Senin, 19 September 2011 Hari Biasa Pekan XXV

Senin, 19 September 2011
Hari Biasa Pekan XXV

Tanpa pertolongan rahmat, keabadian lebih merupakan suatu beban daripada suatu berkat. (St. Ambrosius)


Antifon Pembuka (Yoh 8:12)

Aku ini cahaya dunia. Yang mengikuti Aku hidup dalam cahaya.

Doa Pagi

Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, karena Engkau berkenan tinggal di dalam kami sebagai bait-Mu yang hidup. Semoga perjalanan iman ini meyakinkan kami bahwa Engkau selalu menyertai kami dan menjadikan Engkau sebagai sumber kekuatan kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Setiap orang Israel yang masih hidup dan berstatus sebagai pendatang disokong oleh penduduk setempat dengan perak, emas, harta benda dan ternak. Luar biasa kepedulian dan solidaritas mereka. Di zaman sekarang, adakah orang-orang yang murah hati seperti itu?

Pembacaan dari Kitab Ezra (1:1-6)

"Barangsiapa termasuk umat Allah, hendaknya ia pulang ke Yerusalem dan mendirikan rumah Allah."


Pada tahun pertama pemerintahan Koresh, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh untuk menggenapkan firman yang diucapkan Nabi Yeremia. Maka di seluruh kerajaan diumumkan secara lisan maupun tulisan demikian, “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: ‘Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugasi aku mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Barangsiapa di antara kalian yang termasuk umat Allah, semoga Allah menyertai dia! Hendaknya ia berangkat pulang ke Yerusalem yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah Tuhan, Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang Israel yang masih hidup, di mana pun ia berada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah di Yerusalem’.” Maka, berkemas-kemaslah kepala-kepala keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta imam dan orang-orang Lewi; pendek kata setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah Allah yang ada di Yerusalem. Dan semua orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan perak dan emas,harta benda dan ternak, dan dengan pemberian yang indah-indah, selain segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ul:lh.3)

1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawaria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 4.Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.


Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu yang di surga.

Fungsi pelita ialah menerangi supaya orang tidak ada dalam kegelapan dan tersandung. Demikianlah tugas setiap murid, menjadi terang dunia (lih. Mat 5:14).

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:16-18)

"Pelita ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya."

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah melihat cahayanya. Sebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu perhatikanlah cara kalian mendengar. Karena barangsiapa sudah punya akan diberi, tetapi barangsiapa tidak punya, apa pun yang dianggap ada padanya, akan diambil.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Bila Tuhan menggerakkan dan memanggil Anda untuk melakukan karya kasih-Nya, janganlah menjadi takut, melainkan percayalah. Seperti kita datang kepada cahaya, Tuhan akan membantu apa yang kita harus perbuat setapak demi setapak.

Doa Malam

Tuhan Yesus, ajari kami menjadi pelita yang menerangi dan memberi cahaya bagi sesama yang benar-benar sesuai dengan yang Kauajarkan. Semoga perbuatan baik kami membuat sesama kami semakin memuliakan nama-Mu. Amin.


RUAH

Pertemuan BKSN Minggu IV: "Perumpamaan Tentang Pengampunan" (Mat 18:21-35)

PERTEMUAN KEEMPAT

"Perumpamaan Tentang Pengampunan" (Mat 18:21-35)

Lagu Pembuka

Puji Syukur No. 600 - O RAHMAT YANG MENGAGUMKAN
1. O Rahmat yang mengagumkan, penolong hidupku: 'Ku t'lah sesat, didapatkan, 'ku buta pun sembuh.
2. Rahmat membuatku takwa, membuatku lega. Besar nian rahmat Tuhan di awal imanku.
3. Lembah kelam penuh jerat membelenggu jiwa. Karunia-Mu membebaskan, mengantarku pulang.
4. Kudapat janji yang teguh, kuharap sabda-Nya. Dan Tuhanlah perisaiku tetap selamanya.


Tanda Salib dan Salam

P : Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U : Amin

P : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cintakasih Allah dan persekutuan Roh Kudus selalu beserta kita.

U : Sekarang dan selama-Iamanya.

Pengantar

MENGAMPUNI, adalah suatu kata yang mudah diucapkan namun sangat sulit dilakukan. Pada pertemuan sub tema keempat ini kita semua diajak oleh Yesus mengenai hal pengampunan yang sesungguhnya dan bagaimana serta berapa kali mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Para rabi Yahudi pada waktu itu mengajarkan batas wajib mengampuni adalah tiga kali dan Petrus di dalam Injil melebihkan jumlah tersebut menjadi sampai tujuh kali. Namun, Yesus menanggapinya dengan perintah yang mengejutkan : "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat.18:22). Artinya, pengampunan yang kita berikan kepada sesama tidak ada batasnya, karena Allah adalah Maha Pengampun, Dia selalu mengampuni orang yang berdosa dan bersalah kepadaNya meskipun" dosa dan kesalahan manusia tersebut sebesar apapun dan berulang-ulang kali.

