| Halaman Depan | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

"Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Minggu, 07 September 2014
Hari Minggu Biasa XXIII - Minggu Kitab Suci Nasional
Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20.
 
"Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
   
Kita adalah makhluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri. Secara naluriah, kita juga lebih suka mempunyai teman dan hidup bersama dengan orang lain daripada sendirian. Kita lebih suka ngobrol dengan orang lain daripada ngomong sendiri (hehehehe). Kita selalu merasa senang kalau bisa berkumpul dengan teman, sahabat, tetangga. Maka, banyak di antara kita giat mengikuti berbagai macam perkumpulan atau organisasi. Sekarang, melalui WA, FB, BB, kita juga membuat grup untuk menjadi tempat ngobrol. Mari kita sejenak berefleksi: apa yang paling banyak kita omongkan bersama teman dan sahabat, baik secara langsung maupun melalui media sosial? Sekedar guyon, omong saru, saling mengejek, bergosip? Atau berdiskusi, berbagi pengalaman iman, berdoa, saling meneguhkan dan memberi masukan? Atau ..., ..., ...? Tuhan menghendaki agar kita berkumpul dalam nama-Nya. "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Apa tandanya, kita berkumpul dalam nama Tuhan? Tidak cukup hanya berdoa, tetapi harus pula ada cinta kasih. "Ubi caritas et amor, Deus ibi est". Di mana ada cinta dan kasih, hadirlah Tuhan. Contoh konkrit cinta kasih itu tampak dalam bagaimana kita bersikap terhadap orang lain yang melakukan kesalahan. Cinta kasih tidak mengijinkan kita untuk menggosipkan dan membicarakan kejelekannya ramai-ramai tanpa kehadiran yang bersangkutan, tetapi mendorong kita untuk mengajaknya omong-omong dari hati ke hati, entah 4 mata atau bersama-sama dengan yang lain. Nah, doa menjadi penting karena kebiasaan kita berdoa bersama dalam setiap perkumpulan kita, diharapkan semakin meneguhkan perkumpulan kita sebagai persekutuan cinta kasih.      
  
Doa: Tuhan, bantulah kami untuk menjadikan perkumpulan kami, sebagai persekutuan cinta kasih. Amin. -agawpr-

Doa Lingkungan

Minggu, 07 September 2014 Hari Minggu Biasa XXIII

Minggu, 07 September 2014
Hari Minggu Biasa XXIII
  
“Tidak diragukan, dan nyatanya telah diketahui di sepanjang abad, bahwa Rasul Petrus yang kudus dan terberkati, kepala para Rasul, tonggak iman dan pondasi Gereja Katolik, menerima kunci- kunci Kerajaan dari Tuhan kita Yesus Kristus, …. dan bahwa kepadanya telah diberikan kuasa untuk melepas dan mengikat dosa, yang seterusnya sampai sekarang dan selamanya hidup dan memutuskan di dalam para penerusnya. Paus Celestinus yang kudus dan terberkati, menurut urutannya, adalah penerus Rasul Petrus dan menempati tempatnya, dan ia mengirimkan kami untuk memberikan tempatnya di dalam sinoda yang kudus ini…. ” (Konsili Efesus th. 431)
     

Antifon Pembuka (Mzm 119:137,124)
 
Engkau adil, ya Tuhan, dan hukum-hukum-Mu benar. Perlakukanlah hamba-Mu sesuai dengan kasih setia-Mu.

You are just, O Lord, and your judgment is right; treat your servant in accord with your merciful love. 
  
Iustus es Domine, et rectum iudicium tuum: fac cum servo tuo secundum misericordiam tuam.
 
Tobat 3 (bds. Mat 18:15-20)

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Putra Allah yang Mahaadil, penuh cinta dan belas kasih. Tuhan, kasihanilah kami.

Engkau menghendaki keselamatan semua orang. Kristus, kasihanilah kami.

Engkau menghendaki hukum cinta kasih diwujudkan, juga bila dituntut pengorbanan. Tuhan, kasihanilah kami.
  
Doa Pagi

Ya Allah, Engkau telah menebus kami dan mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Pandanglah anak-anak kesayangan-mu dengan rela hati, supaya semua orang yang percaya pada Kristus memperoleh kebebasan sejati serta warisan abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (33:7-9)
 
     
"Jika engkau tidak berkata apa-apa kepada orang jahat, Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya dari padamu."
  
Beginilah firman Tuhan, “Wahai engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar suatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! Dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, maka Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya. Sebaliknya, jikalau engkau mengingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = d, 4/4, PS 854
Ref. Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.
Ayat. (Mzm 95:1-2.6-7.8-9; Ul: 8)

1. Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan bersorak-sorai bagi gunung batu keselamatan kita. Biarlah kita memandang nama-Nya dengan lagu syukur, bersorak-sorai bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
2. Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kta. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.
3. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (13:8-10)
   
"Kasih itu kegenapan hukum Taurat."
   
Saudara-saudara, janganlah berhutang apa-apa kepada siapa pun, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman berikut ini: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, serta segala firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (2 Kor 5:19)
Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus, dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.
         
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:15-20)
 
 
"Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali."
    
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Apabila  saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan dikau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
   
Renungan
    
     Setiap hari Minggu kita mendengarkan firman Tuhan. Kita merenungkan makna firman itu bagi hidup kita. Demikian pula halnya pada hari Minggu ini. Tetapi, secara istimewa diharapkan agar kita mulai memperhatikan peran firman Tuhan. Hari Minggu Kitab Suci dirayakan setahun sekali, dengan maksud agar berdampak sepanjang tahun dalam hidup kita sebagai umat Allah.
  
 Mengapa Tuhan mau berbicara kepada kita sepanjang sejarah keselamatan? Mengapa Sang Sabda menjadi manusia? Mengapa Roh Kudus yang mengilhami para penulis Kitab Suci mau membantu kita untuk memahami dan menghayati firman Tuhan? Bacaan hari ini dapat membantu kita ikut mewujudkan harapan Tuhan, yang melalui firman-Nya mau menyelamatkan dan mempersatukan umat manusia.
    
 Injil hari ini menolong kita untuk melihat dosa dalam hubungannya dengan jemaat. Awalnya, menegur di bawah empat mata. Selanjutnya, membawa dua orang saksi. Akhirnya, membuka perkara itu kepada jemaat. Tahap-tahap ini bertujuan untuk mengajak orang Kristen yang berdosa tersebut kembali kepada jemaat. Kalau teguran sampai tahap terakhir tidak diterima oleh yang bersangkutan, ia dipandang sebagai orang yang tidak mengenal Allah. Langkah ini ditempuh sebagai kejutan bagi si pendosa untuk rekonsiliasi dengan jemaat.
   
 Jemaat sebagai instansi mempunyai kuasa untuk mengucilkan atau menerima kembali anggota yang tersesat. Kewibawaan komunitas jemaat menjadi semakin mendalam, karena Yesus hadir bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya. Para murid diberi janji bahwa Allah akan berdiri di belakang keputusan mereka di dunia. Persetujuan jemaat yang bersatu dalam doa bersifat mengikat, karena Allah hadir dalam doa jemaat secara khusus.
   
 Apa artinya hal ini bagi kita? Kita diundang untuk saling menegur dan mengingatkan. Kita semua mempunyai tanggung jawab satu terhadap yang lain. Kita mempunyai tugas dan kewajiban untuk membawa sesama yang berdosa, kembali kepada kebersamaan dalam umat Allah. Namun, teguran itu menjadi semakin indah, kalau dilakukan melalui langkah-langkah yang manusiawi.
   
 Santo Agustinus sudah memberikan peringatan ini kepada jemaat di keuskupannya. Satu-satunya alasan menegur saudaranya yang berdosa adalah berdasar kasih. Jadi, segala alasan lain seperti rasa kesal, jengkel, malu atau apapun harus disingkirkan. Dengan kata lain, hendaknya kita membersihkan hati dari segala perasaan keliru agar dengan hati penuh kasih dapat membantu saudara kita.
   
 Tujuannya, yaitu menolong orang agar selamat. Ibaratnya orang yang dalam bahaya tenggelam. Kita tidak sampai hati melihat orang itu mati, kita ingin menolongnya. Bila dirinya kita selamatkan, maka kita tidak hanya menolong satu orang itu saja, melainkan juga banyak orang lain, seperti anggota keluarga, sahabat-sahabat, atau teman kerjanya.
     
 Semoga firman Tuhan yang kita rayakan secara khusus pada hari Minggu Kitab Suci Nasional ini membuka hati kita untuk makin menyadari akan tanggung jawab sosial, keselamatan sesama dan akan rahasia cinta kasih Allah.  (Chang/RUAH)

Sabtu, 06 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII

Sabtu, 06 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII
 
   
"Aku tidak memerlukan apapun di dunia ini untuk bahagia. Aku hanya butuh melihat Yesus di Surga, Ia yang kini aku lihat dan sembah di atas altar dalam mata iman." — St. Dominikus Savio
 
Antifon Pembuka (Mzm 145:21)
 
Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan, dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.
    
Doa Pagi

Allah Yang Mahabaik, kami bersyukur atas Putra-Mu yang telah hadir di tengah-tengah kami untuk menyatakan kebaikan-Mu. Semoga Roh-Nya selalu menjiwai kami sehingga kami pun selalu berusaha untuk menciptakan kebaikan bersama sebagai cerminan dari kebahagiaan surgawi yang kami harapkan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
        
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 4:6b-15)
     
"Kami ini lapar, haus, dan telanjang."
               
Saudara-saudara, dari aku dan Apolos hendaknya kalian belajar, apa artinya ungkapan “jangan melampaui yang ada tertulis.” Jangan ada di antara kalian yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu lebih dari yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Adakah di antara milikmu yang bukan pemberian? Dan jika itu memang pemberian, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah itu bukan pemberian? Kalian telah kenyang, kalian telah kaya, dan tanpa kami kalian telah memerintah; alangkah baiknya kalau benar demikian, yakni kalau kalian menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kalian. Menurut pendapatku, Allah memberi kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami ini bodoh oleh karena Kristus, tetapi kalian arif dalam Kristus. Kami ini lemah, tetapi kalian kuat. Kalian mulia, tetapi kami hina. Sampai saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara. Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki-maki, kami memberkati; kalau kami dianiaya kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi seperti sampah dunia, seperti kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk membuat kalian malu, melainkan untuk menegur kalian sebagai anak-anakku yang kukasihi. Sebab sekalipun kalian mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kalian tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang telah menjadi bapamu dalam Kristus Yesus, oleh Injil yang kuwartakan kepadamu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.
Ayat. (Mzm 145:17-18.19-20.21)
1. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
2. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, Ia mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka. Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.
3. Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.
    
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Akulah jalan, kebenaran, dan sumber kehidupan, sabda Tuhan; hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa
          
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:1-5)
 
"Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"
 
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?" Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan

  
Seorang guru yang baik, pasti membela murid-murid-Nya ketika mereka diserang oleh orang atau kelompok lain. Demikianlah Yesus membela murid-murid-Nya ketika mereka dipersalahkan oleh orang-orang Farisi. Saya membayangkan bahwa pada waktu itu, mereka sungguh kelaraparan, mungkin juga lelah dan haus setelah mengikuti Yesus. Lukas menyebutkan bahwa setelah mereka meninggalkan jala dan mengikuti Yesus, Yesus pergi ke sebuah kota (Luk 5:12) lalu mengundurkan diri ke tempat sunyi (Luk 5:16), kemudian mengajar dan menyembuhkan banyak orang sakit di sebuah rumah (Luk 5:17-26), setelah itu pergi keluar dan berjalan entah berapa jauhnya dan berhenti untuk makan bersama di rumah Lewi (Luk 5:27-29). Jadi, rupanya mereka memang berjalan terus seperti yang dinyatakan Matius bahwa Yesus berkeliling ke semua kota dan desa (Mat 9:35) dan para murid selalu mengikuti-Nya. Nah, pada suatu hari Sabat, mereka berjalan melewati ladang gandum dan para murid merasa lapar sehingga mereka memetik bulir-bulir gandum dengan tangannya lalu memakannya. Tindakan mereka ini bukanlah pencurian sebab hukum Yahudi memang mengizinkan orang yang sedang dalam perjalanan memetik gandum milik orang lain dengan tangan, bukan dengan sabit (Ul 23:25). Maka, yang dipermasalahkan orang Farisi bukan soal pencurian tetapi karena tindakan itu dilakukan pada hari sabat (=sabtu). Larangan ini termasuk salah satu dari 39 larangan sabat yang dimiliki orang Yahudi. Larangan sabat harus dipelihara karena sabat itu adalah hari yang kudus (Kel 31:14). Nah, di sini kekudusan Yesus itu melebihi kekudusan hari sabat. Ia dikandung dari Roh Kudus (Mat 1:18), Ia telah dikuduskan bagi Allah (Luk 2:23), Roh Kudus telah turun ke atas-Nya (Luk 3:22) sehingga Ia penuh dengan Roh Kudus (Luk 4:1), bahkan setan pun mengakui-Nya sebagai Yang Kudus dari Allah (Luk 4:34). Jadi jelas bahka Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat (Luk 6:5). Dan karena Ia mempunyai kuasa atas hari sabat, Ia pun punya wewenang untuk mengesampingkan aturan sabat demi keselamatan manusia. Maka, pada hari sabat Ia menyembuhkan orang sakit (Luk 6:6-11) termasuk mengizinkan murid-muridnya untuk memetik gandum dan memakannya supaya mereka tidak kelaparan dan tetap mempunyai daya untuk mengikuti-Nya. 
 
Doa: Tuhan, semoga kami selalu menjadikan Engkau sebagai hukum tertinggi dalam hidup kami, yakni dengan menjadikan Engkau sebagai dasar setiap sikap dan tindakan kami. Amin. -agawpr-

Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Jumat, 05 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan

1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5:33-39.

Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Salah satu pesan pokok dari kutipan Injil hari ini, dengan penekanan pada ayat yang saya kutip di atas, adalah pentingnya kita hidup secara kontekstual. Artinya, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan tempat dan situasi di mana kita berada secara aktual, tanpa kehilangan jati diri kita sebagai orang Kristiani. Seperti anggur. Anggur itu akan selalu menyesuaikan dengan bentuk botol atau kantong yang menjadi tempat/wadahnya tanpa kehilangan rasanya sebagai anggur. Mari kita belajar dari Beata Teresa dari Kalkuta yang kita peringati hari ini. Teresa berasal dari Albania (lahir 1910) lalu hijrah ke Irlandia dan bergabung dengan Suster-Suster Loreto di Dublin (1928). Setahun kemudian, ia berpindah ke Darjeeling, India, untuk menjalani masa novisiat dan setelah kaul pertama (1931), ia diutus berkarya di Kalkuta sebagai pengajar di SMA St Maria, sekolah khusus anak perempuan untuk orang-orang miskin. Perjumpaannya dengan banyak orang miskin di Kalkuta membuatnya tergerak untuk melayani mereka. Ia merasa yakin bahwa Kristus memanggil dan mengutusnya untuk melayani orang-orang miskin di kota itu. Maka, sejak tahun 1946, ia memohon kepada pimpinan biara dan uskup setempat untuk diperkenankan mewujudkan karya pelayanannya itu. Namun, ia tidak mudah mendapatkan ijin tersebut. Baru setelah 1,5 tahun berusaha, akhirnya awal tahun 1948, ia diizinkan oleh Uskup Agung Kalkuta, Mgr Ferdinand PĂ©rier SJ, untuk menggeluti panggilan barunya. Ia pun meninggalkan Biara Loreto dan setelah 6 bulan berlatih dasar-dasar medis, ia terjun ke daerah paling kumuh di Kalkuta untuk pertama kalinya. Di benaknya hanya ada satu tujuan, “merawat manusia yang paling tidak diinginkan, paling tidak dicintai, dan paling tidak dirawat” sepanjang hidupnya. Untuk mendukung karyanya itu, Bunda Teresa membuka sekolah dan mendirikan rumah bagi orang-orang yang sekarat. Pada bulan Oktober 1950, Vatikan memberi pengakuan kanonik atas kongregasi yang didirikannya, Misionaris Cinta Kasih, dengan 12 anggota. Pada saat wafatnya (1997), anggota Misionaris Cinta Kasih sudah berjumlah sekitar 4.000 orang, dengan ribuan relawan, yang menjadi anggota 610 lembaga yang tersebar di 123 negara. Demikianlah, Bunda Teresa. Dia bagaikan anggur yang berasal dari Albania dengan rasa khas kristiani, yakni cinta kasih, dan ditempatkan di kantong kota Kalkuta. Beliau sendiri mengatakan: “Menurut darah, saya seorang Albania. Menurut kewarganegaraan, saya seorang India. Menurut iman, saya seorang biarawati Katolik. Menurut panggilan, saya milik dunia. Sementara hati saya, sepenuhnya saya milik Hati Yesus.” Luar biasa! 

Doa: Beata Teresa, doakanlah kami untuk mampu menghadirkan cita rasa khas kristiani, yakni cinta kasih, kepada siapa pun dan di mana pun kami berada. Amin. -agawpr-

Jumat, 05 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan

Jumat, 05 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan
    
Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati. (Katekismus Gereja Katolik, 108)
    
Antifon Pembuka (Mzm 37:4-5)
 
Carilah kebahagiaanmu dalam Tuhan, Ia akan meluluskan keinginan hatimu. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhan, percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.

Doa Pagi
 
Ya Allah, melalui Putra-Mu, Engkau telah menaburkan benih sabda-Mu dalam diri kami. Jadikanlah hati kami tanah yang subur dan siap sedia menerima sabda-Mu sehingga kami menghasilkan buah iman dan cinta kasih yang melimpah. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 4:1-5)
     
"Tuhan akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati."
    
Saudara-saudara, hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.
Ayat. (Mzm 37:3-4.5-6.27-28.39-40)
1. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
2. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhandan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
3. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab Tuhan mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.
4. Orang-orang benar diselamatkan oleh Tuhan; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong mereka dan meluputkan mereka, Ia meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik dan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. Aku ini cahaya dunia, sabda Tuhan. Yang mengikuti Aku, hidup dalam cahaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (5:33-39)
  
"Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat mempelai akan berpuasa."
    
Sekali peristiwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepada Yesus, "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang. Demikian pula murid-murid orang Farisi. Tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Yesus menjawab, "Dapatkah sahabat mempelai disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya mempelai diambil dari mereka; pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Yesus mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka, "Tiada seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Sebab jika demikian, yang baru itu pun akan koyak. Apalagi kain penambal yang dikoyakkan dari baju baru tidak akan cocok pada baju yang tua. Demikian juga tiada seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua. Sebab jika demikian, anggur baru itu akan mengoyakkan kantong tua itu, lalu anggur akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tiada seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata, 'Anggur yang tua lebih baik'."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
  
Ada cerita sederhana penuh makna. Suatu hari ada nelayan kecil yang sedang tidur di bawah pohon kelapa di tepi pantai. Lalu pedagang ikan melewatinya. Terjadilah percakapan di antara mereka. “Pak, jam berapa sekarang?” tanya pedagang. “jam 10,” jawab nelayan kecil. “Lho, Bapak kok sudah istirahat?” tanyanya tambah heran.

 Kemudian nelayan ganti bertanya, “Terus, apa yang harus saya kerjakan?” “Bapak harus bekerja keras!” “Kerja keras, buat apa?” “Cari ikan yang banyak!” “Kalau ikannya sudah banyak?” “Beli kapal lebih besar!” “Kalau kapalnya sudah lebih besar?” “Nangkap ikannya lebih banyak!” “Kalau sudah banyak?” “Bangun pabrik!” “Kalau sudah bangun pabrik?” “Dapat banyak uang!” “Kalau sudah dapat banyak uang?” “Istirahat!” “Lho, saya sekarang sedang istirahat....”

  Nelayan kecil ini nampaknya menikmati hidupnya dan bahagia. Dia merasa sudah cukup dengan keadaannya. Bukankah orang bahagia itu tidak diukur dari jumlah kekayaannya? Benar, namun sebagai makhluk yang berakal budi, kita hendaknya selalu berusaha mengembangkan diri.

 Hidup ini adalah sebuah proses. Hidup ini bukanlah suatu “pemenuhan diri” tetapi “pengembangan diri”. Orang yang mengembangkan diri tidak akan pernah berhenti berkreasi. Dia akan terus berproses membina diri untuk menggapai kebahagiaan hidup bersama. Hidup ini harus mempunyai tujuan “menjadi” bukan “memiliki”. “Petrus, engkau Kuubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia,” sabda Yesus.

 Memang, Tuhan telah “menangkap” kita menjadi murid-Nya. Kita perlu terus membina kualitas iman kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Hal ini perlu kita mulai sejak dini di tengah keluarga. Keluarga Katolik mesti membiasakan diri untuk berdoa, membaca Kitab Suci dan merayakan Ekaristi bersama. Suasana iman seperti ini niscaya mengundang Tuhan Yesus untuk selalu hadir di tengah keluarga (Luk 5:33-39).

 Yesus juga memberikan makna baru perihal berpuasa. Semua perlu kita pahami dalam kerangka relasi dengan Yesus. Jadi, mulai sekarang kita menghayati hidup dan karya kita secara baru, tidak cepat puas diri. Tuhan memberi kita waktu dan kemampuan untuk terus berkembang ke arah lebih baik. Mari kita perbarui hidup kita mulai dari keluarga kita masing-masing! (Willy/Cafe Rohani)

Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)

Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)

"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

Kamis, 04 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII
 
  
1Kor. 3:18-23; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 5:1-11
  
 "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
  
Mungkin, kita juga pernah mengalami seperti Petrus dan kawan-kawannya: kita sudah berkeja keras tetapi tanpa hasil. Padahal, yang kita kerjakan itu sesuai dengan keahilan dan profesi kita, seperti halnya yang dilakukan Petrus. Ia adalah nelayan sehingga pasti ahli menangkap ikan, tapi kali ini tidak ada hasilnya. Dalam situasi seperti itu, ketika kita tidak hanya nglokro tetapi nyaris putus asa, Tuhan datang menghampiri, mungkin melalui ide atau inspirasi yang tiba-tiba muncul atau kita dapat dalam doa atau dalam teks Kitab Suci, atau mungkin melalui orang lain yang memberikan nasihat kepada kita. Bisa jadi, orang tersebut lebih muda dari kita dan kita anggap kurang berpengalaman sehingga kita meragukannya. Tapi jangan salah, seringkali Tuhan justru memakai orang yang kecil dan sederhana untuk menyatakan rahasia-Nya (Luk 10:21). Sama halnya dengan yang terjadi pada Yesus dan Petrus. Yesus itu bukan nelayan tetapi tukang kayu, masak memberi nasihat tentang menangkap ikan kepada Petrus yang profesinya sebagai nelayan. Namun, ketika Petrus mau mendengarkan dan melaksanakan, ternyata hasilnya luar biasa. Ia menangkap sejumlah besar ikan sehingga ia harus mengajak teman-temannya untuk bekerjasama menarik jalanya dan mengisi perahu-perahu mereka (Luk 4:6-7). Menghadapi itu semua, Yesus yang semua ia kenal sebagai anak tukang kayu dan seorang guru yang mengajar (Luk 4:5), kini dikenalnya sebagai Tuhan (Luk 4:8). Ketika Yesus disebutnya sebagai Guru, Petrus menuruti perintah-Nya (Luk 4:5), apalagi setelah ia mengimani-Nya sebagai Tuhan, maka ia pun bersedia mengubah haluan hidupnya, karena Tuhan menggendaki demikian. Ia meninggalkan profesinya sebagai penjala ikan untuk mengikuti Yesus, Guru dan Tuhannya. Demikianlah kehidupan beriman kita. Tanpa Tuhan, usaha dan kerja keras kita akan sia-sia dan tidak membuahkan hasil. Namun, bersama Tuhan dan kalau kita mengikuti kehendak-Nya, usaha dan kerja keras kita akan membawa hasil yang melimpah. Namun, selain bekerjasama dengan Tuhan, kita juga harus membangun kerjasama dengan orang lain, seperti yang dilakukan Petrus dan teman-temanannya. Dan kalau Tuhan menghendaki kita untuk berubah haluan, kita pun harus mengikuti dengan setia. Sebab, apa pun yang Tuhan kehendaki untuk kita, pastilah yang terbaik.
  
Doa: Tuhan, semoga kami selalu melibatkan Engkau dalam setiap usaha dan pekerjaan kami supaya dengan demikian kami dapat mencapai hasil yang optimal. Amin. -agawpr-
 

Kamis, 04 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII

Kamis, 04 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII

“Tuhan tidak puas dengan hanya penyembuhan lahir. Ia juga ingin mengobati jiwa!” (St. Leo Agung)
  
Antifon Pembuka (1Kor 3:23)
   
Segala-galanya itu milikmu. Tetapi kalian sendiri milik Kristus dan Kristus milik Allah.
  
Tobat 3 (bds. Luk 5:1-11)

   
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sabda Bapa, Kabar Gembira bagi umat manusia, pembawa keselamatan dan damai sejahtera. Tuhan, kasihanilah kami. 
   
Engkaulah yang memilih dan memanggil murid-murid-Mu untuk Engkau bimbing dan Engkau utus sebagai penerus Kabar Gembira ke seluruh dunia. Kristus, kasihanilah kami.

Engkaulah yang berjanji akan selalu mendampingi para murid sampai akhir zaman. Tuhan, kasihanilah kami.
   
Doa Pagi
 
Ya Allah, Engkau memberi kepercayaan kepada manusia segala yang ada di bumi ini, juga kami sendiri. Pandanglah kelemahan dan keterbatasan kami. Buatlah kami sanggup untuk melaksanakan tugas apa pun yang Kaukehendaki untuk kami jalankan, dengan kekuatan yang kami terima dari Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin. 
 
Allah mengatasi segala yang ada di dunia ini. Oleh karena itulah Paulus menasihatkan supaya jemaatnya tidak bermegah atas kehebatan diri mereka atau atas orang-orang yang mereka jadikan tokoh. Semua mesti tetap berpegang pada Allah sendiri sebagai pemilik segala sesuatu.
     
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 3:18-13)
  
"Semuanya itu milik kamu, tetapi kamu milik Kristus, dan Kristus milik Allah."
     
Saudara-saudara, janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri.Jika di antara kalian ada yang menyangka dirinya berhikmat menurut penilaian dunia ini, hendaknya ia menjadi bodoh untuk menjadi berhikmat. Sebab hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis, “Allah menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri.” Dan di tempat lain “Tuhan tahu rancangan-rancangan orang berhikmat; sungguh, semuanya sia-sia belaka!” Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun yang akan datang. Semua itu milik kalian, tetapi kalian milik Kristus, dan Kristus milik Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya.
Ayat. (Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6)
1. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
2. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.
3. Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub."

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Mari, ikutlah Aku, sabda Tuhan, dan kalian akan Kujadikan penjala manusia.
  
Ukuran logika dan kebiasaan manusia tidak bisa dipakai untuk mengukur kemungkinan-kemungkinan yang datang dari Allah. Petrus dan teman-temannya mencari ikan dengan kebiasaan dan logika yang mereka miliki. Namun Yesus menunjukkan kepada mereka ada kuasa yang mengatasi kebiasaan dan logika mereka.
      
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (5:1-11)
 
"Mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus."
     
Pada suatu ketika Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret. Orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan sabda Allah. Yesus melihat dua buah perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahu itu sedikit jauh dari pantai. Lalu Yesus duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Selesai berbicara Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain, supaya mereka datang membantu. Maka mereka itu datang, lalu mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Melihat hal itu Simon tersungkur di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa.” Sebab Simon dan teman-temannya takjub karena banyaknya ikan yang mereka tangkap. Demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedus, yang menjadi teman Simon. Yesus lalu berkata kepada Simon, “Jangan takut. Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah menghela perahu-perahunya ke darat, mereka lalu meninggalkan segala sesuatu, dan mengikuti Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
    
Renungan
    
Tak ada orang yang merasa layak di hadapan Allah yang Mahabesar. Itulah yang dirasakan Petrus ketika melalui tangannya Yesus membuat mukjizat penangkapan ikan yang sangat banyak jumlahnya. Ketidaklayakan Petrus tidak diperhitungkan Tuhan Yesus. Dia tetap memilih agar Petrus mengikuti Dia dan menjadi penjala manusia. Dosa dan kelemahan adalah penyebab utama kita merasa tidak layak untuk mengikuti dan melayani Tuhan. Meskipun begitu kita harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah memperhitungkan dan mengingat-ingat kesalahan dan dosa kita. Percayakah kita akan hal ini?
   
Doa Malam
         
Tuhan yang Mahapengasih, tanpa menyadari kehadiran-Mu, semua terasa hampa. Ampunilah dosaku dan terimalah segala usahaku. Berilah istirahat yang tenang sepanjang malam ini agar besok dapat memuji-Mu dengan semangat baru dan hati gembira. Amin.
   
      
RUAH

Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.

Rabu, 03 September 2014
Peringatan Wajib St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja 

    
1Kor. 3:1-9; Mzm. 33:12-13,14-15,20-21; Luk. 4:38-44.
 
Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.
  
Ketika membaca perikop ini, saya teringat dengan beberapa pengalaman saat melayani di paroki. Setiap kali selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah umat, terutama mereka yang jompo dan sakit. Jadwal yang rutin pasti saya buat adalah setiap menjelang Natal dan Paskah untuk memberikan pelayanan sakramen pengakuan dosa. Kalau ada waktu, masih ditambah pada saat-saat lain. Setiap kali saya berkunjung di salah satu umat, biasanya umat yang lain, minimal pengurus lingkungan dan prodiakon juga berkumpul bersama di rumah tersebut. Tidak ketinggalan, mereka yang sakit dan jompo tetapi masih bisa berjalan, ikut berkumpul pula. Saya bayangkan suasananya seperti ketika Yesus berkunjung ke rumah mertua Simon dan menyembuhkan ibu mertuanya lalu banyak orang juga datang ke sana, termasuk mereka yang sakit untuk disembuhkan-Nya - meski saya tidak bisa menyembuhkan mereka yang sakit, seperti Yesus. Apa yang dibuat oleh Yesus dengan keluar dari rumah dan datang ke tempat umat untuk memberikan pelayanan ini juga dilakukan oleh St. Gregorius Agung (540-604), yang kita peringati hari ini. Ia berasal dari kalangan aristokrat dan pernah menjadi pejabat tinggi di Roma namun kemudian meninggalkan jabatan tersebut untuk masuk biara. Hartanya ia gunakan untuk membangun biara-biara baru. Namun ia tidak saja hidup di dalam biara untuk berdoa dan bersemadi, tetapi juga giat di luar: membantu orang-orang miskin dan tertindas, menjadi diakon di Roma, menjadi Duta Besar di istana Konstantinopel. Pada tahun 586 ia dipilih menjadi Abbas di biara Santo Andreas di Roma. Di sana ia berjuang membebaskan para budak belian yang dijual di pasar-pasar kota Roma. Ketika menjadi Paus (590), dia pun tetap punya perhatian yang besar pada pelayanan keluar, khususnya dalam membebaskan kaum miskin dan lemah. Dari sini, saya semakin meyakini pentingnya para imam untuk mau 'meninggalkan' gereja, pastoran dan biara supaya bisa berkunjung ke rumah-rumah umat. Saya yakin, pastoral semacam ini sangat dikehendaki oleh Yesus, bahkan Ia sendiri memberi teladan. Maka, marilah kita berdoa untuk para imam kita agar mereka selalu sehat dan bisa membagi waktu dengan baik, sehingga dapat melaksanakan kunjungan umat atau kunjungan keluarga.

Doa: Tuhan, berkatilah para imam di paroki kami agar mereka selalu sehat dan dapat membagi waktu dengan baik supaya mereka dapat senantiasa datang mengunjungi dan menyapa kami, sebagaimana diteladankan oleh Yesus. Amin. -agawpr-

Pertemuan III: Ibadah dan Kehidupan


BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2014
KELUARGA BERIBADAH DALAM SABDA
oleh Rm. F.X. Didik Bagiyowinadi Pr
LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA 2014

Pertemuan III: Ibadah dan Kehidupan

TUJUAN:
1. Peserta menyadari bahwa ibadah sejati tidak berhenti pada urusan ritual, apalagi untuk “menyuap” Tuhan, tetapi harus berbuah dalam kehidupan sehari-hari yang diwarnai perilaku adil dan benar.
2. Peserta menyadari bahwa yang terutama dikehendaki oleh Tuhan adalah perwujudan semangat keadilan dan kebenaran dalam keluarga dan di masyarakat, dan tidak mudah berpuas diri dengan kesemarakan ritual ibadah dan kelimpahan persembahan.

GAGASAN POKOK:
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Hal ini tampak dari tempat ibadah yang terus dibangun dan selalu dipenuhi jemaat, terlebih saat hari raya. Di tempat-tempat umum pun aneka simbol keagamaan mudah kita jumpai. Namun, penuh sesaknya tempat ibadah dan kesemarakan ritual ibadah apakah sudah berpengaruh pada kehidupan bersama yang diwarnai keadilan dan kebenaran? Atau, jangan-jangan dalam masyarakat kita sebe-narnya terjadi proses sekularisasi, pembedaan antara praktek ritual di tempat ibadah dan pengamalan iman dalam kehidupan? Perayaan ibadah di Indonesia memang berlangsung meriah, namun mungkin belum berbanding lurus dengan perilaku benar, adil, jujur, dan kerelaan berkurban bagi sesama yang menderita. Bahkan korupsi kadang dianggap sebagai “budaya” dan tak jarang merasuk pula dalam lembaga keagamaan. Maka, perlu diwaspadai bila ibadah itu sebatas pemenuhan tindakan ritual sesuai norma yang digariskan, tetapi tidak berbuah dalam ibadah sosial dalam kehidupan sehari-hari. Orang mudah merasa puas diri bila sudah melakukan ritual ibadah secara semarak dan sedetail mungkin seturut rubrik-rubrik upacara yang telah ditentukan, namun hatinya belum juga tergerak untuk lebih memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Padahal Tuhan Yesus menghendaki bahwa melalui kita yang beribadah dan menyambut Ekaristi, berkat-Nya kita teruskan sehingga Sang Roti Hidup itu sungguh memberikan hidup bagi dunia di sekitar kita (lih. Yoh 6:51). Persoalan makin pelik, manakala ibadah justru dimaksudkan untuk menyuap Tuhan agar tidak murka atas perilaku kita yang bertentangan dengan se-mangat keadilan dan kebenaran. Dalam konteks inilah kritik Tuhan melalui nabi Amos perlu kita perhatikan. Amos menyatakan bahwa yang dikehendaki Tuhan bukanlah kelimpahan kurban persembahan ataupun kesemarakan ritual ibadah, melainkan perwujudan keadilan dan kebenaran. Ibadah se-mestinya menggerakkan orang semakin memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Umat Kerajaan Israel yang tidak mau mengindahkan peringatan Tuhan pun diancam akan dibuang ke negeri asing. Melalui nubuat Amos 5:21-27 ini kita diajak mengupayakan agar ibadah keluarga kita pun berbuah dalam perilaku adil dan benar. Kasih kepada Tuhan mesti mengalir pada kasih kepada sesama, dimulai di antara anggota keluarga kita dan selanjutnya meluas di tempat kerja, di gereja, dan di masyarakat.

PENGANTAR
   
Para saudara terkasih, beribadah kepada Tuhan merupakan ungkapan iman kita. Ketika beribadah kepada Tuhan kita membawa aneka persembahan dan menyemarakkan ibadah dengan nyanyi-an dan musik. Kita merasa puas dan senang bila ibadah kita berlangsung dengan khidmat, meriah, dan mengena di hati. Apakah cukup demikian? Dalam pertemuan ketiga ini kita akan merenungkan keterkaitan antara ibadah dan kehidupan. Kita akan merenungkan kritik Tuhan sendiri melalui nabi Amos 5: 20- 27. Ternyata Tuhan bisa menolak kurban persembahan dan ibadah yang meriah. Sebab yang paling dikehendaki Tuhan adalah perwujudan keadilan dan kebenaran. Ibadah Ritual mesti berbuah dalam ibadah sosial yang memperjuangkan keadilan sosial dan kasih kepada sesama yang menderita. Mari sejenak kita siap hati. 
 

DOA PEMBUKA
  
Pemandu mengajak umat untuk berdoa memohon agar Roh Kudus mem-bangkitkan iman seluruh peserta, mengarahkan seluruh diri kepada Sabda Allah, dan membuka hati seluruh peserta agar dapat menerima kehendak Allah. Pemandu dapat menyusun sendiri doa kepada Roh Kudus. Doa itu juga dapat disampaikan dalam nyanyian (MB 448, PS 565-567). 

        
Allah yang maha kuasa dan maha adil, kami bersyukur bahwa kami dapat senantiasa mendengarkan Firman-Mu dan beribadah kepada-Mu. Syukur pula atas Ekaristi Kudus yang senantiasa boleh kami rayakan bersama. Bantulah kami dengan rahmat-Mu agar mampu meneruskan berkat-Mu kepada semua orang yang kami jumpai. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin. 

LECTIO
  
1. Membaca Teks (Amos 5:21-27)

Teks Amos ini dapat dibacakan bergantian per ayat, satu orang satu ayat. Kemudian masingmasing menyimak teks kembali dengan membaca dalam hati.
2. Penjelasan
Para peserta diajak untuk mendalami teks Kitab Suci yang baru saja dibacaka. Dalam pendalaman ini pemandu dapat menggunakan salah satu dari dua cara berikut:



1. Peserta diminta menyampaikan pertanyaan informatif seputar teks untuk dibicarakan. Gagasan Pokok dan penjelasan berikut ini dapat membantu pemandu dan peserta agar diskusi informatif dan tematis berjalan lancar. Jadi, dibahas sejauh diperlukan dalam proses pendalaman teks Kitab Suci.
2. Pemandu memberikan penjelasan tentang isi perikop berdasarkan Gagasan Pokok dan Penjelasan Teks.
  
Nabi Amos semula adalah pemungut buah ara hutan (Am 7:14) dan peternak domba dari Tekoa, wilayah kerajaan Yehuda atau Kerajaan Selatan (Am 1:1). Dia diutus Tuhan untuk bernubuat di Kerajaan Israel atau Kerajaan Utara, semasa raja Yerobeam II (786-746 SM) menjadi raja Israel (bdk. 2 Raj 14:23-29). Pada masa Yerobeam II Kerajaan Israel mengalami kemakmuran. Orang-orang kaya memiliki rumah musim dingin dan musim panas, bahkan rumah-rumah gading (3:15) atau rumah-rumah dari batu pahat (5:11). Ada pula yang tidur di tempat tidur dari gading (6:4). Sementara wanita Samaria digambarkan sebagai lembu Basan yang mabuk kemewahan (4:1). Namun, kemakmuran yang dinikmati
segelintir orang itu tidak berdampak pada keadilan sosial. Demi uang maka orang benar dan orang miskin dijual (2:6). Perempuan-perempuan muda juga dilecehkan (2:7). Orang kaya dan berkuasa suka memeras orang lemah dan menginjak orang miskin (4:1). Keadilan bisa diubah dan kebenaran diabaikan (5:7). Para hakim mau menerima uang suap dalam pengadilan sehingga orang benar dan orang miskin pun terjepit (5:12). Perikop yang kita renungkan berbicara kritik Tuhan melalui Amos atas ibadah Israel yang tidak membawa dampak dalam keadilan sosial. 


Tuhan menolak Kurban Israel (ay. 21-23). Umat Israel suka dengan segala kemeriahan ibadah dan upacara kurban. Mereka beribadah di Betel dan di Gilgal (4:4). Di Betel terletak bait suci kerajaan (7:10), yang asal mulanya dikaitkan dengan mimpi Yakub di Betel (Kej 28:10-22), bahkan Abraham (Kej 12:8). Sementara bait suci di Gilgal menjadi pusat keagamaan di zaman Saul (1 Sam 11:15) dan Daud (2 Sam 19:15), dan masih dipakai pada zaman Amos (4:4, 5:5).
 

Orang Israel memang rajin mengikuti perayaan ibadah. Setidak-nya tiga kali setahun mereka diwajibkan menghadap Tuhan (bdk. Kel 23:14), yakni pada hari raya roti tidak beragi, Hari Raya Tujuh Minggu atau Pentakosta, dan hari raya pondok daun (lih. Im 23:4- 44). Di tempat ibadah itu orang Israel mempersembahkan kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban keselamatan (Am 5:22). Kurban bakaran berupa lembu sapi, kambing domba, atau burung tekukur/ merpati disembelih lalu dibakar di mezbah (lih. Im 1). Kurban sajian berupa 12 roti dari gandum terbaik dalam dua susunan yang diganti setiap hari Sabat dan kemudian dimakan oleh para imam (bdk. Im 2). Sementara kurban keselamatan yang dimaksudkan sebagai ucapan syukur atau pembayaran nazar dilakukan dengan mempersembahkan lembu, atau kambing/domba (lih. Im 3). Aneka kurban persembahan yang menjadi kurban api-apian bagi Tuhan ini diyakini baunya akan menyenangkan hati Tuhan (Im 1:9.13.17; 3:5,dst). Mereka juga menyertai ibadah ini dengan kemeriahan nyanyian dan iringan lagu gambus nan merdu (Am 5:23). Mereka mengira bahwa dengan banyaknya kurban persembahan dan meriahnya ritual upacara maka Tuhan akan berkenan dan membuat hubungan mereka dengan Tuhan tetap baik. Namun sayang, ternyata kurban berlimpah dan ibadah meriah itu justru ditolak oleh Tuhan. Mengapa? 

Keadilan dan Kebenaran, Bukan Kurban (ay. 24-25). Sebenarnya bukan kurban persembahanlah yang dikehendaki Tuhan, melainkan ucapan syukur dan pemenuhan nazar (Mzm 50:7-14). Tuhan tidak berkenan bila persembahan itu dimaksudkan untuk menutup mata Tuhan atas perilaku pembawa persembahan yang tidak benar dan tidak adil. Percuma saja mereka beribadah bila mereka tetap melakukan ketidakadilan (lih. 2:6.7; 4:1; 5:7.12), apalagi bila kurban persembahan itu justru hasil pemerasan dan ketidakadilan. Kurban persembahan dan kesemarakan ritual harus berbuah dalam keadilan sosial dan kasih kepada sesama yang menderita. Dalam kitab Amos keadilan (mispat) dikaitkan dengan sikap adil dalam pengadilan di pintu gerbang kota sehingga orang benar dan orang lemah terlindungi. Sementara kebenaran (tsedaqah) adalah milik mereka yang memenuhi tanggung jawab dalam kehidupan bersama. Tuhan mengingatkan bagaimana selama 40 tahun di padang gurun nenek moyang Israel tidak mempersembahkan kurban sembelihan dan kurban sajian, namun tetap berkenan di hati Tuhan (Am. 5:25). Karena bukan kurban persembahan yang Tuhan kehendaki, melainkan pelaksanaan kebenaran dan keadilan.
 

Ancaman Hukuman (ay. 26-27).
Sebagai konsekuensi atas ibadah mereka yang tidak dibarengi dengan keadilan dan kebenaran, Tuhan akan membuang mereka jauh ke seberang Damsyik, yakni di negeri Asyur. Hal ini terjadi pada tahun 722 SM. Pada saat itu mereka juga akan membawa berhala-berhala mereka. Sakut adalah nama dewa bintang dari Mesopotamia yang dikaitkan dengan planet Saturnus. Disebut “rajamu” bisa jadi karena dewa Saturnus dipandang sebagai raja utama bagi bangsa Israel. Demikian pula Kewan, “dewa bintangmu” adalah nama berhala lain yang patungnya juga dibuat oleh orang Israel. Dengan demikian ritual ibadah Israel juga diwarnai dengan praktek sinkretisme, seperti yang telah diwariskan oleh Yerobeam, raja pertama Kerajaan Israel yang membuatkan patung lembu emas di Betel dan di Dan (lih. 1 Raj 12:25-33). Di tanah Israel mereka telah mengimpor dan membuat patung dewa-dewi bintang orang Mesopotamia. Namun ironisnya, mereka justru akan dibuang bersama berhala mereka ke negeri Asyur, tempat dari mana dewa-dewi itu berasal.
 

MEDITATIO
  
Pemandu mengajak para peserta masuk dalam suasana hening dan dalam keheningan kembali mendengarkan pembacaan teks Amos 5:21-27. Lalu pemandu mengajak peserta untuk:

• Mengingat kembali kesalahan yang dibuat oleh umat Israel dan peringatan yang disampaikan oleh Amos kepada mereka.
• Merenungkan bagaimana pesan yang Nabi Amos dapat dilaksanakan di dalam keluarga dan bagaimana ibadah yang dilakukan dalam keluarga membuahkan hasil dalam sikap dan perilaku yang nyata.
Lalu para peserta diminta untuk membuka mata dan menuliskan secara singkat hasil permenungannya. Lalu beberapa orang dipersilakan membagi-kan dengan membaca apa yang telah dituliskan. Kemudian pemandu mem-berikan beberapa penegasan dengan memperhatikan gagasan pokok di atas.

ORATIO
 

Allah telah menyatakan kehendak-Nya dalam Meditatio, sekarang seluruh peserta akan menanggapi Sabda itu dengan doa. Pemandu mengajak peserta untuk mempersiapkan doa secara tertulis, tanggapan atas Sabda yang baru didengarkan; bisa berupa pujian, syukur, permohonan, niat, dan sebagainya. Kemudian satu demi satu peserta diminta untuk membacakan doa yang telah dituliskan. Rangkaian doa ditutup dengan “Bapa Kami.”
 

DOA PENUTUP 
Pemandu mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon kekuatan dan kasih Allah agar sanggup melaksanakan kehendak-Nya yang telah didengarkan dalam pertemuan. 

Ya Allah yang Maharahim, ampunilah kami bila selama ini kami kurang bersikap adil dan benar dalam keluarga, di tempat kerja, dan di masyarakat. Dengan bantuan rahmat-Mu, kami ingin mengupayakan kebenaran dan keadilan dimana pun kami berada. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Pertemuan II: Ibadah Keluarga sebagai Sekolah Iman


BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2014
KELUARGA BERIBADAH DALAM SABDA
oleh Rm. F.X. Didik Bagiyowinadi Pr
LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA 2014

Pertemuan II: Ibadah Keluarga sebagai Sekolah Iman

TUJUAN:
1. Peserta menyadari tanggung jawab mewujudkan Gereja Rumah Tangga dan mendidik anak-anak dalam iman Katolik.
2. Peserta menyadari bahwa ibadah keluarga merupakan kesempatan untuk bersama-sama mendengarkan Sabda Tuhan dan mewujudkan kehendak-Nya dalam kehidupan seharihari.
3. Peserta memiliki motivasi yang benar dalam beribadah kepada Tuhan.

GAGASAN POKOK:
Pada saat perkawinan suami-istri berjanji akan mendidik anak-anak dalam iman Katolik. Hal ini ditegaskan oleh para Bapa Konsili Vatikan II, “Dalam Gereja-keluarga itu hendaknya orangtua dengan perkataan dan teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka” (LG 11). Menurut Paus Yohanes Paulus II, sejak dini anak-anak perlu diajar untuk mengenal Allah dan kehendak-Nya (Familiaris Consortio 60).
   
Dalam hal ini kita bisa belajar pada tradisi Yahudi, bagaimana orangtua mengajarkan iman kepada anak-anaknya. Dalam perayaan Paskah di keluarga anak-anak diajar untuk mengerti makna perayaan/liturgi Paskah (lih. Kel 12). Mereka juga diajar untuk mengasihi Allah yang esa dengan segenap hati dan kekuatan (lih. Ul 6:4-5). Sementara dalam perikop yang kita renungkan pada pertemuan ini (Ul 6:20-25) anak-anak akan diberi motivasi dan alasan untuk melakukan semua perintah dan ketetapan Tuhan. 
        
Motivasi bangsa Israel melakukan kehendak Tuhan bukanlah karena takut akan hukuman-Nya atau agar Tuhan memenuhi keinginan mereka, melainkan karena mereka menyadari karya keselamatan Tuhan yang telah ditunjukkan dalam pengalaman bangsa Israel. Mereka telah dibebaskan oleh Tuhan dari perbudakan Mesir dan dianugerahi tanah yang telah dijanjikan kepada para bapa bangsa (Kej 15:18-21, Kej 17:8). Konsekuensinya, mereka diminta untuk melakukan segala ketetapan Tuhan dan takut kepada-Nya, sehingga mereka senantiasa dalam keadaan baik. Inilah motivasi yang benar orang melakukan kehendak Tuhan, yang kiranya juga harus menjadi motivasi dan alasan keluarga Kristiani mentaati Firman Tuhan. 

Kesetiaan melakukan kehendak Tuhan diperhitungkan Tuhan sebagai kebe-naran. Apakah hal ini bertentangan dengan Kej 15:6 yang menyatakan bahwa sikap percaya Abraham atas janji Tuhanlah yang diperhitungkan sebagai kebenaran? Keduanya tidak bertentangan. Terhadap janji Tuhan, sikap yang diminta dari kita adalah percaya. Sementara terhadap perintah Tuhan, yang diminta dari kita adalah sikap patuh melakukannya. Bila kita menuruti perintah Allah, berarti kita sungguh mengenal Allah (bdk. 1 Yoh 2:3). Melalui ibadah keluarga semua anggota keluarga belajar mendengarkan perintah Tuhan dan berusaha melakukannya (bdk. Mat 12:50). Dalam hal ini motivasi, penjelasan, dan teladan orangtua sangat menentukan.

PENGANTAR

Ibu-bapak saudara, pada saat merayakan sakramen perkawinan suami-istri berjanji akan mendidik anak-anak secara Katolik. Untuk itu keluarga perlu bersama-sama mendengarkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci yang memuat perintah dan ketetapan Tuhan untuk dilaksanakan. Kadang kita bertanya, kenapa kita mesti melakukan semua perintah itu? Apakah supaya Tuhan tidak murka, supaya Tuhan mengabulkan permohonan kita, atau supaya apa?

Kita akan merenungkan Firman Tuhan dalam Ul. 6:20-26 yang berisi pengajaran Nabi Musa bila anak kita bertanya mengapa harus melakukan kehendak Tuhan. Pertama-tama diingatkan bagaimana Tuhan sudah menunjukkan karya keselamatan-Nya kepada bangsa Israel. Sebagai ungkapan syukur mereka harus mematuhi perintah dan ketetapan Tuhan. Melakukan perintah dan ketetapan Tuhan merupakan tindakan orang benar. Mari sekarang kita menyiapkan hati.

DOA PEMBUKA
 
Pemandu mengajak umat untuk berdoa memohon agar Roh Kudus membang-kitkan iman seluruh peserta, mengarahkan seluruh diri kepada Sabda Allah, dan membuka hati seluruh peserta agar dapat menerima kehendak Allah. Pemandu dapat menyusun sendiri doa kepada Roh Kudus. Doa itu juga dapat disampaikan dalam nyanyian (MB 448, PS 565-567). 

Allah Bapa yang Mahakasih, melalui Kitab Suci Engkau menyatakan kehendak-Mu yang menuntun langkah hidup kami. Dahulu Engkau telah mengasihi dan menyelamatkan bangsa Israel, kiranya kasih-Mu juga Kaunyatakan kepada keluarga kami masing-masing. Kami bersyukur atas segala kasih dan anugerah-Mu untuk keluarga kami masing-masing. Bantulah keluarga kami untuk semakin mengenal dan melakukan kehendak-Mu, demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin. 

LECTIO
  
1. Membaca (Ulangan 6:20-25)
Kutipan khotbah Musa ini bisa dibacakan oleh seseorang dengan lantang. Kemudian masing-masing menyimak teks kembali dengan membaca dalam hati.

2. Mendalami
Para peserta diajak untuk mendalami teks Kitab Suci yang baru saja dibacaka. Dalam pendalaman ini pemandu dapat menggunakan salah satu dari dua cara berikut:

1. Peserta diminta menyampaikan pertanyaan informatif seputar teks untuk dibicarakan. Gagasan Pokok dan penjelasan berikut ini dapat membantu pemandu dan peserta agar diskusi informatif dan tematis berjalan lancar. Jadi, dibahas sejauh diperlukan dalam proses pendalaman teks Kitab Suci.
 2. Pemandu memberikan penjelasan tentang isi perikop berdasarkan Gagasan Pokok dan Penjelasan Teks.

Kitab Ulangan berisi kumpulan khotbah Musa baik di padang Moab (Ul. 1:5) sebelum dia meninggal dunia (Ul. 34). Penyataan “Anakmu bertanya” pada Ul. 6:20 mengingatkan kita akan frasa yang sama dalam ritual Paskah dalam keluarga (Kel. 12:26-27). Bila dalam Kel. 12 yang ditanyakan adalah makna perayaan liturgi Paskah, dalam Ul. 6 yang ditanyakan adalah alasan di balik segala peraturan dan ketetapan Tuhan untuk mencintai-Nya dengan segenap hati dan kekuatan (Ul. 6:4-5). Jawabannya perlu merujuk karya keselamatan Tuhan atas bangsa Israel. Dulu mereka telah diperbudak Firaun di Mesir lalu dibebaskan Tuhan dengan tangan yang kuat (ay. 21).
   
Tuhan sendiri memberikan tanda dan mukjizat untuk menghukum orang Mesir dengan pelbagai tulah (air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah, hujan es, belalang, gelap gulita, anak sulung Mesir mati, lih. Kel. 7:14- 12:30). Bagaimana kemudian Tuhan membimbing mereka menyeberangi Laut Teberau dengan kaki kering (Kel. 14:15-31) dan memberikan makanan (manna, burung puyuh) dan minuman selama dalam perjalanan (di Mara: air pahit dijadikan manis (Kel. 15:22-26), di Rafidim: air memancar dari gunung batu (Kel. 17:1-7). Selanjutnya Tuhan membimbing umat Israel menuju tanah terjanji, sebagaimana telah Dia janjikan kepada Abraham (Kej. 17:8) dan Yakub (Kej. 35:12). Sebagai ucapan syukur atas karya keselamatan Tuhan, umat Israel diminta untuk melakukan segala kehendak-Nya dan takut kepada Tuhan (ay. 24). Kesetiaan dalam mematuhi perintah Tuhan diperhitungkan sebagai kebenaran (ay. 25). Sama seperti Abraham dipandang sebagai orang benar karena percaya pada janji Tuhan (Kej. 12:6). Kedua pernyataan ini tidak saling bertentangan karena isi sabda Tuhan yang berbeda: yang satu perintah, yang lain janji. Janji Tuhan tentang masa depan perlu dipercaya dan diimani, sementara perintah dan ketetapan adalah hal yang mesti ditaati dan dilakukan saat ini. Mengapa mesti melakukannya? Kembali kita perlu mengingat bagaimana Tuhan telah menyatakan karya keselamatannya. Secara konkret perikop ini ditujukan kepada orangtua untuk memotivasi, mengajarkan, dan memberikan teladan kepada anak-anaknya dalam mematuhi perintah Tuhan.

MEDITATIO

Pemandu mengajak para peserta masuk dalam suasana hening dan dalam keheningan kembali mendengarkan pembacaan teks Ul 6:20-25. Lalu pemandu mengajak peserta untuk:
• Mengingat kembali karya Allah bagi Israel, perintah untuk mengasihi Allah, dan tugas orangtua untuk mengajarkan hal itu kepada anak-anak mereka.
• Merenungkan bagaimana hal yang sama dapat dikerjakan oleh keluarga Kristiani: bagaimana mempergunakan ibadah keluarga sebagai kesempatan untuk mengajarkan iman kepada anak-anak (kebenaran iman dan kehidupan sesuai dengan iman). Lalu para peserta diminta untuk membuka mata dan menuliskan secara singkat hasil permenungannya. Lalu beberapa orang dipersilakan membagikan dengan membaca apa yang telah dituliskan. Kemudian pemandu memberikan beberapa penegasan dengan memperhatikan gagasan pokok di atas.

ORATIO

Allah telah menyatakan kehendak-Nya dalam Meditatio, sekarang seluruh peserta akan menanggapi Sabda itu dengan doa. Pemandu mengajak peserta untuk mempersiapkan doa secara tertulis, tanggapan atas Sabda yang baru didengarkan; bisa berupa pujian, syukur, permohonan, niat, dan sebagainya. Kemudian satu demi satu peserta diminta untuk membacakan doa yang telah dituliskan. Rangkaian doa ditutup dengan “Bapa Kami.”

DOA PENUTUP
Pemandu mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon kekuatan dan kasih Allah agar sanggup melaksanakan kehendak-Nya yang telah didengarkan dalam pertemuan.

Ya Tuhan, kami bersyukur atas kasih-Mu yang Kaunyatakan kepada keluarga kami masing-masing. Kami bersyukur pula atas tugas yang Kaupercayakan untuk mendidik anak-anak kami dalam iman kristiani. Berilah kami rahmat-Mu agar setia mematuhi perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan pengan-tara kami. Amin.

Rabu, 03 September 2014 Peringatan Wajib St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Rabu, 03 September 2014
Peringatan Wajib St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja 
         
  “Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa] yang lain di dunia lain.” (St. Gregorius Agung, seperti dikutip KGK, 1031)
     
Antifon Pembuka (Mzm 33:20-21)
  
Orang ini dipilih Tuhan, diangkat-Nya menjadi imam agung. Harta dunia terbuka baginya, kurnia ilahi melimpahi hatinya.
        
Doa Pagi
     
Ya Allah, Engkau mengenal kami satu persatu dan memahami segala persoalan kami. Kami mohon, dampingilah dan teguhkanlah para penderita yang tak dapat sembuh agar mereka tidak merasa berjalan sendirian dan tetap tekun menjalani hidup mereka dengan penuh makna. Arahkanlah tindakan kami untuk mencintai Engkau dan sesama dalam hidup kami sehari-hari, sampai kami Kauperkenankan untuk menikmati kedamaian abadi bersama-Mu di surga. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepan-jang masa. Amin.
   
Bacaan-bacaan dan Mazmur Tanggapan dari Hari Biasa, atau dari Rumus Umum Gembala Umat (Paus) atau Pujangga Gereja, misalnya: 2Kor 4:1-2.5-7; Mzm 96:1-2a.2b-3.7-8a.10; R: 13; Luk 22:24-30.
             
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (1Kor 3:1-9)

Saudara-saudara, dahulu aku tidak dapat berbicara dengan kalian sebagai manusia rohani, tetapi hanya kepada manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus. Pada waktu itu aku memberikan susu kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kalian belum dapat menerimanya. Sekarang pun sebenarnya kalian belum dapat menerimanya, karena kalian masih manusia duniawi. Sebab jika di antara kalian ada iri hati dan perselisihan, bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kalian masih manusia duniawi dan hidup secara manusiawi? Karena jika seorang berkata, "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata, "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan bahwa kalian manusia duniawi dan bukan rohani? Sebenarnya, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang membawa kalian kepada iman, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku yang menanam, Apolos yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama. Dan masing-masing akan menerima upah sesuai dengan pekerjaannya. Sebab kami ini hanyalah kawan sekerja Allah; sedangkan kalian adalah ladang Allah dan bangunan-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik pusaka-Nya.
Ayat. (Mzm 33:12-13.14-15.20-21)
1. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi pusaka-Nya! Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia.
2. Dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dialah yang membentuk hati mereka, dan memperhatikan segala pekerjaan mereka.
3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita. Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956 (MT 401)
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 4:18-19)
Tuhan mengutus aku memaklumkan Injil kepada orang hina dina dan mewartakan pembebasan kepada para tawanan.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (4:38-44)

Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon sakit demam keras, dan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Yesus berdiri di sisi wanita itu, lalu menghardik demamnya. Segera penyakit itu meninggalkan dia. Wanita itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kerabatnya yang sakit kepada Yesus. Ia meletakkan tangan atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi dengan keras Yesus melarang mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia Mesias. Ketika hari siang Yesus berangkat ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia. Ketika menemukan-Nya, mereka berusaha menahan Dia, supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia mewartakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


“Kita meraka miris dengan kejadian-kejadian dalam masyarakat akhir-akhir ini. Betapa tidak! Belum reda pemberitaan kasus pelecehan pada anak-anak usia dini di JIS, disusul berita dari Sukabumi, Jawa Barat, si Emon telah menyodomi kurang lebih 100 anak. Emon sungguh identik dengan Emang Momok Anak. Terus terbertik lagi dari Jakarta Timur berita memilukan gara-gara hanya kesenggol, anak SD kelas VI berinisial SY itu menghajar adik kelas bernama Renggo sampai meninggal. Tentu masih ada banyak cerita dan berita tragis lain lagi yang tidak sempat terungkap secara publik.

 Apa yang terjadi dengan masyarakat kita ini? Masyarakat kita sedang sakit! Anak-anak yang adalah masa depan kita bersama telah mengalami perusakan dan kerusakan akut akibat kekerasan yang bengis. Kita sulit untuk menalar dengan jernih. Tetapi, itulah yang terjadi. Karenanya perlu secepat mungkin kita mencari jalan keluar penyembuhannya. Mengobati penyakit mental, moral, sosial, kejiwaan masyarakat memang lebih sulit daripada mengobati penyakit fisik seseorang. Tetapi, itu bukan tidak mungkin.

 Dalam situasi apa pun orang beriman harus yakin bahwa di atas masalah berat dan ketidakmungkinan yang ada, Allah dalam diri Yesus tetap bisa menjadi andalan. Langkah ini tentu bukan pilihan murahan. Tetapi, justru orang mau mencari akar dan solusi tepat dari sebuah masalah yang kronis sekalipun.
   
 Manusia tidak akan menjadi manusia sejati bila dia tidak lagi menerima atau percaya akan Allah. Ketika Allah diakui dan diimani sungguh-sungguh, maka manusia bertumbuh dalam kesejatiannya. Dia menjadi manusia penyayang, lemah lembut, sabar dan berbelas kasih. Dengan hati nurani dan imannya dia berkomitmen untuk memelihara dan mengembangkan kebaikan, kebenaran dan keindahan hidup ini.

 Karena itu, sekarang yang dibutuhkan adalah tindakan iman. Di satu sisi terhadap diri sendiri orang berani bertobat dan datang pada Allah dalam diri Yesus, sang tabib agung. Pada sisi lain setelah orang mengalami kasih Allah yang menyembuhkan, dia harus berani bergerak untuk membawa sesamanya yang sakit pada Allah untuk disembuhkan.

 Injil yang diwartakan hari ini memberi kesaksian bahwa dalam Yesus selalu ada penyembuhan dari berbagai macam penyakit. (Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm/Cafe Rohani)

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS/GOPAY/OVO/LINKAJA/SHOPEEPAY/DANA/BCA MOBILE/OCTOMOBILE/SAKUKU,dll klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2023 -

Privacy Policy