Minggu, 23 Juni 2013 Hari Minggu Biasa XII

Dalam sebuah pelajaran, seorang guru bertanya, “Anak-anak, apa cita-citamu nanti?” Murid-murid menjawab ada yang ingin jadi dokter, jadi pilot, jadi pengusaha, ada juga yang ingin jadi presiden. Di antara anak-anak yang ramai memberi jawaban ada satu anak yang diam saja. Lalu sang guru mendekat dan bertanya, “Nak, mengapa kamu sedih? Apakah kamu tidak mempunyai cita-cita?” Jawab anak itu, “Ibu, saya malu mengatakan cita-cita saya.” Guru berkata, “Katakanlah, yang lain akan menghargai cita-citamu”. Ia menjawab, “Cita-cita saya adalah ingin membahagiakan ibu. Ibu sudah 5 tahun berbaring di tempat tidur dan sakit lumpuh.” Mendapat jawaban ini bu guru terdiam…, matanya berkaca-kaca, lalu ia berkata, “Tuhan pasti mendengar apa yang kamu minta.”

Perubahan hidup seseorang seringkali terjadi saat bersama atau melihat pribadi atau mengalami peristiwa tertentu. Seperti halnya anak-anak, dengan “melihat” sosok orang dengan keteladanan akan membawa pengaruh pada cita-citanya, namun ada juga yang karena situasi tertentu mendorong seseorang untuk berpikir yang lain. Kata-kata dari seorang anak yang bercita-cita membahagiakan ibunya yang sudah 5 tahun berbaring di tempat tidur dan sakit lumpuh merupakan cita-cita dari sebuah refleksi mendalam seorang anak sesuai usianya. Baginya ibu adalah segalanya, yang tidak tergantikan oleh apapun.

Yesus, dalam Injil mengajak para murid untuk masuk dalam sebuah pemahaman yang mendalam tentang siapakah yang mereka ikuti. Kepada para murid Yesus bertanya “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Setelah mendapat jawaban Yesus bertanya kembali, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” 2 model pertanyaan yang diajukan Yesus bukannya tanpa makna. Istilah kata orang menujuk pengertian murid tentang Yesus yang diperoleh dari cerita orang lain. Namun Yesus mengajak para murid untuk tahu tentang diri-Nya bukan dari kata orang. Istilah menurut kamu melukiskan pemahaman pribadi.

Berbicara perikop bacaan Injil, Lukas berbicara tentang 1) pengakuan Petrus, yang berbicara tentang pengakuan akan hakekat Allah sendiri, bahwa Yesus adalah Mesias yang hidup; 2) nubuat penderitaan Kristus, di mana Yesus harus menanggung penderitaan, ditolak, dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga; 3) penyangkalan diri seorang murid Kristus yang berarti juga ikut memanggul salib. Bahkan seorang pengikut Kristus harus siap untuk kehilangan nyawa. Penulis Lukas mengajak para murid untuk meninggalkan pendapat umum dengan semakin mengenal Kristus secara mendalam. Dengan demikian para murid mengerti bahwa Kristus yang mereka ikuti adalah Kristus yang harus menderita demi keselamatan manusia.

Seperti halnya para murid, kita yang mengikuti Kristus diundang untuk punya pemahaman yang sama bahwa Kristus adalah Allah yang bersolider dan hidup dalam kebersamaan secara nyata dengan manusia. Tentu saja bagi umat Kristiani mengikuti-Nya bukanlah kesia-siaan, karena Kristus yang kita imani adalah Kristus yang telah bangkit dan hidup dalam diri manusia. Bentuk penting dalam persatuan dengan Kristus adalah melalui baptis. Paulus dalam bacaan menjabarkan hakekat dan makna baptisan berarti diangkat menjadi anak-anak Allah. Dalam baptisan semua orang dipersatukan dan mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah.

Tentu saja, jika orang mengikuti Kristus bukannya tanpa konsekuensi. Para murid dipanggil untuk penyangkalan diri dari hal-hal yang berlawanan dengan hakekat Allah dan berani memanggul salib atas dasar iman. Hanya dengan pengena­lan yang mendalam akan Kristus, kita dapat memahami tentang ajaran Kristus. Marilah kita mengenal dan menemukan Kristus secara pribadi, bukan kata orang lain, atau bukan karena kata buku. Ketika kita menemukan Kristus dalam hidup, kita akan semakin dikuatkan dalam iman.

Berkat Tuhan menyertai kita,

Pastor Paulus Setiadi SS, SCJ