Jumat, 06 Mei 2011 Jumat Pertama Dalam Bulan -- Hari Biasa Pekan II Paskah

Jumat, 06 Mei 2011
Jumat Pertama Dalam Bulan -- Hari Biasa Pekan II Paskah


"Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ demikian juga dibuat-Nya, dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki." (Yoh 6:11)


Salib telah diukirkan dalam hidup manusia. Hendak menyingkirkannya, sama dengan mengingkari realitas hidup manusia (Yoh. Paulus II)


Antifon Pembuka

Tuhan, Engkau telah menebus kami dengan darah-Mu dari tiap suku, bahasa, rakyat, dan bangsa, dan Engkau telah menjadikan kami raja dan imam bagi Allah Bapa (Why 5:9-10). Alleluya.

Doa Renungan


Allah Bapa yang Maharahim, semoga kebijaksanaan-Mu mampu menjadi teladan bagi hidup kami. Berkatilah agar kami bijaksana dalam bertindak, bersikap dan mengambil keputusan, sehingga segala sikap hidup kami berlandaskan kasih dan berpegang pada Injil Putera-Mu, Tuhan dan Penyelamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.


Pertimbangan bijaksana diberikan oleh Gamaliel. Dari banyak pengalaman, akhirnya karya manusia hancur. Manusia tidak bisa menghalangi karya Allah, bahkan kalau berani melawannya, orang tersebut melawan Allah. Para rasul sungguh bergembira karena dianggap layak menderita karena nama Yesus.

Pembacaan dari Kisah Para Rasul (5:34-42)


"Para rasul bergembira karena mereka dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus."

Pada waktu itu para rasul sedang diperiksa oleh Mahkamah Agama Yahudi. Maka seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta supaya para rasul itu disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang, "Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul Si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa, dan ia mempunyai kira-kira empat ratus pengikut; tetapi ia dibunuh, lalu cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah Si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap; tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah." Nasihat itu diterima. Sesudah itu para rasul dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah umat dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 865
Ref. Tuhan, Engkaulah penyelamatku.
Ayat. (Mzm 27:1.4.13-14; Ul:1a)

1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
2. Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
3. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 4:4b, 2/4)
Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Mukjizat penggandaan roti ini dianggap sebagai pralambang Ekaristi. Tindakan dan kata-kata Yesus dilanjutkan oleh para imam dalam perayaan Ekaristi. Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada para murid-Nya. Bahasa Yunani untuk “mengucap syukur” adalah “eucharisteo”, yang menjadi akar Ekaristi.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes
(6:1-15)


"Yesus membagi-bagikan roti kepada orang banyak yang duduk di situ, sebanyak mereka kehendaki."

Pada waktu itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Ketika itu Paska, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya, dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, "Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!" Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, "Di sini ada seorang anak, yang membawa lima roti jelai dan mempunyai dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Kata Yesus, "Suruhlah orang-orang itu duduk!" Ada pun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ; demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih, supaya tidak ada yang terbuang." Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mukjizat yang telah diadakan Yesus, mereka berkata, "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia!" Karena Yesus tahu bahwa mereka akan datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk dijadikan raja, Ia menyingkir lagi ke gunung seorang diri.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Sikap empati, peduli, dan berbagi itu akan meringankan beban hidup bersama. Masing-masing orang merasa saling membutuhkan satu sama lain. Memang, tidak ada orang yang mampu hidup sendiri tanpa peranan orang lain. Justru, jika mampu meringankan beban sesama, seseorang akan menemukan wujud jati dirinya dengan sempurna. Itulah ungkapan persaudaraan dalam peziarahan hidup di dunia ini. Betapa indahnya hidup bersama sebagai saudara.

Doa Malam


Allah, Bapa yang Mahabaik, kasih-Mu senantiasa melimpah dan membahagiakan kami, bagaikan sungai yang mengalir tiada henti. Ampunilah kami yang kurang bersyukur dan berterima kasih, karena kami hanya mengikuti dan mencari kepuasan diri. Curahkanlah rahmat pertobatan dan anugerah belas kasih-Mu memenuhi hidup kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


R U A H

Renungan

Masih segar dalam ingatan Thomas ketika dia mengalami kesulitan dana untuk menyelesaikan skripsinya. Saat itu Thomas benar-benar kehabisan akal bagaimana mengatasi kesulitan yang benar-benar menyesakkan dada itu. Ayahnya baru saja meninggal dunia. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Dua orang adiknya sedang menyelesaikan studi mereka di SMP dan SMA. Pada suatu kesempatan, Thomas menceritakan kesulitannya kepada teman kuliahnya, Joni. Thomas berkata, "Mau gak mau aku harus berhenti kuliah untuk sementara waktu dan harus kerja."

Joni kemudian menyampaikan kesulitan Thomas kepada orang tuanya. Kemudian orang tua Joni tergerak hatinya untuk menolong Thomas. Thomas benar-benar bersyukur atas bantuan yang diterimanya dari orang tua Joni.

Setelah lulus, Thomas bekerja di sebuah perusahaan swasta. Setiap bulan, Thomas menyisihkan sedikit dari gajinya untuk meringankan biaya sekolah anak-anak yang dikelola oleh Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki. "Dengan memberi aku tidak akan kekurangan. Dengan memberi aku bersyukur atas semua yang Tuhan berikan padaku. Dengan memberi aku benar-benar mengalami berkat Tuhan," itulah keyakinan yang tertanam kuat dalam diri Thomas.

Kita sering berpikir bahwa memberi berarti menunggu ada sisa. Namun, berbeda dengan sikap Yesus yang memberi sesamanya dari rasa syukur. Yesus memberi makan lima ribu orang karena Dia mengucap syukur atas apa yang ada, yaitu lima roti jelai dan dua ikan. Dan mukjizat pergandaan roti pun terjadi.

Kita biasanya lebih mudah mengeluh dan merasa bahwa diri kita sendiri belum cukup bagaimana mungkin kita bisa berbagi kepada orang lain. Padahal dalam iman, kita mesti percaya bahwa Tuhan terus-menerus melakukan karya agung-Nya. Mukjizat selalu terjadi asal kita bersyukur. Semoga kita semakin bertumbuh dalam rasa syukur karena percaya bahwa Tuhan terus-menerus melakukan karya-karya agung-Nya kepada kita setiap saat.

Ya Tuhan, aku percaya Engkau terus melakukan karya agung-Mu di dalam hidupku. Ajarilah aku untuk bersyukur atas semua yang telah Engkau lakukan bagiku sehingga aku mau berbagi hidup kepada sesamaku. Amin.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Haria