Kobus: Hari Raya Kenaikan Tuhan






silahkan klik gambar untuk memperbesar

Kamis, 09 Mei 2013 Hari Raya Kenaikan Tuhan

Kamis, 09 Mei 2013
Hari Raya Kenaikan Tuhan

“Ia tidak meninggalkan surga, ketika Ia turun dari surga kepada kita; dan Ia tidak meninggalkan kita, ketika Ia naik lagi ke surga” (St. Agustinus)

Antifon Pembuka (Kis 1:11)

Hai orang-orang Galilea, mengapa takjub memandang ke langit? Yesus telah diangkat ke surga dari tengah-tengahmu. Tetapi Ia akan datang kembali sebagaimana kamu melihat Dia pergi ke surga.

Doa Pagi

Allah Bapa yang Mahakuasa, kami bergembira dan bersyukur kepada-Mu, karena dengan kenaikan Putera-Mu ke surga Engkau meninggikan martabat kami. Sebagai kepala kami Ia telah mendahului mencapai kemuliaan. Maka dibangkitkan-Nyalah pada kami, anggota-anggota Tubuh-Nya, harapan yang mantap. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kisah Para Rasul (1:1-11)
 
"Mereka melihat Dia terangkat ke surga."
 
Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu, berkat kuasa Roh Kudus, Ia telah memberi perintah kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Setelah penderitaan-Nya selesai, Ia menampakkan diri kepada mereka, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari, ketika makan bersama-sama dengan mereka, Yesus melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa yang “telah kamu dengar dari pada-Ku”. Sebab, beginilah kata-Nya, “Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ, “Tuhan, pada masa inikah Engkau mau memulihkan Kerajaan bagi Israel?” jawab-Nya, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi, kamu akan menerima kuasa, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.” Sesudah mengatakan demikian, terangkatlah Yesus disaksikan oleh murid-murid-Nya, sampai awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Yesus naik, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri menatap ke langit? Yesus yang terangkat ke surga meninggalkan kamu ini akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu lihat Dia naik ke surga.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 825
Ref. Allah telah naik, diiringi sorak-sorai. Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.
Ayat. (Mzm 47:2-3.6-7.8-9; Ul:6)
1. Hai segala bangsa, bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak sorai! Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja Agung atas seluruh bumi.
2. Allah telah naik diiringi sorak-sorai. Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah! Kidungkanlah mazmur bagi Raja kita, kidungkan mazmur!
3. Sebab Allah adalah Raja atas seluruh bumi, bermazmurlah dengan lagu yang paling indah! Allah merajai segala bangsa, di atas takhta-Nya yang kudus Ia bersemayam.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (1:17-23)
 
"Allah mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya dalam surga."
 
Saudara-saudara, kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang Mahamulia, aku memohon supaya Ia memberi kamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar, supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya; yaitu betapa kaya kemuliaan yang dijanjikan-Nya untuk diwarisi oleh orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya. Kekuatan itu sesuai dengan daya kuasa Allah, yang bekerja dalam Kristus, yakni kuasa yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan Allah dalam surga. Di situ Kristus jauh lebih tinggi dari segala pemerintahan dan penguasa, kekuasaan dan kerajaan serta tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan Allah kepada jemaat sebagai kepala dari segala yang ada. Jemaat itulah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Diri-Nya, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil
do = g, gregorian, PS 959
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
atau do = g, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mat 28:19.20)
Pergilah dan ajarlah semua bangsa, firman Tuhan; Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (24:46-53)
 
"Kristus masuk ke dalam surga sendiri."
 
Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada para murid. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari atas.” Lalu Yesus membawa murid-murid itu ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Para murid menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam bait Allah dan memuliakan Allah.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Apa yang paling Anda cintai di dunia ini? Gunung, sepak bola, bunga atau hal lain yang lebih penting dari itu? Bila jawaban Anda adalah jiwa Anda sendiri, maka Anda menemukan surga dalam misteri Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Bacaan Injil pada hari raya kenaikan Tuhan mengingatkan kita pada apa yang seharusnya menjadi pusat kecintaan dan perhatian kita yaitu keselamatan jiwa kita. Sungguh beruntung para murid diberi karunia untuk menyaksikan peristiwa agung kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Suatu peristiwa yang belum pernah mereka pikirkan, peristiwa yang setiap manusia bisa mengalaminya. Tentu Yesus mempunyai maksud tertentu dengan mengajak para murid menyaksikan kenaikan-Nya ke surga secara langsung. Penyaksian secara langsung peristiwa agung kenaikan Tuhan Yesus oleh para murid memberi kepastian kepada mereka bahwa Yesus telah mencapai keselamatan tanpa ada keraguan. Kenaikan Tuhan ke surga di hadapan mereka juga memberi kepastian bahwa surga itu ada dan mereka dijanjikan diikutsertakan dalam kemuliaan surga. Kepastian itu menjadi dasar kuat bagi para murid untuk menerima perutusan Yesus sebagai saksi dan pewarta bahwa dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kepastian iman para murid bahwa Tuhan telah naik ke surga juga menjadi dasar bagi kita untuk menjadi saksi bahwa dalam nama Yesus berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa. Bagaimana sebagai murid-murid Tuhan kita bisa menjadi pewarta tentang pertobatan dan pengampunan dosa dalam dunia sekarang ini? Zaman ini orang mempunyai surga dunia sendiri, bukan surga yang di atas. Ini tantangan yang sangat besar, maka dibutuhkan juga kekuatan yang besar. Dari mana kita memperolehnya kalau tidak dari kuasa Tuhan sendiri? Tantangan serupa juga dialami para murid pertama Yesus. Oleh karena itu, Tuhan tidak meminta para murid langsung pergi menjadi pewarta, tetapi meminta mereka berkumpul dan berdoa sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi sehingga mereka mampu menjalankan tugas sebagai pewarta.

Jalan hidup para murid yang berkumpul dan berdoa sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, sehingga mampu menjadi saksi bagi Tuhan dan menjadi jalan pewartaan kita juga. Kita, para murid Tuhan dan saksi iman akan kebangkitan dan kenaikan Tuhan ke surga, membutuhkan kondisi yang membuat kita bisa bersekutu dan berdoa. Tanpa persekutuan dan doa, kita tidak akan mampu menjadi pewarta Tuhan. Para murid Tuhan adalah orang-orang sederhana yang gembira karena hidup mereka diselamatkan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang hidup penuh kekuatan dan harapan di tengah tantangan dunia. Hidup mereka adalah hidup yang penuh pertobatan. Oleh karena itu, hidup mereka menjadi perhatian dan menarik banyak orang untuk mengikuti-Nya.

Injil hari ini mengingatkan kita agar kita melihat kembali hidup persekutuan dan doa kita, karena itu menjadi pusat kekuatan pewartaan kita yang akan menyelamatkan banyak jiwa; jiwa yang seharusnya dicintai manusia pemiliknya.
 
RUAH / Michael Moelja Hartomo, O.Carm

Hari Raya Kenaikan Tuhan/C - 9 Mei 2013


Hari Raya Kenaikan Tuhan – 9 Mei 2013
Kis 1:1-11; Ibr 9:24-28, 10:19-23; Luk 24:46-53

Hari ini, kita merayakan Kenaikan Tuhan. Empat puluh hari yang lalu, kita merayakan Paskah, yakni rangkaian sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus demi keselamatan kita. Sebab, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45). Dan “sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Jadi, Kristus menderita sengsara dan wafat untuk kita; Ia pun bangkit juga untuk kita; karena Ia memang memberikan diri-Nya secara total untuk kita.

Sekarang, kita merayakan kenaikan-Nya ke surga. Untuk siapa? Lagi-lagi untuk kita. “Kristus telah masuk ke dalam tempat kudus bukan yang buatan tangan manusia (artinya Bait Allah), yang hanya merupakan gambaran dari tempat kudus yang sejati, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. (Ibr 9:24) ... kita sekarang dapat masuk ke dalam tempat kudus dengan penuh keberanian karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita” (Ibr 10:19-20). Dengan demikian, jelas sekali bahwa Kristus naik ke surga, bukan untuk kepentingan-Nya sendiri tetapi justru untuk kita, yakni merintis dan membuka jalan menuju ke surga, tempat kudus dan Rumah Allah, yang juga disediakan bagi kita.

Peristiwa kenaikan Tuhan dalam kemuliaan-Nya yang kita rayakan hari ini merupakan satu-kesatuan dengan peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya yang kita rayakan pada Pekan Suci, 40 hari yang lalu. Seluruh bacaan pertama menggambarkan bagaimana Yesus mendapatkan kemuliaan surgawi itu setelah menderita sengsara terlebih dahulu. “Setelah penderitaan-Nya selesai, Ia menampakkan diri kepada mereka (= para rasul), dan dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup. Sebab, selama empat puluh hari, Ia menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari ...terangkatlah Yesus disaksikan murid-murid-Nya” (Kis 1:3.9). Hal ini juga ditegaskan dalam Injil. “Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada para murid ... Yesus membawa murid-murid itu ke luar kota sempai dekat Betania. Di situ, Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan, ketika sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (Luk 24:50-51).

Kiranya, pengalaman Yesus, yang sebelum mengalami kemuliaan abadi harus menderita terlebih dahulu ini, semakin menguatkan kita manakala kita juga harus mengalami penderitaan – entah apa pun bentuknya, dalam kehidupan kita di dunia ini. Pada saat menderita, kita jangan hanya berhenti untuk menatap dan merapati penderitaan itu, tetapi kita harus berani menatap Yesus yang tersalib, yang telah menderita untuk kita. Di atas salib, Ia merentangkan tangan-Nya, siap menyambut kita yang datang kepada-Nya sambil bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Dengan demikian, kita pun akan dimampukan untuk memikul beban-beban penderitaan kita sekaligus dikuatkan dalam pengharapan akan kemuliaan yang akan datang setelah penderitaan itu terlewati.

Kemuliaan Tuhan dan kenaikan-Nya ke surga memberikan harapan bagi kita bahwa kemuliaan surgawi itu juga disediakan bagi kita dan jalan ke sana telah dibuka oleh Kristus. Untuk itu, kita selalu diharapkan mengarahkan (pandangan) hidup kita ke surga. Mengarahkan pandangan hidup ke surga bukan sekedar menatap langit atau mlongo (apa ya bahasa Indonesianya?) seperti para murid yang kemudian ditegur oleh 2 malaikat (Kis 1:10-11). Mengarahkan hidup ke surga berarti kita tidak hanya berfokus, memikirkan dan mencari hal-hal duniawi saja tetapi lebih-lebih malah hal-hal surgawi. “Sebab, Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman (saja), tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17). Dalam bimbingan Roh Kudus, kita diajak untuk selalu mencintai dan memperjuangkan kebenaran dan damai sejahtera.

 Ag. Agus Widodo, Pr