Kamis, 04 Juni 2009, Hari Biasa Pekan IX

Kamis, 04 Juni 2009
Hari Biasa Pekan XI


"Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1Yoh 4:19)


Doa Renungan

Allah Bapa yang penuh kasih, kami tahu hari ini Engkau tetap menyertai perjalanan hidup kami. Kami ingin mendengarkan sabda-Mu kembali. Berbicaralah ya Tuhan, kami mendengarkan. Kami ingin memulai hari ini di dalam Engkau, agar seluruh hari kami jalani bersama-Mu. Dengan demikian setiap peristiwa yang akan kami alami hari ini dapat kami terima di bawah terang kasih-Mu. Dalam Kristus, Tuhan kami. Amin.


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (6:10-11;7:1.9-17;8:4-9a)


"Semoga Tuhan menganugerahkan damai sejahtera kepada kamu berdua."



Dalam perjalanannya, Tobia dan Rafael memasuki negeri Media dan sudah sampai dekat kota Ekbatana. Lalu berkatalah Rafael kepada Tobia, "Saudara Tobia!" Sahut Tobia, "Ada apa?" Rafael menyambung, "Malam ini kita harus bermalam pada Raguel. Dia itu seorang kerabatmu, dan mempunyai seorang puteri bernama Sara." Ketika mereka tiba di kota Ekbatana, berkatalah Tobia kepada temannya, "Saudara Azarya, antarkanlah aku langsung ke rumah Raguel, saudara kami." Ia pun lalu mengantarkannya ke rumah Raguel. Raguel sedang duduk pada pintu pelataran rumahnya. Mereka memberi salam kepada Raguel. Dia membalas, katanya, "Banyak salam, Saudara-saudara. Selamat datang!" Lalu mereka dipersilakannya masuk. Kemudian Raguel berkata kepada Tobia, Tuhan memberkati engkau, Nak. Engkau adalah putera seorang mulia dan baik! Alangkah celakanya ayahmu! Orang yang begitu baik dan dermawan itu menjadi buta!" Kemudian Raguel menyembelih seekor domba betina dari kawanannya, dan ia menyambut Tobia dan Rafael dengan ramah. Sesudah mencuci dan membasuh diri mereka duduk makan. Berkatalah Tobia kepada Rafael, "Saudara Azarya, katakanlah kepada Raguel, supaya saudariku Sara diberikannya kepadaku." Mendengar perkataan itu berkatalah Raguel kepada pemuda itu, "Makan dan minumlah, serta bersenang-senanglah malam ini. Memang, Saudara, tak seorang pun lebih berhak mengambil Sara, anakku, sebagai isterinya, daripada engkau. Karena itu aku tidak berwenang lagi memberikannya kepada seseorang kecuali kepadamu. Sebab engkaulah yang paling karib. Tetapi, Anakku, aku harus memberitahukan kebenaran. Sara sudah kuberikan kepada tujuh laki-laki di antara saudara kita! Tetapi semuanya mati pada malam pertama menghampiri Sara. Maka Anakku, baiklah sekarang makan dan minum saja. Tuhan akan mengambil tindakan bagimu!" Tetapi sahut Tobia, "Aku tidak akan makan atau minum apa-apa, sebelum engkau mengambil keputusan tentang diriku." Maka jawab Raguel, "Baiklah! Sara kuberikan kepadamu sesuai dengan ketetapan kitab Musa. Allah sudah memutuskan, bahwa Sara harus diberikan kepadamu. Maka hendaklah menerima saudarimu ini. Mulai sekarang ini engkau menjadi kakaknya, dan ia menjadi adikmu. Semenjak hari ini ia diberikan kepadamu untuk selama-lamanya. Dan, Anakku, semoga kamu pada malam ini juga diberkati oleh Tuhan semesta langit. Semoga Ia menurunkan kasih setia dan damai sejahtera atas dirimu." Lalu Raguel memanggil Sara, anaknya. Ketika Sara datang, Raguel memegang tangannya, dan dengan demikian ia menyerahkan Sara kepada Tobia, sambil berkata, "Sungguh, sesuai dengan hukum Taurat ia kupercayakan kepadamu dan seturut ketetapan yang tersurat dalam kitab Musa ia kuberikan kepadamu menjadi isterimu. Ambillah dia, dan antarkanlah kepada ayahmu dengan sehat walafiat. Moga-moga Yang Berkuasa di surga menganugerahkan damai sejahtera kepada kamu berdua. Selesai makan dan minum mereka semua mau pergi tidur. Tobia diantar ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Setelah masuk kamar tidur, Tobia dan Sara berdoa dan mohon supaya mereka mendapat perlindungan. Mereka memanjatkan doa sebagai berikut: Terpujilah Engkau, ya Allah leluhur kami, dan terpujilah nama-Mu sepanjang sekalian abad. Hendaknya sekalian langit memuji Engkau, dan juga segenap ciptaan-Mu untuk selama-lamanya. Engkaulah yang telah menjadikan Adam, dan baginya telah Kaubuat Hawa isterinya sebagai pembantu dan penopang. Dari mereka berdua lahirlah umat manusia seluruhnya. Engkau pun bersabda, 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, mari Kita menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.' Ya Tuhan, bukan karena nafsu birahi kuambil saudariku ini melainkan dengan hati benar. Sudilah kiranya mengasihani kami berdua, dan membuat kami menjadi tua bersama." Serentak berkatalah mereka, "Amin! Amin!" Kemudian mereka tidur semalam-malaman.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah semua orang yang takwa pada Tuhan.
Ayat.
(Mzm 128:1-2.3.4-5)
1. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
2. Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
3. Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion: boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.


Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berilah aku pengertian, maka aku akan mentaati hukum-Mu, aku akan menepatinya dengan segenap hati, ya Tuhan.


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:28b-34)


"Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah."


Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus, dan bertanya, "Perintah manakah yang paling utama?" Yesus menjawab, "Perintah yang utama ialah: 'Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang Esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua, ialah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.' Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini. Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus, "Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Dia itu esa, dan tak ada Allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, jauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahan." Yesus melihat betapa bijaksananya jawaban orang itu. Maka Ia berkata kepadanya, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah." Dan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

· Kasih memang merupakan hukum utama dan pertama, semua hukum atau aneka tatanan dan aturan hidup bersama dibuat dan diundangkan atau diberlakukan hemat saya demi kasih, dijiwai oleh kasih, agar siapapun yang terkait dengan aturan atau tatanan tersebut hidup saling mengasihi.


Hidup saling mengasihi hemat saya mudah dihayati jika masing-masing dari kita berani menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, yang diciptakan oleh Allah dalam dan oleh kasih-Nya dengan bekerja sama dengan atau partisipasi dari orangtua, bapak-ibu kita yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. Maka kami berharap para bapak-ibu atau orangtua yang telah saling mengasihi yang demikian itu dapat menjadi saksi atau teladan hidup saling mengasihi bagi anak-anaknya. Sebaliknya siapapun yang merasa menjadi anak, dan kiranya kita semua pernah atau masih menjadi anak dari orangtua kita, marilah kita hayati bahwa kita telah menerima kasih melimpah ruah dari Allah melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing. Pengalaman hidup saling mengasihi di dalam keluarga akan menjadi bekal atau modal yang dapat dikembangkan dalam hidup bersama yang dijiwai oleh kasih. Mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tenaga berarti mengasihi tanpa syarat atau catatan kaki.


Kasih sejati tidak dapat diukur dengan uang atau harta benda. Ingatlah juga kasih sering disimbolkan dengan cincin yang bulat dan tanpa ujung pangkal, yang berarti total dan tanpa batas waktu maupun tempat. Marilah kita sikapi atau hadapi aneka masalah, tantangan atau hambatan serta aneka tatanan dan aturan dalam dan dengan kasih.


· "Bangunlah, adinda, mari kita berdoa dan mohon kepada Tuhan kita, semoga dianugerahkan-Nya belas kasihan serta perlindungan." (Tb 8:4) , demikian ajakan Tobia terhadap Sara, isterinya. Apa yang dilakukan Tobia ini kiranya dapat menjadi teladan bagi para suami-isteti: berdoa bersama untuk mohon belas kasihan dan perlindungan Tuhan dalam hidup saling mengasihi dan semoga janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati sungguh terjadi dalam diri suami-isteri. Ajakan berdoa tersebut dilakukan sebelum tidur bersama, atau mungkin sebelum mewujudkan hidup saling mengasihi dengan hubungan seks atau persetubuhan.


Biarlah belas kasihan Tuhan menjadi nyata dalam bentuk anugerah besar, yaitu anak, sebagai buah saling mengasihi. Kebiasaan berdoa bersama kiranya juga merupakan jalan bagi suami-isteri agar dijauhkan dari perncobaan untuk berselingkuh atau menyeleweng. Pada masa kini kiranya cukup banyak suami-isteri sering harus berpisah secara phisik karena tugas atau pekerjaan, maka baiklah dengan adanya sarana komunikasi modern seperti HP atau email, hendaknya saling berkomunikasi untuk menentukan kapan atau jam berapa mau berdoa bersama. Biarlah motto ‘jauh di mata dekat di hati’ menjadi nyata antara lain dengan berdoa bersama pada waktu yang sama, meskipun tempat berbeda atau berjauhan. Ingatlah ketika sedang sendirian, alias tidak bersama suami atau isteri, hendaknya tidak berselingkuh atua menyeleweng. Mungkin ketika anda berlingkuh atau menyeleweng merasa aman karena tidak diketahui langsung oleh pasangan, tetapi ingatlah bahwa Tuhan tahu dan melihatnya, dan pada suatu saat pasangan andapun pasti akan mengetahuinya juga. Hidup saling mengasihi dalam keadaan atau situasi apapun merupakan kebijakan yang mengagumkan bagi orang lain.



Ignatius Sumarya, SJ


Photobucket