| Halaman Depan | Bacaan Harian | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Lumen Christi | Dukung Renungan Pagi|

Minggu, 25 September 2011 Hari Minggu Biasa XXVI

Minggu, 25 September 2011
Hari Minggu Biasa XXVI

PERTOBATAN

"Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya." (Yeh 18:27)

Antifon Pembuka (Dan 3:31.29.30.42.43)

Segala sesuatu yang Kautimpakan atas diri kami, ya Tuhan, telah Kauperbuat seturut keputusan-Mu yang adil. Sebab kami telah berdosa terhadap-Mu dan tidak mematuhi perintah-perintah-Mu. Tetapi muliakanlah kini nama-Mu, dan perlakukanlah kami sekadar besarnya belas kasih-Mu.

Doa Pembuka

Allah Bapa kami yang Mahabaik, kekuasaan-Mu menyentuh hati kami terutama apabila Engkau menaruh belas kasih terhadap kami dan setiap kali Engkau mengampuni kami. Kami mohon, limpahilah kami dengan rahmat-Mu, agar kami dengan lancar dapat menempuh jalan menuju tanah perjanjian serta memperoleh kebahagiaan surgawi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel (18:25-28)


"Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya, ia akan menyelamatkan nyawanya."

Beginilah firman Tuhan Allah, "Kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel! Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat, ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 815
Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan.

Ayat. (Mzm 25:4-5.6-7.8-9; Ul: lh.6a)
1. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku; Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
2. Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda, dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.
3. Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (2:1-11)

"Dalam hidupmu bersama hendaknya kamu bersikap seperti Kristus Yesus."

Saudara-saudara, dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Maka sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaknya kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati anggaplah orang lain lebih utama dari pada dirimu sendiri. Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga. Dalam hidupmu bersama hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah.


Bait Pengantar Injil, do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 10:17)
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan, Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (21:28-32)


"Yohanes Pembaptis datang dan orang-orang berdosa percaya kepadanya."

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi, "Bagaimana pendapatmu? Ada orang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada yang sulung dan berkata, 'Anakku, pergilah bekerja di kebun anggur hari ini.' Jawab anak itu, 'Baik, Bapa'. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab, 'Tidak mau.' Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang anak itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka, "Yang terakhir!" Maka berkatalah Yesus kepada mereka, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Dan meskipun melihatnya, kamu tetap tidak menyesal, dan kamu tidak juga percaya kepadanya."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.

U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan,
Langkah awal dari sebuah pertobatan adalah kesadaran diri. Sadar akan kesalahan yang telah terjadi dan mengakuinya akan membawa kita kepada perbaikan dan pembaharuan hidup. Langkah ini sangat penting dalam hidup kita karena akan menjadikan diri kita peka akan semua perbuatan dosa dan akan membawa kepada hidup yang lebih baik dan mendalam. Kesadaran bahwa hidup kita belum baik, maka kita akan berusaha untuk selalu maju. Kita akan selalu bermetanoia. Berubah terus menerus ke arah yang lebih baik dan lebih baru. Sebaliknya, kalau kita merasa dan yakin bahwa diri kita tidak berdosa-orang baik, maka sebenarnya kita mulai berhenti di dalam langkah hidup. Kita tidak bisa akan maju lagi.

Penginjil Matius dalam perikopa 21:28-32 mengajak kita untuk selalu sadar akan kelemahan diri kita, menyesalinya, dan berusaha untuk maju dan hidup dengan lebih baik. Tuhan Yesus membentangkan sebuah perumpamaan yang berisi tentang sikap dan tingkah laku dua orang anak terhadap ayahnya. Narasi Tuhan Yesus melalui perumpamaan menempatkan pewartaan tentang Kerajaan Allah dalam saat yang maha penting dalam sejarah Israel.

Muncul jawaban dan respon yang berbeda dari permintaan seorang bapak kepada dua anaknya untuk bekerja di ladang anggur. Anak yang sulung menjawab: “Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi” (ayat 29). Anak yang kedua menjawab: “Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga” (ayat 30). Seperti anak kedua yang pada awalnya menolak perintah ayahnya tetapi kemudian menyesal dan melakukannya, begitu pula para pemungut pajak dan para pelacur. Sekarang mereka memperbaharui hidup untuk menjawab tuntutan Tuhan Yesus dan masuk ke dalam Kerajaan. Para imam kepala dan pemuka rakyat sama dengan anak sulung. Mereka secara terbuka memusuhi Tuhan Yesus dan gagal melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan. Kesalahan terjadi karena mereka menolak pewartaan Tuhan Yesus dan bertahan dalam perlawanan yang tajam terhadap keterbukaan dan memisahkan diri mereka dari hal-hal apa saja yang mereka benci. Dalam ayat 32 ada kesetaraan antara perumpamaan Tuhan Yesus dengan pelayanan Yohanes. Pertobatan para pemungut cukai dan pendosa ke jalan kebenaran akan menjadi “ilham” para imam kepala dan pemuka rakyat untuk menerima pewartaan Tuhan Yesus dan tidak menghadapiNya dengan rasa curiga dan kebencian.

Pertobatan yang benar itu memerdekakan. Pertobatan adalah penghayatan janji baptis. Pada waktu dibaptis, kita “diterjunkan” ke dalam kehidupan Allah Tritunggal. Dalam kehidupan nyata, ada saja yang mendorong kita “keluar” dari “air kehidupan Allah Tritunggal ini”, tetapi juga ada kekuatan yang menarik kembali. Hidup berada dalam sebuah “ketegangan” dan menjadi perjuangan.

Mari kita introspeksi :
1. apakah aku dalam proses atau perjalanan hidup ini, makin mengalami kemerdekaan batin, untuk membalas cinta Tuhan Yesus yang mengampuni dosaku, dengan kekuatan cinta?
2. Apakah suatu bentuk matiraga dan penerimaan sakramen tobat, kualami sebagai praksis yang makin memerdekakan dan menggembirakan? Atau masih diwarnai rasa dan sikap batin yang lain?

Salam dan berkat,
Pastor L. Setyo Antoro, SCJ.

Minggu, 25 September 2011 Hari Minggu Biasa XXVI (Rm. A. Gianto, SJ)

Minggu, 25 September 2011
Hari Minggu Biasa XXVI

Rekan-rekan!

Injil kali ini (Mat 21:28-32) menampilkan perumpamaan mengenai seorang ayah yang bergilir meminta dua orang anaknya berangkat bekerja di kebun anggur. Yang pertama pada mulanya tidak bersedia, tapi kemudian menyesal dan akhirnya menjalankannya. Yang kedua sebaliknya berkata "ya" tapi tidak melakukannya. Siapa dari kedua anak itu yang sungguh mengikuti kehendak sang ayah? Tentunya orang berpikir tentang anak yang pertama. Apakah perumpamaan ini sekadar dimaksud mengajarkan bahwa tindakan nyata jauh lebih bernilai dari pada sekedar janji? Adakah hal-hal khusus yang dapat dipetik dari bacaan Injil pada hari Minggu Biasa XXVI tahun A ini?

SEKEDAR LATAR BELAKANG


Yesus biasa mengajar di Bait Allah . Di situ banyak orang mendengarkannya. Dalam kesempatan itu datang juga imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi. Suatu ketika mereka mempertanyakan, dengan kuasa mana Yesus melakukan "hal-hal itu" (Mat 21:23). Mereka mau tahu apa dan siapa di belakang tindakan Yesus menyembuhkan, menerima murid, mengajar tentang Kerajaan Surga, mengusir roh jahat dari diri orang, menghibur. Maklum, orang banyak makin melihat karya ilahi di dalam diri Yesus. Para pemimpin masyarakat Yahudi tadi menjadi waswas karena Yesus semakin populer. Bukan terutama karena mereka merasa tersaingi. Mereka khawatir jangan-jangan Yesus mengadakan gerakan politik dengan warna gerakan agama. Mereka curiga bahwa yang dilakukannya itu gerakan politik mengumpulkan massa dengan dalih keagamaan.

Dalam pembicaraan itu Yesus berkata, ia bersedia menjelaskan dari mana kuasanya asalkan mereka juga dapat menjawab satu pertanyaan darinya. Ia balik bertanya apakah pada hemat mereka Yohanes tokoh yang membaptis banyak orang itu mendapat perkenan dari Allah ("datang dari surga", 21:25) atau tindakan mencari pengikut belaka ("dari manusia"). Para pemimpin tadi merasa terpojok. Bila mengakui adanya perkenan ilahi, berarti mereka mendukung Yohanes dan konsekuensinya akan ikut dicurigai penguasa Romawi. Tetapi bila menyatakan tindakan Yohanes hanya manusiawi belaka, maka mereka akan berhadapan dengan orang banyak yang percaya tokoh ini datang dari Allah.

Begitulah Yesus membuat para pemimpin itu menyadari sikap mendua dalam diri mereka sendiri mengenai Yohanes Pembaptis. Mereka tidak mau memberi jawaban jelas dan hanya berkata, "Kami tidak tahu!" Yesus pun menutup pembicaraan tadi dengan mengatakan karena mereka tak dapat memberi jawaban, maka ia pun tidak akan menjawab pertanyaan mereka pada awal, yaitu mengenai asal kekuasaan Yesus (Mat 21:27). Tapi jelas yang hendak dikemukakannya. Kalian tahu Yohanes menyuarakan seruan dari atas sana, tapi kalian tidak berani mengakuinya terang-terangan. Begitulah sikap kalian kepadaku!

Memang para pemimpin Yahudi itu diserahi tanggungjawab moral oleh pemerintah Romawi untuk menjaga ketenangan di masyarakat. Jangan sampai ada gejolak. Apalagi jangan sampai ada gerakan politik dengan warna agama. Bila terjadi, maka pemerintah Romawi akan bertindak dan akan makin membatasi kebebasan orang Yahudi. Inilah yang dikhawatirkan para pemimpin. Jika nanti Yesus dan pengikutnya dianggap mengadakan gerakan politik yang dibiarkan begitu saja oleh instansi agama, maka pemerintah Romawi tidak akan tingal diam.

SIKAP YANG COCOK?

Berlainan dengan para pemimpin tadi, Yesus tidak menyembunyikan pendapatnya mengenai Yohanes Pembaptis. Dalam ayat 32 ia berkata bahwa Yohanes "datang untuk menunjukkan jalan kebenaran". Diakuinya penugasan yang datangnya dari Allah sendiri. Namun para pemimpin Yahudi tidak menanggapinya dengan semestinya, malah tidak berani mengakuinya karena takut. Maka mereka bersikap seperti anak yang berkata ya ya tapi tidak melakukan yang diharapkan. Orang-orang yang mereka anggap rendah, yakni para pemungut cukai dan pelacur, sebaliknya seperti anak yang pada mulanya menolak permintaan si ayah tapi kemudian menyesal dan menurut. Lawan bicara Yesus juga paham maksud perumpamaan ini. Mereka merasa kena teguran. Dan dasar teguran itu ialah prinsip yang mereka pakai mengadili orang lain, yakni ketaatan atau ketidaktaatan religius.

Perumpamaan ini dipakai untuk menunjukkan sikap yang kurang serius dari pimpinan masyarakat Yahudi dalam perkara-perkara kerohanian. Oleh karenanya malah "pemungut cukai" dan 'pelacur" bakal lebih beruntung daripada mereka karena orang-orang ini berani mengubah sikap mereka. Kedua golongan orang ini dianggap paling tidak taat pada ajaran agama. Pemungut pajak dijauhi karena mereka bekerja bagi sistem pajak asing yang memeras bangsa sendiri. Yang kedua dicap tidak punya kesetiaan. Tetapi mereka yang dianggap buruk itu percaya kepada warta pertobatan Yohanes Pembaptis sedangkan para pemimpin tidak. Mereka itu sebenarnya bahkan lebih memeras bangsa sendiri dan tidak setia pada inti ajaran agama.

MENYESAL DAN AKHIRNYA BERANGKAT

Gagasan dasar dalam perumpamaan ini terungkap dalam kata "menyesal" dalam ayat 29. Anak yang pada mulanya tegas-tegas tidak mau menuruti kemauan ayahnya itu kemudian menyesal. Gagasan "menyesal" di sini bukan terutama perasaan gegetun karena telah berbuat sesuatu yang kurang baik dan kini merasa tak enak, ada ganjelan dalam hati, kenapa tadi berbuat begini atau begitu. Oleh karena itu kiranya tidak amat tepat bila kita bayangkan anak yang akhirnya menjalankan permintaan ayahnya itu sebagai orang yang punya hati, berperasaan, dan ingin memuaskan ayahnya. Semua ini memang amat berharga dan sering terjadi. Namun perumpamaan kali ini tidak membicarakan sikap hati seperti itu. Yang ditunjukkan ialah keberanian untuk meninjau kembali niatnya dan memikirkan apakah tidak lebih baik menjalankan yang diminta dari pada bersikeras.

Perkaranya menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan anak yang kedua. Sebetulnya dia tidak pernah berniat berangkat bekerja di kebun anggur ayahnya. Ia hanya berbasa-basi mengatakan "Baik pak!" tapi sebetulnya hanya ingin agar tidak diganggu lebih lanjut. Ia lebih berminat meneruskan yang sedang dikerjakannya. Tidak juga ia berminat mencari tahu mengapa ayahnya memintanya pergi bekerja di kebun anggurnya. Ia cuma mau membungkam ayahnya dengan sebuah janji. Ia tidak berpikir panjang mengenai tindakannya atau alasan permintaan ayahnya.

Jadi pengertian "menyesal" dalam perumpamaan ini lebih cocok dipahami sebagai "memikirkan kembali", "meninjau kembali keputusan yang telah dibuat" dan "urung menjalankan yang sudah diniatkan". Ada usaha untuk tidak membiarkan diri terpancang pada satu pandangan mati. Itulah yang terjadi pada anak yang pertama. Meskipun sudah dengan jelas mengatakan tidak mau berangkat, ia akhirnya berangkat pergi juga. Boleh jadi ia mulai berpikir mengapa sang ayah memintanya bekerja. Apa tidak ada pekerja? Apa memang amat perlu? Tidak dijelaskan dalam perumpamaan alasan sang ayah. Tetapi anak yang ini jelas mengerti maksudnya. Dan ia yakin sebaiknya menuruti. Di bawah nanti akan diulas arti permintaan tadi.

PERMINTAAN SANG AYAH = REZEKI HARI INI?


Tidak ada buruknya kita coba ikut merasa-rasakan bagaimana sang ayah mengungkapkan keinginannya. Ia berkata, "Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur!" Kata-kata ini tidak berisi sebuah perintah keras, melainkan tawaran yang diungkapkan dengan halus. Terasa juga sapaan yang penuh kasih sayang. Isi permintaannya sendiri sebetulnya tidak amat berarti. Ada banyak orang yang menunggu dipekerjakan di kebun anggurnya. Sang ayah meminta anaknya bekerja di sana justru karena ia mau menawarkan kesempatan bagi mereka. Dan lebih khusus lagi, ia menawarkan kesempatan bekerja "hari ini".

Tawaran bekerja di kebun anggur "hari ini" mengingatkan pada permintaan kepada Bapa dalam doa yang diajarkan Yesus: "Berilah kami rezeki pada hari ini".Dalam perumpamaan ini ditunjukkan betapa sang ayah ingin memberi sesuatu yang dapat membuat anaknya mendapatkan sesuatu pada "hari ini". Rezeki pada hari ini, itulah yang ditawarkannya dengan lembut. Tidak dipaksakannya. Berarti bisa ditolak, bisa tak dianggap penting, diremehkan, tapi tetap ditawarkan. Bagi yang tadinya tidak mau, tetapi kemudian berubah sikap, tawaran itu masih tetap berlaku.

