| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Bacaan Harian 18 - 24 Juni 2012

Bacaan Harian 18 - 24 Juni 2012

Senin, 18 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
1Raj 21:1-16; Mzm 5:2-3.5-6.7; Mat 5:38-42
Makhluk rapuh sekaligus mulia. Raja Ahab dikuasai sikap tamak dan dengan bantuan Izebel, isterinya, akhirnya ia bisa merampas kebun anggur Nabot dengan cara yang keji. Sikap tamak, iri hati, rakus akan materi, balas dendam menunjukkan betapa rapuhnya kita; namun sebaliknya, sikap kasih, pengampunan dan mau berbagi menunjukkan betapa kita juga begitu mulia. “Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu... bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu”, begitu Yesus berseru dalam Injil hari ini. Mari kita cari dan kita bangun sikap-sikap mulia yang ada dalam diri kita lalu bagikan buat banyak orang.

Selasa, 19 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
1Raj 21:17-29; Mzm 51:3-4.5-6a.11.16; Mat 5:43-48
Kasih itu membebaskan. Pernah frustrasi dalam usaha untuk mengasihi? Itu sangat manusiawi, tapi jangan menyerah. Kasih harus diuji dan dimurnikan bahkan sampai terluka. Nasehat Yesus hari ini menantang kita untuk mengasihi sampai sehabis-habisnya. Ia bukan saja pandai menasehati tapi juga melaksanakannya secara sempurna di kayu salib. Yesus juga mengharapkan murid-murid-Nya memiliki sikap kasih yang bukan “Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu”, tapi “Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian”. Mari berjuang untuk sampai pada kasih yang membebaskan ini.

Rabu, 20 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
2Raj 2:1.6-14; Mzm 31:20.21.24; Mat 6:16.16-18
Derma, doa dan puasa. Masihkah ketiga hal itu memiliki tempat dalam hidup kita? Ketika dunia mengagung-agungkan egoisme dan hedonisme, kita diingatkan untuk tidak terseret dan terjebak di dalamnya. Semoga tiga pilar ini bisa kita pelihara dengan baik meski tidak gampang dan banyak tantangannya. Apalagi ketika ada godaan untuk mempertontonkan perbuatan-perbuatan baik ini supaya mendapat pujian. Ingat, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Kita sudah memperoleh ganjarannya. Sama seperti Elisa yang memilih bagian yang terbaik dari Elia, yaitu Roh sebagai seorang nabi.

Kamis, 21 Juni: Peringatan Wajib St. Aloysius Gonzaga, Biarawan (P).
Sir 48:1-14; Mzm 97:1-2.3-4.5-6.7; Mat 6:7-15
Doa dan pengampunan. Berapa kali sehari Anda berdoa Bapa Kami? Doa yang diajarkan Yesus ini merupakan warisan dan contoh setiap doa. Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam doa ini adalah pengampunan. Dengan mengampuni dan memohon ampun kita memperoleh rahmat yang istimewa untuk semakin dekat kepada Bapa dan merasakan kasih-Nya. Relasi dengan sesama pun kita perbarui. Maka, meski “...Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian minta kepada-Nya”, namun janganlah jemu-jemu berdoa. Semoga doa Bapa Kami yang sering kita ucapkan semakin mengembangkan semangat pengampunan dalam hati kita.

Jumat, 22 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
2Raj 11:1-4.9-18.20; Mzm 132:11.12.13-14.17-18; Mat 6:19-23
Harta di bumi perlu, tapi jangan sampai melupakan harta di surga. Dalam kotbah di bukit Yesus menasehatkan agar kita mengumpulkan harta di surga yang bersifat kekal dan membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan sejati. Mari mengumpulkan sedikit demi sedikit harta di surga dengan berbagai keutamaan, sikap baik dan semangat berbagi. “Karena dimana hartamu berada, di situ pula hatimu berada”. Bahagia rasanya jika harta di dunia ini bisa mengantar kita untuk memiliki harta di surga juga.

Sabtu, 23 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
2Taw 24:17-25; Mzm 89:4-5.29-30.31-32.33-34; Mat 6:24-34
Carpe diem. Tangkaplah hari ini. Perasaan khawatir bisa menghampiri siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Termasuk mereka yang mungkin kita lihat berkecukupan, bahagia dan tenang dalam hidupnya. Ketika rasa khawatir menyergap seolah-olah tidak ada hal yang bisa disyukuri. Pesan Yesus hari ini meneguhkan kita untuk tidak lupa kepada Bapa yang selalu bisa diandalkan karena Ia senantiasa memelihara hidup kita jauh melebihi burung dan bunga bakung,“...sebab itu janganlah kalian kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”. Mari ‘menangkap hari’ dan jangan biarkan kita kehilangan kebahagiaan sehari ini!

Minggu, 24 Juni: Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis (P).
Yes 49:1-6; Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80
Karya Allah patut kita puji. Kebesaran-Nya mengatasi segala batas yang kita buat. Kelahiran Yohanes Pembaptis menjadi contoh karya tangan-Nya yang ajaib. Bagaimana kelahirannya membuat heran banyak orang dan dialah yang menjadi pembuka jalan bagi Sang Mesias.“Menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia”. Pesta ini juga menjadi kesempatan yang bagus bagi orangtua untuk semakin memantapkan niat, motivasi dan tugas mendidik anak dengan penuh syukur dan tanggungjawab.


Renungan oleh: Stefanus Tommy Octora, Pr

Kobus: Hari Minggu Biasa XI/B

Minggu, 17 Juni 2012 Hari Minggu Biasa XI

Minggu, 17 Juni 2012
Hari Minggu Biasa XI

Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa. --- Yes 61:11


Antifon Pembuka (Mzm 26:7-9)


Tuhan, dengarkanlah suara seruanku, kasihanilah aku dan kabulkanlah doaku. Engkaulah penolongku, jangan membuang aku, jangan meninggalkan daku, ya Allah, penyelamatku.


Doa


Allah Bapa kami yang penuh belas kasih, yang kecil dan tak berarti Kauperkembangkan sepenuhnya. Pandanglah kami yang kecil dan papa ini dan pekenankanlah kami tumbuh subur menyerupai wajah Kristus, Putra-Mu terkasih, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.


Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (17:22-24)


Beginilah firman Tuhan Allah, “Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi, dan menanamnya; Aku akan mematahkannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda, dan Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas; di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-cabang dan berbuah, dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam burung dan unggas akan tinggal di bawahnya, mereka akan bernaung di bawah cabang-cabangnya. Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, Tuhan, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu-kering, dan membuat pohon yang layu-kering bertaruk kembali. Aku, Tuhan, telah mengatakannya dan akan membuatnya.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = bes, 2/4, PS 831

Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, kar'na baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 92:2-3.13-14.15-16; Ul: 2a)

1. Sungguh baik menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, Yang Mahatinggi, memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam.
2. Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon ara di Libanon mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita.
3. Pada masa tua pun mereka masih berbuah menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar bahwa Ia Gunung Batuku, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (5:6-10)


Saudara-saudara, hati kami senantiasa tabah! Meskipun kami sadar bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat; toh hati kami tabah! Tetapi, kami lebih suka beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu kami berusaha, entah di dalam tubuh entah di luarnya, supaya kami berkenan kepada Allah. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut ia peroleh, sesuai dengan yang ia lakukan dalam hidup ini, baik atau pun jahat.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957

Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. 2/4
Benih melambangkan sabda Allah, penaburnya ialah Kristus. Semua orang yang menemukan Kristus akan hidup selama-lamanya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:26-34)


Sekali peristiwa Yesus mengajar di hadapan orang banyak, katanya, “Beginilah hal Kerajaan Allah: Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Malam hari ia tidur, siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas, dan tunas itu makin tinggi! Bagaimana terjadinya, orang itu tidak tahu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkai, lalu bulir, kemudian butir-butir yang penuh isi pada bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Yesus berkata lagi, “Dengan apa hendaknya kita bandingkan Kerajaan Allah itu? Atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil di antara segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain, dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” Dalam banyak perumpamaan semacam itu Yesus memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka. Tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Mzm 27:4)


Satu hal yang kuinginkan dan kumohon kepada Tuhan, agar dapat mendiami rumah Tuhan seumur hidupku.


Renungan

Rekan-rekan,

Dalam Mrk 4:26-34 (Injil Minggu Biasa XI/B) didapati dua buah perumpamaan mengenai Kerajaan Allah (ayat 26-29 dan 30-32) diikuti sebuah catatan bahwa Yesus memakai perumpamaan bagi orang banyak tapi bagi para murid diberikannya penjelasan tersendiri (ayat 33-34). Perumpamaan yang pertama hanya didapati dalam Injil Markus, sedangkan yang kedua diceritakan juga dalam Mat 13:31-32 dan Luk 13:18-19. Guna memahami warta petikan ini baiklah ditengok sejenah gagasan apa itu Kerajaan Allah.


KERAJAAN ALLAH


Ungkapan "Kerajaan Allah" kerap dijumpai dalam Injil Markus dan Lukas. Injil Matius mengungkapkannya dengan "Kerajaan Surga". Makna ungkapan ini bukanlah wilayah atau pemerintahan seperti dalam "kerajaan Majapahit" melainkan kebesaran, kemuliaan, kekuasaan Tuhan yang diberitakan kedatangannya kepada umat manusia. Maklum pada zaman itu orang Yahudi mengalami pelbagai kekuasaan yang amat berbeda dengan masa lampau mereka sendiri sebagai umat-Nya Tuhan. Pada zaman Yesus mereka tidak lagi bisa menganggap diri umat merdeka seperti leluhur mereka karena mereka ada di bawah kuasa Romawi. Di kalangan umat ada harapan satu ketika nanti mereka akan kembali menjadi umat Tuhan seperti dahulu. Tak jarang harapan ini berujung pada keinginan untuk merdeka dari kekuasaan Romawi dan menjadi negeri dengan pemerintahan dan kekuasaan sendiri. Namun cukup jelas harapan seperti ini tidak bakal terwujud. Ada bentuk rohani dari harapan akan kembali menjadi umat-Nya Tuhan. Yesus termasuk kalangan yang mengajarkan bentuk rohani harapan ini. Begitu pula para rahib yang juga dikenal pada zaman itu. Namun kebanyakan dari mereka menghayati harapan itu dengan menjauh dari kehidupan ramai dan pergi bertapa di padang gurun dan sekitar Laut Mati. Kelompok Yesus berbeda. Mereka tetap berada dalam masyarakat namun berusaha menumbuhkan iman akan kebesaran Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka yakin bahwa kebesaran-Nya tetap ada, juga di dunia ini, namun sering sukar dialami. Bagaimanapun juga bagi kelompok ini berusaha menemukan apa itu kehadiran-Nya yang mulia di dalam kehidupan mereka. Kehadiran-Nya diimani oleh kelompok ini sebagai yang dekat, yang melindungi dan memberi kekuatan dari hari ke hari, yang tidak menghitung-hitung kedosaan melainkan bersikap pengampun. Semua ini juga didapati dalam doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus.


Inilah warta yang digambarkan dengan pelbagai perumpamaan dalam Injil-Injil. Juga dalam petikan yang dibacakan kali ini. Menurut Injil Markus, Yesus mulai tampil di Galiea dengan warta bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan orang-orang diajak untuk bertobat, yakni meninggalkan anggapan yang bukan-bukan seperti di atas dan memegang warta yang sejati dengan mempercayainya sebagai warta gembira (Mrk 1:15, lihat juga Mat 4:17).


DUA PERUMPAMAAN


Dengan latar penjelasan mengenai Kerajaan Allah di atas, kini dapat ditengok perumpamaan pertama. Di situ pertumbuhan Kerajaan Allah digambarkan sebagai biji yang ditaburkan dan dibiarkan bertunas, tumbuh hingga berbuah dan dituai pada musimnya. Bagaimana menangkap maksudnya?


Sebaiknya perumpamaan ini jangan difahami sebagai penjelasan bahwa Kerajaan Allah itu butuh waktu untuk tumbuh hingga berbuah. Pendapat seperti itu memang tidak keliru - semua pertumbuhan memerlukan waktu dan keuletan dst. Tetapi perumpamaan ini justru tidak memusatkan perhatian ke sana. Yang ditonjolkan dalam perumpamaan ini ialah kuasa ilahi yang tidak bergantung pada upaya manusia. Dengan demikian diajarkan agar orang membiarkan kehadiran ilahi ini bergerak menurut iramanya sendiri.


Apakah tafsiran ini berlawanan dengan pengertian bahwa manusia perlu menerima dan menanggapi anugerah ilahi agar pemberian itu betul-betul menjadi nyata? Guna mendalami pertanyaan ini baiklah diingat sebuah perumpamaan lain mengenai penabur dalam Mrk 4:1-20 yang menebar benih di lahan berbeda-beda: pingir jalan, tanah berbatu-batu, semak berduri, dan tanah yang baik. Hanya di tanah yang baik sajalah benih akan tumbuh terus dan berbuah berlipat ganda. Begitu digambarkan pula bahwa benih membutuhkan lahan yang cocok. Namun pengajaran dalam perumpamaan itu bukannya untuk menilai dan menghakimi mana lahan yang tak baik, melainkan untuk mengajak agar orang mengusahakan agar benih mendapat lahan yang baik. Bila mendapati benih jatuh di pingir jalan, bawalah ke tanah yang baik, begitu pula bila mendapati benih di tanah yang berbatu-batu dan semak duri, pindahkan ke tanah yang baik! Perumpamaan diberikan untuk menghimbau, bukan untuk mengadili.


Bila demikian maka perumpamaan dalam Mrk 4:26-29 yang dibicarakan kali ini dapat dimengerti sebagai ajakan untuk membiarkan benih tumbuh terus dengan daya yang ada di dalamnya. Sudah diandaikan bahwa lahannya ialah lahan yang cocok. Hanya butuh dibiarkan dan dijaga agar tetap baik. Membiarkan daya ini bergerak sendiri ialah kerohanian yang dapat memberi kepuasan batin. Orang boleh merasa aman karena sadar dirinya tanah yang baik dan telah menerima benih. Nanti bila waktunya tiba maka akan ada tuaian yang besar. Begitulah perumpamaan ini


Perumpamaan kedua, Mrk 4:30-32, mengenai biji sesawi, yang disebut biji terkecil dari segala jenis biji, tapi bila ditabur - tentunya di tanah yang cocok - dan bertumbuh akan menjadi besar sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarang di dahan-dahannya dan bernaung di situ. Yang hendak disampaikan di sini kiranya ialah besarnya Kerajaan Allah sendiri yang tak terduga-duga sebelumnya. Dari yang paling kecil tumbuhlah yang sedemikian besar. Pendengar dan juga pembaca akan bertanya-tanya biji apakah biji sesawi itu? Orang tergugah rasa ingin tahu. Boleh dikatakan, zaman itu juga orang tidak tahu persis apa biji sesawi yang dibicarakan Yesus. Bahkan Yesus sendiri pun bisa jadi tak pernah melihat apa tu biji sesawi. (Bandingkan dengan orang Jawa yang bisa bicara mengenai Pandawa lima tanpa pernah bertemu dengan salah seorang pun dari mereka, karena memang mereka tak pernah ada!) Ungkapan itu dipakai sebagai perumpamaan dan tidak perlu dicari-cari apa padanannya dalam dunia pengetahuan tumbuh-tumbuhan! Beberapa waktu yang lalu dalam ilmu tafsir memang sering "pengetahuan" seperti ini dicari-cari dan dijadikan ukuran bagi penafsiran, tapi sekarang para ahli tafsir lebih berusaha menyadari makna sastra perumpamaan.


Bila hal di atas diterima, maka boleh dibayangkan bahwa Yesus justru memakai kata "biji sesawi" yang bakal mengherankan banyak orang guna menyampaikan warta khas mengenai Kerajaan Allah. Keheranan, ketakjelasan mengenai apa itu biji yang dimaksud justru menjadi bagian dari wartanya. Kerajaan Allah tetap misteri, namun pertumbuhannya nyata dan lingkupnya amat besar tak terduga-duga. Orang dihimbau untuk menjadi seperti burung di udara, membangun sarang dan bernaung padanya.


Dalam penjelasan di atas, kedua perumpamaan mengenai Kerajaan Allah dipahami sebagai ajakan untuk membiarkannya tumbuh dengan daya ilahi yang ada di dalamnya dan menghormati bahkan mengherani kebesaran yang kerap tidak segera tampak. Dengan demikian perumpamaan ini dapat menjadi pengajaran yang menumbuhkan rasa percaya akan daya ilahi sendiri


PENGAJARAN KHUSUS - BAGI SIAPA?


Dalam ay. 33-34 disebutkan bahwa Yesus tidak berbicara kepada orang banyak tanpa memakai perumpamaan, tetapi penjelasannya ia berikan kepada para murid. Kepada orang banyak Yesus menyampaikan imbauan, seperti dalam uraian di atas. Kepada para murid, yakni kelompok yang lebih dekat padanya, diberikannya uraian secara tersendiri. Dalam kaitan dengan dua perumpamaan tadi Injil Markus tidak memberi penjelasan lebih jauh tentang uraian Yesus itu. Pembaca boleh menduga-duga. Tetapi tak akan sampai pada pengertian baru. Perlu diingat bahwa catatan Markus itu mengenai para murid, bukan mengenai kita pada zaman ini. Kelirulah bila kita ingin menyamakan diri sebagai para murid yang dikatakan telah menerima uraian tersendiri. Ini semacam sikap sok rohani yang mau menonjolkan diri telah dapat pengajaran khusus. Bisa-bisa malah menghimpit iman. Lebih baik menganggap diri sama seperti "orang banyak", pendengar umum, yang disebut dalam Injil, yang mendengarkan perumpamaan dan menikmatinya. Sikap ini lebih memberi kemerdekaan batin, lebih memungkinkan orang memasuki dunia perumpamaan dan memetik hikmatnya. Bila langsung ingin menyamakan diri dengan para murid waktu itu, paling banter orang hanya akan sampai pada pernyataan-pernyatan moralistis basi tanpa mengolah makna perumpamaannya.


