Minggu, 06 Maret 2011 Hari Minggu Biasa IX

Minggu, 06 Maret 2011
Hari Minggu Biasa IX

Mendengar perkataan-Ku dan melakukannya

Antifon Pembuka

Arahkanlah wajah-Mu kepadaku dan kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab aku sebatang kara dan malang. Perhatikanlah sengsara dan kesukaranku, hapuskanlah segala kesesatanku.

Doa Renungan

Allah, yang agung dan perkasa, kami bersyukur kepada-Mu karena boleh bernaung di bawah lindungan-Mu. Sudilah mengarahkan pikiran dan hati kami kepada sabda yang hendak diwartakan di tengah-tengah kami. Semoga kami benar-benar terbuka mendengarkan sabda-Mu itu lalu tekun melaksanakannya pula. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, yang bersama Engkau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Ulangan (11:18.26-28.32)

"Hari ini aku menghadapkan kepadamu berkat dan kutuk."

Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Lihatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal. Maka haruslah kamu melakukan dengan setia segala ketetapan dan peraturan yang kupaparkan kepadamu hari ini."
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 2/4, PS 847
Ref. Tuhan penjaga dan benteng perkasa dalam lindungan-Nya aman sentosa.
Ayat. (Mzm 31:2-3a.3bc-4.17+25; Ul: 3b)
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku!
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu, Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
3. Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua yang berharap kepada Tuhan.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (3:21-25a.28)

"Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat."


Saudara-saudara, tanpa hukum Taurat, kebenaran Allah ini telah dinyatakan, seperti disaksikan dalam Kitab Taurat dan kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada pembedaan. Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia Allah, semua telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pembenaran karena iman, dalam darah-Nya. Sebab kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya.

Ayat. (Yoh 15:5)
Aku inilah pokok anggur, kamulah rantingnya. Tinggallah beserta-Ku, maka aku tinggal beserta-Mu, dan kamu akan berbuah banyak.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:21-27)

"Rumah yang didirikan di atas wadas dan rumah yang didirikan di atas pasir."

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!' akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak bapa-Ku di surga. Pada hari terakhir, banyak orang akan berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?' Pada waktu itu, Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata, 'Aku tidak pernah mengenal kalian! Enyahlah dari pada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!'" Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya pula, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas wadas. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh sebab didirikan di atas wadas. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Rekan-rekan yang baik!
Dalam Mat 7:21-27 Yesus menegaskan bahwa yang membuat orang masuk ke Kerajaan Surga ialah menjalankan kehendak "Bapa-ku yang di surga" dan bukanlah semata-mata menjalankan pelbagai kebaikan, seperti bernubuat, mengusir setan, bermukjizat demi nama Tuhan. Pengajaran ini bagian dari Khotbah di Bukit (Mat 5-7) yang memuat dasar-dasar kehidupan umat baru: Sabda Bahagia (5:1-12) yang dilanjutkan dengan penegasan bahwa para murid itu garam dunia (5:12-14) dan bahwa Yesus mengajar untuk meneguhkan serta menjalankan yang sudah mereka ketahui dari Taurat Musa (5:17-48). Khususnya bila memberi sedekah, hendaknya tak usah mempertontonkannya (6:1-4), begitu juga bila berdoa (6:5-15; "Bapa Kami" 9a-13) dan berpuasa (6:16-18). Umat diajar agar tak terikat pada kekayaan duniawi 6:19-24) dan menumbuhkan sikap pasrah kepada kebesaran ilahi agar rasa khawatir teratasi (6:25-34). Hendaknya murid tidak bersikap mau menghakimi orang lain (7:1-5), hendaknya bersikap hormat akan barang keramat (7:6), berteguh dalam memohon (7:7-11), berani berusaha walau jalan kebenaran terasa sesak dan sempit pintunya (7:12-14), sambil mewaspadai sikap kesalehan palsu (7:15-23), tetapi hendaklah bijaksana dan penuh perhitungan (7-24-27). Orang banyak menjadi takjub karena Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

DARI BACAAN PERTAMA (Ul 11:18. 26-28. 32)

