Kardinal Arinze: Orang-orang dalam keadaan berdosa secara obyektif tidak dapat menerima Komuni "Dalam hati nurani yang baik"


ROMA, 19 Oktober 2015 (LifeSiteNews) - Orang-orang yang tinggal dalam situasi berdosa secara obyektif yang menunjukkan kepada mereka nurani bahwa mereka dapat menerima Komuni Kudus "bertanggung jawab" untuk "hati nurani yang salah" dan perlu bantuan untuk "tahu akan kondisi mereka, peryataan Kardinal Francis Arinze dari Nigeria dalam sebuah wawancara eksklusif dengan LifeSiteNews.
  
Arinze, yang adalah emeritus prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, bereaksi terhadap argumen yang dibuat minggu lalu oleh Bapa Sinode bahwa bercerai dan menikah lagi, dan bahkan pasangan homoseksual, harus diijinkan untuk menerima Komuni Kudus , jika mereka telah "datang untuk sebuah keputusan" untuk melakukannya "dalam hati nurani yang baik."

Arinze mengatakan bahwa hati nurani seseorang harus dilatih dalam cara-cara Tuhan untuk membuat penilaian yang benar.

"Hati nurani, menurut ajaran Katolik, adalah mengarahkan – secara langsung - apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan. Hati Nurani mengarahkan individu. Namun demikian, hati nurani telah dididik untuk melihat kehendak Allah, Perintah Allah, sebagai sesuatu yang otentik ditafsirkan oleh Gereja, yang berarti hati nurani harus dididik, telah dilatih, "katanya.
Arinze melanjutkan untuk mengutip bagian dari Katekismus Gereja Katolik (KGK) yang berhubungan dengan hati nurani dan untuk memberikan komentar tentang apa maksud ayat-ayat ini :
   
KGK paragraf 1790, Manusia selalu harus mengikuti keputusan yang pasti dari hati nuraninya. Kalau ia dengan sengaja bertindak melawannya, ia menghukum diri sendiri. Tetapi dapat juga terjadi bahwa karena ketidaktahuan, hati nurani membuat keputusan yang keliru mengenai tindakan yang orang rencanakan atau sudah lakukan.

Arinze: "Yang berarti, hati nurani tidak membuat benar dan salah secara obyektif, tetapi hanya mengarahkan orang pada saat apa orang tersebut harus melakukan atau tidak melakukan. Nurani yang telah dididik, dilatih, jika anda ingin," katanya.
   
KGK paragraf 1791, Sering kali manusia yang bersangkutan itu sendiri turut menyebabkan ketidaktahuan ini, karena ia "tidak peduli untuk mencari apa yang benar serta baik, dan karena kebiasaan berdosa hati nuraninya lambat laun hampir menjadi buta" (GS 16). Dalam hal ini ia bertanggungjawab atas yang jahat, yang ia lakukan.

Arinze: "Itu berarti tidak cukup hati nurani mengatakan, 'saya bisa melakukan ini' jika hati nurani dibuat buta oleh tindakan mengulangi kejahatan. Maka orang bertanggung jawab untuk itu hati nurani yang salah. Itu juga jelas," katanya.
   
KGK paragraf 1792, Ketidaktahuan mengenai Kristus dan Injil-Nya, contoh hidup yang buruk dari orang lain, perbudakan oleh nafsu, tuntutan atas otonomi hati nurani yang disalah artikan, penolakan otoritas Gereja dan ajarannya, kurang reIa untuk bertobat dan untuk hidup dalam cinta kasih Kristen, dapat merupakan alasan untuk membuat keputusan salah dalam tingkah laku moral

Arinze: "Anda dapat melihat kemudian, jika seseorang selalu mencuri, jika seseorang selalu berbohong, jika seseorang selalu melakukan tindakan terhadap kesucian, orang mungkin mulai terbiasa dengan tindakan tersebut dan tidak lagi memanggil mereka dengan nama mereka. Tapi seorang imam atau uskup harus membantu mereka, untuk memanggil yang baik, dengan 'baik' dan yang jahat , dengan 'jahat.' Yang berarti, meskipun hati nurani harus diikuti, hati nurani harus dididik, "katanya.

Arinze mengatakan bahwa ada "norma obyektif tentang benar dan salah," tidak peduli apa yang hati nurani dari suatu pribadi itu dapat mengarahkan individu.

"Misalkan saya katakan dalam hati nurani saya, 'saya ikuti apa yang hati nurani katakan." Dan saya melihat mobil itu dan saya suka itu. Dan hati nurani saya mengatakan ke saya, hal itu akan menyenangkan bagi saya untuk mengambil mobil itu. Dan aku pergi dan mengambilnya. Atau, saya pergi ke bank dan mengambil begitu besar uang. Apakah cukup bahwa aku mengatakan, 'hati nurani saya adalah benar, hal itu tidak menyalahkan/membuat saya salah?' "
  
"Polisi tidak akan geli/ ketawa dan hakim akan bertepuk tangan anda di penjara, anda dan hati nurani anda. Kamu melihat? Nurani harus dididik. Norma tujuan dari benar dan salah adalah hikmat Allah yang kekal, dimasukkan dalam sifat manusia, yang kita sebut hukum alam," katanya.
  
Ketika ditanya apa yang harus dilakukan seorang pelayan dari Sakramen Ekaristi Kudus ketika didekati oleh orang yang hidup dalam situasi yang obyektif berdosa yang mengatakan bahwa mereka merasa benar dalam hati nurani mereka untuk mendekati sakramen, Arinze menjawab bahwa orang-orang seperti itu membutuhkan bantuan untuk "tahu akan kondisi mereka."

"Ada sesuatu yang secara obyektif jahat dan baik. Kristus berkata dia yang [menceraikan istrinya] dan menikah dengan orang lain, Kristus memiliki satu kata untuk tindakan itu, "perzinahan." Itu bukan kata-kata saya. Ini adalah kata Kristus sendiri, Yang rendah hati dan lemah lembut , Yang adalah kebenaran yang kekal. Jadi, Dia tahu apa yang dia katakan. "
  
"Sekarang, cara terbaik kita dapat membantu seseorang dengan kebenaran. Jadi, itu akan diperlukan dalam beberapa cara kasih, cara yang baik, untuk membantu orang-orang menyadari kondisi mereka. Hal ini tidak cukup untuk meninggalkan mereka dengan hati nurani mereka," katanya.

Kardinal itu menggunakan analogi medis seorang dokter untuk membantu pasien yang terluka untuk membuat tujuannya, menyembuhkan.

"Seorang dokter yang baik yang menerima pasien dengan luka besar, yang sakit , tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin membersihkan beberapa bagian. Mungkin beberapa suntikan. Mungkin obat yang akan diberikan. "

"Tapi jika dokter mengatakan, 'pasien mengatakan dia tidak suka tindakan ini, dia lebih bahagia dengan balutan' dan mendapat perban bagus dan membalut luka itu, apakah dia seorang dokter yang baik? Apakah luka akan kembali sembuh karena hati nurani pasien mengatakan kepadanya bahwa ini adalah cara terbaik untuk mendekatinya?
 
"Anda melihat, kenyataannya tidak menghormati apa yang [orang dan hati nuraninya] berpikir. Jadi dokter harus memperlakukan yang luka itu dengan ilmu kedokteran yang terbaik. "

"Itulah cara dokter akan menunjukkan belas kasihan kepada pasien," katanya.


Sumber link : https://­www.lifesitenews.com/­news/­video-cardinal-arinze­-rejects-effort-at-s­ynod-to-excuse-objec­tively-evil-ac


diterjemahkan oleh: AG