Senin, 26 Mei 2014 Peringatan Wajib St. Filipus Neri, Imam

Senin, 26 Mei 2014
Peringatan Wajib St. Filipus Neri, Imam
      
Kita bukanlah orang Kristen “paruh waktu”, hanya pada saat, keadaan, pertimbangan tertentu; tidak ada seorangpun yang bisa menjadi Kristen dengan cara seperti ini, kita adalah orang Kristen sepanjang waktu! Secara total! Semoga kebenaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan dan dianugerahkan oleh  Roh Kudus, selalu dan sepenuhnya mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Mari kita memanggilnya lebih sering lagi agar Dia membimbing kita pada jalan murid – murid Kristus. Mari kita mengundangnya setiap hari. Saya menyarankan hal ini: mari kita membangunkan Roh Kudus setiap hari, dengan cara ini, Roh Kudus akan membawa kita lebih dekat pada Kristus. (Paus Fransiskus, Audiensi Umum pada tanggal 15 Mei 2013)
   
Antifon Pembuka (Rm 6:9)
  
Kristus yang bangkit dari alam maut takkan wafat lagi; maut tidak menguasai-Nya lagi. Alleluya

Doa Pagi

 
Allah Bapa yang mahaagung dan kekal, syukur dan pujian kami lambungkan kepada-Mu sebab melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah menganugerahkan Roh Kudus kepada kami. Kami mohon semoga Roh Kudus semakin menguatkan iman kami kepada-Mu sehingga kami mampu tinggal dalam kasih-Mu itu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   
     
Bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan dari hari biasa, atau dari Rumus Umum Gembala Umat atau Para Kudus (Biarawan), misalnya Flp 4:4-9, Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9.10-11, Ul: 9a; Yoh 17:20-26.
   
Bacaan dari Kisah Para Rasul (16:11-15)     
    
"Tuhan membuka hati Lidia, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus."
                 
Setelah Paulus mendapat pesan dari Surga supaya menyeberang ke Makedonia, kami, Paulus dan Silas, bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake. Keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dan dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari. Pada hari Sabat kami keluar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ. Setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Salah seorang dari perempuan-perempuan itu, yang bernama Lidia, turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, seorang yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, Lidia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
  
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan kepada umat-Nya
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)
1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.
  
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (bdk. Yoh 15:26-27)
Roh Kebenaran akan bersaksi tentang Aku, sabda Tuhan; tetapi kamu juga harus bersaksi.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (15:26--16:4a)
       
"Roh kebenaran bersaksi tentang Yesus."
          
Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan; bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
  
Renungan

  

SIAP MENJADI SAKSI
      
Pada Bacaan Minggu Paskah VI Yesus menjanjikan Penghibur yaitu Roh Kudus. Apa yang kita pikirkan tentang “Roh” ? sesuatu yang magis, praktik perdukunan, atau mungkin hal yang senada dengan itu? Pada praktik – praktik perdukunan “Roh” yang bersifat jahat dan yang dipercayai mampu memberikan efek buruk pada kehidupan manusia bisa saja memberikan kehidupan nikmat dan memenuhi kepuasan fisik manusia, tetapi semuanya bersifat sementara. Berbeda dengan Roh Allah, yaitu Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus dijanjikan Yesus sebagai yang diberikan Bapa untuk memenuhi batin setiap manusia agar senantiasa dibimbing dan diarahkan kepada kepenuhan kebenaran yang sejati yaitu Yesus Kristus di dalam Gereja Katolik. Inilah kebahagiaan itu. Roh Kudus juga yang memberikan hidup, sebab Bapa telah menciptakan alam semesta dengan Firman-Nya yaitu Yesus, dan dengan Roh-Nya segala yang ada di muka bumi menjadi hidup. Sangat berbeda dengan “roh” yang dipercayai pada praktik perdukunan, yang membawa ajang kesesatan.
 
 Pada bacaan hari ini, Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran itu sendiri akan bersaksi tentang Yesus Kristus (Yoh 15:26), jika Roh Allah yang bersaksi tentang Yesus mengarahkan dan memenuhi hati kita, maka sudah menjadi kewajiban bagi seluruh warga Gereja untuk bersaksi pula tentang Putra-Nya, Yesus. Ini harga mutlak, bahwa kita hidup di dunia dipanggil untuk menjadi pengikut Kristus yang setia dan total ; tidak setengah - setengah, dan Roh Kudus yang bersaksi tentang Kristus itu memenuhi hati kita, dan Bapa mengajak kita semua karena gerakan Roh Kudus untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Mengapa kita harus bersaksi? Karena “…kamu dari semula bersama – sama dengan Aku”. Jika kita ingin hidup bersama dengan Yesus, kita harus sepenuhnya percaya dan melakukan perintah kasih-Nya. namun kebersamaan ini tidak bisa menjadi milik sendiri, kebersamaan yang kita rasakan bersama Yesus adalah suatu kemesraan hati yang memberi damai, dan damai ini harus diwartakan agar setiap orang dapat menerima damai sejati yang berasal dari Yesus Kristus. Ada ungkapan “kata – katamu menggambarkan pribadimu”, maka apa yang keluar dari mulut kita tentu harus menjadi cerminan dari pribadi Kristus ; memberikan nasihat, menegur yang bersalah dengan kasih, tidak pernah menggunakan kata – kata yang tidak pernah diucapkan oleh Kristus dan yang terutama adalah bertindak seperti yang Yesus sendiri lakukan. Melakukan segala sesuatu karena cinta kita kepada Bapa dan semua diserahkan kepada-Nya, bukan untuk diri sendiri, tetapi berbuah masak bagi sesama dan keluhuran Allah.
 
  Perbuatan kita menjadi kesaksian awal untuk pemberitaan tentang Yesus yang adalah gembala baik. Jika perlu, mari kita saling menasihati, bukan karena kebencian, tetapi atas dasar kasih Yesus sendiri, dan nasihat ini tidak di dasarkan pada ambisi pribadi, tetapi pada Firman-Nya dan apa yang Gereja suarakan.  
   
  Bersukacitalah senantiasa, karena sukacita adalah jalan untuk berkembang dalam kebajikan. --- St. Filipus Neri
          
Renungan Pagi / Deus Providebit

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."

Minggu, 25 Mei 2014
Hari Minggu Paskah VI

Kis 8:5-8, 14-17; 1Ptr 3:15-18; Yoh 14:15-21

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."

Kasih dan ketaatan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Demikianlah Yesus menegaskan. Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, tentu kita harus menuruti dan melaksanakan segala perintah-Nya. Kita harus taat kepada-Nya. Dalam konteks hidup beriman kita sebagai warga Gereja Katolik, perintah Tuhan itu tidak hanya yang tertulis dalam Kitab Suci tetapi juga semua yang dinyatakan dalam Tradisi dan Ajaran Gereja, yang keduanya tentu saja tidak bertentangan dengan Kitab Suci tetapi selalu berdasarkan Kitab Suci. Berkaitan dengan Ajaran Gereja, kita mempunyai apa yang disebut Magisterium, yakni wewenang atau kuasa mengajar Gereja. Hanya kepada wewenang mengajar Gereja inilah tugas untuk menafsirkan Kitab Suci secara otentik diberikan, sebagaimana dinyatakan dalam Dei Verbum 10, “Adapun tugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis dan diturunkan itu dipercayakan hanya kepada wewenang mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus.”

Wewenang mengajar Gereja ini diberikan secara langsung oleh Kristus kepada para rasul dalam amat agung sesudah kebangkitan-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:18-20). Untuk melaksanakan tugas pengajaran tersebut dan untuk menjamin kebenarannya, Yesus telah menjanjikan Roh Kudus kepada mereka “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:16.26). Dan janji ini telah dipenuhi dalam peristiwa Pentakosta (Kis 2:1-13).

