Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi.”

Senin, 23 Juni 2014
Hari Biasa Pekan XII
 
2 Raj 17:5-8.13-15a.18; Mzm 60:3.4-5.12-13; Mat 7:1-5
 
Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi.”
  
Dalam ilmu psikologi ada mekanisme pembelaan diri yang disebut "proyeksi", yakni usaha untuk menutupi atau menyembunyikan kesalahan, kegagalan, dan hal-hal tidak baik lainnya dengan cara menyalahkan orang lain atau keadaan. Dengan kata lain, proyeksi merupakan usaha untuk mengenakan kepada orang lain hal-hal tidak baik yang sebenarnya ada ada dalam diri kita. Jadi, kalau kita menuduhkan hal-hal buruk kepada orang lain, sebenarnya hal-hal buruk tersebut juga kita miliki, bahkan lebih besar dibandingkan yang dimiliki orang lain. Yesus menggunakan perbandingan bahwa yang kita miliki itu sebesar balok sedang yang dimiliki orang lain hanya sebesar selumbar. Namun, untuk menutup-nutupi hal buruk/negatif dalam diri kita, selain menuduhkannnya kepada orang lain, kita juga cenderung membesar-besarkan keburukan mereka. Betapa jahatnya kita dengan tindakan ini. Maka, Yesus mengingatkan dengan tegas, "Jangan menghakimi". Sebaliknya, Yesus mengajak kita untuk selalu instropeksi diri. Memang, memberi masukan, nasihat, saran dan pendapat kepada orang lain itu selalu baik dan wajib kita lakukan tetapi semua ini berbeda dengan penghakiman. Penghakiman cenderung mencari/menuduhkan kesalahan dan hal-hal buruk kepada orang lain, yang seringkali disertai dengan kebencian atau rasa tidak suka dan tanpa disertai usaha untuk membantu memperbaiki diri. Sementara masukan, nasihat, saran dan pendapat selalu disadari oleh kasih dan mempunyai maksud untuk bersama-sama mengupayakan yang lebih baik.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk lebih banyak melakukan instropeksi diri dan mampukan kami untuk manjauhkan diri dari kebiasaan menghakimi orang lain serta membicarakan kejelekan mereka. Amin. -agawpr-

Senin, 23 Juni 2014 Hari Biasa Pekan XII

Senin, 23 Juni 2014
Hari Biasa Pekan XII
    
Oleh Tuhan kita diberi kurnia istimewa, boleh ikut memakai nama yang dari Allah, nama yang melebihi segala nama: kita disebut orang Kristiani (St. Gregorius dari Nissa)

  
Antifon Pembuka (Mzm 33:22)
 
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, sebab pada-Mulah kami berharap.
 
Doa Pagi

 
Ya Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami tidak mudah menyalahkan orang lain tetapi berani merefleksi diri sendiri, membenahi apa yang kurang pada diri sendiri dan tidak sibuk mencari kesalahan orang lain. Berkatilah kami sepanjang hari ini sehingga dapat berlaku jujur dan rendah hati. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
  
Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (17:5-8.13-15a.18)
 
 
"Tuhan menjauhkan Israel dari hadapan-Nya, dan tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja."
     
Pada waktu itu setelah memenjarakan Raja Hosea, Salmaneser, raja Asyur, menjelajah seluruh negeri Israel. Ia menyerang Kota Samaria dan mengepungnya selama tiga tahun. Dalam tahun kesembilan zaman Raja Hosea raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur, ke dalam pembuangan, dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi Sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai. Hal itu terjadi, karena orang Israel telah berdosa kepada Tuhan, Allah mereka, yang telah menuntun mereka dari tanah Mesir, dari kekuasaan Firaun, raja Mesir, dan karena mereka telah menyembah allah lain. Lagi pula mereka telah hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau Tuhan dari depan orang Israel, dan menurut ketetapan yang telah dibuat raja-raja Israel. Tuhan telah memperingatkan orang Israel dan orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua pelihat, "Berbaliklah kalian dari jalan-jalanmu yang jahat itu; dan tetaplah mengikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku para nabi." Tetapi mereka tidak mau mendengarkan; mereka bertegar hati seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada Tuhan, Allah mereka. Mereka menolak ketetapan dan perjanjian Tuhan, yang telah diadakan dengan nenek moyang mereka, mereka membuang peraturan-peraturan Tuhan yang telah disampaikan kepada mereka. Sebab itu Tuhan sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Selamatkanlah kami dengan tangan kanan-Mu, ya Tuhan, dan jawablah kami.
Ayat. (Mzm 60:3.4-5.12-13)
1. Ya Allah, Engkau telah membuang kami, dan menembus pertahanan kami; Engkau telah murka; pulihkanlah kami!
2. Engkau telah menggoncangkan bumi dan membelahnya; perbaikilah retak-retaknya, sebab kami telah goyah. Engkau telah membuat umat-Mu mengalami penderitaan yang berat, Engkau telah memberi kami minum anggur yang memusingkan.
3. Bukankah Engkau, ya Allah, yang telah membuang kami? Bukankah Engkau tidak maju bersama bala tentara kami? Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sialah penyelamatan dari manusia.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Firman Tuhan itu hidup dan kuat, menusuk ke dalam jiwa dan roh.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:1-5)
    
"Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri."
  
Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, ‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu’, padahal di dalam matamu sendiri ada balok? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
  
Renungan
  
Injil hari ini, walaupun begitu sederhana dan mudah dimengerti, tetapi mengajak kita untuk merefleksikan kembali hidup pribadi kita. Dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi apabila kita adalah seorang pemimpin sebuah organisasi, mengkritik merupakan hal yang begitu mudah. Komentar adalah sesuatu yang biasa. Tidak pernah ada manusia yang sempurna, tetapi kita mempunyai Guru yang sempurna, yaitu Yesus. Yesus mengajak kita untuk merefleksikan setiap kritik yang seringkali dengan mudahnya kita lancarkan kepada orang lain. Kelemahan-kelemahan orang lain terkadang membuat kita tidak tahan untuk mengomentarinya, semisal saja kita sering mengatakan kepada orang lain “kamu egois”, Yesus, guru kita yang sempurna mengatakan “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Mat 7:2), ketika kita mengatakan orang lain egois, sudahkah kita melihat diri kita sendiri? Apakah pribadi kita sudah mampu melepaskan ke-egoisan dalam diri sendiri, sehingga dapat dengan mudahnya menghakimi orang lain? . “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3) sudahkah kita melihat diri sendiri? Kita bisa saja menasihati orang lain dalam kasih untuk saling membangun diri dan bertumbuh di dalam Yesus, tetapi menasihati orang lain tidak sama dengan menghakimi.

Yesus mengatakan “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Mat 7:1). Hak menghakimi bukanlah milik kita, kita hanya manusia kepunyaan dan ciptaan Allah. Menghakimi merupakan sikap dimana kita mampu menuntut orang lain untuk melakukan kebajikan dan kebaikan, tetapi diri sendiri belum mampu melakukan kebajikan dan kebaikan yang kita tuntut pada orang lain. Jika ini yang terjadi, maka kita sendiri pun akan dengan mudah dihakimi orang lain, istilah zaman sekarang akan dicap sebagai “omong doang” dan bahayanya lagi “dihakimi” oleh Allah yang mempunyai hak untuk menghakimi. Menasihati, bukanlah menuntut orang lain untuk melakukan kebajikan dan kebaikan yang kita mau terhadap orang lain. Menasihati dan menghakimi memang sama – sama berusaha untuk membangun hidup orang lain menjadi lebih baik, dan yang terpenting semakin berkembang di dalam Yesus. Tetapi, menasihati memiliki dimensi dimana kita sendiri harus mengakui bahwa “saya sendiri masih belum sempurna”, dan ketika nasihat dilancarkan, kita menyadari betul bahwa saat itu nasihat berbalik kearah kita sendiri.

Menghakimi hanya mempunyai satu arah, yaitu kita sendiri kepada orang yang dituntut, menghakimi hanya menciptakan pribadi yang tidak rendah hati seperti Yesus, sikap menghakimi hanyalah sikap yang dipenuhi dengan ambisi dan kemarahan. Menasihati, mempunyai dua arah, dimana “saya menasihati kamu” dan dengan sendirinya nasihat itu berbalik kearah saya, dan dengan segala keterbatasan manusia, bersama semua orang yang tidak sempurna kita mau membangun kasih terhadap sesama dan Yesus.

Menasihati menuntut sikap rendah hati. Santo Fransiskus dari Assisi, orang kudus yang dengan total mengikuti Injil untuk mencapai kesatuan penuh dalam kasih akan Yesus pernah mengajarkan untuk “menerima setiap kelemahan orang lain dalam kerendahan hati”. Mari, kita belajar untuk tidak menghakimi orang lain, sebab “mulutmu adalah harimaumu”, apa yang kita katakana merupakan cerminan pribadi kita secara tidak langsung. Sebagai anak – anak Allah, kita harus mengenakan kata – kata Kristus yang penuh kasih dan kelembutan.

Godaan yang paling sering dan paling tersembunyi ialah kekurangan iman dari pihak kita. Hal itu tidak menyatakan diri dalam ketidakpercayaan jelas, tetapi de fakto menonjolkan hal-hal lain. Kalau kita mulai berdoa, seribu satu pekerjaan dan kesusahan yang kita anggap sangat mendesak, menampilkan diri sebagai sangat penting. Inilah saatnya, di mana menjadi nyata, kepada apa hati kita memberikan prioritas. Suatu ketika kita menghadap Tuhan sebagai pertolongan kita yang terakhir, tetapi kita tidak selalu benar-benar yakin akan pertolongan-Nya. Pada waktu lain kita menjadikan Tuhan itu sekutu kita, namun hati kita tetap sombong. Dalam semua hal ini kekurangan kita dalam iman menyatakan bahwa kita belum cukup rendah hati: "Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:5). (Katekismus Gereja Katolik, 2732)
Deus Providebit

Makna Komuni


"Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman."

Minggu, 22 Juni 2014
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Ul 8:2-3.14b-16a; Mzm 147:12-13.14-15.19-20; 1 Kor 10:16-17; Yoh 6:51-58
   
"Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman."

Kita semua tahu makanan itu amat penting untuk hidup kita. Untuk itu, Tuhan sejak awal penciptaan, Tuhan selalu menyediakan makanan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (bdk. Kej 1:29-30). Kalau kita mencermati Injil hari ini, tampak juga adanya rantai makanan yang berpangkal dari Allah Bapa dan mengalir kepada kita. "Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, ia akan hidup oleh Aku." (Yoh 6:57). Allah Bapa memberi hidup kepada Yesus sehingga Yesus memperoleh hidup dari Bapa. Kemudian, Yesus memberikan hidup-Nya, yakni tubuh dan darah-Nya untuk kita, sehingga kita pun memperoleh hidup dari Yesus. Maka, kita tidak boleh memutus rantai makanan ini. Karena kita telah menerima hidup dari Yesus, maka kita juga wajib untuk membagikan hidup kita kepada sesama. Untuk itu, pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, marilah kita bersyukur atas makanan dan minuman rohani yang selalu diberikan Tuhan kepada kita melalui Ekaristi sehingga kita mempunyai jaminan hidup, bukan hanya di dunia ini tetapi juga di surga kelak. Semoga, dengan Ekaristi kita pun selalu ingat akan Tuhan yang mencintai, memelihara dan menjamin hidup kita sebagaimana ditegaskan oleh Musa dalam bacaan pertama (Ul 8:2). Selain itu, dengan hati yang penuh syukur itu, marilah kita salurkan anugerah kehidupan yang kita terima dari Tuhan kepada sesama dengan rela berbagi melalui pelbagai pengabdian dan pelayanan yang semakin meneguhkan persekutuan umat manusia dalam kehidupan bersama yang damai dan sejahtera (bdk. 1 Kor 10:16-17).

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk selalu membuka hati dalam menerima makanan dan minuman rohani yang secara istimewa Kauberikan kepada kami melalui Ekaristi. Semoga, kami pun semakin tergerak untuk berbagi hidup melalui aneka pengabdian dan pelayanan kepada sesama. Amin. -agawpr-