Salam hangat,

A. Gianto

MINGGU BIASA XI/B – 17 JUNI 2012

MINGGU BIASA XI/B – 17 JUNI 2012
Yeh 17:22-24; 2Kor 5:6-10; Mrk 4:26-34
Pengantar
Hari ini kita merayakan Ekaristi Minggu Biasa XI di tahun liturgi B. Kita bersyukur karena Tuhan senantiasa hadir dan merajai kita sehingga hidup kita selalu terjamin. Wujud nyata kehadiran dan penyertaan Tuhan yang paling istimewa kita alami dalam Ekaristi. Sebab, dalam setiap Ekaristi, Yesus sendiri hadir dalam rupa roti dan anggur yang dikosekrir menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan menyambut komuni kudus, kita sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus. Ia sungguh-sungguh hadir dan menyertai kita. Dalam Dia, kita tumbuh dan berkembang secara rohani serta menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari.
Homili
Warta gembira Sabda Tuhan yang dihidangkan kepada kita pada hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah. Nah, apakah Kerajaan Allah itu? Yesus sendiri tidak pernah menjelaskan secara gamblang definisi Kerajaan Allah, selain dengan perumpanaan, seperti yang kita dengarkan hari ini. “Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah ….” (Mrk 4:26). “Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan ke tanah … ”(Mrk 4:31).
Dalam Kitab Suci kita, istilah Kerajaan Allah merupakan terjemahan dari bahasa Yunani βασιλεια (Basiliea). Bagi orang Yahudi, kata Basiliea sebenarnya berarti “Allah yang meraja”. Namun, karena mereka merasa tidak pantas menyebut nama “Allah” yang begitu kudus dan luhur secara langsung, maka istilah “Allah yang meraja”  diungkapkan secara lain, yaitu “Kerajaan Allah”. Dengan demikian, arti dan makna Kerajaan Allah bukanlah tempat seperti Kerajaan Majapahit atau Kraton Yogyakarta. Kerajaan Allah berarti Allah yang aktif memerintah atau meraja di dunia.
Dalam doa Bapa Kami, arti Kerajaan Allah dapat dijelaskan secara tepat, yaitu dengan menghubungkan datangnya Kerajaan Allah dan melakukan kehendak-Nya. “Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah Kehendak-Mu”. Di mana  kehendak Allah dilakukan dengan ketaatan yang sempurna, di situlah, Kerajaan Allah diwujudkan. Sebab, setiap kali kita melakukan kehendak Allah, berarti kita mempersilakan Allah hadir, memerintah dan merajai kita. Kita membiarkan hidup kita dirajai oleh Allah. Kita membiarkan Allah meraja atas hidup kita.
Bacaan-bacaan hari ini memberikan beberapa penegasan kepada kita mengenai apa tandanya kalau Kerajaan Allah hadir di tengah-tengah kita? Apa tandanya kalau Allah hadir, memerintah dan merajai kita?
Tanda yang pertama kita ambil dari bacaan kedua. Membiarkan diri dirajai oleh Allah berarti selalu “berusaha, entah di dalam tubuh entah di luarnya, supaya kami berkenan kepada Allah” (2Kor 5:9). Hal ini menegaskan kaitan antara datangnya Kerajaan Allah dengan melakukan kehendak-Nya sebagaimana diajarkan Yesus dalam doa Bapa Kami. Kita akan berkenan kepada Allah kalau kita melaksanakan kehendak-Nya. Sebab, dengan melaksanakan kehendak-Nya, berarti hidup kita dirajai oleh Allah. Allah kita jadikan raja yang kita hormati, kita sembah, kita taati dan kita laksanakan kehendak-Nya. Kita mundhi dhawuh Dalem lan ngemban karsa Dalem.
Dari bacaan pertama dan Injil, ditegaskan bahwa tanda kalau Allah hadir, memerintah dan merajai kita adalah kita tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Yach, seperti benih yang ditabur, tumbuh menjadi besar, berkembang dan berbuah (Mrk 4:26-29; Yeh 17:23). Tentu saja, pertumbuhan dan perkembangan yang dimaksud di sini adalah dalam hal rohani atau keutamaan-keutamaan Kristiani, yaitu iman, pengharapan dan kasih. Jadi, tanda kedua kalau kita dirajai oleh Allah adalah kita tumbuh, berkembang, dan berbuah dalam iman, pengharapan dan kasih. 
Selain itu, bacaan pertama dan Injil juga memberikan tanda lain. Semua tanaman tumbuh dan berkembang. Namun tidak semuanya berbuah. Meskipun demikian, tanaman yang tidak menghasilkan buah masih tetap berguna, yaitu dengan menjadi tempat berlindung dan bernaung bagi bangsa burung (Mrk 4:32; Yeh 17:23). Jadi, tanda ketiga kalau kita membiarkan Allah hadir, memerintah dan merajai kita adalah kita mampu memberikan naungan, keteduhan dan perlindungan bagi orang lain. Orang-orang yang berada di dekat kita merasa aman, nyaman, damai, berbahagia dan bersukacita.
Inilah tiga tanda kalau kita menjadikan Allah sebagai raja atas hidup kita. Kita berusaha sungguh-sungguh melaksanakan kehendak-Nya sehingga hidup kita berkenan kepada-Nya. Kita tumbuh, berkembang, dan berbuah dalam iman, harapan, dan kasih. Kita menjadi naungan yang memberikan rasa aman, nyaman, damai, bahagia dan sukacita bagi orang lain.
Marilah, kita mohon kepada Tuhan, semoga ketiga hal tersebut semakin nyata terwujud dalam diri kita, demi semakin dimuliakannya nama Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin. 
Rm. Ag. Agus Widodo, Pr

Sabtu, 16 Juni 2012 Peringatan Wajib Hati Tersuci SP Maria

Sabtu, 16 Juni 2012
Peringatan Wajib Hati Tersuci SP Maria.

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu --- Luk 2:41-42


Antifon Pembuka (Mzm 12:6)

Hatiku bergembira karena Engkau menyelamatkan daku. Aku bernyanyi bagi-Mu karena kebaikan-Mu terhadapku.

Doa Pagi


Allah Bapa yang kekal dan kuasa, kami bersyukur dan berterimakasih atas teladan Bunda Maria yang Kauberikan kepada kami sebagai ibu rohani kami yang tersuci. Bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami mampu meneladan kerendahan hati dan iman Bunda Maria. Semoga keteguhan hatinya dalam memegang prinsip menguatkan kami dan kelembutan hatinya menyinari hati kami untuk dapat melayani kebutuhan sesama dengan murah hati, sehingga semakin banyak orang merasa gembira karena dihargai dan disapa sebagai pribadi.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Allah datang dan mengajarkan apa yang benar untuk membebaskan dan menyelamatkan manusia. Hanya dengan melakukan apa yang benar, manusia menjadi bahagia. Maka, sudah selayaknya hormat, pujian dan syukur dilambungkan kepada-Nya.


Bacaan dari Kitab Yesaya (61:9-11)


Beginilah firman Tuhan, “Keturunan umat-Ku akan terkenal di antara para bangsa, dan anak cucu mereka di tengah-tengah suku-suku bangsa, sehingga semua orang yang melihat mereka akan mengakui, bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati Tuhan.” Aku bersukaria dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin pria yang mengenakan hiasan kepala dan seperti pengantin wanita memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tetumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Hatiku bersukaria karena Tuhan, Juru Selamatku.
Ayat. (1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd)

1. Busur para pahlawan telah patah, tetapi orang-orang lemah dipersenjatai kekuatan. Orang yang dulu kenyang kini harus mencari nafkah, tetapi yang dulu lapar kini boleh beristirahat. Orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi ibu yang banyak anaknya menjadi layu.
2. Tuhan berkuasa mematikan dan menghidupkan, Ia berkuasa menurunkan ke dalam maut dan mengangkat dari sana. Tuhan membuat miskin dan membuat kaya. Ia merendahkan dan meninggikan juga.
3. Ia menegakkan orang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang miskin dari lumpur, untuk mendudukkannya di antara para bangsawan, dan memberi dia kursi kehormatan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Maria menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya

Maria, ibu Tuhan, adalah pribadi yang setia merenungkan sabda Tuhan dalam hatinya. Dalam kebingungan, ia masuk dalam keheningan dan berpasrah kepada Tuhan. Sikap Maria yang bijaksana ini adalah bukti betapa ia sungguh beriman.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:41-51)

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam bait Allah; sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya, “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku cemas mencari engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Mengapa Bapak-Ibu mencari Aku? Tidakkah tahu, bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Yesus dan orang tua-Nya mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan pesta Paskah. Ia lalu hilang dan dicari oleh orang tua-Nya. Dan akhirnya Ia ditemukan di bait suci dan sedang bersoal jawab dengan para pemimpin agama Yahudi. Kepada orang tua-Nya yang menegur-Nya, Ia mewartakan makna hidup-Nya yang mengatasi hubungan keluarga manusiawi. Ia mau membangun relasi yang mendalam dengan Bapa-Nya.

Doa Malam


Tuhan Yesus, kadangkala kami pun seperti Bunda Maria, tidak mengerti apa yang Kaukatakan. Namun sikap kami tidak seperti Bunda Maria. Hati kami masih tertutup oleh kesombongan dan cinta diri, sehingga tak mampu menangkap ajaran-Mu. Berilah hati kami terbuka seperti Bunda Maria. Amin.


RUAH

HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS


HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Hos 11: 1.3-4.8c-9; Ef 3:8-12.14-19; Yoh 19:31-37

Pengantar
Hari ini kita merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Penghormatan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus sudah mulai berkembang sejak abad VII dan semakin tersebar luas setelah penglihatan-penglihatan Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Pada tahun 1856, Paus Pius IX memasukkan Pesta Hati Kudus Yesus dalam penanggalan liturgi. Melalui perayaan ini, kita diajak untuk menghormati dan mensyukuri cinta serta belas kasih Allah yang memancar dari Hati Yesus yang Mahakudus seraya memohon agar kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan hati-Nya sehingga kita pun mempunyai kasih yang berkobar kepada Tuhan dan sesama.

Homili
Bacaan-bacaan pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus ini menegaskan bahwa cinta dan belaskasih Allah kepada kita itu kekal dan tanpa batas. Meskipun kita adalah manusia berulang kali jatuh ke dalam dosa, membangkang dan meninggalkan Allah, tetapi Ia tetap setia dan hati-Nya penuh belas kasih.
Bacaan pertama dari Kitab Hosea menegaskan kesetiaan dan cinta kasih Allah kepada manusia yang tanpa batas itu. Hosea adalah seorang lelaki yang diutus Allah untuk memperistri Gomer, seorang perempuan sundal (Hos 1:2-9). Hal ini menggambarkan betapa Allah begitu setia dan mencintai Israel yang tidak setia karena berpaling kepada allah-allah lain (Hos 3:1). Allah berbalik dari murka-Nya dan belas kasih-Nya mengatasi segala-galanya. Ia yang telah membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih tetap mengasihi mereka kendati umat-Nya tidak setia (Hos 11:4.8c).
Cinta dan belas kasih Allah itu mencapai puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus yang mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. “Di dalam Dia, kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada tahta Allah” (Ef 3:12). Pengorbanan diri Yesus yang didasari oleh cinta dan belas kasih-Nya membuka jalan keselamatan bagi kita. Maka, kita diajak untuk “memahami betapa lebar dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus; juga supaya dapat mengenal kasih Kristus itu, sekalipun melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18-19).
Pada saat Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib, ketika lambungnya ditikam dengan tombak, mengalirlah darah dan air (Yoh 19:34). Peristiwa ini begitu penting dan ditekankan oleh Yohanes sampai ia mengatakan, “Orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya" (19:35). Peristiwa ini menjadi lambang yang menyatakan arti wafat Yesus di kayu salib, yang dapat dimengerti dengan baik kalau kita dapat menangkap lambang-lambang yang dipakai.
Dalam perayaan Ekaristi, saat persiapan persembahan, Imam mencampurkan air ke dalam anggur yang akan dikosekrir menjadi Darah Kristus. Pada saat pencampuran itu, Imam berdoa, “Sebagaimana dilambangkan oleh pencampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus yang telah menjadi manusia seperti kami”. Melalui tindakan simbolis ini, kita diajak menghayati penjelmaan Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi awal karya penyelamatan-Nya. Dengan penjelmaan-Nya itu, Ia tinggal di tengah-tengah kita sampai akhirnya Ia wafat bagi kita. Wafat-Nya itulah yang menjadikan kita dapat mengambil bagian dalam keallahan-Nya sehingga kita “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef 3:19). Artinya, dengan wafat-Nya, Kristus menebus kita dan menganugerahi kita kehidupan kekal, yaitu kehidupan abadi bersama Allah sepenuhnya dan selama-lamanya.
Perayaan Hati Kudus Yesus mengajak kita untuk merenungkan pengalaman hidup kita yang sungguh diper-hati-kan oleh Allah dengan kasih-Nya yang tanpa batas. Ia rela mengorbankan diri demi kesalamatan kita. Semoga, dengan iman akan kasih Tuhan yang tanpa batas itu, kita berani mengarungi samudera kehidupan yang penuh liku dan perjuangan ini. Kasih itu juga mendorong dan menggerakkan hati kita untuk selalu siap membagikan kasih kepada sesama kita.
Yesus yang lembut dan murah hati, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu! Amin

Rm. Ag. Agus Widodo, Pr
(diinspirasi dari Renungan Mgr. I. Suharyo dalam Inspirasi Batin 2012)

Jumat, 15 Juni 2012 Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

Jumat, 15 Juni 2012
Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati , mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
--- Yoh 19:33-34

Antifon Pembuka (lih. Mzm 32:11.19)


Hati Tuhan selalu memikirkan umat-Nya untuk melepaskan mereka dari maut dan menghidupi mereka dalam masa kelaparan.


Doa Pagi


Hati Yesus yang Mahakudus, betapa besar cinta-Mu kepada kami. Ajarilah kami untuk tahu membalas cinta-Mu. Buatlah hidup kami selalu diwarnai oleh cinta kasih terhadap sesama sebagai tanda cinta kami kepada-Mu. Amin.


Bacaan dari Kitab Hosea (11:1.3-4.8c-9)


"Hati-Ku berbalik dari segala murka."

Beginilah firman Tuhan, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir anak-Ku itu Kupanggil. Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Akulah yang menyembuhkan mereka. Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengambil kekang dari rahang mereka, yang membungkuk di hadapan mereka untuk memberi makan. Hati-Ku berbalik dari segala murka. Belaskasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim lagi. Sebab Aku ini Allah, dan bukan manusia. Aku ini Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 864

Ref. Tuhan, Dikaulah sumber air hidup.
Ayat. (MT Yes 12:2-3.4bcd.5-6)

1. Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar; sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka, kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.
2. Pada waktu itu kami akan berkata, “Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah karya-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur!”
3. Bermazmurlah bagi Tuhan, sebab mulialah karya-Nya; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!”

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (3:8-12.14-19)


“Supaya kamu dapat memahami betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus.”

Saudara-saudara terkasih, aku ini yang paling hina di antara segala orang kudus. Tetapi kepadaku telah dianugerahkan kasih karunia untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang tidak terduga itu. Aku diutus menyatakan apa isi rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, pencipta segala sesuatu. Maksudnya supaya sekarang ini pelbagai ragam hikmat Allah diberitahukan oleh jemaat kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. Itulah sebabnya, aku bersujud di hadapan Bapa, pokok segala keturunan di surga dan di bumi. Aku berdoa supaya seturut kekayaan kemuliaan-Nya, Ia menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu, Kristus diam di dalam hatimu, dan kamu berakar serta beralas dalam kasih. Aku berdoa supaya kamu bersama dengan semua orang kudus dapat memahami betapa lebar dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus; juga supaya kamu dapat mengenal kasih Kristus itu, sekalipun melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957

Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 4:10b, 2/4)
Allah telah mengasihi kita, dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (19:31-37)


"Lambung Yesus terbuka, dan mengalirlah darah serta air keluar."

Hari Yesus wafat adalah hari persiapan Paskah. Supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib, sebab Sabat itu adalah hari yang besar maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang yang disalibkan itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit, lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus. Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus, dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Tetapi salah seorang dari prajurit itu menikam lambung Yesus dengan tombak, dan segera mengalirlah darah serta air keluar. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberi kesaksian ini, dan kesaksiannya benar! Dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” dan nas lain yang mengatakan, “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.”

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

oleh Lumen Indonesia no. 7254


† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.


Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.


Pada Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ini, kita diajak untuk masuk dalam misteri "Lambung Yesus" yang ditikam. Tombak telah menembus, telah menikam lambung Yesus, yang segera mengeluarkan darah dan air. Tombak telah merobek lambung Yesus dan telah menjadi tanda nyata kasih Allah kepada manusia. Darah dan air, "kehidupan" , yang telah diberikan kepada manusia dengan cuma-cuma, tanpa bayar, dikaruniakan melewati pengorbanan yang berat dan panjang sampai pada peristiwa salib dan kematian. Tombak telah membuka misteri kasih Allah, Hati Yesus telah terbuka , kasih telah mengalir, tercurah kepada manusia.


Saudara-saudari terkasih.


Hati Yesus yang terbuka itu mengundang manusia untuk masuk ke dalamnya dan menimba kehidupan dari-Nya. Maka diharapkan agar manusia menaggapinya dengan membuka hatinya pula. Agar kasih Yesus itu dapat masuk dan mengalir ke dalam dirinya dan ke dalam hidupnya. Selain membuka hati-Nya, Yesus juga membuka telah tangan-Nya, merentangkan tangan-Nya; mengundang kita agar datang kepada-Nya. Marilah kita menyambut "rentangan" Yesus ini, jangan kita tegarkan hati kita, apalagi kita tolak undangan Yesus. Oleh karena Yesus sendiri telah bersabda: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Mat 11:28)


Saudara-saudari terkasih.


Kesibukan serta pekerjaan sehari-hari sering membuat kita tertekan, berbeban, tidak tenteram dan hidup tidak nyaman. Namun ada pula orang yang hidup dalam, kelimpahan harta tertapi tidak memiliki "hati" dan belaskasih pada sesama yang hidup menderita, karena: miskin, sakit, cacat juga terlantar. Orang itu hatinya tidak terbuka pada sesamanya, sehingga sesamanya pun tidak bisa masuk ke dalam hatinya. Sehingga ia merasa hidupnya hambar, hampa, tidak memberikan kedamaian, kelegaan ketenteraman serta kebahagiaan. Akhirnya orang melarikan diri ke alhohol, narkoba, kejahatan dan kekerasan. Anak lari meninggalkan rumah, isteri meninggalkan suami, suami mencari hiburan, orang dengan mudahnya membunuh, mencuri, korupsi, dan selalu hidup dalam kegelisahan.


Saudara-saudari terklasih.


Yesus mengundang kita para murid dan pengikut-Nya datang kepada-Nya. Dia akan memberi kelegaan kepada kita. Tetapi dengan syarat: memikul kuk yang dipasang-Nya dan belajar pada-Nya bersikap lemah kembut dan redah hati. Maka jiwa kita akan mendapat ketenangan. (Mat 11:29) Kendati kita sering jatuh dalam kelemahan insani, namun Yesus tetap mengasihi kita dan mengampuni dosa kita. Maka hendaklah kita berdoa: "Hati Yesus Yang Mahakudus, jangan memperhitungkan dosa kami." Doa ini kita doakan setiap kali merayakan Ekaristi, tepatnya sesudah kita berdoa "Bapa kami". Selain itu masih ada pula doa kepada Hati Yesus Yang Mahakudus, yang bagus: "Ya Hati Yesus Yang Maha kudus, kami mohon: jadikanlah hati kami seperti hati-Mu sendiri."


REFLEKSI:


Apakah yang akan kita bawa dan kita serahkan sebagai persembahan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus, yang kita rayakan pada hari ini?


MARILAH KITA BERDOA:


Tuhan Yesus, kepada Hati-Mu Yang Mahakudus, perkenankanlah kami memuji, memuliakan dan juga bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah menyelamatkan kami dari kematian yang kekal, berkat sengsara, kematian dan kebangkitan-Mu dari mati, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam nama-Mu yang Kudus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.


Antifon Komuni

Tuhan bersabda, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Barangsiapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.

Doa Malam


Allah Bapa di surga, Engkau senantiasa memperhatikan hidup kami. Namun, kami sering berbalik mengabaikan Engkau dengan perbuatan kami yang kurang pantas di hadapan-Mu. Belas kasihan-Mu selalu kami harapkan, ya Allah kami, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Kamis, 14 Juni 2012 Hari Biasa Pekan X

Kamis, 14 Juni 2012
Hari Biasa Pekan X

TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. --- Bil 6:26

Antifon Pembuka (Yoh 13:34)

Perintah baru Kuberikan kepada kalian, yaitu agar kalian saling menaruh cinta kasih, sebagai Aku menaruh cinta kasih kepada kalian.

Doa Pagi


Tuhan Yesus Kristus, mendengar sabda-Mu hari ini, sadarlah kami betapa lemah dan rapuhlah hidup kami. Kami masih sering jatuh dalam berbagai kelemahan. Hal-hal sepele dapat membuat kami marah dan mencaci-maki sesama. Utuslah Roh Kudus-Mu atas kami agar kami mampu berdamai dengan diri sendiri dan sesama. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (18:41-46)

"Elia berdoa, dan langit menurunkan hujan."

Sekali peristiwa, di Gunung Karmel, Elia berkata kepada Raja Ahab, "Pergilah, makan dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran." Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum. Tetapi Elia naik ke puncak Gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lutut. Sesudah itu ia berkata kepada hambanya, "Naiklah ke atas, pandanglah ke arah laut." Hamba itu naik ke atas, ia melihat ke arah laut dan berkata, "Tidak ada apa-apa." Kata Elia, "Pergilah sekali lagi." Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah hamba itu: "Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut." Lalu kata Elia, "Pergilah dan katakan kepada Ahab, 'Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan'." Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel. Tetapi, kuasa Tuhan berlaku atas Elia. Ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizreel.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 846
Ref. Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
Ayat. (Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13)

1. Engkau mengindahkan tanah, lalu mengaruniainya kelimpahan; Engkau membuatnya sangat kaya. Sungai-sungai Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka.
2. Ya, beginilah Engkau menyediakannya: Engkau mengairi alur bajaknya, dan membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya; dengan derus hujan Engkau menggemburkannya dan memberkati tumbuh-tumbuhannya.
3. Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; tanah-tanah padang gurun mengalirkan air, bukit-bukit berikat pinggangkan sorak-sorai.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Perintah baru Kuberikan kepada kalian, sabda Tuhan; yaitu supaya kalian saling mengasihi, sebagaimana Aku telah mengasihi kalian.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:20-26)

"Barangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum."

Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum! Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’ harus dihadapkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dia di tengah jalan, supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Kita sering menganggap sikap terhadap sesama sebagai perkara yang sepele, remeh, tidak perlu dikaitkan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, misalnya ketika sedang berdoa dan semacamnya. Atau sebaliknya ada orang yang mengira doa dan persembahan dapat membereskan konflik dengan sesama di mata Tuhan. Tentu saja perkiraan dan pandangan ini tidak benar; maka Tuhan meluruskannya dengan memberikan pengajaran-Nya.

Memang mempersembahkan korban itu sangat mulia dan luhur karena memperlihatkan sembah sujud dan bakti kita kepada Tuhan. Tetapi, semua itu tak ada artinya bila orang juga melakukan kejahatan terhadap sesamanya, seperti kekerasan fisik: membunuh, dan bahkan kekerasan non fisik: menghina, memaki-maki. Walaupun ia rajin membawa korban persembahan, orang seperti ini tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bagi Tuhan hubungan manusia dengan sesamanya itu sangat menentukan dan mewarnai hubungan manusia dengan diri-Nya. Oleh karena itu, korban persembahan dan doa bukan hanya sekadar upacara ritual yang lahiriah atau dilakukan dalam kemunafikan seperti halnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Hati yang bersih menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang hendak mempersembahkan korban dan amal kepada Tuhan dan sesama. Maka Tuhan menuntut agar orang terlebih dahulu membersihkan hatinya dengan cara memperbaiki kembali relasi yang retak dengan sesama, atau berdamai lebih dahulu dengan sesamanya, sebelum menghadap Tuhan
.

Ya Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai bagi sesama, sehingga doa yang aku hunjukkan kepada-Mu menjadi persembahan mewangi di hadirat-Mu. Amin.

Doa Malam

Tuhan, Engkau selalu mengabulkan doa orang beriman. Ketika Nabi Elia berdoa mohon hujan, maka hujan pun diturunkan ke bumi. Tambahlah selalu iman kami kepada-Mu sehingga kami berani menyerahkan seluruh hidup kami hanya kepada-Mu, ya Tuhan Allah yang hidup. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian

Rabu, 13 Juni 2012 Peringatan Wajib St Antonius dari Padua

Rabu, 13 Juni 2012
Peringatan Wajib St Antonius dari Padua

Kita ini berlimpah dengan kata-kata tetapi kosong dalam perbuatan --- St Antonius dari Padua

Antifon Pembuka (Luk 4:18)

Roh Tuhan menyertai Aku. Aku diurapi-Nya dan diutus mewartakan kabar gembira kepada kaum fakir miskin dan menghibur yang remuk redam.

Doa

Tuhan Yesus Kristus, kami berterima bersyukur dan kasih atas hukum-hukum-Mu. Sebab sesungguhnya, hukum-hukum yang Engkau berikan kepada manusia, dapat menolong dan menuntun kami kepada kebaikan dan keselamatan. Kami mohon ampun karena kami sering melanggar hukum-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan bertakhta bersama Bapa dalam persatuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin..

Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (18:20-39)

"Semoga bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka bertobat."

Sekali peristiwa Raja Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel. Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!" Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api." Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga." Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian. Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu. Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. --Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel ." -- Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air. Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2a.4.5.8.11)
1. Jagalah aku ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku.”
2. Bertambahlah kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan kurban curahan mereka, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka dengan bibirku.
3. Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
4. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.


Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:17-19)

"Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi."

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekali pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat-tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Yang dikerjakan oleh Elia itu serba nyata, lugas, jelas, anggun, yaitu upacara dan doa yang ditujukannya kepada Tuhan satu-satunya penguasa segala yang ada di dunia. Doanya bukan mau menguasai dan memaksa Allah, tetapi suatu permohonan yang disampaikan dengan rendah hati berdasarkan janji setia Allah sejak semula. Doa itu dilakukannya juga untuk mengalahkan nabi-nabi Baal, dan semua orang yang melihatnya menjadi percaya kepada Allah.

Dari teladan Nabi Elia dalam bacaan pertama hari ini, kita belajar hal lain, yakni hal berdoa. Ketika Nabi Elia berdoa, ia tidak bermaksud memaksa Tuhan memenuhi keinginannya, tetapi ia hanya mau agar Allah dikenal dan disembah semua orang. Maka, ketika kita berdoa hendaknya juga mempunyai sikap hati seperti Elia, yang hanya berikhtiar agar Allah semakin dimuliakan dalam dan melalui diri kita; membiarkan Allah menyatakan kehendak-Nya bagi kita, bukan memberi perintah kepada Allah supaya melakukan sesuatu seturut kemauan kita. Perintah Allah dan kehendak-Nya sejak awal mula hendaknya selalu menjadi yang utama dan tak boleh diabaikan dengan alasan apa pun. Doa yang kita hunjukkan justru membuat kita semakin mengenal-Nya, semakin mempersatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya sendiri, dan semakin berserah kepada kuasa kasih Allah yang menyelamatkan.

Tuhan, Engkau telah mengajari aku bagaimana seharusnya aku berdoa. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian

Selasa, 12 Juni 2012 Hari Biasa Pekan X

Selasa, 12 Juni 2012
Hari Biasa Pekan X

“Kalau racun kesombongan merajalela dalam dirimu, berpalinglah kepada Ekaristi” (St. Sirilus dari Aleksandria)


Antifon Pembuka (Mat 5:13)


Kalian ini garam dunia. Jika garam menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan lagi? Tiada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang.


Doa Pagi

Allah yang Mahabaik, Engkau senantiasa menyertai dan memelihara siapa saja yang dengan tekun bekerja bagi kemuliaan kerajaan-Mu. Jadikanlah kami terang cahaya-Mu bagi sesama. Semoga kehadiran kami mampu memancarkan kasih-Mu yang sejati dan dengan demikian semua orang memuliakan Bapa di surga. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Rasa takut dan ragu seringkali menyertai pergulatan iman. Seorang janda di Sarfat sungguh mengalaminya ketika ia diminta menyerahkan sisa makanannya kepada Elia. Namun tantangan yang berat itu berubah menjadi berkat ketika ia memenuhi permintaan Elia.


Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (17:7-16)

"Tempat tepungnya tak pernah kosong sesuai dengan sabda Tuhan yang diucapkan Nabi Elia."

Pada waktu itu Sungai Kerit menjadi kering, sebab hujan tiada turun-turun di negeri itu. Maka datanglah sabda Tuhan kepada Elia, “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Maka Elia pun bersiap-siap, lalu pergi ke Sarfat. Ketika ia tiba di dekat gerbang kota, tampaklah seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Elia berseru kepada perempuan itu, “Cobalah, ambilkan daku sedikit air dalam kendi untuk kuminum.” Ketika wanita itu pergi mengambil air, Elia berseru lagi, “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Wanita itu menjawab, “Demi Tuhan Allahmu yang hidup, sesungguhnya tiada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, sebentar lagi aku pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” Tetapi Elia berkata kepadanya, “Janganlah takut, pulanglah, dan buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dulu bagiku sepotong roti bundar kencil dari padanya, dan bawalah kepadaku; kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah sabda Tuhan Allah Israel, “Tepung dalam tempayan itu takkan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun takkan berkurang sampai tiba waktunya Tuhan menurunkan hujan ke atas muka bumi.” Maka pergilah wanita itu, berbuat seperti yang dikatakan oleh Elia. Maka Elia, wanita itu dan anaknya mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang sesuai dengan sabda Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 4:2-3.4-5.7-8)

1. Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah yang membenarkan daku. Engkau memberi kelegaan kepadaku di saat kesesakan; kasihanilah aku, dan dengarkanlah doaku! Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?
2. Ketahuilah, Tuhan telah memilih bagi-Nya seorang yang Ia kasihi; apabila aku berseru kepada-Nya, Ia mendengarkan. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hati di tempat tidurmu, tetapi tetaplah tenang.
3. Banyak orang berkata, “Siapa akan memperlihatkan yang baik kepada kita? Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan! Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak daripada yang mereka berikan di saat mereka kelimpahan gandum dan anggur.”

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapa-Mu di surga.

Mendoakan dan melayani sesama merupakan panggilan setiap pengikut Kristus yang menuntut pengorbanan. Dalam kenyataannya, hanya ketulusan berkorban yang berdasar cinta kasih menjadi berkat yang meneguhkan sesama.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:13-16)

"Kamu adalah garam dunia”

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda: “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang. Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Fungsi garam bukan hanya untuk menyedapkan rasa pada makanan, tetapi juga untuk mengawetkan daging atau ikan. Lampu berfungsi untuk memberi terang dalam kegelapan. Panggilan kemuridan, dengan kesaksian hidupnya yang bermutu, mengawetkan dunia dari kehancuran karena dosa. Dan lagi, pola hidup mereka yang baik, menyinari orang-orang yang hidup dalam kegelapan.

Doa Malam


Yesus, sabda-Mu mengajarkan agar kami para pengikut-Mu mampu menjadi garam yang mengasinkan dunia sehingga tidak dibuang dan dicampakkan orang. Terimakasih ya Yesus, atas rahmat panggilan-Mu ini. Kuatkan dan bimbinglah kami dalam melaksanakannya di hari yang baru besok. Amin.

RUAH

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy