Sabtu, 29 Januari 2011 Hari Biasa Pekan III

Sabtu, 29 Januari 2011
Hari Biasa Pekan III

BERCAKAP-CAKAP DENGAN YESUS

"Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma" --- Mat 10:8

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa, semoga Kristus tidak ditolak dunia, karena kekurangan kami yang menghadirkan-Nya dengan terlalu samar-samar. Semoga kami bersama Kristus, mempedulikan, melayani, serta mengilhami dunia ini, karena Roh Kristus yang hadir dalam diri kami, namun semoga kami sendiri tidak sampai terseret oleh roh duniawi. Kami percaya bahwa Engkau senantiasa menyertai dan membantu kami. Sebab Dialah Tuhan pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Imanlah yang menjadi sumber keselamatan. Sebab dalam iman, kita mengenal Allah yang telah menyediakan keselamatan bagi semua orang yang bertekun dalam kepercayaannya seperti Abraham. Allah akan selalu memelihara hidup orang yang percaya kepada-Nya.

Pembacaan dari surat kepada orang Ibrani (11:1-2.8-19)

"Abraham menantikan kota yang dirancang dan dibangun oleh Allah sendiri."

Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Antar Bacaan
Ref. Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia telah mengunjungi dan membebaskan umat-Nya.
Ayat. (Lukas 2:69-70.71-72.73-75; R:68)
1. Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa, putera Daud, hamba-Nya. Seperti dijanjikan-Nya dari sediakala, dengan perantaraan para nabi-Nya yang kudus.
2. Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua lawan yang membenci kita. Untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada leluhur kita dan mengindahkan perjanjian-Nya yang kudus.
3. Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita, akan membebaskan kita dari tangan musuh. Agar kita dapat mengabdi kepada-Nya tanpa takut dan berlaku kudus dan jujur di hadapan-Nya seumur hidup.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 13:16)
Demikian besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.

Allah selalu menyertai kita dalam segala waktu dan tempat. Namun kita tidak mampu melihat-Nya karena kita kurang percaya. Dia akan selalu memberikan pertolongan pada waktu yang tepat.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:35-41)

"Angin dan danau pun taat kepada Yesus."

35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." 36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" 39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" 41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

BELAKANGAN ini aku bisnis kecil-kecilan. Suatu hari ada pesanan dalam jumlah besar, dan modalku tak cukup. Akhirnya, aku nekat meminjam uang kenalanku dan kuhabiskan semua untuk membeli bahan-bahan tersebut. Ternyata pada harinya, pesanan itu batal. Astaga! Bagaimana ini? Tak mngkin kujual habis dalam waktu singkat begitu banyak barang yang sudah terlanjur kubeli. Padahal, 2 hari lagi aku harus membayar hutang. Pada harinya, kenalanku menagih, dan aku minta waktu 2 hari lagi. Dua hari kemudian, dia menagih lagi, dan aku minta undur lagi. Begitulah aku terus minta undur, sampai suatu hari yang datang adalah beberapa preman yang menghadangku di jalan. "Ayo bayar hutangmu!" Aku hanya bisa menggeleng pucat, dan terjadilah, mereka mengeroyokku. Sekujur tubuhku terasa sakit dan mataku gelap, pingsan seketika. Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Dalam samar kupandang wajah ayahku yang kebapakan menatapku cemas, "Mengapa selama ini kau tak pernah cerita kepada Ayah, Nak?" tanya ayah sedih. Baru kusadari ini aku menganggap seolah ayahku tak ada. Padahal, aku tak pernah berkekurangan, ayahku selalu sanggup mencukupiku. Baru kurasakan betapa ia sangat mengasihiku sebenarnya, dan menantiku mau datang kepadanya sebagai seorang anak yang membutuhkan ayahnya. Aku hanya bisa terdiam dengan mata yang sudah basah.

Cobalah bayangkan, jika para murid mengajak Yesus bercakap-cakap tentu Yesus tidak akan tertidur di perahu bukan? Acapkali kita juga mendiamkan Yesus dalam hidup kita. Kita biarkan Ia tertidur di pojok hati kita dan kita mulai panik dan ingat pada-Nya setelah badai kehidupan menggoncang kita.

Semoga mulai saat ini kita selalu berkomunikasi dengan Yesus. Bersyukur kepada-Nya, mengeluh kepada-Nya, meminta kepada-Nya, sehingga hidup kita menjadi sebuah doa yang tak kunjung putus, sebuah percakapan kecil antara jiwa kita dengan Yesus. Dengan begitu, perlahan-lahan iman kita akan bertumbuh karena kita tahu bahwa yang menjadi dasar segala pengharapan kita adalah Dia yang sungguh dapat kita percayai!

Ajarku untuk selalu hidup di hadirat-Mu, ya Allah. Amin.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Harian