Senin, 05 Maret 2012 Hari Biasa Pekan II Prapaskah

Senin, 05 Maret 2012
Hari Biasa Pekan II Prapaskah


“Pandanglah setiap pencobaan sebagai suatu undangan untuk bertumbuh dalam suatu keutamaan khusus” (St. Filipus Neri)

Antifon Pembuka

Selamatkanlah aku, ya Tuhan, dan kasihanilah aku. Aku menempuh jalan yang lurus dan memuji Tuhan dalam himpunan umat (Mzm 26:11-12)


Doa Pagi


Bapa yang murah hati, Yesus Putera-Mu mengajarkan agar kami bermurah hati seperti Engkau sendiri. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menyertai kami dalam hidup sehari-hari sehingga kami mampu bersikap murah hati terhadap sesama, tidak main hakim dan hukum, rela mengampuni dan bersedia memberi seperti Engkau. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


Salah satu wujud sikap dewasa adalah mengenal diri apa adanya. Dia mau mengakui sebagai pribadi yang lemah, kecil, sering berbuat salah dan dosa. Bahkan ia pantas mendapat hukuman Allah yang Mahabesar dan dahsyat. Namun ia juga sadar bahwa Allah itu Maharahim. Dia berbelas kasih dan siap mengampuni orang yang rendah hati mengakui kesalahan dan bertobat.


Bacaan dari Nubuat Daniel (9:4b-10)

"Kami telah berbuat dosa dan salah."

Ah, Tuhan, Allah yang Mahabesar dan dahsyat, yang memegang perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu, kami telah berbuat dosa dan salah; kami telah berlaku fasik dan telah memberontak; kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu. Kami pun tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri. Ya Tuhan, Engkaulah yang benar! Patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem, dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri ke mana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad kepada Engkau. Ya Tuhan, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. Pada Tuhan, Allah kami, ada belas kasih dan pengampunan, walaupun telah memberontak terhadap Dia, dan tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita.
Ayat. (Mzm 79:8.9.11.13; Ul: 103:10a)
1. Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang! Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemahlah kami.
2. Demi kemuliaan-Mu, tolonglah kami, ya Tuhan penyelamat! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami, oleh karena nama-Mu!
3. Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh.
4. Maka kami, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian bagi-Mu turun temurun.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS. 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal.

Adil merupakan sikap yang memberikan ‘sesuai’ dengan hak seseorang. Sedangkan pemberian yang ‘berlebih’ merupakan ungkapan sikap murah hati. Allah Bapa sangat berbelas kasih dan murah hati kepada semua orang. Orang beriman hendaknya mempunyai sikap yang sama. Ketika memberi dengan lebih, Allah akan menggantinya berlipat ganda di dalam Kerajaan Surga

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:36-38)

"Ampunilah, dan kamu akan diampuni."

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Hendaknya kamu murah hati, sebagaimana Bapa-Mu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah, dan kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik dan dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Sikap murah hati adalah sikap ilahi. Kemurahan yang kita bagikan kepada sesama mengandung dimensi ilahi justru karena meneladan sikap Bapa. Maka orang yang pelit, tak ada ahrapan untuk mendapat kemurahan dari tangan Allah. Pesan Injil hari ini: Janganlah pelit, juga dalam hal memberikan maaf kepada sesama yang bersalah kepada kita.

Doa Malam

Ya Bapa yang penuh belas kasih, kami sadar akan kedosaan kami yang tidak jauh berbeda dengan nenek moyang kami, selalu ingkar dan memberontak terhadap hukum dan suara-Mu. Ampunilah dan kasihanilah kami; jangan biarkan kami terbenam dalam kedosaan. Semoga besok kami dapat memperbaiki diri. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


RUAH

Pertemuan IV APP: Syarat mengikuti Yesus - Keuskupan Agung Jakarta

PERTEMUAN 4
METODE SHARING 7 LANGKAH


SYARAT MENGIKUTI YESUS


INJIL MARKUS 8:31-38

Lagu Pembuka

Tanda Salib dan Salam

Pengantar

Pada pertemuan ke-3 kita telah merenungkan mengenai kisah Yesus yang memberi makan 5000 orang. Dalam kisah itu nampak bahwa Yesus sungguh-sungguh ingin membuka hati kita, ketika mau melayani, kita harus mau terbuka dan keluar dari diri kita masing-masing. Dalam pertemuan ke-4 ini kita semakin bditantang oleh Yesus bahwa ketika kita mau menjalankan pelayanan kita meskipun banyak tantangan, tidak dihargai bahkan ditolak, maka kita tetap mengikuti Yesus dengan terus melayani.

Ajakan Yesus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia adalah cara bagaimana kita tetap bertahan dalam pelayanan meskipun tidak dihargai. Dengan demikian, kita tetap mengorbankan seluruh diri kita yaitu waktu, tenaga, pikiran, hati dan bahkan nyawa kita sendiri. Bentuk pelayanan yang seperti inilah yang bisa dikatakan pelayanan yang sungguh-sungguh murah hati dan tidak memperhitungkan perasaan dan kepentingan pribadi karena sebuah pelayanan yang murah hati tidak pernah menghitung-hitung untung dan rugi atau suka dan tidak suka.

