masa Prapaskah adalah kesadaran untuk terbuka pada gerakan persekutuan Tritunggal Mahakudus yang menghadirkan gerakan sehati dan sejiwa. Sebagaimana sapaan Injil bahwa hidup keagamaan kita harus lebih luhur maka menghayati hidup keagamaan kita harus terbuka pada gerak persekutuan Tritunggal Mahakudus. Pebelajar kita tidak lain adalah mengimani peristiwa misteri Tritunggal Mahakudus yang menjadi gerak iman Gereja yang tidak hanya dirayakan melainkan juga dihidupi, serta diungkapkan dan diwujudkan dalam kesaksian nyata sehati sejiwa. Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk belajar. Mengapa?
Sebab setelah memberikan Putera-Nya Allah Bapa tetap konsisten. Karena Kasih-Nya, Allah terus berinisiatif menghimpun umat dengan gerakan sehati dan sejiwa lewat kehadiran Roh Kudus yang bekerja lewat berbagai cara, tempat, serta kapanpun.
Saudara dan saudari, segenap umat di Keuskupan Malang. Belajar dari Roh-Nya itu tidak pernah ada selesainya sebagaimana bahwa “belajar itu seumur hidup”. Terlebih lagi kalau kita menyadari bahwa hidup itu selalu di bawah ancaman roh yang lain yang memecah belah, mengobarkan permusuhan, melestarikan ketidakadilan, dan mengganti damai sejati. Roh yang menyusupi nafsu, iri hati, dan kuasa dalam diri. Kesadaran inilah yang menggerakkan kita untuk selalu berjuang bahwa hidup keagamaan kita harus membentuk diri menjadi Gereja yang pebelajar pada komunio Tritunggal Mahakudus. Sehingga menghadirkan Gereja yang mengikuti Yesus lebih dekat lagi selama masa Prapaskah tidak lain adalah belajar bersama Yesus menyingkirkan roh yang lain (yang bukan Roh Kudus).
Belajar bersama Yesus menyingkirkan roh yang bukan Roh Kudus tidak lain adalah mengembangkan gerakan sehati dan sejiwa seturut komunio Tritunggal Mahakudus. Masa Prapaskah mengajak kita untuk menyadari bahwa pengalaman keagamaan yang kita rayakan, dihidupi dan diwujudkan dengan nyata. Puasa dan pantang yang menjadi suasana Prapaskah menjadi hidup dan nyata kalau diwujudkan dalam silih untuk berbagi kepada mereka yang miskin dan terlantar. Dalam kesempatan masa Prapaskah ini saya juga ingin menghargai gerakan solidaritas umat dalam kesatuan dengan Keuskupan melalui Tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang ketika menangani bencana, khususnya bencana gunung Kelud. Saya melihat tanpa menonjolkan dan memegahkan diri seluruh komponen Keuskupan, baik Umat, Dewan Paroki, sekolah-sekolah, para Religius dan para Romo spontan bergerak dan terlibat bersama. Ini merupakan salah satu wujud kesehatian dan kesejiwaan hidup menggereja. Terlibat dengan persoalan kemanusiaan yang dilakukan oleh Keuskupan dan ikut membantu dengan nyata tanpa mengedepankan kepentingan diri merupakan wujud dari semangat Prapaskah sesuai dengan ajakan Injil.

Penutup
Saudara dan saudari,umat Keuskupan Malang yang terkasih. Mewujudkan masa Puasa yang bermakna sebagai cara menghidupi keagamaan kita agar sesuai dengan Injil adalah tidak hanya mengerti melainkan menghidupi dan mewujudkan dalam perbuatan nyata. Kepedulian, rela menolong, siap untuk direpoti, berani berkorban, dan rela berbagi merupakan tanda dan buah dari hidup agama yang benar. Saya percaya dengan buah-buah hidup keagamaan yang benar menjadikan puasa dan amal kita akan menjadi berkat yang berkenan pada Allah. Selamat memasuki masa Prapaskah dan Tuhan memberkati.

