Nota Pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2009

Nota Pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2009 "KAUM MUDA MENGGUGAH DUNIA" sudah dapat dilihat, disimak di blog ini: http://notapastoralkas2009.blogspot.com/2009/02/nota-pastoral-keuskupan-agung-semarang.html

Photobucket

Senin, 02 Februari 2009

Senin, 02 Februari 2009
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Nubuat Maleakhi (3:1-4)

"Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya."


Beginilah firman Tuhan semesta alam, "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke bait-Nya. Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu sesungguhnya, Ia datang. Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada Tuhan. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala, dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah".
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.
Ayat (Mzm 24:7.8.9.10)

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat kepada orang Ibrani (2:14-18)

"Yesus harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya."

Saudara-saudara, orang-orang yang dipercayakan Allah kepada Yesus adalah anak-anak dari darah dan daging. Maka Yesus menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian, Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham. Itulah sebabnya dalam segala hal Yesus harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Agung yang menaruh belas kasihan, yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:22-40)

"Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu."

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yusuf membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah". Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel; Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya, untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, "Sekarang Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -- , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." Ada juga di situ seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakan-Nya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan 'Yesus dipersembahkan di Kenisah' hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Ketaatan dan kesetiaan pada tatanan atau aturan yang terkait dengan hidup dan tugas pengutusan merupakan penghayatan keutamaan yang mempesona dan memikat. Keluarga Kudus Nazaret taat dan setia pada hukum Taurat dimana anak laki-laki 'ketika genap waktu pentahiran' harus dipersembahkan kepada Allah; Yosep dan Maria mempersembahkan Yesus kepada Allah di kenisah. Kiranya para orangtua atau keluarga Kristen/Katolik dipanggil untuk meneladan Keluarga Kudus Nasaret dengan mempersembahkan anak-anak atau putera-puterinya kepada Allah baik secara liturgis maupun praksis. Yang penting dan utama kiranya secara praksis yaitu mendidik dan membina anak-anak sesuai dengan kehendak Allah sehingga anak-anak berbudi pekerti luhur dan tumbuh berkembang menjadi 'man or woman with/for others'. Jika orangtua berhasil mendidik dan membina anak-anak secara demikian itu kiranya pada waktunya, ketika orangtua menjadi tua dan kurang berdaya, orangtua dapat berkata seperti Simeon "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa" (Luk 2:29-31) alias dengan rela dan jiwa besar berani mengundurkan diri, memberi kesempatan kepada anak-anak, generasi muda untuk menjadi penerus apa yang telah dirintis dan dilakukannya. Orangtua, bapak-ibu hendaknya mempersembahkan diri besama-sama bagi pendidikan dan pendewasaan anak-anak, berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak yang terkasih Boros waktu dan tenaga merupakan bentuk kasih yang utama, tidak berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih berarti tidak mengasihi. Kami juga berharap di antara anak-anak anda kemudian ada yang siap sedia mempersembahkan diri hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster, dan orangtua juga rela dan berjiwa besar 'melepaskan' anaknya untuk memeluk panggilan tersebut.

- DARI BACAAN KEDUA,
Dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan diharapkan dapat "membebasakan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut". Banyak orang takut mati dan kemudian dengan berbagai cara melindungi diri dengan cara hidup dan cara bertindak yang tidak sehat, yang sebenarnya justru mempercepat kematian mereka. Kita semua dipanggil meneladan Dia dengan menjadi sama dengan mereka yang harus kita tolong dan selamatkan; dengan menjadi sama dengan mereka yang kita tolong kemudian kita bersama-sama membebaskan diri dari berbagai ketakutan yang tidak perlu. Orang takut sakit ada kemungkinan mudah jatuh sakit, orang takut mati ada kemungkinan lebih cepat mati, dst.., karena dari ketakutan tersebut pada umumnya orang lalu hidup ngawur, tidak mentaati aneka tatanan atau aturan untuk hidup sehat, segar bugar dan cerdas beriman alias suci. Penakut memang dengan mudah menjadi 'hamba-hamba kenikmatan duniawi' yang mematikan, maka hendaknya jangan takut menghadapi aneka macam tantangan dan hambatan kehidupan. Dari penakut memang ada dua kemungkinan, yaitu menutup/mengurung diri atau membuka diri atas berbagai bantuan dan pertolongan, dan tentu saja kami berharap jika kita takut hendaknya terbuka terhadap yang lain.

"Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!"Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!"Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" (Mzm 24:7-10)

Bacaan KS: RUAH
Renungan: I. Sumarya, SJ St-Andreas.Or.Id
Photobucket