Menghayati Doa Syukur Agung (menyambut Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus)

Menghayati Doa Syukur Agung

oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D. *


Menurut saya, sepakbola jauh lebih menarik daripada cricket - terutama sebab saya tidak pernah dapat memahami permainan cricket! Hal-hal yang kita pahami selalu lebih menarik daripada hal-hal yang membingungkan kita.

Saya yakin bahwa Doa Syukur Agung (doa inti Misa) akan jauh lebih menarik dan membawa kita masuk dalam doa jika kita memahami apa yang terjadi sepanjang doa itu.

Pada dasarnya, Doa Syukur Agung mempunyai bentuk yang terdiri dari tiga bagian: 1). kita menyapa dan memuliakan Tuhan; 2). dengan penuh syukur kita mengenangkan segala yang telah Tuhan lakukan bagi kita; dan 3). kita memanjatkan permohonan.

“Bentuk” atau “susunan” tiga bagian ini ini amat serupa dengan “bentuk doa” yang dipergunakan seorang remaja ketika berbicara kepada ayahnya pada suatu Sabtu sore: “Pap, Papa adalah ayah terbaik yang pernah dapat dimiliki seorang. Papa bekerja keras bagi kami sepanjang pekan agar segala kebutuhan kami tercukupi. Pastilah Papa lelah dan ingin beristirahat di rumah sore ini dan menonton televisi. Bisakah aku pinjam kunci mobilnya, Pap?” Menyapa, mengenangkan, dan memohon.

Doa Syukur Agung diawali dengan dialog, “Tuhan bersamamu…. Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan ….” Kita menyapa dan memuliakan Tuhan, “Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, sumber segala kekudusan….” Kemudian kita dengan penuh syukur mengenangkan karya keselamatan Allah. Kita mengenangkan Perjamuan Malam Terakhir, bagaimana Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya. Kita mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Lalu, kita memanjatkan permohonan. Kita mohon pada Tuhan untuk mengutus Roh Kudus atas roti dan anggur agar menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus dan kita mohon pada Tuhan untuk mengutus Roh Kudus atas kita agar kita menjadi Tubuh Kristus.

Dalam Doa Syukur Agung kita yang sekarang, kedua permohonan ini dipisahkan. Permohonan pertama (memohon Roh Kudus untuk mengubah roti dan anggur) ditempatkan sebelum kita mengenangkan peristiwa-peristiwa Perjamuan Malam Terakhir. Sedangkan permohonan kedua (memohon Roh Kudus untuk mengubah kita) ditempatkan sesudah kenangan.

Selanjutnya, kita mempersatukan permohonan-permohonan kita dengan doa-doa Santa Perawan Maria dan para kudus, memohon bagi yang hidup dan yang mati. Doa Syukur Agung diakhiri dengan imam mengunjukkan Roti dan Anggur dan mempersembahkan sulang kepada Tuhan, “Segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa.” Kata “Amin” yang menutup Doa Syukur Agung menyatakan persetujuan dan partisipasi kita.


LANGKAH-LANGKAH IMPLEMENTASI


DI RUMAH


Setelah membaca artikel pendek ini, berilah perhatian khusus pada ketiga bagian Doa Syukur Agung pada hari Minggu mendatang ketika kalian pergi ke gereja. Bagaimanakah kita menyapa Tuhan? Peristiwa-peristiwa apakah dari sejarah keselamatan kita yang dikenangkan? Apakah yang kita mohon dalam doa? Kemudian diskusikan dengan anak-anak: Bagaimanakah kalian menyapa Tuhan ketika kalian berbicara kepada-Nya dalam doa? Peristiwa-peristiwa apakah dalam hidup kalian sendiri yang kalian kenangkan dengan syukur dan pujian? Apa sajakah permohonan-permohonan kalian dalam Misa? Bagaimanakah permohonan-permohonan kalian itu berhubungan dengan doa yang dipanjatkan imam atas nama kita?


DI KELAS

Ketika saya menyampaikan materi ini, pertama-tama saya menjelaskan struktur Doa Syukur Agung. Kemudian saya membagikan fotokopi Doa Syukur Agung III kepada para siswa (dapat kita gunakan lembar misalet yang sudah tidak terpakai lagi). Mintalah para siswa mengambil pensil dan menandai fotokopi doa mereka dengan melingkari tempat-tempat di mana kita menyapa Tuhan. Sebutan-sebutan apakah yang kita pergunakan? Di manakah sepanjang doa itu kita “mengenangkan”? Peristiwa-peristiwa apa sajakah yang kita kenangkan? Di manakah kita mendapati kedua permohonan kepada Roh Kudus (permohonan untuk mengubah roti dan anggur, dan permohonan untuk mengubah kita, Gereja)?

