Setelah Yesus menyelesaikan ajaran-Nya tentang roti hidup, banyak dari murid-murid-Nya berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”

Sabtu, 10 Mei 2014
Hari Biasa Pekan III Paskah

Bacaan silahkan lihat (di sini)

 Dalam hidup kita sering mendengarkan kata-kata yang keras dan pedas. Reaksi atas hal ini bisa berbeda. Mereka yang ‘berdarah panas’, biasanya langsung menanggapi dengan keras. Sikap demikian yang muncul dalam diri para murid dalam kisah Injil hari ini. Banyak yang ‘berdarah panas’, marah dan akhirnya meninggalkan Yesus, kembali ke rumah masing-masing.

Apa yang membuat sikap ini terjadi? Kita harus membaca kembali bacaan kemarin, tentang “Roti Hidup”. Orang yang mau selamat harus bersekutu dengan-Nya, dengan menyantap Tubuh-Nya. Orang-orang Yahudi protes. Setiap pribadi bisa sampai kepada Allah secara langsung. Maka, ketika Yesus ini mengatakan bahwa hidup abadi hanya didapatkan dengan mengikuti Dia dan lewat Dia, bagi mereka hal itu merupakan penghujatan kepada Allah! Inilah yang membuat mereka banyak meninggalkan Yesus. Mereka tidak menerima Yesus sebagai Mesias yang telah diutus Allah untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dosa dan maut. Mereka hanya mau menerima Dia sebagai raja dunia yang mengenyangkan seperti saat menerima makanan dari Yesus; dan seperti nenek moyang mereka yang menerima manna. Pemikiran yang sangat duniawi!

Bisa jadi, itulah sikap beriman kita. Kita mau menerima Allah yang hanya memenuhi keinginan dan kepentingan kita. Kita ingin mengatur Allah demi kehidupan duniawi kita. Coba saja ingat doa-doa yang kita panjatkan, kerapkali bersifat duniawi. Berilah kesehatan, rezeki, kesenangan, jauhkan dukacita dan kesedihan; dan banyak lagi permintaan bersifat jasmani. Coba refleksikan, ketika semua diterima, adalah rasa syukur dan merasa cukup? Tidak, kita terus merasa kekurangan.

Tuhan kerapkali memberi sesuatu “yang keras” dalam kehidupan kita, seperti dukacita, kegagalan, ketidakmampuan dan sejenisnya. Sendirian kita memang kerap lemah. Maka kita harus bersekutu dengan Allah lewat santapan rohani, Tubuh-Nya yang kita terima lewat Sakramen Mahakudus. Kesatuan itu kemudian berbuah lewat persekutuan keluarga, di mana kita dapat saling meneguhkan dan membahagiakan. Jika kondisi keluarga seperti itu, maka akan menjadi tempat pertumbuhan bagi putra-putri kita untuk panggilan khusus sebagai imam atau biarawan-biarawati. Bagaimana dengan keluarga kita? (Pahala Hasudungan, O.Carm/Cafe Rohani)

Sabtu, 10 Mei 2014 Hari Biasa Pekan III Paskah

Sabtu, 10 Mei 2014
Hari Biasa Pekan III Paskah
            
Pernyataan pertama mengenai Ekaristi, memisahkan murid-murid-Nya dalam dua kelompok, sebagaimana juga penyampaian mengenai sengsara-Nya menimbulkan reaksi menolak pada mereka: "Perkataan ini keras, siapakah sanggup mendengarkannya?" (Yoh 6:60). Ekaristi dan salib adalah batu-batu sandungan. Keduanya membentuk misteri yang sama, yang tidak berhenti menjadi sebab perpecahan. "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67). Pertanyaan Tuhan ini bergema sepanjang masa; melalui pertanyaan ini cinta-Nya mengundang kita, supaya mengakui bahwa hanya Dialah memiliki "perkataan hidup kekal" (Yoh 6:68) dan bahwa siapa yang menerima anugerah Ekaristi-Nya dengan penuh iman, menerima Dia sendiri. (Katekismus Gereja Katolik, 1336)
    
Antifon Pembuka (lih. Kol 2:12)
     
Kita dikubur bersama Kristus dalam pembaptisan dan dibangkitkan bersama dengan Dia pula berkat kepercayaan kita akan kuasa Allah, yang telah membangkitkan Kristus dari alam maut. Alleluya.
       
Doa Pagi  
      
Allah Bapa yang Mahamurah, dalam diri Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau menganugerahkan kehidupan kekal kepada kami. Kami mohon, tariklah diri kami untuk selalu dekat dengan-Mu dan selalu rindu untuk tinggal bersama-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
     
Perjalanan Petrus adalah perjalanan kasih yang menyelamatkan. Orang yang sakit disembuhkannya dan yang mati dijadikannya hidup kembali. Kehadirannya menampakkan kehadiran Kristus.
       
Bacaan dari Kisah Para Rasul (9:31-42)
    
"Jemaat dibangun, dan jumlahnya makin bertambah besar, oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus."
   
Selama beberapa waktu setelah Saulus bertobat, jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan kemana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangunlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan. Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita, dalam bahasa Yunani: Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Adapun Lida dekat dengan Yope. Maka ketika murid-murid mendengar bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.” Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas, dan semua janda datang berdiri di dekatnya. Sambil menangis, mereka menunjukkan kepada Petrus semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. Tetapi Petrus menyuruh mereka keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kmudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya, dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu ia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope, dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. Sesudah peristiwa itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, 3/4, PS 856
Ref. Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini akan peringatan kepada-Ku.
Ayat. (Mzm 116:12-13.14-15.16-17; Ul: 1Kor 10:lh.16)
1. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku. Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
2. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya. Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
3. Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu! Engkau telah melepaskan belengguku: Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama Tuhan.
  
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (lih. Yoh 6:63b.68b)
Perkataan-perkataan-Mu adalah roh dan hidup. Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.
    
Perkataan Yesus tentang Roti hidup menguji dan memurnikan kesediaan untuk mengikuti Kristus. Bersama keduabelas murid Yesus setiap orang ditantang untuk setia sampai akhir.
   
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:60-69)
   
"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal."
    
Setelah Yesus menyelesaikan ajaran-Nya tentang roti hidup, banyak dari murid-murid-Nya berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, maka berkatalah Ia kepada mereka, “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Lalu bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna! Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai dari waktu itu banyak murid Yesus mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan
    
Pernyataan Yesus tentang diri-Nya dirasa sangat keras sehingga membuat banyak orang yang mengikuti Dia bersungut-sungut. Lalu mereka mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Bagaimana perasaan kita? Apakah kita merasa bahwa perkataan Yesus ini keras? Apakah kita juga mau mengundurkan diri? Tidak! Bersama Petrus kita berkata, “Kepada siapa kami akan pergi? Kami percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69)
  
Doa Malam
    
Tuhan, kendalikanlah keinginan-keinginan yang tidak teratur dari padaku. Semoga apa yang ada di dunia ini, kupakai sejauh membantu dan menjadi sarana saja untuk mencapai tujuan hidupku yaitu keselamatan di dalam Engkau, kini dan sepanjang masa. Amin.
    
RUAH

Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Jumat, 09 Mei 2014
Hari Biasa Pekan III Paskah
     
Kis 9:1-20; Mzm 117:1bc.2; Yoh 6:52-59
       
Daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Pada tahun 1263, ada seorang imam bernama Petrus dari Prague yang mengalami krisis iman. Akibat ajaran sesat dari bidaah yang dipimpin Berengarius, ia mengalami keraguan bersar bahwa roti ekaristi yang telah dikonsekrir benar-benar Tubuh Kristus. Maka, ia bermaksud mengadakan perjalanan ziarah ke makam St. Petrus di Roma dengan harapan mendapat pencerahan. Dalam peziarahan tersebut, ia singgah di Bolsena, sebuah kota kecil sebelah utara Roma dan merayakan Ekaristi di Gereja St. Kristina. Pada saat konsekrasi, ketika ia mengucapkan kata-kata, “Inilah Tubuh-Ku,” hosti di tangannya berubah menjadi daging dan mengucurkan darah yang menetes ke korporal. Segera, ia melaporkan kejadian tersebut kepada Paus Urbanus IV. Paus pun kemudian menegaskan bahwa mukjizat teresebut merupakan jawaban pasti atas keraguan Rm. Petrus sekaligus mematahkan ajaran sesat dari Berengarius. Yesus Kristus sungguh-sungguh hadir dalam hosti suci yang telah dikonsekrir dalam Misa. Dia benar-benar makanan bagi kita. Setiap kali kita menerima komuni, kita memakan-Nya sehingga kita mendapatkan hidup dari-Nya. Sebagaimana kalau kita makan nasi dengan segala lauk pauknya, kita mendapatkan energi dan kehidupan dari makanan tersebut; demikian pula dengan makan Tubuh Kristus kita pun mendapatkan energi dan kehidupan dari-Nya. Sebagaimana kalau misalnya kita makan petai, maka keringat, urine, dan mulut kita bau petai; demikian pula hendaknya dengan makan Tubuh Kristus, seluruh diri kita juga bau Yesus. Artinya, pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan-tindakan kita sungguh dijiwai oleh Yesus sendiri yang senantiasa mengasihi, melayani, mengampuni dan mengorbankan diri.


Doa: Bapa, kami bersyukur karena melalui sakramen Ekaristi, Putera-Mu Yesus Kristus menjadikan diri-Nya sebagai makanan bagi kami. Semoga hidup kami dijiwai oleh-Nya sehingga kami semakin mampu untuk mengasihi, melayani, mengampuni dan rela berkorban. Amin. -agawpr-