Minggu, 25 September 2011 Hari Minggu Biasa XXVI

Minggu, 25 September 2011
Hari Minggu Biasa XXVI

PERTOBATAN

"Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya." (Yeh 18:27)

Antifon Pembuka (Dan 3:31.29.30.42.43)

Segala sesuatu yang Kautimpakan atas diri kami, ya Tuhan, telah Kauperbuat seturut keputusan-Mu yang adil. Sebab kami telah berdosa terhadap-Mu dan tidak mematuhi perintah-perintah-Mu. Tetapi muliakanlah kini nama-Mu, dan perlakukanlah kami sekadar besarnya belas kasih-Mu.

Doa Pembuka

Allah Bapa kami yang Mahabaik, kekuasaan-Mu menyentuh hati kami terutama apabila Engkau menaruh belas kasih terhadap kami dan setiap kali Engkau mengampuni kami. Kami mohon, limpahilah kami dengan rahmat-Mu, agar kami dengan lancar dapat menempuh jalan menuju tanah perjanjian serta memperoleh kebahagiaan surgawi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel (18:25-28)


"Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya, ia akan menyelamatkan nyawanya."

Beginilah firman Tuhan Allah, "Kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel! Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat, ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 815
Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan.

Ayat. (Mzm 25:4-5.6-7.8-9; Ul: lh.6a)
1. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku; Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
2. Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda, dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.
3. Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (2:1-11)

"Dalam hidupmu bersama hendaknya kamu bersikap seperti Kristus Yesus."

Saudara-saudara, dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Maka sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaknya kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati anggaplah orang lain lebih utama dari pada dirimu sendiri. Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga. Dalam hidupmu bersama hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah.


Bait Pengantar Injil, do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 10:17)
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan, Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (21:28-32)


"Yohanes Pembaptis datang dan orang-orang berdosa percaya kepadanya."

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi, "Bagaimana pendapatmu? Ada orang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada yang sulung dan berkata, 'Anakku, pergilah bekerja di kebun anggur hari ini.' Jawab anak itu, 'Baik, Bapa'. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab, 'Tidak mau.' Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang anak itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka, "Yang terakhir!" Maka berkatalah Yesus kepada mereka, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Dan meskipun melihatnya, kamu tetap tidak menyesal, dan kamu tidak juga percaya kepadanya."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.

U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan,
Langkah awal dari sebuah pertobatan adalah kesadaran diri. Sadar akan kesalahan yang telah terjadi dan mengakuinya akan membawa kita kepada perbaikan dan pembaharuan hidup. Langkah ini sangat penting dalam hidup kita karena akan menjadikan diri kita peka akan semua perbuatan dosa dan akan membawa kepada hidup yang lebih baik dan mendalam. Kesadaran bahwa hidup kita belum baik, maka kita akan berusaha untuk selalu maju. Kita akan selalu bermetanoia. Berubah terus menerus ke arah yang lebih baik dan lebih baru. Sebaliknya, kalau kita merasa dan yakin bahwa diri kita tidak berdosa-orang baik, maka sebenarnya kita mulai berhenti di dalam langkah hidup. Kita tidak bisa akan maju lagi.

Penginjil Matius dalam perikopa 21:28-32 mengajak kita untuk selalu sadar akan kelemahan diri kita, menyesalinya, dan berusaha untuk maju dan hidup dengan lebih baik. Tuhan Yesus membentangkan sebuah perumpamaan yang berisi tentang sikap dan tingkah laku dua orang anak terhadap ayahnya. Narasi Tuhan Yesus melalui perumpamaan menempatkan pewartaan tentang Kerajaan Allah dalam saat yang maha penting dalam sejarah Israel.

Muncul jawaban dan respon yang berbeda dari permintaan seorang bapak kepada dua anaknya untuk bekerja di ladang anggur. Anak yang sulung menjawab: “Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi” (ayat 29). Anak yang kedua menjawab: “Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga” (ayat 30). Seperti anak kedua yang pada awalnya menolak perintah ayahnya tetapi kemudian menyesal dan melakukannya, begitu pula para pemungut pajak dan para pelacur. Sekarang mereka memperbaharui hidup untuk menjawab tuntutan Tuhan Yesus dan masuk ke dalam Kerajaan. Para imam kepala dan pemuka rakyat sama dengan anak sulung. Mereka secara terbuka memusuhi Tuhan Yesus dan gagal melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan. Kesalahan terjadi karena mereka menolak pewartaan Tuhan Yesus dan bertahan dalam perlawanan yang tajam terhadap keterbukaan dan memisahkan diri mereka dari hal-hal apa saja yang mereka benci. Dalam ayat 32 ada kesetaraan antara perumpamaan Tuhan Yesus dengan pelayanan Yohanes. Pertobatan para pemungut cukai dan pendosa ke jalan kebenaran akan menjadi “ilham” para imam kepala dan pemuka rakyat untuk menerima pewartaan Tuhan Yesus dan tidak menghadapiNya dengan rasa curiga dan kebencian.

Pertobatan yang benar itu memerdekakan. Pertobatan adalah penghayatan janji baptis. Pada waktu dibaptis, kita “diterjunkan” ke dalam kehidupan Allah Tritunggal. Dalam kehidupan nyata, ada saja yang mendorong kita “keluar” dari “air kehidupan Allah Tritunggal ini”, tetapi juga ada kekuatan yang menarik kembali. Hidup berada dalam sebuah “ketegangan” dan menjadi perjuangan.

Mari kita introspeksi :
1. apakah aku dalam proses atau perjalanan hidup ini, makin mengalami kemerdekaan batin, untuk membalas cinta Tuhan Yesus yang mengampuni dosaku, dengan kekuatan cinta?
2. Apakah suatu bentuk matiraga dan penerimaan sakramen tobat, kualami sebagai praksis yang makin memerdekakan dan menggembirakan? Atau masih diwarnai rasa dan sikap batin yang lain?

Salam dan berkat,
Pastor L. Setyo Antoro, SCJ.