| Halaman Depan | Bacaan Harian | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Lumen Christi | Dukung Renungan Pagi|

Selasa, 09 September 2014 Hari Biasa Pekan XXIII

Selasa, 09 September 2014
Hari Biasa Pekan XXIII
    
Bagaimana kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Kitab Suci adalah satu sejauh Sabda Allah itu satu. Rencana penyelamatan Allah itu satu, dan inspirasi ilahi dari kedua Perjanjian itu juga satu. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru dan Perjanjian Baru menyempurnakan yang Lama, keduanya saling menerangkan satu sama lain. (Kompendium Katekismus Gereja Katolik, No. 23)

 
Antifon Pembuka (Mzm 149:1)
 
Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaat orang-orang saleh!
 
Tobat 3 (bds. Luk 6:12-19)


Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Guru dan Nabi Agung, yang mengikutsertakan orang-orang pilihan-Mu mewartakan pertobatan dan Injil. Tuhan, kasihanilah kami.

Engkaulah Imam Agung, yang mendamaikan kami dengan Allah dengan pengorbanan di salib dan kebangkitan-Mu. Kristus, kasihanilah kami.

Engkaulah Raja dan Gembala Agung, yang mengajak para murid mengumpulkan domba-domba-Mu. Tuhan, kasihanilah kami.
  
Doa Pagi


Ya Allah, melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah memilih kami menjadi anak-anak-Mu. Engkau juga mengutus kami sebagai pewarta Kabar Gembira. Berilah kami kekuatan untuk menunaikan tugas kami dengan setia dan gembira serta penuh cinta kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
        
Paulus menekankan perselisihan di dalam komunitas mereka mesti diselesaikan di dalam komunitas mereka dan oleh orang-orang mereka sendiri bukan dengan melibatkan orang di luar komunitas. Alasannya sederhana, orang-orang sekomunitas memiliki visi yang sama dan pemahaman yang sama tentang tata hidup di antara mereka.
   
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (6:1-11)
   
"Saudara yang satu menuntut keadilan terhadap saudara yang lain, justru pada orang yang tidak beriman!"
      
Saudara-saudara, jika di antara kalian ada perselisihan, apakah salah satu pihak sampai hati mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kalian bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tanganmu, tidakkah kalian sanggup mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kalian, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari! Meskipun demikian, jika kalian harus mengurus perkara-perkara biasa, urusan itu kalian serahkan kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat! Hal ini kukatakan untuk membuat kalian malu. Tidak adakah di antaramu seorang yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara saudaranya? Adakah saudara yang satu menuntut keadilan terhadap saudara yang lain, justru pada orang yang tidak beriman! Adanya perkara di antaramu saja, antara seorang saudara terhadap saudara yang lain, telah merupakan kekalahan bagimu. Mengapa kalian tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapa kalian tidak lebih suka dirugikan? Sebaliknya kalian sendiri melakukan ketidakadilan, kalian sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kalian lakukan terhadap saudara-saudaramu sendiri. Atau tidak tahukah kalian, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kalian dahulu demikianlah adanya. Tetapi kalian telah memberi dirimu disucikan, kalian telah dikuduskan, kalian telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan kepada umat-Nya.
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)
1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada di dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.
 
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Kalian telah Kupilih dari dunia dan Kutetapkan agar pergi dan berbuah, dan buahmu tinggal tetap.
 
Yesus memilih para rasul dan mengumpulkan para murid untuk membentuk sebuah komunitas persaudaraan dalam Allah. Mereka diajari supaya memahami visi penyelamatan Allah yang dibawa-Nya. Mereka dibina dan dibimbing untuk maju dalam hidup rohani dan cinta kasih.
      
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:12-19)
  
"Semalam-malaman Yesus berdoa. Lalu Ia memilih dua belas orang, yang disebut-Nya rasul."
   
Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Andreas, saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, sebab dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
 
Doa adalah kekuatan bagi anak-anak Allah. Doalah yang telah menguatkan Tuhan Yesus dalam tugas dan pelayanan-Nya. Banyak orang datang kepada Yesus untuk mendengarkan dan memperoleh kesembuhan dari-Nya. Mereka merasakan kuasa yang besar dari Yesus. Kuasa ini tentu datang dari doa. Kita adalah para murid Tuhan Yesus. Seperti kedua belas rasul, kita pun diajak dan diajar Yesus untuk tekun berdoa. Tuhan ingin agar kita mampu meneruskan tugas pelayanan Yesus yang memberi kesembuhan dan keselamatan itu. Satu pertanyaan bagi kita: Apakah doa sudah menjadi napas hidup?
 
Doa Malam
 
Terima kasih ya Yesus, atas teladan-Mu dalam Injil hari ini, dimana Engkau mengundurkan diri untuk berdoa sebelum mengambil keputusan yang penting. Semoga dalm keseharianku, aku pun berani mengundurkan diri dan berdoa shingga hidupku pun semakin berkenan di hadapan-Mu. Amin.
 
  
RUAH

"Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus"

Senin, 08 September 2014
Pesta Kelahiran SP Maria
   

Mi. 5:1-4a atau Rm. 8:28-30; Mzm. 13:6ab,6cd;  Mat. 1:1-16,18-23

"Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus"
 
Hari ini kita merayakan kelahiran Santa Maria, ibu Yesus. Kita tahu bahwa orangtua Maria adalah St. Yoakim dan St. Anna, yang kita peringati tiap tanggal 26 Juli. Sayang, dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, kita tidak menemukan kisah kelahiran Maria ini. Namun, ada tulisan lain, yang tidak termasuk kanon Kitab Suci, yang berbicara tentang kelahiran Maria. Dua di antaranya adalah The Gospel of the Birth of Mary (Injil Kelahiran Maria) dan The Proto-Evangelium of James (Proto-Injil Yakobus). Keduanya menyebut bahwa Yoakim dan Anna adalah orang yang takut dan taat kepada Allah. Namun, setelah lama menikah, mereka tidak dikaruniai anak, seperti halnya Elyakim dan Hana (orangtua Samuel) serta Zakaria dan Elisabet (orangtua Yohanes Pembaptis). Maka, Yoakim, selama 40 hari dan 40 malam tinggal di padang gurun. “Aku tidak akan makan atau minum sampai Tuhan Allahku mengunjungi aku; doa akan menjadi makanan dan minumanku”, katanya (PIY 1:4). Sementara Anna melakukan seperti yang dilakukan Hana (1Sam1: 9-19). Tuhan mendengarkan doa-doa mereka sehingga mengandunglah Anna dan melahirkan Maria. Kisah ini hendak menegaskan bahwa kelahiran Maria adalah kelahiran yang istimewa. Maria adalah anugerah istimewa, tidak hanya bagi Yoakim dan Anna tetapi juga bagi kita semua. Sebab, melalui dialah, lahir Yesus Kristus, penyelamat kita. Tampak jelas pula bahwa Maria dilahirkan sebagai buah dari doa Yoakim dan Anna. Maka, untuk para bapak-ibu dan eyang, berdoalah senantiasa agar anak dan cucu panjenengan adalah buah dari doa. Saya sendiri, ketika masih di Paroki, setiap kali melakukan penyelidikan kanonik terhadap calon manten, selalu berpesan kepada mereka agar aktivitas hubungan suami-istri harus selalu dibarengi dengan doa sehingga mereka sungguh menyadari bahwa anak-anak mereka adalah anugerah Tuhan dan buah dari doa. Dalam kehidupan kita secara lebih luas, hendaknya perkataan, tulisan, sikap dan tindakan kita juga merupakan buah dari doa-doa kita. 
  
