Minggu, 20 Maret 2022 Hari Minggu Prapaskah III

Minggu, 20 Maret 2022
Hari Minggu Prapaskah III 
  
Allah sangat menghargai pertobatan sehingga sekecil apa pun pertobatan di dunia, asalkan itu murni, menyebabkan Dia melupakan segala jenis dosa. (St. Fransiskus de Sales)

    
Antifon Pembuka (Bdk. Mzm 25:15-16)
 
Mataku tetap terarah kepada Tuhan, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jerat. Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab sebatang kara dan celakalah aku.
 
Oculi mei semper ad Dominum, quia ipse evellet de laqueo pedes meos: respice in me, et miserere mei, quoniam unicus et pauper sum ego.   

 
Doa Pagi

Allah Bapa kami yang Maharahim, Engkau tahu apa yang ada dalam hati manusia. Engkau menyelami hati kami sedalam-dalamnya. Engkau tahu usaha-usaha dan kegagalan-kegagalan kami. Maka Engkaulah Allah yang benar-benar sabar. Kami mohon, buatlah kami percaya bahwa Engkau kuasa menghapus dosa-dosa kami dan curahkanlah kiranya Roh Kudus kepada kami.
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.   
   
Bacaan dari Kitab Keluaran (3:1-8a.13-15)
 
  
"Allah telah mengutus aku kepadamu."
  
Di tanah Midian Musa biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali peristiwa Musa menggiring kawanannya ke seberang padang gurun, dan tiba di gunung Allah, yakni Gunung Horeb. Lalu malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Musa melihat-lihat, dan tampaklah: Semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata, “Baiklah aku menyimpang ke sana, dan menyelidiki penglihatan yang hebat itu. Mengapa semak duri itu tidak terbakar?” Ketika dilihat Tuhan bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya, “Musa, Musa!” Musa menjawab, “Ya Allah!” Lalu Allah berfirman, “Janganlah mendekat! Tanggalkanlah kasut dari kakimu, sebab tempat dimana engkau berdiri itu adalah tanah kudus.” Allah berfirman lagi, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Musa lalu menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Lalu Tuhan berfirman, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka. Ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir.” Ketika Allah mengutus Musa untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa berkata kepada Allah, “Tetapi apabila aku menemui orang Israel, dan berkata kepada mereka, ‘Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu’, dan mereka bertanya kepadaku, ‘Siapakah nama-Nya’, apakah yang harus kukatakan kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa, “Aku adalah ‘Sang Aku’.” Lalu Allah melanjutkan, “Katakanlah kepada orang Israel itu, ‘Sang Aku’ telah mengutus aku kepadamu.” Firman Allah pula kepada Musa, “Katakanlah ini kepada orang Israel, ‘Tuhan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu’. Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya, dan itulah sebutan-Ku turun temurun.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, la = d, 2/4, PS 814
Ref. Tuhan adalah pengasih dan penyayang.
Atau Pada Tuhan ada kasih setia dan penebusan berlimpah.
Ayat. (Mzm 103:1-4.6-7.8.11)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya.
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
3. Tuhan menjalankan keadilan dan hukum bagi semua orang yang diperas. Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, dan memaklumkan perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.
4. Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (10:1-6.10-12)
 
"Kehidupan bangsa Israel di padang gurun telah dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita."
  
Saudara-saudara, aku mau supaya kamu mengetahui, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Jadi untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama, dan minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. Tetapi, sungguh pun demikian, Allah tidak berkenan kepada sebagian terbesar dari mereka. Maka mereka ditewaskan di padang gurun. Semua itu telah terjadi sebagai contoh bagi kita; maksudnya untuk memperingatkan kita, supaya kita jangan menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat. Demikian pula, janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut. Semua itu telah menimpa mereka sebagai contoh bagi kita; semua itu dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada zaman akhir yang kini telah tiba. Sebab itu siapa yang menyangka bahwa dirinya teguh berdiri, hati-hatilah supaya jangan jatuh!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. Bertobatlah, sabda Tuhan, karena Kerajaan Surga sudah dekat.

Inilah Injil Suci menurut Lukas (13:1-9)
 
"Jikalau kamu semua tidak bertobat, kamu pun akan binasa dengan cara demikian."
  
Sekali peristiwa datanglah beberapa orang kepada Yesus dan membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang dibunuh Pilatus dan darahnya dicampurkan dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Maka berkatalah Yesus kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea itu lebih besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib demikian? Tidak, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian.” Kemudian Yesus mengatakan perumpamaan ini, “Ada seorang mempunyai sebatang pohon ara, yang tumbuh di kebun anggurnya. Ia datang mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukannya. Maka berkatalah ia kepada pengurus kebun anggur itu, ‘Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini, namun tidak pernah menemukannya. Sebab itu tebanglah pohon ini! Untuk apa pohon ini hidup di tanah ini dengan percuma!’ Pengurus kebun itu menjawab, ‘Tuan, biarkanlah dia tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!’”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)
 
Renungan


Salah satu alasan untuk menerima dan memeluk suatu agama adalah kebutuhan kuno akan perlindungan dan keamanan di dunia di mana kekerasan dan permusuhan tampak begitu umum.

Dan kekerasan dan permusuhan sering mengakibatkan pertumpahan darah orang yang tidak bersalah. Jadi kekerasan dan permusuhan diarahkan pada orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berdaya yang tidak memiliki sarana untuk mencegah atau menghentikannya.

Hal itu membuat orang menyadari bahwa mereka membutuhkan Tuhan untuk menjaga mereka (terlepas dari tindakan keamanan manusia apa pun yang mungkin ada) dan perlindungan dari bahaya dan jerat yang tidak terduga.

Namun belakangan ini, tempat sembahyang dan peribadatan pun sepertinya sudah tidak aman lagi. Gereja-gereja telah dibom dan diserang dan para jemaat dibunuh, rumah sakit diserang.
  
Secara gamblang kejahatan telah menyerang Rumah Tuhan dan menumpahkan darah di tanah suci, serta menyerang rumah sakit. Yang dulunya tidak terpikirkan, sekarang menjadi kenyataan dan menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta goyahnya iman. 
  
Jadi kita bisa merasa aman lagi saat kita datang ke gereja untuk berdoa dan beribadah. Akankah Tuhan melindungi kita dari kejahatan permusuhan, kekerasan dan terorisme? Apakah Tuhan tahu? Dan jika Dia tahu, mengapa Dia tidak melakukan apapun untuk menghentikan kejahatan ini dan mereka yang melakukannya?

Dalam Injil, kita mendengar sesuatu yang sangat mengganggu dan menjijikkan. Beberapa orang memberi tahu Yesus tentang orang Galilea yang dibunuh Pilatus, yang darahnya dicampur dengan darah korban mereka.

Tidak banyak detail tentang itu tetapi dapat dipastikan bahwa itu adalah ritual okultisme.

Tetapi Yesus tampaknya tidak membahas aspek kejahatan ini. Sebaliknya, Dia membahas aspek dosa. Dia berkata bahwa orang-orang Galilea yang terbunuh itu tidak lebih berdosa daripada orang-orang Galilea lainnya, begitu pula 18 orang yang terbunuh ketika menara Siloam runtuh menimpa mereka.  

Dan kemudian Yesus sampai pada intinya ketika Dia berkata: Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian.

Dan kita harus bingung. Jadi di sini kita memberi tahu Yesus tentang kejahatan permusuhan, kekerasan, dan terorisme yang merajalela ini, dan Dia memberi tahu kita bahwa kita harus bertobat.

Tentu ada dari kita akan protes. Yesus harus membuat orang-orang jahat itu bertobat, dan mungkin menyuruh kita untuk mengampuni mereka. Tetapi mengapa Dia menyuruh kita untuk bertobat?

Dan di sinilah kita harus kembali ke bacaan 1 dan 2 untuk memahami mengapa Yesus menyuruh kita untuk bertobat.

Bacaan pertama memberi tahu kita bahwa Tuhan melihat keadaan umat-Nya yang menyedihkan di Mesir. Dia menyadari penderitaan mereka dan Dia bermaksud melakukan sesuatu.

Jadi Dia memanggil Musa dan memberinya misi untuk membebaskan umat-Nya dari tangan orang Mesir dan membawa mereka ke Tanah Perjanjian.

Jadi Tuhan melihat, Tuhan mendengar, Tuhan tahu dan Tuhan akan bertindak. Dan Dia memberi tahu Musa bahwa orang-orang hanya perlu menyebut nama Tuhan Allah dan Dia akan datang membantu mereka dan membebaskan mereka dan menjadi Pelindung mereka.

Jadi semuanya baik-baik saja sampai bacaan kedua memberitahu kita bahwa meskipun Tuhan memimpin umat-Nya melalui padang pasir dan menyediakan makanan dan minuman bagi mereka saat mereka pergi, kebanyakan dari mereka gagal untuk menyenangkan Tuhan dan mayat mereka berserakan di padang pasir.

Bacaan ke-2 berlanjut: Hal-hal ini semua terjadi sebagai peringatan bagi kita, untuk tidak memiliki nafsu jahat untuk hal-hal terlarang yang mereka miliki.

Ini diakhiri dengan memberi kita peringatan ini: Sebab itu siapa yang menyangka bahwa dirinya teguh berdiri, hati-hatilah supaya jangan jatuh! 
  
Jadi apa yang Tuhan inginkan dari kita adalah ketaatan dan kesetiaan kita. Tetapi ketika kita berdosa, kita menciptakan celah bagi kejahatan untuk masuk ke dalam hidup kita dan dengan berbuat demikian, kita menjadi seperti orang-orang yang mengeluh dan kemudian binasa di padang gurun.
  
Dosa-dosa kita juga akan melemahkan iman Gereja dan ancaman kejahatan permusuhan, kekerasan dan terorisme menjadi lebih besar. Dapat diamati bahwa ketika iman Gereja semakin lemah, ancaman kejahatan terorisme menjadi lebih kuat.

Keselamatan kita tidak hanya dalam tindakan pengamanan yang ketat atau memiliki personel keamanan bersenjata lengkap. Keselamatan dan keamanan kita terletak pada ketaatan dan kesetiaan kita kepada Tuhan yang merupakan Pelindung dan Juru Selamat kita.

Dikatakan bahwa kejahatan hanya dapat berkembang ketika kebaikan tidak melakukan apa-apa. Dan kejahatan akan berkembang selama iman Gereja lemah.

Jadi marilah kita mengindahkan panggilan Yesus untuk bertobat. Marilah kita meninggalkan dosa-dosa kita, pergi untuk Pengakuan dosa, setia dan taat dan memanggil nama Tuhan untuk melindungi kita dan Tuhan akan melindungi kita dan menyelamatkan kita.   (RENUNGAN PAGI)
 
Renungan panjang dapat dibaca di lumenchristi.id klik tautan ini
 

Antifon Komuni (Bdk. Mzm 84:4-5)

Burung pipit telah mendapat rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya: pada mezbah-mezbah itu, ya Tuhan semesta alam, Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, untuk selama-lamanya mereka akan memuji Dikau.

Passer invenit sibi domum, et turtur nidum, ubi reponat pullos suos: altaria tua Domine virtutum, Rex meus, et Deus meus: beati qui habitant in domo tua, in saeculum saeculi laudabent te.