Setelah saya membimbing mereka dalam Doa Syukur Agung III, saya membagi mereka dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga siswa dan meminta mereka untuk melakukan yang sama dengan Doa Syukur Agung II. Saya meminta mereka menemukan bagaimana kita menyapa Tuhan, mengenangkan, dan memohon. Dan akhirnya, kami membahas Doa Syukur Agung II bersama-sama dalam kelompok yang lebih besar.

Selama beberapa minggu setelah latihan ini, banyak dari antara para siswa (anak-anak, remaja dan orang dewasa) mengatakan kepada saya, “Misa mempunyai arti yang sama sekali baru bagi saya sekarang! Saya berdoa dengan cara yang sama sekali baru sepanjang Doa Syukur Agung.”


* Fr. Thomas Richstatter, O.F.M., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institute Catholique de Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches courses on the sacraments at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.

sumber : “Praying the Eucharistic Prayer by Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”


Renungan Pagi

Minggu, 14 Juni 2009, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus/Th B

Minggu, 14 Juni 2009
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS/ Tahun B


"Ambillah, inilah tubuh-Ku."

“Yang akan menerima Ekaristi mahakudus, hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan” (KHK kan 919.1).
Maksud dari hukum atau aturan ini kiranya adalah bahwa setiap kali akan berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut Tubuh Kristus atau menerima komuni kudus hendaknya diadakan persiapan yang memadai. Jika dicermarti kebanyakan umat di kota-kota besar nampak kurang ada persiapan dalam rangka berpartisipasi dalam Perayaaan Ekaristi, bahkan cukup banyak yang datang terlambat; sebaliknya di pedesaan cukup banyak umat datang lebih awal dan kemudian berdoa didalam gereja, antara lain berdosa rosario . Maka dalam rangka merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk berrefleksi atau mawas diri perihal keterlibatan kita dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut komuni kudus.

"Ambillah, inilah tubuh-Ku…Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.”

“Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya” (KHK kan 899.1).

Tata Perayaan Ekaristi terdiri dari atau meliputi: (1) Ritus Pembuka, (2) Liturgi Sabda, (3) Liturgi Ekaristi dan (4) Ritus Penutup, maka baiklah saya sampaikan secara sederhana arti, makna atau maksud dari setiap bagian tersebut:

(1) Ritus Pembuka. Di dalam pembukaan kita diajak untuk menyadari dan menghayati kelemahan, kerapuhan dan dosa-dosa kita yaitu dengan doa Tobat. Maka baiklah dalam bagian pembukaan ini kita mengenangkan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita setia dan taat pada janji-janji tersebut. Sebagai contoh adalah janji baptis, dimana kita pernah berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan’. Marilah kita memeriksa batin atau hati kita masing-masing: apakah semakin cenderung mengabdi Tuhan Allah atau mengikuti godaan setan. Jika ada kesalahan dan dosa-dosa dalam diri kita marilah bertobat atau memperbaharui diri dengan bantuan kasih pengampunan Tuhan. Salah satu usaha untuk bertobat atau memperbaharui diri antara lain kita dapat mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan yang akan dibacakan maupun dikotbahkan dalam Liturgi Sabda.

(2) Liturgi Sabda. Dalam bagian ini kepada kita dibacakan sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, yang ditulis dalam dan oleh ilham Roh. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16 ). Di dalam bagian ini kiranya apa yang diharapkan dari kita semua adalah ‘mendengarkan’ (bukan mendengar). Agar kita dapat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik, hendaknya bersikap rendah hati, membuka hati, jiwa, pikiran dan tubuh terhadap apa yang disabdakan oleh Tuhan. Jika kita sungguh dapat dengan rendah hati mendengarkan sabda Tuhan, maka kita akan tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang dalam Perayaan Ekaristi ini diberi kesempatan untuk mewujudkannya dalam bentuk persembahan harta benda/uang maupun doa-doa; kita siap untuk memasuki Liturgi Ekaristi.

(3) Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi terdiri dari tiga bagian: Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung dan Komuni. Di dalam persembahan kita persembahkan bersama uang/kolekte, hasil jerih payah kita atau hasil bumi (bunga atau buah), doa-doa permohonan serta roti dan anggur. Dalam memberi persembahan uang atau kolekte hendaknya kita meneladan janda miskin yang memberi persembahan dari kekurangannya bukan kelebihannya. Di dalam doa permohonan selain yang telah disiapkan oleh Panitia Luturgi sebagaimana tertulis dalam buku Liturgi juga dapat ditambahkan ujud atau intensi umat. Persembahan roti dan anggur akan menjadi bahan untuk mengenangkan perjamuan malam dimana Yesus memberikan diri-Nya/tubuh dan darah-Nya dalam rupa roti dan anggur. Roti dan anggur dikonsekrasikan dalam Doa Syukur Agung oleh imam menjadi tubuh dan darah Kristus. Dalam upacara Komuni “setiap orang yang telah dibaptis dan tidak dilarang oleh hukum, dapat dan harus diizinkan untuk menerima komuni suci” (KHK kan 912). Dengan menerima komuni suci berarti kita disatukan dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian kita juga diutus untuk mewartakan Kabar Baik di dalam hidup sehari-hari kita. Tugas pengutusan ini kita ikuti didalam Ritus Penutup. .

(4) Ritus Penutup. Didalam Ritus Penutup ini antara lain kita menerima berkat Tuhan serta tugas pengutusan. “Marilah pergi! Kita diutus”, demikian ajakan imam, pemimpin ibadat dan kita jawab “Amin”, yang berarti kita dengan positif menyutui ajakan tersebut serta akan melaksanakan tugas pengutusan dalam hidup sehari-hari. Tema atau bahan tugas pengutusan kiranya dapat diambil dari bacaan Sabda Tuhan/Kitab Suci atau bahan renungan/kotbah pengkotbah, yang telah disampaikan dalam Perayaan Ekaristi yang kita ikuti.


“Jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibr 9:13-14)

Dengan menerima komuni suci kita dipanggil untuk “menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia” dalam dan melalui aneka kesibukan, pelayanan, pekerjaan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, “beribadah kepada Allah yang hidup”. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hati untuk mendunia, berpartisipasi dalam aneka macam seluk-beluk duniawi. Hendaknya kita tidak melakukan apa-apa atau segala sesuatu yang sia-sia, yang semakin menjauhkan diri kita dari Tuhan, Marilah kita senantiasa melakukan apa yang baik dalam hidup mendunia, karena dengan dan melalui perbuatan baik hati naruni kita juga semakin disucikan, dijernihkan serta dicerdaskan, sehingga kita semakin cerdas secara spiritual.

“Beribadah kepada Allah yang hidup” dalam hidup sehari-hari itulah panggilan kita, yang berarti entah belajar atau bekerja kita hayati bagaikan beribadah, belajar dan bekerja adalah ibadah kepada Allah. Jika belajar atau bekerja sebagai ibadah kepada Allah berarti rekan kerja atau belajar adalah rekan beribadah, sarana-prasarana belajar atau bekerja adalah sarana-prasarana ibadah, suasana adalah suasana ibadah. Sikap hormat, sopan, hening, serius dan bersama-sama itulah yang terjadi selama beribadah, maka sikap yang sama hendaknya juga terjadi baik dalam belajar maupun bekerja. Karena kita telah makan ‘roti yang satu dan sama’ yaitu tubuh Kristus, maka kita semua disatukan dalam Kristus, sehingga kita hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati, saling menghormati, memuji, memuliakan dan melayani.




Ignatius Sumarya, SJ

Minggu, 14 Juni 2009

Minggu, 14 Juni 2009
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh 6:51)


Doa Renungan
Tuhan Yesus Kristus, dalam sakramen ekaristi yang luhur ini Engkau telah mempersatukan kami sebagai gereja. Dengan mengambil bagian di dalamnya dan dengan komuni, kami menerima sakramen cinta-Mu yang memberi kami kekuatan untuk menjalankan tugas perutusan-Mu dan keyakinan penyertaan-Mu. Semoga kami selalu mengagungkan misteri kudus tubuh dan darah-Mu, sehingga pantas menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan pengantara kami, yang hidup dan bertahta bersama Bapa dalam persatuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Keluaran (24:3-8)

"Inilah darah perjanjian yang diikat Tuhan dengan kalian."