Doa: Tuhan, semoga apa pun yang kami lahirkan, tidak hanya anak-anak dalam keluarga kami, tetapi juga perkataan, sikap dan tindakan kami, senantiasa merupakan buah dari doa. Amin. -agawpr-

Senin, 08 September 2014 Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Senin, 08 September 2014
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria
  
Allah Putra …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus…. (St. Epifanus, 374)


Antifon Pembuka

Marilah kita bersukacita merayakan kelahiran Santa Perawan Maria. Sebab dari padanya telah terbit cahaya dunia, yakni Kristus Allah kita.
     
   
Pada Misa hari ini ada Kemuliaan (Gloria), tanpa Syahadat (Credo).
     
Doa Pagi
 
Tuhan dan Allah kami, rencana-Mu terhadap dunia serta manusia melampaui segala dugaan kami. Limpahkanlah berkat-Mu atas kami agar kami mampu meneladan kerendahan hati dan kesederhanaan Bunda Maria. Dialah perempuan bersahaja yang Kaupilih sebagai ibu Sang Penyelamat umat manusia. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
           
Bacaan dari Nubuat Mikha (5:2-5a)
    
"Tibalah saatnya perempuan yang mengandung itu melahirkan."
     
Beginilah firman Tuhan, “Hai Betlehem di wilayah Efrata, hai engkau yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, yang sudah ada sejak dahulu kala. Ia akan membiarkan mereka sampai saatnya perempuan yang mengandung itu telah melahirkan; lalu saudara-saudaranya yang masih ada akan kembali kepada orang Israel. Maka ia akan bertindak, dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan Tuhan, dalam kemegahan nama Tuhan Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Atau
      
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:28-30)
 
Saudara-saudara, kita tahu banwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya itu, juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, juga dimuliakan-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Aku bersukacita dalam Tuhan.
Ayat. (Mzm 13:6ab,6cd).
1. Ya Tuhan, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorai karena penyelamatan-Mu.
2. Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.
   
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah engkau, hai Perawan Maria, dan sangat terpuji. Sebab dari padamu telah terbit Sang Surya Keadilan, yakni Kristus, Allah kita.
      
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius [1:1-16.18-23 (1:18-23)]
 
"Anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus."
 
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanak Ishak, Ishak memperanak Yakub, Yakub memperanak Yehuda dan saudara-saudaranya. Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai. Isai memperanakkan Raja Daud, Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria. Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa. Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia. Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia. Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon. Amon memperanakkan Yosia. Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel. Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor. Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim. Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan. Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
  
Renungan
 
            
   Hari ini, bersama seluruh umat Katolik diseluruh dunia, kita patut bersukacita ; sebab pada hari ini Gereja Katolik merayakan sebuah misteri besar dalam sepanjang sejarah kehidupan di dunia, yaitu Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Pesta ini sudah mulai popular sejak masa Sri Paus St Sergius I pada permulaan abad ke-7 yang pada dasarnya perayaan ini bersumber dari Tradisi Gereja Timur. 
 
 Injil hari ini membentangkan kembali silsilah Tuhan kita Yesus Kristus, lalu apa sangkut pautnya dengan Bunda kita? Kita semua pasti mengerti bahwa Yesus datang hendak menyelamatkan kita dari perbudakan dosa dengan mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia. Apakah Yesus Kristus, Tuhan kita dapat langsung menjadi manusia begitu saja? Bisa saja Yesus langsung turun dari langit dan secara ajaib menjadi manusia. Tetapi cara demikian tidak dapat menyerupakan diri-Nya dengan manusia, yang lahir dari rahim seorang ibu. Tentu saja, tidak mungkin asal – asalan dalam memilih ibu yang akan mengasuh Putra tunggal-Nya. Untuk sesuatu hal yang baik, kita memerlukan rencana yang rapi agar memperoleh hasil yang maksimal. Untuk menikmati liburan akhir pekan, tak jarang kita sudah membuat rencana untuk hari ke depan dan apa saja yang hendak dilakukan. Demikian pula Bapa dalam memilih ibu yang hendak mengasuh dan menimang Putera tunggal-Nya. Kelahiran Bunda Maria sedemikian pentingnya sebab dari rahimnya lah Putra Bapa akan menyelamatkan manusia.

  Bunda Maria dalam Gereja Katolik seringkali disapa dengan “Ratu Damai”, semoga dengan kelahiran Bunda Maria pun kita boleh melahirkan damai bagi siapa saja yang datang kepada kita dan bagi lingkungan sekitar kira. Tentunya, Maria yang disebut sebagai “Ratu Surga” pun boleh mengajak kita untuk menciptakan surga di bumi bagi siapa saja. Semoga misteri ini memampukan kita untuk merefleksikan begitu ajaib dan besarnya karya Allah yang tidak dapat kita pikirkan dengan segala keterbatasan kita. Semoga misteri ini pula mengajak kita untuk semakin meneladan Bunda Maria yang taat kepada Bapa, tulus dan rendah hati.
     
  
Deus Providebit

"Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Minggu, 07 September 2014
Hari Minggu Biasa XXIII - Minggu Kitab Suci Nasional
Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20.
 
"Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
   
Kita adalah makhluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri. Secara naluriah, kita juga lebih suka mempunyai teman dan hidup bersama dengan orang lain daripada sendirian. Kita lebih suka ngobrol dengan orang lain daripada ngomong sendiri (hehehehe). Kita selalu merasa senang kalau bisa berkumpul dengan teman, sahabat, tetangga. Maka, banyak di antara kita giat mengikuti berbagai macam perkumpulan atau organisasi. Sekarang, melalui WA, FB, BB, kita juga membuat grup untuk menjadi tempat ngobrol. Mari kita sejenak berefleksi: apa yang paling banyak kita omongkan bersama teman dan sahabat, baik secara langsung maupun melalui media sosial? Sekedar guyon, omong saru, saling mengejek, bergosip? Atau berdiskusi, berbagi pengalaman iman, berdoa, saling meneguhkan dan memberi masukan? Atau ..., ..., ...? Tuhan menghendaki agar kita berkumpul dalam nama-Nya. "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Apa tandanya, kita berkumpul dalam nama Tuhan? Tidak cukup hanya berdoa, tetapi harus pula ada cinta kasih. "Ubi caritas et amor, Deus ibi est". Di mana ada cinta dan kasih, hadirlah Tuhan. Contoh konkrit cinta kasih itu tampak dalam bagaimana kita bersikap terhadap orang lain yang melakukan kesalahan. Cinta kasih tidak mengijinkan kita untuk menggosipkan dan membicarakan kejelekannya ramai-ramai tanpa kehadiran yang bersangkutan, tetapi mendorong kita untuk mengajaknya omong-omong dari hati ke hati, entah 4 mata atau bersama-sama dengan yang lain. Nah, doa menjadi penting karena kebiasaan kita berdoa bersama dalam setiap perkumpulan kita, diharapkan semakin meneguhkan perkumpulan kita sebagai persekutuan cinta kasih.      
  
Doa: Tuhan, bantulah kami untuk menjadikan perkumpulan kami, sebagai persekutuan cinta kasih. Amin. -agawpr-

Doa Lingkungan

Minggu, 07 September 2014 Hari Minggu Biasa XXIII

Minggu, 07 September 2014
Hari Minggu Biasa XXIII
  
“Tidak diragukan, dan nyatanya telah diketahui di sepanjang abad, bahwa Rasul Petrus yang kudus dan terberkati, kepala para Rasul, tonggak iman dan pondasi Gereja Katolik, menerima kunci- kunci Kerajaan dari Tuhan kita Yesus Kristus, …. dan bahwa kepadanya telah diberikan kuasa untuk melepas dan mengikat dosa, yang seterusnya sampai sekarang dan selamanya hidup dan memutuskan di dalam para penerusnya. Paus Celestinus yang kudus dan terberkati, menurut urutannya, adalah penerus Rasul Petrus dan menempati tempatnya, dan ia mengirimkan kami untuk memberikan tempatnya di dalam sinoda yang kudus ini…. ” (Konsili Efesus th. 431)
     

Antifon Pembuka (Mzm 119:137,124)
 
Engkau adil, ya Tuhan, dan hukum-hukum-Mu benar. Perlakukanlah hamba-Mu sesuai dengan kasih setia-Mu.

You are just, O Lord, and your judgment is right; treat your servant in accord with your merciful love. 
  
Iustus es Domine, et rectum iudicium tuum: fac cum servo tuo secundum misericordiam tuam.
 
Tobat 3 (bds. Mat 18:15-20)

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Putra Allah yang Mahaadil, penuh cinta dan belas kasih. Tuhan, kasihanilah kami.

Engkau menghendaki keselamatan semua orang. Kristus, kasihanilah kami.

Engkau menghendaki hukum cinta kasih diwujudkan, juga bila dituntut pengorbanan. Tuhan, kasihanilah kami.
  
Doa Pagi

Ya Allah, Engkau telah menebus kami dan mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Pandanglah anak-anak kesayangan-mu dengan rela hati, supaya semua orang yang percaya pada Kristus memperoleh kebebasan sejati serta warisan abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (33:7-9)
 
     
"Jika engkau tidak berkata apa-apa kepada orang jahat, Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya dari padamu."
  
Beginilah firman Tuhan, “Wahai engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar suatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! Dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, maka Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya. Sebaliknya, jikalau engkau mengingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = d, 4/4, PS 854
Ref. Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.
Ayat. (Mzm 95:1-2.6-7.8-9; Ul: 8)

1. Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan bersorak-sorai bagi gunung batu keselamatan kita. Biarlah kita memandang nama-Nya dengan lagu syukur, bersorak-sorai bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
2. Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kta. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.
3. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (13:8-10)
   
"Kasih itu kegenapan hukum Taurat."
   
Saudara-saudara, janganlah berhutang apa-apa kepada siapa pun, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman berikut ini: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, serta segala firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (2 Kor 5:19)
Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus, dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.
         
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:15-20)
 
 
"Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali."
    
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Apabila  saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan dikau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
   
Renungan
    
     Setiap hari Minggu kita mendengarkan firman Tuhan. Kita merenungkan makna firman itu bagi hidup kita. Demikian pula halnya pada hari Minggu ini. Tetapi, secara istimewa diharapkan agar kita mulai memperhatikan peran firman Tuhan. Hari Minggu Kitab Suci dirayakan setahun sekali, dengan maksud agar berdampak sepanjang tahun dalam hidup kita sebagai umat Allah.
  
 Mengapa Tuhan mau berbicara kepada kita sepanjang sejarah keselamatan? Mengapa Sang Sabda menjadi manusia? Mengapa Roh Kudus yang mengilhami para penulis Kitab Suci mau membantu kita untuk memahami dan menghayati firman Tuhan? Bacaan hari ini dapat membantu kita ikut mewujudkan harapan Tuhan, yang melalui firman-Nya mau menyelamatkan dan mempersatukan umat manusia.
    
 Injil hari ini menolong kita untuk melihat dosa dalam hubungannya dengan jemaat. Awalnya, menegur di bawah empat mata. Selanjutnya, membawa dua orang saksi. Akhirnya, membuka perkara itu kepada jemaat. Tahap-tahap ini bertujuan untuk mengajak orang Kristen yang berdosa tersebut kembali kepada jemaat. Kalau teguran sampai tahap terakhir tidak diterima oleh yang bersangkutan, ia dipandang sebagai orang yang tidak mengenal Allah. Langkah ini ditempuh sebagai kejutan bagi si pendosa untuk rekonsiliasi dengan jemaat.
   
 Jemaat sebagai instansi mempunyai kuasa untuk mengucilkan atau menerima kembali anggota yang tersesat. Kewibawaan komunitas jemaat menjadi semakin mendalam, karena Yesus hadir bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya. Para murid diberi janji bahwa Allah akan berdiri di belakang keputusan mereka di dunia. Persetujuan jemaat yang bersatu dalam doa bersifat mengikat, karena Allah hadir dalam doa jemaat secara khusus.
   
 Apa artinya hal ini bagi kita? Kita diundang untuk saling menegur dan mengingatkan. Kita semua mempunyai tanggung jawab satu terhadap yang lain. Kita mempunyai tugas dan kewajiban untuk membawa sesama yang berdosa, kembali kepada kebersamaan dalam umat Allah. Namun, teguran itu menjadi semakin indah, kalau dilakukan melalui langkah-langkah yang manusiawi.
   
 Santo Agustinus sudah memberikan peringatan ini kepada jemaat di keuskupannya. Satu-satunya alasan menegur saudaranya yang berdosa adalah berdasar kasih. Jadi, segala alasan lain seperti rasa kesal, jengkel, malu atau apapun harus disingkirkan. Dengan kata lain, hendaknya kita membersihkan hati dari segala perasaan keliru agar dengan hati penuh kasih dapat membantu saudara kita.
   
 Tujuannya, yaitu menolong orang agar selamat. Ibaratnya orang yang dalam bahaya tenggelam. Kita tidak sampai hati melihat orang itu mati, kita ingin menolongnya. Bila dirinya kita selamatkan, maka kita tidak hanya menolong satu orang itu saja, melainkan juga banyak orang lain, seperti anggota keluarga, sahabat-sahabat, atau teman kerjanya.
     
 Semoga firman Tuhan yang kita rayakan secara khusus pada hari Minggu Kitab Suci Nasional ini membuka hati kita untuk makin menyadari akan tanggung jawab sosial, keselamatan sesama dan akan rahasia cinta kasih Allah.  (Chang/RUAH)

Sabtu, 06 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII

Sabtu, 06 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII
 
   
"Aku tidak memerlukan apapun di dunia ini untuk bahagia. Aku hanya butuh melihat Yesus di Surga, Ia yang kini aku lihat dan sembah di atas altar dalam mata iman." — St. Dominikus Savio
 
Antifon Pembuka (Mzm 145:21)
 
Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan, dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.
    
Doa Pagi

Allah Yang Mahabaik, kami bersyukur atas Putra-Mu yang telah hadir di tengah-tengah kami untuk menyatakan kebaikan-Mu. Semoga Roh-Nya selalu menjiwai kami sehingga kami pun selalu berusaha untuk menciptakan kebaikan bersama sebagai cerminan dari kebahagiaan surgawi yang kami harapkan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
        
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 4:6b-15)
     
"Kami ini lapar, haus, dan telanjang."
               
Saudara-saudara, dari aku dan Apolos hendaknya kalian belajar, apa artinya ungkapan “jangan melampaui yang ada tertulis.” Jangan ada di antara kalian yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu lebih dari yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Adakah di antara milikmu yang bukan pemberian? Dan jika itu memang pemberian, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah itu bukan pemberian? Kalian telah kenyang, kalian telah kaya, dan tanpa kami kalian telah memerintah; alangkah baiknya kalau benar demikian, yakni kalau kalian menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kalian. Menurut pendapatku, Allah memberi kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami ini bodoh oleh karena Kristus, tetapi kalian arif dalam Kristus. Kami ini lemah, tetapi kalian kuat. Kalian mulia, tetapi kami hina. Sampai saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara. Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki-maki, kami memberkati; kalau kami dianiaya kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi seperti sampah dunia, seperti kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk membuat kalian malu, melainkan untuk menegur kalian sebagai anak-anakku yang kukasihi. Sebab sekalipun kalian mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kalian tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang telah menjadi bapamu dalam Kristus Yesus, oleh Injil yang kuwartakan kepadamu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.
Ayat. (Mzm 145:17-18.19-20.21)
1. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
2. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, Ia mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka. Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.
3. Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.
    
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Akulah jalan, kebenaran, dan sumber kehidupan, sabda Tuhan; hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa
          
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:1-5)
 
"Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"
 
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?" Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan

  
Seorang guru yang baik, pasti membela murid-murid-Nya ketika mereka diserang oleh orang atau kelompok lain. Demikianlah Yesus membela murid-murid-Nya ketika mereka dipersalahkan oleh orang-orang Farisi. Saya membayangkan bahwa pada waktu itu, mereka sungguh kelaraparan, mungkin juga lelah dan haus setelah mengikuti Yesus. Lukas menyebutkan bahwa setelah mereka meninggalkan jala dan mengikuti Yesus, Yesus pergi ke sebuah kota (Luk 5:12) lalu mengundurkan diri ke tempat sunyi (Luk 5:16), kemudian mengajar dan menyembuhkan banyak orang sakit di sebuah rumah (Luk 5:17-26), setelah itu pergi keluar dan berjalan entah berapa jauhnya dan berhenti untuk makan bersama di rumah Lewi (Luk 5:27-29). Jadi, rupanya mereka memang berjalan terus seperti yang dinyatakan Matius bahwa Yesus berkeliling ke semua kota dan desa (Mat 9:35) dan para murid selalu mengikuti-Nya. Nah, pada suatu hari Sabat, mereka berjalan melewati ladang gandum dan para murid merasa lapar sehingga mereka memetik bulir-bulir gandum dengan tangannya lalu memakannya. Tindakan mereka ini bukanlah pencurian sebab hukum Yahudi memang mengizinkan orang yang sedang dalam perjalanan memetik gandum milik orang lain dengan tangan, bukan dengan sabit (Ul 23:25). Maka, yang dipermasalahkan orang Farisi bukan soal pencurian tetapi karena tindakan itu dilakukan pada hari sabat (=sabtu). Larangan ini termasuk salah satu dari 39 larangan sabat yang dimiliki orang Yahudi. Larangan sabat harus dipelihara karena sabat itu adalah hari yang kudus (Kel 31:14). Nah, di sini kekudusan Yesus itu melebihi kekudusan hari sabat. Ia dikandung dari Roh Kudus (Mat 1:18), Ia telah dikuduskan bagi Allah (Luk 2:23), Roh Kudus telah turun ke atas-Nya (Luk 3:22) sehingga Ia penuh dengan Roh Kudus (Luk 4:1), bahkan setan pun mengakui-Nya sebagai Yang Kudus dari Allah (Luk 4:34). Jadi jelas bahka Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat (Luk 6:5). Dan karena Ia mempunyai kuasa atas hari sabat, Ia pun punya wewenang untuk mengesampingkan aturan sabat demi keselamatan manusia. Maka, pada hari sabat Ia menyembuhkan orang sakit (Luk 6:6-11) termasuk mengizinkan murid-muridnya untuk memetik gandum dan memakannya supaya mereka tidak kelaparan dan tetap mempunyai daya untuk mengikuti-Nya. 
 
Doa: Tuhan, semoga kami selalu menjadikan Engkau sebagai hukum tertinggi dalam hidup kami, yakni dengan menjadikan Engkau sebagai dasar setiap sikap dan tindakan kami. Amin. -agawpr-

Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Jumat, 05 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan

1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5:33-39.

Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Salah satu pesan pokok dari kutipan Injil hari ini, dengan penekanan pada ayat yang saya kutip di atas, adalah pentingnya kita hidup secara kontekstual. Artinya, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan tempat dan situasi di mana kita berada secara aktual, tanpa kehilangan jati diri kita sebagai orang Kristiani. Seperti anggur. Anggur itu akan selalu menyesuaikan dengan bentuk botol atau kantong yang menjadi tempat/wadahnya tanpa kehilangan rasanya sebagai anggur. Mari kita belajar dari Beata Teresa dari Kalkuta yang kita peringati hari ini. Teresa berasal dari Albania (lahir 1910) lalu hijrah ke Irlandia dan bergabung dengan Suster-Suster Loreto di Dublin (1928). Setahun kemudian, ia berpindah ke Darjeeling, India, untuk menjalani masa novisiat dan setelah kaul pertama (1931), ia diutus berkarya di Kalkuta sebagai pengajar di SMA St Maria, sekolah khusus anak perempuan untuk orang-orang miskin. Perjumpaannya dengan banyak orang miskin di Kalkuta membuatnya tergerak untuk melayani mereka. Ia merasa yakin bahwa Kristus memanggil dan mengutusnya untuk melayani orang-orang miskin di kota itu. Maka, sejak tahun 1946, ia memohon kepada pimpinan biara dan uskup setempat untuk diperkenankan mewujudkan karya pelayanannya itu. Namun, ia tidak mudah mendapatkan ijin tersebut. Baru setelah 1,5 tahun berusaha, akhirnya awal tahun 1948, ia diizinkan oleh Uskup Agung Kalkuta, Mgr Ferdinand PĂ©rier SJ, untuk menggeluti panggilan barunya. Ia pun meninggalkan Biara Loreto dan setelah 6 bulan berlatih dasar-dasar medis, ia terjun ke daerah paling kumuh di Kalkuta untuk pertama kalinya. Di benaknya hanya ada satu tujuan, “merawat manusia yang paling tidak diinginkan, paling tidak dicintai, dan paling tidak dirawat” sepanjang hidupnya. Untuk mendukung karyanya itu, Bunda Teresa membuka sekolah dan mendirikan rumah bagi orang-orang yang sekarat. Pada bulan Oktober 1950, Vatikan memberi pengakuan kanonik atas kongregasi yang didirikannya, Misionaris Cinta Kasih, dengan 12 anggota. Pada saat wafatnya (1997), anggota Misionaris Cinta Kasih sudah berjumlah sekitar 4.000 orang, dengan ribuan relawan, yang menjadi anggota 610 lembaga yang tersebar di 123 negara. Demikianlah, Bunda Teresa. Dia bagaikan anggur yang berasal dari Albania dengan rasa khas kristiani, yakni cinta kasih, dan ditempatkan di kantong kota Kalkuta. Beliau sendiri mengatakan: “Menurut darah, saya seorang Albania. Menurut kewarganegaraan, saya seorang India. Menurut iman, saya seorang biarawati Katolik. Menurut panggilan, saya milik dunia. Sementara hati saya, sepenuhnya saya milik Hati Yesus.” Luar biasa! 

Doa: Beata Teresa, doakanlah kami untuk mampu menghadirkan cita rasa khas kristiani, yakni cinta kasih, kepada siapa pun dan di mana pun kami berada. Amin. -agawpr-

Jumat, 05 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan

Jumat, 05 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan
    
Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati. (Katekismus Gereja Katolik, 108)
    
Antifon Pembuka (Mzm 37:4-5)
 
Carilah kebahagiaanmu dalam Tuhan, Ia akan meluluskan keinginan hatimu. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhan, percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.

Doa Pagi
 
Ya Allah, melalui Putra-Mu, Engkau telah menaburkan benih sabda-Mu dalam diri kami. Jadikanlah hati kami tanah yang subur dan siap sedia menerima sabda-Mu sehingga kami menghasilkan buah iman dan cinta kasih yang melimpah. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 4:1-5)
     
"Tuhan akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati."
    
Saudara-saudara, hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.
Ayat. (Mzm 37:3-4.5-6.27-28.39-40)
1. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
2. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhandan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
3. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab Tuhan mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.
4. Orang-orang benar diselamatkan oleh Tuhan; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong mereka dan meluputkan mereka, Ia meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik dan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. Aku ini cahaya dunia, sabda Tuhan. Yang mengikuti Aku, hidup dalam cahaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (5:33-39)
  
"Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat mempelai akan berpuasa."
    
Sekali peristiwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepada Yesus, "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang. Demikian pula murid-murid orang Farisi. Tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Yesus menjawab, "Dapatkah sahabat mempelai disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya mempelai diambil dari mereka; pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Yesus mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka, "Tiada seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Sebab jika demikian, yang baru itu pun akan koyak. Apalagi kain penambal yang dikoyakkan dari baju baru tidak akan cocok pada baju yang tua. Demikian juga tiada seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua. Sebab jika demikian, anggur baru itu akan mengoyakkan kantong tua itu, lalu anggur akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tiada seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata, 'Anggur yang tua lebih baik'."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
  
Ada cerita sederhana penuh makna. Suatu hari ada nelayan kecil yang sedang tidur di bawah pohon kelapa di tepi pantai. Lalu pedagang ikan melewatinya. Terjadilah percakapan di antara mereka. “Pak, jam berapa sekarang?” tanya pedagang. “jam 10,” jawab nelayan kecil. “Lho, Bapak kok sudah istirahat?” tanyanya tambah heran.

 Kemudian nelayan ganti bertanya, “Terus, apa yang harus saya kerjakan?” “Bapak harus bekerja keras!” “Kerja keras, buat apa?” “Cari ikan yang banyak!” “Kalau ikannya sudah banyak?” “Beli kapal lebih besar!” “Kalau kapalnya sudah lebih besar?” “Nangkap ikannya lebih banyak!” “Kalau sudah banyak?” “Bangun pabrik!” “Kalau sudah bangun pabrik?” “Dapat banyak uang!” “Kalau sudah dapat banyak uang?” “Istirahat!” “Lho, saya sekarang sedang istirahat....”

  Nelayan kecil ini nampaknya menikmati hidupnya dan bahagia. Dia merasa sudah cukup dengan keadaannya. Bukankah orang bahagia itu tidak diukur dari jumlah kekayaannya? Benar, namun sebagai makhluk yang berakal budi, kita hendaknya selalu berusaha mengembangkan diri.

 Hidup ini adalah sebuah proses. Hidup ini bukanlah suatu “pemenuhan diri” tetapi “pengembangan diri”. Orang yang mengembangkan diri tidak akan pernah berhenti berkreasi. Dia akan terus berproses membina diri untuk menggapai kebahagiaan hidup bersama. Hidup ini harus mempunyai tujuan “menjadi” bukan “memiliki”. “Petrus, engkau Kuubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia,” sabda Yesus.

 Memang, Tuhan telah “menangkap” kita menjadi murid-Nya. Kita perlu terus membina kualitas iman kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Hal ini perlu kita mulai sejak dini di tengah keluarga. Keluarga Katolik mesti membiasakan diri untuk berdoa, membaca Kitab Suci dan merayakan Ekaristi bersama. Suasana iman seperti ini niscaya mengundang Tuhan Yesus untuk selalu hadir di tengah keluarga (Luk 5:33-39).

 Yesus juga memberikan makna baru perihal berpuasa. Semua perlu kita pahami dalam kerangka relasi dengan Yesus. Jadi, mulai sekarang kita menghayati hidup dan karya kita secara baru, tidak cepat puas diri. Tuhan memberi kita waktu dan kemampuan untuk terus berkembang ke arah lebih baik. Mari kita perbarui hidup kita mulai dari keluarga kita masing-masing! (Willy/Cafe Rohani)

Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)

Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)

"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

Kamis, 04 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII
 
  
1Kor. 3:18-23; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 5:1-11
  
 "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
  
Mungkin, kita juga pernah mengalami seperti Petrus dan kawan-kawannya: kita sudah berkeja keras tetapi tanpa hasil. Padahal, yang kita kerjakan itu sesuai dengan keahilan dan profesi kita, seperti halnya yang dilakukan Petrus. Ia adalah nelayan sehingga pasti ahli menangkap ikan, tapi kali ini tidak ada hasilnya. Dalam situasi seperti itu, ketika kita tidak hanya nglokro tetapi nyaris putus asa, Tuhan datang menghampiri, mungkin melalui ide atau inspirasi yang tiba-tiba muncul atau kita dapat dalam doa atau dalam teks Kitab Suci, atau mungkin melalui orang lain yang memberikan nasihat kepada kita. Bisa jadi, orang tersebut lebih muda dari kita dan kita anggap kurang berpengalaman sehingga kita meragukannya. Tapi jangan salah, seringkali Tuhan justru memakai orang yang kecil dan sederhana untuk menyatakan rahasia-Nya (Luk 10:21). Sama halnya dengan yang terjadi pada Yesus dan Petrus. Yesus itu bukan nelayan tetapi tukang kayu, masak memberi nasihat tentang menangkap ikan kepada Petrus yang profesinya sebagai nelayan. Namun, ketika Petrus mau mendengarkan dan melaksanakan, ternyata hasilnya luar biasa. Ia menangkap sejumlah besar ikan sehingga ia harus mengajak teman-temannya untuk bekerjasama menarik jalanya dan mengisi perahu-perahu mereka (Luk 4:6-7). Menghadapi itu semua, Yesus yang semua ia kenal sebagai anak tukang kayu dan seorang guru yang mengajar (Luk 4:5), kini dikenalnya sebagai Tuhan (Luk 4:8). Ketika Yesus disebutnya sebagai Guru, Petrus menuruti perintah-Nya (Luk 4:5), apalagi setelah ia mengimani-Nya sebagai Tuhan, maka ia pun bersedia mengubah haluan hidupnya, karena Tuhan menggendaki demikian. Ia meninggalkan profesinya sebagai penjala ikan untuk mengikuti Yesus, Guru dan Tuhannya. Demikianlah kehidupan beriman kita. Tanpa Tuhan, usaha dan kerja keras kita akan sia-sia dan tidak membuahkan hasil. Namun, bersama Tuhan dan kalau kita mengikuti kehendak-Nya, usaha dan kerja keras kita akan membawa hasil yang melimpah. Namun, selain bekerjasama dengan Tuhan, kita juga harus membangun kerjasama dengan orang lain, seperti yang dilakukan Petrus dan teman-temanannya. Dan kalau Tuhan menghendaki kita untuk berubah haluan, kita pun harus mengikuti dengan setia. Sebab, apa pun yang Tuhan kehendaki untuk kita, pastilah yang terbaik.
  
Doa: Tuhan, semoga kami selalu melibatkan Engkau dalam setiap usaha dan pekerjaan kami supaya dengan demikian kami dapat mencapai hasil yang optimal. Amin. -agawpr-
 

Kamis, 04 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII

Kamis, 04 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII

“Tuhan tidak puas dengan hanya penyembuhan lahir. Ia juga ingin mengobati jiwa!” (St. Leo Agung)
  
Antifon Pembuka (1Kor 3:23)
   
Segala-galanya itu milikmu. Tetapi kalian sendiri milik Kristus dan Kristus milik Allah.
  
Tobat 3 (bds. Luk 5:1-11)

   
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sabda Bapa, Kabar Gembira bagi umat manusia, pembawa keselamatan dan damai sejahtera. Tuhan, kasihanilah kami. 
   
Engkaulah yang memilih dan memanggil murid-murid-Mu untuk Engkau bimbing dan Engkau utus sebagai penerus Kabar Gembira ke seluruh dunia. Kristus, kasihanilah kami.

Engkaulah yang berjanji akan selalu mendampingi para murid sampai akhir zaman. Tuhan, kasihanilah kami.
   
Doa Pagi
 
Ya Allah, Engkau memberi kepercayaan kepada manusia segala yang ada di bumi ini, juga kami sendiri. Pandanglah kelemahan dan keterbatasan kami. Buatlah kami sanggup untuk melaksanakan tugas apa pun yang Kaukehendaki untuk kami jalankan, dengan kekuatan yang kami terima dari Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin. 
 
Allah mengatasi segala yang ada di dunia ini. Oleh karena itulah Paulus menasihatkan supaya jemaatnya tidak bermegah atas kehebatan diri mereka atau atas orang-orang yang mereka jadikan tokoh. Semua mesti tetap berpegang pada Allah sendiri sebagai pemilik segala sesuatu.
     
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 3:18-13)
  
"Semuanya itu milik kamu, tetapi kamu milik Kristus, dan Kristus milik Allah."
     
Saudara-saudara, janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri.Jika di antara kalian ada yang menyangka dirinya berhikmat menurut penilaian dunia ini, hendaknya ia menjadi bodoh untuk menjadi berhikmat. Sebab hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis, “Allah menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri.” Dan di tempat lain “Tuhan tahu rancangan-rancangan orang berhikmat; sungguh, semuanya sia-sia belaka!” Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun yang akan datang. Semua itu milik kalian, tetapi kalian milik Kristus, dan Kristus milik Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya.
Ayat. (Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6)
1. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
2. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.
3. Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub."

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Mari, ikutlah Aku, sabda Tuhan, dan kalian akan Kujadikan penjala manusia.
  
Ukuran logika dan kebiasaan manusia tidak bisa dipakai untuk mengukur kemungkinan-kemungkinan yang datang dari Allah. Petrus dan teman-temannya mencari ikan dengan kebiasaan dan logika yang mereka miliki. Namun Yesus menunjukkan kepada mereka ada kuasa yang mengatasi kebiasaan dan logika mereka.
      
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (5:1-11)
 
"Mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus."
     
Pada suatu ketika Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret. Orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan sabda Allah. Yesus melihat dua buah perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahu itu sedikit jauh dari pantai. Lalu Yesus duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Selesai berbicara Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain, supaya mereka datang membantu. Maka mereka itu datang, lalu mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Melihat hal itu Simon tersungkur di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa.” Sebab Simon dan teman-temannya takjub karena banyaknya ikan yang mereka tangkap. Demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedus, yang menjadi teman Simon. Yesus lalu berkata kepada Simon, “Jangan takut. Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah menghela perahu-perahunya ke darat, mereka lalu meninggalkan segala sesuatu, dan mengikuti Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
    
Renungan
    
Tak ada orang yang merasa layak di hadapan Allah yang Mahabesar. Itulah yang dirasakan Petrus ketika melalui tangannya Yesus membuat mukjizat penangkapan ikan yang sangat banyak jumlahnya. Ketidaklayakan Petrus tidak diperhitungkan Tuhan Yesus. Dia tetap memilih agar Petrus mengikuti Dia dan menjadi penjala manusia. Dosa dan kelemahan adalah penyebab utama kita merasa tidak layak untuk mengikuti dan melayani Tuhan. Meskipun begitu kita harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah memperhitungkan dan mengingat-ingat kesalahan dan dosa kita. Percayakah kita akan hal ini?
   
Doa Malam
         
Tuhan yang Mahapengasih, tanpa menyadari kehadiran-Mu, semua terasa hampa. Ampunilah dosaku dan terimalah segala usahaku. Berilah istirahat yang tenang sepanjang malam ini agar besok dapat memuji-Mu dengan semangat baru dan hati gembira. Amin.
   
      
RUAH

Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.

Rabu, 03 September 2014
Peringatan Wajib St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja 

    
1Kor. 3:1-9; Mzm. 33:12-13,14-15,20-21; Luk. 4:38-44.
 
Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.
  
Ketika membaca perikop ini, saya teringat dengan beberapa pengalaman saat melayani di paroki. Setiap kali selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah umat, terutama mereka yang jompo dan sakit. Jadwal yang rutin pasti saya buat adalah setiap menjelang Natal dan Paskah untuk memberikan pelayanan sakramen pengakuan dosa. Kalau ada waktu, masih ditambah pada saat-saat lain. Setiap kali saya berkunjung di salah satu umat, biasanya umat yang lain, minimal pengurus lingkungan dan prodiakon juga berkumpul bersama di rumah tersebut. Tidak ketinggalan, mereka yang sakit dan jompo tetapi masih bisa berjalan, ikut berkumpul pula. Saya bayangkan suasananya seperti ketika Yesus berkunjung ke rumah mertua Simon dan menyembuhkan ibu mertuanya lalu banyak orang juga datang ke sana, termasuk mereka yang sakit untuk disembuhkan-Nya - meski saya tidak bisa menyembuhkan mereka yang sakit, seperti Yesus. Apa yang dibuat oleh Yesus dengan keluar dari rumah dan datang ke tempat umat untuk memberikan pelayanan ini juga dilakukan oleh St. Gregorius Agung (540-604), yang kita peringati hari ini. Ia berasal dari kalangan aristokrat dan pernah menjadi pejabat tinggi di Roma namun kemudian meninggalkan jabatan tersebut untuk masuk biara. Hartanya ia gunakan untuk membangun biara-biara baru. Namun ia tidak saja hidup di dalam biara untuk berdoa dan bersemadi, tetapi juga giat di luar: membantu orang-orang miskin dan tertindas, menjadi diakon di Roma, menjadi Duta Besar di istana Konstantinopel. Pada tahun 586 ia dipilih menjadi Abbas di biara Santo Andreas di Roma. Di sana ia berjuang membebaskan para budak belian yang dijual di pasar-pasar kota Roma. Ketika menjadi Paus (590), dia pun tetap punya perhatian yang besar pada pelayanan keluar, khususnya dalam membebaskan kaum miskin dan lemah. Dari sini, saya semakin meyakini pentingnya para imam untuk mau 'meninggalkan' gereja, pastoran dan biara supaya bisa berkunjung ke rumah-rumah umat. Saya yakin, pastoral semacam ini sangat dikehendaki oleh Yesus, bahkan Ia sendiri memberi teladan. Maka, marilah kita berdoa untuk para imam kita agar mereka selalu sehat dan bisa membagi waktu dengan baik, sehingga dapat melaksanakan kunjungan umat atau kunjungan keluarga.

Doa: Tuhan, berkatilah para imam di paroki kami agar mereka selalu sehat dan dapat membagi waktu dengan baik supaya mereka dapat senantiasa datang mengunjungi dan menyapa kami, sebagaimana diteladankan oleh Yesus. Amin. -agawpr-

Pertemuan III: Ibadah dan Kehidupan


BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2014
KELUARGA BERIBADAH DALAM SABDA
oleh Rm. F.X. Didik Bagiyowinadi Pr
LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA 2014

Pertemuan III: Ibadah dan Kehidupan

TUJUAN:
1. Peserta menyadari bahwa ibadah sejati tidak berhenti pada urusan ritual, apalagi untuk “menyuap” Tuhan, tetapi harus berbuah dalam kehidupan sehari-hari yang diwarnai perilaku adil dan benar.
2. Peserta menyadari bahwa yang terutama dikehendaki oleh Tuhan adalah perwujudan semangat keadilan dan kebenaran dalam keluarga dan di masyarakat, dan tidak mudah berpuas diri dengan kesemarakan ritual ibadah dan kelimpahan persembahan.

GAGASAN POKOK:
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Hal ini tampak dari tempat ibadah yang terus dibangun dan selalu dipenuhi jemaat, terlebih saat hari raya. Di tempat-tempat umum pun aneka simbol keagamaan mudah kita jumpai. Namun, penuh sesaknya tempat ibadah dan kesemarakan ritual ibadah apakah sudah berpengaruh pada kehidupan bersama yang diwarnai keadilan dan kebenaran? Atau, jangan-jangan dalam masyarakat kita sebe-narnya terjadi proses sekularisasi, pembedaan antara praktek ritual di tempat ibadah dan pengamalan iman dalam kehidupan? Perayaan ibadah di Indonesia memang berlangsung meriah, namun mungkin belum berbanding lurus dengan perilaku benar, adil, jujur, dan kerelaan berkurban bagi sesama yang menderita. Bahkan korupsi kadang dianggap sebagai “budaya” dan tak jarang merasuk pula dalam lembaga keagamaan. Maka, perlu diwaspadai bila ibadah itu sebatas pemenuhan tindakan ritual sesuai norma yang digariskan, tetapi tidak berbuah dalam ibadah sosial dalam kehidupan sehari-hari. Orang mudah merasa puas diri bila sudah melakukan ritual ibadah secara semarak dan sedetail mungkin seturut rubrik-rubrik upacara yang telah ditentukan, namun hatinya belum juga tergerak untuk lebih memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Padahal Tuhan Yesus menghendaki bahwa melalui kita yang beribadah dan menyambut Ekaristi, berkat-Nya kita teruskan sehingga Sang Roti Hidup itu sungguh memberikan hidup bagi dunia di sekitar kita (lih. Yoh 6:51). Persoalan makin pelik, manakala ibadah justru dimaksudkan untuk menyuap Tuhan agar tidak murka atas perilaku kita yang bertentangan dengan se-mangat keadilan dan kebenaran. Dalam konteks inilah kritik Tuhan melalui nabi Amos perlu kita perhatikan. Amos menyatakan bahwa yang dikehendaki Tuhan bukanlah kelimpahan kurban persembahan ataupun kesemarakan ritual ibadah, melainkan perwujudan keadilan dan kebenaran. Ibadah se-mestinya menggerakkan orang semakin memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Umat Kerajaan Israel yang tidak mau mengindahkan peringatan Tuhan pun diancam akan dibuang ke negeri asing. Melalui nubuat Amos 5:21-27 ini kita diajak mengupayakan agar ibadah keluarga kita pun berbuah dalam perilaku adil dan benar. Kasih kepada Tuhan mesti mengalir pada kasih kepada sesama, dimulai di antara anggota keluarga kita dan selanjutnya meluas di tempat kerja, di gereja, dan di masyarakat.

PENGANTAR
   
Para saudara terkasih, beribadah kepada Tuhan merupakan ungkapan iman kita. Ketika beribadah kepada Tuhan kita membawa aneka persembahan dan menyemarakkan ibadah dengan nyanyi-an dan musik. Kita merasa puas dan senang bila ibadah kita berlangsung dengan khidmat, meriah, dan mengena di hati. Apakah cukup demikian? Dalam pertemuan ketiga ini kita akan merenungkan keterkaitan antara ibadah dan kehidupan. Kita akan merenungkan kritik Tuhan sendiri melalui nabi Amos 5: 20- 27. Ternyata Tuhan bisa menolak kurban persembahan dan ibadah yang meriah. Sebab yang paling dikehendaki Tuhan adalah perwujudan keadilan dan kebenaran. Ibadah Ritual mesti berbuah dalam ibadah sosial yang memperjuangkan keadilan sosial dan kasih kepada sesama yang menderita. Mari sejenak kita siap hati. 
 

DOA PEMBUKA
  
Pemandu mengajak umat untuk berdoa memohon agar Roh Kudus mem-bangkitkan iman seluruh peserta, mengarahkan seluruh diri kepada Sabda Allah, dan membuka hati seluruh peserta agar dapat menerima kehendak Allah. Pemandu dapat menyusun sendiri doa kepada Roh Kudus. Doa itu juga dapat disampaikan dalam nyanyian (MB 448, PS 565-567). 

        
Allah yang maha kuasa dan maha adil, kami bersyukur bahwa kami dapat senantiasa mendengarkan Firman-Mu dan beribadah kepada-Mu. Syukur pula atas Ekaristi Kudus yang senantiasa boleh kami rayakan bersama. Bantulah kami dengan rahmat-Mu agar mampu meneruskan berkat-Mu kepada semua orang yang kami jumpai. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin. 

LECTIO
  
1. Membaca Teks (Amos 5:21-27)

Teks Amos ini dapat dibacakan bergantian per ayat, satu orang satu ayat. Kemudian masingmasing menyimak teks kembali dengan membaca dalam hati.
2. Penjelasan
Para peserta diajak untuk mendalami teks Kitab Suci yang baru saja dibacaka. Dalam pendalaman ini pemandu dapat menggunakan salah satu dari dua cara berikut:



1. Peserta diminta menyampaikan pertanyaan informatif seputar teks untuk dibicarakan. Gagasan Pokok dan penjelasan berikut ini dapat membantu pemandu dan peserta agar diskusi informatif dan tematis berjalan lancar. Jadi, dibahas sejauh diperlukan dalam proses pendalaman teks Kitab Suci.
2. Pemandu memberikan penjelasan tentang isi perikop berdasarkan Gagasan Pokok dan Penjelasan Teks.
  
Nabi Amos semula adalah pemungut buah ara hutan (Am 7:14) dan peternak domba dari Tekoa, wilayah kerajaan Yehuda atau Kerajaan Selatan (Am 1:1). Dia diutus Tuhan untuk bernubuat di Kerajaan Israel atau Kerajaan Utara, semasa raja Yerobeam II (786-746 SM) menjadi raja Israel (bdk. 2 Raj 14:23-29). Pada masa Yerobeam II Kerajaan Israel mengalami kemakmuran. Orang-orang kaya memiliki rumah musim dingin dan musim panas, bahkan rumah-rumah gading (3:15) atau rumah-rumah dari batu pahat (5:11). Ada pula yang tidur di tempat tidur dari gading (6:4). Sementara wanita Samaria digambarkan sebagai lembu Basan yang mabuk kemewahan (4:1). Namun, kemakmuran yang dinikmati
segelintir orang itu tidak berdampak pada keadilan sosial. Demi uang maka orang benar dan orang miskin dijual (2:6). Perempuan-perempuan muda juga dilecehkan (2:7). Orang kaya dan berkuasa suka memeras orang lemah dan menginjak orang miskin (4:1). Keadilan bisa diubah dan kebenaran diabaikan (5:7). Para hakim mau menerima uang suap dalam pengadilan sehingga orang benar dan orang miskin pun terjepit (5:12). Perikop yang kita renungkan berbicara kritik Tuhan melalui Amos atas ibadah Israel yang tidak membawa dampak dalam keadilan sosial. 


Tuhan menolak Kurban Israel (ay. 21-23). Umat Israel suka dengan segala kemeriahan ibadah dan upacara kurban. Mereka beribadah di Betel dan di Gilgal (4:4). Di Betel terletak bait suci kerajaan (7:10), yang asal mulanya dikaitkan dengan mimpi Yakub di Betel (Kej 28:10-22), bahkan Abraham (Kej 12:8). Sementara bait suci di Gilgal menjadi pusat keagamaan di zaman Saul (1 Sam 11:15) dan Daud (2 Sam 19:15), dan masih dipakai pada zaman Amos (4:4, 5:5).
 

Orang Israel memang rajin mengikuti perayaan ibadah. Setidak-nya tiga kali setahun mereka diwajibkan menghadap Tuhan (bdk. Kel 23:14), yakni pada hari raya roti tidak beragi, Hari Raya Tujuh Minggu atau Pentakosta, dan hari raya pondok daun (lih. Im 23:4- 44). Di tempat ibadah itu orang Israel mempersembahkan kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban keselamatan (Am 5:22). Kurban bakaran berupa lembu sapi, kambing domba, atau burung tekukur/ merpati disembelih lalu dibakar di mezbah (lih. Im 1). Kurban sajian berupa 12 roti dari gandum terbaik dalam dua susunan yang diganti setiap hari Sabat dan kemudian dimakan oleh para imam (bdk. Im 2). Sementara kurban keselamatan yang dimaksudkan sebagai ucapan syukur atau pembayaran nazar dilakukan dengan mempersembahkan lembu, atau kambing/domba (lih. Im 3). Aneka kurban persembahan yang menjadi kurban api-apian bagi Tuhan ini diyakini baunya akan menyenangkan hati Tuhan (Im 1:9.13.17; 3:5,dst). Mereka juga menyertai ibadah ini dengan kemeriahan nyanyian dan iringan lagu gambus nan merdu (Am 5:23). Mereka mengira bahwa dengan banyaknya kurban persembahan dan meriahnya ritual upacara maka Tuhan akan berkenan dan membuat hubungan mereka dengan Tuhan tetap baik. Namun sayang, ternyata kurban berlimpah dan ibadah meriah itu justru ditolak oleh Tuhan. Mengapa? 

Keadilan dan Kebenaran, Bukan Kurban (ay. 24-25). Sebenarnya bukan kurban persembahanlah yang dikehendaki Tuhan, melainkan ucapan syukur dan pemenuhan nazar (Mzm 50:7-14). Tuhan tidak berkenan bila persembahan itu dimaksudkan untuk menutup mata Tuhan atas perilaku pembawa persembahan yang tidak benar dan tidak adil. Percuma saja mereka beribadah bila mereka tetap melakukan ketidakadilan (lih. 2:6.7; 4:1; 5:7.12), apalagi bila kurban persembahan itu justru hasil pemerasan dan ketidakadilan. Kurban persembahan dan kesemarakan ritual harus berbuah dalam keadilan sosial dan kasih kepada sesama yang menderita. Dalam kitab Amos keadilan (mispat) dikaitkan dengan sikap adil dalam pengadilan di pintu gerbang kota sehingga orang benar dan orang lemah terlindungi. Sementara kebenaran (tsedaqah) adalah milik mereka yang memenuhi tanggung jawab dalam kehidupan bersama. Tuhan mengingatkan bagaimana selama 40 tahun di padang gurun nenek moyang Israel tidak mempersembahkan kurban sembelihan dan kurban sajian, namun tetap berkenan di hati Tuhan (Am. 5:25). Karena bukan kurban persembahan yang Tuhan kehendaki, melainkan pelaksanaan kebenaran dan keadilan.
 

Ancaman Hukuman (ay. 26-27).
Sebagai konsekuensi atas ibadah mereka yang tidak dibarengi dengan keadilan dan kebenaran, Tuhan akan membuang mereka jauh ke seberang Damsyik, yakni di negeri Asyur. Hal ini terjadi pada tahun 722 SM. Pada saat itu mereka juga akan membawa berhala-berhala mereka. Sakut adalah nama dewa bintang dari Mesopotamia yang dikaitkan dengan planet Saturnus. Disebut “rajamu” bisa jadi karena dewa Saturnus dipandang sebagai raja utama bagi bangsa Israel. Demikian pula Kewan, “dewa bintangmu” adalah nama berhala lain yang patungnya juga dibuat oleh orang Israel. Dengan demikian ritual ibadah Israel juga diwarnai dengan praktek sinkretisme, seperti yang telah diwariskan oleh Yerobeam, raja pertama Kerajaan Israel yang membuatkan patung lembu emas di Betel dan di Dan (lih. 1 Raj 12:25-33). Di tanah Israel mereka telah mengimpor dan membuat patung dewa-dewi bintang orang Mesopotamia. Namun ironisnya, mereka justru akan dibuang bersama berhala mereka ke negeri Asyur, tempat dari mana dewa-dewi itu berasal.
 

MEDITATIO
  
Pemandu mengajak para peserta masuk dalam suasana hening dan dalam keheningan kembali mendengarkan pembacaan teks Amos 5:21-27. Lalu pemandu mengajak peserta untuk:

• Mengingat kembali kesalahan yang dibuat oleh umat Israel dan peringatan yang disampaikan oleh Amos kepada mereka.
• Merenungkan bagaimana pesan yang Nabi Amos dapat dilaksanakan di dalam keluarga dan bagaimana ibadah yang dilakukan dalam keluarga membuahkan hasil dalam sikap dan perilaku yang nyata.
Lalu para peserta diminta untuk membuka mata dan menuliskan secara singkat hasil permenungannya. Lalu beberapa orang dipersilakan membagi-kan dengan membaca apa yang telah dituliskan. Kemudian pemandu mem-berikan beberapa penegasan dengan memperhatikan gagasan pokok di atas.

ORATIO
 

Allah telah menyatakan kehendak-Nya dalam Meditatio, sekarang seluruh peserta akan menanggapi Sabda itu dengan doa. Pemandu mengajak peserta untuk mempersiapkan doa secara tertulis, tanggapan atas Sabda yang baru didengarkan; bisa berupa pujian, syukur, permohonan, niat, dan sebagainya. Kemudian satu demi satu peserta diminta untuk membacakan doa yang telah dituliskan. Rangkaian doa ditutup dengan “Bapa Kami.”
 

DOA PENUTUP 
Pemandu mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon kekuatan dan kasih Allah agar sanggup melaksanakan kehendak-Nya yang telah didengarkan dalam pertemuan. 

Ya Allah yang Maharahim, ampunilah kami bila selama ini kami kurang bersikap adil dan benar dalam keluarga, di tempat kerja, dan di masyarakat. Dengan bantuan rahmat-Mu, kami ingin mengupayakan kebenaran dan keadilan dimana pun kami berada. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2023 -

Privacy Policy