Perumpamaan ini menggemakan tema kemurahan hati Allah yang ditawarkan kepada siapa saja tetapi yang tidak selalu diterima dengan serta merta. Dalam perumpamaan hari Minggu lalu (Mat 20:1-16) kemurahan hati ini dipersoalkan oleh mereka yang kurang memikirkan keadaan mereka yang kurang seberuntung mereka. Pekerja yang langsung menemukan pekerjaan dan masuk pagi kurang senang melihat yang datang kemudian mendapat upah sama. Tetapi mereka yang datang kemudian ini sebenarnya sudah lama menunggu. Kini dalam perumpamaan tentang dua anak, rezeki hari itu ditawarkan kepada dua orang yang sebetulnya tahu apa itu kemurahan hati dan kebaikan ilahi. Tetapi hanya satu saja yang akhirnya mau menerimanya. Yang lain merasa tidak membutuhkannya. Pembaca perumpamaan ini diajak berpikir di mana kedudukannya sekarang ini. Sekaligus ada imbauan untuk berubah bagi yang bersikap sebagai anak yang kedua.



Salam hangat,
A. Gianto

Sabtu, 24 September 2011 Hari Biasa Pekan XXV

Sabtu, 24 September 2011
Hari Biasa Pekan XXV


”Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. (Luk 9 : 44 - 45)

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Banyak hal yang sulit aku mengerti akan muncul dalam kehidupanku. Oleh karena itu ya Tuhan, berilah aku kerendahan hati sehingga di tengah ketidakmengertianku aku tetap beriman kepada-Mu. Amin.

Pembacaan dari Kitab Nubuat Zakharia (2:5-9,14-15a)


"Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu."

Aku, Zakharia, melayangkan mataku dan melihat: Tampak seorang yang memegang tali pengukur. Aku lalu bertanya, "Ke manakah engkau pergi?" Maka ia menjawab, "Ke Yerusalem, untuk mengukurnya, untuk melihat berapa lebar dan panjangnya." Lalu malaikat yang berbicara dengan daku maju ke depan. Sementara itu seorang malaikat lain maju, mendekatinya dan diberi perintah. "Larilah, katakanlah kepada orang muda di sana itu, demikian, 'Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. Dan Aku sendiri,' demikianlah sabda Tuhan, 'akan menjadi tembok berapi di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya'." "Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu," demikianlah sabda Tuhan, "dan pada waktu itu banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan dan akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan tinggal di tengah-tengahmu."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya.
Ayat. (KIDUNG Yer 31:10.11.12ab.13)

1. Dengarlah firman Tuhan, hai bangsa-bangsa, dan beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerahkan Israel akan menghimpunnya kembali, dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya!
2. Sebab Tuhan telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat daripadanya. Mereka akan datang bersorak-sorai di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan Tuhan.
3. Waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang muda dan orang-orang tua akan bergembira, Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.


Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:43b-45)

"Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya."

Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus



Renungan


Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.


Untuk kedua kalinya Yesus bernubuat tentang penderitaan-Nya. Nubuat ini, untuk mengingatkan para murid, bahwaYesus mesti menghadapi resiko penderitaan, ditolak bahkan akan dibunuh. Bagi para murid tindakan yang ditempuh-Nya ini sangat mengecewakan. Sebab mereka tidak mau, tidak rela Yesus mengalami jalan derita, jalan salib itu. Karena mengharapkan Yesus datang untuk membebaskan mereka dari kuasa penjajah. Salib dalam hidup sehari-hari berupa: penderitaan, jerih payah, kekecewaan, sakit badan, korban perasaan, dihina, dicurigai, dicemburui, dituduh, difitnah, ditolak, disingkirkan dan dimusuhi. Tanpa salib orang belum membuktikan apa yang diberikan kepada Yesus. Orang yang takut akan salib, tidak mengerti bahwa kehidupan ini harus diuji dengan pencobaan dan tantangan. Agar tidak mundur menghadapi salib, orang harus terus berjaga dan berdoa. Karena sikap terus berjaga dan berdoa adalah ungkapan iman, hubungan atau relasi manusia dengan Tuhan, Sang Pencipta.

Saudara-saudari terkasih.


Harus kita akui dalam kehidupan sehari-hari, kita sering takut memanggul salib, menanggung penderitaan. Entah itu pengorbanan, rasa sakit karena dihina, dicemooh dan dituduh melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Seperti misalnya, dituduh korupsi, selingkuh, provokasi, menebar gosip dan sebagainya. Padahal tidak jarang terjadi, hal itu semua adalah ungkapan kemunafikan orang-orang yang ingin menutupi kekurangan dalam hidupnya. Karena dia mengalami suatu peristiwa pahit dalam hidupnya, dan dia sungguh tidak siap menerima itu, dia menjadi tergoncang, dia sesungguhnya menolak itu. Tetapi itu dia kompensasikan dengan mengutuk, mencela dan menyalahkan orang-orang yang senasib dengannya, yang tidak mau menerima salib dalam hidupnya. Seperti misalnya: ditinggal mati suami atau isterinya, atau anaknya atau orangtuanya, atau kekasihnya.

Saudara-saudari terkasih.

Yesus menyuruh kepada murid-murid-Nya agar: "Mendengarkan dan mencamkan" segala perkataan yang diucapkan-Nya. Apa yang diucapkan oleh Yesus pada waktu itu? Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya kepada mereka penderitaan yang akan dialami-Nya. Bahwa Ia akan disiksa, diludahi, ditampar, dipukul, ditendang, dicambuk, dipasangi mahkota duri, didera, dipaku, disalib, ditusuk tombak dan pada akhirnya Ia pun mati. Bahkan pakaian-Nya pun dilucuti, Yesus ditelanjangi di depan umum. Yesus tidak punya lagi apa-apa pada diri-Nya, bahkan harga diri-Nya pun dirampas dari-Nya. Yesus tidak menolak, Yesus tidak memberontak dan Yesus tidak memaki atau pun menyumpahi mereka yang telah menghina diri-Nya dengan perlakuan itu semua. Tetapi Yesus malah mendoakan mereka, Yesus mengampuni mereka dan memohonkan kepada Allah, Bapa-Nya pengampunan untuk mereka. Inilah bukti: "Kejahatan dibalas kebaikan. Air tuba dibalas air susu." Inilah inti dari ajaran cintakasih-Nya.

Saudara-saudari terkasih.


Seorang yang akan baptis, ditanya: "Untuk apa kamu minta dibaptis?" Jawabnya: "Agar saya mendapatkan keselamatan." Benarkah dia akan "selamat" dengan dibaptis? Berapa banyak orang yang dibaptis justru susah hidupnya, disingkirkan dari pekerjaan, dikucilkan, dipersulit, tidak bebas berbuat, tidak mudah selingkuh. Pendek kata hidupnya serba dibatasi, dilarang, dilihat dan diperhatikan banyak orang. Sepasang calon pengantin, ditanya: Apa yang kamu cari dengan perkawinanmu? Jawabnya: "Kebahagiaan." Benarkah mereka akan bahagia? Tidak sedikit suami Katolik tidak tahan, karena harus mencintai isterinya sampai mati. Tidak boleh bercerai, tidak boleh menambah isteri. Begitu pula isteri Katolik harus setia kepada suaminya sampai mati dan juga tidak boleh menambah suami. Mereka harus mau berkorban lahir batin, demi pasangannya dan anak-anaknya. Sanggup lelah, lapar, sakit, dihina; demi suami, isteri serta anak-anaknya. Tidak boleh mengeluh dan melawan; harus memanggul salibnya mengikut Yesus.

REFLEKSI:

Apakah setelah dibaptis dan menjadi orang Katolik; kita sungguh merasakan bahagia dan selamat?

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, sering kali kami mengelak dari berbagai tantangan hidup dan enggan berjuang untuk mengatasinya. Kuatkanlah kami untuk menanggung salib hidup kami dengan ikhlas dan mengikut Engkau kemana pun pergi. Ajarilah kami untuk selalu setia, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam nama-Mu, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

LUMEN NO : 6989 -- Renungan Lumen Indonesia

Jumat, 23 September 2011 Pw St. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam

Jumat, 23 September 2011
Pw St. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam

Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan (Why 14:13)

Antifon Pembuka (Hag 2:8-10)

Aku akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan. Di tempat ini aku akan memberikan damai sejahtera.

Doa Pagi

Kuatkanlah hatiku, ya Tuhan, sebab Engkau adalah sumber kekuatan kami. Sungguh luar biasa kata-kata peneguhan yang Kauucapkan pada hari ini. Semoga pada saat-saat kami menghadapi kesulitan, seperti dulu Padre Pio pernah mengalaminya dan hari ini dirayakan peringatannya, kami teringat akan sabda-Mu yang sangat menghibur hati kami. Amin.

Campur tangan Allah secara langsung akan menyempurnakan apa yang tidak dapat diselesaikan oleh usaha manusia. Di sinilah kuasa Allah dinyatakan. Namun demikian, Allah tetap menghendaki agar manusia terus bekerja. “Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kalian,” firman Tuhan.

Pembacaan dari Nubuat Hagai (2:1b-9)

"Sedikit waktu lagi maka Aku akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan."


Pada tahun kedua pemerintahan Raja Darius, pada tanggal 21 bulan ketujuh, datanglah sabda Tuhan dengan perantaraan Nabi Hagai, bunyinya, “Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak , imam besar, dan kepada sisa bangsa Israel, demikian, “Masih adakah di antara kalian yang dahulu melihat rumah Tuhan dalam kemegahannya yang semula? Dan bagaimanakah kalian lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya yang sekarang kamu katakan sama sekali tidak berarti? Tetapi sekarang kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah sabda Tuhan, kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar. Kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah sabda Tuhan. Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kalian,” demikianlah sabda Tuhan semesta alam, “sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kalian pada waktu kalian keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!” Dan beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Sedikit waktu lagi Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat. Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga harta benda semua bangsa datang mengalir. Maka Aku akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan. Sebab milik-Kulah perak dan emas, demikianlah sabda Tuhan semesta alam. Maka kemegahan rumah ini nanti akan melebihi kemegahannya yang semula, sabda Tuhan semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berharap dan bersyukurlah kepada Allah, penolong kita.
Ayat. (Mzm 43:1.2.3.4)
1. Berikanlah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari penipu dan orang curang!
2. Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?
3. Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun, dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!
4. Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah sukacita dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Alleluya.

Menurut Petrus, Yesus adalah Mesias. Akan tetapi, Yesus bukanlah Mesias seperti dipikirkan dan diharapkan oleh banyak orang, yang bersumber pada patriotisme nasional untuk mengusir penjajah Roma. Ia akan menderita, dibunuh namun bangkit pada hari ketiga.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:18-22)

"Engkaulah Kristus dari Allah! Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan."

Pada suatu ketika Yesus sedang berdoa seorang diri. Maka, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus lalu bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak siapakah Aku ini?” Mereka menjawab, “Yohanes Pembaptis; ada juga yang mengatakan: Elia; ada pula yang mengatakan: Salah seorang nabi dari zaman dulu telah bangkit.” Yesus bertanya lagi, “Menurut kalian, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Engkaulah Kristus dari Allah.” Dengan keras Yesus melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapa pun. Ia lalu berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh para tua-tua, oleh para imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Tuhan memanggil kita dengan cara yang unik. Di satu sisi, Ia menyatakan betapa berharganya martabat diri kita, dan di lain sisi Ia memanggil kita pada salib. Keduanya dikagumi dan dijalani oleh St. Padre Pio dr Pietrelcina. Bagaimana dengan kita?

Doa Malam

Ya Yesus, Engkaulah Kristus dari Allah. Buatlah kami pun seperti Petrus yang berani memberi pengakuan akan Engkau oleh karena pengenalan pribadi akan Dikau, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.


RUAH

7 Joys of Mary




The Annunciation


The Visitation to St Elizabeth


The Nativity


The Adoration of the Magi


Finding Jesus in the Temple


The Resurrection


The Assumption into Heaven



7 Sorrows of Mary





The Prophecy of Simeon



The Flight into Egypt



Losing Jesus in the Temple



Via Dolorosa



At the Foot of the Cross




Pieta



The Burial




Kamis, 22 September 2011 Hari Biasa Pekan XXV

Kamis, 22 September 2011
Hari Biasa Pekan XXV

Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus -- Galatia 6:2

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa, syukur atas karya keselamatan yang telah Engkau selenggarakan melalui perantaraan para nabi dan teristimewa Putra-Mu sendiri Yesus Kristus. Semoga sepanjang hari ini aku mampu menghargai karya keselamatan-Mu dengan sepantasnya, melalui sikap dan tindakanku di hadapan-Mu dan sesama. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Nubuat Hagai (1:1-8)

"Bangunlah rumah Tuhan dan Aku akan berkenan menerimanya."

Pada tahun kedua pemerintahan Raja Darius, pada hari pertama bulan keenam, datanglah sabda Tuhan dengan perantaraan Nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya, "Beginilah sabda Tuhan semesta alam, 'Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan!' Maka datanglah sabda Tuhan dengan perantaraan Nabi Hagai, bunyinya: Apakah sudah tiba waktunya bagi kalian untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang rumah Tuhan tetap menjadi reruntuhan? Oleh sebab itu beginilah sabda Tuhan semesta alam, 'Perhatikanlah keadaanmu! Kalian menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit. Kalian makan, tetapi tidak sampai kenyang. Kalian minum, tetapi tidak sampai puas. Kalian berpakaian, tetapi badanmu tidak menjadi hangat. Dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja tetapi upahnya ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang!' Beginilah sabda Tuhan semesta alam, 'Perhatikanlah keadaanmu! Maka naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah rumah Tuhan. Maka aku akan berkenan menerimanya, dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ'."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan akan umat-Nya.
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)

1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur. Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Akulah jalan, kebenaran dan hidup; hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:7-9)

"Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?"

Ketika Herodes, raja wilayah Galilea, mendengar segala sesuatu yang terjadi, ia merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi zaman dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, "Yohanes kan telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?" Lalu ia berusaha untuk dapat bertemu dengan Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus

Renungan

"Hei.... kata orang kamu lagi bermusuhan sama sahabatmu si Rio ya? Memang Rio itu jahat koq," tanya Johny kepada Theo teman sekelasnya, "Hah? Kata siapa itu?" jawab Theo. "Kemarin Nelli bilang katanya dia mendengar kamu menyebut Rio 'setan' ketika kamu menerima telepon Rio," kata Johny. "Wakakaka..... ada-ada saja si Nelli. Aku menyebut Rio setan itu kan dalam konteks bergurau gara-gara dia sudah mengalahkan aku mendapatkan Nindy jadi pacarnya. Aku tetap sahabat Rio, koq malah kamu yang mengatakan Rio jahat," jelas Theo. "Makanya jangan percaya itu yang namanya 'katanya'. Jadi enggak jelas kalau semua cuma berdasarkan katanya!" lanjut Theo. Johny pun malu sendiri jadinya karena peristiwa itu. "Sorry deh... kupikir aku mesti bela kamu kalau memang kamu marah sama Rio," kata Johny.

'Kata orang' merupakan sebuah ungkapan ketidakpastian akan sebuah kabar. 'Kata orang' itu mengandung sifat sangat subjektif dan kadang sulit ditelusuri kebenarannya. Demikian pula yang terjadi dengan Yesus. Banyak orang yang sebenarnya tidak sungguh-sunggugh mengenal Yesus hanya mempunyai dan membuat gambaran subjektif tentang Yesus yang belum tentu kebenarannya. Kalau hanya mengikuti 'kata orang' bisa jadi para murid pun akan mempunyai gambaran dan pengenalan yang salah mengenai pribadi Yesus, Guru mereka itu.

