Buah-buah Komuni

BUAH-BUAH KOMUNI
oleh Dionysius Kosasih, O.Carm

Sudah sejak awal terdapat uraian tentang manfaat menerima Tubuh dan Darah Kristus sehingga orang Kristiani didorong untuk sering menerima komuni kudus, bahkan setiap hari.

St. Sirilus dari Yerusalem (wafat 387) mengatakan bahwa menerima komuni dalam Ekaristi membuat orang Kristen menjadi pembawa Kristus ("Christbearer") dan menjadi satu tubuh dan sedarah dengan-Nya. Kemudian Gereja secara resmi menekankan pentingnya menyambut komuni, dan bahkan hal itu dipandang sebagai bentuk "partisipasi Umat yang lebih sempurna dalam Misa" (SC, 55).

Buah utama penerimaan komuni adalah persatuan yang erat dengan Yesus Kristus (KGK, 1391). Sebab dalam Perayaan Ekaristi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus melalui kuasa Roh Kudus dan dengan perantaraan imam (bdk. Yoh 6:51-55). Itulah yang dimaksud Gereja tentang "kehadiran real" Kristus dalam Ekaristi. Memang Kristus yang bangkit hadir bagi Gereja dalam banyak cara, tetapi secara istimewa melalui Sakramen Ekaristi. Oleh karena itu, dengan menyambut komuni kudus seorang Katolik melaksanakan tindakan yang paling menyenangkan bagi Tuhan, yang amat rindu untuk tinggal dalam hati manusia.

Ekaristi tidak hanya mempersatukan kita dengan Kristus sebagai Kepala Gereja tetapi juga mempersatukan kita satu sama lain sebagai satu anggota tubuh mistik Kristus (KGK, 1396). Sebab penerimaan komuni bukanlah soal yang bersifat individualistis, melainkan sesuatu yang menyangkut "tubuh". Dalam perayaan Ekaristi kita berkumpul sebagai "tubuh"; kita datang ke meja perjamuan Tuhan sebagai satu keluarga. Kebenaran ini diungkapkan dalam simbol alkitabiah satu roti dan satu piala. Paulus menulis, "Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu ini" (1Kor 10:17). Paulus dan jemaatnya mengikuti teladan Yesus dan murid-murid-Nya pada Perjamuan Terakhir (Lih. Mrk 14:22-23). Tanpa simbol satu roti dan satu piala kita mudah melupakan hakikat persekutuan perayaan penting ini.

Ekaristi sebagai pemersatu tubuh mistik Kristus dapat dilihat juga dari defenisi Sakramen Ekaristi sebagai kurban Gereja, di mana Katekismus Gereja Katolik mengatakan, "Ekaristi adalah juga kurban Gereja. Gereja, Tubuh Kristus, mengambil bagian dalam kurban Kepalanya" (KGK, 1368). Maka, Ekaristi juga mempersatukan masing-masing umat dalam Gereja. Persatuan masing-masing anggota tubuh Gereja, yang diumpamakan sebagai tubuh yang mempunyai banyak anggota (bdk. 1Kor 12:12), hanya mungkin terjadi karena seluruh anggota diikat oleh Sang Kepala, yaitu Kristus.

Yesus memberikan diri-Nya kepada kita dalam Ekaristi sebagai makanan rohani karena Dia mencintai kita. Seluruh rencana penyelamatan kita diarahkan untuk ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal, yaitu: Persekutuan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Pengalaman hidup dalam Tritunggal dimulai dengan Pembaptisan, ketika kita atas kuasa Roh Kudus dipersatukan dengan Kristus, dan menjadi putra dan putri Bapa. Keputraan kita diteguhkan dan dikembangkan dalam Sakramen Krisma, kemudian bertumbuh dan makin mendalam melalui partisipasi kita dalam Ekaristi. Karena itu, Kristus yang kita sambut dalam Ekaristi melindungi, membarui dan mengembangkan pertumbuhan kehidupan rahmat yang kita terima dalam Pembaptisan.

Persatuan yang erat dengan Yesus Kristus karena sering menerima komuni menjauhkan kita dari dosa (KGK, 1393). Semakin kita ambil bagian dalam hidup Kristus dan semakin kita bergerak maju dalam persahabatan dengan-Nya, semakin kurang pula bahaya bahwa kita memisahkan diri dari-Nya karena dosa. Maka, komuni berakibat pada keselamatan dan pengampunan dosa-dosa kita.

Dalam konsekrasi dinyatakan dengan jelas segi pengampunan dosa yang ditimbulkan oleh Ekaristi, ".... yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa." Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa menyambut komuni merupakan penyucian dan pembersihan hati orang yang menyesal atas dosa-dosa, bagaikan gambaran kitab Wahyu tentang mereka yang ditebus dan diselamatkan, "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba" (Why 7:14).

Dengan kata lain, dengan menerima komuni suci penyakit rohani kita disembuhkan karena pengampunan yang kita terima dalam Ekaristi. Maka, setiap penerimaan komuni kudus mengakibatkan bertambahnya rahmat pengudusan dalam jiwa yang memampukan kita mentaati perintah-perintah-Nya sehingga kehidupan kita menyenangkan bagi Tuhan. (Sumber: Katekismus Gereja Katolik, 1391-1401)


Siapa yang hendak menerima Kristus dalam komuni Ekaristi, harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan. -- Katekismus Gereja Katolik, 1415

Kobus: Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus






silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 02 Juni 2013 Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Minggu, 02 Juni 2013
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Jika saja kita memahami nilai Kurban Kudus Misa, atau jika saja kita mempunyai iman, pastilah kita ikut ambil bagian di dalamnya dengan jauh lebih antusias --- St. Yohanes Maria Vianey

Antifon Pembuka (Mzm 80:17)

Umat-Mu Kau beri makan sari gandum dan Kaupuaskan dengan madu kuat.

Cibavit eos ex adipe frumenti, alleluia: et de petra, melle saturavit eos, alleluia, alleluia, alleluia.

Doa Pagi


Allah Bapa Maha Pengasih dan Penyayang, bagi mereka yang Kausayangi tiada yang lebih membahagiakan selain kehadiran-Mu. Putra-Mu telah menganugerahi kami Tubuh dan Darah-Nya sebagai tanda agung Perjanjian Baru. Semoga peringatan mulia akan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya tetap terlukis hidup dalam angan-angan kami pada waktu kami mengelilingi meja altar-Mu serta ikut serta dalam perjamuan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (14:18-20)

   
"Melkisedek membawa roti dan anggur."
  
Melkisedek, Raja Salem, adalah seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Ketika Abram kembali dari kemenangannya atas beberapa raja, Melkisedek membawa anggur dan roti, lalu memberkati Abram, katanya, “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuh-musuhmu ke dalam tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari semua jarahannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = e, 2/4; 3/4, PS 856
Ref. Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini akan peringatan kepada-Ku.
Ayat. (Mzm 110:1.2.3.4; Ul: lh. 1Kor 10: lh.16)

1. Beginilah firman Tuhan kepada tuanku, "Duduklah di sebelah kanak-Ku, sampai musuh-musuhmu Kubuat menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!
2. Engkau meraja di atas gunung yang suci, sejak hari kelahiranmu, sejak dalam kandungan, sejak fajar masa mudamu, Tuhan telah bersumpah dan tidak akan menyesal, "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek."

