Selasa, 12 Mei 2009, Hari Biasa Pekan V Paskah

Selasa, 12 Mei 2009
Hari Biasa Pekan V Paskah

“Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh 14:27)


Doa Renungan
Allah Bapa yang mahapengasih dan penyayang, betapa indah hidup di dalam kedamaian yang berasal daripada-Mu sendiri. Kami percaya, Engkau akan menuntun kami agar bersatu dan bersekutu dengan-Mu. Kekuatan-Mu sendiri yang membuat kami mampu menjalani hidup ini. Hidup yang terarah bagi kemuliaan-Mu dan menjadi santapan yang menguatkan kami sampai akhir zaman. Bersihkanlah hati kami dengan sabda penyembuhan-Mu dan jadikanlah kami orang-orang yang cinta kebenaran dan kedamaian. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kisah Para Rasul (14:19-28)


"Mereka menceritakan kepada jemaat, segala sesuatu yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka."

19 Waktu Paulus dan Barnabas di kota Listra datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati. 20 Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe. 21 Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. 22 Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. 23 Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka. 24 Mereka menjelajah seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. 25 Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia, di pantai. 26 Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan. 27 Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. 28 Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Orang-orang yang Kaukasihi, ya Tuhan, mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu.
Ayat.
(Mzm 145:10-11.12-13ab.21)
1. Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.
2. Mereka memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia. Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan.
3. Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (14:27-31a)


"Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu."

27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. 28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. 29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. 30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku. 31 Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kiranya banyak orang merasa hidup damai sejahtera jika memiliki kekayaan, harta benda atau uang banyak atau melimpah ruah, mempunyai kekayaan untuk menjamin tujuh turunan. Dengan kata lain semangat materialistis atau duniawi begitu merasuki banyak orang. Padahal jika dicermati semakin kaya seseorang akan merasa tidak aman, buktinya: aneka bentuk pengamanan, entah satpam yang seram, anjing galak, pagar kuat dan kunci handal dipasang untuk mengamankan kekayaannya, bahkan yang bersangkutan kemanapun pergi minta dikawal oleh pengawal yang kuat dan handal. Contoh konkret adalah krisis financial yang melanda dunia pada saat ini, dimana orang kaya menjadi stress atau stroke karena harta kekayaannya berkurang banyak.

“Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”, demikian sabda Yesus. Damai sejahtera sejati ada di hati dan jiwa, bukan di otak atau tubuh atau harta benda. Damai di hati dan jiwa akan tegar dan tak mudah hancur oleh aneka tantangan dan masalah, bahkan semakin dikuatkan dan diteguhkan ketika menghadapi masalah atau tantangan. Maka marilah kita usahakan damai sejahtera di hati dan di jiwa, kita utamakan keselamatan jiwa dalam segala upaya dan sepak terjang atau kesibukan kita. Dalam hal ini saya sangat terkesan pada kesaksian salah seorang umat di Situbondo ketika terjadi pembakaran gedung sekolah dan gereja beberapa tahun lalu, antara lain ia berkata :” Gedung gereja dan sekolah dibakar, dan hatikupun terbakar untuk mencinta”.

Kami berharap kepada semua umat beriman tidak jatuh seperti beberapa caleg yang tak terpilih dalam pemilu DPR/DPRD yang lalu, dimana hidup dan berjuang dengan mengandalkan hartanya, dan ketika hartanya habis menjadi sinthing atau gila.


· “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22) , demikian berita perihal apa yang dilakukan Paulus dan Barnabas, rasul. “Jer basuki mowo beyo” = Untuk hidup mulia, damai sejahtera orang harus berani berjuang dan berkorban, demikian kata pepatah Jawa yang rasanya senada dengan apa yang dinasihatkan oleh Paulus dan Barnabas.

Marilah kita bertekun dalam beriman meskipun untuk itu harus mengalami banyak penderitaan, menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua baik yang sedang belajar atau bekerja, hendaknya sungguh belajar dan bekerja secara efisien, efektif dan afektif. Memang untuk itu kita harus ‘bekerja keras’ dan ‘berani memikul resiko’. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu….berani memikul resiko adalah sikap dan perilaku yang sampai batas-batas tertentu tidak takut menghadapi apa pun untuk mempertahankan ketetapan yang telah dipilihnya” (Prof De Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Jika kita berani menghayati dua keutamaan budi pekerti ini kiranya bagi yang sedang belajar akan semakin terampil dan mahir belajar, sedangkan yang sedang bekerja akan semakin terampil dan mahir bekerja, sehingga orang dapat menghayati perintah Allah “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28), berbudaya kehidupan yang menyelamatkan jiwa manusia, mengusahakan damai sejahtera sejati yang dianugerahkan oleh Allah.





Ignatius Sumarya, SJ

Photobucket