Sering kali pengenalan kita terhadap pribadi Yesus juga masih sekadar 'kata orang'. Kita menyebut Yesus sebagai guru, sahabat, dan Tuhan bukan karena kita sungguh mengenal Yesus tetapi lebih karena itulah yang dikatakan para guru agama kita. Informasi yang kita peroleh tanpa pengalaman pribadi kita akan sangat mudah salah atau digoyahkan. Kalau kita menjalin persahabatan atau banyak relasi percintaan atau pacaran, mestinya relasi itu bukan didasarkan pada 'kata orang' tentang diri sahabat kita atau kekasih kita, tetapi lebih karena pengenalan pribadi kita dengannya. Kalau hanya berdasarkan 'kata orang' kita bisa salah mengenalinya.

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup. Di dalam Engkau kami memperoleh keselamatan dan kehidupan yang kekal. Bantulah kami agar kami belajar untuk mengenal Engkau satu-satunya Tuhan yang layak disembah dan dimuliakan di bumi maupun di surga. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Harian

Rabu, 21 September 2011 Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil

Rabu, 21 September 2011
Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil

Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya -- Mat 21:22

Antifon Pembuka (Mat 28:19-20)

Tuhan bersabda, “Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka. Ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Doa Renungan


Ya Tuhan, buatlah hidup kami sepadan dengan panggilan kami sebagai pengikut-Mu. Ajarilah kami bersikap rendah hati, lemah lembut dan sabar terhadap siapa pun seperti yang telah Engkau ajarkan lewat hidup-Mu. Semoga kami dapat saling membantu dalam kasih dan berusaha untuk hidup berdamai dengan sesama. Amin.


Rasul Paulus menasihati jemaat di Efesus agar hidup sesuai dengan panggilan Kristen (1Tes 2:12; Kol 1:10), dilandasi oleh kasih dan kesatuan Roh. Selanjutnya bertumbuh dalam kedewasaan hingga mencapai kepenuhan Kristus.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (4:1-7.11-13)

"Ada macam-macam tugas pelayanan demi pembangunan umat."

Saudara-saudara, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihati kamu, supaya sebagai orang-orang yang terpanggil, kamu hidup sepadan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua. Akan tetapi, kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita Injil, gembala umat, maupun pengajar; semuanya itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi tugas pelayanan demi pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian, akhirnya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 834
Ref. Nama Tuhan hendak kuwartakan di tengah umat kumuliakan.
atau Di seluruh bumi bergemalah suara mereka.
Ayat. (Mzm 19:2-3.4-5; R:5a)
1. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
2. Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.

Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur.

Kehadiran Yesus didasari oleh misi yang jelas, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa,” kata Yesus. Matius sebagai pemungut cukai dan oleh orang-orang Farisi dimasukkan dalam kelompok orang berdosa menjadi salah seorang yang dipanggil untuk mengikuti-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:9-13)

"Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus."

Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Yesus memanggil Matius. Ia aktif. Ia melihat, mengajak dan pergi mendahului. Ia makan di rumah Matius. Amat jelas, Tuhan bekerja dalam panggilan keselamatan kita. Apa dan bagaimana seharusnya sikap kita?

Doa Malam


Kami sadar, ya Yesus, akan keterbatasan diri kami. Terima kasih karena Engkau berkenan datang dan memanggil kami, orang berdosa ini, seperti Engkau telah memanggil Matius menjadi rasul-Mu. Semoga kami mampu menerima ajakan-Mu lewat Injil untuk mengikuti dan menyertakan Engkau dalam seluruh hidup kami. Amin.


RUAH

Selasa, 20 September 2011 Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk. Martir Korea

Selasa, 20 September 2011
Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk. Martir Korea

“Kita telah menerima Sakramen Baptis, masuk dalam pelukan Gereja, serta menerima kehormatan disebut sebagai orang-orang Kristen. Tetapi, apa gunanya semua itu jika kita hanya Kristen dalam nama dan tidak dalam kenyataan?” <--> St Andreas Kim Taegon


Doa Renungan

Allah Bapa kami yang mahakudus, kami bersyukur kepada-Mu karena hari ini kami dapat mendengarkan, membaca sabda-Mu yang menguatkan hati dan menyemangati. Dampingilah kami agar tetap bertekun dan setia pada Yesus Putra-Mu. Kami percaya, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, kami dapat hadir sebagai terang dunia. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Ezra (6:7-8.12b.14-20)

"Mereka mentahbiskan rumah Allah dan merayakan Paskah."

Pada waktu itu Darius, raja Persia, memerintahkan kepada para bupati di daerah Sungai Efrat sebagai berikut: "Biarkanlah pekerjaan membangun rumah Allah itu. Bupati dan para tua-tua orang Yahudi boleh membangun rumah Allah itu di tempatnya yang semula. Lagipula telah dikeluarkan perintah olehku tentang apa yang harus kamu perbuat terhadap para tua-tua orang Yahudi mengenai pembangunan rumah Allah itu, yakni dari pada penghasilan kerajaan, dari pada upeti daerah seberang sungai Efrat, haruslah dengan seksama dan dengan tidak bertangguh diberi biaya kepada orang-orang itu. Aku, Darius, yang mengeluarkan perintah ini. Hendaklah itu dilakukan dengan seksama." Maka para tua-tua orang Yahudi melanjutkan pembangunan itu dengan lancar digerakkan oleh nubuat nabi Hagai dan nabi Zakharia bin Ido. Mereka menyelesaikan pembangunan menurut perintah Allah Israel dan menurut perintah Koresh, Darius dan Artahsasta, raja-raja negeri Persia. Maka selesailah rumah itu pada hari yang ketiga bulan Adar, yakni pada tahun yang keenam zaman pemerintahan raja Darius. Maka orang Israel, para imam, orang-orang Lewi dan orang-orang lain yang pulang dari pembuangan, merayakan pentahbisan rumah Allah ini dengan sukaria. Untuk pentahbisan rumah Allah ini mereka mempersembahkan lembu jantan seratus ekor, domba jantan dua ratus ekor dan anak domba empat ratus ekor; juga kambing jantan sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh orang Israel dua belas ekor, menurut bilangan suku Israel. Mereka juga menempatkan para imam pada golongan-golongannya dan orang-orang Lewi pada rombongan-rombongannya untuk melakukan ibadah kepada Allah yang diam di Yerusalem, sesuai dengan yang ada tertulis dalam kitab Musa. Dan pada tanggal empat belas bulan pertama mereka yang pulang dari pembuangan merayakan Paskah. Karena para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para imam, dan bagi dirinya sendiri.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 2/4, PS 844
Ref. 'Ku menuju ke altar Allah dengan sukacita.
Ayat. (Mzm 122.1-2.4-5.6-7;8-9; R:1)

1. Ku bersukacita waktu orang berkata kepadaku: Mari kita pergi ke rumah Tuhan. Sekarang kaki kami berdiri di gerbangmu, hai Yerusalem.
2. Kepadamu suku-suku berziarah, yakni suku-suku Tuhan, untuk bersyukur pada nama Tuhan sesuai dengan peraturan.
3. Berdoalah agar Yerusalem sejahtera "Damai bagi orang yang mencintai Engkau. "Semoga damai turun atas wilayahmu dan kesentosaan atas purimu."
4. Atas nama saudara dan sahabatku kuucapkan selamat kepadamu. Demi bait Tuhan Allah kita kumohonkan bahagia bagimu.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2Tes 2:14)
Allah telah memanggil kita; sehingga kita boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus Tuhan kita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:19-21)


"Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya."

Pada suatu hari datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus hendak bertemu dengan Dia. Tetapi, mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Maka diberitahukan kepada Yesus, "Ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Dikau." Tetapi, Yesus menjawab, "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.


Renungan

Hari ini, Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya bagaimana mereka harus membangun persaudaraan yang sejati. Persaudaraan yang dihayati para murid-Nya harus melampaui batas-batas manusiawi. Mereka hendaknya bersaudara tidak hanya dengan mereka yang sedarah, melainkan dengan semua orang yang sama-sama mau mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah. Yang menjadi dasar persaudaraan mereka adalah Yesus dan kehendak Allah. Siapa pun yang mau mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah itulah saudara mereka.

Hari ini kita juga diajak Yesus untuk membangun persaudaraan berdasarkan iman kita. Kita membangun persaudaraan yang lebih inklusif. Janganlah bersaudara hanya dengan mereka yang sehati dan sepikiran dengan kita, melainkan dengan siapa pun yang punya kemauan baik untuk melaksanakan kehendak Allah. Kita harus keluar dari kelompok kita. Orang Kristiani harus menjadi suatu persekutuan yang terbuka terhadap siapa pun. Hanya dengan demikianlah, hidup kita akan menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan.

Ya Yesus, Engkau menghendakiku untuk membangun persaudaraan melampaui batas-batas kemanusiaanku. Jadikanlah hidup kebersamaanku menjadi suatu kesaksian akan kehadiran-Mu yang nyata. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian

Senin, 19 September 2011 Hari Biasa Pekan XXV

Senin, 19 September 2011
Hari Biasa Pekan XXV

Tanpa pertolongan rahmat, keabadian lebih merupakan suatu beban daripada suatu berkat. (St. Ambrosius)


Antifon Pembuka (Yoh 8:12)

Aku ini cahaya dunia. Yang mengikuti Aku hidup dalam cahaya.

Doa Pagi

Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, karena Engkau berkenan tinggal di dalam kami sebagai bait-Mu yang hidup. Semoga perjalanan iman ini meyakinkan kami bahwa Engkau selalu menyertai kami dan menjadikan Engkau sebagai sumber kekuatan kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Setiap orang Israel yang masih hidup dan berstatus sebagai pendatang disokong oleh penduduk setempat dengan perak, emas, harta benda dan ternak. Luar biasa kepedulian dan solidaritas mereka. Di zaman sekarang, adakah orang-orang yang murah hati seperti itu?

Pembacaan dari Kitab Ezra (1:1-6)

"Barangsiapa termasuk umat Allah, hendaknya ia pulang ke Yerusalem dan mendirikan rumah Allah."


Pada tahun pertama pemerintahan Koresh, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh untuk menggenapkan firman yang diucapkan Nabi Yeremia. Maka di seluruh kerajaan diumumkan secara lisan maupun tulisan demikian, “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: ‘Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugasi aku mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Barangsiapa di antara kalian yang termasuk umat Allah, semoga Allah menyertai dia! Hendaknya ia berangkat pulang ke Yerusalem yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah Tuhan, Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang Israel yang masih hidup, di mana pun ia berada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah di Yerusalem’.” Maka, berkemas-kemaslah kepala-kepala keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta imam dan orang-orang Lewi; pendek kata setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah Allah yang ada di Yerusalem. Dan semua orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan perak dan emas,harta benda dan ternak, dan dengan pemberian yang indah-indah, selain segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ul:lh.3)

1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawaria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 4.Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.


Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu yang di surga.

Fungsi pelita ialah menerangi supaya orang tidak ada dalam kegelapan dan tersandung. Demikianlah tugas setiap murid, menjadi terang dunia (lih. Mat 5:14).

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:16-18)

"Pelita ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya."

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah melihat cahayanya. Sebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu perhatikanlah cara kalian mendengar. Karena barangsiapa sudah punya akan diberi, tetapi barangsiapa tidak punya, apa pun yang dianggap ada padanya, akan diambil.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Bila Tuhan menggerakkan dan memanggil Anda untuk melakukan karya kasih-Nya, janganlah menjadi takut, melainkan percayalah. Seperti kita datang kepada cahaya, Tuhan akan membantu apa yang kita harus perbuat setapak demi setapak.

Doa Malam

Tuhan Yesus, ajari kami menjadi pelita yang menerangi dan memberi cahaya bagi sesama yang benar-benar sesuai dengan yang Kauajarkan. Semoga perbuatan baik kami membuat sesama kami semakin memuliakan nama-Mu. Amin.


RUAH

Pertemuan BKSN Minggu IV: "Perumpamaan Tentang Pengampunan" (Mat 18:21-35)

PERTEMUAN KEEMPAT

"Perumpamaan Tentang Pengampunan" (Mat 18:21-35)

Lagu Pembuka

Puji Syukur No. 600 - O RAHMAT YANG MENGAGUMKAN
1. O Rahmat yang mengagumkan, penolong hidupku: 'Ku t'lah sesat, didapatkan, 'ku buta pun sembuh.
2. Rahmat membuatku takwa, membuatku lega. Besar nian rahmat Tuhan di awal imanku.
3. Lembah kelam penuh jerat membelenggu jiwa. Karunia-Mu membebaskan, mengantarku pulang.
4. Kudapat janji yang teguh, kuharap sabda-Nya. Dan Tuhanlah perisaiku tetap selamanya.


Tanda Salib dan Salam

P : Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U : Amin

P : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cintakasih Allah dan persekutuan Roh Kudus selalu beserta kita.

U : Sekarang dan selama-Iamanya.

Pengantar

MENGAMPUNI, adalah suatu kata yang mudah diucapkan namun sangat sulit dilakukan. Pada pertemuan sub tema keempat ini kita semua diajak oleh Yesus mengenai hal pengampunan yang sesungguhnya dan bagaimana serta berapa kali mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Para rabi Yahudi pada waktu itu mengajarkan batas wajib mengampuni adalah tiga kali dan Petrus di dalam Injil melebihkan jumlah tersebut menjadi sampai tujuh kali. Namun, Yesus menanggapinya dengan perintah yang mengejutkan : "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat.18:22). Artinya, pengampunan yang kita berikan kepada sesama tidak ada batasnya, karena Allah adalah Maha Pengampun, Dia selalu mengampuni orang yang berdosa dan bersalah kepadaNya meskipun" dosa dan kesalahan manusia tersebut sebesar apapun dan berulang-ulang kali.

Pernyataan Tobat

P : Marilah kita mohon ampun agar mempunyai kerendahan hati untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita sehingga kita layak mengikuti peristiwa penyelamatan ini.

P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau selalu bersedia mengampuni, betapa berat pun dosa kami, asal kami mau bertobat. Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau tidak menghendaki hukum balas dendam, melainkan agar kami saling mengampuni tujuh puluh kali tujuh. Kristus, kasihanilah kami.

U : Kristus, kasihanilah kami.

P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memberi teladan pengampunan ketika di salib. Tuhan kasihanilah kami.

U : Tuhan Kasihanilah kami.

Doa Pembuka

Allah yang Maharahim dan Maha pengampun, kami dating dengan keinginan diampuni atas kesalahan dan dosa kami kepadaMu, namun seringkali kami masih tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Oleh karena itu pada pertemuan ini kami mau belajar dari Yesus, Putra-Mu tentang mengampuni, maka kami mohon kekuatan dan kerahiman-Mu agar kami mampu mengampuni kesalahan orang lain yang bersalah kepada kami dan tidak mengingatnya lagi, sehingga kami layak dan pantas disebut sebagai murid Putra-Mu dan dapat bertumbuh didalam-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Lagu Pengantar Bacaan

Puji Syukur No 366 - FIRMAN ALLAH YANG TERSURAT

1. Firman Allah yang tersurat, dalam Kitab mulia disampaikan pada umat agar hidup imannya. Pujian bagi-Mu, Tuhan atas firman-Mu. Pujian bagi-Mu, Tuhan, atas firman-Mu.
2. Firman-Mu tertabur luas, dikenal manusia, namun acap tak berbuah, tak terawat dan lenyap. Sirami, ya Allah, hati kami, umat-Mu. Sirami, ya Allah, hati kami umat-Mu.
3. Firman Allah, kebenaran, menyinari yang gelap, bila tidak diamalkan, sia-sia jadinya. Bantulah umat-Mu, menghayati firman-Mu. Bantulah umat-Mu, menghayati firman-Mu.

Membaca Sabda Tuhan : Matius 18: 21 - 35

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:21-35)

"Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."

Sekali peristiwa Petrus datang kepada Yesus dan berkata, "Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isteri dan segala miliknya untuk membayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah Dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain, yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskan segala hutang itu. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Maka raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.


Percikan Permenungan

* Dalam era modern sekarang ini, dimana teknologi dan arus informasi sangat mudah didapat orang sangat mudah merasa dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Hal ini salah satu alasan yang terbesar mengapa orang cenderung untuk tidak mau mengampuni kesalahan orang lain.
* Inti dari perumpamaan ini adalah para murid diminta untuk mengampuni karena Bapa telah lebih dahulu mengampuni dosa-dosa kita dengan pengampunan yang tiada batasnya.
* Adalah Petrus yang mempertanyakan kepada Yesus tentang berapa kali seorang harus mengampuni sesame yang bersalah padanya (Ay.21) dan jawaban Yesus pada ayat 22 sungguh mengejutkan, karena pengampunan harus diberikan tujuh puluh kali tujuh kali, yang artinya tidak terbatas, sarna seperti pengampunan Allah Bapa kepada kita, apapun kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan.
* Pengampunan harus dimulai dari ketulusan hati yang didasari oleh pengampunan dari Bapa yang telah kita terima lebih dahulu.

Pertanyaan Pendalaman Kitab Suci

1. Apa maksud Yesus dengan mengampuni sampai "Tujuh puluh kali tujuh kali" ?
2. Apa kesulitan terbesar untuk tindakan mengampuni ?

Doa Umat

P : Saudara-saudari-ku terkasih, marilah kita menyatukan hati dan memanjatkan permohonanpermohonan kepada Allah, Bapa yang Maha Pengampun:

P : Ya Bapa, Putra-Mu, Yesus Kristus telah mengajarkan tentang pengampunan kepada kami, namun seringkali kami keras hati untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kami, mampukanlah kami untuk berusaha dengan kekuatan Roh Kudus untuk berjuang mengampuni dengan tulus hati. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P : Ya Bapa, kami seringkali bertindak seperti hamba yang tidak tahu berterima kasih tersebut, mampukanlah kami untuk terus memahami dan belajar dari PuteraMu untuk megampuni tanpa batas dan pamrih. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P : Ya Bapa,kami seringkali tidak tahu berterima kasih dengan segala pengampunan dan kerahimanMu, berilah kami kekuatan agar kami mampu wewujudkan semangat pengampunan dalam relasi antar anggota keluarga, masyarakat dan gereja. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P : Ya Bapa Pengasih, berilah kami semangat mengampuni seperti yang diajarkan Putera-Mu, Yesus Kristus sehingga kami layak disebut sebagai murid-Nya, dan sebagai bekal kami menjalankan kehidupan di dunia ini. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Doa Spontan

(Bagi umat yang ingin berdoa spontan, dipersilahkan .... )

P : Ya Bapa, Engkaulah Sumber Pengampunan, oleh karena itu kami satukan doa-doa kami dengan doa yang diajarkan oleh Putera-Mu, Yesus Kristus :

Bapa kami ........... . (dapat dinyanyikan atau didoakan)

Membangun Niat dan Tindakan Nyata

* Maukah aku mengampuni pasangan hidupku ? Orangtuaku? Anak-anakku?
* Beranikah aku meminta maaf lebih dahulu?

Doa Penutup

Allah Bapa yang maha kuasa, semoga dengan pertemuan ini kami bisa semakin memahami tentang semangat pengampunan yang datang dariMu, sehingga dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan gereja, kami dapat mewartakan Engkau sebagai Sumber Pengampunan, karena Engkau telah lebih dahulu mengampuni kami orang yang berdosa ini karena Putera-Mu Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

Berkat dan Pengutusan

P : Tuhan beserta kita

U : Sekarang dan selama-Iamanya

P : Semoga kita sekalian, keluarga dan orang-orang yang kita cintai, mampu mengampuni dengan berkat Allah yang Mahakuasa, Dalam Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.

U : Amin.

P : Ibadat pertemuan ini sudah selesai.

U : Syukur kepada Allah

P : Marilah kita pergi untuk diutus mengampuni tanpa batas.

U : Amin.

Lagu Penutup
Puji Syukur No 697 BIMBINGLAH AKU TUHANKU
Ulangan: Bimbinglah aku, Tuhanku, dalam langkah hidupku. Jadikanlah aku utusan-Mu dan pewarta sabda-Mu.
Ayat.
1. Pimpinlah selalu langkah hidupku agar 'ku setia menjadi murid-Mu.
2. Arahkan segala karsa, karyaku untuk mewujudkan dunia baru-Mu.

Bacaan Harian 19-25 September 2011


Bacaan Harian 19-25 September 2011

Senin, 19 September : Hari Biasa Pekan XXV (H).
Ezr 1:1-6; Mzm 126:1-6; Luk 8:16-18.
Kalau kita sudah menerima kebaikan dari Tuhan, tetapi menikmatinya untuk diri sendiri saja, itu ibarat pelita yang bisa menyinari namun diletakkan di bawah tempat tidur. Yesus mengajak kita untuk berbagi kebaikan, supaya kegelapan di sekitar kita bisa pula menjadi terang. Itulah tugas sebagai murid Yesus.

Selasa, 20 September: Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk. Martir Korea (M).
Ezr 6:7-8.12b.14-20; Mzm 122:1-5; Luk 8:19-21.
Bagi Yesus, ibu dan saudara-saudara-Nya adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa. Jadi, ikatan kesatuan dan persaudaraan terhadap Yesus ditentukan oleh kedekatan dengan Allah dan melaksanakan kehendak Allah. Orang-orang seperti itulah yang ia taruh di kedalaman hati-Nya. Jadi, kalau kita sungguh hidup di dalam Firman, yakinlah bahwa kita ada di kedalaman hati Yesus sendiri; dan bersiaplah untuk menerima kemurahan belas-kasih-Nya.

Rabu, 21 September : Pesta St. Matius, Rasul-Penginjil (M).
Ef 4:1-7.11-13; Mzm 19:2-5; Mat 9:9-13.
Yesus memanggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi murid-Nya; dan Matius pun segera berdiri dan mengikuti Dia. Saat Yesus makan di rumah Matius bersama para pemungut cukai dan orang berdosa, orang-orang Farisi menggerutu mengapa Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Dan Yesus pun menjawab: “Bukan orang sehat memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Jelaslah, Yesus justru mencari orang-orang berdosa untuk menjadi murid-Nya. Yang diperlukan adalah kesiapan hati untuk berdiri dan sungguh-sungguh mengikuti Dia.

Kamis, 22 September : Hari Biasa Pekan XV (H).
Hag 1:1-8; Mzm 149:1-6a.9b; Luk 9:7-9.
Mendengar karya-karya Yesus, Herodes menjadi cemas. Orang yang hatinya dipenuhi maksud jahat, tentu akan selalu gusar melihat kebaikan di sekitarnya. Maka, setiap kebaikan yang kita taburkan selalu berdampak “menggoncangkan” maksud-maksud jahat. Teruslah menabur kebaikan, maka kejahatan akan dipatahkan!

Jumat, 23 September : Peringatan Wajib St. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam (P).
Hag 2:1b-10; Mzm 43:1-4; Luk 9:19-22.
Yesus melarang murid-murid untuk memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia adalah Mesias. Yesus melarang, karena Mesias yang dimengerti oleh murid-murid adalah si pembawa kesejahteraan jasmani. Padahal Yesus datang untuk membawa Kerajaan Allah; dan untuk itu Dia siap menderita, disalib dan wafat. Siapkah mengikut Mesias seperti itu?

Sabtu, 24 September : Hari Biasa Pekan XXV (H).
Za 2:1-5.10-11a; MT Yer 31:10.11-12ab.13; Luk 9:43b-45.
Yesus mengalami sengsara dan penderitaan untuk menuju kemuliaan. Maka, jika kita mengalami derita dan sengsara karena menjalankan perintah Tuhan, hendaklah kita juga mampu melihat jalan untuk menuju hidup yang lebih mulia.

Minggu, 25 September : Hari Minggu Biasa XXVI (H).
Yeh 18:25-28; Mzm 25:4bc-9; Flp 2:1-11; (Flp 2:1-5); Mat 21:28-32.
Yesus menghendaki kesatuan antara kata dan perbuatan. Kita ditantang untuk tidak hanya berhenti pada ’kata-kata’, melainkan mewujudkannya dalam perbuatan nyata. Maka, benarlah, kalau kita sungguh beriman, iman itu harus nampak pada perbuatan kita.


KEMURAHAN HATI ALLAH : JASA – USAHA MANUSIA?



Renungan

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan, Hidup ini berharga karena merupakan anugerah Allah yang mahaagung dan mengasihi kita. Kiranya hidup ini akan lebih berharga lagi kalau kita haturkan menjadi persembahan kita kepada Allah sebagai ungkapan kasih dan syukur kita kepada-Nya. Apa yang diwartakan oleh Kristus tentang Kerajaan Allah, entah dengan metafora atau dengan perumpamaan, semua berlaku juga untuk hidup kita. Tidak keliru kalau dikatakan: hidup kita ini ibarat harta terpendam, atau seperti suatu pesta perjamuan. Tragedi hidup tidak disebabkan oleh derita, atau kegagalan, atau musibah apa pun, melainkan oleh kebutaan atau ketidak mampuan melihat nilai yang pantas untuk disyukuri. Pada hari Minggu biasa XXV ini, kita diajak untuk melihat Allah Bapa yang mencari kita untuk bekerja di ladangNya (Matius 20:1-16a).

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua manusia, termasuk para pemungut cukai dan orang berdosa. Tuhan Yesus berjanji kepada para murid, yang sekarang dianggap yang terakhir, akan menjadi yang pertama menerima upah, “Ketika hari sudah malam, tuan itu berkata kepada mandornya : panggillah pekerja-pekerja itu itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu” (ayat 8). Dalam perumpamaan ini sang majikan adalah Allah.

“Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya” (ayat 1). Majikan yang baik menyewa parapekerja pada waktu fajar dengan upah sedinar sehari dan mengirim ke kebun anggurnya. Para pekerja lain, dalam ayat 3-5, disewa pada waktu yang berbeda-beda (pagi, siang, sore, dan petang) tetapi tentang upah dari pekerjaan itu tidak dirinci dengan detail, “Apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.”Para pekerja sudah selesai bekerja. Mereka menunggu untuk mendapatkan upah. “Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul 5 sore dan mereka menerima masing-masing 1 dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun masing-masing menerima 1 dinar juga” (ayat 9-10). Menanggapi keluhan dari mereka yang telah bekerja seharian penuh, si majikan menjawab bahwa ia telah membayarkan upah sesuai dengan kesepakatan. Mereka tidak mempunyai hak untuk mengeluh jika ia mau BERMURAH HATI kepada yang lain.

Keadilan dan kemurahan hati Allah sendiri dipergunakan untuk menjelaskan mengapa Tuhan Yesus mewartakan Kerajaan Allah, baik kepada mereka yang sudah saleh maupun domba-domba yang sesat di Israel. Jika mereka menerima pewartaan-Nya, kedua kelompok ini akan menerima anugerah yang sama dalam Kerajaan Allah.

“HIDUP INI ADALAH ANUGERAH ALLAH, BUKAN HASIL USAHA
DAN KERJA MANUSIA”


Salam dan berkat

Pastor L. Setyo Antoro SCJ

KEADILAN, KETAATAN DAN KEMURAHAN ( Mat. 20:1-16a )


Renungan

Dalam suatu tes rekrutmen untuk menguji para calon SATPAM di sebuah sekolahan pernah ada pertanyaan demikian. “untuk apa bapak ikut tes menjadi satpam di sini” ada beberapa jawaban. Yang pertama menjawab: “untuk menyambung hidup”, yang kedua menjawab: “untuk mendapatkan gaji” dan yang ke tiga menjawab “untuk ikut menciptakan kenyamanan belajar anak-anak dan ketenangan bagi para pengajar”.
Pertanyaan kedua:berapa gaji yang bapak harapkan perbulan? Yang pertama menjawab: “yang cukup untuk hidup keluarga saya”, yang kedua menyebutkan: “Rp 3.000.000,- dan yang ke tiga mengatakan: yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di sini”. Akhirnya yayasan itu memilih orang yang ke tiga. Apa yang menjadi alasan mengapa orang yang ke tiga yang dipilih? Karena orang yang ke tiga punya visi dan misi yang jelas mendukung proses pendidikan, selain itu juga dia punya dedikasi yang jelas, punya komitmen untuk mengikuti perjanjian kerja yang jelas, dan punya keterlibatan yang besar untuk keselamatan dan kesejahteraan baik bagi anak-anak maupun bagi para guru, karyawan dan dunia pendidikan. Sementara yang pertama dan kedua lebih besar tuntutan dan harapan daripada keterlibatannya, mereka mengedepankan hak daripada kewajibannya. Sementara yang ketiga punya keseimbangan pandangan antara hak dan kewajiban dan realitas yang dihadapi oleh, baik yayasan maupun upah wajar minimum di suatu daerah atau UMR.

Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus mau menampilkan Kerajaan Allah di Surga
. Di Surga Allah mengedepankan pertamaadalah keselamatan semua orang, sehingga mereka semua layak untuk mendapatkan sarana yang wajar untuk hidup setiap hari dengan ukuran sedinar sehari. Selain itu juga diperhatikan tentang keadilan. Menurut Yesus dan menurut pekerja yang menuntut gaji. Yesus menyatakan adil untuk memberi upah untuk hidup sehari sedinar, adil menurut perjanjian upah sedinar sehari kepada yang mensepakati tentang upah kerja.

Yesus mau menunjukkan Allah atau Kerajaan Allah yang berbelas kasih dan murah hati, melalui mereka yang tidak ada perjanjian te+ntang upah sehari, melainkan janji akan memberi upah yang layak untuk mereka yang bekerja hanya beberapa saat saja. Ukuran kelayakan adalah layak untuk dapat hidup sehari, bukan layak sesuai dengan lamanya jam kerja. Allah memberi lebih bermurah hati karena walau mereka bekerjanya cuma sebentar tetapi Allah tetap memberikan kesempatan untuk hidup sehari yang sama dengan tandanya upah yang sama satu dinar. Bahkan kepada yang bekerja hanya satu jam saja.

Dalam menilai setiap persoalan atau peristiwa, dalam pembagian untuk kebersamaan kita diajak tidak boleh hanya melihat dari satu sisi kehidupan atau sudut pandang saja. Semakin kita mampu melihat dari pelbagai sisi, kita tidak akan meninggalkan Allah dengan segala keadilan, kemurahan hati, kebijaksanaan dan keselamatan yang berasal dari Allah. Bahwa Kerajaan Allah sungguh mewartakan kabar gembira, karena segala situasi kita diperhatikan oleh Allah dan keselamatan kita sungguh menjadi tujuan utama karya Allah. Bahwa Kerajaan Allahdiperuntukkan bagi orang yang berkeadilan, orang yang murah hati, orang tak punya pekerjaan, orang yang tidak punya jaminan hidup, semua diundang melalui Tuhan Yesus kepada keselamatan. Siapa yang datang kepadanya semuanya akan mendapat anugerah kehidupan tersebut.

Selamat merenungkan
.


Pastor Antonius Sumardi, SCJ

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2023 -

Privacy Policy