Senin, 12 September 2011 Hari Biasa Pekan XXIV

Senin, 12 September 2011
Hari Biasa Pekan XXIV

Jika aku adalah anak-Mu, ya Tuhanku, itu adalah karena Engkau memberiku Bunda yang sedemikian (St. Agustinus)

Antifon Pembuka (Mzm 28:8)

Tuhan adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya.

Doa Pagi

Allah Bapa yang Mahabaik, aku bersyukur kepada-Mu atas anugerah iman yang Engkau tanamkan dalam diriku. Bantulah aku dengan kuasa Roh Kudus agar sepanjang hari ini aku mampu membuka hatiku dan selalu menyadari kehadiran-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Rasul Paulus mengajak untuk menjadi seorang warga Negara yang layak dicontoh dan seorang Kristen yang hidupnya berkenan di hati Tuhan. Berdoa bagi pemerintah dan para penguasa (pemimpin) adalah contoh nyata. Apakah mereka juga menjadi ingatan hati kita ketika kita mendoakan syukur dan permohonan? Banyaknya masalah yang sulit diatasi oleh pemerintah adalah tanda bahwa pemerintah perlu sering didoakan.


Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (2:1-8)

"Kita harus berdoa untuk semua orang karena Allah ingin semua orang diselamatkan."

Saudara terkasih, pertama-tama aku menasihatkan, agar dipanjatkan doa-doa dan permohonan serta ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan di hati Tuhan, penyelamat kita. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. Ia telah menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua orang, suatu kesaksian pada waktu yang tepat. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul. Yang kukatakan ini benar, dan aku tidak berdusta. Aku ditetapkan sebagai pengajar bangsa-bangsa dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu aku ingin agar di mana pun kaum lelaki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa kemarahan dan perselisihan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Terpujilah Tuhan, sebab Ia telah mendengarkan doa permohonanku.
Ayat. (Mzm 28:2.7.8-9)
1. Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku kearah tempat-Mu yang mahakudus.
2. Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong, sebab itu beria-rialah hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.
3. Tuhan adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 3:16)
Begitu besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Seorang perwira dikisahkan sebagai seorang pemurah hati yang mencari kemurahan kepada Yesus. Teman-temannya yang Yahudi memberi alasan pendukung bahwa ia telah bermurah hati terhadap terhadap bangsa mereka. Tetapi, Yesus menyembuhkan hamba si perwira itu pertama-tama bukan karena kemurahan hatinya tetapi karena kerendahan hati dan imannya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:1-10)

"Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai."

Pada suatu ketika, setelah mengakhiri pengajaran-Nya kepada orang banyak, masuklah Yesus ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba yang amat ia hargai. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta agar Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus, dan dengan sangat mohon pertolongan-Nya, katanya, “Sudah selayaknya Engkau menolong dia, sebab ia mengasihi bangsa kita, dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Maka pergilah Yesus bersama mereka. Ketika Yesus tidak jauh lagi dari rumahnya, perwira itu menyuruh beberapa sahabatnya mengatakan kepada Yesus, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku. Sebab itu aku juga merasa tidak pantas datang sendiri mendapatkan Tuan. Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku akan sembuh. Sebab aku pun seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang, ‘Pergi!’ maka ia pergi; atau kepada yang lain, ‘Datanglah!’ maka ia datang; dan jika aku berkata kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia pun mengerjakannya.” Mendengar itu, heranlah Yesus akan dia. Sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu: Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai.” Setelah orang-orang suruhan itu kembali ke rumah, mereka mendapati hamba yang sakit itu sudah sehat kembali.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


“Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku akan sembuh”
. Kata-kata ini sederhana namun mendalam artinya. Itu mengungkapkan kebenaran iman akan Yesus dan keselamatan yang dibawa-Nya. Kita mengulang kalimat yang sama sewaktu menyambut Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi.

Doa Malam


Ya Yesus, menjadi pengikut-Mu tidaklah mudah. Namun, aku percaya bahwa Engkau senantiasa mendampingi aku dengan segala rahmat-Mu di setiap langkah hidupku terutama di saat aku merasa seorang diri dan tak berdaya. Sebab Engkau sendiri telah berjanji untuk menyertaiku sampai akhir zaman. Amin.

RUAH

Bacaan Harian 12-18 September 2011



Senin, 12 September : Hari Biasa Pekan XXIV (H).
1Tim 2:1-8; Mzm 28:2.7-9; Luk 7:1-10.
Iman perwira romawi tersebut membawa kesembuhan bagi hambanya. Yakinkah kita bahwa iman kita kepada Yesus juga dapat membawa kebaikan bagi orang lain? Mari dengan iman yang teguh, kita tak kunjung henti memohon kepada-Nya untuk orang-orang yang membutuhkan doa-doa kita.

Selasa, 13 September : Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup-Pujangga Gereja (P).
1Tim 3:1-13; Mzm 101:1-3ab.5.6; Luk 7:11-17.
Karena tergerak oleh belas kasihan, Yesus membangkitkan pemuda dari Nain. Kematian diubah-Nya menjadi kehidupan; kesedihan menjadi kebahagiaan; putus asa menjadi harapan; dan tangisan menjadi sukacita. Mari, datanglah pada Yesus dan serahkanlah pada-Nya.

Rabu, 14 September : Pesta Salib Suci (M).
Bil 21:4-9; atau Flp 2:6-11; Mzm 78:1-2.34-38; Yoh 3:13-17.
Kasih Allah sungguh luar biasa. Ia memberikan anak-Nya sendiri untuk manusia supaya manusia tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Kasih Allah itu terus tercurah sampai saat ini. Kasih itu nyata lewat keluarga yang senantiasa mengasihi kita, lewat sahabat yang selalu berada bersama kita. Kita pantas bersyukur dan membalas kasih Tuhan itu dengan juga menjadi perpanjangan tangan kasihnya bagi siapa pun yang berada di sekeliling kita.

Kamis, 15 September : Peringatan Wajib Sta. Perawan Maria Berdukacita (P).
1Kor 12:31 – 13:13 atau Ibr 5:7-9; Mzm 33:2-5.12.22; Luk 7:31-35 atau Yoh 19:25-27.
Hari ini kita merayakan peringatan Santa Perawan Berdukacita. Bunda Maria selalu menunjukkan ketaatannya kepada Allah sekalipun ia dirundung derita. Di sinilah kita menemukan peran besar Maria dalam rancangan karya penyelamatan Allah. Ia adalah model iman yang patut menjadi teladan.

Jumat, 16 September : Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus dan St. Siprianus, Uskup-Martir (M).
1Tim 6:2c-12; Mzm 49:6-10.17-20; Luk 8:1-3.
Perempuan-perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka. Apakah Yesus juga menyembuhkan kita? Apakah kita juga mau melayani Yesus dengan apa yang kita miliki?

Sabtu, 17 September : Hari Biasa Pekan XXIV (H).
1Tim 6:13-16; Mzm 100:2-5; Luk 8:4-15.
Yesus telah menaburkan sabda-Nya. Ia tentu berharap, sabda-Nya itu tinggal dalam hati yang baik, yang kemudian dapat berbuah, lalu menjadi benih baru bagi orang lain juga. Inilah tugas utama murid Yesus.

Minggu, 18 September : Hari Minggu Biasa XXV (H).
Yes 55:6-9; Mzm 145:2-3.8-9.17-18; Flp 1:20c-24.27a; Mat 20:1-16a.
Keadilan Tuhan bukanlah keadilan yang dapat dan boleh diukur melalui kriteria-kriteria manusiawi. Keadilan-Nya bersumber pada kemurahan hati-Nya. Maka, ketimbang mempertanyakan keadilan Tuhan, baiklah kita menyadari kemurahan hati-Nya yang telah dicurahkan melimpah dalam hidup kita. Dan hanya karena kemurahan hati-Nyalah, Ia mengizinkan kita mengalami berbagai persoalan.