3 Ketika Musa turun dari Gunung Sinai dan memberitahukan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan itu, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak: "Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan." 4 Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel.5 Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel, maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai korban keselamatan kepada TUHAN. 6 Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu. 7 Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan." 8 Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: "Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 856
Ref. Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu, Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini akan peringatan kepada-Ku.
Ayat.
(Mzm 116:12-13.15-16.17-18)
1. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan, segala kebaikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
2. Sungguh berhargalah di mata Tuhan, kematian semua orang yang dikasihi-Nya, Ya Tuhan, aku hamba-Mu, aku hamba-Mu, anak sahaya-Mu, Engkau telah melepaskan belengguku.
3. Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama Tuhan. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (9:11-15)

"Darah Kristus akan menyucikan hati nurani kita."


11 Saudara-saudara terkasih, Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, --artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, -- 12 dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. 13 Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, 14 betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. 15 Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggara yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil PS 953
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Akulah roti hidup yang turun dari surga, siapa yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya. (Yoh 6:51a)

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (14:12-16.22-26)

"Inilah tubuh-Ku, inilah darah-Ku."


12 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" 13 Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia 14 dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? 15 Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!"16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. 22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku." 23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 24 Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah." 26 Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

DALAM KESATUAN BATIN

Rekan-rekan yang baik!
Peristiwa yang dikisahkan dalam Injil hari ini, yakni perjamuan malam Yesus bersama para muridnya, dikaitkan Markus dengan Perjamuan Paskah Yahudi (Mrk 14:12-16). Begitu pula dalam Injil Matius dan Lukas (Mat 26:2. 17-19; Luk 22:7-14) yang memang ditulis atas dasar bahan Markus. Yohanes lain. Baginya, peristiwa itu bukan Perjamuan Paskah, melainkan perjamuan perpisahan Yesus dengan murid-muridnya. Pada hari Paskah Yahudi sendiri, menurut Yohanes, Yesus sudah meninggal (bdk. Yoh 18:28; 19:14) dan justru wafatnya diartikannya sebagai korban domba Paskah.

KAPAN TERJADI?

Di kalangan Yahudi zaman itu, hari dihitung mulai dari terbenamnya matahari hingga magrib berikutnya. Jadi satu hari terdiri dari sore dan malam hari serta siang hari berikutnya. Menjelang Paskah Yahudi, masih pada hari keenam (Jumat) domba kurban disembelih, tetapi baru dipersembahkan dalam upacara pada sore harinya yang sudah terhitung hari berikutnya, yakni malam Paskah Yahudi. Injil Yohanes mengartikan wafat Yesus di kayu salib sebagai penyembelihan domba yang terjadi pada hari Jumat, sedangkan sore harinya, yakni malam Paskah orang Yahudi, Yesus dikuburkan dan tinggal di sana sampai bangkit pada hari pertama minggu berikutnya. Injil-Injil Sinoptik (yakni Markus, Matius, dan Lukas) menampilkan penyaliban Yesus setelah Paskah Yahudi yang dirayakan Yesus bersama para muridnya.
Baik Injil Sinoptik maupun Injil Yohanes sama-sama menampilkan Yesus sebagai kurban Paskah. Tetapi kapan peristiwa ini terjadi, dan dalam bentuk mana, ada perbedaan. Injil Yohanes memakai cara penggambaran yang "mengurungkan" perjalanan waktu, seolah-olah semuanya kembali ke keadaan sebelum penciptaan. Bagi Yohanes, Paskah Yahudi dibarengi dengan kegelapan dalam kubur, dalam kematian. Ini keadaan sebelum sang Pencipta menyabdakan terang. Paskah Yahudi tampil sebagai yang tak berbentuk, keadaan kalang kabut (bdk. Kej 1:2). Perlu ada pengaturan dan terang. Dan Yang Maha Kuasa sendiri memberikannya, yakni Paskah yang baru, yaitu kebangkitan Yesus. Dia itu terang yang disabdakan bagi jagat. Dan terang itu kini berada bersama Yang Maha Kuasa, yang disebutnya Bapa. Dari sana ia akan mengirim Rohnya kepada para muridnya. Ini juga telah diutarakannya dalam pesan-pesan terakhirnya pada perjamuan malam sebelum ia ditangkap.
Injil Sinoptik memakai cara penggambaran yang mengarah ke depan dan mengantisipasi peristiwa wafat Yesus di salib dengan Perjamuan Paskah. Di sini Yesus menegaskan pemberian dirinya - tubuh dan darahnya - sebagai jaminan Perjanjian keselamatan yang baru. Barangsiapa bersatu dengannya akan terikut di dalam keselamatan. Roti yang disambut dan anggur yang diminum menandai kesatuan dengan tubuh dan darah Yesus - dengan dirinya sepenuh-penuhnya. Injil Sinoptik juga memakai Perjamuan Paskah, yakni peringatan pembebasan umat Perjanjian Lama dari perbudakan di Mesir, untuk mengartikan kurban diri Yesus di salib nanti. Dia itu kurban yang membebaskan kemanusiaan dari perbudakan dosa. Dengan demikian, Injil Sinoptik juga menampilkan perjamuan bersama para murid tadi sebagai perayaan penebusan.

