Minggu, 18 Juli 2010 Hari Minggu Biasa XVI

Minggu, 18 Juli 2010
Hari Minggu Biasa XVI

Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. (Kol 1:28)

Doa Renungan

Allah Bapa kami di surga, melalui Yesus, Putra-Mu, kami telah Kauberitahu, bahwa pelayanan sejati bersumberkan pengabdian kepada-Mu. Kami mohon, bukalah hati kami, agar dapat menerima sabda-Nya dan sesama kami serta membagi rezeki dengan mereka. Maka Engkau akan membuka pintu-Mu bagi kami serta menerima kami dalam kediaman-Mu yang abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kejadian (18:1-10a)

"Tuanku, singgahlah ke kemah hambamu ini."

Sekali peristiwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon tarbantin di Mamre. Waktu itu Abraham sedang duduk di pintu kemahnya di kala hari panas terik. Ketika ia mengangkat mata, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Melihat mereka, Abraham bergegas dari pintu kemahnya menyongsong mereka. Ia bersujud sampai ke tanah dan berkata, "Tuanku, jika aku mendapat kasih Tuan, singgahlah di kemah hambamu ini. Biarlah diambil sedikit air, basuhlah kaki Tuan dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini: biarlah hamba mengambil sepotong roti, agar Tuan-Tuan segar kembali. Kemudian bolehlah Tuan-Tuan melanjutkan perjalanan. Sebab Tuan-Tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka, "Perbuatlah seperti yang engkau katakan itu!" Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata, "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!" Lalu Abraham berlari ke lembu sapinya, mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya, dan memberikan kepada seorang bujang yang segera mengolahnya. Kemudian Abraham mengambil dadih, susu, dan anak lembu yang telah diolahnya itu, lalu dihidangkannya kepada ketiga orang itu. Abraham sendiri berdiri dekat mereka di bawah pohon itu, sementara mereka makan. Sesudah makan, bertanyalah mereka kepada Abraham, "Di manakah Sara, istrimu?" Maka berkatalah Ia, "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau. Pada waktu itu Sara, istrimu akan mempunyai seorang anak laki-laki.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = f, 3/4, PS 848
Ref. Tuhan siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?
Ayat. (Mzm 15:2-3a.3cd-4ab.5; Ul: 1a)
1. Yaitu orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatina; yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
2. Yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tercela, tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang bertakwa.
3. Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba, dan tidak menerima suap melawan orang yang bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose (1:24-28)

"Rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad sekarang dinyatakan kepada orang kudus-Nya."

Saudara-saudara, sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita demi kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan kepenuhan firman-Nya kepada kamu, yaitu: Rahasia yang tersembunyi berabad-abad dan turun menurun, kini dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Allah berkenan memberi tahu mereka betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di antara kamu. Dialah harapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan dengan memperingatkan orang dan mengajar mereka dalam segala hikmat untuk memimpin setiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (lih. Luk 8:15)
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (10:38-42)

"Marta menerima Yesus di rumahnya. Maria telah memilih bagian yang terbaik."

Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Wanita itu mempunyai seorang saudara bernama Maria. Maria ini duduk di dekat kaki Tuhan, dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Tetapi Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, "Tuhan, tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku memberikan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya, "Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Rekan-rekan yang baik!

Kisah dua perempuan bersaudara dalam Luk 10:38-42 yang dibacakan pada Hari Minggu Biasa XVI tahun C, 18 Juli 2010 ini acap kali dipandang sebagai anjuran agar orang memilih bersikap seperti Maria yang duduk bersimpuh mendengarkan Tuhan dan jangan seperti Marta, saudaranya, yang tenggelam dalam kesibukan pelayanan belaka. Tetapi dalam teks Injil Lukas itu tidak kita jumpai Yesus yang memuji-muji Maria, tidak pula ada celaan terang-terangan atau halus terhadap sikap Marta. Yesus bertamu untuk menerima kebaikan mereka dan ia menukarnya dengan Kabar Gembira, bukan sindiran atau ajaran-ajaran yang kerap dititipkan atau dipaksa-paksakan ke dalam Injil.

