Surat Kepada Keluarga bulan Maret 2012 (Rm. Alexander Erwin Santoso, MSF)

Surat Untuk Keluarga
MARET 2012
Bersatu dalam Ekaristi, Diutus untuk Berbagi



Keluarga-keluarga terkasih di Keuskupan Agung Jakarta,

Akhirnya kita memasuki masa penuh rahmat, masa prapaskah, yang selalu menjadi masa permenungan dan pertobatan. Masa prapaskah tahun ini mempunyai keistimewaan, karena kita bersama merenungkannya dalam perayaan umum Tahun Ekaristi bersama seluruh keluarga di Keuskupan Agung Jakarta kita. Tema “Bersatu dalam Ekaristi, Diutus untuk Berbagi” adalah tema mendalam yang telah diusulkan kepada kita semua untuk merenungkannya. Kita memasuki saat-saat istimewa, saat retret agung merenungkan kehadiran Tuhan dalam Ekaristi yang mengajak kita juga untuk berbagi.

Pertobatan selalu berawal dari kesadaran diri yang ingin “diperbarui”. Kesadaran ini sesuatu yang sangat wajar, manusiawi dan normal, sebagai orang beriman yang terus dan selalu sedang bertumbuh ke arah kesempurnaan Kristiani. Kita menyadari bahwa hidup kita belumlah sempurna, maka kita mengingat bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan yang hadir dan menyempurnakannya.

Hidup memang sebuah perjalanan panjang, sepanjang nafas, yang membutuhkan Pencipta-Nya untuk turut campur tangan membenahi dan membentuknya kembali agar semakin mendekati harapan Allah. cara Allah membaharui kita adalah melalui pengalaman paling pribadi, pengalaman sehari-hari dan paling menyentuh kita, teristimewa melalui pengalaman dalam keluarga. Betapa keluarga selalu menjadi tempat paling indah untuk kita menemukan suara Tuhan yang selalu sedang membarui itu.

Adakalanya hidup menjadi terlalu biasa, ketika suami atau ayah bekerja dan pekerjaannya menjadi rutinitas. Juga, ketika isteri atau ibu merasakan hidup yang tanpa masalah, berjalan normal dan tanpa persoalan. Anak-anak yang baik, pendidikan yang cukup dan tanpa kesulitan menjadikan hidup terasa “ “aman-aman” dan mungkin “adem-ayem”. Dalam situasi seperti ini, rupanya Allah bisa bekerja melalui rasa bahagia, nyaman, tentram, atau sedikit mengalami kebosanan karena “datar”-nya kehidupan. Saat itu, Allah bekerja melalui situasi yang serba nyaman dengan menghadirkan kerinduan dan kebutuhan untuk suatu yang baru dan menyemangati.

Ketika persoalan dalam keluarga kita terasa membelit dan membuat kita tak dapat “bergerak” atau bahkan merasa putus asa, Allah hadir melalui karya kasih-Nya dalam saudara-saudari yang menjadi perpanjangan tangan-Nya. Sedemikian dekatnya Allah dengan kehidupan kita, sehingga terasa Ia ada meskipun persoalan kita begitu berat. Ia nampak dalam keberadaan saudara-saudari yang prihatin dan tergerak untuk menolong kita. Keputusasaan kita berubah menjadi suatu pernyataan, “Kalau satu pintu tertutup, Tuhan pasti masih membuka pintu lainnya.” Semua karena saudara-saudari kita yang membukakannya buat kita.

Memang Allah hadir dalam hidup ini juga melalui orang lain. Dan mereka telah menjadi sesama kita. Sangat indah kalau kita beserta seluruh keluarga juga menyadari bahwa kita juga bisa menjadi sesama melalui perbuatan yang sama, yang berkeprihatinan dan yang berwawasan sosial. Allah bisa hadir dan dihadirkan melalui kita..! Ini luar biasa..! terpujilah Allah yang telah menciptakan kita dengan segala kelebihan dan keterbatasan. Ia telah menjadikan kita satu sama lain “sesama”. Ia membentuk dunia ini agar dibangun dengan kebersamaan yang saling meneguhkan itu.

Perjuangan untuk menjadi “baru” melalui permenungan dan pertobatan hanya akan menjadi nyata kalau banyak orang mengakuinya, bukan hanya kita akui sendiri. Merasa baik belumlah cukup untuk menjadi tolok ukur keberhasilan suatu aksi prapaskah. Ujian kita ada pada mereka yang berada di sekitar kita. Melalui pasangan yang merasa makin “nyaman” dan “dekat”; melalui anak-anak yang merasakan “kehadiran” dan cinta ayah ibunya lebih banyak; melalui ayah ibu yang bersyukur karena mempunyai anak-anak yang bertanggung jawab dan beriman, berbagi menjadi saat istimewa yang menyenangkan dan membawa sukacita dalam keluarga.

Setiap keluarga mendapatkan kisah kehidupannya. Kita juga menerima peristiwa hidup sebagai cara Tuhan mendidik. Marilah bersama Ekaristi yang kita terima setiap hari, kita pun menggalang niat untuk menciptakan lingkungan, tempat di mana Tuhan menempatkan kita, di sekitar kita, menjadi tempat yang semakin baik. Bagikanlah pikiran positif sebagai ganti rasa curiga, iri hati, dendam, serakah dan lain-lain. Pikirkanlah apa yang dibutuhkan orang-orang terkasih di rumah, barangkali mereka sudah lama tidak ikut perayaan Ekaristi; jarang berdoa sebelum makan atau sebelum tidur; tidak bicara lagi dengan Anda atau dengan anggota keluarga lainnya. Lebih luas lagi, perhatikanlah pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah. Lihatlah tetangga sekitar yang barangkali sangat menderita dengan situasi rumah tangga yang tidak harmonis atau berjuang dengan kemiskinannya.

Keluarga-keluarga di Jakarta terkasih, betapa nikmatnya hidup dalam iman kepada Yesus Kristus. Laksana perkataan dalam mazmur 34:8 (-9): “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”. Setiap saat kita bisa menikmati kehadiran Tuhan dengan cuma-cuma melalui perayaan Ekaristi. Yesus yang selalu membagi berkat dalam kehadiran-Nya, atau melalui permenungan dan keterlibatan kita dalam Ekaristi. Dalam pimpinan Roh Kudus, kita temukan Dia yang memberi kita pembaruan dan sukacita baru setiap hari. Bukanlah Tuhan kita akan lebih bersukacita lagi jika kita meneruskan “penemuan” rohani itu kepada sesama kita dalam aksi berbagi yang nyata?

Mari mengajak dan mengajari anak-anak kita bersikap dan berkegiatan sosial. Pada saat berpuasa dan berpantang, mereka bisa belajar untuk berbagi melalui penyisihan uang jajan atau menyisihkan uang belanja yang biasa dipakai untuk membeli makanan yang saat ini kita pantangkan. Kita semua selalu sedang belajar untuk semakin menjadi sempurna. Semoga masa prapaskah sungguh menjadi masa retret agung yang disyukuri semua orang, sebab ada lebih banyak lagi yang diselamatkan melalui suasana saling berbagi. Tuhan memberkati kita semua.

Salam dalam Yesus, Maria, dan Yusuf














Rm. Alexander Erwin MSF

Pertemuan IV: Pertemuan APP Prapaskah 2012 - Keuskupan Agung Semarang

Pertemuan IV

MEMBANGUN NIAT, MERANGKAI BUAH-BUAH KEHIDUPAN

Tujuan pertemuan

  • Melalui inspirasi Kitab Suci, umat dapat menemukan dasar yang kokoh untuk melakukan kebaikan kepada sesama.
  • Agar dalam diri umat, tumbuh semangat dan niat untuk berbuat baik terhadap sesama dengan landasan kasih dan kerelaan hati.
  • Agar dari kedalaman hati umat, tumbuh pula kegembiraan untuk berbuat baik kepada sesama. Sebab, salah satu buah dari keselamatan adalah kegembiraan yang sejati.

JALANNYA PERTEMUAN

PEMBUKAAN :

1. Nyanyian Pembuka

2. Tanda Salib dan Salam

P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U : Amin

P: Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus, besertamu.

U : Dan sertamu juga

3. Pengantar oleh Pemandu :

- Setelah merenungkan Kisah Para Rasul, kita dapat memetik buah-buah yang dapat diwujudkan dalam hidup harian kita. Kisah Para Rasul menjelaskan kepada kita tentang tanggung jawab kita untuk mewujudkan kesejahteraan umum. Hal ini selaras dengan yang hendak diperjuangkan oleh KAS sebagaimana ada dalam ARDAS KAS. Di sana disebutkan:

“Dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tatanan hidup baru yang adil, damai, sejahtera, dan demokratis, umat Allah berperan secara aktif mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh, serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum.”

4. Ungkapan Tobat dan Mohon Ampun

(mempersiapkan hati supaya pantas dalam permenungan ini)

5. Doa Pembuka :

P : Allah Bapa yang maha kasih, kami telah Kau anugerahi sabda yang selalu menjadi pedoman hidup kami. Sabda-Mu sungguh meneguhkan kami dalam mengusahakan kesejahteraan bagi seluruh dunia. Kami mohon kekuatan-Mu supaya kami dapat membangun niat-nat kami dan mewujudkan kebaikan-Mu di dalam hidup kami. Sebab hanya Engkaulah yang menjadi sumber kekuatan kami. Semoga engkau berkenan menerima niat dan kehendak baik kami ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami
U : Amin.

