| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Minggu, 08 Maret 2009

Minggu, 08 Maret 2009
Hari Minggu Prapaskah II


Doa Renungan

Allah Bapa yang maha pengasih, Engkau memerintahkan kami mendengarkan Putera-Mu terkasih dan menyinari batin kami dengan sabda-mu. Murnikanlah kiranya hati kami, agar kami dengan gembira memandang kemuliaan-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Kejadian (22:1-2.9a.10)

"Kurban Bapa Abraham, leluhur kita."

Setelah Abraham mendapat anak, Ishak, maka Allah mencobai Abraham. Allah berfirman kepada Abraham, "Abraham." Abraham menyahut, "Ya Tuhan." Sabda Tuhan, "Ambillah anak tunggal kesayanganmu, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Maka sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham. Abraham lalu mengulurkan tangannya, dan mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat Tuhan dari langit, "Abraham, Abraham!" Sahut Abraham, "Ya Tuhan." Lalu Tuhan bersabda, "Jangan bunuh anak itu, dan jangan kauapa-apakan dia. Kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh, dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Diambilnya domba itu, dan dipersembahkannya sebagai kurban pengganti anaknya. Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat Tuhan dari langit kepada Abraham, kata-Nya, "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman Tuhan -- Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Melalui keturunanmulah segala bangsa di bumi akan mendapat berkat, sebab engkau mentaati sabda-Ku."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS. 855
Ref. Bawalah kurbanmu bagi Tuhan sembahlah Dia dalam istana yang kudus.
Ayat.
(Mzm 116:10.15.16-17.18-19)
1. Berbelas kasihlah Tuhan dan adil; Allah kami adalah rahim. Orang bersahaja dijaga-Nya, dan yang hina-dina diselamatkan-Nya.
2. Apa balas budiku kepada Tuhan; atas anugerah-Nya bagiku? Piala keselamatan akan kuangkat, dan nama Tuhan akan kuserukan.
3. Nadarku bagi Tuhan hendak kubayar; di hadapan seluruh umat-Nya. Kukurbankan pada-Mu kurban pujian, dan nama-Mu akan kuserukan.
4. Nadarku bagi Tuhan hendak kubayar; di hadapan seluruh umat-Nya. Di dalam pelataran rumah Tuhan, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (8:31-34)

"Allah tidak menyayangkan anaknya sendiri."  

31 Saudara-saudara, jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? 32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? 33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. Dari dalam awan terdengarlah suara Bapa "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:2-10)

"Inilah Anak-Ku terkasih."

2 Pada suatu hari Yesus berbicara tentang bagaimana Ia akan menderita sengsara. Sesudah itu Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, 3 dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. 4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.5 Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." 6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. 7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. 10 Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.
Injil dan bacaan kedua Minggu Prapaskah II/B 8 Maret 2009 (Mrk 9:2-10 & Rm 8:31a-34)

TERANG BATIN DAN HIKMAT
Rekan-rekan yang baik!

Dikisahkan dalam Mrk 9:2-10 yang dibacakan pada hari Minggu Prapaskah II tahun B bagaimana Yesus yang mengajak tiga orang muridnya, yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di sana mereka melihat sisi lain dari pribadi Yesus. Ia "berubah rupa dan pakaiannya pun bersinar putih berkilauan". Tampak juga kepada mereka Elia dan Musa yang sedang berbicara dengan Yesus. Petrus spontan ingin mendirikan tiga kemah bagi masing-masing. Saat itu juga terdengar suara yang menyatakan bahwa "Inilah AnakKu yang terkasih , dengarkanlah dia!" Ketika para murid "memandangi sekeliling", artinya sadar kembali masih menjejak bumi ini, hanya Yesus seorang dirilah yang mereka lihat. Apa arti peristiwa penampakan kemuliaan ini? Apa maksud larangan agar para murid tidak menceritakan penglihatan mereka sebelum "Anak Manusia" bangkit dari antara orang mati? (ay. 9-10)

Pada awal petikan disebutkan "enam hari kemudian". Markus bermaksud merangkaikan kejadian ini dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias (Mrk 8:29) dan pernyataan Yesus sendiri bahwa dirinya sepenuhnya hidup dan dibimbing Yang Maha Kuasa, juga dalam mengalami penderitaan. Inilah artinya Anak Manusia (8:31). Sebutan ini muncul kembali pada akhir petikan ini. Selang waktu enam hari dalam Injil Markus tidak usah diartikan sebagai 6 x 24 jam. Itu cara menyebut tenggang waktu yang cukup untuk menyadari pengalaman batin mengenai pernyataan-pernyataan tadi. Dalam petikan yang diperdengarkan hari ini, pengalaman tadi didalami lebih lanjut.

GUNUNG YANG TINGGI

Dalam Alkitab acap kali gunung yang tinggi digambarkan sebagai tempat orang bertemu dengan Yang Maha Kuasa dalam kebesaranNya. Di situ Ia menyatakan kehendakNya. Di puncak Sinai turunlah Sabda Tuhan kepada Musa; di sana juga Musa menerima loh batu , yakni Taurat, yang kemudian dibawakan kepada umat dan menjadi pegangan hidup mereka (Kel 24: 12-18). Juga nabi Elia berjalan 40 hari 40 malam sampai ke gunung Horeb dan di sana ia menerima penugasan dari Allah untuk menunjukkan kewibawaanNya kepada raja Israel (1Raj 19:8-18). Pembaca zaman itu akan segera menangkap motif berjumpa dengan Allah di gunung yang tinggi dengan penugasan khusus seperti terjadi pada Elia dan Musa. Tokoh-tokoh itu juga tampil dalam peristiwa kali ini.

Dalam petikan hari ini dikatakan Yesus membawa serta Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung. Apa artinya pengisahan ini? Mereka ini murid-murid paling dekat. Ketiga murid itu juga nanti jelas-jelas disebut Markus diajak Yesus menyertainya di taman Getsemani (Mrk 14:33, bdk. Mat 26:37). Mereka diperbolehkan menyelami batin Yesus, baik sisi kebesarannya, seperti kali ini, maupun sisi paling manusiawinya nanti di Getsemani. Yesus itu pribadi yang bisa dikenali dan membiarkan diri dikenali. Dan pengalaman ini betul-betul bisa ikut dialami. Sejauh mana mereka dapat memasukinya adalah soal lain. Yang penting ada orang-orang yang mengikutinya yang diajak berbagi pengalaman batin. Pengalaman batin yang mana?

BERUBAH RUPA

Di atas gunung itu Yesus "berubah rupa". Pakaiannya jadi putih berkilauan. Dalam cara bicara orang waktu itu, pakaian membuat sosok yang berpakaian itu dilihat dan dikenal. Jadi maksudnya, sosok Yesus dilihat sebagai penuh cahaya. Kerap gambaran ini ditafsirkan sebagai pernyataan kebesarannya. Dan memang benar. Namun ada latar yang dalam yang patut dikenali pula. Rumus berkat dalam Bil 6:25 dapat membantu kita mengerti kedalamannya. Ayat ini ialah salah satu dari tiga pasang berkat yang boleh diucapkan oleh imam Harun bagi umat (Bil 6:24-27). Bunyinya: "Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia". Sinar yang terpancar dari wajah Tuhan dijajarkan dengan kasih karunia yang diberikanNya. Dengan latar alam pikiran ini, bisa dipahami bila sosok Yesus menjadi terang bercahaya itu karena dipenuhi kasih karunia Yang Maha Kuasa. Sebentar kemudian juga terdengar suara dari awan-awan "Inilah AnakKu yang terkasih!" Pembaca zaman kini sebaiknya menyadari bahwa kita tidak diajak melihat peristiwa itu atau diajak membayang-bayangkannya. Yang disampaikan di situ ialah pengalaman batin ketiga murid terdekat tadi. Saat itu mereka melihat Yesus sebagai orang yang terberkati secara khusus, sebagai orang yang disinari terang wajah Yang Maha Kuasa, dan menerima kasih karuniaNya. Pengalaman inilah yang mereka bagikan kepada generasi selanjutnya lewat Injil. Karena itu, kita dapat ikut menikmati buahnya tanpa mendapat penampakan seperti itu sendiri. Pengalaman rohani dalam retret dan latihan rohani acap kali lebih baik dibahasakan sebagai menikmati buah hasil pengalaman para murid tadi daripada sebagai penglihatan mistik secara langsung.

Dalam Pengkhotbah 8:1 disebutkan, hikmat kebijaksanaan membuat wajah orang menjadi bersinar. Yesus ditampilkan Injil sebagai orang yang penuh dengan hikmat kebijaksanaan. Hikmat kebijaksanaan ialah ujud kehadiran ilahi yang nyata di tengah-tengah masyarakat manusia. Dikatakan juga dalam ayat kitab Pengkhotbah tadi bahwa sinar wajah berkat kebijaksanaan tadi mengubah "kekerasan wajah" orang. Dalam cara bicara Ibrani, wajah yang terang bersinar berlawanan bukan dengan wajah gelap dan sayu, melainkan dengan wajah penuh ungkapan kekerasan, kelaliman dan menakutkan. Dalam diri Yesus kini berdiamlah kebijaksanaan ilahi. Cahaya kasih karunia ilahi inilah yang akan menyingkirkan sisi-sisi kekerasan dari kemanusiaan. Inilah yang mulai disadari ketiga murid tadi.

SUARA DARI ATAS

Ketiga murid tadi juga melihat Elia dan Musa bercakap-cakap dengan Yesus. Markus tidak menyebutkan isi pembicaraan mereka. Juga Matius tidak merincikannya. Boleh jadi memang Markus bermaksud mengatakan isi pembicaraan itu bukan hal penting lagi. Yang lebih penting ialah mengalami bahwa Yesus itu seperti tokoh-tokoh besar yang akrab dengan Allah sendiri. Dari Injil Lukas diketahui sedikit tentang pembicaraan mereka. Musa dan Elia disebutkan berbicara dengan Yesus mengenai "tujuan perjalanan", Yunaninya "exodos"-nya, Yesus (Luk 9:31) yang kini sedang menuju Yerusalem. Di sanalah ia nanti membawa keluar kemanusiaan dari kungkungan keberdosaan menuju ke kehidupan baru. Tokoh-tokoh besar yang akrab dengan Allah itu kini menyertai perjalanan Yesus ke sana.

Bagaimanapun juga, reaksi Petrus yang dicatat ketiga Injil menunjukkan bahwa para murid tidak serta merta menangkap arti penglihatan tentang Elia dan Musa tadi. Petrus ingin mendirikan kemah bagi ketiga tokoh itu. Hikmat kebijaksanaan dan kasih karunia seolah-olah bisa dinikmati kehadirannya tanpa hubungan dengan umat manusia di luar sana. Ini malah cenderung membatasi ruang gerak kebijaksanaan.

Mereka mendengar suara dari atas yang menyatakan bahwa Yesus itu "AnakKu yang terkasih". Artinya, ia sedemikian dekat dengan Dia yang ada di atas sana dan mendapatkan semua dariNya. Pernyataan tadi diikuti dengan seruan untuk mendengarkannya. Ia dapat memperdengarkan kebijaksanaan ilahi karena hikmat telah memenuhi dirinya.

MENGENDAPKAN PENGALAMAN BATIN

Ketika keluar dari pengalaman batin yang kuat tadi, ketiga murid itu hanya mendapati Yesus seorang diri. Mereka kembali ke pengalaman sehari-hari. Tapi kali ini keadaannya berbeda. Mereka baru saja melihat bagaimana Yesus mendapat terang ilahi sepenuh-penuhnya. Namun demikian, pengalaman batin ini masih perlu mereka endapkan agar tidak tercampur baur dan malah membuat mereka lupa daratan. Dalam bahasa sekarang, masih butuh diintegrasikan dengan kehidupan yang nyata, bukan untuk dibangga-banggakan.

Karena itulah mereka dilarang menyiarkan apa yang mereka lihat di gunung tadi. Bukannya mereka diminta merahasiakannya. Mereka diharapkan menyadari artinya bagi kehidupan mereka sendiri terlebih dahulu. Dikatakan, larangan itu diberikan sampai Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati. Maksudnya, lebih dari sekedar menanti sampai waktu Paskah. Murid-murid diminta agar semakin menyadari siapa sebenarnya Yesus itu: dia yang nanti bangkit mengatasi maut, yang mendapat kasih karunia sedemikian penuh sehingga kematian nanti tak lagi menguasainya. Ia malah mendapatkan kehidupan baru bagi kemanusiaan.

Tidak usah orang zaman ini merasa terdorong melihat penampakan kebesaran Yesus seperti tiga murid tadi. Juga tidak semua murid Yesus waktu itu ikut melihatnya demikian. Bagian kita seperti bagian para pembaca Injil awal, yakni menyadari dan mengerti siapa Yesus itu lewat pengalaman batin ketiga murid tadi. Seperti mereka, baru bila kesadaran ini sudah menyatu dalam kehidupan, maka kita dapat merasa diperbolehkan menyiarkannya. Kita tidak diminta begitu saja menceritakan gebyarnya Yesus. Kita diajak menekuni siapa dia itu bagi kita dan bila sudah makin terang bagi kita sendiri, maka kita baru bisa membawakannya kepada orang lain. Yesus sendiri baru mulai memperkenalkan siapa Allah setelah ia dinyatakan sebagai Anak yang terkasihNya ketika dibaptis (Mrk 1:11 Mat 3:17 Luk 3:22) dan akan semakin membawakanNya ketika sekali lagi dinyatakan sebagai AnakNya yang terkasih dalam peristiwa di gunung kali ini (Mrk 9:7 Mat 17:5 Luk 9:35). Inilah teologi pewartaan yang disarankan dalam petikan Injil hari ini.

DARI BACAAN KEDUA (Rm 8:31a-34)

Dalam bagian suratnya kepada umat di Roma yang dibacakan kali ini, Paulus menegaskan bahwa orang yang percaya bakal dilindungi oleh Yang Mahakuasa sendiri tanpa hitung menghitung. Bahkan Ia rela mengorbankan orang yang paling dekat denganNya sendiri, "anakNya", demi membela kemanusiaan. Itulah pemahaman Paulus mengenai peristiwa penyaliban Yesus - dan juga kebangkitannya yang menjadi tanda bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.

Gambaran mengenai kebesaran serta kerelaan ilahi ini menggemakan kisah pengorbanan Abraham akan Ishak yang diperdengarkan dalam bacaan pertama (Kej 22:1-2; 9a,10-13, 15-18). Dalam kedua bacaan ini diketemukan kata serta gagasan "tidak menyayangkan" orang yang amat dekat dan dikasihi, lihat Kej 22:16 dan Rm 8:32. Dalam kitab Kejadian, kisah ini diceritakan bukan semata-mata untuk menampilkan keberanian serta iman Abraham melainkan terutama untuk menunjukkan betapa besarnya kesetiaan Allah sendiri pada janjiNya kepada Abraham. Paulus memahami peristiwa ini lebih dalam. Seperti Abraham yang tidak menyayangkan anaknya satu-satunya yang terkasih - Ishak - begitu pula Allah: Ia tidak menyayangkan Yesus, AnakNya, demi orang banyak. Inilah yang terpikir Paulus.

Tapi ada yang lebih. Dalam kisah Abraham, Ishak tidak jadi dikorbankan karena suruhan mengorbankan hanyalah batu ujian dan petunjuk mengenai kesetiaan. Yesus mati di salib. Ia korban sungguhan. Allah berani kehilangan orang yang paling dekat padaNya agar banyak orang melihat keberanianNya dan percaya. Orang yang membiarkan diri dibuat percaya bakal selamat, bakal tahan dicobai. Tak bakal terhukum karena yang bakal bisa menghukum, yakni Allah dan Kristus yang kini duduk di sisiNya justru telah mau mengorbankan diri agar manusia tak terhukum. Inilah teologi Paulus. Ini juga penjelasan mengapa ia mengajak agar orang menjadi percaya akan kebesaran ilahi.

Salam hangat,
A. Gianto







Photobucket

Sabtu, 07 Maret 2009

Sabtu, 07 Maret 2009
Hari Biasa Pekan I Prapaskah



Doa Renungan
Allah Bapa kami yang maha pengasih, kami Kauperkenankan menyapa Engkau bapa. Tiada orang dapat membanggakan diri terhadap-Mu dalam kesalehan dan jasa. Semuanya kami terima daripada-Mu, berkat kemurahan hati-Mu. Maka dengarkanah kami senantiasa, sebab kami hanya dapat bertahan, bila Kaubimbing dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Ulangan (26:16-19)

"Engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu."

16 Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berbicara kepada bangsanya: "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. 17 Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. 18 Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, 19 dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.
(Mzm 119:1-2.4-5.7-8)
1. Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
2. Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Kiranya hidupku mantap untuk berpegang pada ketetapan-Mu.
3. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu. Janganlah tinggalkan aku sama sekali.

Bait Pengantar Injil PS 966
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, sang Raja kemuliaan kekal
Ayat. Waktu ini adalah waktu perkenanan. Hari ini adalah hari penyelamatan.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:43-48)

"Haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya."


43 Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Rasanya kita semua memiliki ‘musuh’, yaitu apa-apa atau siapa saja yang tidak kita senangi, tidak sesuai dengan selera pribadi atau yang tidak berkenan di hati. Bahkan orang yang mengaku diri baik dan kaya sering dengan mudah memusuhi hujan atau panas matahari, antara lain dengan membeton tanah dan memanyunyi atau melindungi diri dari sinar matahari. Dampak dari orang yang suka memusuhi adalah mudah terserang aneka macam jenis penyakit. Yang paling banyak dimusuhi mungkin adalah makanan atau minuman, dimana banyak orang mudah memusuhi jenis makanan atau minuman tertentu padahal sehat dan menyelamatkan, sementara itu lebih suka makan dan minum sesusai selera pribadi atau lidah padahal tidak sehat. Dengan kata lain kebanyakan orang berpedoman pada ‘like and dislike’, suka atau tidak suka bukan benar atau salah, sehat atau tidak sehat. Jika kita menghendaki atau mendambakan hidup sehat, segar, damai dan sejahtera, marilah kita hayati sabda Yesus :” Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.. Hal yang sederhana dalam menghayati sabda ini adalah dalam hal makan dan minum, yang menjadi kebutuhan hidup kita: hendaknya makan dan minum apa yang sehat, bukan yang enak-enak saja, dan mungkin dapat berpedoman pada ‘empat sehat lima sempurna’. Selanjutnya adalah sapaan, sentuhan atau perlakuan dari saudara-saudari kita hendaknya tidak dibenci atau dimusuhi. Ingat dan hayati bahwa mereka menyapa, menyentuh atau memperlakukan dalam bentuk apapun adalah perwujudan atau ungkapan kasih mereka kepada kita, maka hendaknya ditanggapi dengan berkata “terima kasih”. “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di sorga adalah sempurna”, demikian sabda Yesus. Bapa di sorga tidak pernah membenci atau memusuhi kita, maka berusaha menjadi sempurna berarti tidak memusuhi apapun dan siapapun yang diciptakan oleh Allah melalui kerjasama dengan manusia, ciptaan yang terluhur di dunia ini.

- Dari bacaan kedua: Marilah kita mengawali hari ini dengan mengarahkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita kepada Allah dan kemudian mengisi hari ini dengan menghayati kehendak Allah, ketetapan dan peraturan Allah, yang antara lain diterjemahkan ke dalam aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita atau janji-janji yang pernah kita ikrarkan atau persembahkan kepada Tuhan Allah. Sebagai orang yang telah dibaptis kita pernah berjanji untuk “hanya mengabadi Tuhan Allah saja serta menolak aneka macam godaan setan”. Godaan atau rayuan setan setiap saat kita hadapi antara lain ajakan untuk mencari keenakan atau kenikmatan diri sendiri, entah dalam hal makanan, minuman, tugas, cara hidup atau cara bertindak. Rangsangan untuk berbuat jahat atau melakukan godaan setan ada dimana-mana dan kapan saja. Sebalikinya kami berharap agar kita hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga tidak merangsang orang lain untuk berbuat jahat atau melakukan dosa, dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita merupakan perwujudan pengabdian kita kepada Tuhan Allah. Maka cara berkata, bertindak, berpakaian atau menghadirkan diri hendaknya menghormati orang lain agar semakin memuji, menghotmati dan mengabdi Tuhan Allah melalui sesamanya. Jauhkan cara menghadirkan diri yang membuat orang terangsang untuk berbuat dosa atau jahat.


[Ignatius Sumarya, SJ]



Photobucket

Jumat, 06 Maret 2009

Jumat, 06 Maret 2009
Hari Biasa Pekan I Prapaskah


Doa Renungan
Allah Bapa yang mahapenyayang, Engkau tidak tampak namun Engkau dekat sekali dengan kami dalam diri Yesus, Putra Manusia. Berilah kami kepercayaan mantap pada suara panggilan-Mu, agar kami dapat hidup rukun dan damai dengan sesama kami, putra dan putri-Mu se Bapa. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yehezikel (18:21-28)

"Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup?"

21 Beginilah Tuhan Allah berfirman, "Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. 22 Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. 23 Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?24 Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik--apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya.25 Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? 26 Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.27 Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. 28 Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Ayat.
(Mzm 130:1-2.3-4.5-7a.7bc-8)
1. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. 2. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang takwa kepada-Mu.
3. Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi. Lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, berharaplah pada Tuhan, hai Israel!
4. Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan, Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. Buanglah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, sabda Tuhan, dan perbaharuilah hati serta rohmu.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:20-26)

"Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu."

20 Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Kekayaan atau pengalaman yang paling banyak dimiliki atau dialami oleh kita semua rasanya adalah ‘marah’. ‘Marah’ yang pada umumnya berupa kata-kata pedas dan tidak enak didengar berada dalam tingkat tengah dari rangkaian dan perkembangan: mengeluh-> menggerutu -> ngrumpi/ngrasani-> marah -> memukul/menyakiti secara phisik -> membunuh. Bukankah kebanyakan dari kita sering mengeluh atau menggerutu? Mengeluh atau menggerutu hemat saya berarti menghendaki apa yang membuatnya mengeluh atau menggerutu tidak ada alias dimusnahkan atau disingkirkan. Maka benarlah sabda Yesus bahwa ‘setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum’. Orang marah telah terhukum dengan sendirinya tanpa harus dihukum oleh orang lain. Hukuman itu antara lain: mereka kehilangan tenaga dan waktu sia-sia, semakin berkurang sahabat atau temannya, mudah terserang oleh aneka bentuk penyakit, senanitiasa merasa tak bahagia, dst.. Maka baiklah di masa Prapaskah atau Retret Agung Umat ini kita mawas diri perihal ‘marah’. Apa yang sering membuat marah adalah perbedaan-perbedaan, entah beda selera, rasa, pendapat, pikiran, SARA, usia, pengalaman dst… Ingat, sadari dan hayati bahwa sekian banyak manusia di dunia ini berbeda satu sama lain. Apa yang berbeda diciptakan dan dikehendaki oleh Tuhan Allah. Rasanya jika kita jujur mawas diri akan melihat bahwa apa yang berbeda itu saling tertarik atau memiliki dorongan untuk saling mengenal dan mendekat, misalnya laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain apa yang berbeda adalah menjadi daya tarik dan daya pikat untuk saling mendekat dan mengasihi, bukan untuk saling memusuhi dan memarahi. Maka marilah kita sikapi dan hadapi aneka perbedaan yang ada sebagai daya tarik dan daya pikat untuk saling mendekat dan mengasihi, agar kita tidak terhukum, sengsara atau menderita, melainkan selamat, damai dan sejahtera.

- “Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya” (Yeh 18:21-22). Apa yang adil dan benar antara lain bahwa manusia diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambar atau citraNya, sehingga di dalam setiap manusia Allah hidup dan berkarya. Maka marah terhadap saudara berarti membenci Allah alias durhaka. Marilah kita melakukan keadilan dan kebenaran antara lain dengan memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan Allah melalui sesama dan saudara-saudari kita, dengan kata lain kita saling memuji, menghormati dan mengabdi atau melayani. Hendaknya kita tidak mengingat-ingat kesalahan dan kekurangan saudara-saudari kita, sebagaimana Tuhan Allah telah memperlakukan kita orang yang lemah dan berdosa ini. Pujian, hormat dan pengabdian sekecil apapun kepada saudara-saudari kita pasti akan membuat mereka melupakan segala kesalahan dan kekurangan kita. Agar kita tidak terdorong atau termotivasi untuk memarahi saudara-saudari kita, marilah kita lihat dan akui atau imani kebaikan dan keutamaan-keutamaan yang hidup dan dihayati oleh saudara-saudari kita. Percayalah bahwa dalam diri kita atau saudara-saudari kita apa yang baik dan utama/luhur lebih banyak daripada apa yang jelek dan tak terhormat. Marilah kita kembangkan dan perdalam ‘budaya kehidupan’ dalam hidup bersama dengan saling memuji, menghormati dan mengabdi atau melayani.


[Ignatius Sumarya, SJ]
Photobucket

Kamis, 05 Maret 2009

Kamis, 05 Maret 2009
Hari Biasa Pekan I Prapaskah



Doa Renungan Pagi

Ya Bapa, Engkaulah sumber kehidupan dan penghiburan kami. Hari ini Putera-Mu mengajar kami tentang kebaikan. Bapa yang jahat saja tahu memberi yang baik kepada anak-anaknya apalagi Bapa yang di Surga. Ya Bapa, hari ini aku mohon padamu, berilah aku kebijaksanaan agar dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Berilah juga keselamatan agar hari ini dapat kulalui dengan baik. Doa ini kami mohon dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Ester (4:10a.10c-12.17-19)

"Padaku tidak ada seorang penolong selain Engkau, ya Tuhan."

Di kala bahaya mau menyerang, Ratu Ester pun berlindung pada Tuhan. Ia memohon kepada Tuhan, Allah Israel, katanya, "Ya Tuhan, Raja kami, Engkaulah yang tunggal. Tolonglah aku yang seorang diri ini. Padaku tidak ada seorang penolong selain Engkau, sebab bahaya maut mendekati diriku. Sejak masa kecilku telah kudengar dalam keluarga bapaku bahwa Engkau, ya Tuhan, telah memilih Israel dari antara sekalian bangsa, dan nenek moyang kami telah Kaupilih dari antara sekalian leluhurnya, supaya mereka menjadi milik abadi bagi-Mu; dan telah Kaulaksanakan bagi mereka apa yang telah Kaujanjikan. Ingatlah, ya Tuhan, dan sudilah menampakkan diri-Mu di waktu kesesakan kami. Berikanlah kepadaku keberanian, ya Raja para allah dan Penguasa sekalian kuasa! Taruhlah perkataan sedap di dalam mulutku terhadap singa itu, dan ubahlah hatinya sehingga menjadi benci kepada orang-orang yang memerangi kami, supaya orang itu serta semua yang sehaluan dengannya menemui ajalnya. Tetapi selamatkanlah kami ini dengan tangan-Mu, dan tolonglah aku yang seorang diri ini, yang tidak mempunyai seorang pun selain Engkau, ya Tuhan."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Pada hari aku berseru, Engkau menjawab aku, ya Tuhan.
Ayat.
(Mzm 138:1-2a,2bc-3,7c-8)
1. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hati, di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus.
2. Aku memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu, sebab Kaubuat nama-Mu, dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
3. Tuhan, tangan kanan-Mu menyelamatkan daku, Engkau akan menyelesaikan segalanya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi, janganlah Kautinggalkan buatan tangan-Mu!

Bait Pengantar Injil PS. 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:7-12)


"Setiap orang yang meminta akan menerima."

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu akan dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Orangtua atau bapak-ibu pasti akan memberikan apa yang baik kepada anak-anaknya serta tidak akan mencelakakan anak-anaknya. Kita, manusia, adalah ciptaan Allah, dan Allah menghendaki agar hidup kita di dunia ini bahagia, selamat dan sejahtera serta kelak ketika dipanggil Tuhan/meninggal dunia hidup mulia kembali bersama Allah di sorga. Agar apa yang menjadi kehendak Allah ini menjadi nyata atau terwujud kepada kita dianugerahi aneka kemampuan dan keterampilan untuk mengusahakannya, maka selain harus bekerja keras kiranya kita juga sering berdoa, ‘ora et labora’. Hanya mengandalkan kemampuan manusia belaka kiranya apa yang menjadi kehendak Allah akan sulit terlaksana, maka kita tidak boleh meninggalkan atau mengabaikan hidup doa. Berdoa berarti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah dan mungkin juga disertai ungkapan isi hati berupa permohonan, syukur atau pujian kepadaNya. Yang perlu kita perhatikan kiranya isi permohonan dalam berdoa: hendaknya mohon kepada Allah ‘apa yang baik’ dan apa yang disebut baik senantiasa berlaku umum atau universal, maka hendaknya jangan hanya mohon demi kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri. Di dalam doa umat dalam Perayaan Ekaristi, sebagaimana tertulis dalam buku liturgi, dapat kita lihat ada 4 (empat) isi doa, yaitu: berdoa bagi para pemimpin Negara atau bangsa serta masyarakat, bagi para pimimpin agama/Gereja, bagi mereka yang miskin dan berkekarangan dan bagi diri kita sendiri. Apa yang dimohon dalam doa-doa tersebut adalah demi keselamatam dan kebahagiaan umum, maka hendaknya jika kita berdoa juga mohon bagi 4 (empat) kepentingan tersebut. Kita mohon agar para pemimpin masyarakat maupun agama senantiasa mengusahakan keselamatan dan kebahagiaan rakyat atau umatnya, mohon agar mereka yang miskin dan berkekurangan memperoleh perhatian yang memadai dan baru mohon bagi kepentingan diri kita sendiri.

- "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja.” (Est 4:11). Emas merupakan logam termulia, ketika dibakar tidak musnah melainkan semakin murni dan sejati. “Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup”, kata-kata ini kiranya merupakan symbol bahwa siapapun yang menerima anugerah atau rahmat Allah pasti akan hidup selama-lamanya. Apa yang disebut ‘menerima’ hemat saya tidak hanya pasif atau menunggu saja, melainkan kreatif dan proaktif dengan membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh alias ‘mendengarkan dengan sepenuh hati’. Sikap inilah yang dibutuhkan dalam berdoa, dimana pertama-tama dan terutama orang menghadirkan diri sepenuhnya di hadirat llahi/Allah dengan sikap penyerahan diri. Memang untuk itu perlu persiapan yang baik dan memadai. Dalam bahasa Latihan Rohani St.Ignatius Loyola hal ini disebut ‘compositio loci’ Compositio antara lain berarti berarti menyusun, maka mengawali doa kita diharapkan menempatkan diri dalam susunan lingkungan di mana kita berada, fungsi kita masing-masing di dalam lingkungan hidup. Kita menyadari dan menghayati kehadiran Allah di dalam lingkungan hidup kita dan kemudian mendengarkan apa kehendak Allah bagi kita dalam lingkungan hidup tersebut. “Deus semper maior es” = Tuhan Allah senantiasa lebih besar dari segalanya, maka ketika kita dapat mendengarkan kehendak Tuhan Allah pasti akan dipengaruhiNya, dan mau tidak mau harus melaksanakan kehendakNya, yaitu hidup dan bertndak demi keselamatan jiwa saya sendiri maupun sesama manusia.


[Ignatius Sumarya, SJ]

Photobucket

Rabu, 04 Maret 2009

Rabu, 04 Maret 2009
Hari Biasa Pekan I Prapaskah


Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu --- Rm 10:8

Doa Renungan

Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau mengutus Putera-Mu ke dunia agar kami percaya dan memperoleh keselamatan supaya tidak binasa..Kami mohon ampun sebab kami sering kurang percaya dan menuntut suatu tanda, menuntut bukti dari-Mu. Ajarlah kami Bapa seperti orang-orang Niniwe yang mau percaya dan bertobat kepada-Mu. Semoga di masa prapaskah ini kami semakin tekun mendekatkan diri kepada-Mu dan tambahkanlah iman kami ya Bapa. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Nubuat Yunus (3:1-10)

"Penduduk Niniwe berbalik dari tingkah lakunya yang jahat."

Tuhan berfirman kepada Yunus, "Bangunlah dan berangkatlah ke Niniwe, kota besar itu. Sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." Maka bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru, "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan." Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah kabar sampai pada raja kota Niniwe, turunlah raja dari singgasananya; ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di atas abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian, "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah; dan haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal, serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa." Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah atas malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka; dan Ia pun tidak jadi melakukannya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
Ayat.
(Mzm 51:3-4.12-13.18-19)
1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
2. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
3. Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; dan kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahan kepada-Mu ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk-redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bait Pengantar Injil PS. 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Sekarang juga, demikian firman Allah, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, sebab Aku ini pengasih dan penyayang.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:29-32)


"Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus."

Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia, "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini. Pada waktu penghakiman ratu dari Selatan akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan akan menghukum mereka: Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Yunus!"
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Penjahat pada umum peka terhadap lingkungan hidup dimana ia hendak berbuat jahat, namun kiranya mereka buta terhadap aneka macam sentuhan, bisikan atau sapaan untuk berbuat baik atau hal-hal yang bersifat spiritual atau berbudi pekerti luhur. “Orang-orang Ninive bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih besar dari pada Yunus”, demikian sabda Yesus.

Dalam tatanan atau aturan moral ada tiga tingkatan: sopan santun -> hukum -> moral , sedangkan dalam psiko-religius juga ada tiga tingkatan atau taraf: psiko-phisik -> psiko-sosial -> psiko spiritual rational.

Orientasi hidup dan cara bertindak kebanyakan orang kiranya berada dalam tatanan hukum dan taraf psiko-sosial; dalam tingkat atau taraf hidup ini orang dapat berkembang naik ke tingkat atau taraf moral atau psiko-spiritual rational , tetapi juga dapat turun ke tingkat atau taraf sopan santun atau psiko-phisik Sebagai orang beriman kita diharapkan tumbuh berkembang dalam hal hidup dan bertindak ke taraf moral atau psiko-spiritual rational, peka terhadap kehendak Tuhan atau bisikan Roh Kudus yang antara lain menggejala dalam mereka yang berkehendak baik serta berbudi pekerti luhur, antara lain dalam bentuk keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) .Maka marilah kita membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita terhadap aneka penghayatan keutamaan dalam diri saudara-saudari kita, dan kemudian meneladan atau mengikutinya agar kita tidak menjadi ‘angkatan yang jahat’. Hemat saya keutmaan-keutamaan tersebut dihayati oleh saudara-saudari kita semua, tanpa pandang bulu atau SARA, usia, jabatan atau kedudukan.

- “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.” (Yun 3:10). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang masih berbuat jahat dalam bentuk apapun. Aneka malapetaka atau bencana seperti banjir, tanah longsor dst..yang sering terjadi pada masa kini kiranya antara lain disebabkan oleh cara hidup atau cara bertindak para penjahat atau orang-orang serakah yang cara hidup dan cara bertindaknya berorientasi pada hal-hal phisik atau harta benda atau uang alias materialistis. Para pengusaha dengan mengandalkan dana atau uang serta backing dari pejabat tertentu melakukan pembabatan hutan, pengeringan lahan sawah menjadi perumbahan, situs-situs penampungan air menjadi gedung berbeton, pengambilan air tanah tanpa aturan atau tanpa batas dst..hemat saya merupakan bentuk kejahatan structural. Kolusi pada para pejabat di badan publik dengan para pengusuha atau bisnis juga merupakan bentuk kejahatan structural. Kejahatan struktural rasanya lebih sulit untuk didobrak atau ditobatkan daripada kejahatan pribadi Mereka yang sering dseibut penjahat seperti pencopet, pendong, pencuri dst.. hemat saya bertindak demikian karena kejahatan struktural yang terjadi; mereka pada dasarnya adalah orang-orang baik dan harus berbuat jahat karena terpaksa harus mempertahankan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan dan tiada yang memberi kesempatan dan kemungkinan untuk bekerja sebagaimana mestinya. Mereka adalah korban-korban keserakahan sementara orang. Sekali lagi kami berharap semoga para penjahat bertobat dan rasanya harus disponsori dan dimulai oleh para penjahat struktural serta menghindarkan atau memberantas aneka macam bentuk keserakahan atau mencari keuntungan diri sendiri maupun kelompok atau golongannya.


[Ignatius Sumarya, SJ]

Ya Tuhan, dampingi dan bantulah aku agar tutur kata dan cara bertindakku senantiasa mengutamakan keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan jiwaku. Amin.




Photobucket

Selasa, 03 Maret 2009

Selasa, 03 Maret 2009
Hari Biasa Pekan I Prapaskah

Doa Renungan Pagi

Allah Bapa, Engkaulah sumber kehidupan dan keselamatanku. Aku bersyukur kepada-Mu atas perlindungan yang Kauberikan sepanjang malam yang telah lalu. Bantulah aku agar senantiasa berdoa dalam nama-Mu. Cukupkanlah aku, dengan kebutuhan jasmani dan rohani, serta lepaskanlah dari segala marabahaya. Semoga hari ini aku dapat membawa kasih kepada sesama serta mengampuni orang-orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yesaya (55:10-11)

"Firman-Ku akan melaksanakan apa yang Kukehendaki."

Beginilah firman Tuhan, "Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih pada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.
Ayat. (Mzm 34:4-5.6-7.16-17.18-19)
1. Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.
2. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan: Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.
3. Mata Tuhan tertuju pada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka yang minta tolong; wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.
4. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan: dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:7-15)


"Yesus mengajar murid-murid-Nya berdoa."

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doa mereka dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta pada-Nya. Karena itu berdoalah begini: "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami atas kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. Amin." Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Entah sudah berapa kali kita telah mendoakan atau menyanyikan doa “Bapa Kami”, namun jika kita jujur untuk mawas diri kiranya cara hidup atau cara bertindak kita masih jauh dari isi doa tersebut. Isi doa tersebut padat dan sederhana, maka baiklah dalam masa Prapaskah ini kita renungkan doa tersebut. Kiranya yang layak dan up to date untuk kita renungkan adalah “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” , mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka bentuk balas dendam, kerusuhan atau tawuran di sana-sini. Jika kita jujur dalam mawas diri kiranya masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan melalui sesama dan saudara-saudari kita, tetapi benarkah “kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”?. “Menginjak kaki orang lain enak saja tetapi ketika kakinya disenggol orang lain marah besar”, begitulah yang sering terjadi. Mengampuni mereka yang bersalah atau melukai kita kiranya dapat kita lakukan dengan sederhana yaitu tidak balas dendam dan diam saja, atau berkata “terima kasih” ketika kita dilukai atau disalahi orang lain. Dan tentu saja juga tidak mengingat-ingat kesalahan atau kekurangan orang lain, sebagaimana Tuhan juga tidak pernah mengingat-ingat kesalahan dan dosa-dosa kita. Sekiranya anda termotivasi atau terdorong ingin marah atau balas dendam terhdap mereka yang melukai atau menyalahi kita, baiklah kita hayati nasihat ini terlebih dulu: “Ngombeyo banyu nanging ojo diulu” (=Silahkan minum air terlebih dahulu tetapi jangan ditelan) atau bagi kita yang beriman pada Yesus Kristus silahkan membuat tanda salib sambil berkata “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.

