Jumat, 27 Februari 2009

Jumat, 27 Februari 2009
Hari Jumat sesudah Rabu Abu
Hari Pantang



Doa Renungan
Tuhan, Allah kami, dalam masa Prapaskah empat puluh hari, Engkau selalu memberi kesempatan baru kepada kami untuk lebih maju dalam cinta kepada-Mudan kepada sesama kami. Tolonglah kami untuk hidup dalam Roh Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yesaya (58:1-9a)

"Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman."

1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: 3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? 6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
(Mzm 51:3-4.5-6ab.18-19)
1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.
2. Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
3. Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur. Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bait Pengantar Injil PS. 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:14-15)

"Mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."

14 Sekali peristiwa, datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

¡P Ketika sedang berpesta perkawinan atau menghadiri pesta perkawinan pada umumnya orang menghadirkan diri secantik atau setampan mungkin, antara lain memakai pakaian baru, perhiasan, bedak atau minyak wangi yang harum, dst.. Hidangan dalam pesta pun diusahakan sebaik mungkin sehingga semuanya dapat menikmati hidangan dengan ceria, gairah dan gembira. Namun dalam hidup sehari-hari mereka kiranya tidak senantiasa ceria, gariah atau gembira, tetapi sarat dengan aneka macam masalah yang dapat membuat orang mudah mengeluh, menggerutu atau marah-marah, yang berarti mereka berharap dipisahkan atau dijauhkan dari aneka macam masalah dan tantangan tersebut. Hidup dan bertindak setia pada panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban memang tidak akan terlepas dari aneka masalah dan tantangan. Ingatlah, sadarilah dan hayatilah bahwa masalah dan tantangan yang lahir dari kesetiaan adalah jalan keselamatan dan kebahagiaan sejati, maka hendaknya disikapi dan dihadapi juga dengan ceria, gairah dan gembira alias bersama dengan atau di dalam Tuhan. Bersama dengan atau di dalam Tuhan kita akan mampu mengatasi atau menghadapi aneka masalah dan tantangan yang lahir dari kesetiaan kita, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus, Guru dan Tuhan kita, yang rela menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan atau kebahagiaan kita semua. Dengan kata lain sebagaimana di dalam doa kita senantiasa mengawali dengan membuat ‘tanda salib’, maka hendaknya dalam menghadapi masalah dan tantangan buatlah ‘tanda salib’sambil berkata “Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus”. Demikian juga ketika anda merasa ingin marah, menegor atau mengritik orang lain awalilah dengan membuat ‘tanda salib’ agar apa yang akan anda lakukan dalam atau bersama dengan Tuhan. Bersama dengan atau dalam Tuhan memang senantiasa akan dalam keadaan ceria, gairah dan gembira, dan dengan demikian juga akan senantiasa memperoleh cara atau jalan untuk mengatasi dan menghadapi aneka masalah dan tantangan.

¡P “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes 58:6-7) Kutipan ini kiranya dapat menjadi renungan atau refleksi kita dalam menjalani puasa. (1) Dalam berpuasa pertama-tama kita dipanggil untuk ‘membuka aneka macam bentuk kejahatan’ serta memberantasnya. Kejahatan yang masih marak pada masa kini antara lain kebohongan, manipulasi dan korupsi. Kiranya panggilan ini pertama-tama dan terutama dihayati dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing, antara lain dengan membiasakan pada diri anak atau generasi muda untuk tidak berbohong, manipulasi atau korupsi, dan tentu saja perlu teladan dari orangtua atau orang dewasa. (2) Selain memberantas aneka kejahatan kita juga dipanggil untuk bertindak atau hidup sosial, tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman with/for others’. Kita dipanggil untuk memperhatikan dan solider pada mereka yang lapar atau telanjang alias mengalami kekurangan dalam hal kebutuhan pokok: makan dan minum serta perlindungan diri. Untuk itu kami mengajak anda sekalian untuk melihat dan memperhatikan saudara-saudari kita yang kiranya setiap hari kita lihat atau jumpai, terutama mereka yang ‘lapar dan telanjang’: mereka yang tinggal dan hidup dalam satu RT atau RW atau kelurahan, mereka yang bekerja dengan atau bersama kita, dst.. Jika kita mampu dan terbiasa solider terhadap mereka yang ‘lapar dan telanjang’ yang dekat dengan kita, maka untuk solider terhadap mereka yang jauh serta kurang atau tidak kita kenal akan dengan mudah kita laksanakan. Sebaliknya jika kita tidak solider pada yang dekat dengan kita, solider terhadap yang jauh rasanya adalah permainan sandiwara atau kebohongan.

[Ignatius Sumarya, SJ]


Photobucket