Rabu, 03 Juni 2009, Pw. St. Carolus Lwanga dkk, Martir

Rabu, 03 Juni 2009
Pw. St. Carolus Lwanga dkk, Martir

"Ia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup"


Doa Renungan Pagi

Bapa, sabda-Mu adalah pelita dan terang bagi jalan kami. Kami bersyukur karena rahmat penyertaan-Mu dalam setiap perjalanan hidup kami. Biarlah Sabda-Mu yang adalah terang ini, selalu kami ingat, sehingga apa pun peristiwa yang kami alami hari ini, kami tahu bahwa Engkau selalu menyertai kami. Amin.


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (3:1-11a,16-17a)

"Permohonan Tobit dan Sara di hadapan kemuliaan Allah dikabulkan."


Pada waktu itu Tobit bersedih hati, mengeluh dan menangis. Dengan keluh kesah ia berdoa begini, "Engkau adil, ya Tuhan, dan adillah semua perbuatan-Mu. Segala tindakan-Mu penuh belas kasih dan kebenaran. Engkaulah hakim atas dunia semesta. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah akan daku, pandanglah aku. Janganlah aku Kauhukum sekedar dosa dan kekhilafanku atau setimpal dengan dosa nenek moyangku! Aku telah berdosa di hadapan-Mu dan melanggar segala perintah-Mu. Maka kami Kauserahkan untuk dirampasi, ditawan dan dibunuh. Kami Kaujadikan sindiran dan tertawaan, orang ternista di tengah sekalian bangsa di mana kami Kaucerai-beraikan. Memang tepatlah hukuman-Mu, jika kini aku Kauperlakukan sekedar segala dosaku. Karena kami tidak memenuhi perintah-perintah-Mu dan tidak hidup baik di hadapan-Mu. Kini berbuatlah kepadaku sekehendak-Mu, sudilah mencabut nyawaku, sehingga lenyaplah aku dari muka bumi dan kembali menjadi debu. Sebab mati lebih berguna bagiku daripada hidup. Karena aku harus mengalami nista dan fitnah, dan sangat sedih rasa hatiku. Ya Tuhan, biarlah aku lepas dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi. Janganlah wajah-Mu Kaupalingkan daripada-Ku, ya Tuhan. Lebih bergunalah mati saja daripada melihat banyak susah dalam hidupku. Sebab kalau mati, tak dapat lagi aku mendengar nista." Pada hari yang sama terjadilah bahwa Sara, puteri Raguel, di kota Ekbatana di negeri Media mendengar dirinya dihina oleh seorang pelayan perempuan ayahnya. Adapun Sara itu sudah diperisterikan kepada tujuh pria. Tetapi mereka semua dibunuh oleh Asmodeus, setan jahat, sebelum Sara bersatu dengan mereka sebagaimana layaknya seorang isteri. Kata pelayan itu kepada Sara, "Engkau sendirilah yang membunuh para suamimu! Engkau sudah diperisterikan kepada tujuh orang, tetapi tidak ada seorang pun yang kaunikmati! Masakan kami kaucambuki karena mereka mati! Baiklah engkau menyusul mereka saja, supaya kami tidak pernah melihat seorang putera atau puteri dari engkau!" Maka pada hari itu juga Sara sangat sedih hati, lalu menangis tersedu-sedu. Kemudian ia naik ke bilik atas kepunyaan ayahnya dengan maksud menggantung diri. Tetapi berpikirlah ia dalam hati, "Kiranya ayahku nanti dinistakan karena hal itu dan orang akan berkata kepadanya, 'Bapa hanya punya satu puteri kesayangan. Celakalah Bapa, ia telah menggantung diri." Niscaya karena sedihnya, ayahku yang lanjut umur itu akan mati. Lebih baik aku tidak menggantung diri, melainkan berdoa kepada Tuhan, supaya aku mati saja sehingga tak usah mendengar lagi nista selama hidupku." Segera Sara menadahkan tangannya, lalu berdoa, katanya, "Terpujilah Engkau, ya Allah penyayang! Aku mengarahkan mataku kepada-Mu. Semoga aku dilenyapkan saja dari muka bumi, sebab aku tidak mau lagi mendengar nista." Pada saat itu juga kedua orang tersebut, yakni Tobit dan Sara, dikabulkan permohonannya di hadapan kemuliaan Allah. Allah mengutus Rafael untuk menyembuhkan kedua-duanya, yaitu dengan menghapus bintik-bintik putih dari mata Tobit, sehingga ia dapat melihat cahaya Allah dengan matanya sendiri, dan dengan memberikan Sara, puteri Raguel, kepada Tobia, putera Tobit, sebagai isteri, dan dengan melepaskannya dari Asmodeus, setan jahat itu. Memang Tobia lebih berhak memperoleh Sara daripada semua orang lain yang ingin memperisteri dia. Pada saat yang sama Tobit kembali dari pelataran masuk ke rumahnya, dan Sara, puteri Raguel, turun dari bilik atas itu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Kepada-Mu, ya Tuhan, kuarahkan jiwaku.
Ayat.
(Mzm 25:2-4a.4b-5ab.6-7bc.8-9)
1. Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas diriku.
2. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku.
3. Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.
4. Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Akulah kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya pada-Ku, tak akan mati.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:18-27)


"Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."

Pada suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita, 'Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.' Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang wanita, lalu mati tanpa meninggalkan keturunan. Maka yang kedua mengawini dia, tetapi juga mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuh-tujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya wanita itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami wanita itu? Sebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka, "Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan; mereka hidup seperti malaikat di surga. Mengenai kebangkitan orang mati, tidakkah kalian baca dalam kitab Musa, yaitu dalam cerita tentang semak berduri, bahwa Allah bersabda kepada Musa, 'Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang yang bersikap mental materialistis pada umumnya apa yang menjadi keprihatinan atau perhatiannya hanya sampai pada apa yang kelihatan, yang dapat dilihat dengan mata kepala. Maka isi pikiran atau otaknya juga hal-hal duniawi atau materialistis. Dengan kata lain mereka tidak atau kurang percaya kepada Allah, kepada Penyelenggaraan Ilahi, yang terus menerus berkarya dalam seluruh ciptaan-Nya di bumi ini, baik dalam diri mereka yang lemah atau kuat, kaya atau miskin, kecil atau besar, dst.. Mereka tidak percaya bahwa “Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati ‘Allah orang hidup’, artinya kita hidup dan bertindak dalam dan atas nama Allah dalam situasi atau kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Dalam keadaan, kondisi atau situasi apapun kita tetap hidup, dinamis, gembira, ceria, bergairah, penuh pengharapan. Yang kita kejar atau usahakan adalah keselamatan jiwa, sebagaimana dikatakan oleh St.Ignatius Loyola: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan” (Ignatius Loyola, LR no 23). Ciptaan lain, harta benda/uang, sesama manusia, tanaman dan binatang merupakan pertolongan atau dukungan bagi kita untuk mengusahakan keselamatan jiwa; semuanya itu bersifat sementara, tidak abadi, termasuk kita manusia yang lemah dan rapuh ini. Maka hendaknya kita juga memfungsikan anggota-anggota tubuh kita untuk mengejar keselamatan jiwa, dan dengan demikian harta benda/uang, aneka kekayaan atau milik kita secara otomatis menjadi sarana atau pendukung mengejar keselamatan jiwa, atau kesucian hidup.

· "Engkaulah adil, ya Tuhan, semua perbuatanMupun adil pula; semua tindakan-Mu belas kasihan dan kebenaran, dan dunia semesta diadili oleh-Mu. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah kepadaku, pandangilah aku! Jangan aku Kauhukum sekedar segala dosaku dan setimpal dengan kekhilafanku kepadaMu, atau sekedar dosa yang diperbuat nenek moyangku!” (Tb 3:2-3). Doa keluh kesah permohonan ini mungkin juga menjadi doa permohonan dan keluh kesah kita kepada Tuhan. Marilah kita mohon belah kasihan dan pengampunan Tuhan atas dosa dan kesalahan kita. Sebenaranya jika kita berani mawas diri dengan benar kita telah menerima belas kasihan Tuhan melimpah ruah. Entah telah berapa banyak kita berbuat dosa atau bersalah, namun kita dibiarkan dan dianugerahi untuk terus hidup dengan bebas. Tuhan tidak menghukum kita. Mungkin kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan atau kesulitan, baiklah hal itu kita hayati sebagai wahana untuk semakin menghayati belas kasihan Tuhan. Belas kashan Tuhan dapat menjadi nyata dalam aneka pertolongan, bantuan atau dukungan dari orang lain atau sesama kita dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan atau kesulitan. Bukankah kita telah berhasil mengatasi aneka tantangan, bambatan atau kesulitan karena bantuan dan dukungan orang lain? Marilah kita hayati semua bantuan, dukungan atau pertolongan orang lain sebagai belas kasihan Tuhan pada kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan menghayati belas kasihan Tuhan kita tidak perlu khawatir akan masa depan, termasuk ketika kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Rumah masa depan, hidup mulia di sorga bersama Allah Pencipta dan Yesus yang kita imani, tersedia bagi kita yang menghayati belas kasihan Tuhan.



Ignatius Sumarya, SJ

Photobucket