Selasa, 09 Agustus 2011 Hari Biasa Pekan XIX

Selasa, 09 Agustus 2011
Hari Biasa Pekan XIX

“Jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” --- Matius 18: 3


Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakudus, kembali kami bersyukur atas kasih karunia dan perlindungan yang telah Kauberikan kepadaku. Hari ini Engkau berfirman agar kami bertobat dan menjadi seperti anak kecil serta mau merendahkan diri. Bantulah kami Bapa, agar kami senantiasa mencari kehendak-Mu saja dari hari ke hari. Berkatilah kami hari ini Bapa dan orang-orang yang kami cintai. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Ulangan (31:1-8)

"Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, Yosua, sebab engkau akan masuk bersama bangsa ini ke tanah perjanjian."

Musa menyampaikan pesan ini kepada seluruh bangsa Israel, "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun. Aku tidak dapat dengan giat memimpin kalian lagi. Dan Tuhan telah bersabda kepadaku, 'Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi.' Tuhan, Allahmu, Dialah yang akan memimpin kalian menyeberang. Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa dari hadapanmu, sehingga kalian dapat memiliki negeri mereka. Yosua akan memimpin kalian menyeberang, sesuai dengan sabda Tuhan. Tuhan akan memperlakukan bangsa-bangsa itu, sebagaimana Ia telah memperlakukan Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya beserta negeri mereka. Tuhan akan menyerahkan bangsa-bangsa itu kepadamu, dan kalian harus memperlakukan mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kalian. Ia takkan membiarkan dikau dan takkan meninggalkan dikau." Musa lalu memanggil Yosua dan berkata kepadanya, di depan seluruh orang Israel, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka. Dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab Tuhan, Dia sendiri yang akan berjalan di depanmu, Dia sendiri yang akan menyertai engkau. Dia takkan membiarkan dikau dan takkan meninggalkan dikau. Janganlah takut dan janganlah patah hati."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Bagian Tuhan ialah umat-Nya.

Ayat. (Ul 32:3-4a.7.8.9.12; Ul: 9a)
1. Nama Tuhan akan kuserukan, berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang sempurna karya-Nya.
2. Ingatlah akan zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, ia akan mengisahkannya; tanyakanlah kepada orang tua-tua, mereka akan memberitahukannya.
3. Ketika Yang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada para bangsa, ketika Ia memisah-misahkan anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah para bangsa menurut bilangan anak-anak Israel.
4. Tetapi bagian Tuhan ialah umat-Nya, Yakublah yang ditetapkan menjadi milik bagi-Nya. Tuhan sendirilah yang menuntun dia, dan tidak ada allah lain menyertai dia.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku, sebab aku lemah lembut dan rendah hati.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:1-5.10.12-14)

"Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini."

Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, "Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga." Lalu Yesus bersabda lagi, Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian pula Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan

Masih ingatkah teman-teman pada pengalaman pertama kali menyontek dulu? Wow, sejuta rasanya, dag dig dug kan! Ada suara sayup-sayup yang melarang kita untuk melakukannya. Namun, pada saat yang sama ada suara yang lebih kencang yang menyuruh kita untuk melakukannya. Pertempuran akhirnya dimenangi oleh suara yang kencang, yang mengajak kita untuk menyontek. Dan setelah itu, kita menjadi terbiasa untuk melakukan kecurangan demi kecurangan. Berulang-ulang dalam waktu yang panjang, sejak sekolah, kuliah, sampai terbawa ke tempat bekerja nanti.

Kita semua tentu tahu bahwa suara sayup-sayup yang kita dengar dalam hati kita itu adalah suara Tuhan, yang Ia titipkan di dalam hati kita masing-masing sebagai lonceng pengingat. Itu namanya suara hati. Suara hati akan tetap murni kalau kita menjaga dan merawatnya dengan benar. Suara hati sudah ada sejak kita dibentuk dalam kandungan ibunda, yang menjadi tanda kedekatan kita dengan Tuhan dan sekaligus menjadi tanda kasih Tuhan terhadap kita. Itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya.

Sayangnya, semakin kita dewasa, suara sayup-sayup ini semakin mengecil. Bahkan ada di antara kita yang mengira bahwa itu sekedar tanda kekanak-kanakan. Setelah dewasa kita harus mengatasi perasaan itu dan berani keluar dari bayang-bayang suara itu.

Anak kecil dipuji oleh Yesus karena ketulusan hatinya, karena kejujurannya, karena kebersahajaannya, yang menyuarakan suara Allah dalam kemurnian tindakannya. Orang yang memiliki hati seperti anak kecil yang bersahaja selalu bisa memposisikan diri secara tepat karena ia berada tak jauh dari Allah.

Tuhan Yesus, aku ingin selalu dekat dengan-Mu agar aku dapat mengarahkan hidupku menuju Kerajaan Surga. Murnikanlah hatiku setiap saat aku akan jatuh dalam pencobaan. Amin.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Harian