Pernyataan Tobat

P : Marilah kita mohon ampun agar mempunyai kerendahan hati untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita sehingga kita layak mengikuti peristiwa penyelamatan ini.

P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau selalu bersedia mengampuni, betapa berat pun dosa kami, asal kami mau bertobat. Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau tidak menghendaki hukum balas dendam, melainkan agar kami saling mengampuni tujuh puluh kali tujuh. Kristus, kasihanilah kami.

U : Kristus, kasihanilah kami.

P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memberi teladan pengampunan ketika di salib. Tuhan kasihanilah kami.

U : Tuhan Kasihanilah kami.

Doa Pembuka

Allah yang Maharahim dan Maha pengampun, kami dating dengan keinginan diampuni atas kesalahan dan dosa kami kepadaMu, namun seringkali kami masih tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Oleh karena itu pada pertemuan ini kami mau belajar dari Yesus, Putra-Mu tentang mengampuni, maka kami mohon kekuatan dan kerahiman-Mu agar kami mampu mengampuni kesalahan orang lain yang bersalah kepada kami dan tidak mengingatnya lagi, sehingga kami layak dan pantas disebut sebagai murid Putra-Mu dan dapat bertumbuh didalam-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Lagu Pengantar Bacaan

Puji Syukur No 366 - FIRMAN ALLAH YANG TERSURAT

1. Firman Allah yang tersurat, dalam Kitab mulia disampaikan pada umat agar hidup imannya. Pujian bagi-Mu, Tuhan atas firman-Mu. Pujian bagi-Mu, Tuhan, atas firman-Mu.
2. Firman-Mu tertabur luas, dikenal manusia, namun acap tak berbuah, tak terawat dan lenyap. Sirami, ya Allah, hati kami, umat-Mu. Sirami, ya Allah, hati kami umat-Mu.
3. Firman Allah, kebenaran, menyinari yang gelap, bila tidak diamalkan, sia-sia jadinya. Bantulah umat-Mu, menghayati firman-Mu. Bantulah umat-Mu, menghayati firman-Mu.

Membaca Sabda Tuhan : Matius 18: 21 - 35

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:21-35)

"Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."

Sekali peristiwa Petrus datang kepada Yesus dan berkata, "Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isteri dan segala miliknya untuk membayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah Dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain, yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskan segala hutang itu. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Maka raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.


Percikan Permenungan

* Dalam era modern sekarang ini, dimana teknologi dan arus informasi sangat mudah didapat orang sangat mudah merasa dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Hal ini salah satu alasan yang terbesar mengapa orang cenderung untuk tidak mau mengampuni kesalahan orang lain.
* Inti dari perumpamaan ini adalah para murid diminta untuk mengampuni karena Bapa telah lebih dahulu mengampuni dosa-dosa kita dengan pengampunan yang tiada batasnya.
* Adalah Petrus yang mempertanyakan kepada Yesus tentang berapa kali seorang harus mengampuni sesame yang bersalah padanya (Ay.21) dan jawaban Yesus pada ayat 22 sungguh mengejutkan, karena pengampunan harus diberikan tujuh puluh kali tujuh kali, yang artinya tidak terbatas, sarna seperti pengampunan Allah Bapa kepada kita, apapun kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan.
* Pengampunan harus dimulai dari ketulusan hati yang didasari oleh pengampunan dari Bapa yang telah kita terima lebih dahulu.

Pertanyaan Pendalaman Kitab Suci

1. Apa maksud Yesus dengan mengampuni sampai "Tujuh puluh kali tujuh kali" ?
2. Apa kesulitan terbesar untuk tindakan mengampuni ?

Doa Umat

P : Saudara-saudari-ku terkasih, marilah kita menyatukan hati dan memanjatkan permohonanpermohonan kepada Allah, Bapa yang Maha Pengampun:

P : Ya Bapa, Putra-Mu, Yesus Kristus telah mengajarkan tentang pengampunan kepada kami, namun seringkali kami keras hati untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kami, mampukanlah kami untuk berusaha dengan kekuatan Roh Kudus untuk berjuang mengampuni dengan tulus hati. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P : Ya Bapa, kami seringkali bertindak seperti hamba yang tidak tahu berterima kasih tersebut, mampukanlah kami untuk terus memahami dan belajar dari PuteraMu untuk megampuni tanpa batas dan pamrih. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P : Ya Bapa,kami seringkali tidak tahu berterima kasih dengan segala pengampunan dan kerahimanMu, berilah kami kekuatan agar kami mampu wewujudkan semangat pengampunan dalam relasi antar anggota keluarga, masyarakat dan gereja. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P : Ya Bapa Pengasih, berilah kami semangat mengampuni seperti yang diajarkan Putera-Mu, Yesus Kristus sehingga kami layak disebut sebagai murid-Nya, dan sebagai bekal kami menjalankan kehidupan di dunia ini. Kami mohon, ..........

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Doa Spontan

(Bagi umat yang ingin berdoa spontan, dipersilahkan .... )

P : Ya Bapa, Engkaulah Sumber Pengampunan, oleh karena itu kami satukan doa-doa kami dengan doa yang diajarkan oleh Putera-Mu, Yesus Kristus :

Bapa kami ........... . (dapat dinyanyikan atau didoakan)

Membangun Niat dan Tindakan Nyata

* Maukah aku mengampuni pasangan hidupku ? Orangtuaku? Anak-anakku?
* Beranikah aku meminta maaf lebih dahulu?

Doa Penutup

Allah Bapa yang maha kuasa, semoga dengan pertemuan ini kami bisa semakin memahami tentang semangat pengampunan yang datang dariMu, sehingga dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan gereja, kami dapat mewartakan Engkau sebagai Sumber Pengampunan, karena Engkau telah lebih dahulu mengampuni kami orang yang berdosa ini karena Putera-Mu Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

Berkat dan Pengutusan

P : Tuhan beserta kita

U : Sekarang dan selama-Iamanya

P : Semoga kita sekalian, keluarga dan orang-orang yang kita cintai, mampu mengampuni dengan berkat Allah yang Mahakuasa, Dalam Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.

U : Amin.

P : Ibadat pertemuan ini sudah selesai.

U : Syukur kepada Allah

P : Marilah kita pergi untuk diutus mengampuni tanpa batas.

U : Amin.

Lagu Penutup
Puji Syukur No 697 BIMBINGLAH AKU TUHANKU
Ulangan: Bimbinglah aku, Tuhanku, dalam langkah hidupku. Jadikanlah aku utusan-Mu dan pewarta sabda-Mu.
Ayat.
1. Pimpinlah selalu langkah hidupku agar 'ku setia menjadi murid-Mu.
2. Arahkan segala karsa, karyaku untuk mewujudkan dunia baru-Mu.

Bacaan Harian 19-25 September 2011


Bacaan Harian 19-25 September 2011

Senin, 19 September : Hari Biasa Pekan XXV (H).
Ezr 1:1-6; Mzm 126:1-6; Luk 8:16-18.
Kalau kita sudah menerima kebaikan dari Tuhan, tetapi menikmatinya untuk diri sendiri saja, itu ibarat pelita yang bisa menyinari namun diletakkan di bawah tempat tidur. Yesus mengajak kita untuk berbagi kebaikan, supaya kegelapan di sekitar kita bisa pula menjadi terang. Itulah tugas sebagai murid Yesus.

Selasa, 20 September: Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk. Martir Korea (M).
Ezr 6:7-8.12b.14-20; Mzm 122:1-5; Luk 8:19-21.
Bagi Yesus, ibu dan saudara-saudara-Nya adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa. Jadi, ikatan kesatuan dan persaudaraan terhadap Yesus ditentukan oleh kedekatan dengan Allah dan melaksanakan kehendak Allah. Orang-orang seperti itulah yang ia taruh di kedalaman hati-Nya. Jadi, kalau kita sungguh hidup di dalam Firman, yakinlah bahwa kita ada di kedalaman hati Yesus sendiri; dan bersiaplah untuk menerima kemurahan belas-kasih-Nya.

Rabu, 21 September : Pesta St. Matius, Rasul-Penginjil (M).
Ef 4:1-7.11-13; Mzm 19:2-5; Mat 9:9-13.
Yesus memanggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi murid-Nya; dan Matius pun segera berdiri dan mengikuti Dia. Saat Yesus makan di rumah Matius bersama para pemungut cukai dan orang berdosa, orang-orang Farisi menggerutu mengapa Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Dan Yesus pun menjawab: “Bukan orang sehat memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Jelaslah, Yesus justru mencari orang-orang berdosa untuk menjadi murid-Nya. Yang diperlukan adalah kesiapan hati untuk berdiri dan sungguh-sungguh mengikuti Dia.

Kamis, 22 September : Hari Biasa Pekan XV (H).
Hag 1:1-8; Mzm 149:1-6a.9b; Luk 9:7-9.
Mendengar karya-karya Yesus, Herodes menjadi cemas. Orang yang hatinya dipenuhi maksud jahat, tentu akan selalu gusar melihat kebaikan di sekitarnya. Maka, setiap kebaikan yang kita taburkan selalu berdampak “menggoncangkan” maksud-maksud jahat. Teruslah menabur kebaikan, maka kejahatan akan dipatahkan!

Jumat, 23 September : Peringatan Wajib St. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam (P).
Hag 2:1b-10; Mzm 43:1-4; Luk 9:19-22.
Yesus melarang murid-murid untuk memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia adalah Mesias. Yesus melarang, karena Mesias yang dimengerti oleh murid-murid adalah si pembawa kesejahteraan jasmani. Padahal Yesus datang untuk membawa Kerajaan Allah; dan untuk itu Dia siap menderita, disalib dan wafat. Siapkah mengikut Mesias seperti itu?

Sabtu, 24 September : Hari Biasa Pekan XXV (H).
Za 2:1-5.10-11a; MT Yer 31:10.11-12ab.13; Luk 9:43b-45.
Yesus mengalami sengsara dan penderitaan untuk menuju kemuliaan. Maka, jika kita mengalami derita dan sengsara karena menjalankan perintah Tuhan, hendaklah kita juga mampu melihat jalan untuk menuju hidup yang lebih mulia.

Minggu, 25 September : Hari Minggu Biasa XXVI (H).
Yeh 18:25-28; Mzm 25:4bc-9; Flp 2:1-11; (Flp 2:1-5); Mat 21:28-32.
Yesus menghendaki kesatuan antara kata dan perbuatan. Kita ditantang untuk tidak hanya berhenti pada ’kata-kata’, melainkan mewujudkannya dalam perbuatan nyata. Maka, benarlah, kalau kita sungguh beriman, iman itu harus nampak pada perbuatan kita.


KEMURAHAN HATI ALLAH : JASA – USAHA MANUSIA?



Renungan

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan, Hidup ini berharga karena merupakan anugerah Allah yang mahaagung dan mengasihi kita. Kiranya hidup ini akan lebih berharga lagi kalau kita haturkan menjadi persembahan kita kepada Allah sebagai ungkapan kasih dan syukur kita kepada-Nya. Apa yang diwartakan oleh Kristus tentang Kerajaan Allah, entah dengan metafora atau dengan perumpamaan, semua berlaku juga untuk hidup kita. Tidak keliru kalau dikatakan: hidup kita ini ibarat harta terpendam, atau seperti suatu pesta perjamuan. Tragedi hidup tidak disebabkan oleh derita, atau kegagalan, atau musibah apa pun, melainkan oleh kebutaan atau ketidak mampuan melihat nilai yang pantas untuk disyukuri. Pada hari Minggu biasa XXV ini, kita diajak untuk melihat Allah Bapa yang mencari kita untuk bekerja di ladangNya (Matius 20:1-16a).

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua manusia, termasuk para pemungut cukai dan orang berdosa. Tuhan Yesus berjanji kepada para murid, yang sekarang dianggap yang terakhir, akan menjadi yang pertama menerima upah, “Ketika hari sudah malam, tuan itu berkata kepada mandornya : panggillah pekerja-pekerja itu itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu” (ayat 8). Dalam perumpamaan ini sang majikan adalah Allah.

“Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya” (ayat 1). Majikan yang baik menyewa parapekerja pada waktu fajar dengan upah sedinar sehari dan mengirim ke kebun anggurnya. Para pekerja lain, dalam ayat 3-5, disewa pada waktu yang berbeda-beda (pagi, siang, sore, dan petang) tetapi tentang upah dari pekerjaan itu tidak dirinci dengan detail, “Apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.”Para pekerja sudah selesai bekerja. Mereka menunggu untuk mendapatkan upah. “Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul 5 sore dan mereka menerima masing-masing 1 dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun masing-masing menerima 1 dinar juga” (ayat 9-10). Menanggapi keluhan dari mereka yang telah bekerja seharian penuh, si majikan menjawab bahwa ia telah membayarkan upah sesuai dengan kesepakatan. Mereka tidak mempunyai hak untuk mengeluh jika ia mau BERMURAH HATI kepada yang lain.

Keadilan dan kemurahan hati Allah sendiri dipergunakan untuk menjelaskan mengapa Tuhan Yesus mewartakan Kerajaan Allah, baik kepada mereka yang sudah saleh maupun domba-domba yang sesat di Israel. Jika mereka menerima pewartaan-Nya, kedua kelompok ini akan menerima anugerah yang sama dalam Kerajaan Allah.

“HIDUP INI ADALAH ANUGERAH ALLAH, BUKAN HASIL USAHA
DAN KERJA MANUSIA”


Salam dan berkat

Pastor L. Setyo Antoro SCJ

KEADILAN, KETAATAN DAN KEMURAHAN ( Mat. 20:1-16a )


Renungan

Dalam suatu tes rekrutmen untuk menguji para calon SATPAM di sebuah sekolahan pernah ada pertanyaan demikian. “untuk apa bapak ikut tes menjadi satpam di sini” ada beberapa jawaban. Yang pertama menjawab: “untuk menyambung hidup”, yang kedua menjawab: “untuk mendapatkan gaji” dan yang ke tiga menjawab “untuk ikut menciptakan kenyamanan belajar anak-anak dan ketenangan bagi para pengajar”.
Pertanyaan kedua:berapa gaji yang bapak harapkan perbulan? Yang pertama menjawab: “yang cukup untuk hidup keluarga saya”, yang kedua menyebutkan: “Rp 3.000.000,- dan yang ke tiga mengatakan: yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di sini”. Akhirnya yayasan itu memilih orang yang ke tiga. Apa yang menjadi alasan mengapa orang yang ke tiga yang dipilih? Karena orang yang ke tiga punya visi dan misi yang jelas mendukung proses pendidikan, selain itu juga dia punya dedikasi yang jelas, punya komitmen untuk mengikuti perjanjian kerja yang jelas, dan punya keterlibatan yang besar untuk keselamatan dan kesejahteraan baik bagi anak-anak maupun bagi para guru, karyawan dan dunia pendidikan. Sementara yang pertama dan kedua lebih besar tuntutan dan harapan daripada keterlibatannya, mereka mengedepankan hak daripada kewajibannya. Sementara yang ketiga punya keseimbangan pandangan antara hak dan kewajiban dan realitas yang dihadapi oleh, baik yayasan maupun upah wajar minimum di suatu daerah atau UMR.

Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus mau menampilkan Kerajaan Allah di Surga
. Di Surga Allah mengedepankan pertamaadalah keselamatan semua orang, sehingga mereka semua layak untuk mendapatkan sarana yang wajar untuk hidup setiap hari dengan ukuran sedinar sehari. Selain itu juga diperhatikan tentang keadilan. Menurut Yesus dan menurut pekerja yang menuntut gaji. Yesus menyatakan adil untuk memberi upah untuk hidup sehari sedinar, adil menurut perjanjian upah sedinar sehari kepada yang mensepakati tentang upah kerja.

Yesus mau menunjukkan Allah atau Kerajaan Allah yang berbelas kasih dan murah hati, melalui mereka yang tidak ada perjanjian te+ntang upah sehari, melainkan janji akan memberi upah yang layak untuk mereka yang bekerja hanya beberapa saat saja. Ukuran kelayakan adalah layak untuk dapat hidup sehari, bukan layak sesuai dengan lamanya jam kerja. Allah memberi lebih bermurah hati karena walau mereka bekerjanya cuma sebentar tetapi Allah tetap memberikan kesempatan untuk hidup sehari yang sama dengan tandanya upah yang sama satu dinar. Bahkan kepada yang bekerja hanya satu jam saja.

Dalam menilai setiap persoalan atau peristiwa, dalam pembagian untuk kebersamaan kita diajak tidak boleh hanya melihat dari satu sisi kehidupan atau sudut pandang saja. Semakin kita mampu melihat dari pelbagai sisi, kita tidak akan meninggalkan Allah dengan segala keadilan, kemurahan hati, kebijaksanaan dan keselamatan yang berasal dari Allah. Bahwa Kerajaan Allah sungguh mewartakan kabar gembira, karena segala situasi kita diperhatikan oleh Allah dan keselamatan kita sungguh menjadi tujuan utama karya Allah. Bahwa Kerajaan Allahdiperuntukkan bagi orang yang berkeadilan, orang yang murah hati, orang tak punya pekerjaan, orang yang tidak punya jaminan hidup, semua diundang melalui Tuhan Yesus kepada keselamatan. Siapa yang datang kepadanya semuanya akan mendapat anugerah kehidupan tersebut.

Selamat merenungkan
.


Pastor Antonius Sumardi, SCJ