Konteks pengajaran Yesus ialah kehidupan rohani umat Perjanjian Lama. Dapat dikatakan, inti kerohanian mereka ialah meluhurkan Sabda Ilahi dan menyediakan diri untuk ditempati-Nya. Dengan demikian mereka berbagi hidup dengan-Nya dan menemukan kebahagiaan sejati. Sabda dapat dikenali dalam ujud Taurat yang memuat macam-macam ketetapan serta peraturan kehidupan umat. Oleh sebab itu, menjalankan semua ini dengan sebaik-baiknya menjadi jalan menuju ke kebahagiaan hidup dan keselamatan. Kesadaran seperti ini tercermin dalam bacaan pertama, Ul 11:18. 26-28. 32. Orang diimbau agar menaruh perkataan ilahi dalam hati dan jiwa - maksudnya dalam pikiran, anganan, dan dalam kehidupan. Juga diminta agar perkataan itu diikatkan sebagai tanda pada tangan dan menjadi lambang di dahi (ay. 18). Begitu maka semua perbuatan ("tangan") dan maksud tujuannya ("dahi") dihubungkan langsung dengan Sabda Ilahi sendiri. Tentu saja bukannya tindakan luar belaka. Bila tidak disertai kesungguhan, maka perkataan yang mendatangkan berkat itu malah membuat orang terkutuk justru bila tidak menjalankannya (ay. 26-28). Oleh karena itu orang sekali lagi diimbau untuk mengikuti ketetapan-ketetapan dan peraturan hidup yang membuat kehadiran Sabda terlaksana dalam kehidupan umat (ay. 32). Boleh dikatakan "hukum-hukum Taurat" dimaksud untuk memudahkan orang mendekat kepada Sabda Ilahi sendiri. Tetapi bukanlah peraturan-peraturan itulah yang menjadi pokok. Lama kelamaan dalam keagamaan umat Perjanjian Lama hukum-hukum itu disamakan dengan tujuan sehingga memberatkan. Oleh karena itu berkembang profesi para ahli hukum Taurat yang menjelaskan makna peraturan dan mengarahkan pada tujuan hukum itu sendiri.

Pada zaman kemudian ada pengajar-pengajar yang justru menekankan sisi hukum dan bukan isi serta tujuannya. Mereka membuat umat terbebani. Sabda Ilahi yang memerdekakan batin malah tidak ditekuni. Pengajaran Yesus di Bukit (Mat 5-7) khususnya 5:17-48 bertujuan mengembalikan peraturan Taurat ke tujuan semula. Dan orang banyak menangkap arah ini, oleh karena itu diceritakan Matius bahwa mereka takjub Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

AGAMA OBROLAN & OBRALAN?

Sebuah ironi bahwa agama sering menjadi buah bibir dan dibicarakan dalam banyak kesempatan, tetapi berhenti dalam bentuk obrolan belaka. Memang enak memperkatakan hal-hal yang ada "di sana", bebas dari macam-macam kenyataan yang tak mengenakkan dalam hidup sehari-hari. Kerap juga sumber-sumber hidup agama, terutama Kitab Suci dikemas dalam bentuk seruan-seruan moral seperti barang obralan belaka. Inilah kiranya yang melatari Mat 7:21 "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku 'Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga." Memang agama menolong orang untuk melihat arah ke depan, ke hidup kekal, ke keselamatan. Namun menaruh agama dalam arahan itu sering membuat orang lupa daratan, menjauhi kenyataan di sekeliling. Masalah ini saya bawa kepada Matt.

GUS: Ini nih, Matt, kok petikan kali ini ditaruh dalam hubungan dengan "pada hari terakhir" (ayat 22), maksudnya apa?
MATT: Saat orang tahu betul apa yang betul dan apa yang tidak.
GUS: Lho, jadi sekarang ini tidak begitu jelas mana yang benar?
MATT: Kiranya begitu. Tapi ada pegangannya, sudah disebut di situ: menjalankan kehendak "Bapa-ku yang ada di surga".
GUS: Penjelasannya bagaimana, umat di paroki masih bertanya-tanya.
MATT: Ehm, ungkapan "Bapa-ku yang ada di surga" itu khas ajaran sang guru kita Yesus. Ingat, bahwa "Bapaku" itu kalau dilacak Aramnya dikatakan bukan untuk membedakan "Bapaku" dengan "Bapamu" atau bapanya kaum ini atau itu, tapi untuk menyebut Yang Mahakuasa dengan cara akrab, dekat, tanpa sungkan-sungkan.
GUS: Kok masih kabur. Apa maksudnya membedakan Tuhan Allah yang jauh dan yang dekat, penuh perhatian?
MATT: Persis! Dalam doa Bapa Kami para murid diajak untuk belajar berani memanggil Yang Mahakuasa dengan cara itu. Jadi kita didorong untuk belajar mendekat ke Yang Mahakuasa tanpa takut-takut, walau hormat dan pasrah. Maka doanya berlanjut dengan "jadilah kehendakMu".
GUS: Tapi apa sih kehendak Bapa itu? Bagaimana kita bisa tahu?
MATT: Belum belajar? Lupa novisiat? Begini, orang Perjanjian Lama boleh tahu yang dikehendakiNya lewat Taurat. pada zaman Yesus orang banyak diajak mengikuti tafsir Taurat yang hidup dan menakjubkan, yakni Yesus sendiri. Itu dia pegangannya.
GUS: Jadi gampangnya, kalau buka Kitab Suci, kitab pertama, Kejadian mulai dengan pernyataan kehendak Yang Mahakuasa, "Jadilah terang!" dan begitu ciptaan mulai dan seterusnya. Ini kan pegangan kita? Kehendak ilahi dalam menciptakan wahana kehidupan di jagat ini?
MATT: Wah, pintar nih. Lalu?
GUS: Dari Oom Hans kita tahu bahwa "terang" itu ialah Sabda, yang kenyataannya ialah Yesus yang kita ikuti ini kan?
MATT: Eh, kalau begini terus nanti kami jadi murid.
GUS [geli, Matt sih memang tidak kenal tulisan Oom Hans, tahunya hanya Mark]: Kita setuju saja, melakukan kehendak Bapa yang di surga itu sama dengan tidak menghalangi agar Terang semakin meluas dan Sabda makin didengar.
MATT [serius mukanya]: Ya tentu itu yang dimaksud! Mereka yang menggembar-gemborkan telah begini begitu sebenarnya tidak membiarkan Sabdanya makin kedengaran, melainkan kata-kata mereka sendiri. Masuk Kerajaan Surga itu bukan upaya sendiri melainkan diupayakan oleh Yang Di Atas sana. Hanya perlu membiarkan diri dibawa ke sana.

DUA JALAN

Dalam bagian kedua Injil Minggu kali ini disampaikan perumpamaan mengenai orang yang membiarkan diri diresapi Sabda, yakni "mendengar perkataanku dan melakukannya" sebagai orang yang membangun rumah di atas batu. Akan tetap kokoh sekalipun diterpa hujan dan angin. Tetapi yang mendengar dan tidak menjalaninya - tidak membiarkan diri dirasuki Sabda - seperti rumah yang dibangun di atas pasir, bakal rubuh dilanda air banjir hujan dan angin. Tetapi perumpamaan ini tidaklah sesederhana itu. Masalahnya bukan "sanggup" atau "kurang sanggup" menjalankan yang didengar. Bila begitu akan tampil sebagai seruan moral yang bagus didengar tapi risikonya berhenti pada kesalehan belaka. Matius menaruh persoalannya pada tradisi kebijaksanaan. Orang yang membangun rumah dengan dasar yang kukuh ialah "orang bijak", tapi yang mendirikan rumah di atas pasir hanyalah "orang bodoh". Perumpamaan mengenai membangun rumah di atas batu atau di atas pasir disodorkan sebagai dua jalan. Yang satu jalan kepintaran yang mengantar ke keselamatan, yang lain jalan kebodohan yang mendorong ke kehancuran.

Dalam alam pikiran orang Yahudi, hidup beragama yang benar baru terwujud bila dijalani dengan bijaksana. Bahkan boleh dikatakan, kebijaksanaan ialah keagamaan yang sejati. Bukannya semata-mata menetapi hukum-hukum. Bukannya sekadar menyuarakan ajaran-ajaran. Bukannya melulu menjalankan ini itu "atas nama Tuhan". Orang bijaksana memperhitungkan tindakan-tindakannya. Seperti dalam perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima lain yang bodoh (Mat 25:1-13), diperhitungkan keadaan yang tidak diharapkan: mempelai datang larut malam, atau seperti dalam perumpamaan kali ini, hujan angin. Hendak disampaikan gagasan bahwa menepati ajaran agama tidak otomatis memperoleh jalan masuk ke Kerajaan Surga. Malah yang beranggapan demikian akan mengalami kerugian besar.

Salam,
A. Gianto

Minggu, 06 Maret 2011 Hari Minggu Biasa IX

Minggu, 06 Maret 2011
Hari Minggu Biasa IX

Mendengar perkataan-Ku dan melakukannya

Antifon Pembuka

Arahkanlah wajah-Mu kepadaku dan kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab aku sebatang kara dan malang. Perhatikanlah sengsara dan kesukaranku, hapuskanlah segala kesesatanku.

Doa Renungan

Allah, yang agung dan perkasa, kami bersyukur kepada-Mu karena boleh bernaung di bawah lindungan-Mu. Sudilah mengarahkan pikiran dan hati kami kepada sabda yang hendak diwartakan di tengah-tengah kami. Semoga kami benar-benar terbuka mendengarkan sabda-Mu itu lalu tekun melaksanakannya pula.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.


Pembacaan dari Kitab Ulangan (11:18.26-28.32)

"Hari ini aku menghadapkan kepadamu berkat dan kutuk."

Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Lihatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal. Maka haruslah kamu melakukan dengan setia segala ketetapan dan peraturan yang kupaparkan kepadamu hari ini."
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 2/4, PS 847
Ref. Tuhan penjaga dan benteng perkasa dalam lindungan-Nya aman sentosa.
Ayat. (Mzm 31:2-3a.3bc-4.17+25; Ul: 3b)

1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku!
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu, Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
3. Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua yang berharap kepada Tuhan.


Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (3:21-25a.28)

"Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat."


Saudara-saudara, tanpa hukum Taurat, kebenaran Allah ini telah dinyatakan, seperti disaksikan dalam Kitab Taurat dan kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada pembedaan. Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia Allah, semua telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pembenaran karena iman, dalam darah-Nya. Sebab kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya.

Ayat. (Yoh 15:5)
Aku inilah pokok anggur, kamulah rantingnya. Tinggallah beserta-Ku, maka aku tinggal beserta-Mu, dan kamu akan berbuah banyak.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:21-27)

"Rumah yang didirikan di atas wadas dan rumah yang didirikan di atas pasir."

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!' akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak bapa-Ku di surga. Pada hari terakhir, banyak orang akan berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?' Pada waktu itu, Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata, 'Aku tidak pernah mengenal kalian! Enyahlah dari pada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!'" Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya pula, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas wadas. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh sebab didirikan di atas wadas. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Rekan-rekan yang baik!
Dalam Mat 7:21-27 Yesus menegaskan bahwa yang membuat orang masuk ke Kerajaan Surga ialah menjalankan kehendak "Bapa-ku yang di surga" dan bukanlah semata-mata menjalankan pelbagai kebaikan, seperti bernubuat, mengusir setan, bermukjizat demi nama Tuhan. Pengajaran ini bagian dari Khotbah di Bukit (Mat 5-7) yang memuat dasar-dasar kehidupan umat baru: Sabda Bahagia (5:1-12) yang dilanjutkan dengan penegasan bahwa para murid itu garam dunia (5:12-14) dan bahwa Yesus mengajar untuk meneguhkan serta menjalankan yang sudah mereka ketahui dari Taurat Musa (5:17-48). Khususnya bila memberi sedekah, hendaknya tak usah mempertontonkannya (6:1-4), begitu juga bila berdoa (6:5-15; "Bapa Kami" 9a-13) dan berpuasa (6:16-18). Umat diajar agar tak terikat pada kekayaan duniawi 6:19-24) dan menumbuhkan sikap pasrah kepada kebesaran ilahi agar rasa khawatir teratasi (6:25-34). Hendaknya murid tidak bersikap mau menghakimi orang lain (7:1-5), hendaknya bersikap hormat akan barang keramat (7:6), berteguh dalam memohon (7:7-11), berani berusaha walau jalan kebenaran terasa sesak dan sempit pintunya (7:12-14), sambil mewaspadai sikap kesalehan palsu (7:15-23), tetapi hendaklah bijaksana dan penuh perhitungan (7-24-27). Orang banyak menjadi takjub karena Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

DARI BACAAN PERTAMA (Ul 11:18. 26-28. 32)

Konteks pengajaran Yesus ialah kehidupan rohani umat Perjanjian Lama. Dapat dikatakan, inti kerohanian mereka ialah meluhurkan Sabda Ilahi dan menyediakan diri untuk ditempati-Nya. Dengan demikian mereka berbagi hidup dengan-Nya dan menemukan kebahagiaan sejati. Sabda dapat dikenali dalam ujud Taurat yang memuat macam-macam ketetapan serta peraturan kehidupan umat. Oleh sebab itu, menjalankan semua ini dengan sebaik-baiknya menjadi jalan menuju ke kebahagiaan hidup dan keselamatan. Kesadaran seperti ini tercermin dalam bacaan pertama, Ul 11:18. 26-28. 32. Orang diimbau agar menaruh perkataan ilahi dalam hati dan jiwa - maksudnya dalam pikiran, anganan, dan dalam kehidupan. Juga diminta agar perkataan itu diikatkan sebagai tanda pada tangan dan menjadi lambang di dahi (ay. 18). Begitu maka semua perbuatan ("tangan") dan maksud tujuannya ("dahi") dihubungkan langsung dengan Sabda Ilahi sendiri. Tentu saja bukannya tindakan luar belaka. Bila tidak disertai kesungguhan, maka perkataan yang mendatangkan berkat itu malah membuat orang terkutuk justru bila tidak menjalankannya (ay. 26-28). Oleh karena itu orang sekali lagi diimbau untuk mengikuti ketetapan-ketetapan dan peraturan hidup yang membuat kehadiran Sabda terlaksana dalam kehidupan umat (ay. 32). Boleh dikatakan "hukum-hukum Taurat" dimaksud untuk memudahkan orang mendekat kepada Sabda Ilahi sendiri. Tetapi bukanlah peraturan-peraturan itulah yang menjadi pokok. Lama kelamaan dalam keagamaan umat Perjanjian Lama hukum-hukum itu disamakan dengan tujuan sehingga memberatkan. Oleh karena itu berkembang profesi para ahli hukum Taurat yang menjelaskan makna peraturan dan mengarahkan pada tujuan hukum itu sendiri.

Pada zaman kemudian ada pengajar-pengajar yang justru menekankan sisi hukum dan bukan isi serta tujuannya. Mereka membuat umat terbebani. Sabda Ilahi yang memerdekakan batin malah tidak ditekuni. Pengajaran Yesus di Bukit (Mat 5-7) khususnya 5:17-48 bertujuan mengembalikan peraturan Taurat ke tujuan semula. Dan orang banyak menangkap arah ini, oleh karena itu diceritakan Matius bahwa mereka takjub Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

AGAMA OBROLAN & OBRALAN?

Sebuah ironi bahwa agama sering menjadi buah bibir dan dibicarakan dalam banyak kesempatan, tetapi berhenti dalam bentuk obrolan belaka. Memang enak memperkatakan hal-hal yang ada "di sana", bebas dari macam-macam kenyataan yang tak mengenakkan dalam hidup sehari-hari. Kerap juga sumber-sumber hidup agama, terutama Kitab Suci dikemas dalam bentuk seruan-seruan moral seperti barang obralan belaka. Inilah kiranya yang melatari Mat 7:21 "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku 'Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga." Memang agama menolong orang untuk melihat arah ke depan, ke hidup kekal, ke keselamatan. Namun menaruh agama dalam arahan itu sering membuat orang lupa daratan, menjauhi kenyataan di sekeliling. Masalah ini saya bawa kepada Matt.

GUS: Ini nih, Matt, kok petikan kali ini ditaruh dalam hubungan dengan "pada hari terakhir" (ayat 22), maksudnya apa?
MATT: Saat orang tahu betul apa yang betul dan apa yang tidak.
GUS: Lho, jadi sekarang ini tidak begitu jelas mana yang benar?
MATT: Kiranya begitu. Tapi ada pegangannya, sudah disebut di situ: menjalankan kehendak "Bapa-ku yang ada di surga".
GUS: Penjelasannya bagaimana, umat di paroki masih bertanya-tanya.
MATT: Ehm, ungkapan "Bapa-ku yang ada di surga" itu khas ajaran sang guru kita Yesus. Ingat, bahwa "Bapaku" itu kalau dilacak Aramnya dikatakan bukan untuk membedakan "Bapaku" dengan "Bapamu" atau bapanya kaum ini atau itu, tapi untuk menyebut Yang Mahakuasa dengan cara akrab, dekat, tanpa sungkan-sungkan.
GUS: Kok masih kabur. Apa maksudnya membedakan Tuhan Allah yang jauh dan yang dekat, penuh perhatian?
MATT: Persis! Dalam doa Bapa Kami para murid diajak untuk belajar berani memanggil Yang Mahakuasa dengan cara itu. Jadi kita didorong untuk belajar mendekat ke Yang Mahakuasa tanpa takut-takut, walau hormat dan pasrah. Maka doanya berlanjut dengan "jadilah kehendakMu".
GUS: Tapi apa sih kehendak Bapa itu? Bagaimana kita bisa tahu?
MATT: Belum belajar? Lupa novisiat? Begini, orang Perjanjian Lama boleh tahu yang dikehendakiNya lewat Taurat. pada zaman Yesus orang banyak diajak mengikuti tafsir Taurat yang hidup dan menakjubkan, yakni Yesus sendiri. Itu dia pegangannya.
GUS: Jadi gampangnya, kalau buka Kitab Suci, kitab pertama, Kejadian mulai dengan pernyataan kehendak Yang Mahakuasa, "Jadilah terang!" dan begitu ciptaan mulai dan seterusnya. Ini kan pegangan kita? Kehendak ilahi dalam menciptakan wahana kehidupan di jagat ini?
MATT: Wah, pintar nih. Lalu?
GUS: Dari Oom Hans kita tahu bahwa "terang" itu ialah Sabda, yang kenyataannya ialah Yesus yang kita ikuti ini kan?
MATT: Eh, kalau begini terus nanti kami jadi murid.
GUS [geli, Matt sih memang tidak kenal tulisan Oom Hans, tahunya hanya Mark]: Kita setuju saja, melakukan kehendak Bapa yang di surga itu sama dengan tidak menghalangi agar Terang semakin meluas dan Sabda makin didengar.
MATT [serius mukanya]: Ya tentu itu yang dimaksud! Mereka yang menggembar-gemborkan telah begini begitu sebenarnya tidak membiarkan Sabdanya makin kedengaran, melainkan kata-kata mereka sendiri. Masuk Kerajaan Surga itu bukan upaya sendiri melainkan diupayakan oleh Yang Di Atas sana. Hanya perlu membiarkan diri dibawa ke sana.