Para rasul yang menerima kuasa langsung dari Yesus itu adalah uskup-uskup Gereja yang pertama, dengan Petrus sebagai pemimpinnya, sebab Dialah yang secara eksplisit ditunjuk oleh Yesus, "Engkau adalah Petrus [artinya batu karang] dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Dalam perjalanan sejarah Gereja selanjutnya, jabatan dan peran para rasul tersebut digantikan dan diteruskan oleh para uskup di bawah pimpinan Paus yang adalah pengganti Petrus. Inilah yang disebut Sukesi Apostolik, yang dasarnya adalah Kitab Mazmur dan Kisah para Rasul, "Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: ... Biarlah jabatannya diambil orang lain" (Kis 1:20). Karena Paus dan para uskup adalah pengganti dan penerus para rasul, maka kuasa dan wewenang mengajar Gereja juga ada pada Paus dan para Uskup ini. Tuhan pun selalu menyertai mereka sesuai janji-Nya, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Selain itu, Roh Kudus juga selalu membimbing sehingga Gereja dan ajaran-ajarannya dijamin kebenarannya dan dibebaskan dari kesesatan yang mungkin.

Ajaran Gereja yang pokok adalah berkaitan dengan iman dan moral, yang secara khusus menjadi tanggung jawab Congregatio pro Doctrina Fidei (CDF). Tugas dan kewenangan mereka tercantum dalam ayat 48 dari Konstitusi Apostolik Kuria Romawi, Pastor Bonus, yang dikeluarkan secara resmi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 28 Juni 1988, yakni "untuk memajukan dan menjaga doktrin iman dan moral di seluruh dunia Katolik". Selain berkaitan dengan iman dan moral, Gereja juga mempunyai ajaran sosial yang sebagian besar tertuang dalam Ensiklik para Paus. Ajaran Sosial Gereja ini merupakan keseluruhan ajaran Gereja untuk menelaah realitas-realitas sosial sekaligus menyajikan pertimbangan dan memberikan pedoman-pedoman untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang ada demi terciptanya kesejahteraan umum (Centensimus Annus 5). Gereja juga mempunyai dan memberikan ajaran-ajarannya secara khusus berkaitan dengan liturgi peribadatan dan sakramen-sakramen, yang secara khusus menjadi tanggung jawab Congregatio de Cultu Divino et Disciplina Sacramentorum. Berdasarkan Konstitusi Pastor Bonus, tugas mereka antara lain menentukan pedoman dan aturan untuk pelaksanaan liturgi, terutama sakramen-sakramen, yang benar dan sah serta memastikan bahwa norma-norma liturgi ditaati dengan tepat dan penyelewengan akan hal ini dihindarkan atau kalau ada dihilangkan.

Dari uraian cukup panjang di atas - padahal belum lengkap karena masing-masing mengenai ajaran iman, moral, sosial dan liturgi peribadatan serta sakramen-sakramen masih harus dijabarkan - saya hanya mengajak untuk menghayati cinta kasih kita dalam bentuk ketaatan. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku," begitulah Yesus menegaskan. Perintah-perintah Tuhan tersebut tidak hanya tertulis dalam Kitab Suci tetapi juga dalam Tradisi dan Ajaran Gereja yang dibuat oleh Wewenang Mengajar Gereja. Mereka, adalah penerus dan pengganti para rasul yang secara resmi ditunjuk oleh Yesus dengan sabda-Nya, "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Mat 28:20) dan secara khusus menerima anugerah Roh Kudus "yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26). Untuk itu, secara sederhana bisa disampaikan ajakan dan seruan, "Jikalau kamu mencintai Gereja, kamu akan menuruti segala ajarannya, baik ajaran iman, moral, sosial, liturgi peribadatan maupun sakramen-sakramen".

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu untuk mentaati perintah-perintah-Mu, baik yang tertulis dalam Kitab suci maupun dalam Tradisi dan Ajaran Gereja, supaya dengan demikian, kami sungguh-sungguh mampu untuk mengasihi-Mu. Amin. -agawpr-