POKOK PERTEMUAN

6. Bacaan Kitab Suci :

Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:32-37)

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

(Pemandu mengajak umat untuk merenungkan pertanyaanpertanyaan di bawah ini. Mengingat situasi dan kondisi, pemandu juga dapat membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan)

Beberapa pertanyaan panduan untuk sharing:

a. Apa saja yang dapat dicontoh dari Kisah para rasul ini?

b. Apa yang digambarkan di dalam Kitab suci tadi sudah menjadi dasar untuk membangun paguyuban di lingkungan dan parokiku?

c. Apa lingkungan dan parokiku sudah menunjukkan hidup penuh persaudaraan? Apa contohnya?

d. Apa aku secara pribadi juga sudah terlibat mengusahakan hidup yang adil demi kesejahteraan masyarakat?

e. Jika belum, apa niat-niatku untuk mewujudkan hidup bersama yang adil dan sejahtera?

6. Doa Umat Spontan

(Pemandu mengajak umat untuk berdoa terutama agar sebagai umat Allah dapat membangun niat untuk mewujudkan kebaikan bagi semakin banyak orang)

7. Doa Bapa Kami (Bisa dinyanyikan)

8. Doa Penutup :

P : Allah yang mahakasih. Engkau selalu kami muliakan. Kami lambungkan puji syukur kepada-Mu atas segala rahmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Kami bersyukur atas kasih-Mu yang agung di dalam hidup kami, hamba-hamba yang tidak pantas ini. Kami mohon ya Allah, semoga engkau memberkati niat dan usaha kami untuk mengusahakan kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan di tengah masyarakat kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami.
U : Amin.

PENUTUP

9. Pengumuman (dapat diadakan kolekte dan sesudah dirasa cukup selanjutnya mempersiapkan hati untuk memohon berkat Tuhan)

10. Mohon Berkat

P. : Tuhan Sertamu

U. : Dan sertamu juga

P. : Semoga kita semua diberkati oleh Allah yang Mahakuasa

U. : Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (masing-masing membuat tanda salib)

11. Nyanyian Penutup

Kamis, 08 Maret 2012 Hari Biasa Pekan II Prapaskah

Kamis, 08 Maret 2012
Hari Biasa Pekan II Prapaskah

"Jangan takut akan Kristus. Dia memberikan segala sesuatu kepadamu." --- Paus Benediktus XVI

Antifon Pembuka (Mzm 139:23-24)

Ya Tuhan, ujilah dan selidiki jalanku. Periksalah batinku dan bimbinglah aku di jalan menuju hidup abadi.

Doa


Ya Tuhan, betapa kecil dan rapuh iman kami kepada-Mu. Kirimkanlah kepada kami orang-orang yang benar dan saleh sehingga kami dapat belajar dari mereka bagaimana berpasrah kepada-Mu. Karena Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan dari Kitab Yeremia (17:5-10)


"Terkutuklah yang mengandalkan manusia. Diberkatilah yang mengandalkan Tuhan."

Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840

Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 1:1-2.3.4.6; R: Mzm 40:5a)
1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
2. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya; daunnya tak pernah layu, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil.
3. Bukan demikianlah orang-orang fasik; mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Berbahagialah orang, yang setelah mendengar firman Tuhan, menyimpannya dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (16:19-31)

"Engkau telah menerima segala yang baik, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita."

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan


Melalui warta Injil hari ini, kita disuguhi kisah orang kaya dan Lazarus si miskin. Di dunia, orang kaya ini hidup dalam kemewahan, sedangkan Lazarus menderita. Si kaya tidak peduli dengan keadaan Lazarus. Dia begitu mengandalkan kekuatan dan harta bendanya. Sedangkan Lazarus tidak punya andalan apa-apa selain Tuhan. Setelah keduanya mati, keadaan berputar 180 derajat. Orang kaya itu masuk ke dalam penderita kekal, sedangkan Lazarus mengalami kebahagiaan abadi. Apa yang salah dengan si kaya itu? Kesalahannya bukan terletak pada kekayaannya, tetapi pada sikapnya yang keliru terhadap harta benda. Dia begitu mengagungkan harta duniawi sehingga mengabaikan Tuhan dan sesama, terutama yang menderita.

Bacaan I dengan tegas pula menandaskan hal ini, ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia…. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan”. Tanda bahwa kita mengandalkan Tuhan antara lain terwujud dalam sikap rela berbagi dengan sesama, peduli, dan berlaku adil.


Ya Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau rela berbagi denganku, bahkan rela menyerahkan nyawa-Mu untuk keselamatanku. Ajarilah aku untuk senantiasa bersandar pada-Mu dan rela berbagi dengan sesama. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian