Senin, 23 April 2012 Hari Biasa Pekan III Paskah

Senin, 23 April 2012
Hari Biasa Pekan III Paskah


Ekaristi ditemukan pada hakikatnya sebagai misteri persekutuan --- Paus Benediktus XVI

Antifon Pembuka


Telah bangkit Gembala yang baik. Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, dan rela mati untuk kawanan-Nya. Alleluya.


Doa Pagi

Ya Tuhan, kesaksian Stefanus dalam mewartakan Sabda Allah melalui tanda dan mukjizat tak selalu diterima oleh banyak orang. Bahkan ia mengalami pencobaan dan ancaman. Karena itu, dampingilah aku, ya Tuhan, agar semangat dan perjuangan St Stefanus memotivasi hidupku dalam mengikuti Engkau. Amin.

Roh Tuhan bersemayam pada orang-orang yang dipilih-Nya. Mereka mampu berkata-kata penuh hikmat-kebijaksanaan. Perkataan dan tindakannya bisa mencengangkan banyak orang. Semua ini bukan hasil kekuatan mereka sendiri, melainkan dari kuasa Allah yang menyertainya. Itulah buah dari kesaksian hidup yang selalu bersatu dengan kasih Allah.


Bacaan dari Kisah Para Rasul (6:8-15)

"Mereka tidak sanggup melawan hikmat Stefanus dan Roh yang mendorong dia berbicara."

Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. – Anggota-anggota jemaat ini adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria. – Mereka datang bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan, “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.” Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; maka mereka menyergap Stefanus, lalu menyerahkan dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Lalu mereka mengajukan saksi-saksi palsu yang berkata, “Orang ini terus menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat. Sebab kami telah mendengar dia mengatakan bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merobohkan tempat ini dan mengubah adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.” Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.
Ayat. (Mzm 119:23-24.26-27.29-30)
1. Sekalipun para pemuka duduk bersepakat melawan aku, hambamu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, dan kehendak-Mu menjadi penasihat bagiku.
2. Jalan hidupku telah kuceritakan dan Engkau menjawab aku; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.
3. Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah hukum-Mu kepadaku. Aku telah memilih jalan kebenaran, dan menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 4:4)
Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.


"Ora et Labora": berdoa dan bekerja. Dua aktivitas ini saling berhubungan dan tak terpisah satu sama lain. Berdoa menjadi dasar kekuatan untuk bekerja. Pekerjaan yang dilandasi dengan semangat doa akan menghasilkan buah melimpah. Orang beriman mesti bekerja sesuai kehendak Allah sehingga menghasilkan buah kehidupan bahagia kekal di surga.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:22-29)

"Berkerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal."

Setelah Yesus mempergandakan roti, keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang danau Tiberias, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang dipakai murid-murid Yesus. Mereka melihat juga bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias ke dekat tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Banyak orang mencari Yesus. Hal ini terjadi bukan pertama-tama karena mereka mampu membaca tanda kehadiran Tuhan dalam peristiwa perbanyakan roti, melainkan karena mereka makan roti dan kenyang. Mereka masih mencari hal-hal yang bersifat duniawi atau barang-barang fana. Itulah sebabnya, Yesus mengingatkan mereka untuk mencari hal-hal yang tidak dapat binasa. Mereka diminta untuk berjalan dalam iman kepada Dia yang telah diutus Allah. Bagaimana dengan kita? Apa (siapa) yang kita cari?

Doa Malam


Tuhan Yesus, aku bersyukur kepada-Mu, yang oleh karena anugerah Allah aku telah menjadi pengikut-Mu. Buatl
ah aku setia dan selalu percaya kepada-Mu sampai akhir hayatku agar kelak aku beroleh selamat seperti yang Engkau janjikan. Amin.


RUAH

Bacaan Harian 23 - 29 April 2012

Bacaan Harian 23 - 29 April 2012

Senin, 23 April: Hari Biasa Pekan III Paskah (P).

Kis 6:8-15; Mzm 119:23-24.26-27.29-30; Yoh 6:22-29.
Man For Others.
Tenggelam dalam kesibukan sehari-hari adalah ciri khas umat Jakarta. Sayangnya, banyak orang yang akhirnya terjebak dalam kesibukannya sendiri dan tidak tahu bagaimana cara memaknainya. Dalam Yoh 6:27 Yesus berkata: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Ucapan Yesus ini mengingatkan kita bahwa segala kegiatan yang kita jalani hendaknya dilakukan untuk sesuatu yang lebih bernilai, yaitu untuk memuliakan Tuhan dan untuk sesama, bukan untuk diri sendiri semata. Be Man of God and Man For Others.

Selasa, 24 April: Hari Biasa Pekan III Paskah (P).

Kis 7:51 – 8:1a; Mzm 31:3cd-4.6ab.7b.8a.17.21ab; Yoh 6:30-35.
Keterbukaan Hati.
Pada umumnya, sebagian besar orang tidak suka dikritik. Ketika dikritik biasanya seseorang akan melakukan pembelaan diri, entah dengan marah, adu argumen, mencari dukungan dari pihak lain, kembali mengkritik, atau yang lainnya. Pertanyaannya adalah: mengapa seseorang tidak suka dikritik? Antara lain penyebabnya adalah karena kritik dapat menghancurkan image yang telah susah payah ia bangun dan jaga di dalam masyarakat. Sama seperti jemaat Yahudi dan Libertini yang akhirnya membunuh Stefanus karena dikritik habis-habisan oleh Stefanus. Rasanya seorang Kristiani patut menyikapi kritik dengan hati yang terbuka dan bijaksana. Melihat kritik bukan sebagai serangan tetapi sebagai bantuan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Siapkah Anda membangun diri?

Rabu, 25 April: Pesta St Markus, Penginjil (M).

1Ptr 5:5b-14; Mzm 89:2-3.6-7.16-17; Mrk 16:15-20.
Kesombongan vs Rendah Hati.
Beberapa waktu yang lalu saya pergi memancing di tengah laut lepas. Saat itu saya sungguh takjub melihat betapa luasnya lautan dan sekaligus menyadari betapa kecilnya saya di tengah samudera membentang. Keberadaan saya ibarat setetes air di tengah lautan luas. Maka, sungguh disayangkan apabila ada seseorang yang merasa dirinya paling hebat, paling pandai, paling kaya, atau paling yang lain. Mengapa? Karena begitu seseorang menyombongkan dirinya, saat itulah dia lupa bahwa sebenarnya dirinya hanyalah setetes air di tengah lautan. Dalam I Petrus 5:5 ditegaskan, “... dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Rendah hati merupakan suatu sikap yang patut diutamakan sebagai pengikut Kristus. Be Humble.

Kamis, 26 April: Hari Biasa Pekan III Paskah (P).

Kis 8:26-40; Mzm 66:8-9.16-17.20; Yoh 6:44-51.
All About ME.
Egosentris, menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat; segala sesuatunya berpusat pada AKU. Selalu AKU, AKU, dan AKU. Yup, memang begitulah kecenderungan manusia pada umumnya, selalu mengutamakan diri sendiri daripada orang lain. Terkadang bahkan sampai tidak peduli dengan sesama karena mementingkan diri sendiri. Di sini Yesus mengajarkan sebuah nilai yang kontradiktif, yaitu berkorban. Seperti yang tertulis dalam Yoh 6:51, “ ... roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Yesus rela mengorbankan diri-Nya bukan semata-mata untuk kepentingan diri-Nya sendiri, melainkan untuk kepentingan umat manusia. Mari kita belajar dari Yesus dengan mulai menanamkan kesadaran bahwa bukan AKU yang terpenting, melainkan apa yang bisa AKU perbuat untuk sesamaku.

Jumat, 27 April: Hari Biasa Pekan III Paskah (P).

Kis 9:1-20; Mzm 117:1-2; Yoh 6:52-59.
Mengasah Kepekaan.
Titik pertobatan Saulus dimulai ketika ia mendapatkan suatu pengalaman iman yang luar biasa. Saat itu Saulus sedang melakukan perjalanan ke Damsyik, dan Tuhan menyapanya secara langsung, membuat ia tidak bisa melihat lalu menyembuhkannya kembali. Banyak dari kita juga yang akhirnya mengalami pertobatan ketika mendapatkan suatu peristiwa yang luar biasa mengejutkan, biasanya peristiwa itu menyangkut soal hidup dan mati. Namun sesungguhnya pertobatan tidak harus melalui suatu pengalaman yang spektakuler macam Saulus, tapi bisa melalui pengalaman sehari-hari. Di sinilah kita perlu mengasah kepekaan kita untuk melihat pengalaman-pengalaman tersebut. Mungkin tanpa disadari sebenarnya Tuhan menyapa kita di sana.

Sabtu, 28 April: Hari Biasa Pekan III Paskah (P).

Kis 9:31-42; Mzm 116:12-17; Yoh 6:60-69.
Teguh Beriman.
Mukjizat yang dilakukan Petrus dengan menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang yang sudah meninggal ternyata memberikan efek yang luar biasa, bukan hanya kepada orang yang disembuhkan tetapi juga kepada orang-orang yang di sekitarnya. Banyak orang yang akhirnya menjadi percaya dan beriman ketika melihat dan mendengar mukjizat tersebut. Namun, bagaimana jika tidak ada mukjizat, apakah kita masih tetap percaya dan beriman kepada Tuhan? Pilihan terletak di tangan kita masing-masing. Bagi saya, Tuhan melakukan segala sesuatu pasti dengan tujuan tertentu. Ada mukjizat ataupun tidak, kita harus tetap teguh beriman karena iman tidak harus tergantung pada mukjizat belaka.

Minggu, 29 April: Hari Minggu Paskah IV (P).

Kis 4:8-12; Mzm 118:1.8-9.21-23.26.28cd.29; 1Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18.
Ada udang di balik bakwan.
Mungkin Anda sering mendengar peribahasa ini. Pada kenyataannya memang terjadi, banyak orang yang melakukan sesuatu dengan suatu motivasi tertentu, yaitu mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dari luar seolah-olah terkesan baik, padahal maksud yang sebenarnya adalah demi dirinya sendiri. Dalam Yoh 10, perbuatan kasih diumpamakan dalam gambaran seorang gembala yang baik. Kasih yang sejati didasarkan pada ketulusan hati, tanpa mengharapkan suatu imbalan, tapi semata-mata hanya demi kebaikan orang tersebut. Mari kita bersama-sama belajar mengasihi dengan tulus.

YL INDRA KURNIAWAN - WARTA RC EDISI 5/TAHUN VI