BERSAMA ORANG BANYAK

Meskipun agak rumit, uraian di atas menunjukkan dinamika pemahaman para murid tentang Yesus sang Mesias yang telah mereka ikuti dari tempat ke tempat dan kini tetap menyertai mereka walaupun dengan cara yang berbeda. Dan perjamuan "berakah" yang menjadi ibadat mereka sebagai orang Yahudi menjadi perayaan bersama untuk semakin menyadari kenyataan batin ini. Seperti halnya perjamuan "berakah" untuk memperingati dan menghadirkan kembali peristiwa keluaran dari Mesir, perjamuan ekaristi dijalankan untuk mengenang kembali kebersamaan batin dengan Yesus yang mengurbankan diri bagi keselamatan orang banyak. Patut dicatat, gagasan "eukharistia" ialah padanan dalam bahasa Yunani bagi "berakah" Ibrani. Dengan latar pemahaman di atas marilah kita petik warta Injil hari ini.
Bayangan kita mengenai perjamuan terakhir boleh jadi amat dipengaruhi lukisan gaya Leonardo da Vinci: di sebuah ruang khusus Yesus memimpin perjamuan yang dihadiri hanya oleh murid-murid paling dekat. Dan kita akan mengamati siapa-siapa dan bagaimana sikap mereka dan bagaimana sikap Yesus. Tafsiran artistik ini memang mengungkapkan kekhususan kesempatan itu. Saat itulah lahir kelompok kecil yang akan menjadi komunitas penerus karya dan kehadiran Yesus di dunia ini. Mereka akan berbagi ingatan akan siapa Yesus yang mereka kenal dari dekat, yang mereka kagumi, yang mereka ikuti. Walaupun demikian, gambaran itu tidak amat cocok dengan yang kiranya terjadi dulu. Ruang tempat Yesus dan murid-muridnya makan pasti dipenuhi orang-orang lain juga. Yesus ialah tokoh yang telah menggemparkan seluruh wilayah utara - Galilea - dan tempat-tempat di sepanjang perjalanannya ke Yerusalem. Ia disambut dengan sorak sorai ketika memasuki kota itu, bagaikan seorang raja. Yerusalem waktu itu juga ramai banyak didatangi para peziarah yang akan beribadat tahunan di kota suci itu. Ia bahkan disangka akan menggerakkan masa membangun kerajaan baru. Itulah yang dituduhkan oleh para pemimpin Yahudi sendiri di hadapan penguasa Romawi.

Pemilihan tempat perjamuan juga dikisahkan dalam Mrk 14:12-16 dengan cara yang unik. Seakan-akan semuanya sudah diatur. Dua orang murid disuruhnya memasuki kota dan di sana mereka akan berjumpa dengan seorang laki-laki yang membawa kendi air. Mereka disuruh mengikutinya. Dan orang itu akan menunjukkan ruang besar yang sudah diperlengkapi dan siap pakai. Pembaca zaman dulu tahu bahwa seorang lelaki yang membawa kendi air bukan pemandangan yang biasa, bahkan aneh. Biasanya air dibawa dengan kerbat dari kulit. Ini cara Markus menarik perhatian pembacanya. Juga untuk menunjukkan bahwa tempat perjamuan yang direncanakan ini mudah diketahui orang, bukan hal yang diam-diam dipilih bagi kelompok sendiri. Siapa saja akan bisa melihat orang yang membawa kendi air - sebuah pemandangan yang mencolok - dan mengetahui tempat yang ditunjukkan orang itu kepada kedua murid tadi.

ROTI DAN ANGGUR

Yesus sudah jadi tokoh tenar waktu itu. Ke mana saja ia pergi, ia selalu diiringi orang banyak. Juga tempat ia berjamu dengan para muridnya pasti didatangi orang banyak pula. Mereka ingin melihat tokoh ini bersama kelompok murid yang kondang itu. Boleh kita hubung-hubungkan keadaan ini dengan peristiwa Yesus memberi makan orang banyak yang diceritakan sampai enam kali dalam Injil-Injil. Ia berbagi rezeki yang diperoleh dari Bapanya dengan orang banyak yang mengikutinya dan menaruh kepercayaan serta harapan kepadanya. Ia berusaha memurnikan harapan serta angan-angan mereka. Ia datang bukan sebagai Mesias yang akan membangun kembali kejayaan dulu atau menumbangkan lembaga penindas. Ia datang untuk memperkenalkan Allah yang bisa didekati. Juga kali ini, di Yerusalem, di kota-Nya yang suci itu, Yesus memperkenalkanNya sebagai Allah yang bisa dijangkau orang banyak. Bukan lewat kurban dan upacara, tetapi lewat diri Yesus, lewat dia yang berani dengan tulus memanggil-Nya sebagai "Bapa". Tentu peristiwa ini mengagetkan. Dan ini terjadi bukan di Bait Allah, melainkan di sebuah ruang tempat ia mengadakan perjamuan dengan para muridnya.

Pada kesempatan itulah Yesus membuat roti dan anggur perjamuan menjadi tanda pemberian diri seutuhnya kepada mereka yang ikut makan dan minum. Kata-kata "inilah tubuhku" (Mrk 14:22) dan "inilah darahku" (24) menjadi ajakan bagi mereka yang ikut serta dalam perjamuan itu untuk menyadari bahwa sebenarnya mereka bersatu dengan dia yang kini menjadi tanda keselamatan bagi orang banyak. Injil merumuskannya sebagai darah perjanjian, yakni yang dulu secara ritual diadakan dalam upacara kurban sembelihan untuk meresmikan Perjanjian.

Bagaimana kita memahami perayaan yang dikisahkan Injil itu bagi orang sekarang? Yang terjadi pada kesempatan itu erat hubungannya dengan inti perayaan ekaristi seperti kita kenal kini. Dalam peristiwa itu kumpulan orang di sekitar Yesus menyadari adanya dua kenyataan. Pertama, kurban Yesus, dan yang kedua ialah kemungkinan berbagi kehidupan dengannya. Kepercayaan inilah yang kemudian berkembang dalam ujud perayaan ibadat ekaristi mengenang kurban tadi. Dan ingatan ini diteruskan turun temurun hingga zaman ini. Tak ada satu hari pun lewat tanpa kenangan tadi. Dalam hal inilah peristiwa perjamuan terakhir tadi masih terus berlangsung. Juga kesatuan dengan dia yang mengorbankan diri demi orang banyak menjadi semakin nyata.

DARI BACAAN KEDUA (Ibr 9:11-15)

Dalam petikan surat kepada orang Ibrani kali ini Kristus digambarkan sebagai Imam Agung surgawi yang memperoleh kelepasan hukuman bagi umat dengan mengurbankan dirinya sendiri (ay. 11-14) . Ia juga menjadi pengantara yang membangun kembali ikatan baik kemanusiaan dengan Allah yang hidup (ay. 15). Bagi pembaca dulu yang berasal dari kalangan Yahudi, dua gambaran ini amat menggarisbawahi betapa kini manusia boleh merasa disatukan dan dihubungkan kembali dengan asalnya. Di tempat lain, di zaman lain kekuatan gambaran ini masih dapat ditonjolkan, tentu saja dengan menunjukkan apa yang hendak disampaikan: peran Kristus dalam membawa kemanusiaan dekat kembali dengan kehadiran Yang Ilahi dengan kehidupannya. Orang diajak mendalami pengalaman bahwa Kristus kini hidup dan berada di tengah-tengah umat dan bersama-sama umat ia menghadap Allah, dan dengan demikian membarui wajah kemanusiaan. Orang boleh menyadari kenyataan ini di tengah-tengah keadaan apapun, termasuk pelbagai macam kekaburan di dalam kehidupan ini.



Salam hangat,
A. Gianto

Renungan Pagi