Selasa, 02 November 2010 Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Selasa, 02 November 2010
Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia --- Mzm 118:8

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa, asal dan tujuan semua yang hidup,hari ini bersama semua umat beriman, dan bersama orang-orang yang kami kasihi, dan sudah mendahului kami, kami nyatakan iman kami akan kebangkitan. Hanya dalam Yesuslah, kami menemukan hidup sejati. Hanya dengan bantuan-Nya, kami tahan dalam gelap dan derita, karena percaya akan mampu mengalahkan segala kuasa jahat untuk akhirnya hidup abadi dalam kebangkitan. Sebab Dialah Tuhan pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kedua Makabe (12:43-46)

"Kami yakin bahwa orang yang meninggal dengan saleh akan menerima pahala yang indah."

Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS 843
Ref. Jiwaku, haus, pada-Mu Tuhan, ingin melihat wajah Allah.
Ayat. (Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9; R:2b)
1. Ya Allah Engkaulah Allahku, kucari cari dan kudambakan Engkau jiwaku menghauskan Tuhanku laksana gurun gersang, tandus tanpa air.
2. Semoga hamba boleh memandang Tuhanku melihat kemuliaan-Mu yang besar Cinta-Mu lebih berharga daripada hidup hendaknya mulutku memuji-Mu.
3. Demikianlah sepanjang hidupku aku hendak menghormati Engkau. Jiwaku dikenyangkan dengan lemak dan sumsum, aku bersorak-sorai dan memuji-muji.
4. Jiwaku melekat pada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Sungguh Engkau melulu yang menolongku dan di bawah sayap-Mu sentosalah aku.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 15:12-34)

"Andaikata Kristus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaan kita."


Saudara-saudara, jika kami wartakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus?padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? Dan kami juga?mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. "Akulah yang memberi hidup dan membangkitkan orang mati, Orang yang percaya kepada-Ku akan hidup, walaupun sudah mati."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:37-40)

"Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak beroleh hidup yang kekal."

Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, "Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Saudara-saudari satu harapan, iman dan kasih,


Tanggal 1 November kemarin, Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus.
Dan siapakah orang kudus itu? Tentunya tidak hanya orang-orang yang sudah ditetapkan atau dikanonkan sebagi Kudus oleh Paus, tetapi banyak orang lain yang telah membuktikan kesetiaan imannya dalam praktek hidupnya. Mereka itu bisa anggota keluarga kita sendiri. Kita bersyukur bahwa putra-putri Gereja telah menjadi kembang-kembang yang selama hidupnya telah menjadi keharuman bagi umat manusia, bagi Gereja dan juga telah menyatakan kemuliaan Allah sendiri selama hidupnya. Dari mereka kita mendapatkan keteladanan hidup, dari mereka pula kita bisa memohon bantuan doa untuk kita, karena mereka telah berbahagia di surga, turut memerintah bersama Kristus untuk kebaikan dunia ini.

Hari ini kita memperingati arwah semua orang beriman. Kita kenang mereka karena mereka pernah menjadi bagian dalam hidup atau berjasa bagi kita. Kita kenangkan mereka untuk kita doakan dengan cinta. Kita hadirkan mereka agar hidupnya abadi di surga dan kebaikan serta kebajikannya hidup terus di hati kita, dan dosa-dosa selama hidupnya diampuni Allah.

Bantuan yang kita berikan untuk keselamatan kekal bagi yang telah meninggal adalah dengan berbuat silih. Silih itu bisa dengan mendoakan mereka, bisa pula dengan berbuat amal kasih bagi orang-orang yang membutuhkan amalan dan kasih kita demi mereka yang telah meninggal; agar mereka beristirahat dalam damai. (RIP: Requescat In Pace).

Lewat perayaan para kudus dan peringatan arwah semua orang beriman dua hari ini, kita diingatkan kembali akan arah dan tujuan hidup kita yang masih hidup ini. Kita punya harapan dengan permandian dan menjadi pengikut Kristus adalah agar kitapun akhirnya masuk dalam kalangan para kudus, yang mendoakan dan bukan didoakan.