- Dari bacaan kedua, marilah kita renungkan atau refleksikan peringatan dari nabi Yesaya ini. Secara konkret kami mengajak kita semua untuk dengan kehendak kuat dan hati rela berkorban ‘mengampuni mereka yang menyalahi atau melukai kita’. Marilah dengan motto bapak Andrie Wongso ini kita berusaha mengampuni mereka yang menyalahi atau melukai kita “Besi batangan pun jika digosok terus menerus akan menadi jarum yang tajam, maka milikilah keteguhan hati”. Jika kita memiliki keteguhan hati untuk mengampuni kiranya apa yang kita kehendaki pasti terjadi, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya “FirmanKu yang keluar dari mulutKu tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan keapdanya”. Kata-kata yang keluar dari mulut kita hendaknya lembut, sopan dan rendah hati alias dijiwai oleh cintakasih jika kita menghendaki atau mendambakan apa yang kita katakan terlaksana atau terwujud. Cintakasih mengatasi dan mendasari segala sesuatu, maka apa yang dikatakan dalam cintakasih dapat mengalahkan aneka godaan atau rayuan untuk marah dan balas dendam, karena memiliki daya besar untuk mengampuni dan memberdayakan. Gunakan ‘ketopong atau tutup kepala keselamatan’ alias apa yang ada di otak kita adalah keselamatan, agar apa yang akan kita lakukan atau katakan menyelamatkan dan membahagiakan orang lain.


[Ignatius Sumarya, SJ]
Photobucket

Senin, 02 Maret 2009

Senin, 02 Maret 2009
Hari Biasa Pekan I Prapaskah


Doa Renungan Pagi
Allah Bapa yang mahabaik, dalam diri setiap makhluk, Engkau hadir dan berkarya. Engkau menghendaki setiap pengikut-Mu untuk membuka mata hati terhadap penderitaan sesama. Semoga pada hari ini, kami menjalankan sabda-Mu dengan menolong sesama yang miskin dan menderita. Doronglah kami untuk tidak memalingkan muka terhadap penderitaan di sekitar kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Imamat (19:1-2.11-18)

"Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran."

Tuhan berfirman kepada Musa, "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel, dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya. Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia, dan janganlah merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Janganlah kaukutuki orang tuli, dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan; engkau harus takut akan Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah membela orang kecil secara tidak wajar, dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian kemari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hati, tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu, dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 853
Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.
Ayat.
(Mzm 19:8.9.10.15)
1. Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
2. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati, perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
3. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
4. Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku dan berkenan akan renungan hatiku, ya Tuhan, Gunung Batu dan Penebusku.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Waktu ini adalah waktu perkenanan, hari ini adalah hari penyelamatan!

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (25:31-46)

"Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan dan semua malaikat datang bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing; Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya, dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Maka Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ni, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

¡P Ibu Teresa dari Calcuta pernah berkata: “Dalam kehidupan ini kita tidak dapat melakukan sesuatu hal yang besar, kita hanya bisa lakukan pekerjaan kecil dengan cinta yang besar”. Apa yang dikatakan ini hemat saya merupakan kebenaran yang tak dapat disangkal: bukankah apa yang kita lakukan setiap hari adalah pekerjaan kecil-kecil atau hal-hal kecil dari bagian sesuatu yang besar? Sabda hari ini mengajak kita untuk tidak hanya melakukan pekerjaan kecil tetapi juga memperhatikan mereka yang kecil dan berkekurangan, yaitu mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, sakit atau terpenjara. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. Marilah kita perhatikan mereka yang paling hina di dalam keluarga kita, tempat kerja kita, masyarakat dan bangsa kita. Di dunia ini kiranya mereka yang hina atau miskin lebih sedikit daripada yang terhormat, sejahtera dan berkecukupan, misalnya di Indonesia mereka yang berada di bawah garis kemiskinan kurang lebih 35% , yang berarti yang berada di atas garis kemiskinan kurang lebih 65%. Dengan kata lain jika satu atau dua orang sejahtera dan berkecukupan memperhatikan satu orang yang hina dan miskin kiranya damai sejahtera akan menjadi nyata atau terwujud di dunia, di bumi ini. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus marilah kita imani “bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Aneka macam bentuk kekayaan yang kita miliki dan kuasai saat ini merupakan anugerah Tuhan yang kita terima melalui kebaikan sesama dan saudara-saudari kita, maka marilah kita fungsikan demi kesejahteraan semua orang.

¡P “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan berdusta seorang kepada sesamanya, bersumpah dusta demi nama-Ku, memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya, kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran, pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia, membenci saudaramu di dalam hatimu,” (Im 19:11-17). Kutipan di atas ini kiranya merupakan perintah moral atau etis yang harus kita laksanakan atau hayati bersama-sama. Sekiranya kita masih melakukan apa yang dilarang tersebut, marilah bertobat, sebaliknya jika ada sesama atau saudara-saudari kita yang melakukan apa yang dilarang tersebut hendaknya dibetulkan dengan cintakasih dan rendah hati. Marilah kita saling mengingatkan dan membantu di masa Prapaskah ini dalam mengusahakan agar masing-masing dari kita dapat menghayati atau melaksanakan peringatan-peringatan moral di atas, sehingga damai sejahtera dan kebahagiaan dapat kita niikmati bersama. Kepada mereka yang masih melakukan kejahatan sebagaimana diingatkan di atas kami ajak untuk bertobat, meninggalkan tindakan yang menghancurkan kehidupan bersama tersebut.


Photobucket

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy