Tuhan, ajarlah kami berdoa

Rabu, 08 Oktober 2014
Hari Biasa Pekan XXVII



Gal. 2:1-2,7-14; Mzm. 117:1,2; Luk. 11:1-4.

"Tuhan, ajarlah kami berdoa"

Pernahkah kita mengalami kesulitan dalam berdoa atau bahkan tidak bisa berdoa sama sekali? Mungkin kesulitan itu berupa rasa malas untuk berdoa. Atau pada saat kita berdoa, kita tidak tahu apa yang harus kita doakan. Atau juga pada saat kita berdoa, pikiran kita melayang ke mana-mana. Rupanya, para murid pun juga mengalami kesulitan untuk berdoa. Mereka sering menyaksikan Yesus berdoa semalam-malaman, tapi tidak tahu apa yang didoakan-Nya. Maka, suatu saat mereka meminta kepada Yesus, "Tuhan, ajarlah kami berdoa". Dan Yesus dengan senang hati mengajari mereka berdoa. Segera. Tanpa ditunda-tunda. St. Paulus pun menegaskan bahwa sesungguhnya kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh Kudus berdoa untuk kita (bdk. Rm 8:26). Oleh karena itu, baiklah setiap kali kita hendak memulai doa-doa kita, kita dengan rendah hati juga memohon kepada Tuhan agar Ia mengajari kita berdoa.

Doa: Tuhan, ajarilah kami berdoa agar kami dapat berdoa dengan sepenuh hati, budi dan badan kami. Amin. -agawpr-

Rabu, 08 Oktober 2014 Hari Biasa Pekan XXVII

Rabu, 08 Oktober 2014
Hari Biasa Pekan XXVII
     
Kesetiaan umat yang dibaptis adalah satu prasyarat yang menentukan untuk pewartaan Injil dan untuk perutusan Gereja di dunia. Supaya berita keselamatan dapat menunjukkan kepada manusia kekuatan kebenaran dan kekuatan sinarnya, ia harus disahkan oleh kesaksian hidup orang Kristen "Kesaksian hidup kristiani sendiri beserta amal baik yang dijalankan dengan semangat adikodrati, mempunyai daya kekuatan untuk menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah" (AA 6). -- Katekismus Gereja Katolik, 2044


Antifon Pembuka (Luk 11:1)

Tuhan, ajarilah kami berdoa, sebagaimana yang diajarkan Yohanes kepada murid-murid-Nya.

Tobat 3

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Pengantara kami di hadapan Bapa. Tuhan, kasihanilah kami.

Engkaulah yang mengajar para murid berdoa dengan memuliakan nama Bapa dan mohon diampuni dosa-dosanya. Kristus, kasihanilah kami.

Engkaulah Imam Agung kami, yang mendamaikan kami dengan Bapa di surga. Tuhan, kasihanilah kami.
  
Doa Pagi
  

Ya Allah, Putra-Mu telah memperkenalkan Engkau sebagai Bapa Kami. Ia juga mengajari kami bagaimana caranya berdoa. Semoga kami semakin menjadi pendoa yang tekun. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (2:1-2.7-14)
 
   
"Mereka melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku."
   
Saudara-saudara, empat belas tahun setelah dipilih Tuhan, aku pergi ke Yerusalem bersama dengan Barnabas, dan Titus pun kubawa serta. Aku pergi ke sana berdasarkan suatu pernyataan. Di sana aku membentangkan Injil yang kuberitahukan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, jangan sampai dengan percuma aku telah berusaha. Pada kesempatan itu aku berbicara tersendiri dengan orang-orang yang terpandang. Mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil bagi orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus bagi orang-orang bersunat; maka mereka menjadi yakin. Sebab sebagaimana Tuhan telah memberi Petrus kekuatan untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, demikian pula Ia memberi aku kekuatan untuk menjadi rasul bagi orang-orang yang tak bersunat. Mereka pun menjadi yakin mengenai kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku. Maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan daku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan. Semua setuju bahwa kami pergi kepada orang-orang yang tak bersunat, sedangkan mereka kepada orang-orang yang bersunat. Mereka hanya minta agar kami tetap mengingat orang-orang miskin; dan hal itu sungguh-sungguh kuusahakan. Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku terus terang menentang dia, karena ia salah. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat. Tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Juga orang-orang Yahudi lain ikut berlaku munafik seperti dia, sehingga Barnabas sendiri terseret oleh kemunafikan mereka. Aku melihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Maka aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 4/4, PS 827.
Ref. Pergi ke seluruh dunia, wartakanlah Injil!
Ayat. (Mzm 117:1bc.2)
1. Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
2. Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Kalian akan menerima roh pengangkatan menjadi anak; dalam roh itu kita akan berseru, 'Abba, ya Bapa.'