Kita diingatkan kembali akan harga dan martabat hidup manusia, yang mana Allah sendiri karena kasih-Nya yang begitu besar, mengutus Kristus, Putera-Nya sendiri, agar di dalam dan melalui Dia, kita, manusia tidak dihukum tetapi beroleh kehidupan yang kekal. Maka yang tidak memilih Dia akan selalu berada dalam hukuman karena mengikuti kemauannya sendiri dan kemauan dunia ini, yang ujung-ujungnya adalah kehampaan makna hidup. Hidup ini, baik suka maupun duka, tanpa bisa memaknainya, nestapalah jadinya.

Mari kita eratkan lagi persatuan kita dengan Kristus, sumber hidup dan keselamatan kita, kita teladani orang-orang kudus yang telah memberi contoh yang baik selama hidupnya, dan kita doakan mereka yang kita tahu karena dosa-dosa selama hidupnya agar berbahagia dalam keabadian. Mari kita terus tekun dan setia berdoa sebelum kita didoakan.

Dasar Kitab Suci dan Ajaran Gereja Katolik:
Pandangan Kitab Perjanjian Baru tentang dunia orang mati dan neraka mirip dengan pandangan Kitab Perjanjian Lama. Arwah orang-orang beriman berada di dunia orang mati, menantikan kebangkitan (1 Tes 4). Sementara itu, arwah orang-orang jahat berada di neraka (Luk 16), yang penuh dengan ulat dan api (Mrk 9; Mat 5), tangisan dan kertak gigi (Mat 13). Allah sendirilah yang mengirim arwah orang-orang jahat itu ke sana, sebagai hukuman yang setimpal dengan kejahatan mereka, sebab Allah itu juga hakim yang adil, bukan hanya Bapa yang murah hati (Mat 13; 25).

Dalam kitab Makabe terungkaplah suatu keyakinan, bahwa arwah orang-orang beriman masih dapat didoakan, supaya dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah (2 Mak 12). Karena itu, sejak awal abad ke-2, umat kristen biasa berdoa untuk arwah orang-orang beriman yang telah meninggal, memohonkan pengampunan atas dosa-dosa mereka, agar arwah-arwah itu kemudian berbahagia di sorga. Selain itu, mereka juga sudah mengakui dengan tegas, dalam Syahadat Iman yang paling kuno, bahwa kelak tubuh orang-orang yang telah meninggal akan dibangkitkan.

Dalam konsili di Lyons, pada tahun 1274, pimpinan Gereja menegaskan bahwa arwah orang-orang beriman, yang masih harus menanggung hukuman dosa, dimurnikan lebih dulu oleh Allah sebelum diijinkan masuk sorga. Juga ditegaskan bahwa hukuman mereka itu dapat diringankan oleh orang-orang beriman yang masih hidup di dunia ini, misalnya dengan perayaan Ekaristi, doa-doa, derma, dan amal kasih.

Pada pertengahan abad ke-16, beberapa perintis Gereja reformasi meragukan kebenaran ajaran Katolik tentang masa penantian bagi arwah orang-orang mati. Maka, dalam konsili di Trente pada tahun 1563, para pemimpin Gereja Katolik menegaskan kembali ajaran Katolik tentang masa penantian itu.


Salam dan berkat Tuhan,
Pastor Petrus Mujiono, SCJ.


Renungan Injil Peringatan Arwah Semua Orang Beriman: Selasa, 02 November 2010

Renungan

Rekan-rekan!
Berikut ini sekadar ulasan mengenai ketiga petikan Injil yang lazim dibacakan dalam peringatan arwah semua orang beriman 2 November, yakni Yoh 6:37-40, Mat 25:31-46, dan Mat 5:1-12a. (Luk 23:33.39-43, yang bisa juga dibacakan pada hari ini, dibicarakan dalam ulasan Injil Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam tahun C.) Mari kita mulai dengan sekadar omong-omong dengan Yohanes sambil mengintip sanggar Matius.

MELIHAT TUHAN DALAM DIRI YESUS

Yoh 6:37-40 tampil sebagai kelanjutan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang (Yoh 6:1-14). Orang-orang itu sedemikian bergairah dan bermaksud menjadikannya raja. Karena itu, Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6:15). Pada malam harinya, dalam perjalanan di perahu ke Kapernaum, murid-murid mengalami prahara dan pada saat gawat ini mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Mereka yang ketakutan karena prahara itu ditenangkan hatinya oleh Yesus yang selanjutnya menyertai perjalanan mereka dengan perahu sampai ke tujuan (Yoh 6:16-21). Keesokan harinya orang banyak menyusul ke Kapernaum (Yoh 6:22-24). Di situ Yesus mengajar mereka agar mengharapkan roti kehidupan yang dibawakan Anak Manusia (Yoh 6:27). Orang-orang minta agar mendapat roti yang memberi hidup kepada dunia ini (Yoh 6:34). Jawaban Yesus terdapat dalam petikan Yoh 6:37-40 yang intinya demikian: hendaknya mereka berusaha mengenal siapa Yesus sebenarnya dan tidak melamunkan yang bu*kan-bukan. Siapa dia sesungguhnya dan apa yang dibawakannya dapat dijelaskan dengan memahami isi ayat 40: Yesus datang sebagai utusan Tuhan yang paling tepercaya untuk memperkenalkan-Nya kepada semua orang dan mewartakan kehendak-Nya, yakni agar semua orang yang mempercayai Tuhan yang tampak dalam diri Yesus nanti mendapat hidup kekal. Tuhan sendiri menghendaki agar Yesus membangkitkan mereka nanti pada akhir zaman.

OMONG-OMONG DENGAN YOHANES

TANYA: Anda makin misterius ketika menceritakan Yesus berkata tentang dirinya sendiri "Barang*siapa melihat Anak dan mempercayainya akan beroleh hidup kekal".

YOHANES: Aku sebenarnya cuma mengikuti cara Yesus berbicara. Gagasan anak dan bapak itu dipakainya untuk mengungkapkan keakraban yang amat dalam dengan Tuhan. Jangan dikira Yesus mengklaim status kehormatan bagi diri sendiri.

TANYA: Lalu, tentang "mempercayainya", apa yang dimaksud?

YOHANES: Kalau ingat cara berpikir kami orang Semit, mempercayai dia maksudnya menerimanya dan merasa mantap dan tidak mempersoalkan tetek bengek lain dalam hubungan selanjutnya. Dia sendiri rupanya juga sudah menerima kami apa adanya dan tidak bertanya-tanya lagi. Jadi ada kecocokan, begitulah.

TANYA: Lalu, mengapa kemantapan itu kok tiba-tiba Anda hubungkan dengan hidup kekal?

YOHANES: Begini, pada saat tertentu dalam hidup ini, orang mulai berpikir dan mau tahu apa nanti sesudah meninggal semuanya ya habis begitu saja. Lha, apa ada kelanjutannya. Kalau ada, siapa yang mengurus? Apa hidup kelak itu memberi kebahagiaan atau malah membuat repot? Orang-orang pandai Perjanjian Lama mati-matian mencoba menemukan jawaban. Mereka tidak seberuntung kalian yang tinggal kutip Perjanjian Baru sana sini, beri garis bawah di sini di situ, buka ensiklopedi teologi ini itu. Orang dulu tidak tahu ada apa setelah hidup ini. Hati belum tenang sebelum mendengar sesuatu yang pasti dan yang membuat hati mantap. Katakan saja, pertanyaan itu mengusik batin siang malam. Nikodemus yang mahaguru ilmu agama itu bahkan tidak bisa tidur memikirkan perkara itu dan malam-malam datang mengetuk pintu Yesus. Itu kuceritakan dalam bab tiga, tapi eh, tadi kita sedang omong tentang apa ya?

TANYA: Kembali ke pembicaraan tentang hidup kekal, apakah ayat 40 dimaksud untuk menghibur orang yang terusik batinnya?

YOHANES: Benar! Itu amatan yang jitu, dan tolong, sampaikan hal itu kepada rekan-rekan. Ya, ya, ayat itu memuat penghiburan, bukan pemberitahuan tok.

TANYA: Apa kata-kata Yesus "aku akan membangkitkan**nya pada akhir zaman nanti" penghiburan bagi kita dan bagi mereka yang kita peringati itu?

YOHANES: Setuju. Boleh kutambah sedikit? Setelah Yesus mengatakan "Inilah kehendak Bapaku", ada dua kalimat yang menjelaskan apa kehendak Bapanya itu. Yang pertama tentang melihat Tuhan dalam diri Yesus yang sudah kita bicarakan di atas. Yang kedua tentang Yesus yang mem*bangkitkan orang pada akhir zaman. Kalimat kedua ini sering dimengerti sebagai janji Yesus membangkitkan orang, seperti tersirat dalam terjemahan Latin. Ini bukan maksud kalimat aslinya. Maksud aslinya begini: "[Bapaku juga menginginkan] agar aku membangkitkan [orang yang percaya] ...." Jadi, terjemahan LAI lebih baik daripada versi Latin dan versi lain yang memberi kesan seolah-olah Yesus mengucapkan janji. Tuhan mengutus Yesus juga dengan maksud agar ia mengajak orang ikut serta di dalam hidup kekal yang sudah diperolehnya itu. Maka itu, orang-orang beriman yang kalian peringati niscaya berbagi kehidupan kekal dengan Tuhan sendiri. Itu kehendak-Nya. Itu penghiburan bagi semua orang.

PENGHAKIMAN TERAKHIR: Mat 25:31-46

Matius menayangkan ajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam gambaran yang dapat menyapa perhatian banyak orang. Di situ orang baik akan mendapat pahala dan orang yang tidak berbuat baik terhukum dengan sendirinya. Ayat 35-36 menegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Guna mendalaminya baiklah diperiksa konteks dalam Injil Matius sendiri.

Pembicaraan mengenai Penghakiman Terakhir ini ditaruh dalam rangkaian "khotbah" Yesus mengenai akhir zaman dalam Mat 24-25. Tanda-tandanya dijelaskan dalam Mat 24:1-28 sebagai hilangnya rasa terjamin beragama (dilambangkan dengan keruntuhan Bait Allah), merajalelanya penderitan, tiadanya damai, munculnya banyak Mesias palsu. Kemudian sikap yang sepatutnya dipegang dirincikan dalam Mat 24:29-51 sebagai sikap mewaspadai gelagat dan tetap berjaga-jaga.

Uraian mengenai Penghakiman Terakhir didahului dua perumpamaan. Yang pertama, Mat 25:1-13, perumpamaan lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana. Maksudnya agar orang mengambil sikap seperti gadis yang bijaksana yang berbekal barang yang bakal diperlukan, bukan hanya maksud baik saja. Orang diimbau memakai akal sehat dan meninggalkan sikap nekad-nekadan saja. Yang kedua, Mat 25:13-30, perumpamaan tentang talenta. Digambarkan di situ bahwa kelirulah beranggapan bahwa Tuhan itu njlimet memperhitungkan sampai barang terkecil pun. Yang benar, Dia itu Tuhan yang menghargai upaya manusia. Ia itu Tuhan yang membiarkan diri diperkaya dan diperhatikan. Dan bila terjadi, Ia akan berbagi kelimpahan dengan manusia.

Kedua pokok di atas memanusiakan gambaran Penghakiman Terakhir. Diajarkan bagaimana orang bisa tahu bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan ukuran masuk surga atau masuk neraka. Kebijaksanaan dan akal sehat menjadi penuntun yang baik ke arah pertanggungjawaban terakhir nanti. Kita juga diajak agar nanti bisa mengatakan kita juga telah memperkaya Tuhan dan telah berbuat baik kepada-Nya.

Matius tidak bermaksud memberi kursus kilat naik ke surga atau mengajarkan rambu-rambu menjauhi neraka. Warta petikan Matius mengenai Penghakiman Terakhir sebaiknya dibaca bersama dengan warta tentang Tuhan yang mengajak orang ikut makmur dan ikut dalam kegembiraan pesta pernikahan. Matius mengimbau agar orang menyadari bahwa pengalaman sehari-hari bisa membawa orang makin peka melihat kapan, di mana, dalam wujud apa akhir zaman muncul dan oleh karenanya bisa mengambil sikap yang cocok. Memperingati orang yang sudah mendahului berarti merayakan kebesaran Tuhan yang bermaksud baik.

SABDA BAHAGIA: Mat 5:1-12a

(Uraian lebih rinci tentang Sabda Bahagia dapat dilihat dalam ulasan Injil hari raja semua orang kudus 1 November 2007.) Petikan ini memuat delapan Sabda Bahagia yang dikenakan kepada semua orang (ay. 3-10) dan satu Sabda Bahagia yang khusus ditujukan kepada para murid (ay. 11) dan dilanjutkan dengan seruan agar para murid tetap bersuka cita (ay. 12a).

Dalam ayat 1-2 diceritakan ketika Yesus melihat orang banyak, ia naik ke bukit dan duduk untuk mulai mengajar para murid. Apa arti "mengajar" di sini? Bukan mengajar dalam arti menyuruh orang melakukan sesuatu atau memberi tambahan pengetahuan. Yesus mengajar agar pendengarnya makin memahami pengalaman rohani mereka sendiri, yakni pengalaman:

- Tidak memiliki tumpuan harapan apa pun selain Tuhan sendiri (ay. 3 "miskin"; ay. 4 "berduka cita"; ay. 5 "lemah lembut"),

- Ingin menjalankan kehendak Tuhan (ay. 6 "lapar dan haus akan hal yang lurus"; ay. 8 "berhati bersih"),

- Ingin semakin menghadirkan-Nya kepada sesama (ay. 7 "berbelaskasihan"; ay. 9 "pencinta damai"),

- Menderita dimusuhi kekuatan-kekuatan jahat (ay. 10 "dikejar-kejar karena bertindak lurus").

Pengalaman ini dapat dihayati semua orang yang memberi ruang pada kehadiran Yang Ilahi. Pengalaman ini juga melampaui batas-batas agama. Kemudian, secara khusus kepada murid-muridnya, Yesus menambahkan Sabda Bahagia ke sembilan, yakni yang menyangkut pengalaman dimusuhi orang karena menjadi muridnya (ay. 11). Hati mereka dibesarkan (ay. 12a "bersukacitalah karena besar pahalamu di surga").

Mereka yang mendalami ajaran itu akan makin mengenali liku-liku kehidupan rohani dan pergulatan di dalamnya. Hidup yang terarah kepada Yang Ilahi itu membawa kebahagiaan. Di situlah ditemukan makna "berbahagia".

Orang-orang yang mendahului kita kini sudah lebih dekat dengan Yang Ilahi. Mereka itu juga yang lebih memahami apa itu memiliki Kerajaan Surga dan hidup sebagai anak-anak Allah. Dalam arti ini, mereka itu menjadi jaminan masa depan kita juga.

Salam,
A. Gianto

Renungan Injil Hari Semua Orang Kudus: Senin, 01 November 2010

Renungan

Injil Hari Raya Semua Orang Kudus 1 November 2010 ini diangkat dari kumpulan "Sabda Bahagia" menurut Injil Matius (Mat 5:1-12a). Di situ didapati delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3-10) serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11) dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka tetap bersuka cita (ay. 12a). Di situ harapan tiap orang dilambungkan jauh-jauh ke depan tanpa meninggalkan kehidupan yang dialami sehari-hari. Disebutkan dalam ay. 1-2, ketika Yesus melihat orang banyak, ia naik ke bukit dan mengajar agar para pendengarnya semakin memahami diri mereka. Sabda Bahagia juga dapat membantu kita membaca pengalaman kita sekarang ini juga.

"BERBAHAGIALAH...!"

Tiga Sabda Bahagia (Mat 5:3-5) menegaskan bahwa orang dapat disebut berbahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya ialah Tuhan sendiri. Gagasan "miskin" dalam ay. 3 ialah kebersahajaan batin, oleh karenanya diberi penjelasan "di hadapan Allah". Dapat dicatat, penjelasan tambahan itu tidak terdapat di dalam Sabda Bahagia menurut Luk 6:20 karena yang ditekankan Lukas ialah orang yang betul-betul yang kekurangan secara material, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup yang kini diperhatikan oleh para pengikut Yesus yang bersedia berbagi keberuntungan dengan mereka. Kemudian ay. 4 menyebut berbahagia orang yang "berduka cita", maksudnya orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada di dekat kendati orang mengalami kesulitan. Termasuk di sini sikap tidak berpihak pada kekerasan yang terungkap dalam ay. 5 sebagai "lemah lembut".

Selanjutnya ada dua Sabda Bahagia (Mat 5: 6 dan 8) yang menyebut keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan, seperti terungkap dalam ay. 6 sebagai yang "lapar dan haus akan hal yang lurus" dan dalam ay. 8 sebagai yang "berhati bersih". Ungkapan terakhir ini dipetik dari gaya bahasa Ibrani (lihat misalnya Mzm 24:4) dan artinya ialah mampu berpikir secara jernih, berbudi jernih. Orang yang demikian ini tidak gampang dipengaruhi keinginan-keinginan yang menjauhkannya dari Tuhan. Jadi bukan sekedar ajaran agar menjauhi nafsu-nafsu yang biasanya disebut kotor.

Dua Sabda Bahagia yang lain (Mat 5: 7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan Tuhan kepada sesama menjadi kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan. Upaya ini ditegaskan dalam ay. 7 sebagai "berbelaskasihan" dan dalam ay. 9 sebagai "pencinta damai". Hasrat menghadirkan kebaikan Tuhan kepada orang lain ini karena orang sadar akan perlunya saling mendukung dan sikap pendamai.

Tidak disangkal adanya kesulitan, seperti jelas dari Mat 5:10-12. Orang yang nyata-nyata hidup dalam kerangka di atas sering menderita dimusuhi, seperti terungkap dalam ay. 10 "dikejar-kejar karena bertindak lurus". Kemudian secara khusus kepada murid-muridnya Yesus menambahkan Sabda Bahagia yang ke sembilan, yakni yang menyangkut pengalaman dimusuhi orang karena menjadi muridnya (ay. 11). Pengharapan mereka dibesarkan (ay. 12a "bersuka citalah karena besar pahalamu di surga").

Tiap pengalaman di atas dapat dihayati semua orang yang memberi ruang bagi Yang Ilahi. Dapat pula dikatakan pengalaman ini juga melampaui batas-batas agama. Mereka yang mendalami makna Sabda Bahagia dapat semakin mengenali liku-liku kehidupan rohani dan pergulatan di dalamnya. Hidup yang terarah kepada Yang Ilahi itu membawa kebahagiaan. Di situlah ditemukan makna "berbahagia".

SABDA BAHAGIA DALAM INJIL

Sabda Bahagia disampaikan Matius sebagai pembukaan khotbah panjang Yesus dalam Mat 5-7. Ada lima rangkaian khotbah seperti itu, yakni Mat 5-7 (Khotbah di Bukit); 10 (pedoman hidup bagi pewarta Kerajaan Surga); 13 (penjelasan mengenai Kerajaan Surga); 18 (pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama); 23-25 (uraian di Bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman). Di antara kumpulan yang satu dengan yang berikutnya ditaruh kisah mengenai tindakan Yesus, mukjizat dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan para murid.

Kelima kumpulan itu tersusun dengan cara yang unik. Yang terakhir berlatarkan pengajaran di bukit Zaitun. Latar ini mengingatkan pada kumpulan pertama yang berlatarkan sebuah bukit pula. Tentang ini akan dibicarakan lebih lanjut. Kemudian kumpulan keempat, yakni yang menyangkut kehidupan para murid, erat berhubungan dengan yang kedua, yakni pedoman hidup bagi para murid-murid Yesus yang akan meneruskan menjadi pewarta Kerajaan Surga. Kumpulan ketiga menyoroti Kerajaan Surga, warta paling pokok yang dibawakan Yesus. Penyusunan secara "konsentrik" seperti ini dapat menjadi pegangan mendalami masing-masing kumpulan itu. Demi mudahnya, kumpulan yang pertama (Mat 5-7) sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan apa kenyataannya yang penuh nanti pada akhir zaman (Mat 23-25). Dan dengan demikian para murid akan siap menghayati pedoman hidup secara orang-perorangan (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).

Upaya mendalami Sabda Bahagia sebagai pembukaan kumpulan yang pertama dapat menciptakan hubungan guru-murid dengan Yesus. Dan bila terjadi orang akan merasa tertuntun mendekat kepada kenyataan hadirnya Yang Ilahi di antara manusia juga. Hubungan ini akan mendekatkan orang pada kenyataan Kerajaan Surga di dunia dan kepenuhannya kelak di akhir zaman. Dengan demikian dapat juga menjadi pangkal berharap ikut menikmati kenyataan itu.

MENGAJAR DI SEBUAH BUKIT

Injil Matius ditulis bagi orang-orang yang mengenal akrab alam pikiran Perjanjian Lama. Intinya, yakni diturunkannya Taurat kepada Musa di Sinai. Bagi umat Perjanjian Lama, Taurat berisi ajaran kehidupan dalam bentuk pedoman, petunjuk, tatacara ibadat, hukum yang bila dijalani dengan jujur dan ikhlas akan membuat mereka menjadi dekat pada Tuhan dan menjadi umat yang dilindungiNya. Dengan latar inilah Matius mengisyaratkan kepada pembacanya bahwa Yesus kini menjalankan peran Musa. Yesus membawakan petunjuk, ajaran, kebijaksanaan yang bila dihayati akan membuat orang menjadi bagian dari umat yang baru pewaris Kerajaan Surga.

Memang ada beberapa perbedaan mencolok di antara penampilan Musa dan Yesus. Di Sinai dulu Musa sedemikian jauh. Awan meliputi pucuk gunung tempat Musa memperoleh Firman ilahi. Tak ada yang berani mendekat karena kebesaran ilahi sedemikian menggentarkan. Sekarang Yesus tampil sebagai tokoh yang dekat dengan orang banyak. Matius memang sengaja menampilkannya sebagai kenyataan dari "Tuhan menyertai kita" - Imanuel. Kini bukan lagi awan yang menggentarkan, melainkan kemanusiaan Yesus-lah yang menyelubungi kebesaran ilahi sehingga orang banyak dapat datang mendekat. Tempat pengajaran diturunkan tidak lagi digambarkan sebagai gunung yang tinggi yang hanya bisa didaki Musa sendirian. Bukit tempat menyampaikan pengajarannya terjangkau oleh orang banyak dan bahkan mereka dapat langsung mendengarkannya. Bagaimanapun juga, tetap ditegaskan, tempat yang mudah tercapai ini menjadi tempat keramat juga, seperti puncak Sinai dulu. Namun kekeramatan yang dekat - bukan yang sulit terjangkau.

Nanti menjelang akhir kehidupannya, Yesus masih memberi pengajaran kepada murid-muridnya di sebuah bukit pula, di bukit Zaitun. Kita boleh ingat akan Musa di gunung Nebo, memandang ke barat ke Tanah Terjanji. Ia sendiri tidak akan memasukinya. Yosua-lah yang akan memimpin umat ke sana. Peristiwa ini besar maknanya bagi pembaca Injil Matius. Nama Yesus dalam bentuk Ibraninya sama persis dengan nama Yosua penerus Musa tadi. Dengan demikian disarankan bahwa Yesus bakal memimpin orang banyak memasuki negeri baru yang dijanjikan, yakni Kerajaan Surga.

WARTA
Sabda Bahagia dalam Injil menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus, bukan mengajarkan hal-hal yang mesti dilakukan. Dengan perkataan lain, Sabda Bahagia itu sifatnya deskriptif, bukan preskriptif. Beberapa contoh lain dari Sabda Bahagia selain yang sedang dibicarakan ialah Mzm 1:1; 32:1-2; 144:15; Mat 11:6; 13:16; 16:17; Luk 6:20; 11:28; 12:37; Yoh 20:29; 1 Pet 4:14. Sabda Bahagia bukanlah kata-kata yang memiliki daya untuk mengadakan sesuatu, seperti "berkat", juga bukan serangkai resep hidup bahagia. Sabda Bahagia menunjukkan apa yang terjadi bila orang berada dalam keadaan yang digambarkan di situ. Pendengar diajak memikirkan lebih lanjut dan mengambil sikap-sikap baru. Dengan demikian Sabda Bahagia bukan mengajarkan "yang itu-itu" saja. Sabda itu tetap menyapa.

Sabda Bahagia sebaiknya juga dibaca dengan menengok ke depan, yakni ke pengajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31-46. Kedua bahan ini membingkai seluruh pengajaran Yesus. Kedua-duanya diberikan pada sebuah bukit. Kedua-duanya membicarakan siapa-siapa yang bakal memiliki Kerajaan Surga, yang dapat memasuki kebahagiaan kekal. Dalam Mat 25:35-36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Yesus memanusiakan gambaran Penghakiman Terakhir. Diajarkan bagaimana orang bisa mengerti bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan batu uji masuk surga. Kebijaksanaan dan akal sehat menjadi penuntun yang baik ke arah pertanggungjawaban terakhir nanti. Orang dihimbau sejak kini agar nanti bisa mengatakan kita juga telah memperkaya Tuhan dan telah berbuat baik kepada-Nya. Sabda Bahagia menggambarkan keadaan batin dan sikap hidup mereka yang nanti pada akhir zaman akan dapat mengatakan bahwa telah berbuat banyak bagi sesama. Dan Tuhan akan mengatakan itu semua dikerjakan bagi-Nya. Mereka yang demikian akan betul-betul dapat disebut "Berbahagia"! Dan mereka inilah orang-orang kudus yang dirayakan pada hari Minggu ini.


Salam hangat,
A. Gianto