Selamat memasuki Masa Puasa Prapaskah dengan hati terbuka. Tuhan memberkati.

Malang, 1 Maret 2014
Uskup Keuskupan Malang

Msgr. Herman Joseph Pandoyoputro O. Carm

Mohon dibacakan di Gereja-gereja Paroki, Kapel semi publik di seluruh wilayah Keuskupan Malang pada Rabu Abu dan misa Minggu Prapaskah I tanggal 8-9 Maret 2014

Kamis, 06 Maret 2014 Hari Kamis sesudah Rabu Abu

Kamis, 06 Maret 2014
Hari Kamis sesudah Rabu Abu
    
“Semua yang pernah menjadi pelayan rahmat Allah atas kuasa Roh Kudus, berbicara tentang pertobatan” (Paus Klemens II)
    

Antifon Pembuka (Mzm 55:17.20.23)
  
Ketika aku berseru kepada Tuhan, Ia mendengarkan daku dan membebaskan daku dari musuh-musuhku. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhanku dan Dia akan menolong engkau.
  
Doa Pagi

  
Allah Bapa yang berbelas kasih, Engkau menghendaki agar kami hidup dengan saling mengasihi, mendengarkan Sabda-Mu dan tetap berpaut hanya kepada-Mu. Namun ya Bapa, kami telah berdosa, sering berpaling kepada hal-hal lain hanya untuk mencari kepuasan dan kesenangan diri. Ampunilah kami dan bimbinglah kami untuk berbalik kepada-Mu sehingga kami beroleh selamat dan kelak boleh masuk Kerajaan-Mu yang abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   

Lewat Musa, Allah bersabda bahwa perjalanan menuju kepada-Nya selalu dihadapkan kepada pilihan ini: Hidup atau mati, berkat atau kutuk. Jika setiap kali kita mampu memilih hidup dan berkat dalam setiap pergulatan peristiwa, kita akan dapat tinggal bersama-Nya (kehidupan mistik).
   

Bacaan dari Kitab Ulangan (30:15-20)
   
"Pada hari ini aku menghadapkan kepadamu: berkat dan kutuk."
   
Di padang gurun di seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, “Ingatlah, pada hari ini aku menghadapkan kepadamu kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan. Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan serta peraturan-Nya. Dengan demikian engkau hidup dan bertambah banyak, dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu, di negeri yang kaumasuki untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, apalagi jika engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka pada hari ini aku memberitahukan kepadamu bahwa pastilah kamu akan binasa, dan tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi Sungai Yordan, untuk mendudukinya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau tidak mati, baik engkau maupun keturunanmu, yaitu dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya. Sebab hal itu berarti hidup bagimu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhanku
Ayat. (Mzm 1:1-2.3.4.6; Ul: Mzm 40:5a)
1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
2. Ia seperti pohon, yang di tanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
3. Bukan demikianlah orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. (Mat 10:7)
Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.
  
Para pengikut Kristus diminta untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti jejak Kristus. Itulah cara yang dipilih Kristus untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang percaya kepada-Nya.
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:22-25)
    
"Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya."
        
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
 
Yesus memberitahukan tentang penderitaan dan wafat-Nya. Sekaligus Dia mengingatkan para murid supaya siap menderita bahkan mati demi Yesus. Itulah ciri kemuridan yang sejati. Murid yang sejati memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Yesus. Apakah kita sudah siap untuk menanggung derita dan salib bersama dan demi Yesus?
 
Doa Malam
  
Tuhan Yesus, Engkau memanggil kami untuk menjadi pengikut-Mu, dan rela menyangkal diri, serta berani memikul salib kehidupan setiap hari. Yesus, kuatkanlah kami sebab Engkaulah sumber kekuatan, Guru dan teladan hidup kami untuk sampai kepada Bapa, kini dan sepanjang masa. Amin.

RUAH