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (11:23-26)

    
"Setiap kali makan dan minum, kamu mewartakan wafat Tuhan."
      
Saudara-saudara terkasih, apa yang telah kuteruskan kepadamu ini telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia membagi-bagi roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dalam darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Madah Ekaristi, sol = es, m.7, PS 556 (fakultatif)
Syair: Lauda Sion, ayat 1-4.5-8 Thomas dari Aquino 1263/64, terj. Komlit KWI 1992
Lagu: Prancis abad ke-12, Graduale Romanum 1974

1. Sion, puji Penyelamat, Sang Pemimpin dan Gembala dalam kidung pujian.
2. Pujilah sekuat hati, kar'na Dia melampaui puji yang kaulambungkan.
3. Hari ini yang tersaji: Roti Hidup yang dipuji, sumber hidup yang kekal.
4. Itulah yang dihidangkan bagi para rasul Tuhan: Tak perlu diragukan.
5. Lihat Roti malaikat, jadi boga peziarah: sungguh itu roti putra, anjing jangan diberi.
6. Inilah yang dilambangkan waktu Ishak dikurbankan: Domba Paskah disajikan, dan manna dihujankan.
7. Yesus, Roti yang sejati, Kau Gembala murah hati, s'lalu lindungilah kami, dan tunjukkan pada kami bahagia yang kekal.
8. Dikau Allah mahakuasa, bimbing kami, insan fana, undang kami dalam pesta, dan jadikan kami warga umat kudus bahagia. Amin. Alleluya.

Bait Pengantar Injil, do = f, kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat (Yoh 6:51)
1. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.
2. Dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:11b-17)

  
"Mereka semua makan sampai kenyang."
  
Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Kerajaan Allah, dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam, datanglah kedua belas murid kepada Yesus dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan serta makanan, karena di sini kita berada di tempat yang sunyi.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih dari lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira limapuluh orang setiap kelompok.” Murid-murid melakukannya, dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu, lalu menengadah ke langit dan mengucap berkat, kemudian membagi-bagi roti dan memberikannya kepada para murid supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkanlah potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak duabelas bakul.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus. 
 Renungan 
  

Kolekte: Persembahan yang Bebas, Ikhlas, Pantas
 
Kolekte dalam liturgi mengingatkan kita akan kebiasaan orang Israel untuk mempersembahkan kepada Tuhan hasil panenan pertama (Ul 26: 2-4) dan persembahan persepuluhan setiap tiga tahun yang tidak dibawa ke tempat kudus, tetapi digunakan di masing-masing tempat untuk membantu orang-orang miskin, yaitu orang Lewi (yang tugasnya membantu para imam dalam memelihara Bait Allah), orang asing, anak yatim, janda (Ul 26: 12).

Kebiasaan mempersembahkan persepuluhan ini diteruskan juga oleh para pengikut Kristus. Banyak Gereja-gereja Protestan mempraktekkan cara persembahan ini. Besarnya persembahan itu bisa tepat sebagai persepuluhan, tetapi ada juga pemberian yang kurang atau bahkan lebih dari persepuluhan. Gereja Katolik sendiri tidak mewajibkan persepuluhan kepada umatnya, tetapi lebih mementingkan persembahan bebas (sukarela), yang diberikan dengan hati yang iklhas.

Dalam Injil, Yesus memuji keikhlasan hati seorang janda miskin yang memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan. Menurut Yesus, si janda miskin itu memberi lebih banyak karena ia memberi dari kekurangannya, bukan dari kelebihannya. Paulus pun menghimpun persembahan sukarela di antara jemaat yang didirikannya (2 Kor 8-9) untuk keperluan umat Allah yang miskin di Yerusalem (Rom 15:26).

Persembahan bebas (sukarela) yang tulus-iklhas itu dapat dilakukan di luar perayaan liturgis ataupun sebagai bagian utuh dari perayaan liturgis. Pemberian persembahan dari hasil karya atau pendapatan kita pada saat perayaan liturgis itulah yang biasa kita sebut dengan nama kolekte.

Banyak orang yang bingung tentang apakah Yesus membatalkan atau menggenapi Hukum Taurat. Mat 5:17 menuliskan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Mat 5:17 menuliskan bahwa Yesus tidak membatalkan Hukum Taurat namun Ef 2:15 menyatakan bahwa Yesus membatalkan Hukum Taurat, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Untuk mengerti tentang hal ini, maka kita melihat terlebih dahulu 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama. St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:
  1. Moral Law atau hukum moral: Hukum moral adalah bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan digenapi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
    Dalam pengertian inilah maka memang Tuhan Yesus tidak mengubah satu titikpun, sebab segala yang tertulis dalam hukum moral ini (sepuluh perintah Allah) masih berlaku sampai sekarang. Dengan prinsip ini kita melihat bahwa menguduskan hari Sabat dan memberikan persembahan perpuluhan, sesungguhnya adalah bagian dari hukum moral/ kodrat, di mana umat mempersembahkan waktu khusus (Sabat) dan hasil jerih payah (perpuluhan) kepada Allah.
  2. Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekpresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan termasuk sunat (Kel 17:10, Im 12:3), perpuluhan (Mal 3:6-12), tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Hukum ini tidak lagi berlaku lagi dengan kedatangan Kristus, karena Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kristus menjadi Anak Domba yang dikurbankan. Maka persembahan yang paling berkenan kepada Allah adalah kurban kita yang dipersatukan dengan korban Kristus dalam Ekaristi kudus.
    Itulah sebabnya di Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) juga tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar.  Kalau kita mau terus menjalankan hukum seremonial secara konsisten, maka kita harus juga menjalankan peraturan tentang makanan yang lain, seperti larangan untuk makan babi hutan, jenis binatang di air yang tidak bersisik (ikan lele), katak, dll. (Lih Im 11).
  3. Judicial law atau hukum yudisial: Ini adalah merupakan suatu peraturan yang menetapkan hukuman/ sanksi sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Contoh dari hukum yudisial: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1); hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3); mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21); sangsi jika hukum perpuluhan dilanggar (lih. Bil 18:26,32). Setelah kedatangan Kristus, maka judicial law ini tidak berlaku lagi. Kalau kita mau konsisten, kita juga harus menjalankan hukuman rajam, hukum cambuk, dll. Di masa sekarang, hukum yudisial ditetapkan oleh penguasa/ pemerintah negara yang bersangkutan sebagai perwakilan dari Tuhan, sehingga hukum dapat ditegakkan untuk kepentingan bersama. Menarik bahwa Yesus tidak mengajarkan hukum yudisial, karena hal itu telah diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Dan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, di mana disiplin ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan. Ini juga yang mendasari perubahan Kitab Hukum Gereja 1917 ke 1983.
Dengan adanya penjelasan dari St. Thomas ini, maka, kita mengetahui bahwa memang Kristus merupakan penggenapan Hukum Taurat Musa. Dan dengan peranNya sebagai penggenapan, maka Kristus tidak mengubah hukum moral, namun hukum seremonial dan yudisial yang dulu tidak berlaku lagi, karena hukum- hukum tersebut hanya merupakan ‘persiapan’ yang disyaratkan Allah agar umat-Nya dapat menerima dan menghargai kesempurnaan yang diberikan oleh Kristus. Maka dalam PB, sunat, tidak lagi sunat jasmani, tetapi sunat rohani (Rom 2:29). Penekanan kerohanian ini juga nampak dalam pengaturan persembahan; sebab persembahan perpuluhan PL disempurnakan oleh perintah untuk memberi persembahan kepada Allah dengan suka cita sesuai dengan kerelaan hati (lih. 2 Kor 9:7). Dengan demikian, maka Allah tidak lagi memberikan patokan tertentu; dan pada orang-orang tertentu, “kerelaan hati dan sukacita” ini malah melebihi dari sepuluh persen. Kita ketahui dari kisah hidup para kudus, dan juga pada para imam dan biarawan dan biarawati, yang sungguh mempersembahkan segala yang mereka miliki untuk Tuhan. Dengan demikian mereka mengikuti teladan hidup Kristus yang memberikan Diri-Nya secara total kepada Allah Bapa dan manusia. Di sinilah arti bagaimana penggenapan Hukum Taurat memberikan kepada kita hukum kasih yang baru. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, sebab dengan mengenal hukum Taurat, kita akan dapat lebih memahami Hukum Kasih yang diberikan oleh Kristus.
  
 Ekaristi Sumber Berbagi
 
"Sebuah perkara pertengkaran dua orang pemuda berujung pada tawuran antar-kampung! Gara-gara tertangkap basah dan main hakim sendiri kampung pun bisa musnah dibakar oleh penduduk kampung yang tak rela warganya dihakimi sendiri." Lingkungan sosial begitu tegang dan kering sehingga mudah terbakar laksana bensin yang hanya menunggu percikan api langsung menyala. Sebab itu, masyarakat cenderung mengurung diri, diam dan apatis terhadap lingkungan sosialnya. Bahkan, sikap diam ini bisa kita lihat saat ada yang menyaksikan perampokan hanya diam seribu bahasa, saat terjadi pencontekan waktu ujian sekolah seolah tidak tahu, terjadi korupsi seolah hal yang sudah wajar.

Sikap "diam" ini juga dialami Yesus saat para murid serta ribuan orang "terjebak" di tempat terpencil setelah mereka mengikuti Yesus. Tatkala Yesus meminta agar para murid "bertanggungjawab" memberi makan semua orang itu, mereka berkata, "Kami hanya punya lima roti dan dua ikan." Kiranya situasi sulit ini hanyalah sebuah momen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya dan memberikan pencerahan guna memecah sikap "diam" ribuan orang satu sama lainnya. Dengan cara apa? Memecah dan membagi lima roti dan dua ikan itu, kemudian menengadah ke langit dan mengucap syukur kepada Allah. Setelah itu Ia membelah-belah roti dan ikan itu dengan tangan-Nya lalu memberikannya kepada para murid-Nya untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak itu. Dan ternyata, setelah semua menerima bagian-bagian itu dan setiap orang saling memberikan satu sama lain, akhirnya masih terdapat sisa 12 bakul!

Tindakan iman Yesus membagi-bagikan roti tersebut memecah "diamnya" ribuan orang yang mengikuti Dia. Tindakan iman niscaya dimiliki setiap orang beriman dan hanya menanti saat untuk dicetuskan. Seperti pengalaman sekelompok tamu saat kami mengadakan perjalanan namun lalu lintas tidak lancar, kendaraan berjalanan beriringan dan tersendat. Ternyata ada pohon yang tumbang!

Pohon memang tidak melintang di jalan namun dahan-dahan pohon yang jatuh tadi sangat mengganggu kendaraan yang melintas tepat di depannya. Namun, tampaknya semua pengendara lain "diam" tak seorang pun sudi untuk turun barang sejenak "membereskan" dahan yang mengganggu. Kelompok tadi akhirnya memberanikan diri untuk turun dari mobil dan mencoba "membereskan" dahan yang mengganggu lalu lintas, dengan konsekuensi pasti pengemudi kendaraan yang di belakang akan terganggu. Dengan semangat "45" mereka berjibaku dengan tangan kosong mencoba menghalau dan mematahkan dahan pohon yang jatuh itu. Namun, apa daya karena kerja sosial ini sifatnya spontan tanpa peralatan kapak atau benda tajam yang bisa dipakai untuk memotong dahan tampaknya sia-sia. Akan tetapi, sejurus ketika mereka hendak kembali ke mobil, rupanya ada penduduk sekitar yang melihat perjuangan kelompok tamu tadi yang seolah sia-sia namun membuatnya tergerak untuk beranjak dari duduknya yang hangat dan menghampiri mereka seraya berkata, "Abang lanjut saja perjalanannya, biar saya nanti yang memotong dahan pohon ini. Rumah saya dekat kok dari sini." Mendengar ungkapan demikian akhirnya perasaan tidak jadi mendongkol karena perjuangan tidak sia-sia.

Mukjizat adalah tanda kehadiran Allah yang berdayaguna untuk mengubah hati manusia yang tidak percaya menjadi percaya. Perubahan hati adalah kunci dari dampak mukjizat. Terkadang mukjizat itu tidak harus dibuat dalam momen yang besar dan dahsyat tapi bisa melalui peristiwa sehari-hari yang kecil namun berdampak nyata bagi banyak orang. Kita percaya pada Kristus sumber pengharapan, maka ungkapkan iman Anda meski lewat hal-hal yang paling sederhana sekalipun. Mukjizat itu nyata. (RUAH)

  
Ekaristi Sumber Surgawi
    
Kristus mengundang kita untuk menjadi sahabat-Nya dengan makan bersama-Nya. Kapankah Kristus menetapkan perjamuan yang istimewa itu? Injil mengajarkan kepada kita, bahwa sebelum sengsara-Nya, Kristus mengadakan perjamuan terakhir bersama dengan para rasul-Nya. Pada saat itulah Kristus mengambil roti, mengucap syukur dan memecahkan roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuh-Ku …. ” dan juga Ia mengambil piala, dan berkata, “Inilah Darah-Ku …” Maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kristus sungguh bermaksud demikian, yaitu untuk menjadikan Diri-Nya sebagai makanan dan minuman bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Sebab menurut pemikiran orang Yahudi, tubuh merupakan pribadi dan darah merupakan sumber hidup yang menghidupi pribadi orang itu. Maka ketika Yesus mengatakan “Inilah Tubuh-Ku …. Inilah Darah-Ku … “, maksudnya adalah, “Inilah Diri-Ku”. Kristus memberikan diri-Nya seutuhnya kepada kita. Roti dan anggur itu diubah menjadi Tubuh dan Darah-Nya sendiri oleh kuasa Roh Kudus melalui perkataan Sabda Tuhan yang diucapkan oleh imam. Hal perubahan ini dikenal dalam istilah “transubstansiasi”, yang berarti: substansi roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus[1], meskipun rupanya tetap adalah roti dan anggur. Kristus sendiri berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia…. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58) Karena di dalam perjamuan ini, yang menjadi santapan ialah Kristus Sang Roti hidup yang turun dari Sorga, maka perjamuan ini adalah perjamuan Sorgawi. Juga, karena yang kita santap dalam perjamuan ini adalah Kristus, “Yang Kudus dari Allah” (Mrk 1:24), maka perjamuan ini disebut juga perjamuan kudus. Selain itu, disebutlah perjamuan kudus, sebab kita yang menerimanya harus dalam keadaan berdamai dengan Tuhan (tidak dalam keadaan berdosa berat, KGK 1385), dan sebab melalui perjamuan kudus Ekaristi itu Tuhan Yesus dengan cara-Nya sendiri menguduskan kita yang menyambut-Nya.

Mungkin kita pernah mendengar betapa orang mempertanyakan Ekaristi dan menganggap aneh, bahwa Yesus memerintahkan kita menyantap Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya. Jika banyak orang tak mengerti sekarang, sesungguhnya itu tidak mengherankan, sebab sejak awalnya saat Yesus memberikan ajaran ini, sudah banyak orang mengatakan, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60) Maka banyak dari mereka mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus (lih. Yoh 6:67) Namun Yesus tidak mengubah ajaran-Nya. Ia tidak berkata, “Tunggu dulu, maksud-Ku bukan inilah Tubuh-Ku, tetapi ini melambangkan Tubuh-Ku…” Sebaliknya, Ia bahkan bertanya kepada para rasul-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:61-69)
Di sini Rasul Petrus tidak mengatakan bahwa ia memahami bagaimana roti dan anggur dapat berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Namun ia hanya menerima otoritas perkataan Yesus, dan percaya akan kuasa Yesus yang dapat melakukannya, karena perkataan Kristus adalah perkataan hidup yang kekal. Rasul Paulus juga meyakini bahwa dalam Ekaristi, Kristus sungguh-sungguh hadir, sehingga ia mengatakan, “Barangsiapa dengan tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan….. barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (1Kor 11:27,29). Maka, kita umat Katolik, juga seperti Rasul Petrus dan Paulus, menerima apa yang dikatakan Yesus sebagai kebenaran, sebab perkataan-Nya adalah perkataan kehidupan kekal; walaupun kita tidak juga tidak dapat memahami bagaimana roti dan anggur itu dapat diubah menjadi Tubuh dan Darah Tuhan Yesus.

Ekaristi adalah Perjamuan yang memberi kita makan untuk hidup dan berbuah

Paus Benediktus XVI mengajarkan bahwa Perjamuan Terakhir diadakan Kristus pada saat memperingati Paska Yahudi, di mana Allah membebaskan umat Israel dari penjajahan Mesir. Perjamuan ritual ini -yang mensyaratkan kurban anak domba- adalah peringatan masa lalu namun juga merupakan peringatan nubuat akan suatu pembebasan di masa yang akan datang. Sebab orang-orang Yahudi menyadari bahwa pembebasan yang terjadi di masa yang lalu bukanlah pembebasan yang sifatnya definitif dan sudah selesai, sebab sejarah mereka terus diwarnai dengan perbudakan dan dosa. Dalam konteks inilah Kristus memperkenalkan karunia yang baru, yaitu sakramen Ekaristi, di mana Ia mengantisipasi dan menghadirkan kurban Salib-Nya dan kemenangan kebangkitan-Nya. Ia juga menyatakan kepada para rasul-Nya bahwa Ia-lah anak domba sejati yang dikurbankan, sesuai dengan rencana Allah Bapa (lih. 1Pet 1:18-20)[2].

Maka Ekaristi adalah perjamuan sebab Kristus memberikan Ekaristi pada saat perjamuan Paska, saat Ia memilih roti dan anggur untuk diubah menjadi Diri-Nya sendiri. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Ekaristi adalah sungguh perjamuan sejati, di mana Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai santapan yang menguatkan kita.”[3] Demikianlah, maka para jemaat pertama juga menyebut Ekaristi sebagai perjamuan Tuhan (1Kor 11:20). Kristus sendiri menyatakan bahwa Tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan Darah-Nya adalah benar-benar minuman (lih. Yoh 6:55), sebab Ia ingin agar kita menghubungkan Ekaristi dengan makanan dan minuman bagi kita sehari- hari. Sebab sama seperti makanan dan minuman dapat menguatkan tubuh kita dan menjadi tubuh kita; demikian pula Ekaristi dapat menguatkan kita, sehingga kita dapat menjadi seperti Dia yang kita terima.

Dengan menerima Kristus, kitapun menerima hidup ilahi-Nya. Kristus bersabda, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal [μένω/ ménō] di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal [μένω/ ménō] di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5). Maka Ekaristi merupakan cara bagi kita untuk tinggal di dalam Dia, menerima hidup ilahi sehingga kita dapat bertumbuh dan menghasilkan buah. Sebab Yesus bersabda, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal [μένω/ ménō] di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Sebab sama seperti Kristus hidup oleh Bapa, maka kita yang memakan-Nya juga akan hidup oleh Kristus (lih. Yoh 6:57).

Ekaristi adalah Perjamuan yang mengakrabkan

Mungkin ada orang bertanya, atau bahkan kita sendiri bertanya, mengapa Tuhan Yesus memilih perjamuan untuk mendekatkan diri kepada kita? Nampaknya jawabannya sederhana: sebab makan bersama merupakan cara yang paling umum untuk membina persahabatan. Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, sebab hal itu sungguh kita alami sendiri dalam kehidupan kita. Jika kita sedang bersyukur, misalnya merayakan ulang tahun atau lulus ujian umumnya kita makan bersama dengan keluarga. Kalau kita ingin berkenalan dengan lebih dekat dengan seseorang, umumnya kita mengajaknya makan bersama kita; dan dari situ kita dapat berbicara dari hati ke hati.

Injil juga mengisahkan hal yang serupa di dalam kehidupan Yesus. Mukjizat Yesus yang pertama dibuatnya di perjamuan kawin di Kana (Yoh 2:1-11). Yesus makan bersama sahabat- sahabatnya, seperti ketika Ia berkunjung ke rumah Maria dan Marta (lih. Luk 10:38-42). Ia mengunjungi Zakheus dan makan bersamanya (Luk 19:1-10) dan ini membuahkan pertobatan Zakheus. Selanjutnya, salah satu mukjizat yang besar, yang dicatat oleh keempat Injil adalah mukjizat pergandaan roti, saat Yesus memberi makan lima ribu orang (lih. Mat 14:13-21; Mrk 6:30-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-13). Lalu sebelum wafat-Nya, Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya, saat Ia menetapkan perjamuan roti dan anggur sebagai kenangan akan kurban Tubuh dan Darah-Nya (lih. Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-10). Demikian pula, setelah kebangkitan-Nya, Kristus menyatakan Diri-Nya kepada kedua murid-Nya di Emaus saat Ia duduk makan bersama mereka dan memecah roti (lih. Luk 24:30-31). Juga saat menampakkan diri kepada para murid-Nya di danau Tiberias, Ia makan bersama mereka (lih. Yoh 21:12-13). Bahkan Kerajaan Surga digambarkan sebagai perjamuan kawin Anak Domba (lih. Why 19:9). Itulah sebabnya sejak awal mula, Gereja merayakan perjamuan ini dengan memecah roti di antara mereka, di samping juga bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan dan doa (lih. Kis 2:42). Maka perjamuan roti dan anggur- yaitu Ekaristi yang mempersatukan kita dengan Kristus, memang menjadi hal yang nyata diajarkan dalam Kitab Suci (lih. 1Kor 11:23-26).

  
 Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus

Sebagaimana perjamuan mengakrabkan seseorang dengan yang lain, demikianlah saat kita menerima Kristus dalam Ekaristi, kita menjadi akrab dan digabungkan dengan Kristus. Perjamuan ini menjadi kenangan yang hidup akan kasih Tuhan Yesus yang demikian besar kepada kita, sampai Ia mau wafat bagi kita. Sebab sungguh ayat ini digenapi oleh Kristus: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13) Kristus memandang kita sebagai sahabat-sahabat-Nya, sebagai pemberian Allah Bapa kepada-Nya, sehingga Ia mau agar Ia tinggal bersama-sama dengan kita (lih. Yoh 17:24). Maka Yesus mengaruniakan Ekaristi kepada kita, untuk mempersatukan kita dengan Dia, agar genaplah Sabda-Nya: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:56)

Untuk menangkap kedalaman makna persatuan dan kebersamaan ini, kita perlu merenungkan kedekatan kita dengan orang- orang yang kita kasihi di dunia ini; mungkin saat sebagai orang tua kita mendekap anak kita, atau kebersamaan antara suami dan istri, atau kedekatan dengan seorang sahabat. Ekaristi adalah persatuan yang melampaui semuanya ini, sebab Ekaristi adalah persatuan dengan Kristus sendiri; dan melalui Kristus, dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Persatuan kita dengan Kristus inilah yang kita sebut sebagai “Komuni kudus”, yang menjadikan kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya.[4]

St. Ignatius dari Antiokhia mengatakan dengan indahnya tentang persatuan kita dengan Kristus ini, “Pada pertemuan-pertemuan ini [perayaan Ekaristi], kamu … memecah roti yang satu, yang adalah obat kekekalan, dan penawar racun yang menghapus kematian, namun menghasilkan hidup kekal di dalam kesatuan dengan Yesus Kristus.”[5]. Ya, Komuni/ persatuan dengan Tubuh dan Darah Kristus, memperteguh persatuan kita dengan Kristus, mengampuni dosa-dosa ringan yang kita lakukan, dan melindungi kita dari dosa berat, sebab dengan menerima sakramen ini, ikatan kasih antara kita dan Kristus diperkuat, dan dengan demikian kesatuan Gereja juga diperteguh.[6]


Ekaristi mempersatukan kita dengan sesama anggota Kristus

Maka, selain mempersatukan kita dengan Kristus, Ekaristi juga mempersatukan kita dengan sesama anggota Tubuh Kristus lainnya. Oleh karena kita menerima Kristus yang satu dan sama, maka kita dipersatukan di dalam Dia yang adalah Sang Kepala kita (lih. Kol 1:18; Ef 5:23) Rasul Paulus mengajarkan, “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1Kor 10:15-16). Ekaristi diberikan sebagai kurban Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan mengambil bagian di dalamnya, kita dapat bersatu dengan Kristus dan dengan sesama anggota-Nya menjadi satu Tubuh.[7]
Kita manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi semakin menyerupai Dia, yaitu supaya semakin dapat mengasihi; sebab Tuhan adalah Kasih (1 Yoh 4:8). Kasih itu mempersatukan, oleh karena itu sebagai manusia kita menginginkan persatuan, baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama kita. Kristus- juga mempunyai kerinduan yang sama: bahwa Ia ingin tinggal bersama semua orang yang percaya kepada-Nya (lih. Yoh 6:56), namun juga Ia ingin agar semua yang percaya kepada-Nya menjadi satu, “Aku berdoa ….juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku …. supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21). Maka, persatuan kita dengan Kristus, harus juga membawa persatuan kita dengan semua orang yang percaya kepada-Nya; sebab hal ini merupakan kehendak Kristus sendiri.

Ekaristi juga mempersatukan kita dengan semua anggota yang sudah beralih dari dunia ini

Karena Kristus hanya satu dan Tubuh-Nya juga hanya satu, maka satu jugalah kita semua anggota-anggota-Nya, baik Gereja yang masih berziarah di dunia ini, Gereja yang sudah berjaya di surga, maupun Gereja yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Karena semua anggota- anggota Kristus dipersatukan oleh kasih Kristus yang melampaui maut (lih. Rom 8:38-39). Itulah sebabnya di dalam Komuni kudus ini kita mengingat juga persekutuan dengan para kudus di surga, terutama Bunda Maria[8]; dan kita dapat mengajukan intensi doa permohonan bagi saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, yaitu mereka yang ‘telah meninggal di dalam Kristus namun yang belum sepenuhnya dimurnikan’ sehingga mereka dapat memasuki terang dan damai Kristus[9] yang kekal dalam kerajaan Surga.
Dengan adanya kesatuan dengan Kristus Tuhan sebagai Sang Kepala dan dengan semua anggota Kristus, baik yang dunia ini maupun yang sudah beralih dari dunia ini, maka ada dimensi ilahi dalam setiap perayaan Ekaristi. Maka perjamuan Ekaristi tidak hanya merupakan penyembahan dan ucapan syukur kita yang di dunia ini tetapi juga para malaikat dan semua para kudus di surga. Melalui Ekaristi, mata hati kita diarahkan akan penggenapan iman dan harapan kita, akan kemuliaan surgawi[10], di mana kita akan bersatu dengan Dia dan seluruh isi surga untuk memuji dan memuliakan Dia.

Ekaristi sebagai janji kemuliaan Tuhan yang akan datang

Walaupun Gereja mengetahui bahwa Kristus hadir di dalam Ekaristi saat ini dan Ia ada di tengah kita umat-Nya, namun demikian Ia hadir di tengah kita secara terselubung. Maka saat merayakan Ekaristi, kita tetap “menantikan dengan penuh kerinduan akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus”, di mana kita akan dapat memandang Allah, menjadi serupa dengan-Nya, memuji Dia selamanya melalui Kristus.[11] Sebab pada Perjamuan Terakhir, Kristus berkata bahwa Ia tidak akan minum lagi dari pokok anggur sampai pada saat Ia meminumnya bersama dengan kita dalam Kerajaan Bapa (lih. Mat 26:29; Luk 22:18; Mrk 14:25). Maka setiap kali Gereja merayakan Ekaristi, ia mengingat janji ini sambil mengarahkan pandangannya kepada Kristus yang akan datang[12], yang akan menggenapinya. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa di dalam perayaan Ekaristi, “…kita disatukan dengan ‘liturgi’ surgawi dan menjadi bagian dari para kudus yang jumlahnya berlaksa-laksa yang menyerukan, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Why 7:10). Ekaristi adalah sungguh sekilas surga yang nampak di dunia.”[13]
Maka Ekaristi menuntun Gereja mencapai tujuan akhirnya di mana persekutuan dengan Allah dan sesama mencapai kesatuan yang sempurna, yaitu “keadaan persatuan dengan Kristus, yang pada saat yang sama membuatnya mungkin untuk masuk ke dalam kesatuan yang hidup dengan Allah sendiri, sehingga Tuhan dapat menjadi semua di dalam semua (1Kor 15:28).”[14]
 Ekaristi adalah Perjamuan Tubuh dan Darah Kristus menurut Bapa Gereja

Berikut ini adalah pengajaran dari para Bapa Gereja, yang sudah sejak abad awal mengajarkan bahwa perayaan Ekaristi sungguh merupakan perayaan perjamuan Tubuh dan Darah Kristus, di mana Kristus sendiri hadir dan menyatu dengan kehidupan jemaat:

1. St. Yustinus Martir (100-165)

“Maka lalu dibawa kepada pemimpin para saudara, roti dan sepinggan anggur yang dicampur dengan air; dan saat mengambilnya ia memberi pujian dan kemuliaan kepada Allah Bapa Semesta alam, melalui nama Sang Putera dan Roh Kudus, dan mempersembahkan syukur yang panjang karena kita dianggap layak menerima semua ini dari tangan-Nya. Dan ketika ia telah menyelesaikan doa- doa dan ucapan syukur, semua orang yang hadir menyatakan persetujuan mereka dengan mengatakan, Amin. Perkataan Amin dalam bahasa Ibrani menjawab, “biarlah demikian”. Dan ketika pemimpin telah mengucap syukur, dan semua oramh telah menyatakan persetujuan mereka, mereka yang disebut diakon memberikan kepada setiap yang hadir, untuk mengambil bagian dari roti dan anggur yang telah dicampur air yang atasnya telah diucapkan syukur dan kepada mereka yang tidak hadir, mereka bawakan bagiannya.
Dan makanan ini disebut di antara kami sebagai Ekaristi, yang tentangnya tak seorangpun diperkenankan menyambutnya selain seseorang yang percaya bahwa hal-hal yang kami ajarkan adalah benar, dan yang telah dibasuh dengan pembaptisan yaitu untuk penghapusan dosa, dan untuk kelahiran kembali, dan yang hidup sesuai dengan apa yang diperintahkan Kristus. Sebab bukanlah sebagai roti biasa dan minuman biasa kami terima ini semua; tetapi sebagaimana pada Yesus Kristus Penyelamat kita, yang setelah menjelma menjadi manusia oleh Sabda Tuhan, mempunyai tubuh dan darah demi keselamatan kita, demikianlah pula, kami telah diajarkan bahwa makanan yang telah diberkati dengan perkataan doa-Nya dan yang dari mana darah dan tubuh kami diberi makan oleh transmutasi, adalah tubuh dan darah dari Yesus yang telah menjadi manusia. Sebab para Rasul dalam catatan peringatan yang mereka susun, yang disebut Injil, telah diteruskan kepada kami apa yang telah diajarkan kepada mereka; bahwa Yesus mengambil roti, dan ketika Ia telah mengucap syukur, dan berkata, “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku, inilah tubuh-Ku… (Luk 22:19) dan dengan cara yang sama, setelah mengambil piala dan mengucap syukur, Ia berkata, “Inilah darah-Ku; (Mat 26:28) dan memberikan kepada mereka…. ”[15]

2. St. Siprianus (w 258)

“Akulah roti hidup yang turun dari Surga. Barangsiapa makan roti ini akan hidup selamanya …. (Yoh 6:51-52). Sejak saat Ia berkata demikian, barangsiapa yang makan Roti itu, memperoleh hidup kekal, sebagaimana dinyatakan bahwa mereka hidup, yang menerima Ekaristi dengan komuni yang benar, dan di sisi yang lain, kita harus gentar dan berdoa, jika tidak, siapapun, ketika ia terputus dan terpisah dari tubuh Kristus, menjadi tetap terpisah dari keselamatan, seperti yang dikatakan-Nya, “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Maka kita mohon agar roti kita, yaitu Kristus, diberikan kepada kita setiap hari, sehingga kita yang tinggal dan hidup di dalam Kristus, tidak akan menarik diri dari pengudusan-Nya dan dari Tubuh-Nya.[16]

3. St. Sirilus dari Yerusalem (313-386)

“Oleh karena itu dengan keyakinan yang penuh marilah kita mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus: sebab di dalam rupa Roti diberikan kepadamu Tubuh-Nya, dan di dalam rupa anggur, Darah-Nya; sehingga dengan mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, kamu dapat dibuat menjadi tubuh yang sama dan darah yang sama dengan Dia. Sebab dengan demikian kita dapat mengandung Kristus di dalam kita, sebab Tubuh dan Darah-Nya dibagikan melalui anggota- anggota kita, sehingga karena itu, menurut Petrus yang Terberkati, kita menjadi pengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Pet 1:4).”[17]

4. St. Ambrosius (337-397)

“Mungkin kamu akan berkata, “Aku melihat sesuatu yang lain, bagaimana kamu dapat menyatakan bahwa aku menerima Tubuh Kristus?” Dan ini adalah hal yang tetap bagi kita untuk dibuktikan. Dan bukti apa yang harus kita gunakan? Biarlah kita membuktikan bahwa ini bukan apa yang dibuat oleh kodrat, tetapi apa yang oleh rahmat dikonsekrasikan, dan kuasa rahmat lebih besar daripada kuasa kodrat, sebab oleh rahmat, kodrat itu sendiri diubahkan.”[18]
“Jangan melihat di dalam roti dan anggur bahan- bahan alami biasa, sebab Kristus telah mengatakan dengan jelas bahwa roti dan anggur itu adalah TubuhNya dan Darah-Nya: iman meyakinkan kamu akan hal ini, meskipun perasaanmu menyatakan sebaliknya.”[19]

5. St. Agustinus (354-430)

Daging-Ku,” kata-Nya, “Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Para orang percaya mengenali tubuh Kristus; jika mereka mengabaikannya, janganlah menjadi tubuh Kristus. Biarlah mereka menjadi tubuh Kristus, jika mereka ingin hidup oleh Roh Kristus. Tak ada seorangpun hidup oleh Roh Kristus tetapi hanya tubuh Kristus …. Adalah untuk ini Rasul Paulus menjelaskan tentang roti ini, “Satu roti,” katanya, [maka] “kita walaupun banyak namun adalah satu” (1Kor 10:17). O rahasia kesalehan! O tanda kesatuan! O ikatan cinta kasih! Ia yang mau hidup, mempunyai tempat untuk hidup, mempunyai sumber untuk hidup. Biarlah ia datang mendekat, biarlah ia percaya, biarlah ia menjadi satu, sehingga ia dapat menjadi hidup.”[20]

6. St. Leo Agung (391-461)

“Sebab ketika Tuhan berkata, “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak akan mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yoh 6:53), demikianlah kamu harus menjadi pengambil bagian di dalam altar yang kudus, dan tak mempunyai keraguan apapun mengenai realitas Tubuh dan Darah Kristus. Sebab apa yang diterima di dalam mulut adalah apa yang dipercaya di dalam iman, dan adalah sia-sia bagi mereka untuk menjawab Amin, yang meragukan apa yang telah diterima.[21]

Gereja hidup dari Ekaristi

Ya, sebagaimana manusia dapat hidup karena makan, demikianlah sejarah Gereja menunjukkan bahwa Gereja hidup oleh perjamuan Ekaristi. Gereja menerima santapan surgawi dari Kristus, dan karena itu memperoleh hidup dari Kristus[22], dan menjadikannya sebagai hidupnya sendiri. Tuhan Yesus telah memberikan seluruh hidup-Nya, supaya kita yang percaya kepada-Nya dapat hidup di dalam Dia. Yesus bersabda, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia….” (Yoh 6:51). Karena Kristus sendirilah yang kita sambut di dalam Ekaristi dan hidup-Nyalah yang diberikan-Nya di dalam Ekaristi, maka benarlah apa yang dinyatakan dalam Konsili Vatikan II, yaitu bahwa Ekaristi disebut sebagai “sumber dan puncak kehidupan Kristiani”[23]. “Sebab di dalam Ekaristi terkandung keseluruhan kekayaan rohani Kristus: yaitu Kristus sendiri, Paska kita dan Roti kehidupan kita. Melalui Tubuh-Nya sendiri yang sekarang dibuat hidup dan memberi hidup oleh kuasa Roh Kudus, Ia [Kristus] mempersembahkan hidup-Nya bagi manusia.”[24]

Kesimpulan

Oleh karena besar kasih-Nya, Kristus meninggalkan kenangan perjamuan Ekaristi kepada Gereja-Nya. Ia menghendaki agar kita yang tergabung di dalam Tubuh-Nya sungguh menyantap Tubuh dan Darah-Nya yang adalah benar- benar makanan dan minuman, agar kita beroleh hidup yang kekal di dalam Dia. Karena Kristus Tuhan sendirilah yang kita sambut dalam Ekaristi, maka Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Sebagai tanda kasih Kristus, Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus Tuhan yang adalah Kasih, dan juga mempersatukan kita dengan sesama anggota Kristus, yaitu Gereja. Dengan kesatuan dengan Kristus yang adalah Kepala, kita juga disatukan dengan semua anggota tubuh-Nya baik yang di dunia, maupun yang telah beralih dari dunia ini, yaitu mereka yang masih dimurnikan di Api Penyucian dan mereka yang telah berjaya di surga. Dalam kesatuan dengan Kristus, kita mengarahkan pandangan kepada kesatuan yang sempurna dengan Allah dan sesama ini di Surga kelak, di mana Allah meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28).

Agaknya peninggalan kurban dan perjamuan Ekaristi yang diperingati Gereja setiap hari sampai akhir zaman merupakan penggenapan dari kalimat ini: “Kristus mengasihi kita sampai pada akhirnya”. Ia menunjukkan kasih-Nya ini dengan mengurbankan hidup-Nya (lih. Yoh 15:13); namun kasih-Nya ini tidak berhenti setelah kematian-Nya. Sebab Kristus terus hidup setelah kebangkitan-Nya, demikianlah kasih-Nya kepada kita tetap ada selamanya. St. Agustinus mengatakannya dengan begitu indahnya, “Tidak hanya sejauh itu saja Ia mengasihi kita, [sebab] Ia selalu dan selamanya mengasihi kita. Jauhlah kiranya dari kita untuk berpikir bahwa Ia menjadikan kematian sebagai akhir dari cinta kasih-Nya kepada kita, [sebab] Ia tidak menjadikan kematian sebagai akhir dari kehidupan-Nya.”[25]. Cinta kasih Kristus yang tiada akhir dan tiada batas ini yang dirayakan dan dihadirkan kembali di dalam Ekaristi; sehingga kita dapat dipersatukan dengan Dia. Selayaknya kita bersyukur untuk karunia Ekaristi, yang memungkinkan kita untuk selalu mengalami kasih-Nya dalam kesatuan dengan Dia, sebab kita disatukan dengan Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan ke-Allahan-Nya.

CATATAN KAKI:
  1. lih. KGK 1376 [↩]
  2. lih. Paus Benediktus XVI, Ekshortasi Apostolik, Sacrament Caritatis, 10 [↩]
  3. Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Euscharistia, 16 [↩]
  4. lih. Katekismus Gereja Katolik/ KGK 1331 [↩]
  5. St. Ignatius of Antioch, Letter to the Ephesians, n.20 [↩]
  6. lih. KGK 1416 [↩]
  7. Lih. KGK 1329 [↩]
  8. lih. KGK 1370 [↩]
  9. KGK 1371 [↩]
  10. lih. KGK 1402 [↩]
  11. lih. KGK 1404 [↩]
  12. lih. KGK 1403 [↩]
  13. Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 19 [↩]
  14. Joseph Cardinal Ratzinger (Pope Benedictus XVI), Called to Communion, (San Francisco: Ignatius Press, 1991), p. 33 [↩]
  15. St. Justin Martyr, First Apology, ch. 65-66 [↩]
  16. St. Cyprian, The Lord’s Prayer, Ch. 18 [↩]
  17. St. Cyril of Jerusalem, Catecheses, 22:3 [↩]
  18. St. Ambrose, On the Mysteries, 9:50 [↩]
  19. St. Ambrose, Mystagogical Catecheses, IV, 6: SCh 126, 138 [↩]
  20. St. Augustine, On the Gospel of John, Tr 26:13 [↩]
  21. St. Leo Agung, Sermons, no. 91:3 [↩]
  22. lih. Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 1,7 [↩]
  23. KGK 1324 [↩]
  24. Konsili Vatikan II, Dekrit Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, Presbyterorum Ordinis, 5 [↩]
  25. St. Augustine, In Ioann. Evang., 55,2 [↩]
Sumber:  www.katolisitas.org (silahkan klik) dan (silahkan klik)
 

Misteri Ekaristi ini terlalu agung bagi siapa pun juga untuk merasa bebas melakukannya sesuai dengan pandangannya sendiri, sehingga kekudusannya dan penetapannya yang universal menjadi kabur, sebaliknya, siapa saja yang bertindak demikian dan melampiaskan saja kecendrungannya sendiri-juga bila dia seorang imam-melukai kesatuan hakiki Ritus Romawi, yang seharusnya dijaga ketat. Dia pun harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sama sekali tidak menanggapi kelaparan dan kehausan akan Allah yang hidup yang dialami orang dewasa ini, perbuatan-perbuatan yang demikian tidak juga membawa manfaat untuk reksa pastoral yang otentik atau pembaharuan liturgi yang benar; sebaliknya. Karena ulah-ulah itu, umat beriman dirampasi dari harta kekayaan dan warisannya, Demikianlah perbuatan-perbuatan yang sewenang-sewenang itu bukannya jalan menuju ke pembaharuan yang sejati, melainkan melanggar hak umat beriman akan sebuah perayaan liturgis yang adalah pengukapan hidup Gereja sepadan dengan tradisi dan tata tertibnya, pada akhirnya sikap ini menyebabkan masuknya unsur-unsur yang merusak dan menghancurkan ke dalam Ekaristi itu sendiri, yang justru seharusnya-karena mulianya dan berdasarkan maknanya sendiri-menandai serta menghadirkan secara ajaib persekutuan hidup ilahi dan persatuan umat Allah, Alhasil ialah kebingungan di bidang ajaran Gereja, kekacauan dan scandalum dipihak umat Allah, dan sebagai akibat hampir pasti-perlawanan yang kuat; dan semuanya itu akan banyak umat beriman merasa bingung dan sedih, khususnya dimasa kita ini ketika hidup kristiani sudah begitu dipersulit akibat menjalarnya sekularisasi pula. (Redemptionis Sacramentum, Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan atau dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus, No. 11)
 

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus - 2 Juni 2013


HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS/C
Minggu, 2 Juni 2013
Kej 14:18-20; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Di beberapa paroki, kesempatan ini juga digunakan untuk penerimaan komuni pertama. Oleh karena itu, ada baiknya kita memperdalam atau mengingat kembali makna Ekaristi, khususnya komuni kudus, di mana kita menerima Tubuh (dan Darah Kristus). Setelah kita disegarkan kembali mengenai makna Ekaristi dan komuni, harapannya kita semakin dimampukan untuk menghayati Ekaristi dan hidup secara ekaristis.

Dalam bacaan kedua hari ini, St. Paulus membantu kita untuk memahami makna komuni kudus. “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Makan roti dan minum cawan yang dimaksud oleh St. Paulus ini adalah pada saat kita merayakan Ekaristi dan menerima komuni.

Roti yang kita terima dalam Ekaristi adalah Tubuh Kristus sendiri. Sebab, melalui Doa Syukur Agung Gereja, yang antara lain berbunyi, “Bapa yang mahabaik, kuduskanlah persembahan roti dan anggur ini dengan kuasa Roh Kudus, agar menjadi bagi kami, Tubuh dan Darah, Putera-Mu terkasih, Tuhan kami, Yesus Kristus” (DSA X), terjadilah perubahan roti menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus.

Perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus ini disebut “transubstansiasi”, yaitu berubahnya substansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, kendati materi, rupa, rasa, dan bentuknya tetap roti dan anggur (lih. KGK 1376). Dalam hal ini, Paus Yohanes Paulus II, dengan mengutip St. Cyrilus, menegaskan bahwa, “dalam roti dan anggur, janganlah hanya melihat unsur alamiah, sebab Tuhan telah tegas menyatakan bahwa itu adalah Tubuh dan Darah-Nya. Iman memastikan bagimu, kendati indera menunjuk yang lain” (EE 15).

Dalam setiap bagian dari roti dan dalam setiap tetes anggur, Kristus hadir sepenuhnya dan seutuhnya. Maka, kita dapat menerima Kristus baik dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau keduanya bersama-sama (lih. KGK 1390). Meskipun dalam komuni kita hanya menerima Tubuh Kristus, bahkan hanya secuil saja, kita tetap menerima Kristus secara penuh.

Selanjutnya, St. Paulus menegaskan bahwa dengan makan roti ekaristi, yang adalah Tubuh Kristus, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Ada 2 hal penting di sini, yaitu menyangkut iman kita akan kematian/wafat Yesus dan kedatangan-Nya kembali. Yang pertama mengenai wafat Yesus. Dalam surat yang sama, yakni kepada jemaat Korintus, St. Paulus menegaskan makna wafat Yesus, “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita” (1Kor 15:3). Hal yang sama dinyatakan oleh St. Petrus, “Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita” (1Ptr 3:18).

Yang kedua, mengenai kedatangan-Nya kembali. Maksud kedatangan-Nya kembali tidak lain dan tigak bukan juga untuk menyelamatkan kita. Hal ini disabdakan Yesus sendiri “Di rumah Bapa-Ku, banyak tempat tinggal. ... Sebab, Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu. ... Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:2-3). Jadi, baik wafat Kristus maupun kedatangan-Nya kembali, semuanya dimaksudkan untuk menyelamatkan kita. 

Yesus telah wafat, berarti sudah terjadi, dan Ia akan datang kembali, berarti belum terjadi. Dengan demikian, keselamatan kita di satu sisi sudah terlaksana, yakni melalui wafat Kristus, tetapi belum penuh karena Kristus belum datang kembali dan kita belum dibawa ke rumah Bapa. Jadi, kita masih menanti kepenuhan keselamatan itu. Selama menantikan kedatangan kembali Kristus, kita mempunyai tugas untuk memberitakan kematian Tuhan. “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26).

Tugas kita untuk memberitakan kematian Tuhan ini, pertama-tama berarti memberi kesaksian akan belas kasih dan pengorbanan Kristus demi keselamatan kita. Dalam terang bacaan Injil, hal ini berarti kita harus menjadi tanda dan sarana kehadiran Kristus yang penuh belas kasih dan menghendaki, “Kamu harus memberi mereka makan” (Luk 9:13). Ia menghendaki agar kita berkorban untuk berbagi kepada sesama, sebagaimana Kristus sendiri telah mengorbankan diri bagi kita supaya kita mendapat bagian dalam kehidupan-Nya yang ilahi dan mulia. Kita diharapkan mau berbagi “lima roti dan dua ikan”. Artinya, apa pun yang kita miliki – waktu, tenaga, pemikiran, keterampilan, pengetahuan, harta kekayaan, dll – meskipun hanya sedikit, kita persembahkan kepada Tuhan supaya Ia mengambilnya, lalu memberkati, kemudian membagi-bagikanya dan memberikannya kepada banyak orang, seperti yang Ia lakukan atas lima roti dan dua ikan itu (Luk 9:16).

Hidup yang diberkati Tuhan dan dibagi-bagikan inilah yang seringkali disebut sebagai hidup yang ekaristis. Jadi, hidup yang ekaristis tidak hanya berarti kita rajin dan tekun merayakan Ekaristi, tetapi sebagaimana roti ekaristi yang diberkati, kemudian dipecah-pecah, dan dibagikan kepada umat dalam komuni, kita pun harus demikian. Artinya, dengan merayakan Ekaristi, kita harus sampai pada penghayatan bahwa hidup kita dengan segala yang kita miliki dan alami, kita persembahkan kepada Tuhan untuk diberkati oleh-Nya kemudian dibagikan kepada orang lain. Itulah mengapa, setiap kali kita mengakhiri Perayaan Ekaristi, setelah menerima berkat Tuhan, kita semua diutus. Diutus untuk apa? Diutus untuk berbagi berkat, berbagi hidup, berbagi waktu, tenaga, pemikiran, keterampilan, pengetahuan, harta kekayaan, dll demi kesejahteraan dan keselamatan sesama.

Semoga, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang kita rayakan ini semakin mendorong kita untuk hidup secara ekaristis. Kita semakin mengerti makna Ekaristi, khususnya komuni kudus. Kita semakin rajin dan setia merayakan Ekaristi serta menghayatinya dengan lebih baik. Kita semakin mampu berbagi dan berkorban, sebagaimana Kristus telah mengorbankan diri-Nya dan berbagi hidup ilahi kepada kita.

Agus Widodo, Pr