Minggu, 07 Agustus 2011 Hari Minggu Biasa XIX: TENANGLAH!! AKULAH INI. JANGAN TAKUT

Renungan

TENANGLAH!! AKULAH INI. JANGAN TAKUT

Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?

Suatu ketika dalam remang remang terang bulan, teman saya menghadang beberapa gadis yang mau sembahyang ke Goa Maria. Di tengah bulakan, seorang teman tadi sudah mengenakan pakaian pocong dan sembunyi di rerimbunan tanaman jagung, sementara dia meloncat dan berbaring persis di depan gadis-gadis tersebut. Seorang gadis sungguh jatuh terkulai dan rebah karena ketakutan. Sampai beberapa lama baru sedikit tersadar dan mulai bisa berbicara dan marah begitu besar setelah tahu bahwa temannya yang melakukan hal tersebut. Beberapa temannya coba menghibur dan menguatkan pengalamannya, bahwa itu bohong. Tetapi yang pasti bahwa ketakutan si gadis itu bukan bohong dan dia sungguh shock.

Ketakutan yang mendalam ternyata sungguh melumpuhkan seluruh syaraf dan akal sehat, maupun segala sensor akal budi kita. Tanpa kecuali ketakutan karena apa atau siapapun akan membuat kita lumpuh total tak berdaya dan tak dapat berkembang dengan semestinya atau sewajarnya. Tidak jarang kita juga begitu takut menghadapi gelombang kehidupan kita yang akan membuat kita tidak berani untuk mengayunkan kaki untuk melangkah maju maupun mundur.

Untuk itu Yesus menunjukkan beberapa hal yang penting dalam menyikapi kehidupan ini:

Pertama Doa:
Doa adalah membuat penyadaran bahwa kita selalu bersama Allah, kita akan didukung Tuhan Allah, kalau kita selalu melakukan kehendak-Nya. Doa membuat kita juga semakin peka untuk memperhatikan kepentingan teman-teman dan orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Doa meningkatkan kepedulian dan dedikasi kita terhadap perutusan Allah.

Kedua Tenang dan Tidak Takut:
Tenang dan tidak takut. Ketenangan atau keheningan batin dan rasa percaya diri dengan tidak takut, membuat segala sesuatu kita sandarkan kepada Allah yang menjadi jaminan hidup kita, sehingga tidak perlu cemas dan takut karena yakin Tuhan sebagai tumpuan seluruh perjuangan kita, sehingga kita menjadikan “Yesus andalanku”.

Ketiga, Datang Kepada Tuhan:
Seorang anak kecil yang takut, dia cepat-cepat lari datang kepada ibunya atau bapaknya atau kakaknya, atau kakeknya; karena dia percaya bersama orang-orang ini merasa ada teman, ada yang akan membantu, ada yang siap untuk melindungi, merasa ada teman untuk pertimbangan dan meminta nasehat yang terbaik untuk menjadi selamat atau berhasil. Maka Yesus menawarkan undangan kepada para muridNya dengan mengatakan “ini Aku jangan takut atau kepada Petrus “datanglah”

Keempat, Percaya dan Tidak Takut atau Bimbang:
Percaya dan tidak bimbang atau ragu.Banyak kecelakaan terjadi karena orang tidak percaya, tidak yakin, penuh dengan keraguan dan kebimbangan, sehingga orang lain tidak bisa mengantisipasinya, akibatnya terjadilah tumburan (tabrakan) atau kecelakaan. Bahkan dalam kecelakaan karena tenggelam, karena orang yang ditolong begitu ragu maka dia justru memeluk yang menolong, sehingga yang menolongpun dibahayakan ikut tenggelam.Atau dia ragu berpegangan sehingga terlepas dan tersedot putaran, malah hilang dan mati. Ajakan Yesus cukup tegas dan jelas, dalam menghadapi badai gelombang kehidupan yang dahsyat.Kita harus datang kepada Allah dengan suatu keyakinan yang besar dan mantap serta membuang jauh-jauh segala bentuk keraguan dan kebimbangan. Segera datang kepadaNya jangan menunda, karena Yesus akan segera mengulurkan tangan-Nya untuk membantunya.Yesus selalu siap dengan sikap siap sedia “Akulah ini. Jangan takut.

Selamat merenungkan.

Pastor Antonius Sumardi, SCJ

Minggu, 07 Agustus 2011 Hari Minggu Biasa XIX

Minggu, 07 Agustus 2011
Hari Minggu Biasa XIX

Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita. (1Yoh 3:24)


Antifon Pembuka (Mzm 74:20.19.22.23)

Ingatlah akan perjanjian-Mu, ya Tuhan, dan janganlah Kaulupakan umat-Mu yang tertindas. Bangkitlah, ya Tuhan, belalah perkara-Mu, janganlah Kaulupakan seruan orang yang mencari Engkau.

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, kami Kauperkenankan menyapa Engkau Bapa dalam doa kami. Lengkapilah apa yang kurang pada kami, agar kami layak disebut putra dan putri-Mu serta layak pula menerima warisan yang telah Kausediakan bagi kami.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang bersama Dikau dan dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-raja (19:9a.11-13a)

"Berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan."

Sekali peristiwa, ketika Elia sampai di Gunung Horeb, masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka berfirmanlah Tuhan kepadanya, "Hai Elia, keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!" Lalu Tuhan lewat. Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu mendahului Tuhan. Namun, Tuhan tidak berada dalam angin itu. Sesudah angin itu datanglah gempa. Namun, dalam gempa Tuhan pun tidak ada. Sesudah gempa menyusullah api. Namun, Tuhan juga tidak berada dalam api itu. Api itu disusul bunyi angin sepoi-sepoi basa. Mendengar itu, segeralah Elia menyelubungi wajahnya dengan jubah, lalu keluar dan berdiri di depan pintu gua itu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 815
Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan
Ayat. (Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14; Ul: 9a)
1. Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai? Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang bertakwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.
2. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilah akan merunduk dari langit.
3. Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (9:1-5)


"Aku rela terkutuk demi saudara-saudaraku."

Saudara-saudara, demi Kristus aku mengatakan kebenaran, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku menurut daging. Sebab mereka itu adalah orang Israel. Mereka telah diangkat menjadi anak Allah, telah menerima kemuliaan dan perjanjian-perjanjian, hukum Taurat, ibadat dan janji-janji. Mereka itu keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias sebagai manusia, yang mengatasi segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji selama-lamanya. Amin.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mzm 130:5)
Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (14:22-33)

"Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air!"

Sesudah mengenyangkan orang banyak dengan roti, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai, dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka dengan berjalan di atas air. Melihat Dia berjalan di atas air, para murid terkejud dan berseru, "Itu hantu!" Dan mereka berteriak-teriak ketakutan. Tetapi, Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya "Tenanglah! Akulah ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru, "Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air." Kata Yesus, "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi, ketika dirasakannya tiupan angin kencang, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam lalu berteriak, "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang Petrus, dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Keduanya lalu naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan mereka yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, "Sungguh, Engkau Anak Allah!"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus.

Renungan


"TENANGLAH! INILAH AKU, JANGAN TAKUT!"


Rekan-rekan!


Injil Minggu Biasa XIX A ini (Mat 14:22-33) mengisahkan bagaimana para murid tidak segera mengenali Yesus yang mendatangi mereka dengan berjalan di atas air. Matius mengolah kembali kisah Yesus berjalan di atas air dalam Mrk 6:45-50 (bdk. Yoh 6:16-20) dan menambahkan cerita mengenai Petrus (ayat 28-31) yang didapatnya dari sumber-sumber mengenai tokoh itu. Khas Matius, pada akhir kisah (ayat 33), disebutkannya bahwa para murid mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Markus menyampaikan pandangan yang berbeda; dalam Mrk 6:51a-52 dikatakan.orang-orang itu hanya tercengang tanpa mengenal siapa Yesus sesungguhnya "karena hati mereka tetap tidak peka."

YESUS MENDESAK PARA MURID

Setelah memberi makan 5000 orang, Yesus segera mendesak para murid agar menyeberangi danau. Ia sendiri naik ke sebuah bukit untuk berdoa. Kata "mendesak" memang keras, begitu juga dalam teks aslinya. Ada yang perlu dilakukan agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Apa itu? Menurut Injil Yohanes, orang banyak yang mengalami peristiwa roti itu kini mau mengangkatnya sebagai raja. Oleh karenanya Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6:15). Dia menghindari mereka yang mau memaksakan ukuran-ukuran serta cita-cita mereka sendiri kepadanya. Kebesarannya yang sejati terletak dalam pengorbanan menebus kemanusiaan dengan penderitaan hingga mati di salib, dan khas menurut Yohanes, hingga "terlaksana" demikian (Yoh 19:30). Yesus menyingkir menyendiri, dan seperti dicatat Matius dan Markus, untuk berdoa. Ia mencari pengarahan dari Dia yang mengutusnya. Bagaimana dengan para murid? Boleh jadi mereka juga sudah mulai berpikir seperti orang banyak. Mereka juga tak dapat menerima mengapa Yesus yang sedemikian terhormat itu bakal ditolak dan dibunuh oleh orang-orang di Yerusalem. Para murid belum paham akan kemesiasan rohani Yesus. Mereka malah mengira ini saat tepat bagi Yesus untuk menjadi pemimpin masyarakat yang dinanti-nantikan! Bila kita perhitungkan keadaan itu, maka tak sulit mengerti mengapa Yesus mendesak mereka agar pergi ke seberang danau. Ia bermaksud menjauhkan mereka dari orang-orang yang memiliki anggapan yang kurang cocok mengenai dirinya. Mereka disendirikan agar nanti dapat melihat dirinya yang sebenarnya. Dan ia sendiri menyingkir ke keheningan doa.

PERAHU TEROMBANG-AMBING

Para murid berusaha mencapai seberang danau. Berjam-jam mereka berputar-putar karena menghadapi angin sakal dan gelombang. Apa yang dirasakan para murid? Mereka kan orang-orang yang cukup berpengalaman mengenai gelombang, mengenai arah angin, dst. Mereka tahu waktu-waktu itu kurang baik untuk berperahu ke seberang. Tak jelas bagi mereka mengapa Yesus menyingkiri massa yang baru saja dipuaskannya dengan makanan. Malah murid-murid juga disuruh menjauh dari orang-orang yang pasti bakal menjadi pengikutnya. Dan mengapa mereka mesti menuju ke arah yang sulit dicapai dalam keadaan ini. Bagaimanapun juga mereka menurut dan berkayuh semalam penuh sampai dini hari. Dan ketika berada di tengah danau, gelombang dan angin semakin mengombang-ambingkan perahu mereka.

Para murid merasa terancam. Runyamnya, kini guru mereka tidak ada bersama mereka. Tidak seperti ketika Yesus tidur di perahu (Mat 8:23-27 Mrk 4:45-41 Luk 8:22-25). Mereka dapat membangunkannya dan ia meredakan angin ribut. Kali ini mereka tidak disertai dia yang berkuasa atas angin dan danau! Mereka mulai dikuasai waswas. Peristiwa ini kerap diterapkan pada kehidupan umat yang terombang-ambing di tengah arus-arus yang membuat bahtera yang sedang membawa mereka - gereja - berputar-putar tanpa arah. Kekacauan menjadi-jadi dan terasa lebih kuat daripada tuntunan ilahi sendiri.

Ketika Yesus mendekat, para murid tidak segera mengenalinya. Malah ia dikira jejadian. Cara Matius berkisah menarik. Dipakainya kutipan langsung, "Itu hantu!" (Mat 14:26). Bandingkan dengan sumbernya dalam Mrk 6:49 yang memakai cara bercerita biasa. Yoh 6:19 malah hanya menyebut mereka ketakutan begitu saja. Peristiwa ini disampaikan Matius dengan cara dramatik diselingi rasa humor tapi juga simpati. Pembaca dapat merasa diikutsertakan sambil tetap memandangi kejadian-kejadian dengan tenang. Kita boleh tersenyum dan berkomentar dalam hati, kok bodo amat ya para murid itu! Teriak-teriak kayak anak kecil merasa melihat hantu! Namun seperti halnya humor yang berhasil dapat menjadi cermin bagi pembaca, juga kisah ini dapat menghadapkan kita pada pengalaman yang mirip-mirip yang sering tidak segera kita sadari.

YESUS BERJALAN DI ATAS AIR

Apa arti "berjalan di atas air"? Dipakai kata yang harfiahnya berarti "berjalan mondar mandir", seperti sedang berjalan-jalan santai di taman. Juga ada makna serta "berinteraksi" dengan keadaan dengan tenang dan enak. Dahulu para guru Yahudi sering diceritakan mengajarkan prinsip-prinsip etika kepada para murid mereka sambil "berjalan-jalan", sering tidak dalam arti mondar mandir melangkahkan kaki, melainkan menelusuri pelbagai gagasan, teori, serta pemikiran leluhur dan para cerdik pandai. Begitulah asal usul pengajaran yang biasa dikenal sebagai "halakha", yakni penjelasan yang dituruntemurunkan mengenai hukum dan agama. Diajarkan bagaimana menelusuri perkara-perkara kehidupan dengan santai tapi waspada, tidak tegang dan terpancang pada satu hal saja. Seorang ahli dapat dengan enak meniti arus-arus pemikiran tanpa terhanyut.

Murid-murid melihat ada sosok yang menguasai gerakan-gerakan gelombang. Yesus tidak menggilasnya. Juga pada kesempatan lain ketika menghardik angin dan danau (Mat 8:26 Mrk 4:39 Luk 8:24), ia cukup menyuruh mereka diam. Itulah tempat mereka yang sebenarnya di hadapan keilahian. Sekarang ia malah tidak memakai kata-kata. Ia leluasa berjalan di atas kekuatan-kekuatan itu. Kenyataan-kenyataan yang bisa mengacaukan tidak menggentarkannya. Malah mereka dijinakkan. Ini semua dilihat para murid. Namun mereka tidak sertamerta mengenali siapa dia itu yang bertindak demikian. Sosok ini datang dari Yang Ilahi atau dari yang jahat? Begitulah cara mereka membeda-bedakan. Tak banyak menolong. Yesus menenangkan dan menyuruh mereka melihat baik-baik bahwa dialah yang ada di situ. Tak perlu lagi risau akan kekuatan-kekuatan yang menakutkan yang sebenarnya semu dan justru akan benar-benar membahayakan bila dianggap sungguh. Yesus hendak mengajarkan kebijaksanaan yang dihayatinya sendiri. Di padang gurun ia berhasil melewati godaan Iblis dengan budi yang terang, bukan dengan balik menghantam. Pembaca yang jeli akan menghubungkan ketenangannya itu dengan tindakannya sebelum datang kepada murid-muridnya: ia pergi menyendiri dan berdoa, meluruskan serta membangun hubungan dengan keilahian dalam ketenangan. Itulah sumber kebijaksanaannya.

Ayub 9:8 menyebut Allah yang Mahakuasa "membentangkan langit", dan "berjalan melangkah di atas gelombang-gelombang laut", artinya menguasai kekuatan-kekuatan yang tak terperikan dahsyatnya. Tidak dengan meniadakannya, melainkan dengan mengendalikannya. Ia mengatur alam yang dahsyat itu dengan kebijaksanaaNya. Yesus menyelaraskan diri dengan Yang Mahakuasa yang demikian itu. Ia tetap mengarahkan diri kepada-Nya. Dan menurut Matius, nanti pada akhir kisah ini, para murid mengakuinya, "Sesungguhnya Engkau itu Anak Allah." Mereka mulai paham bahwa Yesus membawa keilahian dalam dirinya.

PERAN PETRUS


Mengapa Petrus mulai tenggelam? Seperti diceritakan, ketika merasakan tiupan angin, Petrus mulai tenggelam. Matius tidak mengatakan semuanya. Tapi tadi ia kan sudah menjelaskan bahwa Yesus berdoa sebelum mendatangi murid-muridnya dengan berjalan di atas air. Bagaimana dengan Petrus? Tokoh ini bertindak dengan spontanitas dan maksud baik belaka. Lihat apa yang terjadi! Tapi akhirnya ia berteriak minta tolong, "Tuhan, tolonglah aku!" Seruan ini diarahkan kepada Tuhan. Ini doa. Dan doanya didengarkan. Tapi siapa yang memegang tangan Petrus dan menahannya agar tidak tenggelam? Yesus. Di sini ada pengajaran yang amat dalam. Yesus yang dikenal sehari-hari dan diikuti itu menjadi jalan Yang Mahakuasa menolong dalam saat-saat kritis. Kejadian ini membuat orang-orang yang ada di perahu mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Dalam ayat 33, ketika Yesus dan Petrus sudah naik ke perahu, orang-orang itu menyembah Dia - tentunya menyembah Yang Mahakuasa sendiri - dan mengenali kehadiranNya di dalam diri Yesus yang kini mereka akui sebagai Anak Allah. Markus berbeda. Ia mengatakan para murid hanya tercengang, tanpa memahami, karena hati mereka tidak peka (Mrk 6:51a-52). Tapi Markus tidak menyertakan episode Petrus seperti Matius. Kelihatan betapa besarnya peran Petrus yang dengan tindakan yang tampaknya konyol tadi malah membuat rekan-rekannya menyadari siapa sebenarnya guru yang mereka ikuti itu.

Yesus menyapa Petrus (ayat 31), "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang!" (ayat 31). Memang dalam kisah tadi kata-kata itu ditujukan kepada Petrus, tetapi isinya dimaksud bagi siapa saya. Juga bagi kita. Satu hal lagi. Walaupun harfiahnya berisi celaan, nada kata-kata itu penuh perhatian sebagaimana layaknya seorang guru kepada muridnya. Ada bombongan: jangan bimbang, jadilah besar dalam iman!

Salam hangat,
A. Gianto