DUA JALAN

Dalam bagian kedua Injil Minggu kali ini disampaikan perumpamaan mengenai orang yang membiarkan diri diresapi Sabda, yakni "mendengar perkataanku dan melakukannya" sebagai orang yang membangun rumah di atas batu. Akan tetap kokoh sekalipun diterpa hujan dan angin. Tetapi yang mendengar dan tidak menjalaninya - tidak membiarkan diri dirasuki Sabda - seperti rumah yang dibangun di atas pasir, bakal rubuh dilanda air banjir hujan dan angin. Tetapi perumpamaan ini tidaklah sesederhana itu. Masalahnya bukan "sanggup" atau "kurang sanggup" menjalankan yang didengar. Bila begitu akan tampil sebagai seruan moral yang bagus didengar tapi risikonya berhenti pada kesalehan belaka. Matius menaruh persoalannya pada tradisi kebijaksanaan. Orang yang membangun rumah dengan dasar yang kukuh ialah "orang bijak", tapi yang mendirikan rumah di atas pasir hanyalah "orang bodoh". Perumpamaan mengenai membangun rumah di atas batu atau di atas pasir disodorkan sebagai dua jalan. Yang satu jalan kepintaran yang mengantar ke keselamatan, yang lain jalan kebodohan yang mendorong ke kehancuran.

Dalam alam pikiran orang Yahudi, hidup beragama yang benar baru terwujud bila dijalani dengan bijaksana. Bahkan boleh dikatakan, kebijaksanaan ialah keagamaan yang sejati. Bukannya semata-mata menetapi hukum-hukum. Bukannya sekadar menyuarakan ajaran-ajaran. Bukannya melulu menjalankan ini itu "atas nama Tuhan". Orang bijaksana memperhitungkan tindakan-tindakannya. Seperti dalam perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima lain yang bodoh (Mat 25:1-13), diperhitungkan keadaan yang tidak diharapkan: mempelai datang larut malam, atau seperti dalam perumpamaan kali ini, hujan angin. Hendak disampaikan gagasan bahwa menepati ajaran agama tidak otomatis memperoleh jalan masuk ke Kerajaan Surga. Malah yang beranggapan demikian akan mengalami kerugian besar.

Salam,
A. Gianto

Sabtu, 05 Maret 2011 Hari Biasa Pekan VIII

Sabtu, 05 Maret 2011
Hari Biasa Pekan VIII

Kuasa Yesus berasal dari Allah. Namun Yesus tidak mau menjawab pertanyaan orang-orang Yahudi karena ketidakpercayaan mereka. Jawaban ‘tidak tahu’ menjadi senjata untuk membela diri dari kebenaran sabda dan tindakan Yesus. Mereka lupa bahwa Kebenaran (Yesus) adalah kuasa yang tertinggi.

Doa Renungan

Allah Bapa kami yang kekal dan kuasa, Engkau berkenan menggembirakan semua orang yang membuka hatinya terhadap sabda-Mu. Kami mohon, semoga daya pembebasan-Mu menguasai diri kami serta menjadikan kami orang-orang yang berkenan di hati-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh (51:12-20)

Aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan. Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku. Di depan Bait Allah telah cara kupohonkan dan sampai akhir hidup akan kukejar. Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur yang masak. Kakiku melangkah di jalan yang lurus, dan sejak masa mudaku telah kuikuti jejaknya. Hanya sedikit saja kupasang telingaku, lalu mendapatinya, dan memperoleh banyak pengajaran bagi diriku. Aku maju di dalamnya, dan kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku. Sebab aku berniat melakukannya, dengan rajin kucari apa yang baik dan aku tidak dikecewakan. Hatiku memperjuangkan kebijaksanaan, dan dengan teliti kulaksanakan hukum Taurat. Tanganku telah kuangkat ke sorga, dan aku menyesal karena kurang tahu akan dia. Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dengan kemurnian hati telah kutemukan. Sejak awal mula kuikatkan hatiku padanya, dan karenanya aku tidak ditinggalkan.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 853
Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan.
Ayat. (Mzm 19:8.9.10.11; Ul: 9a)
1. Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
2. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
3. Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
4. Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Semoga sabda Kristus tinggal dalam diri kalian secara melimpah. Bersyukurlah dengan perantaraan Kristus kepada Allah Bapa kita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (11:27-33)

"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?"

Beberapa waktu sesudah mengusir para pedagang dari halaman Bait Allah, Yesus dan murid-murid-Nya tiba kembali di Yerusalem. Ketika Yesus sedang berjalan-jalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua. Mereka bertanya kepada Yesus, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Yesus menjawab mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepada kalian. Jawablah Aku, dan Aku akan mengatakan dengan kuasa mana Kulakukan hal-hal itu. Pembaptisan Yohanes itu dari surga atau dari manusia? Jawablah!” Mereka memperbincangkannya seraya berkata, “Jikalau kita katakan ‘Dari Allah’, Ia akan berkata, ‘Kalau begitu, mengapa kalian tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan ‘Dari Manusia’.” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Maka mereka menjawab kepada Yesus, “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka, “Jikalau demikian, Aku pun takkan mengatakan kepada kalian, dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Bermain sandiwara atau menipu diri pada suatu saat akan ketahuan juga, itulah yang terjadi dengan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Mereka tahu dari masa kuasa yang dimiliki oleh Yesus dalam rangka mengadakan aneka mujijat dan penyembuhan, namun pura-pura tak tahu untuk menjebak Yesus. Namun Yesus tahu pikiran jahat mereka, maka Ia menanggapi dengan pertanyaan kepada mereka:"Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia?'. Mereka tak berani menjawab meskipun mereka tahu bahwa baptisan Yohanes dari sorga karena mereka tak percaya. Begitulah sikap para tokoh yang takut kehilangan pengikut sehingga suka berbohong dan ketika diketahuinya kebohongannya mereka semakin berbohong, suka bermain sandiwara diketahui permainannya semakin bersandiwara. Maka dengan ini kami berharap kepada para tokoh masyarakat, politikus, pejabat atau petinggi untuk tidak berbohong atau bermain sandiwara dalam kehidupan. Jawaban `kami tidak tahu' akan muncul dari mulut anda ketika anda dikejar perihal kebohongan atau permainan sandiwara anda. Marilah kita dengan rendah hati dan jujur berani mengakui dan menghayati kelemahan dan kerapuhan kita, dan tidak merasa tersaing atau tersingkir ketika muncul orang/tokoh yang melebihi kemampuan kita, melainkan bersyukur dan berterima kasih. Kepada anda semua yang jujur dan tidak suka berbohong, hendaknya dengan tenang dan sabar menanggapi aneka jebakan yang ingin menjatuhkan anda.

"Maka dari itu aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan. Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku" (Sir 51:12-13)Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi generasi muda atau mereka yang sedang bertugas belajar di tingkat apapun. Kepada mereka yang sedang bertugas belajar kami harapkan belajar dengan sungguh-sungguh, membuka diri terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang. Dengan kata lain kami harapkan bersikap mental sebagai pembelajar yang tinggi. Kami berharap selain belajar dari atau melalui apa yang diajarkan di sekolah, juga belajar dari aneka pengalaman hidup sehari-hari, dalam aneka pergaulan dan kebersamaan dengan orang lain. Ingatlah dan sadari bahwa aneka macam teori atau ajaran yang disampaikan di sekolah berasal atau digali dari pengalaman hidup konkret sehari-hari. Selain belajar hendaknya juga tidak dilupakan berdoa, sebagaimana diingatkan oleh penulis kitab Sirakh bahwa "kebijaksanan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku". Belajar dan berdoa hendaknya tidak dipisahkan dan hanya dapat dibedakan, artinya semakin banyak belajar hendakanya juga semakin berdoa, semakin berdoa hendaknya juga semakin giat belajar. Dengan kata lain doa menjiwai belajar dan belajar menjiwai doa. Dengan cara itu kami yakin anda akan sampai pada suatu kebajikan yang ada kemungkinan berkembang menjadi kebijakan dan kebijaksanaan. Semoga kita semua memiliki semangat `belajar terus-menerus', on going education/formation. Maka bagi yang sudah bekerja atau berkarya hendaknya juga dengan semangat belajar setiap kali menerima tugas-tugas baru, atau fungsi atau kedudukan baru dalam pekerjaan.

Tuhan, bukalah hatiku untuk menerima kegembiraan serta kebebasan hukum-Mu dalam hidupku. Ajarkan juga aku jalan-jalan-Mu sehingga aku tumbuh dalam kebenaran Sabda-Mu. Amin.

Ign Sumarya, SJ