Minggu, 14 Agustus 2011 Hari Minggu Biasa XX

Minggu, 14 Agustus 2011
Hari Minggu Biasa XX
RENUNGAN INI UNTUK DI LUAR INDONESIA, YANG MERAYAKAN HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA PADA HARI SENIN, 15 AGUSTUS 2011
UNTUK YANG DI INDONESIA GUNAKAN BACAAN & RENUNGAN HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

IMAN YANG MENYEMBUHKAN


Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas karunia iman yang Engkau berikan kepada kami. Namun seringkali kami tidak mampu menjaga dan mengembangkan iman kami. Maka kami mohon, bantulah kami agar iman kami terus bertumbuh menjadi semakin besar seprti iman perempuan Kanaan. Doa ini kami persembahkan dalam nama-Mu, Tuhan dan pengantara kami. Amin.


Pembacaan dari Kitab Yesaya (56:1.6-7)

"Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa."


Beginilah firman Tuhan: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 836
Ref. Segala bangsa bertepuktanganlah berpekiklah untuk Allah raja semesta.
Ayat. (Mzm 67:2-3.5.6.8; Ul: 4)

1. Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya. Kiranya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.
2. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.
3. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (11:13-15.29-32)

"Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua."

Saudara-saudara, aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka. Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali
Ayat. (Mat 4:23)
Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (15:21-28)

"Hai Ibu, sungguh besar imanmu!"

Pada suatu hari Yesus menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan


Bila anaknya sakit, seorang ibu tentu akan berjuang dan mencari cara bagaimana anaknya bisa sembuh. Segala cara akan dilakukan dan diupayakan demi kesembuhan anaknya. Kesehatan dirinya sendiri untuk sementara ia lupakan. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana anaknya bisa cepat sembuh. Itu pula yang dialami oleh perempuan Kanaan dalam perikop Injil hari ini. Sungguh mengagumkan kesabaran perempuan Kanaan itu. Dia menunjukkan pribadi yang rendah hati, sabar, tangguh, dan tidak cepat sakit hati. Seorang ibu yang menunjukkan kasih dan perhatian kepada buah hatinya. Dialah ibu yang sadar akan arti "rahim", belas kasih. Apa pun akan ditempuh dan dibuat asal anaknya sembuh. Ternyata untuk mencari kesembuhan anaknya, ibunya ikut "kesetanan"

Di sisi lain, para murid yang risih diikuti oleh perempuan Kanaan juga "kerasukan setan". Artinya, para murid bersemangat mau mengusir perempuan itu. Mereka meminta kepada Yesus, "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Bila demikian, siapa sebenarnya yang kerasukan? para murid, anak perempuan kanaan, atau perempuan Kanaan?

Dalam Injil Matius 15:24 Seringkali diklaim oleh orang-orang di luar Kristus sebagai suatu pernyataan yang rasialis. Padahal justru sebaliknya ada pengajaran yang sangat berharga bisa dipetik dari kisah itu. Yesus kala itu berada didalam lingkungan masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa orang-orang Yahudi adalah umat pilihan Allah; sedangkan bangsa lain tidak berhak menerima berkat Allah. Bangsa lain lebih rendah dan sebagainya. Yesus menjawab "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel". Hal ini adalah untuk menguji iman perempuan tersebut dan bahkan lebih jauh lagi Yesus mengucapkan kata-kata yang kedengarannya “kasar” sekali yaitu "anjing". Mengapa Yesus menggunakan kata “anjing” dalam kasus tersebut? Karena memang orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Kanaan rendah dan menyebut orang-orang Kanaan “anjing”. Dan Yesus “sengaja” mengangkat topik ini.

Satu hal yang kita harus perhatikan dalam kisah ini adalah bahwa Yesus telah menyembuhkan begitu banyak orang tetapi tidak semuanya memiliki IMAN seperti perempuan Kanaan ini, yang justru dari kalangan yang terhina dengan sebutan “anjing”. Bukan itu saja perempuan Kanaan tidak merasa tersinggung dan bahkan mempunyai keberanian untuk tetap memohon; ayat 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Perempuan Kanaan itu tetap dengan berani memohon agar anak perempuannya disembuhkan oleh Yesus, luar biasa. Ia mengatakan bahwa ia tidak meminta apa yang diperuntukkan bagi orang Israel tetapi ia hanya meminta yang layak ia dapatkan, yakni remah-remahnya. Di sini kita melihat bagaimana besar imannya, karena ia tidak memaksakan kehendaknya tetapi ia benar-benar memfokuskan permohonnya kepada belas-kasihan dari Yesus. Ia tetap menganggap suatu anugerah walaupun dia hanya mendapatkan remah-remah, sesuatu yang tidak lagi dihargai orang lain.

Pelajaran besar yang diambil dari iman perempuan Kanaan itu bahwa dia tidak goyah ketika Yesus menjawab “tidak patutlah mengambil roti yang disedikan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.", dia balik menjawab dengan keberanian yang luar biasa “bahwa anjing yang berada di bawah meja itu makan remah-remah roti yang jatuh”. Seorang perempuan dari kalangan kafir dan seorang dari warga kelas dua, keprihatinannya terhadap anak perempuannya telah membuat dia berani menembus batas-batas budaya, tradisi dan gender dengan ketabahan dan keberanian. Inilah yang kemudian membuat Tuhan Yesus menjadi kagum.

Kegigihan sikap ibu tadi akhirnya membuahkan hasil. Kita mungkin ikut lega mendengar Yesus bersabda: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Atau, sebaliknya, jangan-jangan setelah mendengar sabda Yesus itu kita menjadi iri hati, tidak terima, atau sakit hati karena merasa bahwa Yesus tidak adil dan tidak tegas. Itulah sikap iman yang dikehendaki oleh Yesus: iman yang tulus, rendah hati, tidak plin-plan (mudah berubah), sabar, tekun, tidak cepat menyerah, berusaha dengan sekuat tenaga, tidak cepat sakit hati atau putus asa. Bagi merekalah karunia sudah menunggu di depannya. Itulah juga gambaran orang yang merdeka, yang tidak diperbudak oleh orang lain dan perasaan dirinya sendiri, gengsinya.

Dalam kejadian itu, terbukti bahwa pelayanan Yesuspun menembus batas-batas kebiasan eksklusifitas Yahudi, Perempuan Kanaan itupun mendapat belas-kasihan dari Yesus. Perempuan ini telah datang pada alamat yang tepat, dia memiliki sikap yang benar, dan mendapatkan anugerah-Nya yang telah terbukti mendobrak pola pikir rasialis bangsa Yahudi masa itu. Yesus berkata "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Yesus telah dibuat kagum oleh iman dan kesederhanaan pola pikir dari perempuan Kanaan itu. Pujian semacam ini sangat jarang diucapkan oleh Yesus!

Dengan sikap Yesus dalam Injil hari ini, kita melihat bahwa pelayanan kasih terbuka bagi semua orang, tanpa membedakan suku, bangsa dan kelompok. Maka, kasih yang sejati mampu menembus tembok-tembok pemisah yang dibuat manusia. (RPG/IB/WG)

Sabtu, 13 Agustus 2011 Hari Biasa Pekan XIX

Sabtu, 13 Agustus 2011
Hari Biasa Pekan XIX

"...di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-lmpah; di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" <--> Mzm 16:11

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahabaik, Engkau mencintai siapa saja di muka bumi ini, tak terkecuali anak-anak kecil. Engkau menjadi sumber sukacita dan kegembiraan bagi anak-anak. Ajarlah kami agar kami pun menjadi sumber sukacita dan kegembiraan bagi anak-anak kami. Kami berdoa secara khusus bagi anak-anak kami, berkatilah mereka dan bantulah mereka agar kelak menjadi anak yang berbakti bagi Gereja dan masyarakat kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Yosua (24:14-29)

"Pilihlah pada hari ini, kalian kamu beribadah kepada siapa!"

Menjelang wafatnya Yosua berkata kepada umat Israel, "Hendaklah kalian takwa dan beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah dewa-dewa yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang Sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada Tuhan. Tetapi jika kalian menganggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kalian mau beribadah kepada siapa. Kepada dewa-dewa yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang Sungai Efrat, atau kepada dewa orang Amori yang negerinya kalian diami ini? Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan." Maka bangsa itu menjawab, "Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain! Sebab Tuhan, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan; Dialah yang telah melakukan tanda-tanda mukjizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui. Tuhanlah yang telah menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah kita." Tetapi Yosua berkata, "Kalian tidaklah sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dia itu Allah yang kudus, Allah yang cemburu. Dia takkan mengampuni kesalahan dan dosamu. Apabila kalian meninggalkan Tuhan, dan beribadah kepada allah lain, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik bagimu serta membinasakan kalian, sekalipun dahulu Ia melakukan yang baik bagimu." Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua, "Tidak! Hanya kepada Tuhan saja kami akan beribadah." Kemudian berkatalah Yosua, "Kalianlah saksi terhadap kalian sendiri, bahwa kalian telah memilih Tuhan untuk beribadah kepada-Nya." Jawab mereka, "Ya, kami saksi!" "Maka sekarang jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengahmu! Dan condongkanlah hatimu kepada Tuhan, Allah Israel." Lalu bangsa itu menjawab, "Kepada Tuhan, Allah kita, kami akan beribadah. Dan sabda-Nya akan kami dengarkan." Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem. Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus Tuhan. Kepada seluruh bangsa ia lalu berkata, "Sesungguhnya batu inilah yang akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala sabda Tuhan yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kalian supaya kalian jangan menyangkal Allahmu." Lalu Yosua melepas bangsa itu pergi, dan masing-masing pulang ke milik pusakanya. Dan sesudah peristiwa-peristiwa itu Yosua bin Nun, hamba Tuhan, meninggal dunia. Umurnya seratus sepuluh tahun.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2a.5.7-8.11; Ul:5a)
1 .Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, ya Tuhan, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku."
2. Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
3. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah di tangan kanan-Mu ada hikmat yang abadi.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4 PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (19:13-15)

"Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku, sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga!"

Sekali peristiwa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Tetapi murid-murid Yesus memarahi orang-orang itu. Maka Yesus berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku. Sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga." Lalu Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


"Jas Merah" adalah ungkapan dan kosa kata yang lahir dari mulut Bung Karno. "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah", itu maksudnya. Sejarah berisi catatan dari berbagai peristiwa. Sejarah juga memuat interpretasi atas serentetan peristiwa yang dialami oleh seseorang, sekelompok orang, atau sebuah bangsa. Maka sejarah janganlah dibelokkan, apalagi diselewengkan, harus apa adanya.

Nabi Yosua mengantar "umat pilihan" memasuki babak baru dalam sejarah, sebagai bangsa yang mulai menetap, membangun sebuah negeri, menjadi bangsa yang merdeka dalam arti yang sesunguhnya. Mereka tidak boleh melupakan sejarah, tetapi harus belajar dari sejarah perjalanan panjang: berawal dari sebuah keluarga, sebuah kelompok kecil, sampai menjadi sebuah bangsa besar yang menetap di Kanaan yang luas dan subur. Pada akhir hayatnya, Yosua kembali mengingatkan umatnya untuk tetap setia kepada Allah yang tetap setia menyertai perjalanan mereka selama-lamanya.

Dari sejarah umat pilihan ini kita bisa belajar bagaimana sesuatu yang awalnya tampak kecil dan tidak berarti bisa berkembang menjadi luar biasa. Sesuatu yang kecil dan tampaknya tak bernilai di mata dunia telah menjadi permata di tangan Allah. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa kecil dan tidak berguna, merasa terbuang dan terpinggirkan, merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Bukankah Allah tetap mengasihi kita? Bukankah sejarah iman telah membuktikan bagaimana Allah setia mendampingi umat-Nya, yang menuruti perintah-perintah-Nya, yang selalu dekat dengan-Nya?

Jangan-jangan kita merasa hidup beriman itu harus seperti anak kecil yang penurut. Ah, siapa takut? Bukankah Yesus, di tengah-tengah kerumunan anak-anak kecil, mengatakan, "Orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga."

Tuhan Yesus, ajari aku untuk memiliki hati seperti seorang anak kecil, yang tulus, jujur, dan penuh kepolosan di hadapan-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian