Minggu, 23 Mei 2010 Hari Raya Pentakosta

Minggu, 23 Mei 2010
Hari Raya Pentakosta

"Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."

Karya Roh Kudus

Masa Paskah kini berakhir. Liturgi Gereja telah mewartakan kegembiraan Paskah dan mengajarkan perlunya menghidupkan suatu kehidupan yang penuh sukacita di dalam mewartakan kebangkitan Kristus yang merupakan pusat iman kita. Paulus menegaskan bahwa andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (1 Kor. 15:14).

Perayaan Pentakosta mengingatkan kita pada dua peristiwa penting yang mempengaruhi satu sama lain, yakni karunia Roh Kudus dan permulaan hidup Gereja. Karunia Roh Kudus itu dibicarakan di sini dalam konteks kelanjutan misi Yesus dan misi para murid. Para murid diperintahkan untuk mengasihi Yesus dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan untuk bisa melaksanakan itu, mereka diberi pembimbing dan guru, yakni Roh Kudus.

Ditegaskan bahwa kepergian Yesus tidak menyebabkan suatu situasi kehilangan tetapi melahirkan suatu era baru yang dikaruniai dengan Roh Kudus, yang melanjutkan kehadiran Yesus ketika Dia tidak ada lagi secara fisik. Era baru itu ditandai oleh cinta, pemeliharaan perintah-perintah-Nya, dan janji pada masa yang akan datang bahwa Allah dan Anak akan tinggal bersama selama-lamanya dengan para murid.

Merayakan hari Pentakosta berarti memperingati pesta kelahiran Gereja. Oleh turunnya Roh Kudus umat Allah yang tercerai-berai dapat dipersatukan dan dikokohkan. Gereja dan misinya yang hadir di dunia modern ini membutuhkan kehadiran Roh Kudus. Roh yang memampukannya untuk hadir dan berjuang di tengah kekerasan, ketidakadilan dan ketakharmonisan hidup. Kita percaya bahwa Roh yang datang dari Allah itu jauh lebih berkuasa dari kejahatan, mampu menguasai kegelapan dan tak dapat dikendalikan oleh apa dan siapa pun. Oleh karena kekuatan Roh tersebut maka setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, menerima Roh Kudus sebagai hadiah yang dikaruniakan Tuhan kepada Gereja dan secara istimewa kepada setiap orang. Tandanya orang memiliki Roh Kudus adalah kesiapannya berbuat baik dan menyenangkan orang lain !

www.reginacaeli.org

Doa Renungan

Allah Bapa kami yang mahaagung dan kekal, berkat misteri Pentakosta Engkau menguduskan Gereja-Mu di antara bangsa dengan segala bahasa. Sebarluaskan anugerah Roh Kudus ke seluruh dunia. Ulangilah mukjizat Pentakosta: sentuhlah dengan Roh-Mu hati umat beriman seperti yang Kaulakukan pada awal pewartaan Injil. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kisah Para Rasul (2:1-11)

"Mereka dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara."

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 568
Ref. Utuslah Roh-Mu ya Tuhan dan jadi baru seluruh bumi.
Ayat. (Mzm 104:1.24.29-30.31.34 R. 30)
1. Allahku nama-Mu hendak kupuji. Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran.
2. Ya Tuhan berselubungkan cahaya. Bagai jubah raja langit Kaupasang bagai kemah.
3. Firman-Mu disampaikan oleh angin. Api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (8:8-17)

"Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah Anak Allah."

Saudara-saudara, mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 964
Ref. Alleluya
Ayat. Datanglah, hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (14:15-16.23b-26)

"Allah telah menetapkan kamu supaya pergi dan menghasilkan buah."

Pada perjamuan malam terakhir Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakan-Nya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

DATANGNYA ROH KUDUS

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya "hari ke-50") dirayakan 7 minggu setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan lain, lihat Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13. Dalam perkembangan selanjutnya, hari "ke-50" ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, peringatan "hari ke-50" ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

Pembicaraan kali ini lebih berpusat pada bacaan pertama hari raya Pentakosta, yakni Kis 2:1-11. Injilnya, Yoh 14:15-16.23b-26, sudah dibicarakan sehubungan dengan Minggu Paskah VI tahun C tgl. 9 Mei 2010.

BERBICARA DALAM PELBAGAI BAHASA

GUS: Luc, kisah mengenai hari Pentakosta menarik, terdengar suara seperti angin taufan dari langit masuk ke ruangan para murid berkumpul, muncul lidah-lidah api menghinggapi mereka, dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa. Betulkah begitu kejadiannya?

LUC: Jauh lebih menarik kalau dicari maknanya dan tidak segera ditanyakan apa dulu-dulunya memang ada kejadian menakjubkan itu. Aku sendiri tidak di sana. Begini maksudku. Saat itu murid-murid mengalami adanya kekuatan yang membuat hati mereka berkobar-kobar. Ini sudah sedikit kusinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, "hati kita berkobar-kobar" (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan "hati") mereka tidak lagi ciut memudar, melainkan hidup menyala-nyala. Dan sekarang kejadian ini dialami semua murid yang lain. Inilah pengalaman memahami Kitab Suci dari dalam, tidak berhenti di luar-luarnya saja.

GUS: Jadi bisa dikatakan orang melihat peristiwa-peristiwa yang tak kasat mata?

LUC: Ehm, bukan itu saja, tetapi memahaminya sampai bisa menyampaikannya kembali dengan cara yang dimengerti banyak orang.

GUS: Itukah yang kau maksud dengan berbicara pelbagai bahasa.

LUC: Nangkap kan akhirnya! Memang murid-murid bukannya tiba-tiba menjadi kaum poliglot yang lancar sekian bahasa sampai tak terhitung jari.

GUS: Tentunya kau tidak berpikir mengenai kejadian yang disebut Mark sebagai "bicara dalam bahasa-bahasa baru" (Mrk 16:17) atau yang disebut Paulus sebagai "bahasa lidah" (1Kor 14). Yang ini kan yang biasanya dilakukan orang dulu dengan bergumam.

LUC: Itu bukan yang terjadi pada hari Pentakosta. Kata-kata para murid hari itu memakai bahasa biasa yang mengungkapkan pemahaman batin. Dan ini terolah matang sampai bisa disampaikan kepada banyak orang. Aku juga tahu apa itu yang dinamai "bahasa lidah", lihat saja Kis 10:46 dan 19:6. Di situ orang mulai bergumam bukan dengan kata-kata bahasa. Tapi hal tidak bisa sebarangan ditiru atau dianggap cara menghayati Roh.

GUS: Paulus menjelaskan, gumaman bahasa lidah ini terarah kepada Tuhan, bukan kepada orang lain (1Kor 14:2), dan bukan untuk berkomunikasi dengan orang lain (1Kor 14:4), karenanya perlu ada orang yang mampu menjelaskan (1Kor 14:5-19 dan 27). Bahasa lidah itu menjadi tanda kehadiran roh di hadapan orang yang belum beriman (1Kor 14:22). Paulus membandingkannya dengan anugerah bernubuat yang bisa langsung dimengerti orang lain dan yang berperan menguatkan iman orang banyak.

LUC: Betul! Sampaikan kepada rekan-rekan agar mereka tidak menghubung-hubungkan yang terjadi pada hari Pentakosta dengan hal berbicara "bahasa lidah" tadi.

GUS: Baik, nanti pesanmu kukirim ke Internos. Tapi nanti kalau ada yang ingin konsultasi langsung sama kamu gimana?

LUC: [Sedikit angkat bahu, seolah-olah mau bilang ndak perlu, tapi terserah situ.] Semua kan sudah kuceritakan. Kalau butuh penjelasan lebih jauh, tanya sama ekseget saja. Atau tanya ekseget yang tinggal di dalam batin kalian - seperti para murid yang ke Emaus dan murid-murid lain pada hari Pentakosta! Oma Miryam sudah lama menjalankannya, ia "menyimpan dalam hati" (Luk 2:19 dan 51). Kan pernah kaubicarakan juga hal ini sehubungan dengan Injil Keluarga Kudus tahun lalu?

GUS: [Pura-pura heran.] Ikut baca juga? Ada hal lain nih. Pada hari Pentakosta itu juga khotbah Petrus membuat tiga ribu orang lagi menjadi percaya (Kis 2:41) dan mereka ini kemudian tumbuh menjadi umat yang pertama. Bagaimana bisa diaktualkan bagi zaman ini? Bisakah dikatakan Gereja perlu terus belajar menyampaikan kesaksiannya dengan cara berungkap yang bisa diterima banyak orang?

LUC: [Sorot matanya mulai berbinar-binar.] Nah, itulah tafsir yang sehat! Tidak membuat orang berpikir cupet ngutak-utik teks belaka tanpa membangun kaitan dengan kehidupan.

GUS: Orang zaman kini lain.

LUC: Emangnya masih ada yang ambil serius wacana besar-besar dan serba menyeluruh mengenai Gereja, umat, keselamatan, dst.? Mau lebih nyata. Lagipula, kalau yang ditawarkan itu gagasan basi yang diulang-ulang ya tentu tak tecerna, malah seret rasanya.

DUNIA GEREJA PERDANA

Kurang jelas apa Luc hendak mengutarakan pendapatnya mengenai pemahaman diri Gereja sekarang atau mengajak melihat eklesiologi dalam Kisah Para Rasul. Mungkin kedua-duanya. Tapi sore itu ia rada mengelak bila ditanya-tanya. Sahabat yang satu ini orangnya gampang-gampang sukar. Maklum, seniman.

Salah satu hal yang kami singgung menyangkut kehidupan umat perdana di tengah-tengah budaya waktu itu. Bukan terutama hal yang diutarakannya secara ideal seperti dalam Kis 2:42-47 (terlalu ideal!), melainkan segi-segi kehidupan nyata yang terselip di sana sini dalam Kisah Para Rasul. Misalnya mengenai praktek "kebatinan" yang waktu itu dianggap lumrah. Konteksnya begini. Di kalangan intelektual waktu itu ada keyakinan bahwa kehidupan ini terus-terusan terancam kekuatan jahat yang siap menerkam. Maka banyak yang berusaha menjinakkannya dengan pelbagai cara. Ilmu mengenali kekuatan-kekuatan tak terlihat itu berkembang di kalangan kaum terpelajar, semacam kebatinan tingkat tinggi. Mereka mendalaminya. Sekali lagi ini terjadi di antara kaum terdidik, kalangan atas, bukan di kalangan orang sederhana. Terlalu pelik dan mewah bagi kaum sederhana. Luc paham betul alam pikiran itu. Dan memang umat Kristen pertama kebanyakan berasal dari kalangan rada atas dengan warisan rohani seperti itu.

Alam pikiran kebatinan yang disebut-sebut di atas berbeda dengan dunia "perdukunan" yang intinya upaya mengendalikan kekuatan-kekuatan yang bisa diisikan ke badan atau dikeluarkan dari orang tertentu. Memang magi seperti itu juga ada, tetapi tidak berkembang subur di kalangan masyarakat terpelajar waktu itu. Jadi dunia dhemit, jimat, aji-aji, susuk, tenung, ilmu "namengi" santet tidak amat diminati kebanyakan dari mereka.

Luc menulis dua bukunya untuk mulai berdialog dengan orang-orang yang sebetulnya sudah enggan mempersoalkan lagi mengapa "yang jahat" selalu menyertai manusia. Mereka beranggapan yang jahat tak bisa dihalau. Yang mereka cari ialah kepintaran bagaimana bisa hidup terus dalam keadaan itu. Kekuatan-kekuatan jahat itu pergi datang, yang penting ialah tahu gelagat kapan mulai kuat, kapan sedang surut menghimpun tenaga dan tiba-tiba menghunjam lagi. Dalam Injilnya Luc sebetulnya juga menyinggung hal ini ketika mengatakan Iblis pergi dari Yesus menunggu saat yang baik untuk kembali (Luk 4:13). Dengan menceritakan kelakuan Iblis ini, Luc sebetulnya mau berbicara khusus kepada orang-orang yang hidup dalam alam pikiran tadi. Maklum banyak di antara mereka kini tertarik oleh figur Yesus dan ingin belajar bagaimana bisa menghadapi kekuatan gelap tadi. Orang-orang berminat memahami gerakan-gerakan yang bila tidak dikenali akan mengacaukan hidup mereka. Dan pribadi Yesus yang berwibawa atas kuasa yang jahat itu, terutama dengan kebangkitan dan kenaikannya ke surga, membuat banyak orang makin ingin mengenalnya.

Penjelasan Luc, khususnya dalam hubungan dengan peristiwa Pentakosta, seperti berikut. Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu kini hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi wening dan menuntun orang di jalan yang benar. Juga memberi kepekaan untuk bergaul dengan dunia yang tak terlihat. Roh Kudus ini jugalah yang memimpin para rasul ke seluruh penjuru dunia. Roh yang sama itulah yang kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya. Orang tidak lagi perlu merasa terancam kekuatan-kekuatan gelap yang pergi datang begitu saja. Ada kekuatan baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini membuat alam pikiran orang zaman itu berubah. Terbuka dunia baru. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Luc dalam Kisah Para Rasul. Orang-orang yang demikian ini kemudian juga diajaknya peduli kepada orang-orang di sekitar, dibuatnya mengerti penderitaan orang, juga orang-orang dari kalangan lain, kalangan sederhana. Dan mereka mau. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Gereja perdana itu jadi Gereja kaum yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Tidak melulu sibuk dengan urusan-urusan sendiri.

Rangkuman di atas saya ceritakan kepada Luc. Ia mendengarkan. "Ada tambahan, Luc?" Bibirnya berkerut menahan kata. Tiba-tiba ia menatap dengan sorot mata yang mbeling, tersenyum, lalu melambaikan tangan dan jalan terus entah ke mana. Bergegas saya pulang dan mencatat inti pembicaraan tadi.

Salam hangat,
A. Gianto





Bagikan