Senin, 10 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXVIII

Senin, 10 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXVIII


“Inilah Tuhan, terang kita, surya kebenaran, yang sinarnya menerangi Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia.” (Mgr. Yohanes dari Napoli)

Antifon Pembuka

Segala ujung bumi telah menyaksikan penyelamatan oleh Allah kita. Bersoraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bersorak gembira dan bernyanyilah.

Doa Pagi

Bapa yang penuh kasih, tinggallah dalam diriku. Penuhilah hatiku dengan damai-Mu yang selalu menjadi kekuatan dan kegembiraan sepanjang hari ini. Demi Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan Penebusku. Amin.

Dasar iman Kristen adalah Paskah, kebangkitan Yesus Kristus. Berkat kebangkitan-Nya, dosa-dosa dunia dihapuskan. Hubungan antara manusia dengan Allah yang renggang dipulihkan kembali. Kasih karunia Allah diperuntukkan bagi semua orang yang mengimani-Nya dan menaruh harapan kepada-Nya. Itulah warta sukacita Injil yang disampaikan Rasul Paulus.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (11:1-7)

"Dengan perantaraan Kristuslah kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa supaya percaya."

Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu dahulu telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan para nabi dalam kitab-kitab suci. Pokok isinya ialah tentang Anak Allah yang menurut daging dilahirkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa, oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dia itulah Yesus Kristus, Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Dan kalian yang telah dipanggil menjadi milik Kristus, kalian pun termasuk di antara mereka. Kepada kalian semua yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, menyertai kalian.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Ul: lh. 11, do=c, 2/4, PS No. 807

Ref. Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.

Ayat. (Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!


Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hari ini dengarkanlah suara Tuhan, dan janganlah bertegar hati.

Iman sejati itu menyerahkan diri secara total kepada Allah. Ia tidak lagi memerlukan tanda fisik yang spektakuler. Allah sudah menganugerahkan Tanda sejati, yaitu Yesus Kristus, Anak tunggal-Nya. Kebangkitan-Nya dari alam maut menjadi Tanda keselamatan Allah yang nyata. Orang yang tekun bertobat akan mampu menghayati imannya dengan penuh sukacita.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:29-32)

"Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus."

Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini. Pada waktu penghakiman ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Salomo! Pada waktu penghakiman orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Yunus!
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus


Renungan


Pewartaan Yesus tidak selalu mudah diterima oleh para pendengar-Nya. Mereka tidak gampang untuk percaya dan bertobat. Itulah sebabnya, Yesus mencela mereka sebagai angkatan yang jahat. Mereka juga tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikianlah juga Yesus menjadi tanda bagi orang-orang Yahudi. Orang-orang Niniwe bertobat karena pewartaan Yunus, demikianlah seharusnya para pendengar Yesus juga bertobat dan percaya karena karya pewartaan-Nya.

Doa Malam

Tuhan, ampunilah aku jika aku menuntut suatu tanda dari pada-Mu. Terlebih ketika aku mengalami masalah dalam hidupku. Mampukan aku untuk melihat kebaikan-kebaikan-Mu yang Engkau nyatakan melalui sesamaku. Amin.


RUAH

Bacaan Harian 10-16 Oktober 2011


Rata Penuh
Senin, 10 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 1:1-7; Mzm 98:1-4; Luk 11:29-32.
Yesus sudah hadir di tengah manusia, mewartakan Kerajaan Allah, menawarkan keselamatan, lalu wafat dan bangkit pada hari ketiga. Jika itu semua masih tidak cukup untuk membuat kita hidup terarah kepada Bapa, tanda apa lagi yang kita nantikan supaya kita sungguh-sungguh bertobat? Persoalannya, barangkali, karena hati kita yang masih keras-membatu! Itulah sulitnya!

Selasa, 11 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 1:16-25; Mzm 19:2-5; Luk 11:37-41.
Manusia lebih mudah untuk mendandani penampilan dan tampak luar, tetapi sering lupa membersihkan bagian dalam diri. Padahal kita sama-sama sepaham, bagaimana kualitas seorang manusia sesungguhnya pertama-tama ditentukan isi dalamnya. Ya, bagaimana hatinya!

Rabu, 12 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 2:1-11; Mzm 62:2-3.6-7.9; Luk 11:42-46.
Alangkah sulitnya menjalin kesesuaian antara komitmen dengan tindakan; antara kata-kata dengan perbuatan. Kita pun biasa tergiring untuk mudah menghakimi ketimbang memahami; menghendaki orang melakukan sesuatu, tetapi kita sendiri menjauhinya. Kalau begitu, kita tak ubahnya dengan orang Farisi yang dikecam Yesus.

Kamis, 13 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 3:21-30a; Mzm 130:1-6; Luk 11:47-54.
Kita mungkin tidak secara langsung berbuat jahat, tetapi dengan membiarkan atau membenarkan perbuatan jahat, kita sudah melakukan kejahatan. Maka, Yesus mengecam hal seperti itu. Juga, Yesus mengecam orang yang sudah tidak mau berbuat baik, tetapi sekaligus menghalang-halangi orang lain untuk melakukan yang baik.

Jumat, 14 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 4:1-8; Mzm 32:1-2.5.11; Luk 12:1-7.
Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Jadi, hiduplah takut akan Tuhan. Dengan sikap seperti itulah kita akan selalu berusaha menghindari dosa, bahkan meskipun tak ada orang lain yang tahu.

Sabtu, 15 Oktober : Peringatan Wajib Sta. Teresia dari Yesus, Perawan Pujangga Gereja (P).
Rm 4:13.16-18; Mzm 105:6-9.42-43; Luk 12:8-12.
Kalau kita mengakui Yesus di depan manusia, Yesus akan mengakui kita di depan malaikat-malaikat Allah. Sebaliknya, yang menyangkal akan disangkal juga. Sederhana saja: lakukanlah apa yang sudah kita dengar dari Yesus; itulah pengakuan kita akan Dia! Juga sederhana: tak usah peduli sabda-Nya, itulah penyangkalan kita!

Minggu, 16 Oktober : Hari Minggu Biasa Pekan XXIX (H).
Yes 45:1.4-6; Mzm 96:1.3-5.7-10ac; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21.
Kisah Injil hari ini mengajak kita untuk terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kita didorong untuk memenuhi kewajiban kita sebagai warga negara. Namun, kita sendiri adalah 'mata uang' Allah, karena diri kita adalah gambar Allah. Kita juga diingatkan bahwa apa yang menjadi hak Allah dari hidup kita harus juga kita berikan kepada-Nya.

Bacaan Harian 10-16 Oktober 2011


Rata Penuh
Senin, 10 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 1:1-7; Mzm 98:1-4; Luk 11:29-32.
Yesus sudah hadir di tengah manusia, mewartakan Kerajaan Allah, menawarkan keselamatan, lalu wafat dan bangkit pada hari ketiga. Jika itu semua masih tidak cukup untuk membuat kita hidup terarah kepada Bapa, tanda apa lagi yang kita nantikan supaya kita sungguh-sungguh bertobat? Persoalannya, barangkali, karena hati kita yang masih keras-membatu! Itulah sulitnya!

Selasa, 11 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 1:16-25; Mzm 19:2-5; Luk 11:37-41.
Manusia lebih mudah untuk mendandani penampilan dan tampak luar, tetapi sering lupa membersihkan bagian dalam diri. Padahal kita sama-sama sepaham, bagaimana kualitas seorang manusia sesungguhnya pertama-tama ditentukan isi dalamnya. Ya, bagaimana hatinya!

Rabu, 12 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 2:1-11; Mzm 62:2-3.6-7.9; Luk 11:42-46.
Alangkah sulitnya menjalin kesesuaian antara komitmen dengan tindakan; antara kata-kata dengan perbuatan. Kita pun biasa tergiring untuk mudah menghakimi ketimbang memahami; menghendaki orang melakukan sesuatu, tetapi kita sendiri menjauhinya. Kalau begitu, kita tak ubahnya dengan orang Farisi yang dikecam Yesus.

Kamis, 13 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 3:21-30a; Mzm 130:1-6; Luk 11:47-54.
Kita mungkin tidak secara langsung berbuat jahat, tetapi dengan membiarkan atau membenarkan perbuatan jahat, kita sudah melakukan kejahatan. Maka, Yesus mengecam hal seperti itu. Juga, Yesus mengecam orang yang sudah tidak mau berbuat baik, tetapi sekaligus menghalang-halangi orang lain untuk melakukan yang baik.

Jumat, 14 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVIII (H).
Rm 4:1-8; Mzm 32:1-2.5.11; Luk 12:1-7.
Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Jadi, hiduplah takut akan Tuhan. Dengan sikap seperti itulah kita akan selalu berusaha menghindari dosa, bahkan meskipun tak ada orang lain yang tahu.

Sabtu, 15 Oktober : Peringatan Wajib Sta. Teresia dari Yesus, Perawan Pujangga Gereja (P).
Rm 4:13.16-18; Mzm 105:6-9.42-43; Luk 12:8-12.
Kalau kita mengakui Yesus di depan manusia, Yesus akan mengakui kita di depan malaikat-malaikat Allah. Sebaliknya, yang menyangkal akan disangkal juga. Sederhana saja: lakukanlah apa yang sudah kita dengar dari Yesus; itulah pengakuan kita akan Dia! Juga sederhana: tak usah peduli sabda-Nya, itulah penyangkalan kita!

Minggu, 16 Oktober : Hari Minggu Biasa Pekan XXIX (H).
Yes 45:1.4-6; Mzm 96:1.3-5.7-10ac; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21.
Kisah Injil hari ini mengajak kita untuk terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kita didorong untuk memenuhi kewajiban kita sebagai warga negara. Namun, kita sendiri adalah 'mata uang' Allah, karena diri kita adalah gambar Allah. Kita juga diingatkan bahwa apa yang menjadi hak Allah dari hidup kita harus juga kita berikan kepada-Nya.

Nuansa Cinta (Sharing Pelayanan Pastor Felix Supranto, SS.CC)

Perjalananku subuh itu dibalut dengan kesedihan. Aku akan menghantar seorang pemuda berusia tiga puluh lima tahun menuju tempat istirahatnya yang kekal dengan mempersembahkan Ekaristi baginya. Kenangan akan kebersamaan dengannya di kamarnya tiga hari sebelumnya telah menguatkan iman, tetapi sekaligus membuatku merasa kehilangan. Ia mengatakan kepadaku dengan mantapnya: “Satu-satunya kerinduanku adalah menghadap Bapa. Tuhan Yesus telah menyediakan tempat yang indah. Yang ada di sana hanyalah kebahagiaan. Rasa sakit akan hilang dengan sendirinya”. Aku dengan berat hati harus menyampaikan pesannya kepada kakak perempuan yang dicintainya dalam perjalanan mengambil mobilku di halaman katedral. Pesannya sangat sederhana bahwa ia jangan menumpahkan air mata kesedihan karena ia sudah bahagia. Ia mengucapkan rasa terimakasih atas kebaikan dan perhatiannya. Ia akan meminta Allah Bapa untuk melindunginya



Kisah kematiannya memang mengharukan. Nuansa cinta tidak hilang dengan adanya peti jenasah dan lagu-lagu duka. Sebelum meninggalkan dunia, ia bertunangan dengan seorang gadis yang baik sekali. Mereka telah berpacaran cukup lama. Segala persiapan pernikahan sudah dilakukannya. Tanggal pernikahan gereja telah ditentukan, tetapi terpaksa ditunda karena ia tiba-tiba tak berdaya dan hanya bisa berbaring di ranjangnya. Gadis pujaannya merawatnya dengan terus-menerus berpengharapan dan berdoa agar ia cepat pulih kembali seperti sediakala. Ia ingin menggandeng tangannya untuk menuju altar Tuhan tempat mereka akan mengikrarkan janji setia sampai akhir hayat. Bukannya kesembuhan yang didengarnya, tetapi kematiannya yang begitu cepat menghantam jiwanya. Keinginan untuk lebih lama merawatnya telah dihentikan oleh Sang Sumber Kehidupan. Deraian air matanya membasahi peti jenasahnya selama Misa untuk mengiringi jiwanya ke surga. Misa pun terasa menyedihkan. Aku menopangkan tanganku di atas kepalanya dan meletakkan tangannya di atas peti jenasah calon suaminya seperti memberkati pernikahan mereka. Hatinya terasa hampa, perih, dan pilu. Ia memandangku dengan air mata memenuhi pipinya : “Romo, calon suamiku telah pergi. Dia tak mungkin kembali. Mampukah aku melewati kepedihan dan kesunyian ini ?” Aku tak mampu mengatakan apa-apa selain menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti akan kehancuran hatinya. Ia kemudian menaburkan bunga sambil berkata: “Sayang, pergilah ke tempat kudus Tuhan dengan cintaku yang suci dan cintamu pun menemaniku sehingga aku tidak sepi menjalani hidup ini”. Kemudian ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Pengalaman cintanya membuka mataku terhadap mutiara cinta yang memantulkan cahaya kemurnian di antara krisis kasih yang sejati di dalam panggung kehidupan. Kehidupan ini seperti berada di kolam Bethesda, tempat berkumpulnya banyak luka. Mereka berada di Bethesda untuk mendapatkan anugerah penyembuhan dari Tuhan sesuai dengan arti namanya. Kata ‘Bethesda’ berasal dari bahasa Aram, yaitu ‘Beth’ yang berarti rumah dan ‘Hesda’ yang berarti anugerah. Bethesda berarti Rumah Anugerah. Kehilangan orang yang dicintai merupakan luka yang paling menyakitkan. Kehilangan bukan hanya karena kematian, tetapi karena diabaikan dan dilupakan. Luka-luka itu begitu parah sehingga yang menanggungnya tidak mampu berjalan menuju gelombang berkat Tuhan yang dikepakkan oleh malaikat-Nya. Berkat Tuhan itulah yang membuat hati masih memiliki sebutir sisa pengharapan. Kedatangan Tuhan Yesus di kolam Bethesda, di tengah-tengah luka, merupakan berkat yang paling istimewa. Luka itu mungkin sudah terlalu lama seperti seorang yang menderita sakit tiga puluh tahun dan terbaring di lantai. Tuhan Yesus datang dan menawarkan penyembuhan bagi hati yang terluka: “Maukah engkau sembuh?” (Yohanes 5:6). Kedatangan Tuhan sering tertutup dengan luka-luka yang menganga. Kedatangan Tuhan hanya dapat dilihat dengan kekudusan: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Kekudusan berarti mau menyerahkan luka-luka kepada Tuhan. Menyerahkan luka-luka membuatnya bangkit dan berjalan ke arah Sang Pencipta. Jadikanlah luka sebagai pendorong kehidupan. Anggaplah luka-luka sebagai tabungan rohani untuk mengalami lebih banyak kehadiran Tuhan. Semoga anda dan hamba mampu menghadirkan penyembuhan Tuhan di kolam Bethesda yang nyata dan penuh luka, yaitu pada wajah-wajah keriput di panti werda, hati yang haus akan kasih di panti asuhan atau penitipan anak, dan mata yang menahan sakit di rumah sakit. Tuhan memberkati.

Mangkir dan menolak Aku?

Minggu, 09 Oktober 2011
Hari Minggu Biasa XXVIII



Apakah yang terlintas di benak kita ketika mendengar pesta pernikahan? Tentu saja ada banyak hal yang terlintas. Misalnya: penerimaan sakramen perkawinan di gereja, resepsi pernikahan yang meriah, tamu undangan yang hadir dan aneka menu makanan yang tersaji. Suasana syukur, sukacita dan gembira melekat dalam situasi itu. Namun, di benak kita, pernahkah terlintas akan si empunya pesta pernikahan? Kedua mempelai, kedua orangtua mereka dan juga keluarga besarnya. Apa yang mereka rasakan? Apakah mereka, seperti yang kita bayangkan; bahagia, penuh sukacita? Tentu saja. Tapi, adakah warna lain dalam perasaan itu? Tentu saja juga ada. Bisa saja mereka gelisah oleh dana, apakah cukup atau tidak. Khawatir akan resepsi; berjalan lancar atau tidak, jangan-jangan dipertengahan resepsi, listrik mati. Was was akan menu, memberi kepuasan lidah para undangan atau sebaliknya, sepulang pesta para undangan sakit perut lantaran menu sudah basi. Kita bisa menambah litani kecemasan dan kekhawatiran si empunya pesta.

Tapi, menurut saya, yang seharusnya pantas menduduki tingkat kekhawatiran tertinggi adalah tamu undangan. Siapakah mereka sehingga perlu menguras rasa was was? Mereka adalah jawaban atas pertanyaan; kepada siapa si empunya pesta mohon doa restu. Untuk merekalah menu aneka rasa disajikan. Untuk mereka jualah, penyanyi dangdut atau campursari atau pop mempersembahkan suara emasnya. Sulit dibayangkan, apa jadinya kalau orang-orang yang diundang tidak ada satupun yang datang. Betapa kecewanya kedua mempelai, kedua orangtua dan keluarga besarnya. Lalu, untuk apakah resepsi meriah pernikahan diselenggarakan jika orang-orang yang diundang tidak datang? Tentu akan menyedihkan dan mengecewakan.

Bacaan-bacaan misa Minggu Biasa XXVIII Tahun A, juga berbicara tentang perjamuan nikah. Bahkan dalam bacaan Injil (Mat. 22: 1-14) Yesus mengumpamakan, Kerajaan Surga itu seperti seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ini kisah pesta pernikahan yang tragis dan menyedihkan. Undangan pertama disampaikan, tetapi yang diundang tidak mau datang. Undangan kedua juga disampaikan, bukan hanya tidak mau datang, tapi malah tidak dihiraukan, bahkan ada yang berlaku kasar: membunuh hamba yang disuruh menyampaikan undangan.

Tapi, si empunya pesta, tampaknya bukan tipe orang yang mudah putus asa. Dia berkata kepada hamba-hambanya: “perjamuan nikah telah tersedia, tetapi yang diundang tidak layak untuk itu. Sebab itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan nikah ini”. (ay. 8-9). Para hamba pun melaksanakan tugas dengan baik. Masalahnya, ketika para tamu undangan sudah memenuhi ruang perjamuan, sang Raja melihat ada orang yang tidak berpakaian pesta, maka ia berkata: “Hai saudara, bagaimana saudara masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta?” tetapi orang itu diam saja. Maka raja berkata lagi: “ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap; di sanaakan ada ratap dan kertak gigi.” Sungguh, sebuah perjamuan nikah yang menyedihkan.

Kerajaan surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Pertama-tama yang perlu direnungkan adalah, suasana yang hendak ditawarkan Allah dalam kerajaan itu: suasana bahagia, sukacita, penuh persaudaraan. Situasi macam ini tercipta berkat relasi yang erat satu dengan yang lain dan dengan Allah sendiri. Kalau boleh segera disimpulkan, inilah situasi keselamatan. Situasi macam itu, atau keselamatan dengan segala isi dan bentuknya ditawarkan kepada manusia.

Karena sebuah tawaran, maka ada macam-macam sikap terhadap tawaran itu. Ada yang menolak, ada yang bukan hanya menolak, tapi malah berlaku arogan, dan ada yang menanggapi tapi tetap bermain dengan pikiran dan hatinya sendiri. Terhadap sikap manusia itu, Allah terus menawarkan keselamatannya. Apa sih yang keliru dari tawaran itu, sampai terjadi penolakan?

Nabi Yesaya pernah menyampaikan sabda Tuhan yang mengatakan; “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, seperti tingginya langit dengan bumi, demikianlah jalanKu menjulang di atas jalanmu, dan rancangan-Ku di atas rancanganmu” (Yes 55:8-9). Allah memikirkan segala sesuatu dengan amat sempurna, sementara manusia yang penuh keterbatasan kesulitan untuk seiring sejalan dengan kehendak dan pikiran Allah. Rancangan Allah melampaui akal manusia.

Senyatanya, sukacita, kegembiraan, kedamaian Allah berbeda dengan sukacita, kegembiraan dan kedamaian manusia. Manusia dengan segala keterbatasannya cenderung menangkap itu semua secara dangkal. Manusia terpuaskan hanya dengan menikmati hal-hal yang dipermukaan. Hal-hal kecil, yang semestinya hanya luaran atau kulit saja, bisa menjadi perdebatan yang berujung pertengkaran. Sesuatu yang pokok, yang harusnya digali, malah tidak pernah disentuh. Budaya hidup zaman ini sudah mengarah ke sana diberbagai lini. Pendangkalan makna hidup menggejala pada masa ini.

Maka penolakan terhadap tawaran keselamatan Allah, bermuara pendangkalan makna hidup. Hal ini tercermin pada sikap tidak peduli, acuh tak acuh lantaran berbeda dengan selera pribadi. Melakukan segala sesuatu untuk mencari sukacita dan kegembiraan pribadi, bukan untuk sukacita dan kegembiraan bersama. Aku puas, apakah Allah juga puas dengan sikapku? Gak peduli.

Bila ini terjadi, Allah dalam gambaran si empunya perjamuan nikah, adalah pihak yang selalu tersakiti. Pihak yang selalu gagal merengkuh manusia untuk menikmati sukacita abadi. Sejatinya, menyakiti Allah dengan aneka sikap; penolakan, sikap tidak peduli dan acuh tak acuh dan lain sebagainya adalah tindakan menyakiti diri sendiri yang berujung pada kematian tanpa makna. Sampai kapankah kita menolak undangan Tuhan untuk menikmati keselamatan? Undangan Tuhan itu mewujud dalam perjamuan ekaristi, dalam persekutuan umat basis di keluarga, lingkungan, wilayah, dan paroki. Tuhan juga mengadakan perjamuan nikah dalam masyarakat yang membutuhkan solidaritas, dalam diri orang miskin dan tersingkir. Seberapa sering kita mangkir atas undangan itu? Dalam relung hati yang terdalam dan jujur akan dibisikan jawabannya

Salam dan berkat.


Pastor Antonius Purwono, SCJ