"Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."

Rabu, 17 September 2014
Hari Biasa Pekan XXIV


1Kor. 12:31 - 13:13; Mzm. 33:2-3,4-5,12,22; Luk. 7:31-35.
 
"Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."
 
Selama ini, saya sudah hidup dan melayani di benerapa paroki, baik di Indonesia maupun di Italia. Di mana pun, saya selalu menjumpai sekelompok umat, kebanyakan adalah aktivis Paroki, yang sukanya itu omong dan komentar negatif terhadap orang atau kelompok lain. Rata-rata mereka itu begitu solid (dalam arti negatif) dan entah bagaimana selalu memiliki topik untuk diomongkan dan dikomentari. Tidak jarang mereka ini bisa sampai membentuk opini publik yang begitu kuat dalam menilai negatif orang atau kelompok lain sehingga umat yang lain tersebut sampai merasa malas dan takut untuk ke Gereja dan mengambil bagian dalam karya pelayanan di Paroki. Ya karena apa pun yang dilakukan selalu dikomentasi negatif dan dijadikan bahan omongan. Pada zaman Yesus, kelompok orang yang demikian ini pun sudah ada. Dan rupanya, Yesus pun dibuat judeg dan jengkel dengan ulah mereka. Tetapi Ia yakin bahwa yang dilakukannya adalah baik dan benar. Maka, ia tetap maju terus dalam karya dan pengajaran-Nya. Ia yakin bahwa hikmat-Nya dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. Semoga umat-umat kita yang menjadi kurban dari kelompok yang sukanya omong dan komentar negatif tetap mempunyai semangat seperti Yesus. Maju terus dalam beribadah kepada Tuhan dan dalam mengambil bagian dalam karya pelayanan di Gereja.

Doa: Tuhan, untuk berbuat baik ternyata tidak selalu mudah. Kadang, kami mendapat kendala berupa komentar-komentar negatif dari orang lain. Kuatkanlah kami untuk terus maju, baik dalam beribadah maupun dalam pelayanan. Amin. -agawpr-

Rabu, 17 September 2014 Hari Biasa Pekan XXIV

Rabu, 17 September 2014
Hari Biasa Pekan XXIV
   
Hendaknya pedang Roh, yaitu firman Allah, diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu. (St. Albertus dari Yerusalem)
   
Antifon Pembuka (1Kor 12:7.8a)
 
Cinta kasih menerima segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Cinta kasih tidak berkesudahan.
 
Doa Pagi
 
Allah Bapa yang Mahapengasih, karena cinta kasih-Mu yang teramat agung, hidup kami Kau beri arti yang begitu dalam. Tunjukkanlah selalu kepada kami jalan yang harus kami tempuh, yakni jalan terang-Mu sendiri, Putra-Mu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
 
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (12:31-13:13)

Saudara-saudara, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku tahu segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi bila yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna. Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, mereka seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula. Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang ini kita melihat gambaran samar-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka. Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal secara sempurna sebagaimana aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih. Namun yang terbesar di antaranya ialah kasih!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.
Ayat. (Mzm 33:2-3.4-5.12.22)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru; petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak-sorai.
2. Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
3. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya! Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.
      
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:31-35)

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru. ‘Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.’ Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang, dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, kalian berkata, ‘Ia kerasukan setan.’ Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kalian berkata, ‘Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.’ Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
   
 Peka berarti mudah merasa, mudah terangsang, mudah bergerak, mudah menerima atau meneruskan pengaruh, mempedulikan, memperhatikan dan memberi reaksi terhadap suatu keadaan. Peka bisa menjurus kepada hal-hal yang baik dan bisa juga menjurus kepada hal-hal yang tidak baik. Kepekaan yang menjurus kepada hal-hal yang tidak baik misalnya, orang yang mudah tersinggung, mudah marah, mudah kecewa, mudah putus-asa atau mudah dipengaruhi oleh sesuatu yang jahat, tidak peka melihat kesulitan yang dialami banyak orang dalam masyarakat. Bahkan orang yang berbuat baik dianggap aneh dan yang berbagi rasa dengan orang lain dilihat sebagai tidak normal. Hal ini dapat kita lihat dalam hidup sehari-hari. Ada orang yang mudah dipengaruhi untuk berbuat jahat, mudah menerima suatu berita tanpa berpikir panjang. Orang semacam ini termasuk orang peka, tapi peka dalam hal yang kurang baik. Sedangkan kepekaan yang menjurus kepada hal-hal baik antara lain, mudah menerima nasihat, mudah menyadari kesalahan dan dosa, mudah merasakan kehadiran Tuhan, tahu siapa dirinya dan dimana dia berada. Dan kepekaan yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kepekaan dalam hal yang baik.

 Ada seorang pemuda yang terkenal dengan ketegaran hatinya. Ia punya prinsip yang kuat dalam hidupnya. Soalnya, prinsip-prinsip hidupnya itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan bersama. Ia mau hidup dengan caranya sendiri. Misalnya, ia merasa bahwa orang tidak perlu bayar pajak kepada pemerintah. Alasannya adalah pihak pemerintah selalu menyalahgunakan hasil pajak itu. Dalam hal ini ia menjadi orang yang cuek. Ia tidak peduli.
    
  Ketika diberi penjelasan oleh teman-temannya tentang hal ini, ia tidak mau juga mengerti. Ia tetap saja bertahan pada prinsipnya. Ia mau agar semua orang bebas pajak. Pemerintahlah yang seharusnya memfasilitasi masyarakatnya. Pasalnya, pemerintah menguasai semua sektor yang menghasilkan devisa bagi negara. Akibatnya, ia disingkirkan banyak orang karena prinsip hidupnya yang dianggap aneh. Namun ia tidak peduli. Ia hidup dengan cara pandangnya sendiri. Ia tidak ingin didikte oleh orang lain. Ia punya pilihan dan cara hidup sendiri. Ia tidak ingin orang lain mencampuri urusan dirinya itu.

  Kisah di atas menunjukkan bahwa pemuda itu orang yang tidak gampang bertobat. Meski sudah dijelaskan dan diberi pengertian, ia mau hidup dengan caranya sendiri. Ia tetap bertahan pada prinsip-prinsip hidupnya sendiri yang dirasakannya benar. Ia memang orang yang tegar. Bisa saja bahwa orang seperti ini akan ditinggalkan banyak orang. Orang yang hidup dengannya akan selalu merasa ada yang tidak beres. Tidak ada yang klop berhadapan dengan orang seperti ini.
     
  Dalam Injil yang dibacakan pada misa hari ini, Yesus mengkritik orang-orang yang tertutup hatinya untuk melihat karya keselamatan Tuhan. Mereka mencari alasan untuk bisa menolak Yohanes, dan kemudian juga menolak Yesus. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus hidup di bawah naungan Tuhan. Orang yang hidup di bawah naungan Tuhan itu senantiasa mendengarkan suara Tuhan. Tuhan berbicara lewat orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan berbicara lewat tanda-tanda yang ada di sekitar kita. Karena itu, mari kita syukuri penyertaan Tuhan itu dan senantiasa mendengarkan suara-Nya dalam hidup kita.
  
Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)
 
Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)
 
-NVL-

"Allah telah melawat umat-Nya."

Selasa, 16 September 2014
Peringatan Wajib. St. Kornelius dan St. Siprianus
  

1Kor. 12:12-14,27-31a; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 7:11-17
 
"Allah telah melawat umat-Nya."
 
Setiap saat, Allah selalu melawat umat-Nya. Ia selalu hadir menyertai kita sepanjang masa, sebagaimana dijanjikan-Nya melalui Kristus (Mat 28:20), Sang Imanuel (Mat 1:23). Lawatan-Nya senantiasa memberi kekuatan dan penghiburan. Ia menghapus tetas air mata kita entah karena sedih atau karena beban hidup yang berat, seperti yang diakami oleh si janda Nain (Luk 7:13). Ia juga senantiasa menganugerahkan hidup baru dan membangkitkan semangat untuk terus maju, sebagaimana ia menghidupkan kembali pamuda Nain (Luk 7:14). Maka, kalau kita selalu membuka diri, menerima dan menyadari lawatan Allah dalam hidup kita, kita akan senantiasa mengalami penghiburan, semangat yang terus menyala dan hidup yang selalu diperbarui, kendati kita mempunyai banyak beban karena berbagai macam masalah dan derita.

Doa: Tuhan berilah kami kepekaan untuk menerima dan menyadari lawatan-Mu kepada kami sehingga kami senantiasa mengalami penghiburan, semangat dan hidup baru. Amin. -agawpr-