DI RUMAH MARTA

Cerita ini terjadi di rumah "seorang perempuan yang bernama Marta" (ayat 38). Tokoh ini kiranya memang seorang perempuan terpandang yang tinggal di sebuah suburbia. Terjemahan "desa" dapat memberi kesan keliru. Dari Yoh 11:1 kita tahu rumah Marta itu di Betania, semacam pemukiman yang berkembang dalam hubungan dengan sebuah kota tua, yakni Yerusalem. Di Betania itu juga nanti Yesus dielu-elukan sebagai raja (Luk 19:29, Mrk 11:1). Mereka yang tinggal di tempat seperti itu biasanya orang yang cukup berada. Gagasan "suburbia" lebih cocok, seperti "Kebayoran Baru"-nya Jakarta atau "Candi Baru"-nya Semarang atau "BSD". Begitulah bisa sekadar kita bayangkan kedudukan sosial Marta dan Maria.

Di beberapa tempat lain dalam Injil disebutkan Yesus mengajar dari kota ke kota dan dari "desa ke desa". Sebetulnya yang dimaksud ialah dari kota dan wilayah suburbianya. Memang Gereja pertama berkembang di kalangan itu. Di tanah Palestina dulu tak ada banyak hunian yang mirip desa yang biasa kita bayangkan, yaitu pemukiman yang terpisah dari dunia perkotaan. Di sana sini di padang gurun memang ada hunian kaum Badui, tetapi mereka tidak menetap di satu tempat melainkan berpindah-pindah secara musiman. Di wilayah padang gurun memang ada pertapaan dan orang perkotaan sekali-sekali datang untuk "nyepi" atau minta berkah orang suci seperti Yohanes Pembaptis. Di mana orang "miskin" tinggal? Tempat mereka meneduh biasanya di luar pintu gerbang kota, tetapi tidak di suburbia kota itu. Mereka biasa meminta sedekah di jalanan dari mereka yang keluar masuk kota. Bersama dengan penderita kusta, orang buta, orang miskin tinggal di luar kedua wilayah hunian itu. Mereka betul-betul kaum marginal, tak masuk hitungan. Para murid dari generasi kedua yang memang orang kota dan suburbia makin peka akan keadaan mereka yang terpinggir ini dan berbuat banyak untuk mengentas mereka dari kemelaratan. Dalam hal ini terasa paling jelas kesadaran kalangan murid yang dikenal Lukas.

Marta dikenang para murid generasi kedua sebagai perempuan terpandang yang rumahnya pernah menjadi tempat singgah Yesus bersama murid-muridnya dalam perjalanan menuju Yerusalem. Memang tak sedikit perempuan yang "melayani rombongan Yesus dengan harta mereka" (Luk 8:3 lihat juga Luk 4:39; Mrk 15:40-41). Dan kedua bersaudara ini termasuk kelompok penunjang seperti itu. (Maria saudara Marta itu bukan Maria Magdalena.) Di rumah itu Yesus tidak hanya singgah, ia juga sempat mengajar. Di situ ia diterima baik, tidak seperti di sebuah tempat di Samaria yang diceritakan sebelumnya dalam Luk 9:53-56.

DUA CARA MENERIMA KEDATANGAN YESUS

Tentu saja Marta bangga rumahnya disinggahi. Ia berusaha sebaik-baiknya melayani tetamunya. Terutama tamu yang satu ini. Tidak heran, ibu rumah tangga ini mulai sibuk menyiapkan ruang, perhelatan, apa saja yang pantas bagi kesempatan ini. Ia tidak ingin nanti dibicarakan orang bahwa jamuannya tak semeriah Bu Anu.... Kita bayangkan Marta ke sana ke mari mencicipi ini itu, menyuruh si ini si itu, agak mengomel kok begini begitu, ia pegang komando sore itu... Lha di mana Maria? Tuh, malah "duduk dekat kaki Yesus" ikut-ikutan mendengarkan uraian ilmu ketuhanan yang sedang dibeberkan Yesus kepada para bapak terhormat di ruang tamu! Bagaimana si Maria ini, pikir Marta. Di zaman itu memang tak biasa perempuan diterima menjadi murid ahli agama. Yesus ini nyleneh. Kok tidak merasa kurang enak kuliahnya ikut dihadiri perempuan. Marta makin kesal. Dan pada ayat 40 rasa jengkelnya itu sempat mendarat pada Yesus, "Tuhan, kok diam saja melihat saudaraku ini membiarkan aku sendirian keteteran melayani!" Tipe Marta itu masih dapat dilihat di sekitar kita, perempuan baik hati dan cekatan, meski ceplas-ceplos dan rada intimidating. Maria lain. Siapa yang lebih menerima Kabar Gembira? Tak perlu tergesa-gesa kita jawab.

Tentang Maria tidak banyak kata ditulis. Namun ia menjadi perhatian semua pihak: Marta yang kesal terhadapnya, Yesus yang akan mengatakan sesuatu tentangnya, dan orang banyak, dan homilist hari ini juga. Jangan lupa, juga perhatian Lukas penginjil! Maria perempuan yang berani dalam caranya sendiri, tak kalah dari Marta, ia nekat mendengarkan kuliah Yesus. Ia tak membiarkan diri dibatasi rambu-rambu tingkah laku bagi kaum perempuan waktu itu. Tapi ia tidak mencari-cari pembenaran teoretis. Mungkin juga bukan soal baginya. Tak terpikir olehnya teori emansipasi, apalagi wacana seputar konstruksi sosial gender. Perangainya tidak konfrontatif. Sekarang ia sedang asyik mendengarkan perkataan Yesus - "duduk dekat kaki Tuhan", seperti dibisikkan Lukas kepada pembacanya dalam ayat 39. Langsung sesudahnya, Lukas menulis "sedangkan Marta sibuk sekali melayani". Sikap mendengarkan ditaruh Lukas berjajar dengan kesibukan melayani. Ini bukan penilaian. Bukan juga untuk membuat kita memilih. Ia mengajak kita mengamat-amati serta menikmati peristiwa manusiawi itu dan belajar mengenal kemanusiaan sendiri.

MELACAK KISRUHNYA TEKS

Bukan maksud Lukas memperlawankan kerohanian kontemplatif dan spiritualitas aktif. Tidak juga seperti Yesuit yang getol menyarankan sintesis antara keduanya dalam ujud "contemplatio in actione". Lukas lebih apa adanya, lebih lugu. Tapi juga lebih lembut. Ia memperlihatkan, di dalam perjalanan ke salib, ke Yerusalem ini, ada orang-orang yang menyambutnya secara khusus tapi dengan cara mereka masing-masing.

Pada akhir episode itu Yesus mengatakan Maria sudah memilih "bagian terbaik" yang tak akan diambil darinya. Apa itu? Mendengarkan Tuhan? Agar supaya tidak terlalu cepat meloncat ke tafsiran seperti itu, baiklah diketahui bahwa paling sedikit ada lima versi teks pada ayat yang memuat "bagian terbaik" tadi. Ini menunjukkan saratnya upaya penafsiran dari zaman dulu: (1) Marta, Marta, Maria telah memilih bagian terbaik... (2) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, Maria telah memilih bagian terbaik.... (3) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya beberapa saja yang perlu; Maria telah memilih bagian terbaik.... (4) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian terbaik.... (5) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya beberapa saja yang perlu atau malah hanya satu saja; Maria telah memilih bagian terbaik....

Jelas (5) itu hasil gabungan (3) dan (4), dan masing-masing dari (3) dan (4) itu berisi tafsiran tentang apa yang dimaksud dengan tak usah banyak repot dalam (2). Teks (1) boleh jadi telah kehilangan "engkau khawatir...dengan banyak hal" yang memuat amatan Yesus mengenai Marta. Mana yang benar? Teks Lembaga Alkitab Indonesia, memilih (4), mengikuti pemakaian teks utama dalam liturgi. Tradisi ini memang sepatutnya dihargai. Mari kita coba mengerti alam pikiran pengarangnya sendiri.

