Minggu, 04 Oktober 2015 Hari Minggu Biasa XXVII

Minggu, 04 Oktober 2015
Hari Minggu Biasa XXVII

“Suatu hari, St Fransiskus dari Assisi sedang berkhotbah di suatu wilayah di mana banyak kaum bidaah. Orang-orang malang ini menutup telinga mereka agar jangan mereka mendengarnya. Maka, St Fransiskus membawa orang-orang itu ke tepi pantai, lalu memanggil ikan-ikan di laut untuk datang dan mendengarkan Sabda Allah, sebab manusia menolaknya. Ikan-ikan bermunculan di permukaan air; ikan-ikan yang besar di belakang ikan-ikan yang lebih kecil. Orang kudus itu bertanya kepada ikan-ikan, `Adakah kalian bersyukur kepada Allah yang baik karena telah menyelamatkan kalian dari gelombang pasang?' Ikan-ikan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Lalu, kata St Fransiskus kepada orang banyak, `Lihatlah, ikan-ikan ini bersyukur atas kasih karunia Tuhan, sementara kalian begitu tidak tahu terima kasih, bahkan mengacuhkannya!'” (St Yohanes Maria Vianney)

Antifon Pembuka (Bdk. Est 3:2-3)

Semesta alam takluk kepada kehendak-Mu, ya Tuhan, dan tidak ada yang dapat menentangnya. Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, langit dan bumi serta segala isinya. Engkaulah Tuhan atas semesta alam.

Within your will, O Lord, all things are established, and there is none that can resist your will. For you have made all things, the heaven and the earth, and all that is held within the circle of heaven; you are the Lord of all.

In voluntate tua, Domine, universa sunt posita, et non est qui possit resistere voluntati tuæ: tu enim fecisti omnia, cælum et terram, et universa quæ cæli ambitu continentur: Dominus universorum tu es.


Doa Pagi


Allah Bapa yang mahabaik, sumber cinta kasih, Engkau menciptakan semesta alam sebagai tempat yang luas, di mana orang saling memerlukan untuk mengalami cinta kasih-Mu. Singkirkanlah kiranya ketegaran dan kesombongan hati, yang menjauhkan suami dan istri satu sama lain dan yang menyelubungi citra-Mu pada setiap orang. Berikanlah kesetiaan yang takkan memutuskan apa yang sudah Kauikatkan. Utuslah Roh Kudus-Mu supaya hati dan budi kami senantiasa terarah kepada Firman-Mu dalam Tahun Iman yang kami awali pada hari ini. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (2:18-24)
   
   
"Keduanya akan menjadi satu daging."
  
Beginilah firman Tuhan Allah, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja! Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Maka Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu, untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan. Tetapi bagi dirinya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika manusia itu tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil-Nya dari manusia itu, dibangunlah oleh Tuhan Allah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, la = fis, 4/4, PS 846
Ref. Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
Ayat. (Mzm 128:1-2.3.4-5.6)
1. Berbahagialah setiap orang yang bertakwa pada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
2. Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur subur, di dalam rumah-Mu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
3. Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion; Boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.
4. Boleh melihat keturunan anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!
 
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (2:9-11)
 
“Kenakanlah manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah.”
 
Saudara-saudara, untuk waktu yang singkat Yesus telah direndahkan di bawah malaikat-malaikat, tetapi oleh derita kematian-Nya Ia telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Dan berkat kasih karunia Allah, Yesus mengalami maut bagi semua orang. Memang sesuai dengan keadaan Allah, Allah menjadikan segala sesuatu bagi diri-Nya, dan mengantar banyak orang kepada kemuliaan. Maka sudah sepatutnya Ia pun menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan dengan penderitaan. Sebab Dia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan semua berasal dari Yang Satu. Itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2 PS 957
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. (1Yoh 14:12)
Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:2-16) (Singkat: 10:2-12)
 
“Apa yang telah dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia.”
  
(Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus. Mereka berkata kepada-Nya, “Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?” Tetapi Yesus menjawab mereka, “Apa perintah Musa kepadamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikan isterinya dengan membuat surat cerai.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah itu untukmu. Sebab pada awal dunia Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.” Setelah tiba di rumah, para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika isteri menceraikan suaminya, lalu kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”) Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Tetapi murid-murid-Nya memarahi orang itu. Melihat itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka! Sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah, Aku berkata kepadamu: Sungguh, barangsiapa tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Kemudian Yesus memeluk anak-anak itu, meletakkan tangan ke atas mereka dan memberkati mereka.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Saya pernah melihat sebuah rekaman CCTV yang diunggah di internet. Ada seorang anggota DPR yang ditilang polisi lalu lintas lantaran melanggar rambu-rambu lalu lintas. Setelah polisi menjelaskan alasan mengapa anggota DPR tersebut ditilang, si anggota DPR tersebut malah marah-marah kepada polisi dengan beragam alasan yang kekanak-kanakan. Singkat cerita, dari rekaman CCTV tampak bahwa anggota DPR tersebut tidak mau rendah hati ketika ditegur polisi. Dia justru marah-marah ketika ditilang.

Hari ini Yesus menegur pikiran dan pandangan orang-orang Farisi tentang perceraian. Orang-orang Farisi berusaha membela diri dengan mengutip apa yang dilakukan oleh Musa: yang memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai. Sebaliknya, bagi Yesus tidak ada perceraian: Apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jelas dan tegas sekali. Bukankah sejak semula Allah menghendaki persatuan? Dan bukan perceraian?

Kita ingat akan kisah penciptaan: ketika manusia merasa sendirian, dia meminta kepada Tuhan seorang penolong yang sepadan dan Tuhan mengabulkan permintaannya, sehingga diciptakan seorang manusia lagi. Kata “penolong” menunjukkan bahwa manusia harus bersatu satu sama lain, karena kalau tidak bersatu, tidak mungkin terjadi tolong-menolong. Padahal dulu kita meminta kepada Tuhan seorang penolong (baca: persatuan), mengapa sekarang kita berpikir tentang perceraian (perpisahan)?

Kisah pelanggaran lalu lintas oleh seorang anggota DPR dan Injil hari ini bisa menjadi cermin bagi kita sekaligus menjadi bukti bahwa seringkali manusia itu sulit untuk setia pada kehendak Allah. Apalagi tindakan manusia juga kerap kali melampaui tindakan Tuhan, bahkan terkadang bertentangan dengan kehendak Allah. Pertanyaan orang-orang Farisi terkadang juga menjadi pertanyaan kita, hanya dalam versi lain. Pertanyaan-pertanyaan yang mencoba untuk “menawar” kehendak Allah dan mengedepankan kehendak kita: Allah sejak semula menginginkan persatuan, tetapi kita malah menawar dan melawannya dengan perceraian. Allah sudah mempersatukan tetapi kita malah merusak dan mencerai-beraikannya.

Tindakan manusia yang menawar dan melawan kehendak Allah bisa menjadi refleksi kita: Apa yang salah dengan kehendak Allah? Tidak ada. Namun mengapa rencana Allah yang Mahakuasa masih kita tawar atau bahkan kita lawan? Kalau kita selalu menawar atau melawan kehendak Allah, jangan-jangan sebenarnya kita tidak percaya lagi kepada Allah. Kalau begitu, siapa yang akan kita percayai? Dengan demikian, rencana siapa yang akan kita terima dalam hidup?

Kalau kita sulit bersatu dengan orang lain yang tampak, bagaimana kita akan bersatu dengan Allah yang tidak tampak? Mari kita belajar mengutamakan kehendak Allah. [Petrus Harsa]

Antifon Komuni (Rat 3:25)

Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

The Lord is good to those who hope in him, to the soul that seeks him.

Atau (Bdk. 1Kor 10:17)

Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh sebab kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.

Though many, we are one bread, one body, for we all partake of the one Bread and one Chalice.
  
MEREKA YANG BERCERAI DAN MENIKAH LAGI
Paus Yohanes Paulus II, dalam Familiaris Consortio, No. 84

Patut disayangkan, bahwa menurut pengalaman sehari-hari mereka yang telah bercerai lazimnya bermaksud memasuki suatu persatuan baru, yang sudah jelas tanpa upacara keagamaan Katolik. … Bersama dengan Sinode, kami dengan sungguh-sungguh meminta para gembala dan segenap jemaat beriman untuk membantu mereka yang sudah bercerai, dan berusaha sebaik mungkin, supaya mereka itu jangan menganggap diri seolah-olah sudah terpisah dari Gereja, sebab sebagai orang yang dibaptis mereka dapat dan memang wajib ikut menghayati hidup Gereja. Hendaklah mereka didorong untuk mendengarkan Sabda Allah, menghadiri Kurban Ekaristi, bertabah dalam doa, menyumbang kepada karya-karya cinta kasih dan kepada usaha-usaha jemaat demi keadilan, membina anak-anak mereka dalam iman Kristen, mengembangkan semangat serta praktek ulah tapa, dan dengan demikian dari hari ke hari memohon rahmat Allah. Hendaklah Gereja mendoakan mereka, mendorong mereka, dan menunjukkan diri sebagai ibu yang penuh belas kasihan, serta tetap membantu mereka dalam iman maupun harapan.

Akan tetapi Gereja menegaskan lagi prakteknya yang berdasarkan Kitab Suci, untuk tidak mengijinkan mereka yang bercerai, kemudian menikah lagi, menyambut Ekaristi Kudus. Mereka tidak dapat diijinkan, karena status dan kondisi hidup mereka berlawanan dengan persatuan cinta kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan oleh Ekaristi dan merupakan buahnya. Selain itu masih ada alasan pastoral khusus lainnya. Seandainya mereka itu diperbolehkan menyambut Ekaristi, umat beriman akan terbawa dalam keadaan sesat dan bingung mengenai ajaran Gereja, bahwa pernikahan tidak dapat diceraikan.

Pendamaian melalui Sakramen Tobat, yang membuka pintu kepada Ekatisti, hanya dapat diberikan kepada mereka, yang menyesalkan bahwa mereka telah menyalahi lambang Perjanjian dan kesetian terhadap Kristus, dan setulus hati besedia menempuh jalan hidup yang tidak bertentangan lagi dengan tidak terceraikannya pernikahan. Dalam prakteknya itu berarti, bahwa bila karena alasan-alasan serius, misalnya pendidikan anak-anak, pria dan wanita tidak dapat memenuhi kewajiban untuk berpisah, mereka “sanggup menerima kewajiban untuk hidup dalam pengendalian diri sepenuhnya, artinya dengan berpantang dari tindakan-tindakan yang khas bagi suami isteri.” …

Dengan bertindak begitu Gereja menyatakan kesetiannya sendiri terhadap Kristus serta kebenaran-Nya. Sekaligus Gereja menunjukkan keprihatinan keibuannya terhadap putera-puterinya, khususnya mereka, yang tanpa kesalahan mereka telah ditinggalkan oleh pasasangan mereka yang sah.

Dengan kepercayaan penuh Gereja mengimani, bahwa mereka yang telah menolak perintah Tuhan, dan masih hidup dalam keadaan itu, masih akan mampu menerima dari Allah rahmat pertobatan dan keselamatan, asal mereka bertabah dalam doa, ulah tapa dan amal kasih.