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:1-4)
  
"Tuhan, ajarilah kami berdoa."
    
Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya." Maka Yesus berkata kepada mereka, "Bila kalian berdoa, katakanlah: 'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
  
Renungan

    
Apa yang melatarbelakangi permohonan para murid agar Yesus mengajar mereka berdoa? Tidak lain adalah tindakan Yesus ketika “pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat” (Luk 11:1a). “Ketika Ia berhenti berdoa,” demikian Lukas menulis dalam Injilnya, “berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: Tuhan, ajarilah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-murid-Nya” (ay. 1b). Ayat ini penting untuk kita perhatikan.

Ada apa dengan doa Yesus sehingga mereka terdorong untuk berdoa dari pada-Nya? Tentu ada hal yang menarik, sehingga seorang dari murid-murid Yesus itu minta untuk diajar berdoa. Hanya doa yang hidup dalam kemesraan relasi dengan Allah, itulah yang mampu membuat orang lain tertarik untuk berdoa.

Sebenarnya doa tidak dapat dipelajari seperti orang belajar ilmu. Doa itu bukan suatu metode yang dapat dikuasai melalui banyak latihan. Doa adalah hubungan dengan Allah yang bertumbuh makin mesra sehingga menjadi sesuatu yang hidup. Itulah sebabnya Yesus mengajar para murid-Nya agar doa dimulai dengan menyapa Allah sebagai Bapa. “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu,” kata Yesus pada awal pengajaran-Nya. Justru karena Yesuslah, kita boleh mengenal dan menyapa Allah sebagai Bapa. Selain itu, karena Roh-Nya memperkenalkan Bapa kepada kita (Katekismus Gereja Katolik, 2779), sehingga kita dapat menghayati hubungan anak-Bapa dengan Allah Bapa di surga.

Doa yang benar tidak bersemangatkan kepentingan diri sendiri. Seperti halnya semua hubungan atau percakapan yang sehat menaruh perhatian pada semua pihak, demikian pula seharusnya isi doa. Itu sebabnya doa yang Yesus ajarkan ini memberi perhatian baik kepada kepentingan Allah maupun kepada kepentingan kita. Kepentingan Allah didahulukan bukan karena kepentingan kita tidak penting, tetapi justru supaya kita menyadari betapa besar kasih dan perhatian Bapa kepada kita. Prinsip dan kerangka pemikiran doa yang Yesus ajarkan ini patut membentuk pula kehidupan doa kita, entah pribadi, entah bersama dalam keluarga atau komunitas.

Ingatlah bahwa bila Yesus berkenan mengajar kita berdoa, pasti Bapa berkenan menerima doa-doa kita. CAFE ROHANI
       
"Hendaklah semangat patuh dan ingkar diri menjadi senjatamu." (St. Ignatius dari Antiokhia)

Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.

Selasa, 7 Oktober 2014
Peringatan Wajib. SP Maria, Ratu Rosario
 

Gal. 1:13-24; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Luk. 10:38-42.
 
"Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
 
Aktif melakukan berbagai macam pelayanan seperti yang dilakukan oleh Marta, tentu baik. Namun tidak kalah baiknya, duduk dalam diam untuk mendengarkan Tuhan seperti yang dilakukan Maria. Bahkan Yesus mengatakan bahwa pilihan Maria itu yang terbaik. Tentu hal ini tidak boleh kita jadikan sebagai alat pembenaran untuk tidak bekerja dan berusaha tetapi hanya berdoa dan membaca Kitab Suci saja. Keduanya, baik keaktifan dalam melayani maupun keheningan dalam doa dan mendengarkan sabda Tuhan, harus seimbang. Nah, di bulan Oktober ini, di mana Gereja menjadikannya sebagai bulan rosario, baiklah kalau kita meluangkan waktu untuk berdoa rosario setiap hari. Di tengah kesibukan akan pekerjaan dan pelayanan kita, kita sempatkan diri untuk berdoa bersama Bunda Maria, merenungkan misteri-misteri Tuhan kita Yesus Kristus, baik kelahiran-Nya, karya-Nya, sengsara dan wafat-Nya, maupun kebangkitan-Nya. Semoga, melalui dan bersama Bunda Maria, kita semakin bersatu dengan Kristus. "Per Mariam ad Iesum" (Melalui Maria, kita sampai kepada Kristus).

Doa: Bunda Maria, ajarilah dan bantulah kami untuk semakin bersatu dengan Kristus, Putramu, sehingga kami senantiasa mendapatkan kekuatan baru untuk bekerja dan melayani. Amin. -agawpr-