"MEMILIH YANG TERBAIK"

Luc kemarin datang ngobrol ke rumah saya. Beberapa minggu ini memang ia tak kelihatan. Maklum baru saja ia kembali dari menengok kampung halamannya. Dibawanya oleh-oleh sebesek kunafa, penganan nyamikan Timur Tengah bermadu, kenyal-kenyal kemripik berisi kacang pistacchio gepuk. Di sore musim panas itu kami mulai bicara ke sana ke mari mengenai orang-orang zaman dulu, termasuk kedua bersaudara Marta dan Maria.

GUS: Marta masuk lagi ke ruang tamu, bangga, membawa penampan dengan tambahan kunafa dan heran melihat minumannya kok ternyata belum dihidangkan. Tadi Maria kan sudah dipesan menyuguhkan teh, lha nyatanya tetap duduk terpaku di bagian depan kumpulan itu Maka Marta minta Yesus membangunkan Maria dari lamunannya supaya mengambilkan minuman. Marta sendiri masih akan menyiapkan tumpeng kus-kus.

LUC: Imaginatif! Apa akan terbit di jurnal penulisan kreatif?

GUS: [Dapat angin.] Mengenai "satu saja yang perlu" yang dikatakan Yesus, gimana juntrungnya? Apa maksudnya satu macam saja suguhannya sudah cukup, tak usah banyak-banyak. Kunafa cukup, tak usah tambah kueh amandel baklava. Atau Yesus sebenarnya mau bilang, ala kadarnya saja, tak usah macam-macam?

LUC: [Kelihatan geli, lalu menambah.] Maria memang barusan memberi Yesus seiris kunafa yang betul-betul dipilihnya sebagai potongan "yang terbaik". Kubayangkan Yesus memaksudkan, "Sudahlah, Marta, kan Maria memilihkan [sepotong kunafa] yang terbaik yang kau suguhkan tadi dan memberikan padaku dengan senyum. Kunafa buatanmu rasanya jadi tambah manis! Sudah kucicipi, takkan diambil orang lain - tuh piringnya masih dipegangkan Maria!"

Luc meraih cangkir dan menghirup teh hibiscus hangat kegemarannya, lalu mendesis puas. Terhenyak saya oleh humornya yang enteng tapi padat berisi itu. Eksegese kunafa! "Yang terbaik" itu memang hasil olahan Marta tapi dipilih dan disampaikan oleh Maria. Dan tanpa memandang perangai masing-masing, Yesus menerima kebaikan mereka berdua. Kunafa atau apa saya "yang satu yang perlu" (ayat 42) itu sekadar tanda mereka bertiga saling memperkenalkan diri masing-masing. Yesus tidak minta agar lebih didengarkan. Ia sudah senang rombongannya diterima dengan ramah. Pemberian apa saja dapat membuatnya puas.

Sampai larut malam kami ngobrol di kebun Biblicum. Setelah mengantar Luc sampai ke gerbang, terlintaslah di benak saya, malam itu, di Betania Yesus dan murid-muridnya sempat mendapatkan tempat menaruh kepala untuk beristirahat, hal yang sebenarnya sudah tak mereka harapkan lagi (lihat Luk 9:58; Mat 8:20). Kebaikan dua perempuan bersaudara itu membuat orang yang berjalan menuju ke Yerusalem itu bisa sekadar menarik nafas. Satu saja yang perlu, yang terbaik, kunafa hasil jerih payah Marta yang dihidangkan oleh Maria dengan senyum.


Salam hangat,

A. Gianto

------------------------------------------------------------------


TAMBAHAN ttg. kyrios -kyrie (Luk 10:39 dan 40)


Rekan-rekan,

Berikut ini sekadar penjelasan tambahan mengenai pemakaian kata "Tuhan" dalam kisah Marta dan Maria ( (Luk 10:38-42) yang dibacakan Minggu 22 Jul 07 dan khusus tentang terjadinya kata itu dalam bahasa Indonesia.

1. Dalam Luk 10:39 disebutkan bahwa Maria "duduk di dekat kaki Tuhan". Ungkapan ini mengandung arti harfiah Maria bersimpuh dekat tempat Yesus duduk mengajar, tapi sekaligus juga berarti yang bersangkutan ialah murid, bukan pendengar sesaat. Memang pada zaman itu di masyarakat Yahudi perempuan diterima sebagai murid oleh seorang ulama waktu itu. Tetapi perlu diingat kisah ini berkembang di kalangan Lukas, yakni kalangan para pengikut Yesus yang lebih merdeka, tidak amat terikat oleh kebiasaan dan adat orang Yahudi. Di kalangan itulah justru banyak murid dari kalangan perempuan. Ini terjadi dengan kalangan yang dikunjungi Paulus dalam perjalanannya. Bahkan pengurus komunitas di Korintus ialah Bu Priskila (istri Bang Aquilla), seorang pebisnis perempuan mandiri (berani pakai nama sendiri, tidak nunut nama suami) yang juga dikenal di Roma waktu itu. Ada beberapa tokoh seperti ini di tempat lain juga.


2. Pokok lain yang menarik dan dapat membantu lebih memahami Injil pada umumnya ialah penyebutan Yesus sebagai "Tuhan" seperti dalam ayat itu, walaupun jelas yang sedang diceritakan ialah tokoh Yesus orang Nazaret, guru dan penyembuh tenar yang akhirnya bernasib tragis di Yerusalem. Ini bukan perkara terjemahan. Aslinya ialah kata Yunani "kyrios", bisa dialihbahasakan sebagai "tuan" tapi juga sebagai "Tuhan". (Atau bila dipakai sebagai sapaan, seperti oleh Marta dalam Luk 10:40, menurut tatabahasa Yunani bentuknya ialah "kyrie!", yakni "tuan!" tapi bisa pula "Tuhan!"). Mana cara yang tepat untuk memahami? Baiklah diingat bahwa kisah ini (juga seluruh Injil) baru muncul di kalangan umat paling tiga puluh tahunan setelah Yesus disalibkan sebagai pewartaan bagi generasi kedua kalangan murid. Ketika itu sudah mantap warta dan kesadaran di kalangan umat bahwa:

(a) Yesus itu ialah "Dia yang Terurapi" (Kristus/Mesias), yang resmi datang dari Allah sendiri.
(b) Dia telah bangkit pada hari ketiga setelah dimakamkan mengikuti penyalibannya d bawah pemerintahan Ponsius Pilatus.
(c) Ia bukan saja guru dan penyembuh tenar dari Nazaret yang mengajarkan bahwa Yang Mahakuasa itu bisa dialami dan dipanggil sebagai Bapa. Yesus Kristus itu sendiri kini diimani sebagai yang ada bersama dekat dengan Bapa yang tadi diajarkannya kepada orang banyak. Ini terungkap dengan penyebutannya sebagai "Putra". Dan kedekatan dengan Bapa ini jaminan bahwa pengajaran tadi itu benar.

3. Oleh karena itu, dalam kesadaran umat, Yesus yang bangkit itu kini dialami sebagai Tuhan yang memperkenalkan bukan saja dengan ajaran dan tindakan siapa Bapanya itu, melainkan yang bisa menghadirkanNya dalam dirinya - dalam kehadiran yang khusus di tengah umat yang mengingatnya. Dan inilah perspektif yang ditampilkan penulis Injil kepada pembacanya. Kata "kyrios" yang dipakai merujuk Yesus dalam Injil mengacu pada Yesus dari Nazaret ("tuan") dan sekaligus Kristus Iman ("Tuhan") seperti dijelaskan tadi. Berarti Injil menampilkan Yesus sejarah dan sekaligus mempersaksikan bahwa ia itu ialah Tuhan orang beriman yang mengakui dia sebagai Kristus. Ini kunci memahami kisah-kisah Injili.


4. Megenai asal usul kata "Tuhan" dan "tuan" khusus dalam bahasa Indonesia:

(a) Kata "Tuhan" sebenarnya muncul sebagai ucapan hiperkorek (jadi "keliru") dari huruf H dalam T-W-H-N, satu bentuk penulisan yang kurang lazim dari kata "tuan" dalam ejaan Arab Melayu. Penulisan yang sesuai dengan kaidah ialah T-W-N. (Huruf W di situ mewakili bunyi [u] dalam silaba pra-akhir yang terbuka; ini kaidah standard.) Huruf H dalam T-W-H-N itu sebetulnya upaya dalam penulisan pra-standard untuk mereproduksi bunyi [h] lemah yang masih terdengar di antara sukukata [tu] dan [an]. (Bandingkan dengan ucapan "bahasa" yang sebenarnya ucapan hiperkorek dari "basa"; juga "baharu" -"baru".) Ucapan hiperkorek [tu-han] dengan [h] beraspirasi keras itu kemudian dipakai khusus untuk menyebut Tuhan dan selanjutnya makindikembangkan pemakaiannya di kalangan Kristen dan masuk dalam kosakata umum bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Demikianlah kata "Tuhan" menjadi kata tersendiri, makin terpisah dari kata "tuan". Dalam bahasa Jawa diversifikasi leksikal seperti ini hanya terjadi lewat perbedaan huruf kecil-huruf kapital, ucapannya sama: gusti-Gusti, jadi seperti banyak bahasa lain yang kita kenal.
(b) Dari segi etimologi, kata "tuan" dibentuk dari "tua" dan "-an" dengan penyederhanaan ucapan [a-a]. Imbuhan -an pada kata sifat kerap menghasilkan kata benda dengan arti 'yang seperti...'. Jadi "tuan" secara etimologis berarti yang mirip dengan kaum tua, karena memang yang bersangkutan tidak selalu benar-benar tua usia, tetapi kedudukan, derajat serta kehormatannya seperti para tetua. Bentukan "tuan" sudah membatu sehingga tak diingat lagi bahwa asalnya dari kata "tua". Dalam bahasa Indonesia sekarang bentukan semacam masih kelihatan dalam kata "manisan" (nyamikan yang rasanya manis dan asam seperti manisan asem dan manisan salak), "kuningan" (logam yang warna idealnya "kuning" walaupun lebih sering tampak coklat kusam seperti kran wastafel pasturan yang jarang digosok Brasso). Dengan kata dasar lain, bentukan dengan -an memiliki makna lain, yakni yang di- seperti dalam "ringkas-an", "curi-an". Bandingkan juga bentukan gaya Jakarta "tua-an" dikit, "besar-an dikit" yang punya makna "lebih ..." ).
(c) Kata "tuan" dapat dipakai sebagai kata sapaan dan kata ganti orang kedua dalam ragam sopan gaya lama: "Ya tuan (=sapaan), sekiranya tuan (=kata ganti orang kedua) berkenan datang ke pondok hamba,...." Selain itu, dalam arti 'yang seperti orang tua, terhormat, berwibawa, dst.' kata "tuan" juga dapat dipakai sebagai sebutan honorifik seperti "Tuan/Tn." Zainal dst. Berlawanan dengan itu, bentukan leksikal yang relatif baru, yakni "Tuhan" tidak (belum?) dapat dipakai sebagai sebutan honorifik seperti itu; tak ada *Tuhan Baal walaupun sebagai kata sapaan sudah dipakai: " Di manakah Engkau, ya Tuhan?" Kata "Tuhan" juga tidak dipakai sebagai kata ganti orang kedua sekalipun acuannya ialah Tuhan sendiri.

Mudah-mudahan catatan ekesege dan linguistik di atas bermanfaat.


Salam hangat,

A. Gianto



Bagikan