Kamis, 15 September 2011 Peringatan Wajib. Santa Perawan Maria Berdukacita

Kamis, 15 September 2011
Peringatan Wajib. Santa Perawan Maria Berdukacita

Kata Yesus: ”Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis”.-- Luk 7:32

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakudus, Engkau tidak memandang orang tetapi selalu berkenan mendengarkan siapapun yang berseru mohon bantuan-Mu. Kami mohon, ajarlah kami memandang dengan penglihatan-Mu dan jadikanlah kami orang yang berbelas kasih terhadap sesama. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (5:7-9)

"Yesus pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya."

Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 833
Ref. Kita memuji Allah kar'na besar cinta-Nya
Ayat. (Mzm 33:1-2.4-5.18-19)
1. Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali.
2. Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
3. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut, dan memelihara mereka pada masa kelaparan.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (19:25-27)

"Inilah anakmu!" Inilah ibumu"

Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah ia kepada ibu-Nya, "Ibu, inilah anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin.


Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus

Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah. Dan mengapa yang dipilih bangsa Israel dan bukan bangsa lain. Tentu yang tahu jawabannya hanya Allah sendiri. Sebab Allah mempunyai kehendak mutlak untuk memilih dan menentukan sesuatu. Namun ada satu yang pasti bahwa bangasa Israel. Memiliki sifat yang keras dan sulit untuk diatur. Bangsa Israel berkali-kali mengalami kasih dan kuasa Tuhan. Termasuk peristiwa yang sangat langkan dimana mereka bisa melewati laut yang kering. Sebab oleh kekuasaan Allah, laut Taberau menjadi terbelah dua sehingga bangsa Israel bisa berjalan di tengah lautan yang kering. Namun demikian bangsa Israel tetap memberontak dan mengeluh ketika ada tantanmgan dan hambatan. Sikap bangsa Israel yang sulit diatur dan keras kepala ini terus terjadi saat Yesus berkarya. Padahal Yesus secara nyata melakukan banyak mukjizat sebagai bukti bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus utusan Allah yang menyalamatkan manusia. Tetapi bangsa Israel tetap bertegar hati kepada Tuhan Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Ketegaran hati bangsa Israel nyata dalam Injil hari ini. Yesus mengeluhkan sifat bangsa Israel. Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Yesus kecewa dengan perilaku bangsa-Nya sendiri. Bangsa Israel tidak peka bahwa Allah hadir dan berkarya dalam diri Tuhan Yesus Kristus.

Saudara-saudari terkasih,

Seorang ibu memiliki seorang anak perempuan. Ibu ini sudah ditinggalkan oleh suaminya yang sudah meninggal. Saat meninggal, suaminya tidak meninggalkan harta benda. Maka untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya, ibu ini berkerja dengan giat. Dia berharap agar kelak anaknya menjadi orang yang sukses. Syukur-syukur anaknya bisa membantu dan merawat saat ibunya menjadi tua dan tidak bisa lagi bekerja. Namun kenyataan tidak seperti yang diharapkan. Anak dari ibu ini sangat bandel dan sulit diatur. Uang sekolah yang diberikan dipakai untuk membeli rokok dan judi. Berkali-kali ibu menegur anaknya itu. Namun hasilnya sia-sia. Dan ibu itu menjadi sangat kecewa dan marah dengan anaknya. Anaknya tidak mau peduli dan tidak peka bahwa ibunya sudah berkerja keras siang dan malam. Atau contoh lain, ketika kita menolong seseorang tetapi orang yang kita tolong malahan menyi-nyiakan pertolongan kita. Kita pasti kecewa dan marah saat apa yang kita berikan tidak dipakai untuk hal-hal yan baik dan berguna.

Saudara-saudari terkasih,

Ketegaran hati manusia membuat manusia tidak membuka dirinya untuk menerima Allah. Ketika manusia menutup hatinya terhadap Allah, maka apapun yang Allah lakukan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, ketegaran hati manusia menjadi penghalang utama bagi manusia untuk mengalami kasih dan kebaikan Allah. Ada akibat buruk yang dialami manusia yang hatinya tegar. Pertama, manusia tidak dapat mengalami damai dan kasih Allah. Damai dan kasih Allah hanya dapat dialami oleh manusia yang rendah hati dan peka terhadap bimbingan Allah. Kedua, manusia tidak mampu melihat kehadiran Allah dalam diri orang lain atau melalui peristiwa-peristiwa tertentu. Hal ini membuat manusia tidak mampu mengucap syukur. Segala sesuatu kelihatan gelap dan tanpa pengharapan. Ketiga, manusia tidak dapat bertobat. Orang akan bertobat jika hatinya tebuka dan rindu kepada Allah. Mereka yang rindu dan dengan tulus hati mencari Allah akan menemukan Allah. Di luar Allah, hidup kita akan merana dan sengsara.

REFLEKSI:

Apakah selama ini aku sudah terbuka kepada Allah ataukah aku justru mengeraskan hati untuk menolak Allah?

MARILAH KITA BERDOA:


Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur Engkau selalu menawarkan kasih dan damai kepada kami. Kami mohon ampun bila kami terkadang mengeraskan hati dan tidak mau bertobat. Bantulah kami, agar terbuka terhadap kehadiran-Mu dalam diri sesama maupun melalui peristiwa tertentu. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.


LUMEN NO : 6979 -- Renungan Lumen Indonesia