Doa Pembuka

Allah Bapa yang mahakasih, kami bersyukur kepada-Mu atas segala rahmat dan berkat yang Engkau curahkan dalam kehidupan kami. AJarilah kami untuk berani menanggapi ajakan-Mu untuk menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Bantulah kami supaya kami bisa memiliki kekuatan untuk berani menyangkal diri, memikul salib dan akhirnya kami mengikuti Engkau secara total dalam kehidupan dan pelayanan kami sehari-hari. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang bersatu dengan Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Lagu Pengantar Bacaan

Pembacaan Kitab Suci: Injil Markus 8:31-38

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Pendalaman Sabda

  • Perikop ini menceritakan tentang kehidupan Yesus yang harus mengalami penderitaan, ditolak dan dibunuh dan bangkit. Namun, kenyataan ini tidak bisa dipahami oleh Petrus. Bahkan ia menarik Yesus dan menegur-Nya (ayat 32). Kenapa hal ini terjadi? Karena Petrus memikirkan apa yang dipikirkan manusia yaitu bahwa jika seseorang melakukan pelayanan maka seharusnya tidak menderita dan bahkan diterima oleh banyak orang. Inilah gambaran kita manusia yang memahami pelayanan sebatas yang mendatangkan kesukaan, kesenangan, kebahagiaan, kenyamanan diri, diterima dengan baik. Padahal pelayanan yang menurut ukuran Allah adalah pelayanan yang berani sampai pada titik penyangkalan diri dan memanggul salib. Konkritnya: ditolak, melakukan pelayanan tetap dengan tulus walaupun kita tidak sukai dan bahkan menderita.
  • Yesus melihat pikiran Petrus yang menganggap pelayanan itu penuh dengan penerimaan dari pihak lain dan tidak ada penolakan, dianggap sebagai pemikiran iblis. Maka untuk sampai pada penyangkalan diri, memanggul salib harus memiliki persepsi yang sama dengan apa yang dikehendaki Allah. Kehendak Allah tidak lain adalah terus bertekun di dalam pelayanan, di dalam sesulit apapun tantangan itu. Menemukan kedamaian dalam situasi itu sehingga kita tetap bertahan dalam pelayanan. Sehingga kita berani untuk kehilangan nyawa sekalipun untuk pelayanan itu.
  • Ketika kita merayakan Ekaristi, pada bagian akhir, kita diutus. Maka perutusan itu memberi kita kekuatan untuk menghadapi situasi serta tantangan apapun yang akan kita hadapi dalam pelayanan kita. Ekaristi memampukan kita untuk semakin bertahan di dalam perutusan.

Tahap Permenungan (Metoda Sharing 7 Langkah)

Membangun Niat

1. Apa bentuk penyangkalan diri kita di dalam pelayanan mengikuti Yesus?
2. Apa bentuk memanggul salib dalam pelayanan mengikuti Yesus?

Doa Tahun Ekaristi

Allah Bapa yang Maha Pengasih, kami bersyukur atas karya penyelamatan-Mu melalui Yesus Kristus Putra-Mu, yang kami rayakan dalam Ekaristi. Ya Yesus, kami bersyukur dengan mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Mu, iman kami semakin diteguhkan; dan dengan menyambut Tubuh dan Darah-Mu, kami dipersatukan dengan Dikau dan sesama. Ya Roh Kudus, kami bersyukur,melalui bimbingan-Mu iman kami senantiasa diperbaharui, setiap kali merayakan Ekaristi. Semoga Tahun Ekaristi ini menjadi tahun peziarahan bagi iman bagi kami, sehingga kami semakin dipersatukan, diteguhkan dan diutus untuk berbagi pada sesama. Bunda Maria, Bunda kaum beriman, doakanlah kami. Amin

Doa Penutup

Allah Bapa, terima kasih atas kemurahan hati-Mu atas kekuatan yang Kauberikan kepada kami untuk menyangkal, memanggul salib, dan mengikuti Engkau. Semoga permenungan hari ini membantu kami untuk membuka hati dan pikiran kami supaya dalam pelayanan kami bertekun dalam damai meskipun menghadapi berbagai kesulitan, tantangan, dan penolakan. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Berkat dan Pengutusan

P. Semoga Tuhan beserta kita
U. Sekarang dan selama-lamanya
P. Semoga kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U. Amin.
P. Dengan ini ibadat kita sudah selesai.
U. Syukur kepada Allah

Lagu Penutup

Gagasan Dasar Tema APP 2012 Keuskupan Agung Semarang “Katolik sejati harus peduli dan berbagi”!


Pengantar

Tema APP tahun 2011 adalah “Inilah Orang Katolik Sejati.” Tentu saja setelah tema tersebut didalami dalam pertemuan-pertemuan lingkungan, sekolah-sekolah sudah ditemukan beberapa butir yang dapat dijadikan pegangan untuk memberi kesaksian hidup di tengah umat dan masyarakat. Buah-buah yang diharapkan tumbuh dari pendalaman tema tersebut adalah ditemukannya kekhasan atau bahkan keunggulan sebagai orang katolik sejati. Dan rasanya sayang kalau buah-buah yang sudah ditemukan tersebut kemudian dilupakan. Maka pada tahun 2012 tema yang kita pilih adalah tema yang masih berkaitan erat dengan tema tahun 2011, yaitu “Katolik Sejati Harus Peduli dan Berbagi”.

Tema kali ini boleh dikatakan menjadi sebuah penegasan salah satu kekhasan sebagai orang katolik sejati, yakni sikap peduli dan kerelaan untuk berbagi. Semangat peduli dan berbagi ini sebenarnya sudah menjadi ciri khas murid-murid Yesus Kristus sejak Gereja Perdana (bdk. Kis 4:32-47). Bagaimana di zaman kita sekarang ini yang masih diwarnai korupsi dan keserakahan yang tak terkendali? Bagi kita sebagai murid-murid Yesus Kristus semangat berbagi dan membangun kepedulian kepada sesama merupakan konsekuensi atas panggilan kita sebagai pengikut Yesus Kristus. Maka dari itu membangun kepedulian dan berbagi kepada orang lain merupakan sebuah keharusan. letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikianlah pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Pokok-pokok permenungan

a. Hidup para pengikut Yesus Kristus (kumpulan orang yang telah percaya) mempunyai kekhasan. Kekhasan mereka adalah : sehati dan sejiwa; tidak mementingkan diri sendiri solidaritas (tidak seorangpun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri)

b. Buah dari cara hidup seperti itu adalah: keadilan (tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; masing-masing mendapat bagian sesuai dengan kebutuhannya). Jika ada keadilan pasti ada kesejahteraan (mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah).

c. Kekhasan hidup pengikut Yesus Kristus (Gereja Perdana) inilah yang tetap kita pertahankan sampai sekarang. Semangat solidaritas, mau berbagi kepada yang lain terutama yang membutuhkan menjadi gerakan mulia jika didasarkan pada semangat bela rasa. Semangat bela rasa kita didasarkan pada semangat belarasa Allah dalam diri Yesus Kristus yang tetap menjunjung tinggi dan mengutamakan kemanusiaan dan keadilan. Terutama nilai kemanusiaan dalam keutuhannya / hidup dalam kelimpahan (bdk. Yoh 10:10)

d. Sebagai warga Gereja kita diajak untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan tersebut didasarkan pada nilai-nilai iman. Maka dari itu kita membutuhkan prinsip-prinsip yang tegas dan kuat. Prinsip-prinsip tersebut terkait erat dengan moral kristiani.

d. Meningkatnya dan berkembangnya sistem kerjasama dalam gerakan kesejahteraan bersama sebagai ungkapan tanggungjawab bersama.

2. Latar Belakang Tema

Perjuangan untuk mewujudkan hidup sejahtera merupakan panggilan hidup dan tanggungjawab setiap pribadi manusia bersama lingkungan hidup setempat. Perjuangan hidup sejahtera dalam perjalanan hidup setiap pribadi manusia, khususnya mereka yang rentan sosial ekonominya menghadapi banyak tantangan dan kendala dalam proses perwujudannya. Kendala dan tantangan dewasa ini antara lain:

  • Ketidakmampuan dalam mencermati dan memahami arti serta makna hidup sejahtera yang benar Ketidakmampuan dalam menanggapi dengan cerdas pengaruh konsumerisme, khususnya media cetak dan elektronik Ketidakmampuan dalam memisahkan antara pemenuhan keinginan dan kebutuhan hidup sekarang ini dan besok
  • Ketidakmampuan dalam melihat dan menangkap peluang untuk membangun dan menghayati hidup sejahtera dalam keadilan dan kebenaran
  • Ketidakmampuan masyarakat pedesaan dan pinggiran kota akibat infrastruktur fisik dan sosial terbatas
  • Kepemimpinan publik kurang mengarus-utamakan kepentingan masyarakat
  • Kesenjangan sosial ekonomi yang tercipta karena ketidakadilan
  • Kendala dan tantangan tersebut menjadi tanggungjawab kita bersama sebagai warga Gereja dan masyarakat pada umumnya.
  • Gambaran akan tanggungjawab bersekutu diungkapkan dengan jelas oleh Santo Paulus bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus (bdk. 1Kor 12:27).

Dalam menanggapi panggilan dan perutusannya, persekutuan gerejawi Katolik mengingat kembali suara kenabian dan tindakan nyata melalui St. Yohanes Krisostomus. Beliau menyatakan bahwa kekayaan menjadi milik beberapa orang agar mereka bisa memperoleh rahmat dengan membagi-bagikannya kepada orang miskin. Kekayaan adalah harta dari Allah dan harus dipergunakan dan disebarluaskan agar orang-orang yang berkekurangan pun boleh menikmatinya. Hal yang senada juga ditegaskan oleh Paus Benedictus XVI dalam ensiklik Deus Caritas Est. Dalam ensiklik tersebut ditegaskan bahwa “pelayanan kasih sebagai wujud berbagi adalah sekaligus pelayanan rohani manusiawi karena pelayanan kasih itu merupakan kuasa rohani yang menjalankan tanggung jawab mendasar Gereja yang adalah wujud kasih akan sesama” (Deus Caritas Est no.21). Kasih akan diri sendiri, keluarga, komunitas, masyarakat serta lingkungan hidup mempunyai tujuan untuk memperbaiki diri, keluarga, komunitas, masyarakat dan lingkungan hidup serta mengambil langkah-langkah konkret untuk mewujudkannya demi hidup sejahtera bersama (bdk. Caritas in Veritate no.7 dan 13).

3. Misi Tema APP 2012: Perutusan Bersama

Melakukan Penyadaran: Melalui aneka macam cara kita perlu menumbuhkan kesadaran diri sebagai putra-putri Allah. Kita semua diundang untuk berpartisipasi dan memberi sumbangsih dalam karya penciptaan guna memenuhi hidup sejahtera.

Melakukan Pembaharuan Komitment: penyadaran yang dilakukan akan menumbuhkan pembaharuan cara hidup yang mendalam dan di dalam membangun dan mengembangkan iman yang terungkap dalam perbuatan baik.

Melakukan Pembaharuan Bersama: kesadaran bahwa setiap orang beriman Katolik adalah anggota keluarga Allah dan juga anggota Tubuh Kristus yang satu dan hidup. Dalam mensikapi cara hidup dalam kebersamaan, umat beriman perlu menghayati perutusan solidaritas kristiani. Kesediaan membangun kebersamaan sejahtera akan mewujudkan cita-cita Kristus untuk selalu hidup dalam persekutuan dan persaudaraan.

Melakukan Pembangunan dan Pengembangan Kerjasama dan Jejaring: kesadaran bahwa hidup manusia tidak sendirian. Ia hidup bersama dengan orang lain. Maka dari itu undangan Tuhan untuk membangun kerjasama dengan semua pihak dan bahkan alam harus ditanggapi dengan penuh syukur.

Melakukan Penataan dan Pemajuan Wadah Kerjasama: kesadaran akan Sabda Tuhan bahwa “dua atau tiga orang berkumpul atas nama-Ku, maka Aku hadir di tengah-tengah mereka”...yang telah terungkap dalam hidup persekutuan (lingkungan, wilayah, paroki, KBG) harus terus-menerus ditata secara integratif antara hidup rohani dan jasmani. Cara hidup persekutuan tersebut mengarah kepada menata dan memajukan kemampuan dan ketrampilan hidup sosial ekonomi.

4. Kaitan Katolik Sejati dan Kesejahteraan dalam Konteks KAS Alinea ke-2 ARDAS KAS 2011-2015 menyatakan bahwa “Dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tatanan hidup baru yang adil, damai, sejahtera, dan demokratis, umat Allah berperan secara aktif mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh, serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum.” Pernyataan ini menjadi sebuah penegasan bahwa umat Allah KAS dipanggil untuk mewujudkan kesejahteraan. Umat Allah KAS ingin berperan serta dalam usaha-usaha yang mulia itu.

Kesejahteraan hidup manusia bisa terwujud bila kebutuhankebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan terpenuhi. Kalau konsep atau gambaran tentang kesejahteraan ini dibaca dalam konteks pemenuhan salah satu kebutuhan dasar hidup, yaitu pangan maka panggilan untuk mewujudkan kesejahteraan merupakan sebuah keharusan. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya sebagaimana diceritakan dalam Mat 14:13-21. Banyak orang terus mengikuti Yesus. Sampai menjelang malampun mereka tetap mengikuti Yesus. Para murid menjadi khawatir dan gelisah sebab tempat mereka berkumpul itu sunyi. Mereka mengatakan kepada Yesus supaya orang banyak itu pergi dan mencari makanan di desa- desa (bdk. ay 15). Namun Yesus menegaskan “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” (Mat 14:16).

Terinspirasi dari teks Mat 14:13-21 tersebut, melalui pendalaman APP tahun 2012 kita akan melanjutkan permenungan kita mengenai kesejatian orang katolik. Ada banyak ciri yang menunjukkan kekatolikan. Misalnya saja semangat nasionalisme yang tampak dalam diri tokoh-tokoh seperti Mgr Albertus Soegijapranata, Agustinus Adisutjipto, Ignatius Slamet Riyadi, Ignatius Joseph Kasimo dll. Atau semangat kerasulan dalam pewartaan iman seperti Barnabas Sarikromo dan tokoh-tokoh lainnya. Kita barangkali harus menunggu lama hadirnya kembali tokoh-tokoh seperti itu.

Kita sendiri dalam konteks kehidupan yang sederhana dapat mewujudkan katolik sejati kita dengan kerelaan berbagi kepada sesama kita.

Sebagaimana dalam Injil Matius yang dikutip di atas, semangat berbagi diawali dengan hal yang sederhana, yakni lima roti dan dua ikan. Ini menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk tidak berbagi karena tidak mempunyai sesuatu yang lebih. Meskipun kita mempunyai sedikit namun kita tetap bisa berbagi. Kisah persembahan janda miskin (Luk 21:41-44) kiranya merupakan contoh yang tepat yang menunjukkan semangat berbagi.

Dalam keterbatasan bahkan dalam kekuranganpun kita masih dapat berbagi dan berbuat kebaikan bagi orang lain. Semangat berbagi ini terus menerus digulirkan di KAS. Konggres Ekaristi I tahun 2008 juga menekankan semangat berbagi. Tentu masih ada banyak gerakan yang tumbuh di kalangan umat basis yang menampakkan semangat berbagi ini sebagai sebuah perwujudan iman. Misalnya saja gerakan menyisihkan uang jajan bagi anak-anak sekolah dasar sebagai bentuk kepedulian kepada teman-teman yang tidak mampu sekolah.

Kebijakan-kebijakan di KAS ini juga selalu menampakkan kepedulian kepada orang miskin dan mendorong umat untuk selalu terlibat dalam mengatasi masalah sosila ekonomi. Dana papa miskin yang semula 10% dinaikkan menjadi 15%. Selain itu di beberapa paroki juga tumbuh dengan subur aneka macam cara untuk membantu sanak saudara yang berkekurangan. Semangat berbagi dan peduli telah mendarah daging dalam kehidupan umat. Dan memang inilah salah satu kekhasan hidup kita sebagai murid-murid Yesus Kristus. Yesus Kristus hadir di tengah-tengah umat dan membagikan kebaikan Allah sendiri dengan sabda dan karya-Nya. Yesus datang supaya semua orang mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan (bdk. Yoh 10:10)

5. Pendasaran teologis

Prinsip Gereja adalah preferential option with the poor. Prinsip inilah yang diperjuangkan bersama dalam kehidupan masyarakat. Semangat dasar ini diambil dari semangat Yesus Kristus sendiri yang juga memperhatikan serta mengutamakan yang kecil dan tak berdaya, ”Aku datang bukan untuk orang yang sehat, melainkan orang yang sakit.” Prinsip ini mau mengatakan bahwa kesejahteraan bersama akan terwujud bila ada usaha nyata memberi perhatian pada mereka yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Tanpa itu kesenjangan sosial yang semakin tajam akan dialami masyarakat.

1 Perhatian dan kepedulian Gereja terhadap mereka yang miskin tersebut tentu bersumber dari hidup Yesus sendiri. Yesus hadir mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah Allah sendiri yang meraja, kuasa dan belas kasih Allah yang menyelamatkan manusia.

Dari pihak manusia, Kerajaan Allah adalah peristiwa, iklim atau suasana, dimana manusia menerima Allah sebagai yang menentukan dalam mengatur hidupnya baik secara perorangan maupun secara sosial. Demikianlah Kerajaan Allah menjadi pokok pemakluman Yesus.

Warta dan perwujudan Kerajaan Allah oleh Yesus menjadi kabar gembira bagi mereka yang miskin dan tertindas. Dalam Kitab Suci dengan mudah akan kita temukan bagaimana perhatian Yesus yang begitu besar terhadap mereka yang miskin dan tertindas. Ambil contoh misalnya sabda bahagia Mat 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Orang-orang yang mendapat perhatian Yesus adalah orang-orang miskin, buta, lumpuh, pincang, kusta, lapar, sengsara (=mereka yang menangis). Yesus biasanya menyebut mereka sebagai orang-orang miskin atau orang-orang kecil.

2 Jika berbicara tentang warta kabar gembira tentang Kerajaan Allah yang dilakukan oleh Yesus, ada tiga teks penting dari Kitab Yesaya yang pantas diperhatikan:

3 Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata. Orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersuka ria di dalam Tuhan, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorai di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel! (Yes 29:18-19)

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai (Yes 35:5-6)

Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberikan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara (atau: untuk mewartakan penglihatan baru kepada yang buta dan membebaskan yang terkurung dan memberitakan tahun rahmat Tuhan (Yes 61:1-2).

Konsili Vatikan II dalam dokumen Kerasulan Awam juga menegaskan perlunya perhatian terhadap mereka yang lemah. Pada artikel 8 dokumen tersebut dikatakan: Di mana saja ada orang yang berkekurangan makanan dan minuman, pakaian, perumahan, obat-obatan, pekerjaan, pendidikan, kemudahan yang diperlukan untuk hidup yang benar-benar manusiawi; di mana saja ada orang yang tersiksa karena kesehatannya yang rapuh, yang menderita karena dibuang dan ditahan, di situ cinta kasih kristiani harus mencari dan menemukan mereka, menghibur mereka dengan perhatian intensif serta meringankan beban mereka dengan memberi bantuan.

Dasar teologis tersebut di atas jelas sekali menunjukkan bahwa keterlibatan Gereja dalam berbagai gerakan sosial, terutama perhatiannya kepada orang-orang miskin merupakan perwujudan iman. Di sini tampak sekali adanya hal mendasar yang menjadi ciri khas gerakan sosial Gereja. Gerakan sosial Gereja mempunyai kekhasan karena dilandasi iman. Gerakan tersebut juga merupakan bentuk perwujudan kasih kepada sesama. Yang mendorong Gereja untuk memilih dan mengutamakan yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel adalah semangat hidup Yesus yang mengasihi dan berbela rasa kepada mereka yang lemah dan menderita. Dengan demikian menjadi semakin jelas bahwa Gereja mau menampakkan wajah sosialnya dengan landasan yang jelas, yaitu bela rasa Allah dalam diri Yesus.

Selain didasarkan pada semangat hidup Yesus dan ajaran dari para Bapa Konsili, semangat untuk memperhatikan yang berkekurangan juga ditegaskan dalam kanon 1254 § 2. Dalam kanon tersebut dengan tegas dinyatakan bahwa harta benda gereja dikelola untuk mencapai tujuan-tujuan yang khas. Adapaun tujuan-tujuan yang khas itu terutama ialah: mengatur ibadat ilahi, memberi sustentasi yang layak kepada para klerus serta pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan.

Berdasarkan hal-hal di atas Gereja Keuskupan Agung Semarang selalu menekankan perlunya perhatian terhadap mereka yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Perhatian kepada mereka senantiasa ditampakkan dalam Arah Dasar KAS. Dalam Arah Dasar 2011-2015 ditegaskan:

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, dalam bimbingan Roh Kudus, berupaya menghadirkan Kerajaan Allah sehingga semakin signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat.
Dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tatanan hidup baru yang adil, damai, sejahtera, dan demokratis, umat Allah berperan secara aktif mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh, serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum. Langkah pastoral yang ditempuh adalah pengembangan umat Allah, terutama optimalisasi peran kaum awam, secara berkesinambungan dan terpadu dalam perwujudan iman di tengah masyarakat; pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel; serta pelestarian keutuhan ciptaan. Langkah tersebut didukung oleh tata penggembalaan yang sinergis, mencerdaskan dan memberdayakan umat Allah, serta memberikan peran pada berbagai karisma yang hidup dalam diri pribadi maupun kelompok.
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus, setia, dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, dan mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.
Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)


Apa yang dicita-citakan umat Allah KAS tentu sebagai perwujudan untuk menjadi murid-murid Yesus Kristus seutuhnya. Sebagai murid-murid Yesus kita diajak untuk semakin dewasa dalam iman. Salah satu ciri pribadi orang dewasa adalah kepekaan terhadap kebutuhan orang, peduli dan berbagi. Yesus Kristus datang untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin (bdk. Luk 4: 18) dan mewujudkan Kerajaan Allah. Maka dari itu umat Allah KAS, sebagai paguyuban murid-murid Yesus Kristus, sudah sepatutnya mewujudkan Kerajaan Allah dalam kehidupan zaman sekarang.


.....................................................



Semarang, 20 Oktober 2011

Alexius Dwi Aryanto, Pr

Ketua Panitia APP KAS

Pertemuan III: Pertemuan APP Prapaskah 2012 - Keuskupan Agung Semarang

Pertemuan III

BERSATU SEBAGAI SAUDARA, MEMBANGUN KEMANUSIAAN

Tujuan pertemuan

· Membangun kesadaran umat akan pentingnya membangun relasi persaudaraan yang makin erat di tengah umat.
· Dalam relasi persaudaraan yang dibangun, umat mengusahakan agar hidup bersama makin sehati dan sejiwa, dengan dilandasi oleh kasih dan keadilan.
· Agar umat semakin termotivasi untuk hidup saling membantu, saling memperhatikan, saling menghormati, saling memahami, dan tidak membedakan satu dengan yang lain atas dasar derajat, pangkat, status, dll.

JALANNYA PERTEMUAN

PEMBUKAAN :

1. Nyanyian Pembuka

2. Tanda Salib dan Salam

P : Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U: : Amin

P: : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus, besertamu.

U. : Dan sertamu juga

3. Pengantar oleh Pemandu :

- Pada pertemuan pertama dan kedua, kita diajak untuk menegaskan kembali makna baptisan yang telah kita terima.

(Pemandu dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada umat untuk mengingatkan akan pokok-pokok sharing iman dalam pertemuan sebelumnya).

- Dalam pertemuan ketiga ini, kita diajak untuk menggali lebih dalam bagaimana kita dapat membangun persaudaraan dalam paguyuban murid-murid Yesus Kristus. Inspirasi pertemuan kali ini diambil dari Kisah Para Rasul 4: 32-37, mengenai cara hidup jemaat perdana. Cara hidup sebagai jemaat atau paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mereka lakukan pada waktu itu, kini menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi kita semua, umat Allah yang hidup pada jaman ini.

4. Ungkapan Tobat dan Mohon Ampun

(mempersiapkan hati supaya pantas dalam permenungan ini)

5. Doa Pembuka :

P : Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah mengikat perjanjian dengan kami. Semoga kami sebagai umat gembalaan-Mu selalu hidup rukun dan bersatu padu, saling melayani, dan bertindak adil terhadap sesama kami. Berilah kami hati yang sederhana supaya selalu terbuka kepada kebutuhan sesama, terutama mereka yang sungguh membutuhkan pertolongan. Semoga melalui diri kami, kebaikan-Mu dapat dirasakan oleh sanak saudara kami yang membutuhkan sehingga damai sejahtera-Mu semakin dirasakan di seluruh dunia. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
U : Amin.
renunganpagi.blogspot.com
POKOK PERTEMUAN

6. Bacaan Kitab Suci :

Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:32-37)

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.


Beberapa isi pokok dalam kutipan Kitab Suci di atas, adalah sebagai berikut:

a. Para pengikut Kristus (persekutuan orang beriman) memiliki cara hidup yang penting, yakni sehati sejiwa; tidak hanya mencari kesenangan dan kepentingan diri sendiri. Maka tumbuhlah solidaritas (“tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri)
renunganpagi.blogspot.com
b. Buah yang dapat dipetik dari cara hidup semacam itu adalah keadilan (“tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; setiap orang mendapat sesuai dengan keperluannya”). Jika semua dapat bertindak adil maka kesejahteraan akan tumbuh (semua hidup dalam kepenuhan anugerah Tuhan, bahkan sampai bersisa)

(Pemandu mengajak umat untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Mengingat situasi dan kondisi, pemandu juga dapat membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan)

Beberapa pertanyaan panduan untuk sharing:

a. Kebaikan apa sajakah yang dapat dipetik dari Kisah Para Rasul ini?

b. Apakah lingkungan kita sudah seperti apa yang diceritakan oleh Kitab suci tadi? Jika belum, apa sebabnya?

c. Usaha apa sajakah yang harus diupayakan untuk mewujudkan Gereja sebagaimana digambarkan dalam Kitab suci tadi sehingga juga terwujud di lingkungan kita?

(setelah dianggap cukup diskusinya, pemandu menegaskan beberapa hal pokok mengenai panggilan umat sebagai anggota persekutuan Gereja, misalnya sebagai berikut)

· Seturut dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, setiap orang dipanggil untuk tidak hanya memilikirkan tentang kesejahteraan dan kebahagiaannya seorang diri, namun juga dipanggil untuk semakin peduli terhadap nasib sesama. Singkat kata, setiap orang dipanggil untuk mengusahakan bonum commune.

· Yang dimaksud dengan bonum commune di sini tidak melulu hanya diartikan sebagai kesejahteraan material bagi setiap orang. Namun lebih daripada itu, bonum commune menunjuk pada penghargaan inisiatif manusia pada usahanya untuk mencapai kesempurnaan hidup, yakni ketika masing-masing orang dan kelompok-kelompok dihargai usahanya untuk mencapai kesempurnaan hidup dengan lebih mudah (bdk. Gaudium et Spes 26).

· Untuk mewujudkan bonum commune, setiap orang sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas ditantang untuk mengemban tanggung jawab sesuai dengan keberadaannya. Begitu juga dalam hak ini, masyarakat berkewajiban untuk mencegah berkembangnya dorongan-dorongan anti sosial yang dapat mengganggu hak-hak setiap orang dan tertib sosial yang partisipatif dan tidak diskriminatif.

· Berbicara tentang Gereja, kita semua termasuk dalam kelompok orang yang bergabung, saling melibatkan kemerdekaan masing-masing orang untuk terlibat dalam membangun hidup menggereja. Sebagai warga Gereja, kita menerima dan menanggapi bahwa bahwa Allah menyapa manusia dalam hidup kita dengan perantaraan Yesus dari Nazareth. Di sini, Gereja tidak lain adalah sebuah peristiwa di mana Allah Pewahyu menyapa orang tertentu di tempat tertentu ketika nabi dan Kristus mewartakan kabar gembira dan orang yang masuk dalam kelompok ‘umat Allah’ tersebut memiliki maksud dan tugas untuk menerima dan meneruskan pewartaan sedemikian sehingga dari angkatan ke angkatan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, orang dapat mendengar dan menjawab sapaan Allah

Pewahyu.

· Dalam konteks yang demikianlah tanggung jawab Gereja diemban. Dalam kebersamaan untuk membangun bonum commune, Gereja berhadapan dengan situasi tantangan sosial yang konkret yang menuntut Gereja untuk berani ambil sikap. Sebagai (kelompok) orang beriman yang mau menjawab sapaan Allah, Gereja tidak hanya menghayati imannya dalam keyakinan akan rumusan-rumusan iman, namun terwujud dalam tindakan-tindakan yang konkret. Menjadi orang beriman bukan hanya memiliki maksud dan kehendak baik, tidak hanya bersifat individual, namun berani memasuki konteks kehidupan yang konkret dengan keterlibatan sosial, dalam usaha bersama supaya masyarakat menjadi lebih sejahtera, adil, manusiawi, dan merdeka.

7. Doa Umat Spontan

(Pemandu mengajak umat untuk berdoa terutama agar sebagai warga Gereja dapat semakin peduli dan berbagi rejeki dengan mereka yang kekurangan)

8. Doa Bapa Kami (Bisa dinyanyikan)

9. Doa Penutup :

P : Allah Bapa yang mahamurah dan maha kasih. Engkau selalu menuntun dan melindungi umat-Mu. Kami menghaturkan puji dan syukur kepada-Mu atas segala kebaikan dan anugerah-Mu yang selalu kami terima di dalam hidup kami. Bukalah hati kami terhadap sesama kami supaya dengan penuh kasih dan perhatian, kami selalu peduli terhadap seruan orang yang membutuhkan pertolongan kami. Semoga dengan rela hati dan dengan gembira, kami melaksanakan karya yang luhur ini sebagai persembahan hidup kami di hadapan-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

PENUTUP

10. Pengumuman

(dapat diadakan kolekte dan sesudah dirasa cukup selanjutnya mempersiapkan hati untuk memohon berkat Tuhan.)

11. Mohon Berkat

P. : Tuhan sertamu

U. : Dan sertamu juga

P. : Semoga kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa

U. : Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (masing-masing membuat tanda salib)

12. Nyanyian Penutup

Pertemuan II: Pertemuan APP Prapaskah 2012 - Keuskupan Agung Semarang

PERTEMUAN II
KARENA BAPTISAN, AKU MENJADI WARGA GEREJA


Tujuan pertemuan

· Umat diajak membangun kembali kesadaran bahwa baptisan telah memasukkan kita ke dalam persekutuan Gereja. Karena baptisan yang kita terima, kita diterima dan diakui sebagai warga Gereja.

· Menumbuhkan pengertian bahwa Gereja bukan hanya Paus, Uskup, dan Imam. Gereja adalah kita semua, umat Allah yang karena baptis dipanggil untuk menjadi Pengikut Kristus dan membangun paguyuban (communio) sebagai murid-murid Kristus.

· Menumbuhkan sikap hormat dan gembira di antara umat sebagai warga Gereja supaya dapat ikut serta dalam dinamika hidup menggereja di lingkungan, wilayah, dan paroki.

JALANNYA PERTEMUAN

PEMBUKAAN :

1. Nyanyian Pembuka

2. Tanda Salib dan Salam

P : Dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus

U : Amin

P : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus, besertamu.

U. : Dan sertamu juga

3. Pengantar oleh Pemandu :

- Dalam pertemuan yang lalu, kita semua diajak untuk memaknai kembali baptisan yang telah kita terima. Dengan menerima sakramen baptis, kita mengakui iman kita kepada Kristus, menjadikan kita pengikut-pengikut Kristus, menerima rahmat pertobatan dan karunia hidup baru, serta memasukkan kita ke dalam persekutuan Gereja.

- Dalam pertemuan kedua ini, kita semua diajak untuk menyadari kembali jati diri dan panggilan kita sebagai warga Gereja. Karena baptisan, kita telah diterima dan diakui sebagai warga Gereja dengan segala hak dan kewajibannya. Gereja bukanlah Paus, para Uskup, dan para Imam, melainkan kita semua, umat Allah yang karena baptis dipanggil untuk menjadi para pengikut Kristus, membangun paguyuban
(communio) sebagai murid-murid Kristus, bertumbuh dan berkembang dalam iman Gereja, baik secara personal maupun bersama-sama (komunal). Oleh karena itu, untuk menghayati panggilan ini, kita dipanggil untuk semakin terlibat dalam dinamika hidup menggereja, baik di lingkungan, wilayah, paroki, kevikepan, maupun keuskupan.

4. Ungkapan Tobat dan Mohon Ampun

(mempersiapkan hati supaya pantas dalam permenungan ini)

5. Doa Pembuka :

P : Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, kami telah Kau angkat menjadi domba-domba gembalaan-Mu di dalam Gereja. Semoga Gereja yang dituntun oleh para uskup, dan para imam selalu berkembang dan dapat menjadi teladan dalam membangun persaudaraan sejati sehingga dapat menjadi garam dan terang dunia. Jagalah persaudaraan dan kesatuan di antara kami supaya kami selalu bersatu padu, rukun, saling membantu atas dasar iman dan kasih. Semoga Gereja-Mu ini dapat menjadi tanda persaudaraan di antara para bangsa. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
U : Amin.

POKOK PERTEMUAN

(Pemandu mengajak umat untuk merenungkan pertanyaanpertanyaan di bawah ini. Mengingat situasi dan kondisi, pemandu juga dapat membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan)

Beberapa pertanyaan panduan untuk sharing:

a. Apakah aku merasa bangga menjadi warga Gereja? Apa sajakah yang membuat diriku merasa bangga sebagai warga Gereja?

b. Jika saya menyadari bahwa Gereja adalah para pengikut Kristus, dan bukan hanya Paus, para uskup, dan para imam, apa yang dapat saya persembahkan untuk mengembangkan Gereja yang berada di lingkungan, wilayah, dan paroki?

c. Apa sajakah yang harus saya usahakan agar Gereja tetap rukun bersatu? Dan apa sajakah yang harus dihindari agar tidak terjadi perpecahan?

(Untuk meneguhkan dan menegaskan pokok permenungan, dapat dibacakan teks 1 Kor 12:12-31)

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.


Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

6. Doa Umat Spontan

(Pemandu mengajak umat untuk berdoa terutama agar Gereja menjadi semakin rukun bersatu dan jauh dari perpecahan)

7. Doa Bapa Kami (Bisa dinyanyikan)

8. Doa Penutup (Doa untuk Paroki)

P+U: Ya Allah Bapa, Engkau tentu berkenan jika umat-Mu hidup rukun, bersatu dalam karsa untuk membangun dan mengikuti Engkau. Kami mohon, semoga Tuhan berkenan memberi Roh Kebijaksanaan, supaya kami selalu rukun bersatu mengemban tugas bersama, dan semoga umat-Mu selalu ada dalam persaudaraan di paroki. Allah, semoga Engkau berkenan mengutus Roh yang memberi hidup, supaya kami semua bangkit, meninggalkan rasa malas dan dengan semangat baru memajukan lingkungan, wilayah, dan paroki, mengusahakan iman yang makin mendalam kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

PENUTUP

9. Pengumuman

(dapat diadakan kolekte dan sesudah dirasa cukup selanjutnya mempersiapkan hati untuk memohon berkat Tuhan.)

Bacaan Harian 05 - 11 Maret 2012

Bacaan Harian 05 - 11 Maret 2012

Senin, 05 Maret: Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Dan 9:4b-10; Mzm 79:8-9.11.13; Luk 6:36-38.

Manusia cenderung menilai orang lain dengan mengangkat kelemahan dan keterbatasan orang itu, lalu memberikan penghakiman yang seringkali kejam dan membunuh karakternya. Padahal, penghakiman adalah hak Allah. Ingatlah, kita tak akan menjadi manusia yang lebih baik setelah kita menghakimi sesama kita.

Selasa, 06 Maret: Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23; Mat 23:1-12.

Menampilkan diri indah dan baik di mata orang lain adalah hal yang sangat digemari manusia. Sayangnya, hal ini seringkali bukan merupakan ungkapan sikap hati yang sesungguhnya. Jauh lebih penting membangun sikap hati yang baik, karena kalau begitu dengan sendirinya tingkah laku yang keluar darinya akan terungkap indah dalam ketulusannya.

Rabu, 07 Maret: Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Yer 18:18-20; Mzm 31:5-6.14-16; Mat 20:17-28.

Hidup mengikuti Yesus bukanlah supaya dapat duduk di sebelah kiri atau kanan-Nya, tetapi adalah siap untuk menjalani ajaran-Nya dengan penuh kasih dan pengorbanan. Itulah cawan yang harus kita minum sebagai murid-Nya. Soal di mana kemudian kita ’duduk’, apa yang kita peroleh, itu adalah urusan Bapa.

Kamis, 08 Maret: Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Yer 17:5-10; Mzm 1:1-4.6; Luk 16:19-31.

Harta dan kuasa seringkali berteman akrab dengan egoisme yang membuat kita buta terhadap sesama. Dalam masa Prapaskah ini, di saat kita berpantang dan berpuasa, biarlah hati kita juga terbuka untuk peduli kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Lazarus-lazarus itu ada dan hidup di ’pekarangan rumah’ kita.

Jumat, 09 Maret: Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U). - Pantang

Kej 37:3-4.12-13a.17b-28; Mzm 105:16-21; Mat 21:33-43.45-46.

Bacaan pertama membuat kita kagum atas perubahan mendasar dalam kisah Yusuf anak Yakub. Tindakan saudara-saudaranya dengan menjual dan membuangnya, diubah oleh Tuhan menjadi sumber pembebasan bagi saudara-saudaranya yang berada dalam kelaparan. Kita sering kali merasa heran mengapa solusi yang kita tentukan malah mendatangkan malapetaka bagi diri kita sendiri. Akan tetapi, Tuhan selalu dapat mengubah kita. Oleh karena itu, kita harus semakin melatih diri mencari tuntunan Tuhan dalam kesulitan kita dan tidak pernah memutus proses yang semestinya berjalan.

Sabtu, 10 Maret: Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Mi 7:14-15.18-20; Mzm 103:1-4.9-12; Luk 15:1-3.11-32.

Bapa sungguh murah hati. Ia selalu menanti supaya kita dapat kembali kepada-Nya dan sungguh-sungguh mengandalkan Dia. Apakah itu baru dapat kita lakukan menunggu saat ketika kita sudah tak berdaya?

Minggu, 11 Maret: Hari Minggu Prapaskah III (U).

Kel 20:1-17 (Kel 20:1-3.7-9.12-17); Mzm 19:8-11; 1Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25.

Diri kita adalah Bait Allah, tempat yang seharusnya Allah bersemayam. Namun, pada kenyataannya, kita masih juga gemar mengotori Bait Allah itu dengan perbuatan-perbuatan dosa kita. Marilah dalam masa Prapaskah ini, kita bersihkan diri kita dari segala dosa yang mencemari, kita tata kehidupan kita, sehingga Allah sungguh-sungguh bertakhta dalam hari-hari kita yang nyata.