"Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"

Rabu, 20 Agustus 2014
Peringatan Wajib St. Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja

Yeh. 34:1-11; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 20:1-16a.

"Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"

Dua bacaan Injil selama dua hari berturut-turut kemarin menunjukkan kepada kita bahwa untuk masuk kerajaan surga dibutuhkan usaha dari pihak kita, yakni kerelaan untuk mau melepaskan dan membagikan apa yang kita miliki kepada sesama. Namun, hanya dengan mengandalkan usaha kita saja, sudah pasti kita tidak bisa. Usaha kita tidak pernah cukup. Coba kita bandingkan, mana yang lebih banyak kita lakukan: "ngamal" atau "ngomel"? Maka, akhirnya, yang menentukan adalah kemurahan Tuhan. Namun, tentu saja, usaha kita tidak sia-sia. Tuhan bermurah hati kepada kita dengan mempertimbangkan usaha kita, terutama kemurahan hati kita untuk berbagi kepada sesama. Bukanlah sudah semestinya kalau para tuan/majikan itu lebih bermurah hati kepada para hamba dan pelayannya yang telah melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh? Kalau kita memperhatikan Injil hari ini, tampak sekali bahwa Tuhan memang bebas menggunakan milik-Nya dan menganugerahkan kepada siapa saja sesuai kehendak-Nya. Namun, semua yang diberi-Nya upah itu adalah mereka yang bekerja untuk-Nya, entah lama atau sebentar, yang penting bekerja untuk-Nya dengan sungguh. Ia tidak memberi kepada mereka yang tidak bekerja untuk-Nya. Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat bagi kita untuk bekerja menjadi pelayan Tuhan. Kapan pun kita memulainya, Tuhan menghargai. Namun, bukan berarti kita bebas menunda-nunda dan berpikir "Ah, nanti saja". Keburu malam dan ga ada lagi kesempatan. Apalagi berpikir "Ah, besuk saja", iya kalau besuk kita masih ada untuk kita. Kalau begitu, sekarang saja. Yang sudah memulai ya tinggal melanjutkan dan meningkatkan. Yang belum, mulailah sekarang. Belum terlambat kok. Tuhan menanti kita untuk mau berkeja bersama-Nya dan untuk-Nya melalui tugas dan pekerjaan kita sehari-hari. Maka, mulai hari ini, kita hayati tugas dan pekerjaan kita sehari-hari bukan sekedar sebagai kewajiban, hobi atau untuk mendapatkan gaji, tetapi sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dan melayani sesama serta melestarikan alam semesta ini. Ia akan menganugerahkan kepada kita ganjaran yang penuh kemurahan hati.

Doa: Tuhan, melalui tugas dan pekerjaan kami sehari-hari, jadikanlah kami pekerja-pekerja yang giat bagi-Mu untuk melayani sesama dan melestarikan alam semesta sehingga kami pun pantas menerima kemurahan hati-Mu. Amin. -agawpr-

Rabu, 20 Agustus 2014 Peringatan Wajib St. Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja

Rabu, 20 Agustus 2014
Peringatan Wajib St. Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja

“Jauhkan dirimu dari skisma sebagai sumber dari segala kesulitan/ kejahatan. Kamu semua harus tunduk pada uskup sama seperti Yesus Kristus kepada Allah Bapa. Tunduk juga kepada para imam seperti kamu kepada para rasul; dan hormatilah para diakon seperti kamu menghormati hukum Tuhan …. Kamu harus menganggap Ekaristi sebagai yang sah, jika dirayakan oleh uskup atau oleh seseorang yang diberinya kuasa. Di mana uskup berada, biarlah kongregasi umat berada, seperti di mana Yesus Kristus berada, di sanalah ada Gereja Katolik. Tanpa supervisi dari uskup, tidak ada baptisan ataupun perayaan Ekaristi diperbolehkan….” (St. Ignatius, Martir, murid langsung dari Rasul Yohanes dan dari Uskup Antiokhia setelah Rasul Petrus)

Antifon Pembuka (Lih. Sir 44:13.14)

Kebijaksanaan orang suci diwartakan para bangsa. Kemuliaan dikabarkan umat dan namanya hidup terus turun-menurun.
    
Pengantar

Bernardus lahir di dekat Dijon, Perancis, pada tahun 1090. Ia adalah seorang abas dan pendiri kedua Ordo Sistersian. Pengaruhnya besar terhadap paus, uskup dan raja pada masanya. Ia berkeliling Eropa dalam usaha mencegah perpecahan dalam Gereja Katolik dan menciptakan kerukunan serta damai. Ia banyak menulis di bidang teologi dan spiritualitas. Bernardus meninggal pada 20 Agustus 1153 dan dinyatakan kudus (santo) pada 18 Januari 1174 di Roma oleh Paus Aleksander III. Berkat buku-buku teologi dan spiritualitas yang ditulisnya, ia diberi gelar sebagai Pujangga Gereja. Peringatannya dirayakan setiap tanggal 20 Agustus. (RUAH)
 
Doa Pagi
 
Ya Allah, segala ketetapan hukum-Mu yang kudus Engkau rangkum dalam hukum kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Semoga dengan menaati perintah-perintah-Mu, kami dapat sampai ke hidup yang kekal. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 
Bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan dari hari biasa atau dari Rumus Umum Pujangga Gereja atau Para Kudus (Biarawan), misalnya: Sir 15:1-6, Mzm 119:9.10.11.12.13.14; R: 12b; Yoh 17:20-26
 
Bacaan dari Kitab Yehezkiel (34:1-11)
   
"Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka sehingga seterusnya tidak lagi menjadi mangsanya."
          
Tuhan bersabda kepadaku, "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya-- oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
  
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4 PS 646/ 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ayat (Mzm 23:1-a.3b-4.5-6; R:1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kau siapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku, Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi, mengiringi langkahku selalu, sepanjang umur hidupku, aku akan diam di rumah Tuhan, sekarang dan senantiasa.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji pikiran dan segala maksud hati.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (20:1-16a)
 
"Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"
    
Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
 
Para pekerja merasa tidak puas atas upah yang diterima sesuai dengan kesepakatan bersama. Tuan kebun anggur pun berkata kepada mereka, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? ... Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”  (Mat 20:13-15).

 Siapakah tuan kebun anggur itu, yang mengaku diri “tidak berlaku adil” dan “karena aku murah hati” ini? Siapakah Dia sehingga orang berani melakukan protes kepada-Nya? Siapakah Dia sampai orang berani memberi nasihat kepada-Nya dan menuduh Dia sebagai Orang yang berlaku tidak adil terhadap para pekerja? Tuan kebun anggur itu adalah Allah.

 Nah, kalau Diai tu Allah, yang alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan-Nya (Rm 11:33a), tidak sepantasnya manusia melakukan protes dan memberi nasihat kepada-Nya seolah Dia tidak berlaku adil. Rasul Paulus, dengan mengutip teks nabi Yesaya, berkata, “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Rm 11:34). Tak seorang pun yang mengetahui pikiran Tuhan, yang tak terselami jalan-jalan-Nya (ay. 33b). Tak seorang pun pernah menjadi penasihat-Nya.

 Sebaliknya, Allah yang adalah “Penasihat Ajaib” (Yes 9:5), yang dibutuhkan oleh orang-orang zaman ini. Mereka mudah berlaku tidak adil terhadap sesama. Karena itu, orang-orang zaman ini yang merasa masih membutuhkan Allah, mau diajar, dinasihati, dan dibentuk oleh Allah melalui firman-Nya, terlebih melalui Yesus, Putra-Nya, akan menjadi orang-orang yang rendah hati, bukannya iri hati. Mereka akan menjadi orang-orang yang murah hati, bukannya kikir. Jika demikian, mereka telah melakukan apa yang Yesus ajarkan, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk 6:36).
  
 Para pengikut Yesus sudah seharusnya memiliki karakter: rendah hati dan murah hati, bukannya iri hati. “Iri hati adalah sampar masyarakat yang tak mengecualikan siapa pun,” kata St. Yohanes Maria Vianney. Karena itu, jika ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, hiduplah rendah hati dan murah hati, serta jauhilah iri hati, sampar masyarakat yang juga bisa merambah keluarga.  (CAFE ROHANI)